Rabu, 18 Maret 2026

CTF - Chapter 298

Consort of A Thousand Faces

Chapter 298 : Di Siang Bolong


Setelah Ruo Yuan dan Hong Li pergi, Pei Qian Hao dan Su Xi-er berduaan saja di halaman belakang yang luas tersebut. Mata mereka bertemu, dan Su Xi-er memanggil lembut, "Pangeran Hao."

Pei Qian Hao duduk di atas satu bangku batu bundar selagi ia berbicara, suara dalamnya dibawa oleh angin ke telinga Su Xi-er. "Kemari dan pijat kaki Pangeran ini."

Ia baru saja masuk halaman belakang, dan hal pertama yang ia lakukan adalah memintaku untuk memijat kakinya. Su Xi-er berdiri di samping. Sebelum ia bisa berjalan, ia mendengar suara pria itu lagi.

"Kau bisa kembali ke Istana Samping malam ini. Jika kau tidak menggunakan sedikit waktu terakhir ini untuk melayani Pangeran ini sekarang, kau mungkin tidak akan pernah punya kesempatan itu lagi di masa yang akan datang." Nada bicaranya enteng, emosinya tidak terdeteksi dari suaranya.

Su Xi-er berjalan maju dan berjongkok, mulai memijat kaki Pei Qian Hao. Namun, tak peduli seberapa keras ia berusaha, itu tetap terasa seperti rintik hujan bagi Pei Qian Hao.

Ia melihat ke bawah dan melihat rambut hitam halus Su Xi-er yang membingkai wajah gadis itu. Mengangkat satu tangan, ia mengulurkannya untuk menyisirkan rambutnya ke belakang telinganya dan menyentuh wajah Su Xi-er dengan lembut.

Su Xi-er merasa gatal dan menolehkan kepalanya pelan untuk melepaskan diri dari tangan besarnya. "Pangeran Hao, hamba akan menumbuk-numbuk lutut Anda sebentar."

Setelah itu, ia mengangkat kedua tangan dan mulai memukul-mukul lutut Pei Qian Hao dengan berbagai kecepatan. Mudah bagi mereka yang memimpin pasukan dan berperang untuk mendapatkan luka di lutut. Jika mereka tidak berhati-hati, mereka akan merasakan banyak kesakitan di hari hujan.

Pei Qian Hao melihat tangan Su Xi-er yang terluka dan segera menghentikan pergerakannya. Dengan lembut, ia memeluk pinggang gadis itu dan mendudukkannya di pangkuannya.

Mataharinya cerah, dan halaman belakang tidak memiliki tembok di sekelilingnya. Hanya dengan beberapa batang pohon yang menghadang jalan, siapa saja yang lewat bisa melihat posisi intim mereka.

Sebelum Su Xi-er mulai meronta, satu kecupan mendarat di pipinya. Suara yang parau terdengar di sebelah telinganya. "Tanganmu terluka, jadi kau tidak perlu memijat kaki Pangeran ini hari ini."

Ia memeluk gadis itu bahkan lebih erat lagi sebelum Su Xi-er bisa menjawab. Punggungnya menempel di dada pria itu, dan ia bahkan dapat merasakan kehangatan tubuhnya melalui baju mereka. Kelembutan dan wangi anggun seorang wanita bercampur dengan ketangguhan dan wangi menawan seorang pria.

Pei Qian Hao terus mengecup wajahnya, hingga ia akhirnya sampai di leher Su Xi-er dan dengan lembut menarik bagian atas gaunnya hingga terbuka.

Embusan angin bertiup, dan Su Xi-er merasakan dingin di bahunya. Ia nyaris tidak memerhatikan ciuman penuh gairah itu, dan tatapannya melihat ke depan dengan gelisah. Seseorang bisa lewat kapan saja! Tetapi, ia sungguh melakukan hal seperti ini sekarang ini ....

Su Xi-er mencoba untuk berdiri dan mendorongnya, tetapi Pei Qian Hao menangkap kedua tangannya dengan satu tangannya. Ia tidak senang karena Su Xi-er teralihkan, sehingga ia menggunakan tangannya yang lain untuk memutarnya dan menghadapnya. Kemudian, ia menempelkan dahinya di dahi Su Xi-er, napasnya yang hangat menyentuh wajah Su Xi-er.

Pei Qian Hao terkekeh, tawanya kedengaran dalam dan jahat. "Kau malu, atau ketakutan? Takut kalau orang lain akan melihatnya?"

"Siapa saja bisa berjalan melewati halaman belakang. Pangeran Hao, Anda terlalu bernyali!"

Sudut mulut Pei Qian Hao terangkat, tatapannya terlihat malas dan berbahaya. "Aku bisa melakukan sesuatu yang bahkan lebih berani lagi." Setelah itu, ia mengangkat dagunya dan menangkap bibirnya sebelum melingkarkan satu tangan di pinggang gadis itu.

Su Xi-er belum pernah diperlakukan seperti ini di siang bolong, dan ia meresponsnya dengan menggigit bibir Pei Qian Hao. Itu bukanlah gigitan yang keras, dan itu tidak membuatnya berdarah, tetapi alisnya sedikit mengerut.

Akhirnya, Pei Qian Hao melepaskannya. Su Xi-er cepat-cepat turun dari kakinya dan segera berpindah ke samping sebelum membenarkan gaunnya.

