Tampilkan postingan dengan label Three Lives Three Worlds The Pillow Book 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Three Lives Three Worlds The Pillow Book 1. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juni 2025

TPB : Back to Chaos in a Dream - Chapter 6

 Three Lives Three Worlds, The Pillow Book

Pillow Book of Samsara

Back to Chaos in a Dream : Chapter 6



Ini adalah tujuh bulan kemudian.

Di Laut Giok Surgawi, Fei Wei mengungkit masa lalu Di Jun, ketika ia belajar di Sekolah Rawa Air. Ia membicarakan tentang kelas Pembelajaran Formasi yang diajari secara pribadi oleh Ayah Semesta.

Dalam sebuah pertempuran antara dua pasukan, barisan tentara, dan menyusun formasi strategi sangatlah penting. Semakin baik formasinya, semakin baik formasi itu dapat menghalangi musuh, berpotensi menang dengan gerakan kejutan.

Membicarakan tentang periode itu, dua murid yang paling menonjol dari Pembelajaran Formasi adalah Mo Yuan dan Dong Hua. Keduanya memiliki tugas perwakilan saat mereka lulus. Ayah Semesta melihat bahwa Dong Hua lupa memberi nama dari tugasnya, jadi ia memberikannya sebuah nama—Formasi Qian Yuan.

Arti dari Qian Yuan adalah awal dari jalan surga. Karenanya, apa yang dimaksudkan Ayah Semesta adalah bahwa formasi strategi ini telah mengambil berbagai prinsip dibalik lahirnya hukum Langit, dan memasukkannya ke dalamnya. Kemudian, strategi tersebut menggunakan bagian-bagian yang paling tanpa ampun dan kejam untuk menciptakan sebuah formasi yang begitu komprehensif sehingga dapat secara langsung dan efisien mengatasi semua yang ada di dunia sampai sekarang. Itu sangat mendominasi sampai-sampai layak untuk namanya, Qian Yuan.

Namun, karena kualitas strategi formasi yang kejam dan mendominasi, pada hari gambarannya diselesaikan, Ayah Semesta sudah melihatnya dan menyegelnya untuk selama-lamanya setelah itu. Ia mengatakan bahwa, jika formasi ini diproduksi, itu akan merugikan masyarakat dunia.

Tetapi, Ayah Semesta masih memberikan tugas perwakilan ini nilai yang sangat tinggi, tetapi tidak setinggi nilai yang diterima Mo Yuan untuk tugasnya. Dewa Mo Yuan telah melihat kedua gambar formasi itu dan merasa bahwa kecerdikan Dong Hua melampaui kemampuannya. Jadi, ia bertanya pada Ayah Semesta, mengapa nilai Dong Hua lebih rendah daripada nilainya. Ayah Semesta menerangkan bahwa, Dong Hua lupa menamai strategi formasinya dan sudah kehilangan poin yang sangat penting sebagai hasilnya.

Semenjak itu, Di Jun tidak pernah lupa menamai barang-barang miliknya. Itu semua memang berkat Ayah Semesta.

Feng Jiu menawarkan opini yang berbeda ketika ia mendengar poin ini, mengatakan bahwa ketika ia adalah seekor peliharaan di Istana Tai Chen, Di Jun tidak memberikannya nama. Ia hanya memanggilnya Xiao Hu Li. Fei Wei mengatakan, oh, itu karena di mata Di Jun, Xiao Hu Li adalah nama yang diberikannya pada Anda. Jadi, Anda punya nama. Untuk yang semua Anda ketahui, beliau barangkali merasa bahwa ini adalah nama yang sangat lucu yang diberikannya, dan mungkin diam-diam bangga karenanya.

(T/N : Xiao Hu Li—Little Fox—Rubah Kecil.)

Kembali ke cerita utama, alasan kenapa Fei Wei mengungkit peristiwa ini dengan tegas bukan hanya untuk percakapan biasa. Hanya dengan memahami asal-usul formasi Qian Yuan, barulah Feng Jiu dapat memahami keadaan saat ini. Dan hanya dengan mengetahui situasi saat ini, ia tidak perlu khawatir tentang Di Jun jika ia diperintahkan untuk tetap berada di Laut Giok Surgawi dan dilarang meninggalkannya.

Ini adalah keadaan saat ini. Tujuh bulan setelah forum diskusi di Gunung Zhang Wei, Di Jun sudah kembali ke Jiu Chong Tian dan membuka kembali Istana Tai Chen, secara resmi mengambil alih sebagai Raja para Dewa.

Setelah memegang tongkat Pohon Pārijāta, simbol otoritas tertinggi Delapan Dataran, di tangannya, Di Jun menghilangkan segel ajaib yang dipasang Ayah Semesta pada Formasi Qian Yuan.

(T/N : 昼度 (zhòu dù shù) adalah sebuah Pohon Karang India (Pārijāta in sanskrit) dari kitab Madhyamāgama, wacana tengah kedua. Itu terletak di Langit ke-33 (Trāyastrimśa Heaven)).

Ia mengaktifkan formasi tersebut, menggunakannya untuk secara strategis memerintahkan beberapa juta prajurit pasukan ras Dewa untuk berperang. Kurang dari setengah tahun kemudian, mereka telah memaksa trio-pasukan yang dipimpin Fu Ying kembali mundur ke Alam Utara.

Setelah Fu Ying mundur kembali ke Alam Utara, ia mengekstrak esensi yang memberi nutrisi pada tanah, dan menggunakannya untuk menciptakan sebuah bangsal pembatasan sihir yang menutupi seluruh wilayah Utara di dalam perbatasannya. Ia menarik mundur pasukannya ke dalam bangsal tersebut, menutup diri mereka. Mereka berdiri tegak dari dalam, tidak pernah meninggalkannya.

Sihir itu dibangun dari esensi tanah. Jika serangan dipaksakan dari luar, bangsalnya akan rusak, dan esensinya hancur. Keseluruhan Wilayah Utara akan musnah bersamaan dengan itu.

Ini merupakan pertaruhan strategis Fu Ying atas keengganan para Dewa untuk kehilangan wilayah Alam Utara yang luas. Sesuai dugaan, ras Dewa tidak berani menyerang dari luar dan menempatkan seribu pasukan di luar bangsal tersebut, di tepi Sungai Jiu Shui.

