Minggu, 30 Mei 2021

CTF - Chapter 90

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 90 : Bertanya Dengan Berani


Tuan Shui berdiri di luar pintu. Tidak jelas akan situasi di dalam, ia jadi gelisah saat memikirkan kalau putrinya entah bagaimana telah memprovokasi Pangeran Hao.

Sungguh lelucon yang besar sekali jadinya. Sampai-sampai, tabib diundang ke Kantor Pemerintahan Provinsi. Jika aku tidak membawa putriku kemari, aku tidak akan mengetahuinya sama sekali.

Keringat dingin mengalir menuruni tangannya selagi Tuan Shui merenungi situasinya. Memperhatikan putrinya yang lesu dari sudut matanya, ia berbalik untuk memarahinya dengan suara tegas. "Saat kau berjumpa dengan Pangeran Hao nanti, kau tidak boleh mengangkat kepalamu. Berlutut dan terus menyembah. Gadis keterlaluan. Kau terus saja membuat masalah untukku. Apabila Pangeran Hao ingin nyawamu sebagai hukumannya, bagaimana aku akan menghadapi mendiang ibumu?!"

Sedikit demi sedikit, Shui Ying Lian pun tersadar. Ia tak lagi merasa kebingungan maupun ketakutan, sebaliknya, justru tersenyum. "Semua orang punya hal yang mereka pedulikan. Begitu pula dengan Pangeran Hao. Hanya saja, aku tidak menyangka, tidak ...."

"Ada apa? Kenapa kau tampak gundah, seolah kau sudah kehilangan rohmu?" Ketika Tuan Shui mencemaskan putrinya setelah melihat putrinya dalam keadaan begini, ia mengangkat tangan, merasakan keningnya.

Shui Ying Lian menolehkan kepalanya dan menghindari tangannya. "Ayah, baju yang kupakai ini milik dayang pribadi Pangeran Hao. Aku bertukar pakaian dengannya dan menyamar menjadi dirinya saat aku membawakan air ke dalam kamar. Aku ketahuan oleh Pangeran Hao dan hampir saja dihukum, tetapi dayang pribadinya menggantikanku menerima hukumannya. Tabib ini pasti diundang kemari oleh Pangeran Hao untuk mengobati dayang pribadinya."

Rentetan kejadian ini membuat Tuan Shui tercengang. Dayang pribadinya adalah wanita itu! Mengundang seorang tabib untuk mengobatinya di malam yang sama, takutnya, ia bukan hanya dayang pribadi biasa, bukan?

"Ayah, mari tunggu di sini dengan tenang. Aku akan berinisiatif mengakui kesalahanku ketika Pangeran Hao muncul. Nantinya, aku tidak akan melakukan hal-hal yang sok pemberani lagi." Shui Ying Lian menyatakan perlahan. Dibandingkan dengan Su Xi-er, aku sama sekali bukan pemberani.

"Aku mengerjaimu. Aku akan membiarkanmu menghukumku sesukamu." Berapa banyak wanita di dunia ini yang cukup berani untuk mengutarakan hal semacam itu pada pria terkuat di Bei Min?

***

Tidak jelas berapa lama mereka menanti hingga tabib akhirnya keluar sembari memegangi kotak obatnya. Ia dibawa keluar Kantor Pemerintahan Provinsi oleh pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Hao.

Tuan Shui langsung mengejar mereka. "Pangeran kalian ...."

Si pengawal segera melambaikan tangannya. "Bicara pelan-pelan. Yang Mulia sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Apakah kau mencari mati dengan meminta bertemu dengannya sekarang juga?" Kemudian, ia mengulurkan tangan ke depan, dan membimbing si tabib maju.

Untuk sesaat, Tuan Shui tak tahu apa yang harus diperbuat. Haruskah kita pergi atau tetap tinggal?

"Ayah, kau harus meninggalkanku. Aku akan terus menunggu di sini. Bagaimana bisa putrimu membiarkan seorang dayang menerima hukuman untuk kesalahanku sendiri?" Shui Ying Lian berlutut di depan pintu, masih mengenakan seragam abu-abu kasar.

Setelah kabur dan kembali ke kamarnya, ia terus merenunginya dengan serius. Tak pernah sekali pun terlintas dalam benaknya, dengan watak Pangeran Hao, ia akan melepaskan Su Xi-er semudah itu? Membuat Su Xi-er menanggung hukuman atas perbuatannya, rasa bersalah Shui Ying Lian pun semakin dalam.

Itulah mengapa ia kemari. Ayahnya kebetulan menemukannya dalam keadaan seperti ini sementara ia menuju kemari dan memutuskan untuk ikut bersama karena ia mengkhawatirkan dirinya.

