Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 2. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juli 2025

CTF - Chapter 195

Consort of A Thousand Faces

Chapter 195 : Tidak Bisa Datang


Ning An Lian tidak sanggup tetap marah dengan seberapa sakit dirinya, dan hanya punya sedikit pilihan untuk berpegangan pada dayang yang ada di sisinya.

"Kaki Putri ini sakit!" Wajah Ning An Lian sudah menjadi beberapa tingkat lebih pucat sementara ia mengusap-usap kakinya untuk mengurangi rasa sakitnya. "Tidak tertahankan!"

Melihat situasi di hadapannya, Wei Mo Hai tidak punya pilihan selain memanggil seorang kasim kecil.

"Siapkan tandu untuk Putri Pertama Kekaisaran! Cepat!"

Kaki si kasim kecil jadi lemas melihat aura berkuasa Wei Mo Hai, menyebabkannya tergagap saat ia menjawab, "Ba ... ba ... baik, pelayan ini akan pergi sekarang juga."

Beberapa saat kemudian, si kasim kecil sudah mendapatkan orang untuk membawakan tandunya kemari.

Dengan sigap, Wei Mo Hai memerintahkan dayang istana untuk membantu Putri Pertama menaiki tandunya sebelum kemudian berkata, "Segera menuju ke Institut Tabib Kekaisaran!"

Ning An Lian tergesa-gesa harus menghadiri perjamuan kerajaan dan langsung menolaknya. "Putri ini baik-baik saja, tidak perlu menuju ke Institut Tabib Kekaisaran."

Wei Mo Hai belum pernah berjumpa dengan seorang Putri Pertama Kekaisaran sekeras kepala ini. Gelombang ketidakpuasan muncul di hatinya, tetapi ia tidak berani mengungkapkannya; sebaliknya, ia memilih mencoba membujuk Ning An Lian. "Yang Mulia, pergelangan kaki Anda cedera. Anda semestinya tahu lebih baik dariku bahwa segala usaha Pangeran Yun akan sia-sia jika Anda pergi ke perjamuaan kerajaan sekarang."

Aib yang mutlak, dengan semua kerajaan yang memandang rendah Nan Zhao!

Tidak peduli seberapa enggannya Ning An Lian, ia hanya bisa terus diam dan membiarkan Wei Mo Hai diam-diam mengirimkannya ke Institut Tabib Kekaisaran.

Telah menyelesaikan situasinya sementara waktu, Wei Mo Hai memutar tumitnya dan dengan cepat menuju ke perjamuan kerajaan.

Ketika Yun Ruo Feng melihat kalau Wei Mo Hai tidak kembali bersama Ning An Lian, ia tidak tahan untuk tidak mengerutkan alisnya. Mungkinkah terjadi sesuatu lagi?

Wei Mo Hai tidak menyembunyikan apa pun sewaktu ia maju ke depan dan membisikkan, "Pangeran Yun, Putri Pertama melukai pergelangan kakinya lagi dalam perjalanannya kemari. Bawahan ini sudah mengirimkannya ke Institut Tabib Kekaisaran."

"Bagaimana ini bisa terjadi?" Yun Ruo Feng memelankan suaranya.

Wei Mo Hai menjawab, "Putri Pertama terus saja menanyakan tentang penggantinya untuk tarian itu sepanjang jalannya kemari. Ia membuat pergelangan kakinya terluka lagi akibat keresahannya."

Semakin Yun Ruo Feng mendengarkannya, semakin tidak senang pula dirinya. Pada akhirnya, ia hanya bisa dengan cepat mengendalikan ekspresinya dan mengembalikan raut wajah yang ceria dan lembut. Melirik ke arah para utusan di sekitar mereka, Yun Ruo Feng berbicara sembari menahan napasnya, tanpa menggerakkan bibirnya, menjaga percakapan itu tetap di antara mereka berdua. "Pangeran ini mengerti. Bertahanlah dulu sebentar."

Saat Chu Ling Long, Putra Mahkota dari Dong Ling, melihat kalau seseorang secara pribadi berbisik pada Yun Ruo Feng, kecurigaan muncul di hatinya.

Memandang Yun Ruo Feng, ia tersenyum, berkomentar, "Setelah berpikir bahwa tidak ada orang di bumi ini yang bisa dibandingkan dengan Ning Ru Lan, Putra Mahkota ini dibuat kaget sekali oleh Putri Pertama Kekaisaran yang sekarang. Hanya saja, sudah agak lama semenjak putri pergi untuk berganti pakaian; mengapa ia masih belum kembali ke kursinya? Putra Mahkota ini tidak sabar ingin melihat wajahnya."

Yun Ruo Feng memasang roman muka lembut, tersenyum samar pada Chu Ling Long untuk mengekspesikan permintaan maafnya. "Menari itu sangat melelahkan. Pasti Putri Pertama sedang beristirahat sekarang ini, dan akan segera bergabung dengan kita."

Beberapa orang mengangguk-angguk paham, tetapi ada pula yang tidak bisa menunggu dan menyanggah. "Kami sudah menunggu terlalu lama. Semoga Putri Pertama Kekisaran cepat-cepat keluar dan membiarkan kita melihat kecantikannya!"

"Itu benar, kau tidak bisa membiarkan kami menunggu di sini. Dengan ini diulur-ulur, semua orang akan kehabisan kesabaran. Bukan begitu, semuanya?"

Yang lainnya pun mengangguk setuju.

Mereka semua mengetahui kecantikan dan keanggunan Ning Ru Lan, pernah melihat tarian dan wajahnya sebelumnya. Alhasil, banyak yang meragukan kemampuan Ning An Lian untuk menandingi kemampuan Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu. Bagaimanapun juga, tidak ada orang yang pernah melihat tarian Ning Ru Lan yang akan memercayai bahwa ada wanita lain di dunia ini yang mampu meniru daya pikatnya yang tak kunjung hilang.

Tetapi, mereka tidak pernah menyangka Putri Pertama Kekaisaran yang sekarang akan sehebat ini. Tariannya bisa dianggap sebagus milik Ning Ru Lan, dengan langkahnya memancarkan kecantikan tak terlukiskan yang sama, membuat seseorang mengenangnya setelah pertunjukan tersebut.

Melihat ekspresi bersemangat semua orang, Yun Ruo Feng hanya bisa mengangguk dan meminta maaf, berharap agar tidak ada yang terjadi lagi di pihak Ning An Lian.

Ia menatap Ning Lian Chen yang duduk di kursi utama, hanya menemukan bahwa orang itu setuju dengan para tamu. "Memang, Kakak Perempuan sudah beristirahat terlalu lama. Akan lebih baik untuk cepat-cepat mengundangnya keluar. Xiao Li Zi, pergi dan lihat. Jangan membuat para utusan terus menunggu."

Xiao Li Zi tidak berani berlama-lama. Menerima titahnya, ia dengan cepat beranjak pergi.

Sudah pernah melihat si wanita berbaju ungu, Ning Lian Chen sudah tahu kalau bukan Ning An Lian yang mempersembahkan tarian tersebut. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa Yun Ruo Feng akan secara sembunyi-sembunyi menukarkan putri yang asli dengan seorang penipu, menggunakan cadar untuk menyembunyikan wajahnya.

Pastinya ada alasan lain dari keterlambatan Ning An Lian.

Pei Qian Hao adalah orang yang paling tenang di perjamuan itu, diam-diam mengamati semua orang di sekitarnya tanpa mengungkapkan pemikirannya.

Tiba-tiba saja, ia melihat ke samping, hanya merasa sepertinya ada yang hilang: Su Xi-er. Ia sudah begitu terbiasa dengan orang itu berada di sisinya, sampai-sampai terasa ada yang salah tanpa kehadirannya. Ketika sosok langsingnya akhirnya muncul di atas panggung, bahkan Pei Qian Hao saja tidak bisa menahan diri, tergoda olehnya.

Pei Qian Hao merasakan keengganan yang ekstrim di dalam hatinya, memikirkan ada begitu banyak pria di aula yang menonton dirinya. Beruntung sekali, ia mengenakan cadar, jadi tidak ada yang tahu kalau dayangku adalah wanita yang tampil di atas panggung.

Kalau tidak, mata mereka semua harus dicungkil. Karena mereka berpikir kalau Su Xi-er adalah Ning An Lian, maka biarkan saja. Aku tidak akan bilang apa-apa, selama Yun Ruo Feng juga melakukan hal yang sama.

Sementara perdebatannya pelan-pelan reda, Yun Ruo Feng merasa agak terhina, dan tahu bahwa Ning An Lian sudah membuatnya malu lagi.

Melambaikan tangannya, ia memberi sinyal pada para musisi untuk mulai bermain. Melihat ini, rombongan opera pun naik ke atas panggung dan terus memulai pertunjukan mereka.

Mata Yun Ruo Feng menggelap sementara ia menyaksikan pertunjukan di atas panggung. Mengangkat cangkir anggurnya, ia mengajak Pei Qian Hao yang duduk di seberangnya untuk bersulang.

Tidak ingin menjadi tidak sopan, Pei Qian Hao sedikit mengangkat cangkir anggurnya dan mengangguk ke arah Yun Ruo Feng. "Pangeran Yun, Pangeran ini akan minum duluan, sebagai bentuk rasa hormat."

Mengosongkan apa yang ada di dalam cangkirnya, Pei Qian Hao menurunkan cangkir anggurnya sementara menyaksikan Yun Ruo Feng melakukan hal yang sama.

Kemudian, Yun Ruo Feng menatap Chu Ling Long dan berkata, "Putra Mahkota, Pangeran ini mengajakmu bersulang."

