Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 3. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2026

CTF - Chapter 317

Consort of A Thousand Faces

Chapter 317 : Bertemu Xie Yun


Tepat saat percakapan di antara Su Xi-er dan Hong Li terhenti, Lian Qiao bisa terlihat berbelok sembari membawa sebuah baskom kayu. Ia tertegun ketika melihat Su Xi-er, tetapi sebelum ia dapat lepas dari keadaan bengongnya dan melanjutkan, dayang istana lain sudah tertawa dan memanggilnya. "Lian Qiao, kenapa kau tidak kemari dan menyapa Su Xi-er? Dulunya kau menyapu jalur istana sementara ia mencuci pispot, tetapi sekarang, posisi kalian telah tertukar."

Dayang istana itu tertawa lagi setelah ia selesai bicara, nada bicaranya dipenuhi dengan niatan mencela. Sikapnya merupakan norma bagi dayang istana; menginjak-injak mereka yang lebih lemah sementara membungkuk pada mereka yang lebih kuat. Jika mereka melihat kalau kau sudah jatuh dari posisimu, mereka akan menertawakan kemalanganmu dan melemparkan kekerasan secara verbal padamu, melakukan segala yang mereka bisa untuk mendorongmu jatuh bahkan lebih dalam sembari mendorong orang lain untuk melakukannya juga.

Tubuh Lian Qiao kaku. Ekspresinya sangat canggung selagi ia melirik Su Xi-er dan memanggil, "Su Xi-er."

Mengabaikan yang lainnya, Su Xi-er berjalan ke arah Lian Qiao dan menepuk pundaknya sebelum tersenyum. "Tenanglah, jangan pikirkan apa yang dikatakan orang lain. Seharusnya kau tahu bahwa, dengan banyaknya dayang istana yang keluar masuk Istana Samping, kau tidak akan mencuci pispot untuk waktu yang sangat lama."

Ketika Su Xi-er cukup dekat, ia menyadari kalau tangan Lian Qiao dipenuhi lecet. Beberapa lecetnya bahkan berdarah sekarang ini.

"Pergi dan melaporlah pada Dayang Senior Liu, mohon padanya untuk memberikanmu sejumlah obat." Su Xi-er menganjurkan selagi ia melihat ke arah tangan Lian Qiao.

Namun, Lian Qiao segera menyembunyikan tangannya di bawah baskom kayu itu, ekspresinya penuh kegelisahan. Walaupun Su Xi-er perhatian padaku, aku tidak suka mendengar kata-kata itu. Rasanya seolah ia tengah mencemooh diriku dengan mengatakan kalau aku harus mengetahui tempatku, dan bersiap untuk yang terburuk. Sekalinya musim dingin tiba, lecet di tanganku hanya akan jadi makin parah, sehingga aku harus meminta salep pada Dayang Senior Liu sekarang.

Su Xi-er tidak mengatakan yang lainnya, tersenyum lagi sebelum memutar tumitnya. Namun, ia tiba-tiba saja merasakan tangan Lian Qiao menarik lengan bajunya. "Su Xi-er, sebelumnya kau memintaku untuk membuatkan bubuk gatal-gatal; sekarang sudah selesai."

"Jika kau bisa membuat bubuk gatal, kau boleh mengkutiku." Aku ingat kalau Su Xi-er pernah memberitahukanku itu.

Su Xi-er membantu Lian Qiao barusan ini, karena ia dapat melihat kalau orang itu tengah mengalami masa sulit. Akan tetapi, membiarkan gadis itu mengikutinya, adalah sesuatu yang masih harus direnungkannya.

Ketika Lian Qiao melihat kalau Su Xi-er tidak menjawab untuk waktu yang lama, ia mencengkeram baskom kayu itu dengan benar lagi. "Terima kasih karena membantuku barusan ini. Walaupun itu tidak menenangkan perasaan dalam hatiku, aku masih harus berterima kasih padamu." Lian Qiao berkata dengan jujur sebelum berjalan pergi.

Memerhatikan sosok menjauh Lian Qiao, satu pemikiran pun mendatangi Su Xi-er. Ia memahami obat-obatan, dan Yu Xiao mengkhususkan diri dalam membuat obat-obatan yang aneh. Jika aku bisa memanfaatkan Lian Qiao ....

Tepat saat ia mulai tersesat dalam pemikirannya, dayang istana yang lain berteriak serentak, "Pelayan ini memberi hormat pada Commandery Prince Xie."

Hanya setelah Su Xi-er mendengar kata-kata 'Commandery Prince Xie' barulah ia berbalik. Tidak sampai Hong Li menarik lengan bajunya, barulah Su Xi-er sedikit merendahkan tubuhnya dan membungkuk. "Hamba memberi hormat pada Commandery Prince Xie."

Xie Yun melambaikan tangannya dan memberi sinyal agar para dayang bangun. "Walaupun kalian semua adalah dayang istana dari Istana Samping, dan dianggap berstatus rendah di dalam istana, tanpa kalian semua, seluruh istana akan berantakan. Pangeran ini akan berterima kasih pada kalian, mewakili Yang Mulia. Aku sudah secara khusus mengirimkan seseorang untuk membawakan sejumlah buah-buahan kemari; kalian boleh berhenti bekerja dan pergi ke dapur untuk memakannya."

Semua orang jadi gembira ketika mereka mendengar ini, tetapi tidak berani bergerak sampai suara Commandery Prince Xie terdengar lagi. "Pangeran ini sudah berbicara pada Dayang Senior Liu. Ia tidak akan menghukum kalian."

Setelah itu, pengawal dari kediaman Commandery Prince Xie mengulurkan tangannya dan membimbing sekelompok dayang istana itu pergi.

Walaupun baru saja menjelek-jelekkan Xie Yun, Hong Li penuh senyum sewaktu ia menyeret Su Xi-er ke arah dapur.

Akan tetapi, sebelum mereka bisa pergi jauh, ia dihentikan oleh Xie Yun. "Su Xi-er tetap tinggal."

Kata-katanya sederhana dan jelas, membingungkan semua dayang istana yang tersisa. Apakah Commandery Prince Xie datang ke Istana Samping demi Su Xi-er? Bukankah ia diurusi oleh Pangeran Hao? Kenapa ia terkait dengan Commandery Prince Xie juga?

Pada pemikiran ini, sekelompok dayang istana itu menunjukkan penghinaan di mata mereka. Ia tidak puas hanya berhubungan dengan Pangeran Hao, bahkan sedang mencoba memalangi Commandery Prince Xie. Seorang wanita cantik benar-benar tidak tahu malu!

Hong Li melepaskan tangan Su Xi-er dan melirik gugup ke arah Commandery Prince Xie. Tidak akan ada yang salah, kan?

Su Xi-er tersenyum pada Hong Li, guna menenangkannya; barulah kemudian, Hong Li berhenti merasa cemas dan pergi.

Tak lama setelahnya, hanya Su Xi-er dan Xie Yun yang tersisa di jalur istana tersebut.

Su Xi-er membungkuk ke arah Xie Yun untuk memberikan hormatnya sebelum bertanya, "Commandery Prince Xie, apakah Anda meminta pelayan ini untuk tetap tinggal karena ada sesuatu yang ingin Anda beritahukan padaku?"

Xie Yun maju selangkah dan menilainya. "Pangeran ini hanya ingin melihat seberapa cantiknya orang yang disukai oleh Pangeran Hao."

"Kalau itu kasusnya, karena Anda sudah melihat hamba, aku akan undur diri sekarang." Su Xi-er membungkuk lagi dan berbalik pergi.

Satu tangan panjang menghadang jalannya. "Pangeran ini kemari bukan hanya untuk melihatmu."

Suaranya menggema, tetapi pemikirannya tersembunyi di balik senyum samar di wajahnya.

Su Xi-er menengadahkan kepala dan menatapnya. "Ada urusan lain apa yang Anda miliki, Commandery Prince Xie?"

"Sebelumnya, ada seorang dayang istana dari Istana Samping yang menghancurkan bandul giok Pangeran ini, yang dikenakan di pinggangku. Pangeran ini ingin menghukumnya, tetapi dayang istana lain menanggung kesalahan itu untuknya." Xie Yun terdiam dan terkekeh. "Menanggung kesalahan untuk orang lain, melanggar peraturan istana. Beritahukan padaku, apa yang harus kita lakukan tentang itu?"

"Insiden itu terjadi sudah lama sekali, dan dayang istana yang menghancurkan bandul giok Anda sudah meninggal dunia. Sebagai seorang Commandery Prince Xie yang agung dan mulia, kenapa Anda perlu meributkan tentang seorang wanita yang sudah meninggal?" Su Xi-er sengaja mendistorsi maknanya dan menempatkan Xie Yun dalam tumpuannya.

Sejejak kekaguman muncul di mata Xie Yun. "Tidak mengherankan apabila kau telah mempertahankan perhatian Pangeran Hao untuk waktu yang sangat lama, sampai-sampai ia bahkan bersedia untuk membubarkan Istana Kecantikan. Siapa yang tidak akan menyukai seorang wanita yang cantik dan berotak?" Tiba-tiba saja, Xie Yun maju selangkah mendekati Su Xi-er.