Karena perselisihan perangnya tegang, Feng Jiu tidak melihat Di Jun selama setengah tahun. Ia berpikir bahwa, karena perang tidak akan berakhir dalam jangka pendek, ia tidak tahu kapan ia dapat melihat Di Jun lagi. Akibatnya, pada hari ketujuh setelah percakapan bersama Fei Wei berakhir, dua jenderal abadi sampai di Laut Giok Surgawi, mengatakan mereka berada di bawah perintah Di Jun untuk mengundangnya ke Jiu Shui untuk berkumpul.

Saat itu malam tiba ketika ia sampai di Jiu Shui. Feng Jiu telah membayangkan bahwa atmosfer di perkemahannya akan tegang dan suram, karena kedua pasukan di tengah-tengah konfrontasi. Tetapi, siapa yang akan mengira bahwa, itu benar-benar adalah lingkungan penyembuhan.

Di sisi timur Jiu Shui, bagian tengah atas dari banyak tendanya dihiasi dengan lentera yang digantung melingkar, jelas-jelas pemandangan yang meriah. Berdasarkan pertanyaan lebih lanjut, ia menemukan bahwa seorang komandan militernya akan menikah hari ini.

Feng Jiu sangat kaget, dan bertanya penasaran pada Fei Wei, “Apakah mungkin untuk menikah di medan perang?”

Fei Wei pun sama herannya, “Nona Xiao Bai, jangan bilang padaku bahwa era darimana Anda berasal memiliki peraturan yang begitu ketat hingga tidak mengizinkan jenderal abadi untuk menikah di medan perang?”

Ia meminta nasihat Feng Jiu dengan tulus, “Tetapi, begitu perang pecah di Delapan Dataran, konfrontasi antara dua pasukan seringnya berlangsung selama beberapa ratus tahun. Kadang-kadang, itu bahkan mungkin berlangsung selama beberapa ribu tahun. Karena tidak ada yang mengkhawatirkan yang terjadi, bukankah terlalu kejam untuk tidak mengizinkan para jenderal abadi untuk menikah?”

Era asal Nona Xiao Bai adalah periode perdamaian dan makmur dengan pada dasarnya, tidak ada medan perang. Segala sesuatu yang diketahuinya tentang perang, ia mempelajarinya dari sekolah. Tetapi, ketika Guru membicarakan tentang peperangan selama Zaman Kekacauan Kuno, ia utamanya menyentuh tentang bagaimana para Jenderal Dewa mengatur pasukan mereka dan menyusun formasi strategis, serta penyebaran taktik militer yang menipu. Ia tidak pernah menyebutkan apa pun tentang bagaimana kebahagiaan para perwira dan prajuritnya dijaga selama waktu luang mereka.

Ini merupakan titik buta dalam pengetahuan Nona Xiao Bai. Ia jadi kosong sesaat dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Akhirnya, Feng Jiu mengelus dahinya, dan sedikit tertawa malu-malu, “Mungkin saja aku mengungkapkan keherananku karena kurangnya pengetahuanku tentang msalah ini.”

Selagi mereka berdua berbicara, Fei Wei melihat sosok Di Jun muncul dekat tepian sungai, menuju ke arah mereka. Kemudian, ia pun buru-buru mundur secara diam-diam, melemparkan pandangan penuh makna pada Feng Jiu sebelum ia pergi.

Feng Jiu mengangkat pandangannya dan melihat ke depan setelah Fei Wei memberinya petunjuk.

Sungai Jiu Shui berkelok-kelok dengan lembut, cuaca dingin menciptakan selapis kabut yang mengambang di atasnya. Bulan yang terang terpantul di antaranya, seolah-olah ada pantulan mengambang yang hilang. Si jubah ungu, Dewa berambut perak, tampak bermandikan cahaya bulan keperakan yang mengalir, berjalan ke arahnya di tengah-tengah kabut, bagaikan mimpi.

Tak begitu jauh, perkemahan itu ramai penuh kebisingan dan kegembiraan, sebuah api unggun yang besar menyala di tengah-tengahnya. Para prajurit bergembira, bernyanyi dan menari di sekeliling api unggunnya, mengerjai pasangan yang ada di tengah, berpakaian merah, kemungkinan pengantin wanita dan prianya.

Sewaktu si pemuda berambut perak mendekat, Feng Jiu merasa seolah hiruk-pikuk suasana gembira, yang penuh kehadiran, telah memudar seluruhnya ke kejauhan. Yang tersisa hanyalah, jeda keheningan dan suara debaran jantungnya di Wilayah Luas Kekacauan.

Meskipun waktunya bersama Di Jun tidak benar-benar singkat, kapan saja Feng Jiu melihat sosoknya, itu selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kemudian, ia akan dengan mudah mengingat kembali perasaan yang dimilikinya, ketika ia pertama kali jatuh cinta padanya.

Itu adalah waktu yang sulit selama beberapa ribu tahun ketika Feng Jiu mengejarnya tanpa henti. Tetapi, tak peduli seberapa kerasnya itu, ia tidak pernah bisa benar-benar melepaskan Dong Hua. Barangkali, inilah alasan jantungnya yang berdebar kencang.

Feng Jiu memandangi sosok pemuda itu selagi ia semakin mendekat. Ia paling mengerti bahwa, dengan berdiri di tempatnya dan membiarkan Di Jun berjalan ke arahnya sendiri, membuatnya tampak pendiam. Tetapi ia hanya sanggup menahan selama kurang dari tiga hitungan sebelum ia berlari ke arah Di Jun seolah ia sedang terbang, sementara diam-diam berpikir, hmph, ini salahnya karena begitu lambat.

Pada saat ini, Feng Jiu tidak lagi mirip seekor rubah, tetapi lebih mirip seekor burung, atau bahkan seekor kupu-kupu selagi ia melemparkan dirinya dalam kebahagiaan yang manis, melingkarkan lengannya di lehernya.

Feng Jiu menengadahkan kepalanya, cahaya di matanya sangat bersinar, sewaktu ia mengeluh setengah jujur, “Kenapa kau jalan begitu lambat!”

Pemuda itu tidak merespon keluhannya, tetapi malah menurunkan pandangannya untuk menaksir Feng Jiu.

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau suka melemparkan dirimu ke dalam pelukanku?”