Chu Ling Long bangkit berdiri, matanya dipenuhi senyuman. "Putra Mahkota inilah yang seharusnya mengajak Pangeran Yun untuk bersulang. Mari, bersulang."

Setelah keduanya selesai, Yun Ruo Feng mengajak tamu-tamu dari tiap kerajaan untuk bersulang, dimulai dari Kaisar Xi Liu dan menurun ke kerajaan-kerajaan lain yang lebih kecil.

Semua orang berkesempatan untuk bersulang dan bertukar basa-basi, tetapi hingga di akhir semuanya, Ning An Lian masih belum muncul juga.

Chu Ling Long menjadi tidak sabaran dan mempertanyakan Yun Ruo Feng sekali lagi. "Pangeran Yun? Putra Mahkota ini dan para utusan sudah menunggu sangat lama. Mengapa Putri Pertama Kekaisaran masih belum kemari? Mungkinkah ia memandang rendah kami dan tidak bersedia untuk menganugerahkan kami dengan kehadirannya?"

Seorang pemimpin dari kerajaan yang lebih kecil langsung merasa tidak senang. "Benar sekali, kami sudah menunggu sekian lama, dan Putri Pertama Kekaisaran masih belum keluar untuk bersulang dengan kami? Apakah begini cara Nan Zhao memperlakukan para tamu yang sudah jauh-jauh datang kemari untuk menyampaikan doa dan selamat mereka? Bahkan, mendiang Kaisar saja tidak akan menjaga jarak begini di hadapan kami. Jika ia tidak akan datang, jangan buang-buang waktu lagi." 


Silakan lanjut ke Chapter 196 di sini.

Atau ke TOC.

Continue reading CTF - Chapter 195

CTF - Chapter 194

Consort of A Thousand Faces

Chapter 194 : Kapan Ia Diundang


"Kau ...." Ning An Lian marah sampai kehabisan kata-kata. Tangannya gemetaran sewaktu ia menunjuk Su Xi-er, tetapi, ia tidak sanggup membuat dirinya mengucapkan apa pun.

Wei Mo Hai kebetulan masuk ke dalam kamar tepat di saat ini, menarik tatapan semua orang. Menyadari atmosfernya yang aneh, ia menginformasikan dengan khidmat, "Putri Pertama, sudah larut. Pangeran Yun mendesak kita agar pergi ke perjamuan dan segera duduk."

Ning An Lian hanya bisa mengangguk saat ia mendengar ini. "Mengerti. Putri ini akan pergi sekarang."

Sebelum ia pergi, Ning An Lian memberikan Su Xi-er tatapan kejam, sepenuhnya memperlihatkan kebencian di matanya.

Aku tidak akan melepaskan Su Xi-er!

Ia melirik Piao Xu penuh makna saat ia berjalan melewatinya dan berbisik, "Kau harus menjaga Nona Xi-er untuk Putri ini."

Piao Xu mengangguk. "Baik, pelayan ini mematuhi perintah."

Setelah mendengarkan konfirmasinya, Ning An Lian merapikan dirinya dan meninggalkan istana peristirahatan tersebut.

Hanya Su Xi-er dan Piao Xu yang tersisa di dalam istana peristirahatan itu.

Di mata Su Xi-er, Piao Xu bahkan tidak pantas untuk diperhatikan. Duduk di atas tempat duduk bersulam, ia mulai melihat sekeliling istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran, tempat dimana ia tinggal sebelumnya.

Namun, meskipun ia familier dengan ruangan itu sendiri, semua dekorasinya sudah berubah. Semuanya, dari bunga di dalam ruangan, lemari pakaiannya, dan bahkan benda-benda kecil seperti cangkir dan gordennya, sudah berubah.

Sepertinya, Ning An Lian sudah mengganti semuanya.

Piao Xu berdiri di satu sisi dan menatap Su Xi-er dengan saksama. Kesannya adalah bahwa orang itu hanya penasaran, tidak pernah melihat istana peristirahatan seorang Putri sebelumnya.

Ia pun tidak tahan untuk bertanya, "Nona Xi-er, apakah kau sedang berpikir kalau istana peristirahatan Putri ini sangat bagus dan indah?"

Su Xi-er mengangguk dengan senyuman di matanya. "Tentu saja, istana peristirahatan dari seorang Putri kerajaan harus agung, cantik, dan berkilauan."

"Benar, Putri adalah Putri Pertama Kekaisaran yang tinggi dan agung, yang tinggal di tempat terbaik. Nona Xi-er, kau sangat beruntung bisa melihatnya hari ini. Karena kau tidak akan punya kesempatan untuk tinggal di istana seperti ini seumur hidupmu, kau harus menikmati kesempatan ini dan menikmatinya sebentar."

Su Xi-er mendengus dalam hati. Apakah ia sedang mencoba memamerkan betapa mulianya Ning An Lian?

Mempertimbangkan hal ini, Su Xi-er bangkit berdiri dan mulai melihat-lihat sekitar lagi. "Istana peristirahatannya cantik, tetapi bukan yang paling indah yang pernah kulihat. Semua benda vulgar di dalam kamar ini membuat kecantikan Putri Pertama hanya sedalam kulitnya saja. Semua orang mengetahui kalau seseorang memerlukan hati yang cantik, ditambah dengan penampilan mereka. Kemampuan orang yang benar-benar cantik, bahkan membuat hal duniawi tampak gemilang; itu bukanlah sesuatu yang bisa ditiru dengan memiliki setumpuk benda material."

Piao Xu kaget. Mana mungkin ia tidak memahami apa maksud Su Xi-er? Berani sekali ia mengatakan hal semacam itu tentang Putri Pertama Kekaisaran!

Piao Xu tidak menyerah dan menentang. "Itu tidak benar. Kau pasti merasa iri karena semua yang ada di istana peristirahatan Putri ini mahal, kan?"

Su Xi-er mencibir. "Kenapa aku harus merasa iri pada benda-benda vulgar yang bukan milikku? Bukankah itu menambah kecemasanku? Selain itu, ada banyak barang di istana peristirahatan Putri Pertama ini yang bisa dengan mudah ditemukan di Istana Kecantikan."

Piao Xu tidak tahu apa maksudnya. Tetapi, bagaimana bisa Su Xi-er dengan mudahnya melihat benda-benda itu di Kediaman Pangeran Hao? Ia hanya seorang dayang!

Su Xi-er tidak memberinya kesempatan untuk berpikir dan langsung berkata, "Bukankah aku benar? Semua benda ini mungkin tampak mahal di mata Putri Pertama Kekaisaran, tetapi mereka bukan apa-apa di Bei Min."

Su Xi-er melihat ekspresi terkejut Piao Xu di wajahnya dan membuka mulutnya lagi. "Kau adalah dayang pribadi Putri Pertama, tetapi pernahkah ia menghadiahkan apa pun kepadamu?"

Dengan santainya, ia mengambil sebuah vas porselen berwarna biru dan putih, memegangnya di depan Piao Xu. "Lihat, benda seperti ini berharga, tetapi, pernahkah Putri Pertama memberikan satu untukmu? Bukankah seharusnya ia punya banyak karena statusnya?"

"Aku ...." Piao Xu tidak tahu harus berkata apa.

Memang benar kalau aku tidak memiliki sebuah vas porselen biru dan putih ini, tetapi karena Nan Zhao bukanlah suatu kerajaan yang terkenal akan porselennya, hanya ada beberapa vas seperti ini di seluruh kerajaan. Mana mungkin Putri menganugerahkan satu padaku?

Putri menghadiahiku dengan benda-benda seperti perak dan tusuk rambut sebelumnya, tetapi kebanyakan dari mereka adalah benda yang tidak diinginkan atau tidak disukainya. Seperti yang dikatakan Su Xi-er, ia tidak pernah menghadiahkanku apa pun yang mahal.

Tetapi, apakah sungguh benar kalau Su Xi-er menerima hadiah semacam itu? Piao Xu pun tidak tahan untuk bertanya-tanya.

Entah apakah itu benar atau tidak, itu adalah sesuatu yang tak bisa ia tahan, hanya bisa merasa iri. Selain itu, ia jelas melihat kalau Pangeran Hao memanjakan Su Xi-er dari perjamuan sebelumnya di Kediaman Pangeran Yun.

Biarpun ia ragu, Piao Xu tetap menyingkirkan ekspresi irinya. "Apa kau berbohong padaku? Aku tidak percaya kalau Pangeran Hao cukup bermurah hati untuk memberikan sesuatu seperti itu pada seorang dayang rendahan seperti dirimu. Jangan mencoba menabur perselisihan di antara kami."

Su Xi-er tersenyum. Ia tahu kalau Piao Xu sudah punya keraguan. "Apakah aku punya atau tidak, hanya aku yang tahu, dan kau harus mencaritahunya."

Setelah itu, ia berhenti bicara. Namun, wajah Piao Xu berubah gelap karena amarah.

Semua orang mengatakan bahwa orang yang paling memahami dirimu bukanlah teman terdekatmu, melainkan musuh terburukmu. Aku yang lebih tahu dari siapa pun, jenis orang macam apakah Ning An Lian. Mana mungkin ia memperlakukan seorang dayang istana seperti Piao Xu dengan baik?

Piao Xu bahkan tidak menyadari kalau ia sudah kalah sementara mencoba memamerkan seberapa terhormat dan tak terkalahkannya Putri Pertama Kekaisaran.

Bahkan, selagi Piao Xu marah sampai mau mati gara-gara Su Xi-er, Ning An Lian juga melakukannya dengan buruk.

