Sabtu, 07 Maret 2026

CTF - Chapter 265

Consort of A Thousand Faces

Chapter 265 : Perhatian dan Kepedulian


Pei Qian Hao memutuskan untuk berbaring dan menopang kepalanya dengan satu tangan selagi ia memerhatikan Su Xi-er. Tangan lainnya tetap berada di bawah selimut, perlahan-lahan mengelus pinggang Su Xi-er.

Perut gadis itu hangat akibat sentuhan konstannya, dan pijatannya di titik akupunturnya membuat alisnya santai.

Pei Qian Hao menghentikan tindakannya dan memerhatikan ekspresi Su Xi-er. Sepertinya, ia menikmatinya. Ialah yang semestinya melayaniku, tetapi kini akulah yang melayaninya. Aku bahkan harus melakukannya dengan begitu lembut.

Memikirkan ini, gerakan Pei Qian Hao jadi lebih kuat hingga pada dasarnya, mereka adalah cubitan. Tangannya bergerak dari pinggangnya menuju ke paha Su Xi-er, kemudian kembali lagi sebelum akhirnya ia meletakkannya di bagian terlembut dari tubuh gadis itu.

Sensasi lembutnya membuat sudut bibir Pei Qian Hao pun tanpa sadar terangkat jadi senyuman.

Akan tetapi, di saat senyum itu muncul di wajahnya, kebetulan Su Xi-er membuka matanya. Ia merasakan tangan besar pria itu tengah memijat bagian tubuh tertentunya, dan melihat seseorang tengah menyeringai puas.

Su Xi-er memelototi Pei Qian Hao, tidak menyadari betapa 'menggoda'nya tatapan marahnya bagi orang itu. Ia melepaskan tangannya dan berbicara pelan. "Pangeran Hao, mohon jaga sikap Anda."

Pei Qian Hao tertawa, suara nyaring dan jelas di kamar yang hening ini. Ia menundukkan kepalanya dan mendekati telinganya, napas hangatnya menggelitiki telinga Su Xi-er sewaktu ia berbicara, "Bagaimana Pangeran ini tidak menjaga sikap? Beritahu aku secara detail."

"Pangeran Hao, kemanakah tangan Anda barusan ini?" Su Xi-er menatapnya sebelum memindahkan dirinya sendiri menuju ke bagian dalam tempat tidur.

Pei Qian Hao mengikuti, tidak membiarkannya menjaga jarak darinya. "Tampaknya, kau menyukainya saat Pangeran ini menyentuhmu sementara kau tertidur. Alismu bahkan jadi rileks seolah-olah ...."

Di titik ini, ia sengaja menjeda unuk memerhatikan reaksi Su Xi-er.

"Pangeran Hao, area mana yang Anda sentuh?" Apakah ia menyentuh setiap area yang tidak semestinya ia sentuh selagi aku tidur?

"Tentu saja Pangeran ini menyentuh setiap area yang dapat disentuh selagi memijat titik akupunturmu. Apa yang sedang kau pikirkan?" Pei Qian Hao mengesampingkan seikat rambut yang jatuh ke wajah gadis itu selagi ia berbicara.

Memijat titik akupunturku, tetapi menyentuh dadaku? Su Xi-er meragukan kata-katanya, tetapi kehangatan di perutnya memberitahukan padanya bahwa pria itu memang membantunya memijat titik akupunturnya.

"Pangeran ini belum pernah memijat seseorang; kaulah yang pertama. Pangeran ini tidak pernah melakukan hal yang sia-sia, dan karena aku sudah memijatmu, tidakkah kau berpikir, seharusnya aku juga mendapatkan sesuatu sebagai balasannya?" Tanpa malu-malu, Pei Qian Hao mengungkapkan niat isengnya sementara ia mencondongkan diri mendekati Su Xi-er.

Su Xi-er ingin bergerak ke bagian dalam ranjang, tetapi dihentikan oleh satu tangan besar di sebelah kepalanya.