Feng Jiu melengkungkan alisnya, “Aku membiarkanmu mengambil keuntungan dariku, bukankah itu hal yang bagus?”

Di Jun mengangkat alisnya, “Apakah aku yang mengambil keuntungan darimu, atau kau yang mengambil keuntungan dariku?”

Ini memang sebuah pertanyaan, dan itu adalah pertanyaan yang membuat Feng Jiu bingung. Tetapi, ia memikirkannya dengan cara lain; Di Jun dari dua ratus enam puluh ribu tahun yang lalu mungkin belum menjadi suaminya, tetapi pada akhirnya, ia memang menjadi suaminya, jadi, kenapa ia tidak bisa mengambil keuntungan darinya lebih dulu?

Selama Di Jun tidak mendorongnya pergi, Feng Jiu akan berani melakukannya, jadi ia berpura-pura memelototinya, “Iya, akulah yang mengambil keuntungan.”

Ia menjulurkan lidahnya, “Kalau begitu, aku akan mengambil keuntungan.”

Ia praktisnya menggantungkan seluruh dirinya ke tubuh Di Jun. Di Jun khawatir kalau ia mungkin akan tidak stabil, jadi ia pun bersusah payah memegangi pinggangnya.

Di dekatnya, dua prajurit muda pun berjalan mendekat tanpa sadar, secara kebetulan berpapasan dengan Di Jun dan Di Hou-nya. Mereka langsung mundur dua langkah terburu-buru untuk menghindari mereka, tetapi diam-diam menoleh kembali untuk melihat ke arah mereka selagi mereka berjalan pergi.

Setelah dilihat oleh para prajurit muda, perasaan malu Feng Jiu yang tertunda pun meletus.

Feng Jiu tiba-tiba jadi sedikit malu, dan mundur selangkah, cemberut, “Tempat ini terlalu banyak orang yang datang dan pergi, ayo cari sebuah tempat yang lebih sepi.”

Ia berkata selagi ia berjalan menuju kolam alang-alang di dekat tepi sungai.

Sebongkah batu besar kebetulan terletak di samping kolam alang-alang itu, dan mereka berdua duduk di atasnya. Segera setelah mereka duduk, gadis muda itu memeluknya. Itulah saat Di Jun menyadari bahwa, ketika mereka berdua saja, Feng Jiu akan selalu menempel padanya.

Si gadis muda meringkuk di sampingnya, dan memeluk lengannya.

Ia sedikit mendongakkan kepalanya, mata aprikot besarnya penuh dengan rasa ingin tahu, pupil matanya berkelap-kelip seperti bintang jatuh, “Sebelumnya, kau tidak mengizinkanku untuk datang kemari, jadi, kenapa kau mengizinkanku untuk datang sekarang?”

Di Jun menundukkan matanya untuk menatapnya, “Bukankah kau selalu berpikir untuk melihat seperti apakah medan perang saat ini? Sebelumnya, itu terlalu berbahaya, tetapi sudah relatif damai belakangan ini. Terlebih lagi, ada prajurit kami yang menikah, jadi atmosfernya ramai penuh kegembiraan. Kupikir, kau akan menyukai ini.”

“Ah, jadi begini.”

Setelah mendapatkan jawabannya, Feng Jiu pun menolehkan kepalanya ke arah kerumunan yang bersuka cita, yang mengelilingi api unggun di kejauhan, ekspresi kebahagiaan di wajahnya, “En, aku benar-benar menyukainya.”

Sepertinya, sebuah pikiran terlintas di benaknya sewaktu ia selesai mengucapkan perkataan itu, senyum di wajahnya tiba-tiba goyah.

Di Jun sangat menyadari perubahan dalam suasana hatinya, jadi ia pun menanyai Feng Jiu dengan keras, “Ada masalah apa?”

Setelah sekian lama, Feng Jiu pun berbicara dengan campuran rasa iri dan kesedihan, “Mereka berdua menikah dengan cara begini, terasa seperti hal yang baik. Merayakan bersama dengan gembira setelah memberi penghormatan pada Langit dan Bumi, dan menerima doa dari semua orang. Aku benar-benar iri pada mereka.”

Di Jun memerhatikan ekspresi Feng Jiu, sedikit mengernyit, “Kenapa kau iri pada mereka?”

Ia menjeda untuk sesaat, “Pernikahan kita, bukankah itu lebih megah daripada pernikahan mereka?”

Di Jun melihatnya terdiam untuk sementara waktu, “Itu memang lebih megah. Laut Giok Surgawi didekorasi dengan begitu indahnya, dan semua dari ras Dewa datang untuk memberi selamat pada kita.”

Feng Jiu menggigit bibirnya, “Kecuali pada hari pernikahan, Di Jun tidak muncul.”

Di Jun tertegun, “Apa?”

Feng Jiu tiba-tiba jadi marah, “Itu juga bukan salahmu.”

Ia jadi marah meskipun mengatakannya itu bukan kesalahan Di Jun, tetapi tidak tahu kepada siapa ia marah, “Itu karena kau harus menyelamatkan seseorang. Setelah kau menyelamatkan orang itu, kau mengalami peristiwa genting yang akan membahayakan dunia, memerlukanmu untuk menanganinya. Jadi kau melewatkan upacara pernikahan kita. Aku menunggumu lama sekali, tetapi kau tidak kembali. Jubah pernikahanku dibuat dengan sangat indah, dan aku secara khusus ingin mengenakannya, tetapi pada akhirnya, aku tetap belum sempat memakainya. Ini bukanlah salahmu, takdirlah yang mengolok-olok orang.”

Feng Jiu menghela napas dengan gaya yang dewasa ketika ia selesai bicara.

Wajah muda dan cantik yang menghela napas dengan sedewasa itu. Kelihatannya lucu, tetapi orang tidak bisa tertawa, dan malah akan merasakan hati mereka sakit.

Di Jun terdiam untuk waktu yang lama, “Apakah aku tidak memberimu kompensasi setelah itu?”

Feng Jiu berpura-pura rileks dengan mengangkat bahunya, “Kau memang bilang bahwa kau ingin mengkompensasiku. Tetapi biarpun kau tidak ada pada hari pernikahan kita, Zhong Lin telah mengatur segala sesuatunya dengan sangat baik, dan pernikahan kita juga sudah tercatat di buku jodoh pernikahan Nu Wa. Oleh karenanya, secara wajarnya, kita sudah menikah.”