Ia terus-terusan terpikirkan soal Su Xi-er yang ada di dalam istana peristirahatan, langsung menyerang Wei Mo Hai. "Komandan Wei, Pangeran Yun pergi ke kuil bersama Yang Mulia pagi ini. Bagaimana bisa ia punya waktu untuk mengundang Su Xi-er?"

Wei Mo Hai melambatkan langkah kakinya, tetapi masih menghindari pertanyaan tersebut. "Putri Pertana, lebih baik jika Anda melupakan soal ini. Cukup berpura-pura kalau Anda menari di perjamuan kerajaan."

Ning An Lian gusar dan menghadang jalan Wei Mo Hai. "Kapan ia diundang?"

Wei Mo Hai tidak menjawab. Saat Ning An Lian melihat ini, ia tertawa ironis. "Hmph, ia pergi sendirian ke rumah pos dan diam-diam mengundangnya? Aku tidak percaya kalau ia akan melakukan ini."

"Putri, masalah ini sudah berlalu. Mohon ingat bahwa Anda adalah Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang baru saja menyelesaikan tarian Anda." Wei Mo Hai memperingatkannya dengan serius, memancarkan aura yang khidmat.

Sayangnya baginya, Ning An Lian tidak pernah takut pada siapa pun di dalam hidup ini selain pada Yun Ruo Feng, orang yang dicintainya.

"Apa, karena orang itu terkait, aku bahkan tidak punya hak untuk bertanya?"

Keteguhan Wei Mo Hai yang menolak mengatakan apa-apa membuat Ning An Lian menghentakkan kakinya marah, melupakan kalau pergelangan kakinya cedera. Tiba-tiba saja, rasa sakit menusuk kakinya. Berdiri saja sudah sangat sakit, apalagi berjalan.

Wei Mo Hai langsung bertanya, "Putri Pertama, ada apa?"

 

Continue reading CTF - Chapter 194

CTF - Chapter 193

Consort of A Thousand Faces

Chapter 193 : Konfrontasi


Sementara Ning An Lian marah besar di istananya, Su Xi-er sedang membungkuk pada penonton setelah menyelesaikan tariannya.

Suara memekakkan telinga dari tepukan tangan bisa terdengar di sekelilingnya. "Semua orang mengatakan bahwa Putri Pertama Kekaisaran, tarian Ning An Lian, tidak kalah dari Ning Ru Lan. Gerakannya cemerlang dan anggun; ia benar-benar seorang ahli tarian yang langka."

Yun Ruo Feng mendengarkan kata-kata penuh kekaguman itu dengan senyuman lembut di wajahnya. Ia akan dengan sopan dan rendah hati menjawabnya ketika yang lain berbicara dengannya. Tingkah lakunya persis seperti seorang kaisar.

Cukup jelas, bagi para tamu, bahwa Pangeran Yun bukan hanya sekadar seorang prince regent biasa, tetapi mereka semua menahan diri agar tidak mengatakan apa-apa.

Ning Lian Chen tetap diam tercengang sepanjang waktu ini sementara berada di kursi bagian atas.

Bukan kualitas tariannya yang membuatnya tak sanggup berbicara, tetapi karena, ia samar-samar melihat sosok Kakak Perempuannya dalam pergerakan itu. Perasaan familier itu menjadi semakin kuat, seolah mendiang Kakak Perempuannya-lah yang sedang menari.

Ning Lian Chen masih belum kembali dari keterguncangannya bahkan setelah wanita itu menyelesaikan tariannya dan mundur dari panggung.

Kilat cerah melintas di mata Pei Qian Hao, tetapi ia hanya memainkan cangkir anggurnya tanpa mengucapkan kata lainnya.

Sementara itu, Su Xi-er dibawa menuju istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran oleh seorang dayang istana setelah ia menyelesaikan tariannya.

Tidak ada yang lebih akrab dengan istana kekaisaran Nan Zhao daripada Su Xi-er. Sudah lama sekali semenjak aku berada di sini, tetapi tembok istananya masih sama saja. Meski begitu, bunga dan tanamannya sepertinya sudah banyak berubah.

Istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran merupakan istananya dulu. Bahkan tanpa si dayang istana yang membimbingnya, ia masih bisa sampai ke sini dengan matanya yang terpejam.

Si dayang istana yang membimbingnya kemari dikirimkan oleh Yun Ruo Feng, dan mengetahui kalau ia bukanlah Putri Pertama Kekaisaran yang sebenarnya.

Tetapi, tarian wanita ini begitu indah sampai mendapatkan kekaguman dari para penguasa dari berbagai kerajaan.

Si dayang istana hanya bisa memujinya. "Nona, tarianmu begitu anggun dan menawan. Semua orang mengatakan kalau keterampilan tarian Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu tak tertandingi, tetapi setelah melihat tarianmu hari ini, aku pikir bahwa keterampilanmu setara dengannya."

Su Xi-er melambatkan langkah kakinya saat ia mendengar apa yang dikatakan oleh dayang istana tersebut. Ia memandangi si dayang istana sejenak sebelum menjawab dengan tenang, "Terima kasih banyak atas pujianmu, Nona."

Dengan respon semacam ini, si dayang hanya bisa mengangguk dan terus memimpin jalannya. Tidak lama sebelum mereka tiba di istana peristirahatan itu, dan dayang istana itu menggesturkan pada Su Xi-er untuk masuk.

"Nona, ini adalah istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran."

Su Xi-er menganggukkan kepalanya ringan dan tidak mengatakan apa-apa lagi sebelum berjalan menaiki tangga ke istana, mengangkat tangannya dan membiarkan para dayang yang bertugas membukakan pintu.

Ketika dayang istana yang bertugas melihat Su Xi-er, mata mereka berbinar. Meskipun mereka tidak bisa melihat wajah wanita ini dengan jelas, mereka bisa mengetahui kalau ia cantik. Bukankah Putri Pertama akan semakin marah jika ia bertemu dengan wanita ini?

Su Xi-er mengabaikan ekspresi mereka dan langsung berjalan masuk ke dalam saat pintu istananya terbuka. Ia bahkan tidak menunggu dayang yang ada di dekat situ untuk menuntunnya.

Ning An Lian mendengarkan ada suara dan mengira kalau itu adalah Yun Ruo Feng yang sudah sampai untuk menjemputnya. Ia segera berdiri dan tanpa sengaja melihat Su Xi-er yang sedang melepaskan cadarnya di depannya.

"Kenapa kau?" Suara Ning An Lian naik beberapa desibel lebih tinggi sementara berbagai tingkat kemarahan dan keterkejutan bangkit di matanya.

Ia melihat apa yang dikenakan oleh Su Xi-er. Ia mengenakan sebuah gaun ungu .... Jangan bilang padaku kalau Su Xi-er adalah orang yang menggantikanku menari!

Su Xi-er tidak panik. Ia mengangguk dan berkata, "Itu aku, Yang Mulia Putri Pertama Kekaisaran."

"Kau yang menari, menggantikan Putri ini?"

"Benar, itu aku. Kenapa? Bukankah Pangeran Yun memberitahukan Putri Pertama kalau akulah yang menggantikanmu?"

(T/N : selama status neng Xi-er masih dayang, biasanya saya terjemahin ucapan kamu/kau kepada orang yang statusnya tinggi dengan Anda. Tapi kalo dilihat sikonnya, sepertinya dia dah enek banget sama si putri pertama jadi2an ini, makanya sekarang kalo neng Xi-er lagi bedua aja sama dia, saya nerjemahinnya pake kamu/kau aja. Kalo ada orang luar, baru pake Anda lagi ;)

Mata Su Xi-er dipenuhi senyuman, tetapi bagi Ning An Lian, ia sedang menyombongkan diri dan congkak!

"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?" Ning An Lian agak kaget.

Aku tidak pernah berpikir kalau orang yang dicari Yun Ruo Feng adalah Su Xi-er! Aku benar-benar tidak mau memercayainya. Bagaimana bisa Yun Ruo Feng memintanya? Mungkinkah ia benar-benar menyukai dayang Pangeran Hao?

Apanya yang begitu hebat dari Su Xi-er? Apa yang membuatnya memikirkan Su Xi-er? Tidak peduli seberapa menarik dirinya, ia tetap hanyalah seorang dayang rendahan!

Ning An Lian merasa seakan wajahnya ditampar dengan keras, sangat menyakitkannya sampai ia mulai merasa mual!

Dadanya naik-turun; jelas sekali kalau ia gusar!

Saat Su Xi-er melihatnya seperti ini, ia mencibir pada dirinya sendiri. Ning An Lian, bukankah kau mau pamer? Bukankah kau mau membuat dunia terpesona dengan tarianmu? Bukannya kau mau menikahi Yun Ruo Feng? Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan semuanya!

Neraka, adalah tempat dimana kau dan Yun Ruo Feng berada.

Su Xi-er tersenyum selembut angin musim semi.

Ia menanyai Ning An Lian. "Jadi, Pangeran Yun benar-benar tidak memberitahukannya padamu?"

Setelah itu, ia berjalan mengitari Ning An Lian, setengah putaran dan senyumnya menjadi semakin jelas. "Tentu saja, Pangeran Yun pasti tahu, bila ia memberitahu Putri Pertama, kau akan menjadi sangat marah. Ia tahu kalau kau akan memaksakan dirimu di atas panggung bahkan dengan pergelangan kakimu yang cedera, hanya untuk mempermalukan, baik dirimu sendiri dan Nan Zhao di hadapan semua orang. Mengetahui ini, mana mungkin Pangeran Yun memberitahumu?"