Namun, saat mereka tiba, Shui Ying Lian menyadari bahwa perlakuan Pangeran Hao terhadap Su Xi-er tidak mirip seperti perlakuan seorang majikan terhadap pelayannya.

***

Di dalam kamar, Pei Qian Hao menatap Su Xi-er, terbayang-bayang akan ucapan si tabib. "Ia terlalu banyak merenung dan ada begitu banyak hal yang membebani pikirannya. Ini mungkin disebabkan oleh pengalaman masa lalunya, hingga membuatnya bermimpi buruk, walau ini juga agak aneh. Dengan usia semuda ini, bagaimana bisa ia punya banyak hal untuk direnungi?"

Tabib itu telah memberikan obatnya. Ia akan sembuh dalam tiga hari jika ia meminum semangkuk obat setiap harinya. Saat ia pergi, tampang keheranan masih terukir di wajah si tabib.

Pei Qian Hao pun sama bingungnya. Terlalu banyak merenung dan ada begitu banyak hal yang membebani pikirannya. Apa sebenarnya yang ia sembunyikan hingga membutuhkan begitu banyak tenaga untuk terus memikirkannya?

Apa sebenarnya yang terjadi padanya?

Alisnya agak berkerut, Pei Qian Hao mengambil obat dan berjalan keluar kamar, bersiap menginstruksikan pengawal untuk merebus obatnya.

Akan tetapi, ia disambut oleh pemandangan si Hakim Provinsi beserta putrinya yang sedang berlutut di lantai segera setelah ia melangkah keluar dari kamar.

Saat Tuan Shui melihat Pangeran Hao, ia langsung menyembah. "Pangeran Hao, putri hamba masih sangat muda dan tidak tahu peraturan. Aku harap ...."

Sebelum ia selesai, Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Karena seseorang telah menerima hukuman menggantikannya, tentu saja Pangeran ini tidak akan menghukum putrimu lagi. Kau tidak perlu mengungkit masalah ini lebih jauh."

Tiba-tiba saja, Shui Ying Lian mengangkat kepala dan menghadapi aura menekan Pei Qian Hao seraya mengambil risiko untuk bertanya, "Pangeran Hao, mengapa Anda menghukum Su Xi-er jika Anda peduli padanya? Pertama-tama menghukumnya, kemudian mengundang tabib, apakah ini gaya Anda dalam menangani masalah?"

Mata Tuan Shui melebar, terkejut akan apa yang didengarnya. Ada apa dengan putriku! Ia sungguh berbicara seperti itu!

Tatapan sedingin es Pei Qian Hao tertuju pada Shui Ying Lian. "Saat Pangeran ini menghukumnya, kau melarikan diri. Sekarang, kau berbalik dan berlutut untuk membiarkan Pangeran ini menghukummu lagi. Apakah ini adalah orang yang berada di peringkat ketiga pada Ujian Kekaisaran dulu, dan putri yang dididik oleh Tuan Shui?"

(T/N : kandidat yang berada di peringkat ketiga ujian ini disebut 'Tan Hua'. Ujian Kekaisaran adalah satu jenis ujian pemerintahan.)

Tubuh Tuan Shui gemetaran. Ia mengangkat tangan dan menampar putrinya. "Cukup, kembali sekarang! Menghadap ke tembok dan pikirkan tentang kesalahanmu. Kau tidak boleh meninggalkan kamarmu."

"Tuan Shui, Pangeran ini tidak akan mencampuri urusan keluargamu. Hanya saja, kau harus menghabiskan lebih banyak usaha dalam membimbing putrimu," Pei Qian Hao memperingatkan dingin sebelum berjalan maju.

***

Di dalam ruang mendidihkan air, pengawal mengikuti instruksi Pangeran Hao agar merebus obat yang telah diserahkan padanya.

"Rebus selama enam jam. Setelah selesai, segera bawakan ke sana."

Si pengawal tidak jelas tentang situasinya dan bertanya cemas, "Yang Mulia, apakah Anda sakit?"

"Kau tidak perlu banyak bertanya. Cukup antarkan saja."

Mendengar instruksinya, si pengawal langsung memendam rasa penasarannya dan dengan sungguh-sungguh merebuskan obatnya.

***

Ketika Pei Qian Hao kembali ke kamar, ia menyadari kalau ranjang di kamar dalam sudah digunakan Su Xi-er. Ketimbang menuju kamar samping untuk tidur, ia malah memilih duduk di atas sebuah bangku kayu di sebelah ranjang. Menopang kepalanya dengan satu tangan, ia memandangi wanita yang tengah tertidur pulas di hadapannya.