Ia berbicara secara logis dan jelas, tampak seolah ia telah banyak memikirkannya, “Meskipun banyak masalah muncul selama pernikahan kita, semua dewa dari Delapan Dataran mengetahui bahwa kita sudah menikah. Bukankah akan aneh untuk menikah lagi? Jadi aku menolak tawaranmu untuk memberiku kompensasi.”

Di Jun menatap ke dalam matanya, “Apa kau menolaknya dengan tulus?”

En,” ucapnya datar, “Meskipun ....” menggigit bibirnya lagi, “tetapi, itu aneh saja, jadi pada akhirnya, aku memutuskan bahwa akan lebih baik tidak melakukannya.”

Memeluk lengannya seolah ia tengah menghibur dirinya sendiri, “Fakta bahwa aku sudah bisa bersama dengan Di Jun saja sudah memuaskan, jadi aku tidak menyesali kalau upacara pernikahan kita tidak begitu sempurna.”

Cantik, pintar, dan kadang-kadang agak konyol. Tetapi, terlepas dari situasinya, ia selalu sangat bijaksana. Ini adalah gadis yang akan menghabiskan sisa hidup bersamanya, pada periode yang sangat terlambat dalam perjalanan hidupnya. Hati Di Jun sedikit bergetar, dan ia tidak tahan untuk mengelus kening Feng Jiu.

Setelah berbicara untuk waktu yang lama, sepertinya Feng Jiu tampak kelelahan, dan menguap ringan.

Dengan nada sengau lembut yang tidak membuat orang waspada, Feng Jiu bertingkah genit padanya, “Di Jun, aku mengantuk sekarang.”

Ia pun mengelus kening Feng Jiu sekali lagi, “Kalau begitu, berbaring saja di pangkuanku dan tidur sejenak.”

Feng Jiu setengah membuka matanya dan duduk tegak, “Tidur di pangkuanmu?”

Seolah-olah ia merasa bahwa ini tidak bisa dibayangkan, Feng Jiu agak tercengang, “Kenapa Di Jun begitu ramah hari ini ....”

Kenapa ia akan mengatakan dirinya ramah hari ini?

Pada hari apa ia tidak ramah?

Sebelumnya, di Laut Giok Surgawi, bukankah ia menoleransi berbagi ranjang dengannya setiap malam?

Postur tidurnya selalu melibatkan berpelukan ke dalam dekapannya, dan kapankah ia pernah mendorongnya pergi?

Ia hanya seekor rubah kecil tak berperasaan yang akan selalu melupakannya setelah terbangun.

Di Jun tidak menjawab.

Mengambil keuntungan dari lamunan Feng Jiu, ia pun mengulurkan tangannya, memeluknya. Kemudian, ia mengutak-atiknya dengan membaringkannya, menyebabkan seluruh tubuh Feng Jiu bersarang di pelukannya. Mengetahui bahwa ia lemah lembut, dan kesulitan tidur tanpa ranjang dan selimutnya, Di Jun menciptakan tempat tidur dan selimut awan dari udara dan membungkusnya di dalamnya.

Setelah ia menyelesaikan semua itu, Di Jun mengangkat tangannya dan mengelus mata Feng Jiu, “Sangat nyaman berbaring seperti ini, kan?”

Merasakan bulu mata Feng Jiu dengan lembut menyapu telapak tangannya selagi ia mengangguk ringan, ia pun menghela napas, “Kalau begitu, tidurlah.”

Tetapi, Feng Jiu mengeluarkan tangannya dari selimut awan tersebut dan menarik lengan jubahnya, bertanya dengan suara lembut, “Kau akan berada di sini, kan?”

Menundukkan pandangannya untuk menatapnya, Di Jun mengulurkan tangan untuk memegang tangannya yang bebas.

Di Jun meletakkan tangan Feng Jiu di tepi bibirnya, menjaganya tetap dekat dengannya, “En, aku di sini sejak awal.”

Bulan keperakan bersinar dengan jernih dan cemerlang,

Zaman Kekacauan itu sepi,

jika ada kekasih,

dipisahkan oleh ujung dunia,

mereka masih bisa berjanji satu sama lainnya selama-lamanya.


Silakan lanjut ke Chapter 7.

Atau ke TOC.

Continue reading TPB : Back to Chaos in a Dream - Chapter 6

TPB : Back to Chaos in a Dream - Chapter 5.2

 Three Lives Three Worlds, The Pillow Book

Pillow Book of Samsara

Back to Chaos in a Dream : Chapter 5.2



Tentunya Feng Jiu tidak mengetahui tentang insiden ini. Ia benar-benar mengira bahwa itu hanya kebetulan bahwa forum itu akan diadakan di Gunung Zhang Wei, dan bahwa Di Jun hanya kebetulan di rute yang sama dengannya. Jadi ia pun dengan gembira mengikuti Di Jun sepanjang jalan ke Gunung Zhang Wei.

Di Jun pergi untuk menghadiri forumnya. Feng Jiu membawa Gun Gun bersamanya untuk mengunjungi area sekitar, menemukan setiap tempat yang dapat dilihat mata mereka. Setelah mereka selesai melihat-lihat dan kembali ke tempat tinggal mereka, mereka melihat Fei Wei memindahkan barang bawaan mereka keluar.

Setelah bertanya lebih lanjut, ia mengetahui bahwa pelayan abadi itu tidak mengetahui tentang identitasnya dan mengira ia adalah gadis pelayan dari Laut Giok Biru. Sebagai hasilnya, mereka telah mengaturnya untuk tinggal di kamar pelayan. Fei Wei sedang memindahkan barang bawaannya ke halaman Di Jun.

Feng Jiu adalah generasi dari Ratu Qing Qiu, dan terkadang sangat teliti dan cermat sewaktu mempertimbangkan masalah. Ia merasa bahwa tempat ini bukanlah Laut Giok Surgawi dan melakukan ini akan jadi terlalu mencolok, berpotensi menimbulkan desas-desus tentang Di Jun.