"Kau ...." Ning An Lian praktis meludahkan api. "Su Xi-er, jangan terlalu arogan. Bertingkah searogan ini di depan Putri ini, kau memang cari mati!"

Ning An Lian mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan bersiap untuk menampar wajah Su Xi-er dengan kekuatan yang besar.

Tetapi, tepat saat tangannya baru saja akan menyerang, Su Xi-er menangkap pergelangan tangannya.

Ning An Lian merasa sangat kesakitan di pergelangan tangannya dan tidak bisa melepaskan diri. Ia hanya bisa memarahinya dengan keras. "Lepaskan Putri ini!" Ia mengangkat tangan lainnya selagi ia berteriak, hanya untuk mengalami perlakuan yang sama.

Piao Xu mulai berlari untuk membantunya, tetapi langsung terhenti di jalannya oleh tatapan meremukkan Su Xi-er. "Ini tidak ada hubungannya denganmu!"

Jantung Piao Xu berdebar setelah diteriaki. Ia tidak berani ke atas, dan hanya bisa menyaksikan dari samping.

Ekspresi Ning An Lian agak berubah dan menatap Piao Xu dengan mata yang membunuh. "Piao Xu, dari siapa sebenarnya kau menerima perintah?"

Tepat saat Piao Xu Akan membuka mulutnya, dayang yang membawa masuk Su Xi-er hanya bisa menyela. "Nona, mohon lepaskan Putri Pertama. Ia bukanlah seseorang yang bisa kau singgung."

Kesombongan Ning An Lian kembali dengan kekuatan penuh setelah mendengarkan itu, meneriaki Su Xi-er, "Cepat lepaskan Putri ini!"

Kepala Su Xi-er sedikit menoleh untuk melihat si pelayan. "Nona, kau melihat apa yang terjadi. Putri Pertama-lah yang duluan memukulku; aku hanya sedang membela diriku sendiri."

Sementara apakah aku boleh menyinggungnya, itu bukanlah sesuatu yang bisa ditentukan oleh orang lain.

Su Xi-er menoleh kembali ke arah Ning An Lian yang congkak sambil tersenyum, genggaman orang itu di pergelangan tangannya hanya menjadi lebih ketat. "Putri Pertama, sebagai seorang dayang, satu-satunya orang yang kulayani adalah Pangeran Hao. Kau tidak pantas untuk memerintahku. Selain itu, satu-satunya alasan aku datang, menggantikanmu menari adalah karena Pangeran Yun datang memintaku. Ia memohon padaku untuk menari menggantikanmu, mengatakan bahwa kau akan ditertawakan apabila acaranya dibatalkan. Biar kukatakan ini lagi padamu: satu-satunya alasan aku berada di sini adalah karena ketulusan Pangeran Yun."

Kemudian, Su Xi-er menghempaskan tangan Ning An Lian dan menatapnya dengan berseri-seri.

Ning An Lian terhuyung-huyung dan beruntungnya tertangkap oleh Piao Xu.

Akan tetapi, teringat apa yang baru saja dilakukan oleh Piao Xu, Ning An Lian langsung mendorongnya dan meraung dengan marah, "Menjauhlah!"

Ia menegakkan tubuhnya dan menatap Su Xi-er. "Kau ...."

Su Xi-er tidak memberikannya kesempatan untuk bicara sebelum langsung menyelanya lagi. "Putri Pertama, lebih baik kau berhati-hati agar tidak melukai pergelangan kakimu lagi. Jika nanti kau tidak bisa berjalan, orang lain akan menyadari bahwa bukan kaulah yang menari. Jika itu terjadi, aku tidak bisa menolongmu!" 

 

Continue reading CTF - Chapter 193

CTF - Chapter 192

Consort of A Thousand Faces

Chapter 192 : Ning An Lian Marah Besar


Di dalam istana peristirahatan Putri Pertama Kekaisaran.

Ning An Lian berjalan mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamarnya, ingin keluar, tetapi dihadang oleh pengawal kekaisaran yang berjaga di luar sana. Kapan pun ia mencobanya, mereka akan memberitahukan padanya bahwa mereka bertindak di bawah perintah Pangeran Yun.

Tiba-tiba saja, suara dari instrumen bambu sutra dapat terdengar dari luar sana.

Ning An Lian terkejut mendengarkan suara yang familier begini. Ini adalah lagu yang selalu dimainkan selama tarian perjamuan kerajaan! Bagaimana mungkin aku salah mengenalinya?

Mungkinkah tariannya sudah dimulai? Tetapi Putri ini tidak ada di sana, jadi siapa yang sedang menari?

Ning An Lian terkejut akan realisasi ini, dan segera memanggil Piao Xu. "Piao Xu, pergi dan cari tahu siapa yang sedang menari sekarang ini sedangkan Putri ini saja bahkan tidak berada di sana."

Ning An Lian mencengkeram erat sehelai saputangan dengan kilat membekukan di matanya.

Saat Piao Xu melihat ini, ia tidak berani bersikap lamban, dan langsung bertindak. "Baik, pelayan ini akan pergi sekarang."

Namun, Piao Xu juga dihadang oleh seorang pengawal ketika ia mencoba pergi keluar. "Nona Piao Xu, kau juga tidak boleh keluar sekarang!"

Saat Piao Xu mendengar kata-kata setegas itu, ia pun tidak tahan untuk mencaci-maki, "Apa? Jadi, aku juga tidak boleh keluar? Siapa yang memberimu nyali sebesar ini? Aku punya titah lisan dari Putri Pertama. Mungkinkah kau mau membantahnya?"

Kata-kata Piao Xu biasanya cukup untuk menciptakan kengerian pada dayang-dayang di istana kekaisaran, tetapi mereka tidak ada pengaruhnya pada pengawal ini.

Tanpa menurunkan tangannya dan sementara mempertahankan sikap tak berperasaannya, ia menanggapi dengan suara sopan, "Nona Piao Xu, silakan kembali. Kami tidak akan membiarkanmu keluar sampai waktunya tiba."

"Kau ...."

Piao Xu marah besar, tetapi ia tidak berani menyentuh orang-orang yang ada di bawah perintah Pangeran Yun. Tetapi, apakah Pangeran Yun sungguh akan menahan Putri Pertama? Siapa yang dimintanya untuk menari? Bukankah itu akan memalukan saat penguasa dari kerajaan lain melihat bahwa orang lain yang menari, menggantikan Putri Pertama?

Tetapi, tidak peduli seberapa tak berdaya dan marahnya Piao Xu, ia hanya bisa kembali ke dalam kamar.

Ning An Lian mendengar seluruh pertengkaran itu, dan tidak kaget saat Piao Xu kembali ke dalam kamar beberapa saat setelahnya. Sepertinya, tidak ada seorang pun yang bisa keluar.

Piao Xu merasa bersalah dan berlutut di hadapan Ning An Lian. "Putri Pertama, pelayan ini tidak berguna dan tidak bisa keluar."

Dada Ning An Lian dipenuhi dengan amarah yang membara, tetapi ia tahu kalau ini bukan karena Piao Xu yang tidak berguna. Ada terlalu banyak orang di luar sana. Jangankan Piao Xu, bahkan aku saja tidak bisa keluar.

Mengetahui bahwa marah soal ini tidak akan membantunya, Ning An Lian melambaikan tangannya sewaktu ia berusaha keras untuk menenangkan diri. "Lupakan saja."

Suara dari instrumen bambu sutranya meningkat sebelum musiknya melambat, berangsur menghilang sama sekali.

Ning An Lian tahu kalau lagu dan tariannya akan segera berakhir. Tetapi, siapakah yang menggantikanku? Ada banyak penari berbakat di dunia ini, tetapi tidak banyak yang bisa menari dengan begitu indahnya.

Aku belum melakukan upaya apa-apa dalam latihanku agar bisa bersaing dengan Ning Ru Lan. Tadinya, aku mau mengejutkan dunia dengan tarianku, dan membuat semua orang tahu bahwa aku lebih baik dari Ning Ru Lan.

Tetapi ... tanpa diduga, pergelangan kakiku ditendang dan dilukai oleh Su Xi-er.

Ia terpikirkan Su Xi-er. Biarpun ia hanya seorang dayang, aku tidak bisa melakukan apa-apa padanya karena ia melayani Pangeran Hao dari Bei Min! Jika Pangeran Hao tidak menghukumnya, maka aku tidak akan bisa melakukan apa-apa sama sekali.

Ini akan jauh lebih mudah apabila ia hanyalah seorang dayang biasa. Aku bisa mengirim seseorang, untuk diam-diam membunuhnya. Yang terburuk yang mungkin terjadi adalah, Pangeran Hao akan marah sebentar, tetapi setelah itu, Pangeran Hao tidak akan repot-repot menghabiskan begitu banyak usaha untuk menemukan pelaku yang sebenarnya.

Namun, masalahnya adalah Pangeran Hao jelas-jelas memedulikan si wanita penggoda itu! Membunuhnya, sangat mungkin mengundang malapetaka pada Nan Zhao! Kalau itu benar-benar terjadi, kami tidak akan punya kesempatan untuk menang.

Karena inilah, ia merasa marah dan dongkol, tetapi ia kehabisan pilihan.

Tepat saat ia sedang merenung, suara pintu yang terbuka membuatnya waspada. Itu adalah tangan kanan Yun Ruo Feng, Wei Mo Hai.

Saat Ning An Lian melihatnya, kilat keterkejutan melintas di wajahnya. Ia bertanya serius padanya, "Komandan Wei, siapa yang menari menggantikan Putri ini?"

