Kamis, 12 Maret 2026

CTF - Chapter 288

Consort of A Thousand Faces

Chapter 288 : Feng Chang Qing Terpilih


Pei Qian Hao menepuk dahi Su Xi-er. "Buka matamu dan tataplah Pangeran ini."

Aku hanya sedang membubuhkan bubuk untuk menguji efisiensinya; apakah ia harus terlihat seolah aku tengah menyiksanya? Pei Qian Hao merasa tidak senang.

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Pangeran Hao, cepatlah selesaikan membubuhkan bubuknya agar hamba bisa memakai bajuku kembali."

Pei Qian Hao sengaja menarik tangannya dan berdiri, diam-diam memerhatikannya. Tidak mendengar pergerakan apa pun, pelan-pelan, Su Xi-er memutar kepalanya, menyadari ekspresi terhibur pria itu.

Melihat botol kecil di tangan Pei Qian Hao, ia mengingatkan, "Jika Anda tidak akan membubuhkannya lagi, hamba akan memakai kembali bajuku."

"Buka matamu." Pei Qian Hao meletakkan satu tangan di pinggangnya sebelum membalikkan Su Xi-er agar ia menghadap ke atas.

Dengan seluruh tubuhnya yang terekspos, sekali lagi, Su Xi-er memejamkan matanya. Pei Qian Hao mengabaikannya sementara ia mengulurkan satu tangan untuk membubuhkan lebih banyak bubuknya di bekas luka di tangan Su Xi-er. Kemudian, ia berhenti sewaktu tangannya mencapai bagian terlembut dari seorang wanita.

Sensasi dari bubuk bunga dan pijatan lembut Pei Qian Hao membuat tubuh Su Xi-er bergetar. Ia pun tidak tahan untuk bertanya, "Pangeran Hao, Anda masih belum selesai? Mengapa Anda lama sekali?"

Ada kilat yang muncul di mata Pei Qian Hao. Aku harus memberinya pelajaran hari ini.

Meskipun ia sudah selesai, ia sengaja menyangkal. "Masih belum, masih ada sedikit lagi. Kalau kau tidak mau membuka matamu, pastikan matamu tetap tertutup rapat."

Su Xi-er sungguh percaya kalau pria itu akan segera selesai dan memejamkan matanya. Namun, tubuhnya tersentak selagi sensasi berikutnya yang datang bukanlah bubuk di tubuhnya, tetapi suatu perasaan basah di bagian terlembut tubuhnya. Matanya terbuka, hanya menemukan Pei Qian Hao dengan kepala tertunduk, bibirnya berada di dekat suatu tempat yang tidak seharusnya.

(T/N : ƪ(•̃͡ε•̃͡)∫)

Tanpa ragu-ragu, Su Xi-er mengangkat kakinya dan mengayunkannya pada Pei Qian Hao. Reaksi pria itu hanyalah mengangkat tangannya dan menangkap kaki Su Xi-er sebelum tekanan dari bibirnya jadi lebih kuat lagi, menyebabkan Su Xi-er agak bergetar.

Pada akhirnya, Pei Qian Hao mengangkat kepalanya dan tertawa jahat. "Bubuk yang kita buat dari menggiling bunga Ling Rui, sungguh tidak buruk. Dengan satu botol yang digunakan, sekarang tubuhmu tercium agak wangi."

"Pangeran Hao, kau tidak tahu malu!" Su Xi-er memakinya dingin, berupaya keras untuk menendangnya.

Pei Qian Hao bangkit dan meletakkan botolnya di atas meja. "Pangeran ini akan berada di pergola bunga. Kemasi barang-barangmu." Ia meninggalkan Su Xi-er dengan beberapa kata ini sebelum melangkah keluar dari kamar tersebut.