Xie Yun cukup cepat, dimana Su Xi-er tidak mampu berpindah sebelum ia sudah cukup dekat untuk mencium aroma rerumputan pada pria itu.

Secara naluriah, Su Xi-er mundur selangkah, tetapi tidak menyadari kalau Xie Yun akan mengulurkan tangannya ke belakangnya, guna menjaganya tetap di tempat.

Mata Xie Yun dipenuhi senyuman. "Pangeran ini bukan meributkan tentang orang yang sudah mati, dan hanya sedang menyelidiki dayang istana yang menanggung kesalahan itu untuknya. Beritahukan pada Pangeran ini, siapakah itu?"

Disposisi Xie Yun saat ini, secara tak menyenangkan, mengingatkan Su Xi-er akan Yun Ruo Feng ketika pria itu mencoba untuk menyenangkan dirinya.

Alis tipis Su Xi-er agak mengerut. Pada akhirnya ia menginjak kaki pria itu kuat-kuat, kemudian menurunkan tubuhnya, melewati lengannya, mundur ke satu sisi.

"Kau wanita yang kurang ajar." Kata-kata Xie Yun terdengar seolah ia tengah mencemooh Su Xi-er, tetapi senyumannya hanya jadi makin lebar.

Su Xi-er menjawab hormat, "Commandery Prince Xie, karena Anda ingin mengejar masalah ini, maka tidak ada lagi yang dapat hamba katakan. Apakah aku akan dipukuli, atau dicambuk? Atau apakah aku harus bekerja lebih?"

"Kau tidak akan dipukul, dicambuk, atau disuruh untuk melakukan lebih banyak kerjaan. Karena kau berutang pada Pangeran ini, kau harus pergi ke Kediaman Commandery Prince Xie dan menyapu jalur kecil di sana selama tujuh hari. Setelah itu, kau boleh kembali ke Istana Samping." Xie Yun berkata pelan-pelan, masih sambil tersenyum.

Su Xi-er langsung menolaknya. "Aku tidak bisa."

"Kenapa tidak?" tanya Xie Yun.

"Commandery Prince Xie, Anda harus pergi dan menanyai Pangeran Hao. Hanya jika Pangeran Hao menyetujuinya, baru hamba bisa pergi." Su Xi-er memutuskan untuk melemparkan masalah rumit ini pada Pei Qian Hao.

Ketika Xie Yun mendengarnya membicarakan soal Pangeran Hao, ia tertawa. "Ini di antara kau dan Pangeran ini; mengapa kita harus mengganggu Pangeran Hao?"


Silakan lanjut ke Chapter 318 di sini.

Atau ke TOC.

Continue reading CTF - Chapter 317

CTF - Chapter 316

Consort of A Thousand Faces

Chapter 316 : Ditempatkan di dalam Istana


Mata pelayan keluarga itu membelalak, tetapi kekagetannya dengan cepat berubah menjadi jijik dan mengejek sewaktu ia melihat Tan Ge dan Cui-er berjalan menuju ke kediaman.

Kepala Keluarga sampai susah-payah mengirimkan Nona Pertama ke Istana Kecantikan, tetapi sekarang karena Istana Kecantikan telah dibubarkan, Nona Pertama diusir juga! Sekali lagi, Kediaman Tan kehilangan muka, dan Kepala Keluarga telah memberikan perintah agar membiarkannya sendiri, tetapi Nona Pertama masih punya muka untuk kembali?

"Apa kau tidak akan memberikan hormatmu setelah melihat Nona?!" Saat Cui-er melihat kalau pelayan keluarga itu begitu arogan dan kasar, ia pun tak tahan untuk memarahinya.

Pelayan keluarga itu tertawa mengejek dan mendengus. "Nona Pertama, kau masih belum menyelesaikan tugas yang diberikan padamu oleh Kepala Keluarga, sehingga Kediaman Tan tidak ada hubungannya denganmu mulai dari sekarang. Aku sudah bersikap sopan dengan tidak mengusirmu."

Walaupun ia sudah menduga ini, Tan Ge masih kecewa selagi ia melihat ke jalanan yang sepi dan pintu masuk yang kumuh. Kediaman Tan belum mulai menjual perabotan, tetapi hanya mampu mempertahankan status mereka saat ini dengan menggunakan tabungan yang diwariskan oleh leluhur kami. Setelah itu habis, tak akan lama sebelum mereka harus menjual kediaman dan pindah.

"Nona Pertama, cepat pergi! Kalau tidak, aku benar-benar akan menggunakan sapuku untuk memaksamu pergi!" Pelayan keluarga itu bahkan tidak punya tongkat yang layak, sehingga ia hanya bisa menggunakan sapu dalam pegangannya.

Tepat ketika itu mulai tampak tak ada harapan, suara lainnya pun berbunyi. "Pangeran ini tidak mengira kalau Keluarga Tan telah jatuh hingga tahap dimana mereka akan mengusir putri resmi pertama mereka keluar." Setelah ia selesai bicara, satu sosok ramping pun turun dari kereta kuda.

Ketika si pelayan melihat pria bertampang bangsawan itu, matanya langsung melebar. Pangeran ini? Tetapi orang di depanku ini tidak mungkin si Pangeran Hao yang dingin itu. Pria ini memang menunjukkan ciri-ciri kebangsawanan, tetapi lebih lembut daripada Pangeran Hao.

Karena ia tidak bisa mengambil risiko menyinggung seseorang dengan status yang besar, pelayan keluarga itu membungkuk hormat. "Bolehkah aku bertanya, siapa Anda?"

Pengawal Commandery Prince Xie menjawab. "Beritahukan Kepala Keluarga Tan bahwa Commandery Prince Xie sudah tiba di Kediaman Tan."

Saat si pelayan keluarga mendengar kalau itu adalah Commandery Prince Xie, ia nyaris merasa jantungnya melompat keluar dari dadanya. "Pelayan ini pantas mati karena menghina Commandery Prince Xie." Setelah itu, si pelayan keluarga berlari tergesa-gesa masuk ke dalam kediaman dengan ekspresi yang kegirangan sekali. Commandery Prince Xie di sini!

Kepala Keluarga Tan sedang duduk di dalam aula utama dengan alis yang tertaut, tetapi kala ia mendengar bahwa Commandery Prince Xie datang secara pribadi ke Kediaman Tan, ia langsung bersemangat. Ia bahkan sampai memerintahkan beberapa pelayan dan gadis pelayan keluarga yang tersisa agar tampak lebih bersemangat dan bersiaga!

Tak lama setelahnya, pintu kediaman pun terbuka, memperlihatkan si Kepala Keluarga, Tan Zhuang. Ia mengangkupkan kedua tangannya sambil tersenyum, memberi hormat. Namun, ia kaget, melihat bahwa putrinya, Tan Ge, telah kembali.

Walaupun pria di depannya adalah ayahnya sendiri, Tan Ge tidak bisa merasakan keakraban yang akan diharapkan orang dari kerabat mereka. Atmosfernya dengan cepat jadi canggung hingga Tan Ge memanggil pelan, "Ayah."

Tidak ada perubahan dalam ekspresi Tan Zhuang sewaktu ia hanya mengangguk. "Mmm." Kemudian, ia melirik ke arah si pelayan keluarga di samping. "Bawa Nona Pertama masuk ke dalam kediaman dan siapkan sebuah tempat untuk ditinggalinya."

Siapkan sebuah tempat untuk ditinggali ... Aku punya sebuah halaman di Kediaman Tan. Apakah orang lain masuk setelah aku pergi?

Tan Zhuang melihat kebingungan di mata Tan Ge. "Pergi ke sana dulu, aku akan bicara denganmu nanti."

Memilih saat ini, Xie Yun tertawa pelan. "Kepala Keluarga Tan, kejayaan Kediaman Tan mungkin akan bergantung pada Nona Pertama di depanmu ini."

Wajah Tan Zhuang langsung berhiaskan senyuman. "Commandery Prince Xie, apa yang membawa Anda dan putri biasaku kemari hari ini?"

"Kepala Keluarga Tan, apa kau ingin bicara dengan Pangeran ini di pintu masuk kediamanmu? Apa kau tidak akan mengundang Pangeran ini untuk duduk?" Wajah Xie Yun tersenyum, tetapi nada bicaranya membuatnya terasa tidak bisa didekati.

Tan Zhuang tersenyum menyesal. "Kediaman Tan sudah lama sekali tidak menyambut orang penting seperti diri Anda, Commandery Prince Xie. Mohon maafkan orang biasa ini; silakan masuk." Ia mengulurkan tangannya guna mengundang Commandery Prince Xie masuk.

Xie Yun mengangguk dan berjalan masuk ke dalam Kediaman Tan, sementara Tan Ge dan Cui-er mengikuti di belakang.