Wajah yang tampan pun membesar di depan matanya, senyuman di wajah itu lebih terasa daripada sebelumnya. "Su Xi-er, Pangeran ini telah menyelamatkan nyawamu. Cium Pangeran ini, dan itu dapat dianggap membalas utang budimu."

Ia tidak melakukan apa-apa lagi, menunggu Su Xi-er untuk membuat gerakan pertama.

Su Xi-er menatapnya. Sudah pasti ia tidak akan melepaskan ini jika aku tidak menciumnya. Namun, aku masih belum sembuh sepenuhnya, dan akan buruk apabila aku menularkan penyakitku padanya.

"Su Xi-er," Pei Qian Hao bergumam, kepalanya menutup jarak di antara mereka.

Su Xi-er hanya bisa menggigit peluru dan mengangkat tangannya keluar dari selimut, melingkarkan mereka di sekitar leher Pei Qian Hao sementara ia mengangkat kepalanya dan mencium bibir pria itu.

(T/N : menggigit peluru : melakukan sesuatu yang sulit atau tidak menyenangkan yang enggan dilakukan atau ragu-ragu untuk dilakukan.)

Bibir mereka bertemu, hangat dan basah. Pei Qian Hao meletakkan tangannya di belakang kepala Su Xi-er, mengambil alih dan memperdalam ciuman tersebut.

Ia menaklukkan wilayahnya dan tetap di sana, menyebabkan Su Xi-er terengah-engah. Mempertimbangkan kondisi tubuhnya, Pei Qian Hao melepaskannya setelah mencicipi sedikit rasa manisnya.

Ia bersandar di tiang ranjang dan sengaja menjulurkan lidahnya, menjilati bibirnya dengan menggoda. "Rasanya nikmat."

Memandangnya, Su Xi-er merasa kalau ia mirip sekali seperti seorang anak kecil yang baru saja makan permen dan sekarang mencari lebih.

Ada sebuah pepatah dalam opera rakyat. 'Tak peduli seberapa tuanya seorang pria, ia tetaplah seorang anak-anak di depan wanita yang dicintainya. Kau bisa mengetahui kalau ia mencintaimu hanya jika ia memperlihatkan sisi kekanakannya.'

Jantung Su Xi-er berdegup kencang. Jika pepatah semacam itu benar, maka, mungkinkah Pei Qian Hao mencintaiku? Bagaimana mungkin? Ia jelas-jelas mengatakan ia tidak menyukai wanita yang kuat, dan tidak akan pernah jatuh cinta pada Ning Ru Lan.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara Pei Qian Hao terdengar, secara tak sengaja mengganggu pemikirannya.

"Pangeran Hao, setelah datang ke Asosiasi Sastra dan melihat hamba terluka parah, Anda pasti sudah mengetahui semua yang terjadi."

"Pangeran Yun memerintahkan Wei Mo Hai untuk mencelakaimu, dan Pangeran ini tidak akan melepaskannya. Akan tetapi, kemampuanmu mengejutkan Pangeran ini. Bagaimana bisa kau membunuh seseorang seperti Wei Mo Hai, yang telah bertahun-tahun berlatih di tentara?"

Su Xi-er menjawab secara perlahan, "Keterampilan Komandan Wei hebat, dan hamba hanya menggunakan akalku untuk menang."

"Akalmu membuat Wei Mo Hai kehilangan nyawanya. Orang-orang dengan keterampilan yang hebat, biasanya sombong. Penyebab kematiannya bukanlah dirimu, melainkan kepercayaan dirinya sendiri." Pei Qian Hao menjawab dan menarik tangan Su Xi-er, memasukkannya lagi ke bawah selimut.

Saat ini, ada ketukan di pintunya dan suara Guan Xiang pun terdengar. "Pangeran Hao, Sup Kurma Merahnya sudah siap."

"Bawa masuk." Pei Qian Hao memerintahkan selagi ia membantu Su Xi-er bangun, menyandarkannya di tiang ranjang.

Guan Xiang masuk ke dalam dan menyerahkan mangkuk berisi Sup Kurma Merah di tangannya pada Pei Qian Hao.