Oleh karena itu, ia menginstruksikan Fei Wei untuk mengaturnya agar ia ditempatkan di kamar tunggal di satu halaman pelayan, dan itu cukup. Setelah mendengar bahwa Di Jun masih berdiskusi urusan resmi dengan yang lainnya, terpikirkan olehnya bahwa Di Jun akan kelelahan, dan menyiapkan satu set teh ginseng, memercayakan Fei Wei untuk mengantarkan itu padanya.

Fei Wei dengan hati-hati mengangkat set teh ginseng itu dan pergi. Feng Jiu kembali ke tempat tinggalnya, membujuk Gun Gun yang lelah untuk tidur, dan mengurusi barang bawaannya. Selagi ia membongkar barang, ia tiba-tiba menyadari bahwa Di Jun hanya membawa Fei Wei untuk perjalanan ini.

Namun, Fei Wei sudah menyibukkan dirinya dengan Feng Jiu dan Gun Gun semenjak mereka tiba, jadi Feng Jiu takut ia mungkin belum sempat membantu Di Jun untuk membongkar barang bawaannya.

Ketika ia berada di Istana Tai Chen, jika Di Jun ingin menghadiri pertemuan Buddha di Alam Brahma Barat, ia selalu menyibukkan dirinya dengan membantu Di Jun mengemasi barang bawaannya. Di Jun juga sangat menyukainya ketika ia melakukan demikian. Dengan ini dalam benaknya, ia pun segera memutuskan untuk melihat ke halaman Di Jun apakah ada sesuatu yang harus disusunnya.

Sesuai dugaan, halaman Di Jun sangat besar. Ia berjalan dengan anggun sepanjang jalan ke depan kamar tidur Di Jun hanya untuk berhenti di pintu batu yang terkunci. Ia selalu bisa melewati bangsal pembatas Di Jun dan batasannya tanpa halangan, tetapi ini bukanlah Laut Giok Surgawi. Ini adalah tempat yang tidak mengandalkan bangsal pembatas atau batasan untuk mengunci pintunya; itu mengandalkan kunci fisik.

Fei Wei tidak berada di sisinya, jadi ia tidak bisa membuka pintu batu di depannya.

Tepat saat ia merasa pelik akan masalahnya, ia tiba-tiba mendengar suara feminin berteriak, “Siapa kau, dan apa yang kau lakukan di sini?”

***

Di dalam Aula He Qi, para Dewa tengah dalam diskusi resmi ketika mereka melihat Putri Zi Zheng menerobos masuk secara tergesa.

Putri Zi Zheng adalah putri tunggal Dewa Agung Hou Zhen, dan merupakan kesayangannya. Akibatnya, ia selalu keras kepala.

Tidak seperti Dewa Agung Fu Ying yang merupakan ahli dalam peperangan, Dewa Agung Hou Zhen bukanlah dewa perang. Dalam hal memimpin pasukan dan berperang, ia bukan tandingan Dewa Agung Fu Ying, tetapi ia memiliki otak yang berfungsi dengan baik.

Dirumorkan bahwa, tujuh ratus tahun yang lalu, saat Dewa Agung Mo Yuan pertama kali memulai jalannya, Dewa Agung Hou Zhen ingin menikahkan putrinya kepadanya demi mengikat erat klannya dengan Dewa Agung Mo Yuan. Ini adalah satu cara yang menggambarkan betapa cerdas otaknya.

Sayangnya, Zi Zheng sepenuhnya terpikat oleh Dong Hua, dan lebih baik mati daripada menurutinya. Sebenarnya, menikahi Dong Hua juga pilihan yang bagus selagi Hou Zhen teringat, ia juga mendukungnya.

Tetapi, Dong Hua kembali ke rumah asalnya untuk tinggal dalam pengasingan lima ratus tahun setelahnya. Namun, karena belum lama ini Dong Hua meninggalkan pengasingan, kabar mengatakann bahwa niat Hou Zhen pun kembali menyala.

Putri Zi Zheng sudah masuk tanpa izin ke Aula He Qi kali ini. Tetapi bagaimana orang mengetahui apakah itu bukanlah pertunjukan yang ditampilkan oleh ayah dan anak untuk menarik perhatian Di Jun.

Para Dewa yang hadir di forum itu cukup cerdik, jadi tidak ada seorang pun yang akan berpikir untuk menghancurkan niat Hou Zhen. Oleh sebab itu, mereka serempak menghentikan diskusinya dan secara kolektif mengalihkan perhatian mereka ke arah tontonan.

Namun, masalah ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan Dewa Agung Hou Zhen.

Ia juga sangat bingung selagi ia menyaksikan putrinya menerobos masuk, dan tidak tahan untuk berwajah masam, “Semuanya saat ini sedang membahas urusan resmi dengan Di Jun, jadi mana mungkin kami mentolerir dirimu yang berbuat ulah di sini. Dan kenapa kau masih belum cepat-cepat pergi!”

Putri Zi Zheng bahkan tidak takut sedikit pun, “Putrimu juga kemari untuk membicarakan tentang urusan resmi. Selain itu, ini adalah urusan resmi yang juga memerlukan Di Jun untuk memutuskannya!”

Ia menepuk tangannya selagi ia berbicara, dan dua pelayan abadi kuat pun mengapit seorang dewi, yang tangannya diikat dengan kunci perangkap abadi, ke dalam aula.

Dewi itu memiliki rambut hitam legam, kulit seputih salju berbaju merah, tampak agak muda, tetapi kecantikannya menakjubkan. Kumpulan para dewa itu saling berpandangan dengan tatapan kosong. Mereka memerhatikan selagi Di Jun, yang masih perlahan-lahan mengelus pemberat kertasnya beberapa saat yang lalu, berhenti sejenak, dan melihat ke tengah aula.

Feng Jiu tidak takut dengan kesulitannya saat ini. Ia hanya takut kehilangan muka. Baru diumur tiga puluh ribu tahun, ia masih terlalu muda; meski jika ia sangatlah berbakat di antara rekan sejawatnya, ia telah kehilangan kultivasinya setelah bertarung dengan Miao Luo dan masih belum memulihkan kembali kekuatan abadinya.

Dalam keadaan ini, ia tidak sanggup melawan Zi Zheng, seorang dewi tiga generasi lebih tua darinya. Ia benar-benar tidak berdaya untuk melakukan apa pun tentang situasinya.