Wei Mo Hai memberi hormatnya kepada Ning An Lian, memancarkan aura keadilan. "Putri Pertama, Pangeran Yun mengetahui bahwa pergelangan kaki Anda cedera, dan mengatur seorang pengganti demi mencegah cedera Anda jadi lebih buruk. Tentu saja, para penguasa dari kerajaan lain masih berpikir kalau itu adalah Anda yang sedang menari. Wanita yang dimaksudkan ini, sebentar lagi akan kembali ke istana peristirahatan Anda. Putri Pertama, silakan berganti pakaian mengenakan sebuah gaun ungu."

Ning An Lian sangat marah, tetapi ia tidak menunjukkannya di wajahnya. Ia bertanya, "Siapa yang menggantikan Putri ini?"

Wei Mo Hai sedikit terkejut. "Putri Pertama, Anda akan segera mengetahuinya."

"Apa, kau mau menyembunyikannya dari Putri ini?" Sudut mulut Ning An Lian memperlihatkan sebuah senyuman yang tidak sampai di dasar matanya. "Bagaimana bisa Putri ini tidak diizinkan untuk mengetahui siapa yang menggantikanku menari? Wei Mo Hai, memangnya kau kira, kau siapa? Kau bahkan tidak bisa memberitahukan ini padaku?"

Wei Mo Hai mendengarkan perintah dari Pangeran Yun, dan tidak peduli dengan kemarahan dan keluhan dari wanita-wanita yang ada di istana dalam.

Akan tetapi, ia tetap mempertahankan ekspresi hormatnya. "Putri Pertama, bawahan ini akan undur diri apabila tidak ada hal lainnya." Kemudian, ia pun memutar tumitnya untuk pergi.

Ning An Lian marah besar dan menjerit keras saat Wei Mo Hai menghindari pertanyaannya. "Lebih baik kau kembali kemari! Kembali kemari!"

Namun, Wei Mo Hai berpura-pura kalau ia tidak mendengar apa-apa dan pergi begitu saja!

Piao Xu segera mencoba menenangkannya di sampingnya. "Putri Pertama, jangan marah. Anda harus tetap tenang."

"Mengapa Putri ini tidak boleh marah? Berani sekali Pangeran Yun membiarkan wanita lain menari menggantikan Putri ini? Ini adalah pertama kalinya, seharusnya Putri ini menari, tetapi aku harus digantikan oleh orang lain?"

Piao Xu tahu kalau Ning An Lian bertingkah tidak masuk akal karena amarahnya, tetapi juga tahu bahwa tidak ada gunanya mencoba beralasan dengan orang itu dalam situasi begini. Alhasil, ia hanya bisa terus menghiburnya. "Pangeran Yun sebenarnya melakukan ini demi diri Anda."

"Demi Putri ini?" Wajah Ning An Lian kebingungan. "Kau, beritahu aku, bagaimana bisa itu demi diriku saat ia meminta orang lain untuk menggantikan Putri ini dan membuatku benar-benar kehilangan mukaku?"

"Putri Pertama, coba pikirkan, Pangeran Yun pastinya sudah mengetahui tentang pergelangan kaki Anda dari tabib kekaisaran. Karena ini, Pangeran Yun pasti cemas kalau pergelangan kaki Anda akan jadi lebih parah, sehingga ia mencari seseorang yang mirip untuk menari menggantikan Anda. Ia memastikan agar tidak ada orang lain yang tahu bahwa orang yang menari itu bukanlah diri Anda, dan melindungi reputasi Anda, sekaligus kesehatan Anda. Bukankah Pangeran Yun melakukan ini demi Anda?"

Saat Ning An Lian mendengarkan penjelasan Piao Xu, ekspresi marahnya perlahan-lahan menghilang. Ia memikirkannya dengan saksama dan menjawab, "Apa yang kau katakan memang ada benarnya, tetapi itulah peraturannya, bahwa hanya Putri Pertama Kekaisaran yang boleh menari di perjamuan kerajaan."

"Tetapi, kaki Anda cedera, dan tabib kekaisaran mengatakan bahwa Anda tidak boleh melakukan pergerakan yang besar, kalau tidak ...."

Ning An Lian kesal dan menyelanya. "Terlepas dari apa yang ia pikirkan itu demi Putri ini, ia semestinya mendiskusikan ini denganku. Ia tidak seharusnya menahan Putri ini dan baru melepaskanku setelah tariannya selesai."

"Putri Pertama, Pangeran Yun mengetahui soal tabiat keras kepala Anda. Bahkan kalaupun ia mendiskusikannya dengan Anda, Anda tidak akan menyetujuinya, bukan?"

Ning An Lian memikirkannya, dan wajahnya terpilin. Aku sudah mempersiapkan tarian ini untuk waktu yang lama, mana mungkin aku menyerah begitu saja!

Tarian perjamuan kerajaan tahun ini sangat penting bagiku!

Piao Xu tidak mau Ning An Lian membuat kekacauan sementara perjamuannya masih berlangsung, sehingga ia pun melanjutkan. "Pangeran Yun secara pribadi membuat pengaturan tersebut demi diri Anda, Putri Pertama!"

Ning An Lian tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Piao Xu; ia masih marah pada Yun Ruo Feng karena membuat pengaturannya tanpa persetujuan dirinya dan menyia-nyiakan segala usahanya. Apa yang membuatku lebih marah lagi adalah Su Xi-er yang prilakunya tidak bisa diperbaiki lagi itu dengan sengaja menendang pergelangan kakiku!

Continue reading CTF - Chapter 192

CTF - Chapter 191

Consort of A Thousand Faces

Chapter 191 : Tarian yang Memikat


"Jika pelayan ini ingin menjaga peranku, aku tidak akan menari menggantikan Putri Pertama. Pangeran Yun, bukankah seharusnya Anda berbicara dengan baik saat Anda meminta tolong? Apakah Anda sedang mengancamku sekarang?" Alis Su Xi-er terangkat, suaranya meninggalkan implikasi yang jelas.

Yun Ruo Feng menyipitkan matanya. Ia memang tidak selembut dan segampang yang terlihat. Ini mengingatkannya akan Ning Ru Lan lagi.

Aku tidak menyangka bahwa akan ada wanita lain dengan aura semacam ini selain dari Ning Ru Lan. Belum lagi, wanita ini hanya seorang dayang.

"Pangeran Yun, Anda juga bisa pergi sekarang." Suara Su Xi-er lembut. Sekarang ini, terasa seolah peran pelayan dan majikan sudah sepenuhnya bertukar tempat.

"Pangeran ini memang meminta sesuatu darimu hari ini. Di masa depan, kau bisa memberitahukan Pangeran ini apa pun yang kau butuhkan. Jika Pangeran ini bisa memenuhinya, maka aku akan melakukannya."

Ia membuatnya terdengar seolah ia adalah seseorang yang akan membalas kebaikan setelah dibantu. Su Xi-er bertanya dengan nada bergurau. "Jika pelayan ini meminta Anda untuk mati, apakah Anda akan membunuh diri Anda sendiri?"

Ekspresi Yun Ruo Feng membeku. Ia tidak menyangka ia akan mengatakan sesuatu seperti itu. Aku tidak punya dendam dengannya, jadi mengapa ia menyinggung soal kematian tanpa sebab? Ia langsung teringat pertemuan mereka di Provinsi Bulan dimana ia memberikannya bunga, tetapi Su Xi-er menyebutkan soal belati dan kain putih.

Apa yang dipikirkan oleh wanita ini? Pemikiran dan tingkahnya seaneh Pei Qian Hao.

"Pangeran Yun, mohon jangan menganggap gurauan pelayan ini terlalu serius. Anda belum melakukan sesuatu yang jahat tanpa henti, jadi, mana mungkin pelayan ini mengharapkan kematian Anda? Apabila Anda mati, apa yang akan terjadi pada rakyat dan Yang Mulia yang masih membutuhkan panduan Anda?" Su Xi-er berujar dengan tenang.

Yun Ruo Feng tidak bisa menunjuk dengan pasti apakah itu, tetapi, ia jelas merasa kalau ada sesuatu yang lain yang tersembunyi dalam ucapannya. Ia adalah orang pertama yang tidak bisa kupahami. Mungkinkah ia memiliki latar belakang rahasia?

Akan tetapi, aku tidak perlu mengetahui itu, dan tidak mudah bagiku untuk mencari tahunya.

"Pangeran Yun, Menteri Ritus sudah mempersiapkan semuanya, dan para tamu terhormat dari semua kerajaan sudah masuk ke istana. Kami hanya menantikan Anda." Qin Ling berdiri di luar ruangan dan membungkuk dengan hormat selagi ia melaporkan.

Yun Ruo Feng mengangguk. "Pangeran ini akan pergi sekarang." Setelah itu, ia melirik Su Xi-er. "Sebentar lagi, seseorang akan membawamu ke sana. Kenakan cadarmu dengan baik, dan ekstra hati-hati agar tidak membuat cadarnya lepas saat kau menari."

"Tentu saja, pelayan ini akan mengingat itu."

Setelah Yun Ruo Feng menerima janji Su Xi-er, ia mengangguk dan meninggalkan ruangan.

Sebelum Qin Ling pergi, ia melirik Su Xi-er. Ini adalah wanita yang secara khusus diundang oleh Pangeran Yun untuk menari menggantikan Putri Pertama. Ia tidak bisa melihat wajah di balik cadar, tetapi ia melihat matanya yang dipenuhi dengan kecemerlangan.

Mata Putri Pertama tidak begitu cemerlang; apakah para tamu terhormat akan menyadari sesuatu dari mata ini?