Hujan di luar sana sudah lama berhenti, dan angin malam pun sudah melemah.

Enam jam kemudian, pengawal mengantarkan obatnya ke sana, menyerahkannya pada Pei Qian Hao, yang kemudian meletakkannya di atas meja di kamar dalam.

Ia menyentuh mangkuknya. Masih agak panas. Baru bisa diminum beberapa saat lagi.

Pei Qian Hao melipat tangannya. Saat ia menyadari apa yang telah diperbuatnya, ia mengernyitkan alisnya. Kondisinya sekarang ini adalah buah dari tindakannya sendiri. Atas alasan apa aku harus bersikap begitu baik padanya? Aku membawanya kemari untuk melayaniku; Kenapa malah aku yang melayaninya?

Ekspresi Pei Qian Hao berubah dingin. Tanpa mempedulikan semangkuk obat di atas meja, ia bersiap meninggalkan kamar.

Sebelum ia melangkah keluar, ia mendengarkan erangan kesakitan dan mau tak mau, berbalik untuk memeriksanya. Apa yang menyambutnya adalah pemandangan dari bibir pucat gadis itu yang terbuka dan menutup seraya terus saja menggumamkan kata 'Yun'.

'Yun'. Siapa sebenarnya itu?

Mata Pei Qian Hao pun jadi dalam. Akhirnya, ia mengangkat mangkuk obatnya dan menuju ke sisi Su Xi-er, menjepit philtrumnya untuk membangunkannya.

(T/N : philtrum adalah area berlekuk di antara hidung dengan bibir atas.)

Su Xi-er membuka matanya dan memanggil pelan, "Pangeran Hao."

Suara lembut dan penampilan rentannya mempengaruhi hati orang, menyalakan rasa sayang tersendiri.

Pei Qian Hao meniup obatnya sementara suaranya terdengar tenang. "Minum pelan-pelan. Hati-hati melepuh."

Su Xi-er mengerutkan alisnya. Ia paling benci minum obat, tetapi dengan kondisi tubuhnya saat ini, ia tak punya banyak pilihan.

Oleh karenanya, ia membuka mulut mungilnya dan mulai minum perlahan.

Dibutuhkan waktu satu jam untuk menghabiskan semangkuk obat. Di saat bagian bawah mangkuknya terlihat, alis ramping Su Xi-er sudah melengkung, berkerut jadi satu garis.

"Kalau kau tidak ingin minum obat, bertingkah lebih baiklah. Kalau kau tidak keras kepala, Pangeran ini tidak akan menghukummu."

Su Xi-er setengah bersandar di tiang ranjang. Ia memerhatikan cahaya lilin dalam diam dan tidak merespon.

"Su Xi-er, apakah kau sudah sadar sekarang?" Pei Qian Hao berdiri di depan ranjang dengan ekspresi serius.

"Sudah." Mana mungkin aku tidak tersadar setelah meminum semangkuk obat pahit?

"Biarkan Pangeran ini bertanya padamu, pengalaman pahit apa yang pernah kau alami sebelumnya? Dan siapa pula Yun itu?"

Khawatir kalau suasana hatinya terdeteksi, Su Xi-er segera menundukkan kepalanya. Apakah aku mengatakan sesuatu yang tak semestinya ketika aku sedang tidak sadar?

Continue reading CTF - Chapter 90

CTF - Chapter 89

Consort of A Thousand Faces

Chapter 89 : Memohon Pada Pangeran Ini


Su Xi-er berlutut di tanah, sama sekali tak mampu merasakan rasa sakit di punggungnya. Ia menengadahkan kepalanya sementara senyuman perlahan terbentuk di roman mukanya.

Awan sudah mulai berkumpul hingga terasa gerimis kecil. Tanpa mempedulikannya, ia tetap membeku di tempat selagi hujannya perlahan-lahan membasahi tiap inci dirinya, setetes demi setetes.

Hujan tampaknya perlahan-lahan jadi lebat, bersama dengan gema guntur di kejauhan yang berangsur mendekat.

Sosok tinggi dan menekan seorang pria pun muncul, menampilkan ekspresi serius di wajahnya. Alisnya yang agak melengkung menunjukkan suasana hatinya kini.

"Su Xi-er, apakah kau tidak menginginkan nyawamu lagi? Bukankah sakit, dipukuli? Dan kini kau membiarkan dirimu basah kuyup di bawah siraman air hujan? Mengapa kau tidak memohon pada Pangeran ini?"