Diam-diam ia sedikit mengangkat pandangannya, diam-diam memerhatikan Di Jun. Pandangan Di Jun juga tertuju padanya, dan tampaknya seperti melihat ke kunci perangkap abadi di tangannya.

Ia merasa berkecil hati sewaktu ia memikirkan tentang bagaimanakan perasaan Di Jun karena ia adalah orang yang lemah, memandang rendah dirinya. Semakin ia memikirkan soal itu, semakin ia merasa putus asa, jadi ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Zi Zheng melemparkan tatapan dingin pada Feng Jiu, dan menghadap Dong Hua, sikapnya keras, “Aku melihat gadis ini bertingkah diam-diam di luar kamar tidur di Jun, sikapnya mencurigakan, jadi aku maju untuk menanyainya. Tanpa diduga, ia mengatakan bahwa ia adalah pelayan pribadi Anda, jadi itulah mengapa, ia muncul di sana.”

Zi Zheng mencemooh pelan, “Semua orang di Empat Lautan dan Delapan Dataran mengetahui bahwa Di Jun tidak pernah memiliki pelayan pribadi yang cantik di sisinya. Ia pasti seorang mata-mata yang dikirim oleh Fu Ying, jadi aku menangkapnya kemari untuk diadili Di Jun!”

Feng Jiu tidak punya pilihan selain membela dirinya, “Mari ... anggap saja aku telah meningkatkan statusku dengan menyebut diriku sebagai pelayan pribadi Di Jun. Tetapi aku benar-benar seorang gadis pelayan dari Laut Giok Surgawi!”

Ia melirik Di Jun sewaktu ia berbicara, dan mengira ia cukup pintar untuk terpikirkan penjelasan sempurna yang tidak akan menonjolkan masalah. Jika Di Jun bekerja sama dengan satu anggukan kepala, masalah ini akan terselesaikan, dan tidak akan menyimpang lagi.

Tetapi tak disangka, Di Jun benar-benar menyimpang keluar jalur.

Ia tidak menganggukkan kepalanya seperti yang diharapakan Feng Jiu, malahan, menatapnya, mengerutkan dahi, “Muncul di kamarku? Apa yang sedang kau lakukan di sana?”

Zi Zheng berseru marah, “Ia pasti pergi ke sana untuk mencari beberapa informasi rahasia!”

“Benar-benar tidak,” Feng Jiu menggelengkan kepalanya dengan cepat, diam-diam membenci Di Jun karena tidak bekerja sama dengannya.

Ia tidak bisa menahan diri untuk menekankan identitasnya adalah seorang pelayan pribadi sekali lagi, “Karena aku adalah pelayannya. Tugasku adalah untuk melayani Di Jun. Itulah mengapa aku mengatakan bahwa aku hanya berniat untuk membongkar barang bawaan perjalanan Di Jun ....”

Zi Zheng tertawa dingin, “Jadi kenapa kau tidak bisa memasuki kamar tidur Di Jun?”

Feng Jiu menegang, “Aku ... aku tidak punya kuncinya ....”

Zi Zheng tertawa dingin sekali lagi, “Kenapa seorang pelayan pribadi yang bertugas untuk membongkar barang bawaan perjalanan Di Jun tidak memiliki kunci kamar tidurnya?”

Kedua wanita itu berdebat tanpa henti untuk sesaat.

Di Jun, yang diam-diam menonton mereka dari samping, mengajukan pertanyaan yang meragukan jiwa, “Apakah mengandalkan kalian berdua untuk berdebat apakah ia memang pelayan pribadiku atau bukan, membuahkan hasil? Bukankah lebih mudah untuk bertanya langsung kepadaku?”

Masuk akal, ini memang masuk akal. Zi Zheng tertegun sejenak, dan bereaksi setelah beberapa saat.

Ekspresinya bertanya-tanya sejenak sebelum ia melemparkan tatapan bingung pada Dong Hua, “Jadi, apakah ia benar-benar pelayan pribadi Di Jun ....”

Di Jun memijat pelipisnya, “Bukan.”

Zi Zheng menghela napas lega, dan meninggikan suaranya, “Kalau begitu ia pasti seorang mata-mata!”

Di Jun mengetuk jarinya tak sabaran, “Ia adalah istriku.”

Feng Jiu betul-betul tidak menyangka bahwa Di Jun akan mengatakan kebenarannya sambil lalu dan acuh tak acuh, dan linglung terkejut sesaat.

Kerumunan makhluk abadi pun kebingungan.

Hanya Di Jun yang tetap tak terpengaruh, dan menatap ke arahnya dan Zi Zheng, “Kalau tidak ada urusan lainnya, kalian berdua boleh pergi.”

Melihat Feng Jiu berbalik pergi dengan patuh, ia berkata lagi, “Tunggu, Xiao Bai.”

Ia mengambil satu set kunci dari lengan jubahnya selagi ia berbicara, dan melihat bahwa tangan Feng Jiu masih terikat oleh kunci perangkap abadi. Ia pun mengerutkan alisnya, dan kunci perangkap abadi itu menghilang.

Di Jun melemparkan kuncinya, dan Feng Jiu menangkapnya dengan bingung, “Ini ....”

Di Jun tampak seolah ia tidak mengerti kenapa Feng Jiu akan mengajukan pertanyaan sebodoh itu, “Bukankah kau mau membongkar barang bawaanku, tetapi tidak punya kuncinya?”

Memerhatikan pemahaman yang tiba-tiba muncul dalam benaknya saat Feng Jiu bergumam, “Ah, iya ....”

Di Jun kelihatan seolah ia terhibur olehnya.

Tidak ingin orang lain merasakannya, ia pun menarik bibirnya sedikit, dan agak melambatkan suaranya, “Bagus, kau boleh pergi.”

Kemudian, ia menambahkan satu kalimat, “Jangan berbohong sembarangan pada orang lain di masa yang akan datang.”

Feng Jiu melirik kerumunan makhluk abadi yang membatu di aula. Menganggukkan kepalanya, ia mengambil kunci itu dan pergi.

Saat ia melangkahi ambang pintu aula He Qi, ia mendengar Di Jun berbicara dengan tidak sabar pada Zi Zheng, “Kenapa kau masih di sini?”

