Sabtu, 07 Maret 2026

CTF - Chapter 266

Consort of A Thousand Faces

Chapter 266 : Mengakhiri


Tepat saat Su Xi-er mencondongkan tubuh ke arahnya, Pei Qian Hao menggunakan kedua tangan untuk mendorong bahunya ke tiang ranjang. Ia menundukkan kepalanya, ujung hidung mereka hampir bersentuhan satu sama lain. "Seperti apa bau Pangeran ini?" Ia mencondongkan diri lebih dekat lagi hingga bibir mereka akan bersentuhan apabila Su Xi-er mengangkat kepalanya.

"Kurma merah." Su Xi-er menjawab perlahan-lahan sebelum mencoba untuk mendorongnya.

Namun, tangan besar Pei Qian Hao segera menangkap tangannya sendiri. "Pangeran ini sudah sering menciummu. Apa kau tidak mencium aromamu sendiri pada Pangeran ini?"

Ia terdengar seolah sedang bercanda, tetapi matanya tampak serius. Su Xi-er mengendus dengan saksama, dan menemukan aroma samar dari tanaman obat yang diminumnya, tertinggal di tubuh pria itu.

"Pangeran Hao, hamba lelah dan ingin istirahat."

"Pangeran ini juga lelah dan butuh istirahat." Mengatakan itu, Pei Qian Hao melepaskan tangannya dan mulai melepaskan baju luarannya.

Su Xi-er baru saja memasukkan dirinya sendiri ke bawah selimut ketika ia melihat tindakan Pei Qian Hao dan segera mengusulkan, "Pangeran Hao, hamba takut kalau aku menular. Mengapa Anda tidak mencari kamar lain? Ada banyak kamar di Asosiasi Sastra."

"Takut kalau kau menular? Tetapi, siapa orang yang mencium Pangeran ini atas keinginannya sendiri? Sudah melakukan hal semacam itu, kau masih takut tidur bersama-sama?" Pei Qian Hao membalas. Ia sudah melepaskan jubah dan celana luarannya, dengan dingin melemparkan mereka ke atas rak baju di samping.

Pei Qian Hao naik ke atas ranjang dan mengangkat selimutnya, membawa Su Xi-er ke dalam pelukannya dengan gampangnya. Tentu saja, ia memastikan untuk menghindari luka di tangan gadis itu. "Baik-baiklah, tidur yang nyenyak."

Dengan itu, Pei Qian Hao memejamkan matanya, tangan besarnya perlahan-lahan memijat di sepanjang pinggang Su Xi-er.

"Tidur yang nyenyak, tetapi berhenti main-main." Tangan kecil Su Xi-er menepak tangan Pei Qian Hao sendiri.

Kekehan ringan terdengar dari atas kepala Su Xi-er. "Tidak main-main."

Tangan Pei Qian Hao berhenti, dan matanya tetap terpejam seolah ia sungguh bersiap untuk tidur. Su Xi-er memandanginya untuk waktu yang lama sebelum rasa kantuk menyerangnya.

Keduanya tertidur dan tetap seperti ini hingga pagi berikutnya.

***

Di saat mereka terbangun, juru masak di Asosiasi Sastra telah menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka. Setelah mereka selesai makan, pasangan itu mengucapkan salam perpisahan mereka dan keluar dari Asosiasi Sastra melalui pintu depan.

Yu Xiao terjebak di dalam kamarnya, minum obat. Luka goresan yang dialaminya telah menutupi wajahnya dengan bercak-bercak kemerahan; ia bahkan menunjukkans reaksi alergi. Oleh karena itu, ia tak punya pilihan lain selain mendengarkan kata-kata si tabib senior dengan tetap tinggal di kamarnya secara patuh untuk meminum obat.

***

Di luar Asosiasi Sastra, Qin Ling sudah menduga Pangeran Hao dan Su Xi-er untuk pergi pagi ini. Pangeran Yun sudah memerintahkan agar Su Xi-er mati di dalam Asosiasi Sastra. Akan tetapi, aku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang karena Pangeran Hao telah memutuskan untuk membawanya keluar.