Su Xi-er segera mulai mengenakan bajunya, mengerutkan alis ketika ia melihat area lembap yang memerah di tubuhnya. Tidak ada pria yang pernah melakukan sesuatu seperti ini padaku sebelumnya, tetapi Pei Qian Hao melakukannya tanpa peringatan. Ia bahkan tampak sangat familier dengan tindakannya. Sepertinya, ia benar-benar memahami tubuh wanita.

Setelah ia selesai mengenakan bajunya dan hiasan rambut hijau giok beruntainya, Su Xi-er pergi ke pergola. Aku akan berkemas nanti. Aku harus tahu apakah Feng Chang Qing sudah terpilih.

Ketika Su Xi-er sampai di pergola, kebetulan sekali itu adalah giliran Feng Chang Qing untuk dinilai. "Pangeran Hao, pot bunga Ling Rui ini bukannya layu disebabkan hal yang alami, tetapi karena perbuatan manusia." Suara seraknya merupakan suatu kejutan bagi keempat penanam bunga lainnya.

Faktanya, semua orang ingin mengatakan hal seperti itu. Namun, melakukan demikian akan mengimplikasikan bahwa Pangeran Hao yang telah secara sengaja menghancurkan bunga Ling Rui-nya!

Ada tatapan menyelidik di mata Pei Qian Hao sewaktu ia menunjuk pot bunga tersebut. "Beritahukan padaku secara spesifik, mengapa kau begitu yakin kalau ini adalah hasil sabotase?"

"Tanah Nan Zhao dikategorikan ke dalam tiga tipe—merah, kuning, dan hitam. Tanah yang digunakan untuk menanam Ling Rui merupakan perpaduan dari tanah merah dan hitam, dan sudah pasti tidak akan bertahan hidup apabila diletakkan di tanah kuning. Tetapi, biarpun pot bunga Ling Rui ini tampaknya bertanah hitam kemerahan di permukaan, bagian bawahnya penuh dengan tanah kuning. Itu jelas bahwa seseorang telah menambahkannya di sana."

Mata Pei Qian Hao menatap Feng Chang Qing, tetapi kebetulan menangkap pemandangan dari Su Xi-er yang mendekat dari belakang. Karena apa yang baru saja terjadi, wajah gadis itu merona. Penampilannya ini tidak boleh terlihat di depan orang lain. Itu hanya diizinkan untuk mataku!

Ia menatap Su Xi-er dengan sejejak ketidaksenangan. "Kau baru saja disuruh untuk mengemasi barang-barangmu, jadi, apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Hamba merasa para penanam bunga ini lumayan hebat, jadi aku penasaran, siapakah yang akan menjadi pilihan final Pangeran Hao." Su Xi-er pelan-pelan menanyakan sembari menatapnya dengan wajah memerahnya.

Feng Chang Qing merasa itu aneh. Wajahnya tidak semerah itu sebelum ini, jadi, apa yang menyebabkan perubahan ekstrim tersebut?

Pei Qian Hao menggeser dirinya agak ke samping untuk menghadang Su Xi-er dari garis pandangan mereka sebelum berbicara. "Pangeran ini memilih pria bercadar. Cepatlah pergi berkemas."

Akhirnya ia memilih Feng Chang Qing. Su Xi-er menghela napas lega dalam hatinya. "Hamba akan kembali sekarang."

Pei Qian Hao memerhatikan sosoknya yang menjauh sementara ia berlalu. Ia menyebutku tidak tahu malu di dalam kamar, tetapi sekarang ia bertingkah jinak dan genit. Mungkinkah kalau penanam bunga yang kupilih juga adalah orang yang dipikirkannya?

Pei Qian Hao mengalihkan tatapannya ke arah cadar Feng Chang Qing. Wajahnya penuh bekas luka, dan suaranya serak. Aku akan cemas kalau penampilannya semenawan Yun Ruo Feng atau Ning Lian Chen.

Kembali ke kamar, Su Xi-er cepat-cepat melipat baju-bajunya dan menumpuk mereka dengan rapi di dalam buntalan kain. Membuka laci, ia menemukan banyak botol cokelat, membuatnya teringat apa yang baru saja terjadi di antara Pei Qian Hao dan dirinya.

