Selasa, 31 Maret 2026

CTF - Chapter 314

Consort of A Thousand Faces

Chapter 314 : Dipenggal di Depan Umum


Su Xi-er tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih banyak atas pengingatnya, Pangeran Hao."

Pemandangan dari Su Xi-er yang bertingkah dengan sikap seperti ini, mengingatkan Pei Qian Hao tentang bau ramuan obat, jadi ia membungkuk dan menatap ke dalam matanya seraya mempertanyakan, "Bagimu, bersikap sepenurut ini ... apa kau melakukan sesuatu yang salah?"

Hong Li kaget melihat Pei Qian Hao begitu dekat dengan Su Xi-er di depannya, menyebabkan tangannya tergelincir. Baskom kayu itu miring ke satu sisi dan airnya menciprati jubah Pei Qian Hao.

Ketika Hong Li melihat tetesan gelap di keliman jubah Pangeran Hao, ia segera menurunkan baskom itu dan berlutut ketakutan. Dengan suara yang bergetar, ia memohon, "Hamba pantas mati; Pangeran Hao, mohon berbelas kasihan."

Ia ketakutan sampai hilang akal. Seorang dayang istana yang tidak mencuci baju dengan baik di Biro Layanan Binatu akan kehilangan kepala mereka. Hukuman yang serupa sekarang ini tengah menantiku apabila Pangeran Hao berencana membuatku bertanggung jawab!

Tiba-tiba Hong Li teringat akan Su Xi-er dalam kepanikannya, dan segera melihat ke atas padanya, menggunakan matanya untuk meminta Su Xi-er menolongnya.

Namun, sebelum ia bahkan bisa mengatakan sesuatu, orang itu sudah mengulurkan tangannya dan tersenyum sewaktu ia memegangi keliman baju Pei Qian Hao. "Itu hanya sedikit air. Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menutupinya dengan tanganmu."

Menutupinya dengan tanganku dan menggunakan suhu tubuhku untuk membuat tetesan airnya menguap. Ia punya ide-ide yang gila. Pei Qian Hao menatap Hong Li dan melambaikan tangannya. "Pergi dan bawa keluar baskom kayu itu."

Hong Li menghela napas lega dan segera mengambil baskom kayu tersebut sebelum dengan cepat meninggalkan ruangan.

Krek.

Ketika akhirnya pintu tertutup, Pei Qian Hao mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Su Xi-er. "Pergi dan berbaringlah di ranjang; kau harus istirahat lebih awal."

Su Xi-er mengangguk. "Pangeran Hao, hamba akan istirahat setelah Anda pergi."

"Apa, kau takut kalau Pangeran ini akan mengambil keuntungan darimu?"

Su Xi-er menjawab, "Anda pintar, Pangeran Hao."

Satu gelak tawa lolos dari bibir Pei Qian Hao. "Pangeran ini tidak akan melakukan apa pun padamu sementara luka di tanganmu masih terbuka. Komandan Pasukan Tentara Kekaisaran, Yu Chi Mo, adalah bawahan Pangeran ini. Apabila kau menemukan sesuatu yang sulit untuk diatasi, suruh Dayang Senior Liu supaya melapor padanya."

Tiba-tiba saja, Su Xi-er mengerti kedatangan Pei Qian Hao yang tepat waktu di Istana Kedamaian Penuh Kasih. Yu Chi Mo-lah yang melaporkan ke Kediaman Pangeran Hao.

"Istirahatlah baik-baik. Setelah beberapa waktu, kau tidak akan lagi menjadi seorang dayang." Pei Qian Hao menatap Su Xi-er lagi sebelum memutar tumitnya untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Di saat Su Xi-er sepenuhnya mencerna kalimat terakhirnya, Pei Qian Hao sudah meninggalkan kamar. Apa maksudnya dengan itu? Aku tidak akan jadi seorang dayang setelah beberapa waktu? Kalau begitu, akan jadi apa aku? Apakah ia sudah terlalu tidak sabar untuk memberikanku lebih banyak waktu?

Pei Qian Hao tidak mengetahui bahwa kalimat terakhirnya akan membuat Su Xi-er terjaga selama dua jam berikutnya. Ia memikirkan tentang apa yang harus dilakukannya apabila Pei Qian Hao bersikeras agar ia masuk ke Kediaman Pangeran Hao, dan bagaimana ia akan menghubungi Feng Chang Qing dan yang lainnya di bawah pengawasannya.