Qin Ling berdiri di sebelah pintu masuk Asosiasi Sastra dan menyapa Pei Qian Hao selagi ia melangkah keluar. "Memberi hormat pada Pangeran Hao."

Pei Qian Hao mempelajarinya dengan cermat. Karakter Yun Ruo Feng mengerikan, dan ia adalah seorang munafik dengan cara yang paling buruk. Namun, bawahannya ini tampaknya layak.

"Kembali dan laporkan pada Yun Ruo Feng bahwa Pangeran ini sudah keluar dari Asosiasi Sastra." Kemudian, Pei Qian Hao keluar sambil menggandeng tangan Su Xi-er, mengangkat satu tangan untuk memberhentikan sebuah kereta kuda di jalan.

Tepat selagi mereka baru akan menaiki kereta, Feng Chang Qing, mengenakan jubah biru, melewatinya dan menghela napas lega setelah melihat Su Xi-er. Namun, tidak mudah baginya untuk muncul sementara ada Pangeran Hao. Ia melirik sepintas lalu ke arah Su Xi-er sebelum ia pergi.

"Apakah pria berjubah biru sangat tampan?" Suara dalam Pei Qian Hao terdengar, ternoda dengan guratan ketidaksenangan.

Su Xi-er tersenyum dengan mata yang melengkung. "Tidak setampan Anda, Pangeran Hao. Hamba sedang melihat Anda."

Ia memasang senyum mengetahui di wajahnya, mengakui kesalahannya sendiri. Dengan begitu, Pei Qian Hao tidak mengejar masalah ini lebih jauh, membimbingnya menuju ke kereta kuda dengan tangannya.

Tak lama kemudian, kereta mulai kembali ke rumah pos.

Feng Chang Qing memerhatikan kereta kuda itu menghilang di kejauhan. Tampaknya, Pangeran Hao memperlakukan Putri Pertama Kekaisaran dengan baik. Selama ia tetap bersama Pangeran Hao, ia tidak akan berada dalam bahaya untuk sementara waktu ini. Dikatakan begitu, aku tidak pernah menyangka, Pangeran Yun akan menyuruh Wei Mo Hai untuk turun tangan pada Putri Pertama Kekaisaran secepat ini. Mungkinkah Pangeran Yun menyadari jati dirinya yang sebenarnya?

Mata Feng Chang Qing menyipit dan diliputi dengan kecemasan sementara tanpa disadari, tangannya terkepal berbarengan. Jika memang sungguh begitu kasusnya, konsekuensinya tidak akan bisa dibayangkan.

***

Sementara itu, kereta kuda itu sudah sampai di rumah pos. Semua pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Hao melepaskan napas lega saat mereka melihat sosok familier Su Xi-er yang mengekori di belakang Pei Qian Hao, tetapi kemudian, melihat dua kali. Seorang pengawal mengikuti Pangeran Hao keluar kemarin, tetapi kenapa ia masih belum kembali? Mungkinkah, Pangeran Hao telah mengutusnya ke misi lainnya?

"Istirahatlah yang baik di dalam rumah pos. Pangeran ini akan pergi ke istana kekaisaran Nan Zhao." Pei Qian Hao membantu Su Xi-er turun dari kereta sebelum naik lagi sendiri.

Seorang pengawal segera maju ke depan. "Pangeran Hao, pengawal yang mengikuti Anda kemarin ...."

"Ia sudah mati; Pangeran ini sedang menegakkan keadilan untuknya. Bawa Su Xi-er ke dalam rumah pos, jaga ia dengan ketat, dan jangan biarkan siapa pun lewat." Pei Qian Hao berbicara dengan nada yang dingin sebelum memerintahkan si kusir kereta untuk bergegas.