Mungkin, kalau ia membuka mulutnya untuk memohon padaku, aku akan melepaskannya.

"Pangeran Hao, hamba sudah terbiasa dengan perlakuan semacam ini. Daripada mencemaskan tentang diriku, Anda harus segera kembali ke kamar Anda. Dengan tubuh bangsawan dan lemah Anda, bagaimana bisa Anda membiarkan diri Anda basah kuyup tersiram hujan di sini?"

Pei Qian Hao tidak tahu apakah ia mesti marah atau tertawa. Tubuhku lemah? Apakah ia sudah jadi tolol akibat kehujanan?

"Keras kepala!" Pei Qian Hao tiba-tiba saja merasa tak berdaya. Aku bisa melihat cerminan watakku sendiri pada wanita ini. Bukankah itu benar-benar menggelikan?

Tidak memerhatikan Pei Qian Hao, Su Xi-er hanya melihatnya ketika berat jubahnya disampirkan di atas pundaknya. Kedua tangannya diangkat; sebenarnya, tak lama setelah itu seluruh tubuhnya pun berada dalam pelukan besarnya.

"Majulah. Kenapa kau bengong!" Kata-katanya penuh celaan, lalu, Pei Qian Hao pun memaksa Su Xi-er berjalan ke arah kamarnya.

Hujannya jadi semakin lebat, sampai-sampai mereka berdua sepenuhnya basah kuyup setibanya mereka di kamar Pei Qian Hao.

Satu-satunya cahaya di kamar gelap lainnya adalah lilin kecil. Tiap kelipan nyala apinya akan memantulkan tetesan air hujan yang menuruni pipi Pei Qian Hao, menyebabkannya memiliki penampilan berbeda dari kearoganannya yang tenang.

Pei Qian Hao membuka lemari, dengan sembarangan melemparkan pakaian pria padanya. "Lepaskan bajumu dan pakai ini."

Thud! 

Su Xi-er perlahan-lahan memindahkannya dan mengamati baju yang mendarat di kepalanya. Ini adalah ... bajunya. Aku akan mengenakan pakaiannya? Ukurannya saja tidak pas.

Saat Pei Qian Hao melihat darah segar di punggungnya, tanpa sadar ia mengernyitkan alisnya dan menunjuk ke tepian ranjang. "Lepaskan bajumu dan berbaring di sana."

Ia merasa kalau ia harus menemukan sesuatu untuk dikerjakan karena ia tak punya hal lain untuk dilakukan. Su Xi-er pernah bilang begini padaku sebelumnya. "Pangeran Hao, Anda santai sekali tanpa melakukan apa pun."

"Pangeran Hao, apakah Anda berencana membantu hamba mengoleskan obat? Anda tidak perlu melakukannya. Lagipula, Anda adalah orang yang memerintahkan agar hamba dicambuk. Ini adalah apa yang pantas kuterima."

"Su Xi-er, kau tak punya pilihan lain selain mendengarkan perintah Pangeran ini. Kalau kau terus keras kepala, apakah kau percaya kalau Pangeran ini akan melemparkanmu ke pedesaan dan membiarkan serigala melahapmu?"

Melihat keganasan di matanya, rasa sakit di punggungnya jadi semakin jelas. Jika aku tidak menggunakan bubuk obatnya, takutnya aku akan tumbang sebelum aku bisa sampai di Nan Zhao.

Bukankah aku setuju datang ke Nan Zhao karena aku ingin menjumpai orang-orang yang kukasihi dan orang-orang yang kubenci, dan mencari tahu bagaimana keadaan mereka? Hanya dengan pengetahuan yang cukup tentang situasinya barulah aku bisa melindungi orang terkasihku dan menghancurkan musuhku.

Oleh sebab itu, ia tidak melawan dan dengan patuh memperlihatkan punggungnya selagi ia berbaring di tepi ranjangnya.

Setelahnya, Pei Qian Hao memerintahkan seseorang untuk mengantarkan air hangat. Memegangi sehelai saputangan, ia mulai membantunya membersihkan darah yang menutupi lukanya.

Ini pertama kalinya aku merawat seseorang, terlebih seorang wanita. Terlebih lagi, wanita ini. Alasan ia terluka adalah karena diriku ....

Aku benar-benar teringat akan kalimat Su Xi-er dengan mencari hal untuk dilakukan saat aku tak punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan.

Segera setelah bubuk obat sejuk itu dibubuhkan di punggungnya, bubuk itu langsung meresap ke dalam kulit dan meringankan rasa sakitnya yang membakar.