Semua pemikiran ini memenuhi benaknya hingga akhirnya ia tertidur.

***

Keesokan harinya, sebuah kabar menyebar di seluruh ibu kota Bei Min, termasuk istana kekaisaran.

Seorang anggota dari cabang samping Keluarga Pei, Pei Yong, telah dituntut atas menerima penyuapan, sekaligus dengan penyalahgunaan kekuasaannya untuk melakukan pelecehan seksual terhadap wanita selama bertahun-tahun. Hukumannya akan jadi pemenggalan yang dilaksanakan di jalanan, sore ini, guna memberikan sebuah contoh.

Pintu masuk utama Kediaman Pei tertutup rapat hari ini, hanya dengan dua pelayan yang berdiri dengan hormat di depan pintu masuk sementara para warga lalu-lalang dan berbisik-bisik dengan suara lirih. Pei Zheng memutuskan untuk mengabaikan semua ini, sekaligus dengan titah lisan Ibu Suri agar mengunjungi Istana Kedamaian Penuh Kasih.

Apa pun yang terjadi, Pei An Ru harus berada di istana kekaisaran.

Kereta tahanan yang membawa Pei Yong untuk dipenggal pun menuju ke jalan. Meski ia adalah seorang tahanan, baju dan rambutnya masih rapi, karena para pengawal tidak berani mengabaikan seseorang dengan posisinya.

(T/N : contoh kereta tahanan.)


        

Terlepas dari betapa bencinya warga kota yang ada di sisi jalanan terhadap dirinya, mereka tidak berani melemparkan sayuran busuk atau telur padanya. Pei Yong sudah kehilangan banyak berat badan setelah menghabiskan hari-harinya di dalam penjara. Ia terus melihat ke sekelilingnya kereta itu. Keluarga Pei pastinya tidak akan mengabaikan diriku, kalau tidak, hari-hariku di dalam penjara pasti akan jauh lebih keras.

Namun, Pei Yong mendadak jadi gelisah setelah ia berlutut di tengah-tengah tanah eksekusi, dan dengan panik mencari seseorang yang familier ke sekelilingnya.

Akan tetapi, tidak ada siapa pun yang berasal dari Kediaman Pei yang ada di sana, bahkan istri dan putrinya. Kenyataan akhirnya menyambar dirinya. Apakah sungguh tidak akan ada yang menyelamatkanku? Apa aku sungguh akan mati?

Pei Yong mulai meronta demi hidupnya di lahan eksekusi, tetapi algojo kekar itu menahannya di tempat, tidak memberikannya kesempatan.

Lalu, Wu Ling tiba di lahan eksekusi mengenakan seragam komandannya dan mulai membacakan kejahatan-kejahatan Pei Yong. Warga kota bertepuk tangan serentak menyetujuinya. Pei Yong ketakutan, wajahnya berubah pucat pasi sementara manik matanya membesar.

Saat waktunya, Wu Ling memberi sinyal pada hakim provinsi, yang kemudian melemparkan papan eksekusi. Pei Yong memejamkan matanya ketakutan sementara tubuhnya gemetaran ....

(T/N : contoh papan eksekusinya yang ada di samping si tahanan.)


 

Sayang, tidak akan ada yang berubah selagi algojo itu mengayunkan pedangnya, dan suara dari kepala yang jatuh ke tanah menggema di lahan eksekusi yang hening itu. Namun, keheningan itu hanya bertahan sebentar saja; para warga kota segera bersorak dan bertepuk tangan sekali lagi.

Sementara itu, Pei Qian Hao menurunkan cawan anggur di tangannya sementara ia menatap ke bawah, ke lahan eksekusi dari lantai dua restoran terdekat. Duduk di seberangnya adalah Pei Zheng, yang alisnya sedikit tertaut selagi ia memegangi cawannya sendiri dengan cengkeraman yang kuat. Sebelumnya, seorang pengawal dari Kediaman Pangeran Hao sudah mampir ke Kediaman Pei hari ini, dan mengabarkan padanya bahwa Pei Qian Hao mengundangnya untuk bertemu.

Ia tahu bahwa aku tidak bisa menolak undangannya, tetapi ia sengaja memilih restoran yang dekat dengan lahan eksekusi hanya supaya aku bisa menyaksikan pemenggalan kepala Pei Yong dengan mataku sendiri.