Saat mereka memasuki aula utama, Xie Yun duduk di tempat duduk paling atas. Seorang gadis pelayan menyeduhkan teh dan menyajikannya padanya dengan hati-hati.

Xie Yun menerima teh itu dan menyesap kecil sebelum menurunkannya kembali tanpa kata.

Tehnya basi, dan rasanya anyep. Menggunakan teh musim gugur dari dua tahun yang lalu untuk menyambut seorang anggota bangsawan ... tampaknya Kediaman Tan sungguh berada di ujung keruntuhan.

Tentu saja, Tan Zhuang sangat mengetahui ini. Tetapi, tak ada yang dapat kuperbuat soal itu. Ini sudah merupakan teh terbaik di kediaman kami.

"Commandery Prince Xie, apa Anda datang ke Kediaman Tan hari ini karena ada sesuatu yang penting yang harus Anda sampaikan pada orang biasa ini?"

Xie Yun mengangguk dan menunjuk ke arah Tan Ge, yang sedang berjalan menuju ke halaman belakang. "Nona Pertama dari Kediaman Tan, terkenal sebagai salah satu dari tiga wanita cantik di Bei Min."

"Ah, itu bertahun-tahun yang lalu." Tan Zhuang mendesah.

"Kepala Keluarga Tan, kau sampai bersusah payah tiga tahun yang lalu, demi mengirimkan Nona Pertama Tan masuk ke dalam Istana Kecantikan. Sekarang, karena Istana Kecantikan sudah dibubarkan, Nona Pertama tertinggal dalam keadaan melarat. Kau harus membantunya mencari jalan keluar dari keadaan sulitnya."

Xie Yun berhenti di sini.

Tan Zhuang segera mengerti dan berlutut dengan satu kaki. Ia mengangkupkan kedua tangannya sebelum bertanya, "Commandery Prince Xie, orang biasa ini tidak mampu. Aku tidak mampu memikirkan sebuah jalan keluar untuk putri biasaku. Apakah Anda punya ide?"

"Tentu saja. Nona Pertama Tan dapat masuk istana kekaisaran sebagai seorang dayang istana. Pangeran ini akan merekomendasikannya untuk sebuah jabatan di Perpustakaan Kekaisaran." Xie Yun mempertahankan roman muka tersenyumnya selagi ia pelan-pelan mengusulkan.

Bekerja di Perpustakaan Kekaisaran! Di Bei Min, seorang dayang istana di Perpustakaan Kekaisaran, bisa dianggap seseorang yang berpangkat, dan akan dikenal sebagai petugas wanita istana.

(T/N : terjemahan Inggrisnya : court lady, yang artinya ya wanita istana. Tapi ini maksudnya, wanita istana yang biasanya berasal dari wanita bangsawan yang melayani di dalam istana, tetapi dengan kasta yang lebih rendah daripada orang-orang yang dilayaninya.)

Tan Zhuang segera berlutut guna mengungkapkan rasa terima kasihnya. "Terima kasih banyak atas kebijaksanaan Anda, Commandery Prince Xie."

Xie Yun mengangkat tangannya untuk memberi sinyal agar ia bangkit. "Pangeran ini dapat melihat kalau Nona Pertama Tan tidak mau masuk istana kekaisaran. Kepala Keluarga Tan, kau harus mengajarinya dengan baik. Pangeran ini akan segera mengirimkan kereta kuda untuk membawanya masuk ke istana." Lalu, Xie Yun bangkit dan berjalan keluar dari aula.

Tan Zhuang tidak dapat menahan rasa suka citanya dan langsung menuju ke halaman belakang. Putri keduaku sedang menempati kamar Tan Ge, tetapi aku akan menyuruhnya untuk pindah sekarang juga. Harapan dan masa depan Kediaman Tan, sudah jatuh ke pundak Tan Ge lagi.

***

Setelah Xie Yun meninggalkan Kediaman Tan, seorang pengawal dari Kediaman Commandery Prince maju ke depan dan melaporkan, "Commandery Prince Xie, Pangeran Hao pergi ke barak tentara."

"Setelah pergi sekian lama, wajar saja bagi Pangeran Hao untuk memeriksa pasukan. Pangeran ini akan masuk istana." Setelah itu, Xie Yun naik ke atas kereta kuda.

Ia ingin masuk ke istana kekaisaran untuk menemui pengawas Perpustakaan Kekaisaran, Guru Agung Kong. Perpustakaan Kekaisaran kekurangan seorang dayang istana untuk mengatur buku, tetapi mereka hanya membutuhkan satu orang. Beruntungnya, karena aku bisa mengetahui kalau Pei Qian Hao berencana untuk membuat Su Xi-er masuk Perpustakaan Kekaisaran.

Para leluhur Kediaman Tan adalah sastrawan, sehingga Tan Ge akan lebih disukai apabila ia melamar untuk posisi yang sama. Lebih baik bagi Su Xi-er untuk tetap di Istana Samping untuk saat ini.

***

Ironisnya, Su Xi-er tidak mengetahui bahwa Commandery Prince Xie telah menargetkannya. Ia bahkan belum pernah bertemu Commandery Prince Xie, sehingga pengetahuannya tentang pria itu semuanya berasal dari orang lain.

Su Xi-er mengeluarkan sapu dan baru saja akan menyapu jalur istana bersama Hong Li dan ketiga dayang lainnya. Mereka berlima ditugaskan untuk membersihkan seluruh bentangan jalur istana di Istana Samping, dan sementara ketiga orang lainnya tidak berani bergosip tentang Pangeran Hao, hal yang sama tidak berlaku pada Commandery Prince Xie, yang dideskripsikan sebagai orang yang luar biasa dan lembut.

Ketika Hong Li mendengar percakapan mereka, ia cemberut. "Apanya yang begitu bagus tentang dirinya? Jika Commandery Prince Xie begitu hebat, ia tidak akan menghukum He Xiang Yu karena menyinggungnya, dan kau tidak perlu menanggung kesalahan untuknya. Itu adalah salahnya, makanya kau menderita begitu banyak pukulan papan."

Setelahnya, Hong Li tersenyum. "Namun, papan-papan itu juga membuatmu beruntung. Kau terbangun seperti orang yang berbeda setelah hukuman itu."

Su Xi-er tersenyum samar ketika ia mendengar itu. Tidak ada yang mengetahui bahwa hukuman itu telah merenggut nyawa Su Xi-er dan memungkinkanku masuk ke dalam tubuhnya.

Continue reading CTF - Chapter 316

CTF - Chapter 315

Consort of A Thousand Faces

Chapter 315 : Kediaman Tan


Pelayan Tan Ge, Cui-er, tidak mengenali kereta kuda Pangeran Hao, tetapi ia mengenali Wu Ling. Dengan seberapa besar rasa hormat yang ditunjukkan Wu Ling pada orang yang ada di dalam kereta kuda tersebut, hanya mungkin Pangeran Hao! Pelayan itu langsung menarik-narik lengan baju Tan Ge. "Nona, itu adalah kereta kuda Pangeran Hao!"

Suaranya mengandung sejejak kegembiraan. Aku akan mengawasi kereta kuda berjumbai hitam ini di masa yang akan datang. Aku mungkin bisa memohon Pangeran Hao agar mempertahankan Nona dan tidak mengusirnya.

Kontras dengan Cui-er yang kegirangan, Tan Ge jauh lebih tenang. "Meski jika Pangeran Hao sedang berdiri di depanku, aku tidak akan memohon padanya agar mempertahankanku. Aku tidak ingin menjalani kehidupan semacam itu." Setelah itu, ia memutar tumitnya dan berjalan menuju ke rumah jahit.

Ia merasa dirinya sangat beruntung, dapat menemukan sebuah rumah jahit setelah ia meninggalkan Istana Kecantikan. Pengurus itu mengakui keahliannya dan mengizinkannya untuk tinggal.

"Nona!" Cui-er cemberut. Kenapa Nona menyerah pada dirinya sendiri? Ini sudah beberapa hari semenjak Istana Kecantikan dibubarkan, tetapi Kepala Keluarga bahkan masih belum mencoba untuk menghubungi Nona. Apakah ia sungguh berencana untuk mengabaikannya dan meninggalkannya seorang diri?

Cui-er memerhatikan sewaktu Tan Ge berjalan pergi dan buru-buru mengikutinya. Akan tetapi, tiga pria kekar muncul dan menghadang jalan mereka tepat saat mereka berbelok di sudut. Sudah jelas kalau mereka di sana untuk mencari masalah dengan kedua wanita ini.

Tan Ge mundur beberapa langkah ke belakang tetapi tetap tidak gentar, menegur mereka dengan suara yang keras. "Hukum di Bei Min ketat, dan ini tengah hari. Mengapa kalian mencoba untuk secara sengaja melanggar hukum?"

Pria-pria kekar itu tertawa. "Cantik, kami hanya tahu bahwa kami tidak akan membiarkanmu kabur dari kami hari ini. Sementara untuk hukumnya? Apa yang akan diketahui oleh kami, saudara-saudara yang tidak berpendidikan tentang itu?"