Pei Qian Hao mengelus punggungnya lembut. "Su Xi-er, kita akan berangkat menuju Nan Zhao besok."

Nada bicara menyelidiknya hanya bertemu dengan gumaman kecil persetujuan.

"Su Xi-er, orang macam apakah Pangeran ini di matamu?"

Pei Qian Hao tidak tahu mengapa ia mengajukan pertanyaan ini.

Setelah merenunginya sejenak, Su Xi-er menjawab, "Seseorang yang menyukai gadis cantik, tetapi sebenarnya kejam dan tak berperasaan. Tidak ada seorang pun wanita di Istana Kecantikan yang sungguh-sungguh Anda pedulikan. Dengan status agung dan kekuasaan besar, tak ada seorang pun yang berani membantah Anda. Anda adalah matahari di langit, bersinar dengan gemerlapnya seraya memancarkan sinar Anda tanpa rasa takut. Mereka yang berdekatan dengan Anda hanya akan terbakar hingga mati."

Tangan Pei Qian Hao berhenti. "Matahari? Memang benar, Pangeran ini adalah matahari. Su Xi-er, kau begitu dekat dengan Pangeran ini, apakah kau tidak takut terbakar hingga mati?"

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. Kesadarannya sudah buram, ia tidak yakin apakah pemikirannya linglung ataukah ia sengaja bercanda. "Sebaliknya, aku tidak takut terbakar hingga mati, tetapi sebenarnya aku takut membeku hingga mati. Aura di sekitar Anda terlalu dingin."

Ia hanya merasakan kepalanya semakin berat setelah berbicara. Dicambuk, kehujanan, dan kedinginan hingga ke tulang karena anginnya. Walaupun ia sudah memaksakan diri menahannya sampai sekarang, ia tak mampu lagi bertahan, dan dengan cepat tertidur.

Memandangi wajah tertidurnya, Pei Qian Hao memikirkan penampilan pintarnya barusan ini dan mau tak mau jadi bertanya-tanya. Su Xi-er, sebenarnya orang macam apakah dirimu? Kau berani mengatakan hal yang tak berani diucapkan orang lain, dan melakukan hal yang tak berani dilakukan orang lain.

Pei Qian Hao melepaskan pakaiannya dan membantunya berganti pakaian mengenakan bajunya sebelum menutupinya dengan selimut.

Saat ia menyentuh keningnya, ia menyadari gadis ini terserang demam.

Di dunia ini, hanya tubuh seorang wanitalah yang selemah ini.

Pei Qian Hao segera berjalan keluar dari kamar dan memerintahkan pengawal dari Kediaman Pangeran Hao untuk memanggilkan seorang tabib. Pengawal yang dipilih untuk mengerjakan tugas ini tak lain tak bukan adalah orang yang tadi mencambuk Su Xi-er, dan ia sudah menyaksikan semua tindakan Pangeran Hao barusan ini.

Aneh. Dulu, ketika Pangeran Hao menghukum pelayan, ia sama sekali tak mempedulikannya. Jika mereka terluka atau bahkan mati, itu hanya masalah sepele. Namun, kenapa ia bertingkah begitu berbeda terhadap si dayang ini? Apakah ia tak sanggup lagi menyaksikan gadis ini bertahan dalam diam, dan memutuskan ia tak tega lagi untuk menghukumnya dan melihatnya dalam keadaan seperti ini?

"Cepatlah pergi."

Mendengar suara sedingin es Pangeran Hao, si pengawal menganggukkan kepalanya berulang-ulang dan langsung berlari keluar di tengah hujan deras.

Di saat Pei Qian Hao kembali ke kamarnya lagi, ia menyadari kening Su Xi-er dipenuhi keringat. Tangannya mencengkeram selimut dengan erat, dan bibir pucatnya terbuka dan menutup, seolah ia tengah mengalami mimpi buruk.

"Bagaimana bisa kau ... seperti ini, Yun ...." Kata-kata 'Ruo Feng' tersangkut di tenggorokannya.

Pei Qian Hao memandanginya. Yun? Seseorang dengan marga 'Yun'? Pria ataukah wanita? Apa hubungan orang itu dengannya?

Ia tak lagi berbicara dan menggenggam selimutnya dengan lebih erat lagi, wajahnya diliputi keputusasaan dan rasa sakit.

Penampilannya ini membuat Pei Qian Hao tertegun. Bagaimana bisa seorang wanita berekspresi seperti ini?

Dulu, aku pernah memasang ekspresi semacam ini juga. Tetapi, pada akhirnya, aku berhasil mengatasi semuanya dan berjalan ke tempat dimana aku berada sekarang. Aku juga punya ekspresi yang sama di masa lalu.