"Apa? Tuanmu sudah pergi, tetapi kau masih di sini?" Su Xi-er menatapnya dingin.

Meskipun ia jelas-jelas hanya seorang dayang, Qin Ling masih membungkuk memberikan hormatnya. "Nona, kami akan bergantung padamu." Kemudian, ia membunguk lagi sebelum berbalik dan berjalan menjauh.

Su Xi-er tidak mengenali pengawal ini, tetapi bisa mengetahui bahwa kepribadiannya tidak buruk dari sikap dan kesopanannya.

Menjelang malam, seorang kasim datang untuk membawakannya makan malam. Ia dengan sopan mengingatkannya untuk bersiap dengan benar, dan agar jangan makan terlalu banyak supaya menghindari mengganggu tariannya.

Su Xi-er tidak mengatakan apa-apa. Ada lima hidangan, dan ia hanya memakan tiga suapan dari masing-masing hidangan. Setelahnya, si kasim mengangkat nampannya dan bergegas pergi. Melihat pergerakannya yang tergesa, Su Xi-er tahu bahwa perjamuannya akan segera dimulai.

Tak lama setelahnya, Wei Mo Hai tiba dan menghampiri Su Xi-er dengan cepat selagi ia berbicara. "Kemari, ada banyak tamu terhormat, tetapi cobalah untuk tetap tenang. Hanya setelah meyakini kemampuanmu, barulah Pangeran Yun mengundangmu." Lalu, Wei Mo Hai berjalan menuju ke sebuah tandu di tengah-tengah jalan setapak.

Sutra merah menyala mengelilingi tandunya, dan di bagian atasnya terdapat lingkaran jumbai emas. Ia sangat familier dengan dekorasi ini; bagaimanapun juga, ini adalah tandu pribadinya.

Saat Wei Mo Hai melihat ekspresinya, ia mengira kalau Su Xi-er terkesima dengan seberapa mewahnya tandu tersebut. "Nona, ini adalah tandu pribadi Putri Pertama. Karena kau menari menggantikan dirinya, kau harus pergi ke sana dengan tandu ini. Benahi cadarmu dan pastikan itu tidak lepas."

Ketika ia selesai berbicara, seorang kasim berlutut dengan kedua tangan tumpang-tindih satu sama lain. "Nona, silakan naik ke atas tandu."

Su Xi-er tidak mengucapkan sepatah kata pun selagi ia menaiki tandunya dengan menginjak tangan si kasim.

Tingkahnya ini berpengalaman; tidak tampak seperti pertama kalinya ia dilayani seperti ini. Mata Wei Mo Hai diliputi keraguan sebelum tak lama, ia mendapatkan kembali ketenangannya.

Su Xi-er melihat keluar dari celah kecil di tirainya selagi mereka mendekati tujuan mereka, melihat para dayang dan kasim membawakan nampan dan mondar-mandir.

Perjamuan kerajaan diadakan di area terbesar dari istana kekaisaran, di atriumnya.

Di atrium tersebut ada sebuah panggung ungu yang dipasang dan didekorasi dengan beberapa bunga berbeda, termasuk dengan Ling Rui. Ada pula lentera-lentera besar yang tergantung di dahan-dahan pohon untuk menciptakan pemandangan yang berkilauan.

Tatapan semua orang tiba-tiba saja berpindah menuju tandu merah menyala itu meskipun pandangan mereka terhalang oleh panggung yang tinggi.

Para dayang dan kasim bekerja lebih cepat lagi. Perjamuannya akan segera dimulai, dan Putri Pertama akan segera menari! Mereka merasa bersemangat dan gugup tentang ini, terutama karena ada satu orang tambahan di sini, di perjamuan kerajaan tahun ini: Pangeran Hao dari Bei Min.

Sepuluh meter di depan panggung yang tinggi, terdapat meja bundar yang indah dan lebar. Tiga meter di belakang meja bundar itu ada selusin meja bundar yang lebih kecil. Meja bundar yang besar itu, tentu saja untuk tempat duduk para pemimpin keempat kerajaan utama. Meja-meja yang lebih kecil di belakangnya untuk tempat duduk para pemimpin dari kerjaan asing.

Semua dayang istana yang melayani para tamu di meja bundar besar sudah mengumpulkan tenaga mereka agar ekstra hati-hati. Kami tidak boleh menyinggung tuan-tuan ini.

Kaisar Nan Zhao, Ning Lian Chen duduk di bangku atas bersama Yun Ruo Feng di sebelah kirinya dan Pei Qian Hao di sebelah kanannya. Dua bangku lainnya adalah untuk Putra Mahkota dari Dong Ling, Chu Ling Long, dan Kaisar dari Xi Liu, Hua Zi Rong.

Chu Ling Long memiliki sepasang mata sipit yang feminin. Ia memandangi sutra ungu yang tergantung di panggung yang tinggi, kemudian mengalihkan matanya ke arah kukunya yang dicat ungu dengan kilatan tertarik.

Hua Zi Rong memiliki sepasang mata yang terang dan mengenakan jubah biru kehijauan. Ekspresinya terlihat bosan, seolah menghadiri perjamuan kerajaan hanyalah suatu kewajiban.

"Terima kasih karena sudah datang ke Nan Zhao. Aku memiliki makanan lezat dan anggur untuk semua orang. Putri Pertama dari kerajaanku sudah siap dan tariannya akan segera dimulai." Yun Ruo Feng berdiri, mengangkat cangkir anggur di depannya, dan tersenyum pada orang banyak itu.

Semua orang lainnya mengangkat cangkir anggur mereka sebagai responnya.

Pei Qian Hao menggoyangkan cangkir anggur di tangannya selagi tatapannya bergerak menuju ke arah panggung yang tinggi.

Suara dari instrumen tradisional bambu sutra Tiongkok pun terdengar sewaktu seorang wanita yang bergaun dan bercadar ungu mewah muncul, nyaris menyatu dengan kemiripan warna panggungnya.

Matanya seperti bintang yang tenang di atas langit, atau cahaya lilin yang berkedip.

Dengan langkah pelan dan gerakan lembut, tatapannya berubah dari dingin jadi memikat. Ia sedikit mengangkat kakinya dan tersenyum dengan lembut sebelum berputar cepat. Dengan putaran lincah di pinggangnya, ia seperti aliran air ungu yang mengalir tiada hentinya di atas panggung.

Laju instrumennya berangsur menjadi lebih cepat dan pergerakan wanita itu mengikutinya. Ia sangat gesit, seolah angin itu sendiri yang menuntun tubuhnya untuk bergerak dengan tarian itu.

Keliman gaunnya perlahan-lahan mengembang layaknya sekuntum bunga Ungu Harum yang mekar.

Bunga Ungu Harum merupakan bunga nasional Xi Liu. Tatapan Hua Zi Rong berubah. Wanita yang ada di atas panggung ....

Tidak ada seorang pun yang sedang menonton yang sanggup mengalihkan pandangan mereka dari panggungnya. Bahkan, napas mereka sedikit demi sedikit jadi tenang, seolah takut jika suara apa pun akan menghancurkan ketenangan mendalam dari pertunjukannya.

Dibandingkan dengan orang lain, Pei Qian Hao adalah satu-satunya orang yang berkepala paling jernih. Meskipun ia mengagumi tariannya, ada jejak ketidaksenangan dalam hatinya.

Continue reading CTF - Chapter 191

CTF - Chapter 190

Consort of A Thousand Faces

Chapter 190 : Agak Familier


Ning Lian Chen tidak melambaikan tangannya untuk mengizinkannya bangkit. Sebaliknya, ia terus menatapnya dengan cermat. Siapa dia? Apa hubungannya dengan Yun Ruo Feng, dan mengapa ia mengenakan cadar?

Su Xi-er melihat kalau ia tidak merespon dan membuka mulutnya lagi. "Pelayan ini memberi hormat kepada Yang Mulia."

Dan itu diikuti dengan keheningan. Setelah beberapa saat, Ning Lian Chen maju ke depan dan mengulurkan tangannya untuk mengangkat cadarnya, ekspresinya serius.

Dalam panasnya saat itu, Ning Lian Chen hampir bisa bersumpah kalau ia mengenali orang di balik cadar itu. Aku pasti mengenalnya di suatu tempat!

Su Xi-er berdiri dan segera mundur. Ia memanggil pelan, "Yang Mulia."

"Kau, bisakah kau mengangkat cadarmu agar Kaisar ini dapat melihatmu? Aku hanya perlu melihat satu kali, hanya satu saja." Kilat harapan terlihat di dalam matanya, dan suaranya hampir seperti memohon.

Hati Su Xi-er terguncang; ia tahu dengan jelas siapakah yang Lian Chen pikirkan ketika ia mengucapkan kata-kata ini. Tetapi, di bawah cadar ini adalah wajah yang tidak akrab dengannya. Kalau aku memberitahunya bahwa aku adalah Kakak Perempuannya, akan seperti apa reaksinya?

Tergerak akan tatapannya, Su Xi-er mengangkat tangannya dan bersiap-siap untuk mengangkat cadarnya. Namun, Ning Lian Chen tiba-tiba saja melambaikan tangannya untuk menghentikannya. "Kau tidak perlu mengangkatnya. Bagaimana mungkin kau adalah dirinya? Karena kau berada di Istana Yun, kau pastinya adalah bawahan Pangeran Yun."

Nada bicara Ning Lian Chen menjadi dingin di akhir kalimatnya. Caraya menatap Su Xi-er juga berubah, menjadi suram dan tidak akrab. "Aneh sekali karena Pangeran Yun bergegas kembali ke ibu kota hanya untuk mengundangmu ke istana. Apa kau tidak takut kalau Putri Pertama akan cemburu?"