"Lihat Kakak Tertua, apa yang kukatakan itu benar. Aku melihatnya berjalan masuk ke dalam rumah jahit kemarin. Tsk, tsk, wanita-wanita penjahit lainnya itu, entah terlalu tua atau berkulit kasar. Si cantik di sini berkulit mulus dan berwajah cantik. Aku hanya ingin mencicipinya saat aku melihatnya!"

Ketiga pria itu berbicara secara santai di antara mereka, selagi mereka mendekati Tan Ge, tidak memedulikan Cui-er sewaktu dengan beraninya ia menempatkan dirinya di depan orang itu. "Nona, cepatlah pergi; pelayan ini akan menghadang mereka untuk Anda. Kalian semua, orang-orang rendahan, apa kalian tahu siapa yang sedang berdiri di depan kalian?!"

Tan Ge mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya mengerut menjadi ekspresi yang serius. Cui-er tumbuh besar bersamaku sejak kecil; ia adalah satu-satunya anggota keluarga terdekat yang kumiliki setelah meninggalkan Kediaman Tan. Jika aku meninggalkan Cui-er, aku tidak layak jadi manusia!

"Nona, pergi sekarang!" Cui-er jadi semakin gelisah, mengulurkan tangannya untuk mendorong Tan Ge pergi.

Namun, salah satu dari pria itu dengan cepat berjalan ke belakang Tan Ge dan menggunakan tangannya untuk menggendongnya ala pengantin, dan memutar-mutar dirinya. Tangannya memeluk pinggangnya sementara ia berbicara. "Kediaman Tan sudah lama merosot, kalau tidak, akan ada orang kemari untuk menyelamatkanmu. Kenapa tidak ikuti saja kami ini? Setidaknya, kau bisa hidup dalam damai karena kami bertiga menyokongmu!"

Mata Tan Ge melemparkan pelototan dingin, dan ia bahkan meludahinya. "Kalau kau tidak menurunkanku, jangan harap untuk mempertahankan otot di tangan dan kakimu!"

Di lain pihak, Cui-er sudah dipaksa hingga ke sudut oleh kedua pria kekar lainnya. Mereka mengulurkan tangan mereka berbarengan dan membuka kerah bajunya, memperlihatkan bahu telanjangnya. "Bahkan, pelayannya saja berkulit sebagus ini! Kita benar-benar memenangkan lotere!"

Cui-er belum pernah dipermalukan seperti ini, dan jadi marah besar sementara ia mencoba untuk menggigit tangan pria itu.

Pria kekar itu mendengus dan menampar wajahnya; nyaris segera, wajah Cui-er mulai membengkak.

Melihat kalau ini tidak berjalan baik, Tan Ge memutuskan untuk mengikuti para pria itu untuk sekarang ini, demi menenangkan mereka. Kami bisa mencari sebuah kesempatan untuk melarikan diri setelah meninggalkan gang ini!

Setelah memutuskan ini, ia mencoba untuk memainkan sandiwara seorang wanita yang pemalu. "Aku setuju untuk mengikuti kalian, tetapi turunkan aku dulu. Aku takut orang lain melihat kita seperti ini di siang bolong."

Pria kekar yang sedang menggendongnya pun kesenangan mendengar itu. Ia tertawa terbahak-bahak dan mencium pipinya. "Baiklah, ikuti kami dengan patuh!"

Tan Ge menekan rasa jijiknya dan mengikuti ketiga pria itu dari belakang, merapikan baju Cui-er saat ia melewatinya.

Air mata Cui-er berjatuhan seperti tetesan hujan. "Nona ...."

"Mari kita ikuti saja mereka, untuk saat ini." Tan Ge mengedip pada Cui-er, dan orang itu mengangguk untuk memberi isyarat bahwa ia mengerti.

Setelah mereka sampai di jalan utama dimana ada lebih banyak pejalan kaki, Tan Ge menarik Cui-er bersamanya dan mulai melarikan diri.

Ketiga pria kekar itu menyadari tindakan mereka dan menghentikan mereka. "Dasar kau wanita tidak tahu malu, walau sudah menikahi kakak tertuaku, kau masih berpikir untuk pergi keluar dan merayu orang setiap hari!"

Orang-orang yang lewat pun memberikan mereka pandangan sekilas dan menggelengkan kepala mereka. Kami tidak semestinya ikut campur dalam urusan keluarga.

Cui-er gusar. "Siapa yang menikahi kakak tertuamu? Kalian bertiga mencoba untuk menculiknya!"

Ketiga pria kekar itu tidak berkomentar lebih jauh dan hanya memegangi Tan Ge dan Cui-er.

Tiba-tiba saja, satu kereta kuda dengan jumbai warna cyan yang menggantung dari atapnya pun lewat.

Tan Ge langsung mengenali kereta kuda Commandery Prince Xie dan memanggil, "Commandery Prince Xie, tolong selamatkan wanita kecil ini!"

Ketika para pria kekar itu mendengar nama Commandery Prince Xie, membuat mereka merinding. Namun, ketika ia melihat si Commandery Prince Xie yang disebut-sebut ini, ia langsung berbalik dan menampar wajah Tan Ge.

Namun, tiba-tiba saja, pria kekar itu mulai menjerit kesakitan sewaktu darah bercipratan kemana-mana. Tan Ge menggunakan kesempatan untuk menyerang dengan pisau yang disembunyikannya, menyayat dalam ke tangan kanan pria itu.

Meskipun berteriak, suara jelas dari pria lain dapat terdengar di antara kericuhan itu. "Pengawal, tangkap ketiga pria itu. Mereka mencoba untuk menculik Nona dari Kediaman Tan, dan harus dihukum dengan keras oleh hukum."

Pengawal itu membungkuk dan segera mengepung ketiga pria itu berbarengan sebelum membawa mereka pergi.

Air mata kegembiraan bercucuran dari mata Cui-er sewaktu ia menarik tangan Tan Ge. "Nona, kita selamat!"

Tan Ge mengangguk. Perlahan-lahan ia berjalan ke depan kereta kuda Commandery Prince Xie dan membungkuk untuk memberikan hormat. "Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami, Commandery Prince Xie."

Satu tangan yang panjang mengangkat tirai kereta kuda tersebut, memperlihatkan sisi samping dari wajah tampan Xie Yun. Cui-er pun hanya bisa tertegun. Pria ini memiliki aura yang sangat berbeda dari Pangeran Hao. Mereka sama-sama tampan, tetapi Pangeran Hao dingin, sementara Commandery Prince Xie lembut.

(T/N : saya mencium bau-bau Yun preet kedua kalo uda bawa-bawa pria lembut ini -_-)"

"Nona Tan, Pangeran ini akan mengantarkanmu kembali ke Kediaman Tan."

Saat Tan Ge mendengar ini, ia segera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan kembali."

Namun, bukan terserah padanya untuk memutuskan apakah ia harus kembali atau tidak. Kedua pengawal itu memahami niat Xie Yun dari tampangnya, dan memanggil kereta kuda lain sebelum meminta kedua wanita itu untuk naik.

"Nona Tan, kau harus kembali ke tempat kau berasal." Tak lama setelah ia membuat komentar ini, kereta kuda Xie Yun perlahan-lahan mulai bergerak pergi.

Ekspresi Tan Ge sakit, tetapi ia tidak punya pilihan dalam masalah ini. Kereta itu segera dalam perjalanan menuju ke Kediaman Tan, berlokasi di sebuah jalan yang sepi di ibu kota.

Cui-er gembira sekali, tidak memahami perasaan majikannya. "Nona, Commandery Prince Xie akan mengantarkan kita kembali. Semua orang akan berpikir kalau Commandery Prince Xie mendukungmu. Mulai sekarang, tidak ada orang di Kediaman Tan yang akan memandang rendah dirimu!"

Tan Ge tidak membalas, hanya memandangi jalanan yang menghilang di belakangnya dengan kekecewan yang jelas, menggenang di matanya. Aku hanya ditakdirkan untuk dirantai lagi. Sudah jelas dari saat Istana Kecantikan dibubarkan, Kediaman Tan tidak berniat untuk mempertahankanku sebagai seorang putri. Tidak datang mencariku, kurang lebih sudah membuktikan ini.

Sekarang karena aku kembali ke Kediaman Tan, satu-satunya alasan mereka akan memperlakukanku dengan hormat adalah jika mereka ingin memanfaatkanku lagi.

Pelayan keluarga di depan pintu masuk Kediaman Tan menguap tanpa henti. Dedaunan yang berjatuhan telah terkumpul di depan pintu masuk, dan pintu kayu itu sendiri mulai rusak. Hanya papan penanda dengan tulisan 'Kediaman Tan' yang tertulis di atasnya yang tampak bersih.

Ketika pelayan keluarga yang berjaga di pintu masuk melihat sebuah kereta kuda yang besar, luas, dibawa dengan dua kuda, berhenti di depan kediaman, matanya pun membelalak. Apakah ada tokoh besar yang tiba?