Apakah pengalamannya sama denganku? Mana mungkin? Ia masuk ke istana saat masih sangat kecil. Bagaimana mungkin seorang gadis kecil mengalami kejadian semenyakitkan itu sampai-sampai bisa berekspresi seperti ini?

Pei Qian Hao duduk di tepian ranjang dan menatap gaun kuning bernoda darah. Ia tak bisa menahan diri, mengulurkan tangan dan menggenggam Su Xi-er.

Seolah tangannya adalah mata air di sebuah oasis. Segera setelah Su Xi-er menyentuhnya, genggamannya mengetat hingga bercak keputihan muncul di pergelangan tangan Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao termenung selagi memperhatikan tangan yang menggenggaminya dengan mata setengah terbuka.

Siapa tepatnya 'Yun' yang disebutnya?

***

Seorang tabib bergegas datang sekitar satu jam setelahnya, ditemani oleh Hakim Provinsi dan Shui Ying Lian.

Shui Ying Lian memberitahukan segalanya pada Tuan Shui. Di tengah kegelisahannya, ia membawa Shui Ying Lian kemari untuk memohon ampunan.

Namun, ketika ia tiba, ia dilarang masuk ke dalam kamar oleh para pengawal dari Kediaman Pangeran Hao.

Ia hanya melihat tabib bergegas masuk bersama dengan kotak obatnya. Mungkinkah Pangeran Hao terluka? Tuan Shui pun jadi semakin stres.

Shui Ying Lian pun tersadar. Matanya kosong, dan sekujur tubuhnya menegang. 




Chapter 88




Continue reading CTF - Chapter 89

CTF - Chapter 88

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 88 : Cambuk


Shui Ying Lian gemetaran hebat sampai-sampai baskom kayunya jatuh ke tanah, menyebabkan bunyi clang memekakkan telinga di malam yang tadinya sunyi senyap ini.

Shui Ying Lian langsung bersimpuh di tanah dan memohon dengan suara mengigil, mengabaikan air dingin yang meresap ke dalam rambutnya. "Pangeran Hao, mohon ampuni aku ...." Suaranya lenyap.

Pei Qian Hao memandangi Shui Ying Lian yang bergetar tak terkendali dan membandingkannya dengan Su Xi-er. Sementara wanita lain memohon pengampunan setelah melakukan kesalahan, ia ....

Tatapan Pei Qian Hao menjadi lebih dingin lagi. "Karena kau suka bersimpuh di tanah, akan baik bagimu terus melakukannya sampai siang hari besok."

Shui Ying Lian segera menjawab, "Hamba mematuhi perintah." Kemudian, ia semakin menekankan tubuhnya di lantai hingga seluruh wajahnya menempel di atas lantai, menyebabkan rambutnya dikotori oleh debu di tanah.

Tidak mempedulikan fakta bahwa pakaian Shui Ying Lian basah kuyup, suhu dingin di tengah malam sudah cukup memastikan ia akan jatuh sakit jika terus dipaksa berbaring di sana sampai siang hari. Jikalau aku tidak mengetahui hubungan ibunya dengan Ibunda Permaisuri, aku masih bisa membiarkan diriku menonton tanpa perasaan. Namun, ia tetaplah keturunan Nan Zhao.

Oleh karenanya, Su Xi-er menengadah. "Pangeran Hao, mengapa seseorang dengan kedudukan seperti Anda, mempersulit seorang wanita lemah? Ia menjatuhkan baskom kayunya karena ia ketakutan, hamba harap agar Anda dapat bermurah hati dan melepaskannya, Pangeran Hao."

Setelah selama ini, ia hanya menengahi demi wanita lain.

Mata Pei Qian Hao diliputi aura dingin. "Pangeran ini tidak tahu apa itu 'murah hati'. Kata itu tidak ada hubungannya dengan Pangeran ini." Setelahnya, ia berbalik dan bersiap pergi.

Namun, sebelum ia bisa menjauh, ujung pakaiannya ditarik kuat oleh tangan kecil saat suara lembut seorang wanita terdengar. "Pangeran Hao, lepaskanlah dia. Hamba adalah akar masalahnya."

Pei Qian Hao merendahkan kepalanya dan menatap ke bawah ke arahnya, melihat wajahnya dipenuhi dengan ketulusan. "Bukankah kau berniat mengerjainya? Apa, sekarang kau menyesalinya?"

Ketika Shui Ying Lian mendengarkan kata 'mengerjai', tubuh gemetarannya bergetar bahkan lebih kuat lagi. Wanita ini lumayan baik. Ia tidak tertarik pada Pangeran Hao juga, jadi mana mungkin ia mengerjaiku?