Kata-kata Su Xi-er tersangkut di tenggorokannya. Pada akhirnya, ia memanggilnya. "Lian Chen."

Napas Ning Lian Chen tercekat ketika ia mendengar namanya dipanggil. Satu-satunya orang yang boleh memanggil namaku seperti itu sudah meninggal!

"Nama Kaisar ini bukanlah sesuatu yang boleh kau ucapkan." Ning Lian Chen mencibir dan melanjutkan. "Jika Kaisar ini menyembunyikan dirimu, apakah Pangeran Yun akan menjadi resah? Jelas ia mengundangmu ke istana kekaisaran karena ia mempergunakan dirimu. Bagi seseorang seperti dirinya, ia akan membuang semua orang setelah mereka selesai memenuhi tujuan mereka. Apa kau takut mati?"

Sekarang ini, Ning Lian Chen adalah orang asing bagi Su Xi-er. Meski jika aku mengungkapkan jati diriku sekarang, siapa yang percaya kalau jiwa kakak perempuan mereka terlahir ke dalam tubuh orang lain?

"Yang mulia, apa Anda takut akan kematian?" Su Xi-er balas mengulanginya padanya.

Mata Ning Lian Chen menggelap. Apa aku takut mati? Sebelumnya memang begitu, tetapi tidak lagi. Malahan, karena aku belum boleh mati!

Tatapannya menjadi jauh sebelum akhirnya tertuju pada Su Xi-er. "Apakah kau pikir Kaisar ini harus takut?"

"Yang Mulia, semua orang takut akan kematian. Akan tetapi, sebagai seorang Kaisar, Anda tidak boleh sama. Anda harus tetap hidup." Kata-katanya jernih dan jelas sewaktu mereka melayang masuk ke telinga Ning Lian Chen, menyebabkan alisnya mengerut.

Ketika Kakak Perempuan masih hidup, ia juga mengatakan kata-kata yang sama padaku .... Wanita itu memberikan nasihat yang sama seperti Kakak Perempuanku.

"Yang Mulia, apa Anda percaya pada reinkarnasi di dalam tubuh orang lain?" Suatu perasaan aneh tumbuh di dalam hati Su Xi-er, dan ia tidak tahan untuk menanyainya. Namun, sebelum Ning Lian Chen bisa menjawab, pintunya tiba-tiba saja terbuka. Seorang pria tampan mengenakan jubah putih muncul. Suaranya lembut, dan ia memancarkan aura kelembutan bahkan sewaktu ia membuka pintunya.

Ning Lian Chen tersenyum. "Pangeran Yun, cepat sekali kau. Jika kau tidak datang, Kaisar ini bahkan berencana untuk pergi dan mencarimu."

Tatapan Yun Ruo Feng melayang ke arah Su Xi-er dan mendarat pada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, sebagai Kaisar Nan Zhao, semestinya kau bersiap-siap untuk perjamuan malam ini. Tidak seharusnya kau berada di sini, di Istana Yun, menanyakan tentang urusan Pangeran ini."

Ia tidak tersenyum saat ia mengucapkan kalimat terakhir, nada bicaranya mengandung jejak otoritas sementara ia mengenakan ekspresi serius.

Tidak ada seorang pun yang sanggup menerima seseorang berbicara pada Kaisar suatu kerajaan seperti itu. Namun, ekspresi Ning Lian Chen tidak berubah; seolah ia sudah lama terbiasa dengan itu. "Pangeran Yun, siasatmu luar biasa, dan kau dihormati oleh rakyat Nan Zhao. Bagaimana mungkin Kaisar ini menemukannya apabila Pangeran Yun sedang menyembunyikan sesuatu? Tetapi, aku penasaran, bukankah seharusnya kau memfokuskan diri pada para tamu kehormatan dan Kakak Perempuanku hari ini?"

Su Xi-er bisa mendengar cemoohan dalam nada bicara Ning Lian Chen saat ia mengucapkan kata-kata 'Kakak Perempuan'.

"Itu bukanlah sesuatu yang harus dicemaskan oleh Yang Mulia. Selama kau segera meninggalkan Istana Yun, Pangeran ini tidak akan memperpanjang masalah ini lebih jauh. Bagaimanapun juga, kau masih muda, dan perlu mendapatkan pengalaman."

Su Xi-er melihat bahwa Ning Lian Chen tidak mengatakan apa-apa dan merasa hatinya sakit. Setelah beberapa lama, ia menatap tepat ke arah Yun Ruo Feng tanpa mempertimbangkan jati dirinya yang sekarang. "Pangeran Yun, Anda adalah Prince Regent dari sebuah kerajaan. Yang Mulia sudah cukup bermurah hati karena beliau tidak meributkan ini dengan Anda, tetapi kini, Anda melemparkan ucapan itu di wajahnya. Meskipun pelayan ini berstatus rendahan, itulah tepatnya, mengapa aku jelas sekali memahami perbedaan dalam jabatan."

Setiap kalimatnya memperingatkan Yun Ruo Feng bahwa, tidak peduli bagaimanapun Ning Lian Chen bertindak, ia adalah Kaisarnya! Selama orang itu belum turun takhta, otoritasnya tidak boleh ditentang; terutama selama perjamuan kerajaan!

Ning Lian Chen tertegun. Ia membelaku .... Mata jernih Yun Ruo Feng menjadi gelap. Sepertinya, ia sangat memedulikan Ning Lian Chen. Mengapa ia membelanya?

Udaranya sepertinya membeku karena perkataannya, dan atmosfernya segera menjadi canggung. Semua orang mengenakan ekspresi yang berbeda, dan tidak ada satu pun yang tahu harus berkata apa.

Pada akhirnya, Su Xi-er yang memecah keheningannya. "Pangeran Yun, bukankah pelayan ini benar?"

Yun Ruo Feng menyingkirkan kegelapan di matanya dan memperlihakan senyuman. "Yang Mulia masih belum dewasa, jadi Pangeran ini adalah Menteri Pendampingnya di Mahkamah. Karena mendiang Kaisar dan Permaisuri sudah tiada, Pangeran ini yang bertanggung jawab untuk mendisiplinkannya. Ini jauh lebih penting daripada perbedaan status. Apakah Bei Min ada bedanya? Sebagai dayang Pangeran Hao, bukankah kau mengetahui ini? Ia bahkan pasti jauh lebih tegas dalam mendisiplinkan si Kaisar kecil."

Memang, Nan Zhao dan Bei Min mirip dalam titik ini. Namun, dari apa yang bisa kulihat, Pei Qian Hao, sedingin-dingin dan seangkuh-angkuhnya dia, berbeda dari Yun Ruo Feng.

Aku tidak bisa benar-benar menggambarkannya, tetapi meskipun ia punya banyak kekurangan, aku merasa bahwa ia adalah orang yang baik dalam hatinya.

Ketika Ning Lian Chen mendengar kalimat ini, ia mengetahui identitas wanita ini. Apabila ia adalah dayang Pangeran Hao, mengapa Yun Ruo Feng membawanya kemari? Apa ia tidak takut Pangeran Hao menghentikan dirinya?

"Pangeran Yun, sementara kedua Kaisar dari kedua kerajaan masih muda, Kaisar Nan Zhao lebih tua dibandingkan dengan Kaisar Bei Min. Ini membuatnya sedikit berbeda."

Yun Ruo Feng merasa ini aneh. Mengapa ia begitu bersikeras soal ini?

Karenanya, ia hanya membalas, "Ini adalah urusan Nan Zhao, dan tidak ada hubungannya denganmu." Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, kau harus segera meninggalkan Istana Yun."

Setelah ia selesai berbicara, Wei Mo Hai muncul di depan pintu dan menggesturkan agar Ning Lian Chen pergi.

Ning Lian Chen tertawa kecil dan melirik Su Xi-er lagi sebelum pergi bersama dengan Wei Mo Hai.

Di dalam ruangan tersebut, sekarang ada kilat rasa ingin tahu di mata Yun Ruo Feng. "Wanita semestinya tetap memenuhi peran mereka daripada terlibat dalam peraturan istana." 

Continue reading CTF - Chapter 190

CTF - Chapter 189

Consort of A Thousand Faces

Chapter 189 : Bertemu Lian Chen


Pukul 5.45 sore, Su Xi-er menunggu di pintu masuk rumah pos, wajahnya ditutupi dengan cadar ungu muda yang sesuai dengan warna gaunnya. Tidak begitu lama sebelum sebuah kereta kuda kayu biasa tiba; namun si kusirnya, tanpa terduga, adalah Komandan Pasukan, Wei Mo Hai.

Wei Mo Hai tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik napas tajam saat ia melihatnya. Wanita ini, yang ditemukan Pangeran Yun untuk menari, bermata menawan, ditambah dengan memancarkan aura yang anggun. Mengapa ia memilih seseorang yang mirip sekali dengan Ning Ru Lan?

Su Xi-er mengangguk, menerima kedatangan Wei Mo Hai. Lalu, ia mendekati kereta kudanya dan menaikinya dengan cepat. Menurunkan tirai keretanya, ia memerintahkan. "Cepat menuju ke Istana Kekaisaran."

Nada bicaranya penyendiri dan tenang, membuat tengkuk Wei Mo Hai merinding. Bahkan gaya bicara dan sikapnya mirip dengan Ning Ru Lan.

"Cepat menuju ke istana kekaisaran." Suara jauh seorang wanita terdengar lagi dari dalam kereta kudanya.