Continue reading CTF - Chapter 315

CTF - Chapter 314

Consort of A Thousand Faces

Chapter 314 : Dipenggal di Depan Umum


Su Xi-er tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih banyak atas pengingatnya, Pangeran Hao."

Pemandangan dari Su Xi-er yang bertingkah dengan sikap seperti ini, mengingatkan Pei Qian Hao tentang bau ramuan obat, jadi ia membungkuk dan menatap ke dalam matanya seraya mempertanyakan, "Bagimu, bersikap sepenurut ini ... apa kau melakukan sesuatu yang salah?"

Hong Li kaget melihat Pei Qian Hao begitu dekat dengan Su Xi-er di depannya, menyebabkan tangannya tergelincir. Baskom kayu itu miring ke satu sisi dan airnya menciprati jubah Pei Qian Hao.

Ketika Hong Li melihat tetesan gelap di keliman jubah Pangeran Hao, ia segera menurunkan baskom itu dan berlutut ketakutan. Dengan suara yang bergetar, ia memohon, "Hamba pantas mati; Pangeran Hao, mohon berbelas kasihan."

Ia ketakutan sampai hilang akal. Seorang dayang istana yang tidak mencuci baju dengan baik di Biro Layanan Binatu akan kehilangan kepala mereka. Hukuman yang serupa sekarang ini tengah menantiku apabila Pangeran Hao berencana membuatku bertanggung jawab!

Tiba-tiba Hong Li teringat akan Su Xi-er dalam kepanikannya, dan segera melihat ke atas padanya, menggunakan matanya untuk meminta Su Xi-er menolongnya.

Namun, sebelum ia bahkan bisa mengatakan sesuatu, orang itu sudah mengulurkan tangannya dan tersenyum sewaktu ia memegangi keliman baju Pei Qian Hao. "Itu hanya sedikit air. Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menutupinya dengan tanganmu."

Menutupinya dengan tanganku dan menggunakan suhu tubuhku untuk membuat tetesan airnya menguap. Ia punya ide-ide yang gila. Pei Qian Hao menatap Hong Li dan melambaikan tangannya. "Pergi dan bawa keluar baskom kayu itu."

Hong Li menghela napas lega dan segera mengambil baskom kayu tersebut sebelum dengan cepat meninggalkan ruangan.

Krek.

Ketika akhirnya pintu tertutup, Pei Qian Hao mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Su Xi-er. "Pergi dan berbaringlah di ranjang; kau harus istirahat lebih awal."

Su Xi-er mengangguk. "Pangeran Hao, hamba akan istirahat setelah Anda pergi."

"Apa, kau takut kalau Pangeran ini akan mengambil keuntungan darimu?"

Su Xi-er menjawab, "Anda pintar, Pangeran Hao."

Satu gelak tawa lolos dari bibir Pei Qian Hao. "Pangeran ini tidak akan melakukan apa pun padamu sementara luka di tanganmu masih terbuka. Komandan Pasukan Tentara Kekaisaran, Yu Chi Mo, adalah bawahan Pangeran ini. Apabila kau menemukan sesuatu yang sulit untuk diatasi, suruh Dayang Senior Liu supaya melapor padanya."

Tiba-tiba saja, Su Xi-er mengerti kedatangan Pei Qian Hao yang tepat waktu di Istana Kedamaian Penuh Kasih. Yu Chi Mo-lah yang melaporkan ke Kediaman Pangeran Hao.

"Istirahatlah baik-baik. Setelah beberapa waktu, kau tidak akan lagi menjadi seorang dayang." Pei Qian Hao menatap Su Xi-er lagi sebelum memutar tumitnya untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Di saat Su Xi-er sepenuhnya mencerna kalimat terakhirnya, Pei Qian Hao sudah meninggalkan kamar. Apa maksudnya dengan itu? Aku tidak akan jadi seorang dayang setelah beberapa waktu? Kalau begitu, akan jadi apa aku? Apakah ia sudah terlalu tidak sabar untuk memberikanku lebih banyak waktu?

Pei Qian Hao tidak mengetahui bahwa kalimat terakhirnya akan membuat Su Xi-er terjaga selama dua jam berikutnya. Ia memikirkan tentang apa yang harus dilakukannya apabila Pei Qian Hao bersikeras agar ia masuk ke Kediaman Pangeran Hao, dan bagaimana ia akan menghubungi Feng Chang Qing dan yang lainnya di bawah pengawasannya.

Semua pemikiran ini memenuhi benaknya hingga akhirnya ia tertidur.

***

Keesokan harinya, sebuah kabar menyebar di seluruh ibu kota Bei Min, termasuk istana kekaisaran.

Seorang anggota dari cabang samping Keluarga Pei, Pei Yong, telah dituntut atas menerima penyuapan, sekaligus dengan penyalahgunaan kekuasaannya untuk melakukan pelecehan seksual terhadap wanita selama bertahun-tahun. Hukumannya akan jadi pemenggalan yang dilaksanakan di jalanan, sore ini, guna memberikan sebuah contoh.

Pintu masuk utama Kediaman Pei tertutup rapat hari ini, hanya dengan dua pelayan yang berdiri dengan hormat di depan pintu masuk sementara para warga lalu-lalang dan berbisik-bisik dengan suara lirih. Pei Zheng memutuskan untuk mengabaikan semua ini, sekaligus dengan titah lisan Ibu Suri agar mengunjungi Istana Kedamaian Penuh Kasih.

Apa pun yang terjadi, Pei An Ru harus berada di istana kekaisaran.

Kereta tahanan yang membawa Pei Yong untuk dipenggal pun menuju ke jalan. Meski ia adalah seorang tahanan, baju dan rambutnya masih rapi, karena para pengawal tidak berani mengabaikan seseorang dengan posisinya.

(T/N : contoh kereta tahanan.)


        

Terlepas dari betapa bencinya warga kota yang ada di sisi jalanan terhadap dirinya, mereka tidak berani melemparkan sayuran busuk atau telur padanya. Pei Yong sudah kehilangan banyak berat badan setelah menghabiskan hari-harinya di dalam penjara. Ia terus melihat ke sekelilingnya kereta itu. Keluarga Pei pastinya tidak akan mengabaikan diriku, kalau tidak, hari-hariku di dalam penjara pasti akan jauh lebih keras.

Namun, Pei Yong mendadak jadi gelisah setelah ia berlutut di tengah-tengah tanah eksekusi, dan dengan panik mencari seseorang yang familier ke sekelilingnya.

Akan tetapi, tidak ada siapa pun yang berasal dari Kediaman Pei yang ada di sana, bahkan istri dan putrinya. Kenyataan akhirnya menyambar dirinya. Apakah sungguh tidak akan ada yang menyelamatkanku? Apa aku sungguh akan mati?

Pei Yong mulai meronta demi hidupnya di lahan eksekusi, tetapi algojo kekar itu menahannya di tempat, tidak memberikannya kesempatan.

Lalu, Wu Ling tiba di lahan eksekusi mengenakan seragam komandannya dan mulai membacakan kejahatan-kejahatan Pei Yong. Warga kota bertepuk tangan serentak menyetujuinya. Pei Yong ketakutan, wajahnya berubah pucat pasi sementara manik matanya membesar.

Saat waktunya, Wu Ling memberi sinyal pada hakim provinsi, yang kemudian melemparkan papan eksekusi. Pei Yong memejamkan matanya ketakutan sementara tubuhnya gemetaran ....

(T/N : contoh papan eksekusinya yang ada di samping si tahanan.)


 

Sayang, tidak akan ada yang berubah selagi algojo itu mengayunkan pedangnya, dan suara dari kepala yang jatuh ke tanah menggema di lahan eksekusi yang hening itu. Namun, keheningan itu hanya bertahan sebentar saja; para warga kota segera bersorak dan bertepuk tangan sekali lagi.

Sementara itu, Pei Qian Hao menurunkan cawan anggur di tangannya sementara ia menatap ke bawah, ke lahan eksekusi dari lantai dua restoran terdekat. Duduk di seberangnya adalah Pei Zheng, yang alisnya sedikit tertaut selagi ia memegangi cawannya sendiri dengan cengkeraman yang kuat. Sebelumnya, seorang pengawal dari Kediaman Pangeran Hao sudah mampir ke Kediaman Pei hari ini, dan mengabarkan padanya bahwa Pei Qian Hao mengundangnya untuk bertemu.

Ia tahu bahwa aku tidak bisa menolak undangannya, tetapi ia sengaja memilih restoran yang dekat dengan lahan eksekusi hanya supaya aku bisa menyaksikan pemenggalan kepala Pei Yong dengan mataku sendiri.

Pei Zheng menurunkan cawan anggurnya. "Pangeran Hao, kau sudah mengeksekusi Pei Yong sesuai dengan hukum. Pejabat ini tadinya mencoba untuk menghentikanmu karena kita semua merupakan anggota dari Keluarga Pei, tetapi setelah itu, aku tidak ikut campur. Oleh sebab itu, pejabat ini berharap agar kau bisa memberitahukan padaku, kenapa aku diundang kemari hari ini."