"Pangeran Hao, Anda salah paham. Hamba tidak mengerjainya." Su Xi-er hanya melihat harapan di mata Shui Ying Lian dan hanya melakukan itu karena ia kesal direcoki terus-terusan olehnya.

Selain itu, Pei Qian Hao memperlakukanku dengan cara seperti itu. Tak bisa dipungkiri lagi, aku ingin mengerjainya. Terus terang saja, orang yang benar-benar ingin 'dikerjai' olehnya adalah Pei Qian Hao.

"Kalau begitu, orang yang kau kerjai bukan dirinya, melainkan Pangeran ini?"

Nada membekunya bergema di malam hari, menyebabkan si Shui Ying Lian yang masih menggigil, sekali lagi tersentak kecil.

Karena sudah sampai sejauh ini, Su Xi-er memutuskan untuk menguatkan saja hatinya. "Pangeran Hao, karena Anda sudah jelas akan kenyataan ini, hamba tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Anda bisa menghukum hamba."

Mata Shui Ying Lian langsung melebar, sementara melupakan tentang Pei Qian Hao selagi ia mengangkat kepalanya, tercengang menatap Su Xi-er. Ia sungguh mengakui mengerjai Pangeran Hao! Berdasarkan seberapa berbahayanya Pangeran Hao, ia pasti tidak akan mengampuni Su Xi-er.

"Kau mengakuinya dengan jelas bahwa kau mengerjai Pangeran ini. Apakah kau paham apa harganya?" Pei Qian Hao mengibaskan ujung lengan jubahnya, melepaskan tangan Su Xi-er yang menggenggamnya.

"Tentu saja, aku memahaminya," ucap Su Xi-er.

Pei Qian Hao berjongkok dan menatap lurus di matanya dengan wajah iblisnya. "Sesuai harapanmu, aku akan menghukummu, bukan dirinya." Ia pun bangkit berdiri dan melambaikan tangannya pada Shui Ying Lian, menginstruksikan, "Mundurlah."

Shui Ying Lian ingin mengutarakan sesuatu, tetapi terlalu ketakutan akan tatapan dingin yang dilancarkan Pei Qian Hao padanya, sehingga ia tak lagi berani mengatakan apa pun.

Pada akhirnya, ia hanya bisa memberi tatapan tak berdaya pada Su Xi-er sebelum cepat-cepat kabur ke arah mana saja yang ditemukannya. Mungkin, hanya seorang dayang pribadi saja yang mampu menghadapi aura keras Pangeran Hao.

***

"Katakan, bagaimana Pangeran ini harus menghukummu? Kau begitu cantik. Pangeran ini tidak tega membuat wajahmu itu jadi jelek." Tatapan Pei Qian Hao tertuju pada Su Xi-er sementara suaranya jadi semakin rendah dan pelan.

"Hamba akan menerima hukuman apa saja. Tetapi ... hamba tidak ingin dipaksa membuka pakaianku lagi." Su Xi-er mengangkat kepalanya dan memandang lurus ke arahnya. Ia merasa bahwa sangat perlu baginya untuk menekankan bagian tersebut.

Pei Qian Hao tertawa. "Pangeran ini sudah melihatnya hari ini, jadi, aku tidak akan melihatnya untuk kedua kalinya. Hanya saja, Pangeran ini tidak terpikirkan bagaimana caranya aku harus menghukummu. Beritahu aku, mengapa kau mengerjai Pangeran ini? Jika kau memberikan penjelasan yang memuaskan, barangkali hukumanmu bisa lebih ringan."

"Pangeran Hao, apakah Anda tidak memahami apa hal terpenting bagi seorang wanita?"

Pei Qian Hao menatap mata berbinar tiada hentinya yang tampak seolah menari di dalam cahaya bulan. Ia mengenakan ekspresi tulus untuk menanyainya apakah yang terpenting bagi seorang wanita.

Su Xi-er tidak menunggunya menjawab sebelum melanjutkan. "Pangeran Hao, Anda mungkin akan menjawab penampilan, tetapi apa yang ingin hamba beritahukan pada Anda adalah kesucian. Setiap wanita, tak peduli apa status mereka, menyembunyikan pemikiran untuk menikahi seseorang."

Ucapannya hanya setengah jujur, meskipun baginya, ia hanya mengerjainya untuk membalas pria itu. Semua orang punya martabatnya masing-masing, tetapi, apabila ia berbicara perihal martabat dengan Pei Qian Hao, apa yang didapatkan olehnya sebagai balasan, mungkin adalah cibiran penuh penghinaan.