Kalau Wei Mo Hai tidak yakin bahwa Ning Ru Lan memang sudah mati, ia akan mengira kalau Ning Ru Lan-lah yang sedang duduk di kereta kuda tersebut ....

Akan tetapi, yang mati tidak bisa hidup kembali. Wei Mo Hai mendapatkan kembali ketenangannya dan mengangkat cemetinya. Segera saja, roda kereta kudanya mulai berputar.

Setelah kereta kudanya tak terlihat, seorang pria tiba-tiba saja muncul dari sekitar sudut jalan. Memakai jubah biru dengan cadar biru yang menutupi wajahnya, tatapannya jadi semakin intens.

Wanita itu keluar dari rumah pos dimana Pangeran Hao dari Bei Min sedang menetap saat ini, yang mana artinya, ia bersama Pangeran Hao. Pangeran Hao sendiri saja masih belum meninggalkan rumah posnya, tetapi orangnya sudah menuju ke istana kekaisaran.

Hari ini merupakan perjamuan kerajaan Nan Zhao, jadi, untuk apa wanita ini menuju ke istana? Aku sudah pernah berhadapan dengannya beberapa kali, bahkan bertukar pukulan dengannya. Ia memiliki pinggang yang sangat fleksibel, dan beberapa gerakannya mirip dengan ....

Memikirkan ini, pria berbaju biru pun menyipitkan matanya.

Seorang kaki tangan yang berpakaian sepenuhnya hitam pun muncul di hadapan pria itu. "Aku baru saja diinformasikan, bahwa pergelangan kaki Ning An Lian cedera, membuatnya tidak mampu untuk menari di perjamuan kerajaan. Ia malah ditawan di istana peristirahatannya."

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, pria berbaju biru terkekeh. "Tidak disangka, ia sudah melukainya sendiri tanpa kita harus melakukan apa pun. Namun, sebuah pelajaran seperti ini, tidak cukup untuk membayarkan semua kejahatannya."

"Tuan, Ning An Lian terluka karena wanita lain selama berada di sebuah restoran. Wanita yang dipertanyakan itu memasuki rumah pos setelah meninggalkan lokasi kejadiannya sebelumnya, hari ini."

Dengan alis yang terangkat, pria berbaju biru mempertanyakan. "Oh? Dia." Sedikit demi sedikit, matanya dilahap oleh rasa main-main. Wanita ini teman atau musuh? Ia sudah membantuku secara tidak sengaja.

"Tuan, apa yang harus kita perbuat sekarang? Apakah kita tetap harus menyusup ke dalam istana kekaisaran?"

Si pria berbaju biru melambai, menyuruhnya pergi dan berjalan masuk ke dalam gang, "Tidak perlu lagi untuk melakukan itu, kita akan bertindak sesuai dengan situasinya."

Pria berbaju hitam itu mengangguk dan dengan cepat menghilang.

Kereta kudanya memasuki istana kekaisaran melalui pintu samping, pengawal kekaisaran tidak berani menghentikan kendaraan itu saat mereka melihat Wei Mo Hai di depannya.

Sewaktu kereta kudanya mempercepat lajunya lagi, Su Xi-er mengangkat tirainya dan melihat pemandangan di hadapannya. Aku sudah memasuki istana kekaisaran Nan Zhao .... Aku kembali lagi begitu cepat.

Memerhatikan setiap pepohonan dan bunga yang dilewati di sekitarnya, mereka terasa familier, tetapi juga asing di waktu yang bersamaan. Seakan-akan, ia hanya pergi untuk berkeliling provinsi sesaat saja. Mendadak, kereta kudanya mulai bergerak menjauhi istana dalam, menarik Su Xi-er dari lamunannya.

Selagi hutan bambu yang berderet di sisi jalannya jadi semakin lebat, Su Xi-er mengerutkan alisnya. Sebuah istana peristirahatan baru dibangun setelah aku mati?

Su Xi-er hanya menemukan mengenai identitas dari istana baru ini, setelah kereta kudanya berhenti, dan ia berdiri di depan pintu masuk istana.

Istana Yun, istana dimana Prince Regent menangani urusan mahkamah, baru dibangun setelah Ning Ru Lan meninggal, dan semua laporan kerajaan dipindahkan kemari. Dalam sejarah Nan Zhao, Yun Ruo Feng merupakan Prince Regent yang pertama. Istana Yun dibangun di area ini dari istana kekaisaran, ironis sekali.

Kilatan dingin melintas di mata Su Xi-er, tetapi dengan cepat menghilang.

Wei Mo Hai maju ke depan dan membukakan pintu menuju salah satu ruangan samping dari Istana Yun. "Kau boleh beristirahat di sini sampai seseorang memanggilmu saat waktunya tiba. Ingatlah tempatmu ketika kau menggantikan Putri Pertama untuk tariannya. Setelah kau selesai, kau akan dibawa menuju ke istana peristirahatan Putri Pertama. Ia akan pergi, sementara kau ...."

Su Xi-er melambai padanya, sebelum ia melengkapi kalimatnya. "Aku paham; kau boleh pergi." Kata-katanya singkat dan langsung pada intinya.

Wei Mo Hai menyangsikannya. Seolah-olah ia terbiasa membuat keputusan hidup dan mati. Bagaimana mungkin, seorang dayang memiliki aura semacam ini, bahkan saat seseorang dari keluarga kekaisaran mungkin tidak bisa melakukan hal yang sama?

"Wei Mo Hai, karena aku sudah menyetujui permintaan Pangeran Yun, aku tidak akan mengacau. Kau boleh pergi dengan tenang." Su Xi-er melembutkan suaranya. Pria ini adalah tangan kanan Yun Ruo Feng. Lü Liu sudah tidak ada lagi, jadi kenapa Wei Mo Hai masih harus tetap ada? Bukankah semestinya ia juga hancur menemani Lü Liu?

Di dalam hati Lü Liu, Wei Mo Hai merupakan seorang kakak lelaki yang gigih, seseorang yang bisa ia andalkan. Lü Liu menyukainya, dan Su Xi-er mengetahui tentang itu.

Tetapi, Wei Mo Hai adalah seorang pria yang teliti, yang selalu mencurigai orang lain. Karena inilah, aku tidak menikahkan Lü Liu padanya.

Pada akhirnya, Wei Mo Hai dan para pengawalnya yang berasal dari Tentara Kekaisaran yang berdiri di luar sel tahananku. Panah dadakan yang terbang ke arah Lü Liu dan diriku .... Wei Mo Hai tidak pernah berbelas kasihan, bahkan meskipun Lü Liu dalam bahaya.

Su Xi-er merasa itu menggelikan, karena ia bisa dengan jelas melihat perasaan Wei Mo Hai terhadap Lü Liu, tetapi secara serentak, begitu buta akan perasaan Yun Ruo Feng terhadap dirinya sendiri.

Wei Mo Hai melirik Su Xi-er sebelum menyingkirkan tatapan ragunya dan dengan cepat meninggalkan istana tersebut. Duduk di atas kereta kudanya, ia mengendarainya menuju ke istal istana.

Ditinggalkan sendirian, Su Xi-er melihat ke sekitar ruangan. Ia menemukan perabotan yang biasa: sebuah meja, lemari, dan ranjang. Ranjangnya baru, sepertinya seprainya baru saja diganti.

Melihat set teh di atas meja, Su Xi-er mengangkat tutupnya. Dari warna daun tehnya, ia bisa mengetahui kalau tehnya baru diseduh kemarin. Tepat saat ia menutup tutupnya, aroma yang akrab menggelitiki hidungnya, mendorongnya untuk membuka tekonya sekali lagi.

Teh ini .... Tai Ping Hou Kui. Apakah Yun Ruo Feng beristirahat di sini setelah ia kelelahan menangani urusan mahkamah? Membawaku ke tempat ini ....

Mata Su Xi-er mendalam selagi ia merenung. Tepat ketika ia mulai melamun, pintunya terbuka dari luar dan suara seorang pria, penuh otoritas, terdengar.

"Kaisar ini tidak pernah mengira kalau Pangeran Yun akan menyimpan seorang wanita di istana mewahnya di hari perjamuan kerajaan."

Su Xi-er jadi kaku. Lian Chen .... Itu Lian Chen! Ia menatapnya tepat di matanya, perasaan yang tak tergambarkan berputar-putar dalam hatinya.

Ia benar-benar berbeda dari Lian Chen yang kukenal, entah apakah itu aura di sekitarnya ataupun kepribadiannya. Dulu, ia suka bermain-main dan mengobrol, tetapi sekarang, ia bahkan tidak mau berbicara. Alisnya selalu mengerut, dan tatapannya bahkan curiga padaku.

Perasaan pahit dalam hatinya hampir membuat Su Xi-er menangis. Hanya pengendalian dirinya yang luar biasa yang membuat matanya tetap kering.

Aku belum boleh mengungkapkan jati diriku, tidak peduli seberapa besar aku ingin mengakuinya.

Ning Lian Chen memandanginya, tatapannya menjadi intens. Ia memandangku dengan tatapan seperti itu ... apakah kami saling mengenal?

"Kau ...." Ning Lian Chen membuka bibirnya, tetapi tidak tahu apa yang akan dikatakan. Sikap tenang dan menyendirinya tetap sama, tetapi sikap pedas yang diambilnya ketika ia masuk ke dalam ruangan, kebanyakan sudah menghilang.

Mengumpulkan perasaannya, mata Su Xi-er yang ada di atas cadar pun melengkung membentuk bulan sabit. Ia membungkuk dengan hormat padanya, "Pelayan ini memberi hormat kepada Yang Mulia."

Continue reading CTF - Chapter 189