"Saat ini, Keluarga Pei merupakan keluarga aristokrat paling berkuasa di kerajaan. Pangeran ini ingin menanyakanmu sesuatu. Bagaimana kau akan memastikan bahwa Keluarga Pei tidak akan jatuh? Pangeran ini mendengar bahwa Keluarga Xie sudah membuat beberapa gerakan belakangan ini."

Tatapan Pei Zheng menggelap. "Commandery Prince Xie mengendalikan sepertiga dari kekuasaan militer, dan baru-baru ini mulai melibatkan dirinya dalam politik mahkamah. Cabang samping dari Keluarga Xie juga mulai mendekati para sastrawan ...." Keluarga Xie harus diwaspadai apabila kami ingin menjaga posisi kami!

Pei Qian Hao mengambil cawan anggur dari atas meja dan menggoyangkannya pelan. "Tuan Pei, kalau Pangeran ini melindungi Pei Yong secara memihak sekarang ini, para warga kota sudah pasti akan kecewa. Jika Keluarga Xie menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan dukungan dari rakyat, bahkan meski jika kita dapat menyelamatkan status Keluarga Pei, Keluarga Xie masih akan memegang posisi yang lebih tinggi di hati rakyat."

Pei Zheng merenungkannya sejenak dan akhirnya mengangguk. "Terima kasih banyak atas pengingatnya, Pangeran Hao."

"Tidak perlu berterima kasih pada Pangeran ini. Pangeran ini tumbuh besar di dalam Kediaman Pei, dan tidak akan melupakan bahwa kau membesarkanku. Tuan Pei, jika kau punya waktu, kau harus mengunjungi Istana Kedamaian Penuh Kasih. Ibu Suri tidak berkonsentrasi pada Keluarga Pei belakangan ini."

Tentunya Pei Zheng mengerti makna tersirat di dalam ucapan Pei Qian Hao. "Sejak kecil, sifat Ya Ran sudah buruk. Aku harap kau akan memaafkan segala penyinggungan. Sementara untuk sikapnya terhadap Kediaman Pei, pejabat ini akan pergi ke Istana Kedamaian Penuh Kasih."

"Bagus sekali kalau kau bisa melakukan itu, Tuan Pei. Pangeran ini akan pergi dulu untuk mengunjungi barak tentara." Pei Qian Hao bangkit berdiri dan berjalan keluar dari restoran.

Setelah Pei Qian Hao menghilang, ekspresi Pei Zheng jadi suram. Kediaman Pei sekarang ini terjepit dalam posisi yang buruk. Di depan kami adalah Pangeran Hao, yang menjadi semakin sukar untuk dikendalikan. Di belakang ada Keluarga Xie, bersama dengan Commandery Prince Xie.

***

Dengan cepat Pei Qian Hao menaiki sebuah kereta kuda setelah meninggalkan restoran. Wu Ling sudah menunggunya di samping dengan kereta kuda tersebut.

"Suruh orang awasi Kediaman Pei secara diam-diam. Segera laporkan pada Pangeran ini apabila ada gerakan yang mencurigakan." Pei Qian Hao menginstruksikan sementara ia melihat ke arah Pei Zheng melalui celah di antara tirainya.

Wu Ling membungkuk. "Bawahan ini mematuhi perintah."

Pei Qian Hao mengangguk dan memerintahkan pengawal untuk mengendarai kereta kuda, menuju ke barak tentara.

Saat ini, Tan Ge juga ada dalam kerumunan. Ia langsung melihat kereta kuda Pangeran Hao yang melintas hanya dengan sepintas lihat. Walaupun tidak ada kata-kata ataupun lambang di atas kereta kuda tersebut, jumbai hitam berlapis emas yang menggantung dari atapnya merupakan bukti yang cukup bahwa kereta kuda itu milik Pangeran Hao.

Continue reading CTF - Chapter 314

CTF - Chapter 313

Consort of A Thousand Faces

Chapter 313 : Seseorang yang Mengetahui Bagaimana Menembakkan Panah Penembus Jantung


Bibir Feng Chang Qing sudah pucat, tetapi ia masih mempertahankan kesadarannya. Setelah ia melihat Su Xi-er, ia memanggil, "Putri Pertama Kekaisaran."

"Jangan bicara sekarang ini, biarkan aku memeriksa lukamu." Su Xi-er berlutut di depannya dan menggulung lengan bajunya. Untungnya, darah dari luka pedang ini berwarna merah terang normal. Selama ia tidak terkena racun, itu akan jadi masalah yang mudah, untuk membersihkan dan membalut lukanya dengan sejumlah obat.

Su Xi-er berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan bubuk bunga Ling Rui. Tentu saja, aku masih harus menghentikan pendarahannya; kalau tidak, ia akan pingsan.

Ia mengambil botol berwarna cokelat dan berjalan ke arah Feng Chang Qing, membukakan botol selagi ia menuangkan bubuk di dalamnya ke atas lukanya. Hanya sejenak saja sebelum lukanya berhenti berdarah.

"Setelah air panasnya di sini, kita akan membersihkan lukanya dan membubuhkan lebih banyak bubuk bunga sebelum diperban. Feng Chang Qing, apa kau pergi ke Istana Kedamaian Penuh Kasih?" Su Xi-er bangun dan menanyainya sementara ia mengeluarkan ramuan obat. Ia menuangkan air dingin di dalam teko teh, membersihkan ramuan obat itu, dan menyerahkannya pada Feng Chang Qing. "Emut di mulutmu."

Feng Chang Qing memasukkan ramuan obat itu ke dalam mulutnya dan membiarkan mereka berada di bawah lidahnya. Ia dapat merasakan aroma herbal ringan yang menyebar di seluruh mulutnya, membawa serta perasaan yang menyegarkan.

"Ketika bawahan ini kembali ke Kediaman Pangeran Hao, aku melihat seorang pengawal yang bergegas pergi ke istana kekaisaran dengan berkuda. Berpikir kalau mungkin terjadi sesuatu pada Anda, aku mengikutinya. Setelah itu, aku mendengar orang-orang bergosip bahwa seorang dayang dari Istana Samping dibawa oleh Ibu Suri ke Istana Kedamaian Penuh Kasih. Lalu, bawahan ini bersembunyi di salah satu pondok di halaman belakang Istana Kedamaian Penuh Kasih, tetapi aku tidak menyangka akan menemukan seorang pria berpakaian hitam."

Saat ini, Feng Chang Qing berhenti dan jadi lebih serius. "Ia punya perawakan yang besar, dan diselimuti dengan jubah hitam dari kepala hingga ujung kaki. Yang paling penting, ia tahu bagaimana caranya menembakkan Panah Penembus Jantung."

"Apa kau melihat bagaimana rupanya?"

Feng Chang Qing menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ia juga memakai cadar seperti bawahan ini. Bawahan ini bisa mengetahui bahwa ia sangat mahir setelah bertarung dengannya. Setiap gerakannya ganas, terisi dengan cukup tenaga untuk membunuh. Ia adalah orang yang memutuskan otot tangan dan kaki dari si pengawal Istana Kedamaian Penuh Kasih."

Ekspresi Su Xi-er jadi serius. "Aku pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya, tetapi mirip seperti sekarang, ia memakai cadar hitam untuk menyembunyikan jati dirinya, jadi aku tidak tahu apakah ia adalah teman atau musuh. Satu-satunya hal yang aku yakini adalah bahwa ia mengenal Pangeran Kekaisaran Ketiga. Meski begitu, mereka berdua jelas bukanlah teman."

Alis Feng Chang Qing tertaut dengan erat. Akhirnya, ia mengingatkan, "Dengan betapa akrabnya ia dengan geografi di Istana Kedamaian Penuh Kasih, ia pasti telah bersembunyi di sana untuk waktu yang sangat lama. Ia juga berniat untuk menembak Anda dengan panah itu, menyiratkan bahwa ia dan Ibu Suri mungkin saling mengenal. Di masa yang akan datang, Anda harus berhati-hati selagi Anda berada di istana."

Su Xi-er mengangguk. "Aku akan bodoh jika tidak lebih berhati-hati setelah mendapati orang ini muncul dua kali di hadapanku. Pokoknya, kau harus kembali ke Kediaman Pangeran Hao setelah aku membalut lukamu; kalau tidak, Pangeran Hao akan curiga apabila ia mengetahui kau menghilang."

"Bawahan ini mematuhi perintah."

Di saat ini, Hong Li masuk ke dalam kamar bersama sebaskom air panas dan sehelai saputangan. Ketika ia melihat mata panjang dan sipit Feng Chang Qing, Hong Li pun tertegun. Mata pria ini indah sekali!

Feng Chang Qing dapat melihat rasa kagum di matanya. Namun, ekspresinya melembut ketika ia menyadari bahwa gadis itu yang telah menyelamatkan nyawanya. "Terima kasih banyak karena menyelamatkanku, Nona."