Martabat macam apa yang dimiliki seorang dayang untuk dibicarakan di hadapan Pei Qian Hao?

"Maksudmu adalah, karena Pangeran ini sudah melihat dirimu seutuhnya, aku harus bertanggung jawab dan menikahimu? Ternyata, inilah rencanamu."

"Hamba tidak akan berani, Pangeran Hao. Anda boleh memukuli dan mencerca hamba, tetapi Anda tidak boleh bercanda denganku, mengabaikan perbedaan di antara pria dan wanita, melampaui status Anda dan melakukan hal yang buruk terhadap hamba."

Nada bicaranya datar, tetapi perkataannya sangat kurang ajar! Pendeknya, ia memberitahu pria itu, "Dengan status agung dan berkuasamu, kau harus berhenti bertingkah seperti seorang buaya darat!"

Suara Pei Qian Hao dalam dan rendah bersamaan dengan adanya sekelebat kilau berbahaya terpancar di matanya. "Hal buruk? Tak ada seorang pun yang mengucapkan kata-kata ini pada Pangeran ini sebelumnya. Su Xi-er, kali ini, kau sudah melewati batas."

Kemudian, ia tertawa kecil dan mengibaskan ujung lengan jubahnya sebelum menghilang di kejauhan.

Su Xi-er memandangi baskom kayu di sebelahnya. Apakah ia benar-benar akan melepaskanku begitu saja?

Harapan itu langsung pupus saat seorang pengawal berjalan mendekat dengan sebuah cambuk di tangannya.

Berhenti di hadapan Su Xi-er, si pengawal menangkupkan tangannya dan berkata seraya meminta maaf, "Aku adalah pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Hao. Menyampaikan titah lisan Pangeran Hao, Su Xi-er menyinggung majikannya dan harus dicambuk sebanyak dua puluh kali sebagai bentuk pendisiplinannya."

Tak sampai sedetik setelahnya, cambuk itu terangkat dan menyerang punggung Su Xi-er dengan ganas.

Su Xi-er tanpa ekspresi. Tak ada artinya. Rasa sakit semacam ini bahkan tak akan bisa dibandingkan dengan apa yang telah kulalui. Cambuk yang mendarat padanya hanya terasa bagaikan gerimis belaka.

Keheranan dan keterkejutan terpatri di mata si pengawal, merasa kalau ia tengah menyaksikan sesuatu yang tak terjelaskan. Seorang wanita normal sudah pasti akan pingsan di tanah hanya dalam sepuluh kali cambukan. Aku sudah mencambuknya lebih dari sepuluh kali, tetapi ia tetap tak bergerak seinci pun.

Hati si pengawal pun melembut dan tak sanggup lagi melanjutkannya. Tak adanya reaksi sama sekali, menunjukkan kalau wanita ini sudah terbiasa dengan hukuman semacam ini. Seorang wanita yang terbiasa dicambuk pasti menderita banyak sekali kesukaran.

Tanpa sadar, ia mulai memelankan cambukannya, tetapi ketika ia teringat akan ekspresi serta nada bicara Pangeran Hao saat menurunkan titah, seluruh tubuh pengawal itu pun gemetaran.

Oleh karena itu, si pengawal hanya bisa menggertakkan giginya dan menambah kekuatannya di tiga cambukan terakhir.

Srekk! 

Bagian belakang gaunnya sobek, memperlihatkan kulit yang terkoyak dan darah segar yang perlahan-lahan mengalir turun.

Si pengawal menggulung kembali cambuknya dan menangkupkan tangannya lagi. Nada suaranya dipenuhi rasa bersalah. "Maafkan aku. Aku menjalankan perintah. Jangan menyalahkanku."

Su Xi-er menggigit bibirnya yang pucat pasi dan mendadak tersenyum. "Kenapa aku harus menyalahkanmu? Kau harus pergi."

Aku sendiri yang menyebabkannya. Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Hanya demi secuil martabat itu, aku berlagak, sampai-sampai mengerjai pria hebat dan berkuasa itu.

Dua puluh kali cambukan bisa dianggap sebagai hukuman ringan.


Silakan lanjut ke Chapter 89 di sini.

Atau ke TOC.

Continue reading CTF - Chapter 88

CTF - Chapter 87

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 87 : Rakyat Nan Zhao

Continue reading CTF - Chapter 87

Jumat, 28 Mei 2021

CTF - Chapter 86

 Consort of A Thousand Faces

Chapter 86 : Ia Dihukum

Continue reading CTF - Chapter 86