"Kau sudah sibuk hari ini, dan harus buru-buru istirahat. Sementara untuk Asosiasi Sastra, Pangeran ini akan melindunginya." Kata-kata Pei Qian Hao seperti pil percaya diri bagi Guan Xiang.

Pangeran Yun mengendalikan militer, sementara Asosiasi Sastra terdiri dari para sastrawan. Selain dari perang kata-kata, kami tidak mungkin bisa menandinginya. Namun, dengan kata-kata Pangeran Hao, aku bisa tenang.

"Terima kasih banyak, Pangeran Hao," ucap Guan Xiang sebelum keluar dari kamar.

Pei Qian Hao menyendokkan sesendok penuh Sup Kurma Merah-nya dan meniupnya dengan lembut sebelum membawanya ke bibir Su Xi-er. "Minum pelan-pelan, panas."

Tadinya, Su Xi-er ingin mengambil mangkuk itu ke tangannya sendiri dan meminumnya, tetapi mendengar kata-kata Pei Qian Hao membuatnya berpikir dua kali. Tanpa disadari, ia menurunkan tangannya dan dengan patuh membuka mulutnya untuk menyeruput sup tersebut.

Akan tetapi, pergerakan kecilnya ini tidak lepas dari mata Pei Qian Hao. Aku tidak mengatakan apa-apa, tetapi sekarang, ia tahu cara mengamati suasana hatiku sebelum ia bertindak. Kemajuan ini membuatnya senang.

Su Xi-er meminum sekitar setengah isi mangkuknya dengan gaya seperti ini sebelum menolak untuk minum lagi. "Apakah Anda duduk di sini dari tadi, tanpa makan apa-apa?" Alisnya tertaut sewaktu ia bertanya dengan lembut.

"Berhenti mengajukan begitu banyak pertanyaan dan cukup terus minum saja." Pei Qian Hao terus membawakan sesendok sup ke bibirnya setelah meniupnya.

"Pangeran Hao, Anda pasti belum makan apa-apa. Pergilah keluar dan makan dulu sedikit. Kalau tidak, hamba tidak akan makan."

"Apa kau sedang mengancam Pangeran ini? Aku dalam keadaan yang sehat, dan tidak makan satu kali tidak akan menyebabkan masalah."

"Hamba sudah tidak sadarkan diri lebih lama daripada rentang waktu untuk makan satu kali. Pergi makanlah." Su Xi-er tegas, menolak mundur.

"Baiklah, minum Sup Kurma Merahnya, maka Pangeran in akan pergi dan makan. Bagaimana kedengarannya?" Pei Qian Hao mengalah, menawarkan kompromi.

Su Xi-er melemparkan lirikan padanya sebelum akhirnya membuka mulut untuk meminum supnya.

Setelah ia selesai, Pei Qian Hao menjawil hidungnya ringan. "Istirahat baik-baik. Pangeran ini akan pergi makan." Kemudian, ia membantunya berbaring di ranjang sebelum dengan pas menutupinya dengan selimut.

Pei Qian Hao hanya keluar dari kamar dan menuju ke dapur setelah menyelesaikan semuanya dan melihat Su Xi-er memejamkan matanya.

Namun, setelahnya, ia menemukan dirinya dalam keadaan sulit: juru masak semua sudah tidur sekarang. Siapa yang akan memasak untuk Pei Qian Hao?

Pei Qian Hao masuk ke dapur dan melihat kalau masih ada sisa Sup Kurma Merah di cerek. Ia menyendokkan semangkuk untuk dirinya sendiri, meminumnya dengan cepat sebelum kembali ke kamar Su Xi-er.

Su Xi-er menegakkan dirinya sendiri dan mengendus tubuh Pei Qian Hao. Setelah mencium aroma Sup Kurma Merah, ia yakin kalau pria itu sudah makan. 

(T/N : Chapter ini bikin saya senyam senyum sendiri 🤭🤭)

0 comments:

Posting Komentar