"Kalau begitu, kau akan membersihkan sendiri lukamu, atau kau mau aku yang membersihkannya untukmu?" Hong Li membasahi saputangan itu dan memerasnya hingga kering sembari bertanya.

"Nona, aku tidak akan menyusahkanmu. Aku akan melakukannya sendiri." Feng Chang Qing mengulurkan tangannya yang tidak terluka dan mencoba untuk mengambil saputangan itu dari tangan Hong Li.

Akan tetapi, Su Xi-er merebut saputangan itu. "Biarkan aku yang membersihkannya. Aku sudah sering kali terluka, dan aku tahu bagaimana caranya untuk membersihkan luka agar itu tidak infeksi."

Ia menatap pada Feng Chang Qing, tidak mengizinkan pria itu untuk menolaknya. Kemudian, ia mengambil saputangan lembap itu dan mulai membersihkan luka itu untuknya.

Setelah mengulangi prosesnya dua kali lagi, Su Xi-er menyuruh Hong Li membawa pergi baskom tersebut. Lalu, ia menuangkan bubuk bunga Ling Rui lagi pada lukanya sebelum merobek kain dari keliman baju pria itu, menggunakannya untuk membalut lukanya.

Bubuk bunga Ling Rui bagus untuk mengurangi peradangan, dan dengan cepat mengurangi rasa sakitnya.

Tiba-tiba saja, Hong Li membuka pintu dengan gelisah dan memperingatkan pelan, "Su Xi-er, aku baru saja melihat Pangeran Hao berjalan kemari. Ia akan segera sampai di sini!"

Alis Su Xi-er mengernyit. Aku tidak bisa membiarkannya menemukan Feng Chang Qing. Ia langsung mendorong satu botol bubuk bunga Ling Rui ke dalam tangannya. "Bawa ini dan cepatlah pergi; pastikan jangan biarkan siapa pun melihatnya."

Ia mendorong Feng Chang Qing ke bagian belakang kamar dekat jendela. Mengetahui bahwa ia tidak bisa berlama-lama, Feng Chang Qing membuka jendela dan melompat keluar. Ramuan obat itu telah membantunya mendapatkan sejumlah tenaganya.

Hong Li memerhatikan sewaktu Feng Chang Qing pergi, kekecewan melintas di matanya. Aku tidak tahu apakah aku akan bisa bertemu dengannya lagi, tetapi matanya begitu cerah dan indah.

(T/N : Ehem, apakah akan muncul ship baru, Feng Chang Qing x Hong Li? 🤭)

Sebelum Su Xi-er bahkan bisa menutup jendela, pintunya terbuka, dan suara yang dalam dapat terdengar. "Bagaimana lukamu?"

"Hamba ... memberi hormat pada Pangeran Hao." Kaki Hong Li terus gemetaran ketika ia melihat Pei Qian Hao.

Su Xi-er menutup jendela dan berjalan menuju ke arah Pei Qian Hao. Sebelum ia bahkan mulai membungkuk, pria itu meletakkan satu tangan di bahunya dan mengangguk ke arah Hong Li. "Bawakan sebaskom air panas kemari."

Hong Li menatap kosong. Apakah Su Xi-er terluka? Sebaskom air panas biasanya digunakan untuk membersihkan luka.

"Kenapa kau masih berdiri di sana?"

Saat Hong Li mendengar kejengkelan dalam suara Pangeran Hao, ia tidak berani tinggal lebih lama lagi.

***

Di dalam kamar, Pei Qian Hao menggulung lengan baju Su Xi-er. Ketika ia melihat darah kering berwarna merah tua, alisnya pun mengerut. "Kau selalu terluka di istana kekaisaran. Apa kau suka sekali terluka?"

Setelah itu, ia berjalan menuju ke rak dan mengambil satu botol bubuk bunga Ling Rui. Setelah menyadari kalau satu botol sudah hilang, ia bertanya, "Kau baru saja kembali ke istana, tetapi kau sudah menggunakan satu botol bubuk bunga Ling Rui?"

Botol bubuk yang menghilang itu diberikan pada Feng Chang Qing, tetapi aku tidak boleh memberitahukan Pei Qian Hao itu. Ia membencinya saat aku memberikan benda-benda yang dihadiahkan olehnya kepada orang lain.

Su Xi-er menjawab, "Pangeran Hao, Anda mengatakan kalau Anda tidak ingin tubuh hamba ini berbau tidak enak. Oleh karenanya, hamba menggunakan sebotol bubuk bunga Ling Rui untuk mandi setelah kembali."

Pei Qian Hao berbalik dan memegang botol bubuk bunga Ling Rui. Indra penciumannya yang akut mengizinkannya untuk mendeteksi aroma samar dari ramuan obat, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa meski merasa itu mencurigakan. Ia hanya berdiri di depan Su Xi-er dan memegangi tangannya sembari menggulung lengan bajunya.

Saat Hong Li tiba-tiba berbelok dengan sebaskom air panas di tangannya, ia membeku melihat pemandangan di depannya.

Suara Pei Qian Hao yang rendah dan dalam pun dapat terdengar. "Masuk dan tutup pintunya."

"Hamba mematuhi perintah." Hong Li langsung menutup pintu di belakangnya selagi ia membawa sebaskom air itu masuk dengan tangan yang gemetaran.

Aku tidak bisa hanya menaruh baskomnya di lantai dan membiarkan Pangeran Hao berjongkok untuk membantu Su Xi-er membersihkannya, kan?

Su Xi-er menatap Pei Qian Hao dan mengambil saputangan tersebut. "Pangeran Hao, hamba pikir, lebih baik untuk melakukannya sendiri."

Tidak ada jawaban. Hong Li berdiri tegak dan membawa baskom kayu itu setinggi pinggang.

Suara dari saputangan yang dibasahi dan diperas kering dapat terdengar. Tatapan Pei Qian Hao tertuju pada luka Su Xi-er sewaktu ia mengangkat saputangan itu dan dengan hati-hati membantunya membersihkan luka tersebut.

Setelah itu, ia membubuhkan obat padanya dan membalutnya.

"Hati-hatilah di masa yang akan datang. Jika keropengnya terbuka lagi, lukamu akan bernanah." Pei Qian Hao menurunkan lengan bajunya dan menegurnya dengan jejak ketegasan dalam suaranya.

Su Xi-er tahu bahwa, meski jika keropengnya terkoyak, itu tidak akan bernanah. Ia hanya mengatakan itu untuk menakut-nakutiku.

Continue reading CTF - Chapter 313

CTF - Chapter 312

Consort of A Thousand Faces

Chapter 312 : Siapa Mengira Seperti Ini


Pei Qian Hao berjalan masuk ke dalam aula utama Istana Kedamaian Penuh Kasih, mengamati dayang istana di dalam sebelum Pei Ya Ran bahkan dapat membuka mulutnya.

Para dayang istana segera mengerti, dengan cepat undur diri sembari menutup pintu di belakang mereka.

Ekspresi Pei Ya Ran jadi serius sewaktu ia menghampiri tempat duduk paling atas dan duduk sebelum memberikan seulas senyuman, "Pangeran Hao, kau masih belum memberikan hormatmu pada Ibu Suri ini, bahkan setelah memasuki Istana Kedamaian Penuh Kasih. Kau terus mengingatkan Ibu Suri ini bahwa aku harus menampilkan sikap seorang Ibu Suri, tetapi, bagaimana denganmu? Apakah kau memiliki sikap seorang Prince Regent?"

Pei Qian Hao segera menangkupkan kedua tangannya. "Pejabat rendahan ini memberi hormat pada Ibu Suri."

Aku tidak peduli tentang dirinya yang memintaku untuk bersikap hormat di permukaan. Selama ia tidak menyentuh garis batas bawahku, semuanya masih bisa dinegosiasikan.

"Pangeran Hao, Ibu Suri ini mengerti apa yang hendak kau katakan. Su Xi-er adalah wanitamu, dan Ibu Suri ini tidak boleh melakukan apa pun kepadanya." Pei Ya Ran mengakui pelan selagi ia memainkan sebuah cangkir teh di tangannya.

"Baguslah karena kau memahami Pangeran ini, Ibu Suri. Mulai dari sekarang, aku harap agar kau tidak berhubungan dengan masalah yang terkait dengan Su Xi-er."

Pei Ya Ran tertawa dan merilekskan pegangannya. Prang! Cangkir teh porselen putih itu jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. "Seorang wanita seperti satu cangkir teh, memesona dan indah saat masa mudanya, sekaligus menarik perhatian semua orang. Namun, penampilan mereka rapuh seperti cangkir ini, dan akan dengan mudahnya hancur berkeping-keping setelah masa muda mereka. Pangeran Hao, apa yang dimiliki Su Xi-er selain dari penampilannya?"