Pei Zheng menurunkan cawan anggurnya. "Pangeran Hao, kau sudah mengeksekusi Pei Yong sesuai dengan hukum. Pejabat ini tadinya mencoba untuk menghentikanmu karena kita semua merupakan anggota dari Keluarga Pei, tetapi setelah itu, aku tidak ikut campur. Oleh sebab itu, pejabat ini berharap agar kau bisa memberitahukan padaku, kenapa aku diundang kemari hari ini."

"Saat ini, Keluarga Pei merupakan keluarga aristokrat paling berkuasa di kerajaan. Pangeran ini ingin menanyakanmu sesuatu. Bagaimana kau akan memastikan bahwa Keluarga Pei tidak akan jatuh? Pangeran ini mendengar bahwa Keluarga Xie sudah membuat beberapa gerakan belakangan ini."

Tatapan Pei Zheng menggelap. "Commandery Prince Xie mengendalikan sepertiga dari kekuasaan militer, dan baru-baru ini mulai melibatkan dirinya dalam politik mahkamah. Cabang samping dari Keluarga Xie juga mulai mendekati para sastrawan ...." Keluarga Xie harus diwaspadai apabila kami ingin menjaga posisi kami!

Pei Qian Hao mengambil cawan anggur dari atas meja dan menggoyangkannya pelan. "Tuan Pei, kalau Pangeran ini melindungi Pei Yong secara memihak sekarang ini, para warga kota sudah pasti akan kecewa. Jika Keluarga Xie menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan dukungan dari rakyat, bahkan meski jika kita dapat menyelamatkan status Keluarga Pei, Keluarga Xie masih akan memegang posisi yang lebih tinggi di hati rakyat."

Pei Zheng merenungkannya sejenak dan akhirnya mengangguk. "Terima kasih banyak atas pengingatnya, Pangeran Hao."

"Tidak perlu berterima kasih pada Pangeran ini. Pangeran ini tumbuh besar di dalam Kediaman Pei, dan tidak akan melupakan bahwa kau membesarkanku. Tuan Pei, jika kau punya waktu, kau harus mengunjungi Istana Kedamaian Penuh Kasih. Ibu Suri tidak berkonsentrasi pada Keluarga Pei belakangan ini."

Tentunya Pei Zheng mengerti makna tersirat di dalam ucapan Pei Qian Hao. "Sejak kecil, sifat Ya Ran sudah buruk. Aku harap kau akan memaafkan segala penyinggungan. Sementara untuk sikapnya terhadap Kediaman Pei, pejabat ini akan pergi ke Istana Kedamaian Penuh Kasih."

"Bagus sekali kalau kau bisa melakukan itu, Tuan Pei. Pangeran ini akan pergi dulu untuk mengunjungi barak tentara." Pei Qian Hao bangkit berdiri dan berjalan keluar dari restoran.

Setelah Pei Qian Hao menghilang, ekspresi Pei Zheng jadi suram. Kediaman Pei sekarang ini terjepit dalam posisi yang buruk. Di depan kami adalah Pangeran Hao, yang menjadi semakin sukar untuk dikendalikan. Di belakang ada Keluarga Xie, bersama dengan Commandery Prince Xie.

***

Dengan cepat Pei Qian Hao menaiki sebuah kereta kuda setelah meninggalkan restoran. Wu Ling sudah menunggunya di samping dengan kereta kuda tersebut.

"Suruh orang awasi Kediaman Pei secara diam-diam. Segera laporkan pada Pangeran ini apabila ada gerakan yang mencurigakan." Pei Qian Hao menginstruksikan sementara ia melihat ke arah Pei Zheng melalui celah di antara tirainya.

Wu Ling membungkuk. "Bawahan ini mematuhi perintah."

Pei Qian Hao mengangguk dan memerintahkan pengawal untuk mengendarai kereta kuda, menuju ke barak tentara.

Saat ini, Tan Ge juga ada dalam kerumunan. Ia langsung melihat kereta kuda Pangeran Hao yang melintas hanya dengan sepintas lihat. Walaupun tidak ada kata-kata ataupun lambang di atas kereta kuda tersebut, jumbai hitam berlapis emas yang menggantung dari atapnya merupakan bukti yang cukup bahwa kereta kuda itu milik Pangeran Hao.

0 comments:

Posting Komentar