Su Xi-er merasakan remasan di dalam hatinya dan mengeluarkan semua botol-botol obat berwarna cokelat itu, meletakkan mereka ke dalam buntalan kain.

Ia menyibakkan lengan bajunya dan memeriksa luka di tangannya. Belum terlalu lama, tetapi bekas luka di tanganku sudah sedikit memudar berkat bubuk Ling Rui. Tak peduli kecemasan apa yang kumiliki tentang bagaimana bubuk itu dibubuhkan, aku tidak bisa menyangkal bahwa bubuknya sangat efektif. Mungkin, itu bisa punya efek yang sama pada bekas luka di wajah Feng Chang Qing?

Kemungkinan ini terlintas dalam benaknya, memberikan Su Xi-er ide yang baru.

Setelah semuanya dikemas, ia meletakkan semua buntalan kainnya di atas lemari untuk dibawa pulang ketika mereka berangkat besok siang.

Su Xi-er berjalan keluar dari kamar, mendengar dua pengawal yang sedang mendiskusikan tentang Pangeran Yun, tepat setelah ia keluar.

"Pangeran Yun sudah memaksakan dirinya sendiri dan merasa tidak sehat, membuatnya perlu untuk istirahat sementara waktu. Kaisar Nan Zhao telah mengambil keuntungan dari kesempatan ini untuk mengutus pengawal dari istana kekaisaran untuk mengawasinya. Tsk, tsk, Kaisar enam belas tahun itu sudah mulai bersaing untuk kekuasaan."

"Siapa yang akan rela melihat kekuasaan kekaisaran jatuh ke tangan orang lain? Faktanya, iklim politik Nan Zhao mirip dengan Bei Min. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Kaisar kita masih anak-anak."

Pengawal lainnya menyatakan dengan tegas, "Pangeran Hao berkuasa dan berpengaruh, tetapi ia bukanlah seseorang yang tergantung pada hal semacam itu. Saat Yang Mulia dewasa, sudah pasti ia akan mengembalikan kekuasaan itu padanya."

"Itu benar, Pangeran Hao selalu perhatian dan pengertian terhadap bawahan-bawahannya, meski jika ia selalu memasang ekspresi yang tegas. Biarpun begitu, semua orang hanya melihat Pangeran Hao sebagai orang yang dingin dan tidak berperasaan. Aku hanya bisa menggigit lidahku, tetapi komentar semacam itu sungguh membuatku geram."

Walau mengobrol dengan begitu bersemangatnya, mereka berdua langsung berhenti saat mereka melihat Su Xi-er. Biasanya Su Xi-er selalu di sisi Pangeran Hao. Bukankah itu artinya kalau Pangeran Hao juga ada di sini?

Su Xi-er bisa mengetahui bahwa mereka berdua gugup dan tanpa sadar, tersenyum. "Jangan cemas, Pangeran Hao ada di pergola bunga di halaman belakang."

Tepat ketika dua pengawal itu menghembuskan napas lega, suara langkah kaki datang dari belakang mereka. Mereka berbalik, menemukan kalau Pei Qian Hao sedang menuju ke arah mereka!

Tak lagi berani bertindak ceroboh, mereka berdua segera membungkuk. "Bawahan ini memberi hormat pada Pangeran Hao."

Pei Qian Hao melambaikan tangannya dan menatap Su Xi-er. "Apa semuanya sudah dikemas?"

"Mmm, aku sudah meletakkan mereka dalam beberapa buntalan kain. Kita hanya perlu memasukkan mereka ke dalam kereta kuda besok."

"Ayo kita pergi. Jalan-jalan bersama Pangeran ini di luar." Suara Pei Qian Hao dingin, dan ia segera menuju ke arah pintu masuk rumah pos tanpa kata lainnya.

0 comments:

Posting Komentar