(T/N : Hao mah sayang anak buah. Mati satu langsung ditegakin keadilan. Lah si Yun, preet. Yang ada dibunuh2in sama dia =___=)

Kusir itu hanyalah warga biasa di Nan Zhao, dan bukanlah seorang pengawal dari Kediaman Pangeran Hao. Terkejut setelah mengetahui identitas dari penumpangnya, ia mulai mengendarai keretanya bahkan jauh lebih berhati-hati daripada sebelumnya.

Pei Qian Hao tahu bahwa sekarang ini adalah waktunya untuk pertemuan pagi mahkamah Nan Zhao, dan sengaja memilih saat ini untuk menemui sang Kaisar. Tujuannya seterang siang hari.

***

Sementara itu, Yun Ruo Feng sudah dilaporkan sedang sakit, tetap berada di ruang bacanya ketimbang menghadiri pertemuan mahkamah pagi.

"Pangeran Yun, Komandan Qin meminta untuk bertemu."

Yun Ruo Feng berhenti di tengah membalikkan halaman sebuah buku di tangannya. "Biarkan ia masuk."

Tak lama kemudian, Qin Ling telah masuk ke ruang baca. "Pangeran Yun, Pangeran Hao dan dayangnya sudah keluar dari Asosiasi Sastra. Mereka tampak normal, selain dari wajah Nona Xi-er yang agak pucat."

Yun Ruo Feng mengepalkan tangannya, meremas buku di tangannya. "Aku mengerti; kau boleh mundur."

"Pangeran Yun, bawahan ini melihat Pangeran Hao menuju ke istana kekaisaran dalam perjalananku kemari. Apakah Anda perlu segera pergi ke sana juga?"

Mendengarkan perkataan Qin Ling, Yun Ruo Feng menyipitkan matanya. Ia menurunkan buku militer di tangannya ke atas meja selagi ekspresinya kembali normal. "Tidak. Karena Nona Xi-er baik-baik saja sekarang, tarik semua pengawal kekaisaran Kediaman Pangeran Yun dari lingkungan sekitar Asosiasi Sastra."

Qin Ling membungkuk dan menerima perintah tersebut sebelum ia berbalik dan pergi.

Yun Ruo Feng berdiri sendirian di luar ruang baca, tatapannya tertuju pada satu vas bunga anggrek di samping. Meskipun ini musim panas, bunga anggreknya masih belum layu, dan malah sedang mekar-mekarnya.

Pelan-pelan, Yun Ruo Feng berjalan ke arah vas bunga anggrek itu dan mengulurkan tangannya untuk mematahkan sekuntum bunga anggrek kecil. Genggaman Yun Ruo Feng mengetat di sekitar bunga itu hingga kelopak bunga yang hancur itu melayang turun dalam bentuk serpihan, cairan yang terkandung di dalam bunga itu perlahan-lahan menetes dari buku-buku jarinya.

Aku tahu dengan pasti, kenapa Pei Qian Hao menuju ke istana kekaisaran. Aku sudah membuat semua persiapan yang pantas, dan paling-paling aku akan kehilangan separuh dari kekuasaanku. Tak akan lama sebelum aku bisa merebutnya kembali lagi.

Tetapi, ada beberapa hal yang harus diakhiri sesegera mungkin. Contohnya, bunga anggrek ini ....

(T/N : dalam bahasa Mandarin, pengucapan untuk anggrek adalah lan. Pengucapannya mirip dengan nama lan dalam Ning Ru Lan.)

Satu senyuman terbentuk di wajah Yun Ruo Feng. Saat itu tentang mengakhiri suatu masalah, jangan pernah menundanya.

Oleh sebab itu, Yun Ruo Feng keluar dari halaman dalam dan menuju ke arah istal untuk mengambil seekor kuda sebelum menungganginya ke arah rumah pos.

***

Sementara itu, Su Xi-er sedang memakan semangkuk bubur putih yang dibuatkan oleh si juru masak wanita di rumah pos. Ia kembali ke kamarnya untuk istirahat setelah selesai.

0 comments:

Posting Komentar