Suara Zi Zheng mengandung isak tangisnya, “Kapan Di Jun menikah, kenapa aku belum pernah mendengarnya sebelumnya, dewi itu, apa ... apa bagusnya dia ....”

Reaksi Di Jun adalah memanggil Dewa Agung Hou Zhen.

Setelah itu, suara teguran pun menggema di aula He Qi.

Feng Jiu mengintip ke belakangnya, dan melihat sekelompok pelayan makhluk abadi yang panik, buru-buru memapah Putri Zi Zheng yang menangis tanpa henti keluar dari aula.

Feng Jiu mendapat keuntungan dari musibah itu dan pindah ke kamar tidur Di Jun. Gosipnya sepertinya tumbuh sayap, dan dalam waktu kurang dari satu hari, sudah menyebar ke seluruh Delapan Dataran.

***

Malam itu, Feng Jiu ketiduran sembari menunggu Di Jun kembali ke kamarnya untuk tidur. Jam air berlalu, dan Feng Jiu masih menunggu Di Jun dengan sia-sia. Tetapi ia berakhir menunggu seorang gadis Iblis yang kemari untuk menaiki ranjangnya.

Gadis itu membekap mulut Feng Jiu sewaktu ia sudah akan berteriak minta tolong, “Ai, jangan teriak, jangan teriak, aku kemari bukan untuk menaiki ranjangnya,” gadis itu menjelaskan, “Aku kemari untuk melihat seperti apakah Di Hou yang dirumorkan itu.”

Feng Jiu mendengar alasan kedatangan gadis itu. Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, tiba-tiba ia sedikit kecewa. Ia sudah mendengar Dewa Agung Zhe Yan membicarakan soal itu sebelumnya, bahwa selama Zaman Kekacauan dan Zaman Purbakala, Di Jun merupakan pria impian banyak gadis. Para gadis dari ras Iblis adalah yang paling tidak tahu sopan santun, dan suka menaiki ranjang Di Jun. Ia tidak pernah melihat keadaan seperti itu, dan merasa agak penasaran.

Gadis iblis yang menyebut dirinya Jin Jin itu pun melepaskan Feng Jiu, menaksirnya dari ujung kepala hingga ke ujung jari kaki.

Ia pun tidak tahan untuk mengangguk, “Aiya, ternyata kau adalah wanita cantik yang sanggup mengancurkan suatu kerajaan. Aku, Jin Jin, rela mengaku kalah.”

Ia duduk dengan akrab di sisi tempat tidur ketika ia selesai berbicara.

Bergerak mendekat ke arah Feng Jiu, ia terus mengobrol dengannya, “Namun, Di Jun terbuat dari batu, dan tidak punya perasaan dan tidak punya hasrat. Kalau tidak, mengapa tak satu pun dari kami, para gadis iblis dari beberapa generasi, yang berhasil menaiki ranjangnya. Jadi, bagaimana kau melakukannya?”

Feng Jiu mundur ke belakang, memberi sedikit jarak antara dirinya dan Jin Jin, “Aku tidak menaiki ranjangnya.”

Jin Jin menampar pahanya satu kali, dan tamparan itu begitu kuat hingga Feng Jiu dapat mewakilinya merasakan rasa sakitnya.

Tetapi Jin Jin tetap tidak peduli, “Aku bukannya mengatakan kau menaiki ranjangnya. Hanya saja begini, kau lihat, kami hanya berminat untuk tidur bersama Di Jun. Hanya untuk tidur semalam, tetapi kami tidak berhasil. Namun kau bahkan sampai membuat Di Jun menikahimu. Kesulitan dari praktik ini jauh lebih besar daripada hanya tidur dengannya begitu saja. Itulah kenapa, aku jadi penasaran. Bagaimana kau mencapainya?”

Feng Jiu selalu bingung tentang alasan kenapa Di Jun jatuh cinta padanya. Dulunya, ia bermurah hati, dan merasa bahwa tidak masalah kenapa ia jatuh cinta. Di Jun mencintainya, jadi ia sudah mendapatkan rejeki nomplok; mencari tahu akar masalahnya tidak berarti apa-apa baginya.

Ketika ditanyakan saat itu, ia agak tidak jelas, dan membagikan pengalamannya dengan Jiu Jiu dengan tidak yakin, “Kemungkinan karena aku adalah seekor rubah dan tinggal di sisinya sebagai hewan peliharaan selama beberapa ratus tahun. Ia kemudian mengetahuinya, dan merasa sedikit tersentuh. Itulah kenapa, ia memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan denganku.”

Setelah Feng Jiu selesai bicara, ia memikirkanya, dan merasa bahwa alasan ini sangat bisa dipercaya hingga ia sendiri meyakininya.

Meninjukan kepalan tangannya ke tangan lainnya, Feng Jiu menghadap Jin Jin dengan yakin, “Aku rasa seharusnya begini. Tidakkah kau merasa sedikit tersentuh?”

Jin Jin tidak tersentuh olehnya, dan memberi ringkasan sederhana atas apa yang terjadi, “Artinya, kau mengejar Di Jun selama beberapa ratus tahun, tetapi tidak bisa tidur dengannya. Namun, kau tidak menyerah, dan terus mengejarnya, yang mengakibatkannya tersentuh olehmu?”

Jin Jin menghela napas kaget, dan mengacungkan jempol ke arahnya, “Kau masih belum menyerah bahkan setelah beberapa ratus tahun gagal tidur dengannya. Kalau begitu, maka kau benar-benar luar biasa, dan seseorang yang pantas menjadi Di Hou-nya!”

Feng Jiu tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk sesaat.

Ia menutup mulutnya, berdeham ringan, “Kami, ras Dewa, tidak terlalu memusingkan apakah kami bisa tidur bersama seseorang atau tidak. Kami hanya lebih memedulikan tentang apakah kami dapat menangkap hati seseorang, dan membuat orang lainnya betul-betul mencintai kami.”

Jalan pikiran Jin Jin relatif berbeda dari yang lainnya, dan akan menghubungkan segalanya dengan apakah seseorang bisa tidur dengan orang lain atau tidak.

Ia memasang tampang takjub di wajahnya, dan memberikan kesimpulan lainnya pada Feng Jiu, “Jadi maksudmu, sampai sekarang, kau masih belum tidur bersama Di Jun?”

Feng Jiu terdiam sejenak, “.... Aku sudah tidur bersamanya.”