"Ibu Suri, kau sedang mencoba untuk mengingatkan Pangeran ini agar fokus pada kekuasaan dan menyerah pada Su Xi-er, kan?" Tatapan Pei Qian Hao jadi dalam seperti kolam tak berdasar, membuatnya sulit untuk menerka apa yang tengah dikontempelasikannya.

Jantung Pei Ya Ran mendadak berdebar kencang. Itu menakutkanku, setiap kali ia menunjukkan ekspresi semacam itu. Setiap kali aku melihatnya di masa lalu, seseorang, atau bahkan seluruh keluarga mereka, terbunuh. Baginya, memperlihatkan ekspresi semacam itu sekarang ... mungkinkah itu berarti kalau ia ingin membunuhku?

Tetapi aku telah bersama-sama dengannya selama bertahun-tahun. Tidak semestinya ia begitu tidak tahu terima kasih dan tidak berperasaan!

Senyuman Pei Ya Ran menghilang, dan ia menggebrakkan tangannya di atas meja. "Kau semestinya selalu fokus pada kekuasaan. Kalau tidak, kenapa aku masuk ke dalam istana? Awalnya itu adalah demi Keluarga Pei, dan sekarang, ini semua demi dirimu! Sebagai Prince Regent, sekarang ini kau memonopoli kekuasaan terbesar di Bei Min. Di saat Kaisar cukup usia untuk mengambil takhta secara formal, semua pejabat mahkamah akan berada di pihakmu. Saat itu ...."

Tepat ketika ia baru saja akan tiba di bagian paling penting, bunyi retakan yang keras pun terdengar. Pei Ya Ran menyaksikan sewaktu meja redwood di aula utama tiba-tiba saja terbelah jadi dua, dengan tinju Pei Qian Hao masih berada di atasnya! Tatapannya dingin, dan ekspresinya gelap selagi ia menatapnya.

"Siapa saja yang berani untuk menentang Pangeran ini, akan menemui akhir yang sama dengan meja ini. Pangeran ini akan mengirimkan seseorang bersama dengan satu meja berkualitas tinggi besok." Setelah itu, Pei Qian Hao membungkuk untuk memberikan hormatnya. "Ibu Suri, istirahatlah lebih awal."

Kemudian, ia mulai berjalan ke pintu utama, langkah kakinya menggema di seluruh aula yang cekung itu. Setelah dayang istana yang gemetaran di luar melihatnya, ia pun berlutut dengan bunyi gedebuk. "Pelayan ini mengantarkan Pangeran Hao."

Pei Qian Hao tidak repot untuk menjawab, hanya langsung berjalan keluar. Dayang istana itu masih terlalu ketakutan untuk bangun, dan terlalu ngeri untuk melihat ke dalam aula utama juga. Semuanya, termasuk para dayang istana, pengawal, dan kasim, sudah mendengar suara pukulan yang keras barusan ini.

Di dalam aula utama, Pei Ya Ran masih membeku kaku. Tangannya mencengkeram sandaran lengan di kursi sementara ia memandangi sisa-sisa dari meja redwood itu, dan tetap begitu untuk beberapa waktu.

Beberapa saat kemudian, embusan angin dingin memasuki aula utama dan membuat Pei Ya Ran menggigil, akhirnya membantunya keluar dari keadaan terguncangnya.

"Kemari, bereskan semuanya di sini." Pei Ya Ran melambaikan tangannya pada dayang istana di luar sana dan memberi sinyal agar mereka masuk.

Para dayang di luar sana segera bangkit. Kaki mereka semuanya mati rasa setelah berlutut untuk waktu yang sangat lama, dan karenanya pelan-pelan masuk. Namun, setelah mereka melakukannya, mereka semua tertegun melihat kekacauan yang menyambut mereka, yang mana termasuk cangkir teh yang hancur dan meja redwood yang retak.

Pangeran Hao pasti kehilangan kesabarannya hingga terjadi sesuatu seperti ini. Hanya akibatnya saja, sudah cukup untuk memperlihatkan betapa mengerikannya ekspresinya.

"Segera bereskan semuanya!" Suara Pei Ya Ran penuh amarah.

Para dayang istana tidak berani lambat, langsung membungkuk untuk membersihkan kekacauan itu.

Tatapan di mata Pei Ya Ran tidak bisa diduga. Pei Qian Hao sudah mengatakan kata-kata sekasar itu; apabila aku terus menyerang Su Xi-er, ia tidak akan ragu untuk mengabaikan hubungan kami dan posisi sosial. Tentang ini, aku yakin, dan aku mengetahui caranya dengan sangat baik.

Aku tidak percaya kalau aku akan berakhir seperti ini dengannya. Aku selalu melakukan semuanya demi kepentingannya, tetapi ia membuanku demi seorang dayang rendahan!

Hati Pei Ya Ran jadi semakin sakit saat ia memikirkan soal ini, bahkan tangannya gemetaran saat ia mengangkatnya untuk menopang keningnya.

Setelah beberapa saat, Pei Ya Ran teringat kalau Pei An Ru masih belum kembali dari Istana Samping. Apakah ia pergi ke tempat yang salah? Tidak, tidak mungkin. Maka, Pei Qian Hao pasti ada di sana saat ia pergi ke Istana Samping.

Jadi, kemana Pei An Ru?

Saat ini, seorang kasim berlari dengan panik masuk ke dalam aula utama. "Melapor pada Ibu Suri, Nona An Ru ditemukan tidak sadarkan diri di samping jalur istana. Seorang pengawal sudah membawanya ke Istana Kedamaian Penuh Kasih, tetapi tubuhnya masih dingin. Ia harus menemui tabib kekaisaran."

Alis Pei Ya Ran berkerut. "Cepatlah pergi ke Institut Tabib Kekaisaran."

Si kasim pun segera membungkuk. "Pelayan ini akan ke sana sekarang juga."

Pei Ya Ran mengepalkan tangannya dengan erat. Su Xi-er, kita masih punya banyak hari di depan kita. Sekarang ini, Pei Qian Hao mewaspadaiku, jadi aku tidak akan melakukan apa-apa padamu saat ini. Namun, kau bisa yakin bahwa Ibu Suri ini akan membunuhmu dengan satu tembakan di masa depan!

Kemudian, Pei Ya Ran berdiri dan berjalan ke arah kamar tempat Pei An Ru sedang beristirahat.

Saat ia memasuki kamar, ia menyentuh kening Pei An Ru. Panas sekali, seakan-akan ia sudah terserang demam.

"Pelayan, panggil Tuan Pei untuk masuk Istana Kedamaian Penuh Kasih dan bawa Nona An Ru pergi. Ia sakit, dan tidak bisa terus berada di dalam istana." Pei Ya Ran menginstruksikan seorang dayang di sebelahnya.

Dayang istana itu langsung pergi keluar dan menyampaikan pesan tersebut pada seorang pengawal. Pengawal itu menerima perintah Ibu Suri dan dengan cepat meninggalkan istana, menuju Kediaman Pei.

***

Sementara itu, Su Xi-er sudah kembali ke Istana Samping, dan saat ini berada di dalam kamarnya setelah menerima beberapa instruksi dari Dayang Senior Liu. Kasim Zhang juga sudah kembali ke Departemen Rumah Tangga Kekaisaran.

Tepat saat Su Xi-er baru saja akan membuka pintu kamarnya, ia mendengar suara-suara yang berasal dari jalan, dan menemukan Hong Li menuju ke arahnya. Kenapa ia tampak begitu kebingungan?

Hong Li berhenti di depan Su Xi-er sebelum meluncurkan penjelasannya. "Aku menemukan seorang pria di halaman belakang Istana Samping. Ia bukan seorang kasim, tetapi ia terluka dan aku mengasihaninya. Aku menempatkannya di dalam kamarmu."

Ada orang lain yang tidur di kamar Hong Li, kalau tidak, ia tidak mungkin membawa pria itu ke dalam kamarku.

Alis Su Xi-er tertaut. Pei Qian Hao selalu mengunjungiku tanpa peringatan. Jika tiba-tiba saja ia menemukan seorang pria aneh di dalam kamarku, itu tidak akan berakhir baik.

Terlepas dari pikirannya, ekspresi Su Xi-er tidak berubah. Ia berujar pelan, "Mari masuk ke dalam dan lihat."

Hong Li mengangguk dan mengikuti Su Xi-er masuk ke dalam kamar.

Seorang pria yang mengenakan baju kasar sedang duduk di atas sebuah bangku kayu. Tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang banyak bercucuran darah.

Su Xi-er berjalan mendekat. Saat ia melihat cadar abu-abu pada dirinya, ia terkejut. Itu adalah Feng Chang Qing! Mungkinkah ia ketahuan oleh Pasukan Tentara Kekaisaran dan diserang oleh sekelompok dari mereka? Kalau tidak, ia tidak akan terluka sampai seperti ini dengan kemampuannya!

"Hong Li, pergi dan panaskan air. Aku akan membasuh lukanya."

Hong Li mengangguk dan berjalan ke arah dapur untuk memanaskan air.

Continue reading CTF - Chapter 312