"Pangeran ini akan mengantarkanmu kembali ke Istana Samping hari ini. Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir, tetapi Pangeran ini tidak sabaran, jadi kau harus memutuskannya dengan cepat. Mutiara giok putih dan korset Cina merahmu sudah dikemas bersama dengan beberapa bubuk bunga Ling Rui."

Ketika Su Xi-er mendengar ini, ia segera menjawab, "Terima kasih banyak Pangeran Hao."

"Bubuk bunga Ling Rui dapat digunakan untuk membuat tubuh harum. Kau juga tidak perlu menggosok pispot ketika kau kembali ke Istana Samping. Pangeran ini tidak mau memeluk orang yang bau." Pei Qian Hao bangkit dari bangku batu tersebut.

Su Xi-er tidak mengatakan apa-apa, tetapi ia mengingat dengan jelas ketika pria itu muncul di Istana Samping setelah ia membawa sekumpulan pispot ke sumur. Ia bahkan memerintahkanku untuk menciumnya sampai ia puas waktu itu.

Kenapa dulu ia tidak bilang kalau aku bau?

"Saat waktunya tiba, Wu Ling akan mengantarkanmu kembali ke Istana Samping." Dengan itu, Pei Qian Hao meninggalkan halaman belakang tanpa kata lainnya dan tanpa melihatnya lagi. Aku akan memberikannya waktu untuk memikirkannya, tetapi apabila ia mencapai garis batas bawahku, aku akan menculiknya kemari entah ia bersedia atau tidak.

Setelah Pei Qian Hao pergi, Su Xi-er tetap di halaman belakang selama satu jam sebelum Ruo Yuan dan Hong Li kembali. Mereka menyeretnya ke dapur untuk menikmati makanan enak terakhir sebelum meninggalkan Kediaman Pangeran Hao.

Juru masak meletakkan beberapa masakan dan semangkuk nasi di atas meja sebelum berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Ruo Yuan benar-benar gembira. Ketika Hong Li melihat ekspresinya, ia bercanda, "Siapakah orang yang mengatakan kalau mereka akan mengurangi makan dan lebih banyak olah raga untuk mencoba menguruskan diri?"

Tangan kecil Ruo Yuan yang gempal menggebrak bagian atas meja. "Ini adalah yang terakhir kalinya; aku akan mengurangi makan setelah ini."

Saat ini, suara seorang pria dapat terdengar. Itu adalah Wu Ling. "Tidak masalah apakah seorang wanita gemuk atau kurus, selama mereka sehat. Faktanya, kau harus makan lebih banyak karena kau tidak akan bisa mendapatkan makanan seenak ini setelah kau kembali ke Istana Samping."

Telinga Ruo Yuan jadi memerah lagi. Ia tidak berani menatap Wu Ling, hanya merasa seolah jantungnya berdetak dengan kencang di dadanya.

Wu Ling menyadari bahwa Ruo Yuan malu, tetapi ia tidak mengerti kenapa. Ia hanya terus memandangi Ruo Yuan dengan bingung sembari mencoba menebak-nebak, menyebabkan Ruo Yuan jadi lebih gugup lagi.

Su Xi-er menyela. "Komandan Wu, terima kasih banyak atas kebaikanmu. Akan tetapi, Ruo Yuan ingin mencari cara untuk menguruskan diri karena ia ingin jadi lebih cantik setelah kembali ke Istana Samping."

Komandan Wu mengangguk dan berhenti menatap Ruo Yuan. "Kita akan berangkat ke Istana Samping pukul lima sore ini. Barang-barang kalian sudah dikemasi di kamar kalian, jadi pastikan untuk membawa semuanya bersama kalian nanti. Kita akan bertemu di bagian belakang kediaman, dan masuk Istana Samping melalui gerbang samping. Dayang Senior Liu akan menunggu kalian di sana."

Ruo Yuan baru berani mengangkat kepalanya untuk menatap punggung Wu Ling setelah ia meninggalkan ruangan tersebut.

Hong Li menggelengkan kepalanya. "Kau tidak berani menatapnya saat ia ada, dan sudah terlambat di saat kau melakukannya. Setelah kita kembali ke Istana Samping, kesempatannya semakin kecil untukmu agar dapat bertemu dengan Komandan Wu."

Ruo Yuan merasa agak sedih ketika ia mendengar ini, tetapi dengan cepat kembali normal. "Kau tidak perlu mencemaskan tentang diriku; aku puas hanya dengan bisa melihatnya. Aku tidak mengharapkan yang lainnya. Su Xi-er, Hong Li, mari kita cepat makan sampai kenyang agar kita bisa berangkat."

(T/N : kata bahasa Inggrisnya, hit the road. Yang bisa berarti berangkat, melakukan perjalanan, pergi. Tetapi dalam konteks bahasa Mandarinnya, hit the road itu bisa juga berarti 'mati'.)

Setelah itu, Ruo Yuan mulai makan, tidak menyadari makna ganda di balik kata-katanya.

Hong Li menggelengkan kepalanya dan setelahnya mengambil sumpit sebelum mulai makan juga.

Mereka berjalan-jalan di halaman belakang setelah menghabiskan makanan mereka; setelah jam lima tiba, orang-orang Wu Ling datang menjemput mereka.

Namun, Su Xi-er tidak menyangka akan melihat orang lain yang berdiri di gerbang belakang Kediaman Pangeran Hao.

0 comments:

Posting Komentar