Ekspresi Jin Jin adalah seperti yang diduga, dan ia bertanya ingin tahu, “Jadi, seperti apa rasanya tidur bersama Di Jun?”

Feng Jiu memelototi Jin Jin, “Kenapa kau menanyakan soal ini?”

Jin Jin buru-buru menggesturkan dengan tangannya, “Jangan salah paham padaku, aku tidak punya motif lain. Karena kau adalah satu-satunya orang yang tidur bersama Di Jun di seluruh Delapan Dataran, jadi aku hanya bertanya sambil lalu.”

Ia menjeda, kemudian berbicara sampai di titik ini, dan perlahan-lahan mengangkat alisnya, “Tidak mungkin karena putramu dan semuanya hanyalah rumor, dan kau benar-benar belum pernah tidur bersama Di Jun?”

Ia menatap Feng Jiu dengan tampang penuh mengasihani, nada bicaranya mendesah, “Ah, kau tidak bisa disalahkan untuk ini. Bagaimanapun juga, Di Jun adalah makhluk abadi yang terbuat dari batu ....”

Tak diragukan lagi, ia membangkitkan semangat bersaing Feng Jiu, “Aku benar-benar sudah tidur bersamanya sebelumnya.”

Ia menoleh ke arah Jin Jin dengan sungguh-sungguh, “Ia lumayan.”

Wajah Jin Jin penuh keraguan.

Feng Jiu jadi serius, “Itu benar, ia lumayan.”

Jin Jin menganggukkan kepalanya, “Lumayan.”

Akan tetapi, Jin Jin keras kepala, dan tidak mungkin menghentikannya.

Jadi, ia pun terus bertanya, “Apa maksudnya lumayan?”

Pintunya terbuka saat ini, dan Di Jun berdiri diam di dekat pintu masuk. Feng Jiu dan Jin Jin saling berpandangan syok.

Jin Jin adalah yang pertama bereaksi.

Ia melonjak dengan wajah tersenyum, “Di Jun, jangan salah paham. Aku ... aku tinggal di gunung sebelah. Karena aku tinggal dekat sini, aku hanya datang kemari untuk mengobrol dengan Di Hou Anda. Aku ... aku ... aku tidak punya niat buruk.”

Melihat Di Jun maju selangkah, Jin Jin pun memucat selagi ia mundur, “Aku ... aku dengar Di Jun tidak pernah memukul perempuan!”

Di Jun mengangguk, “Aku tidak pernah memukul mereka, jadi apakah kau mau keluar sendiri, atau kau mau aku melemparkanmu keluar?”

Jin Jin memilih untuk keluar sendiri.

Setelah Jin Jin keluar, hanya mereka berdua yang berada di dalam kamar itu. Jantung Feng Jiu berdebar layaknya genderang, tidak yakin seberapa banyak Di Jun mendengar percakapan antara Jin Jin dan dirinya. Sewaktu ia melihat Di Jun menuju ke kamar belakang untuk mandi, ia menghibur dirinya sendiri dengan kemungkinan bahwa ia tidak mendengar apa-apa.

Pada akhirnya, hal pertama yang dikatakan Di Jun saat ia keluar sambil mengeringkan rambutnya adalah, “Aku juga ingin bertanya, apa maksudnya lumayan?”

Feng Jiu, yang sedang membentangkan selimut, tampak melonjak setelah apa yang didengarnya, dan perlahan-lahan berbalik, “Lebih baik tidak usah bertanya ....”

Di Jun duduk di bangku giok di seberang tempat tidur dan terus mengeringkan rambutnya, “Jadi, apakah itu berarti bahwa itu tidak baik?”

Feng Jiu berdiri dekat ranjang, merasa seolah tidak semestinya ia berada di sini, tetapi seharusnya berada di bawah ranjang.

Ia tergagap, “Tidak ... bukannya tidak baik, kau ... kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”

Di Jun meletakkan kain katunnya, “Aku memang agak khawatir, jadi apa arti sebenarnya?”

Feng Jiu menundukkan kepalanya, dan setengah menutupi wajahnya, “Itu ... itu berarti bagus,” ia mendongakkan kepalanya agak galak, “Itu berarti bagus, bukankah itu cukup?”

Ia menutupi wajahnya lagi ketika ia selesai berbicara.

Di Jun berdiri, dan berjalan mendekat. Ia duduk di pinggir ranjang, dan menariknya turun sehingga Feng Jiu duduk berhadapan dengannya.

Menatap ke arahnya seolah Di Jun sedang mendiskusikan masalah yang penting dan serius dengan mendesak, ia bertanya sungguh-sungguh, “Jadi, kenapa tidak kau beritahukan saja padanya secara langsung bahwa aku sangat hebat?”

Bagaimana mungkin ia menjawab pertanyaan seperti itu?

Feng Jiu merasa seolah ia sekarat. Wajahnya memerah seperti darah sewaktu ia duduk d sana untuk waktu yang lama, memikirkan bagaimana cara menjawab Di Jun supaya ia tutup mulut.

Tak lama kemudian, Feng Jiu pun berkata, “Bahwa aku bisa memiliki dirimu yang sebegitu luar biasanya saja, sudah membuat orang lain membenciku. Jika mereka mengetahui bahwa kau ... kau juga sehebat itu, bukankah itu akan membuat mereka lebih membenciku? Mari kita merendah sedikit saja?”

Di Jun memandanginya untuk waktu yang lama, “Kau benar.”

Sudah pasti, ia pun tutup mulut.

Untuk sesaat, mereka berdua tidak berkata-kata. Kemudian, mereka hanya berbaring untuk tidur.

Setelah menunggu napas Feng Jiu teratur, menandakan bahwa ia sudah memasuki alam mimpi, Di Jun perlahan-lahan membuka matanya. Memandangi rona yang masih belum surut dari wajah si gadis muda, senyum menggoda kecil pun bermain di bibirnya.

Si pemuda pun memandangi gadis dalam pelukannya. Lama setelahnya, ia pun dengan ringan mengecup keningnya.

Di luar jendela,

bulan purnama menggantung tinggi-tinggi,

sinar bulan terang yang mengalir,

menyaksikan momen ini dengan setia.

Continue reading TPB : Back to Chaos in a Dream - Chapter 5.2