Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 5. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2026

CTF - Chapter 440

Consort of A Thousand Faces

Chapter 440 : Cium Aku


Feng Chang Qing merasa sedikit malu. Putri Pertama Kekaisaran tidak pernah begitu ngotot soal ini sebelumnya, dan sekarang Pangeran Hao juga ikut-ikutan. Ia segera membungkuk selagi ia berbicara dengan cepat. "Bawahan ini harus pergi mengecek latihan bela diri Yu Xiao, dan akan undur diri dulu." Lalu ia pun memutar tumitnya sebelum Su Xi-er bahkan bisa mengingat apa yang dikatakannya.

Menyaksikan sosoknya yang berlalu dengan cepat, Su Xi-er merasa bersalah. Kesetiaan murninya hanya karena aku kebetulan menyelamatkannya sewaktu ia dipukuli. Ia sudah lama membalas budi ini padaku, tetapi ia terus mengikutiku bahkan hingga sekarang. Ia bahkan sampai mengabaikan penampilan dan pernikahannya sendiri.

Pei Qian Hao memeluknya, dan berbisik di telinganya. "Xi-er, Feng Chang Qing memiliki rencana dan pemikirannya sendiri tentang ini. Pada akhirnya, ia akan menikah suatu hari nanti, dan kau tidak perlu menyalahkan dirimu soal itu."

"Sebelum kau bertemu denganku, kapan kau berencana untuk menikah?" Su Xi-er menengadahkan kepalanya dan bertanya dengan ekspresi yang sungguh-sungguh.

"Pangeran ini awalnya tidak berencana untuk menikah, berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memasuki hatiku. Tetapi siapa yang tahu bahwa Pangeran ini telah memperhitungkan segalanya, kecuali dirimu." Pei Qian Hao terkekeh pelan, dan menggelitiki hidungnya dengan jarinya. "Kau adalah peri kecil yang memesona."

Su Xi-er menyeringai lebar dengan gaya yang nakal. "Pangeran Hao, apakah kau sudah terpikat?"

"Memang sudah." Kilatan berkedip di mata Pei Qian Hao saat ia memeluknya dan berputar, menekannya ke batang pohon bunga prem.

Adegan ini mirip dengan yang di hutan pinggiran kota, dan Su Xi-er langsung menghentikannya. "Kita cukup banyak melakukannya semalam. Kau tidak diizinkan untuk melakukannya di siang bolong. Selain itu, aku merasa kedinginan." Ia tahu bahwa dua kalimat pertamanya tidak akan bekerja, tetapi ia yakin bahwa beberapa patah kata terakhirnya akan efektif.

Sesuai dugaan, Pei Qian Hao menarik kembali tangannya. "Pangeran ini akan membawamu kembali ke dalam kamar." Kemudian ia segera lanjut menggendongnya. Merasakan dunia berputar di sekelilingnya, Su Xi-er segera mendapati dirinya mengalungkan lengan di leher Pei Qian Hao, menatap matanya dengan tatapan yang cemerlang.

Hati Pei Qian Hao tergerak, dan ia pun membungkuk untuk mencium kening Su Xi-er sebelum melangkah keluar dari taman belakang dan menuju ke halaman utama.

Semua pengawal yang mereka lalui sepanjang jalan akan membungkuk setelah melihat Pei Qian Hao, kemudian menyaksikan dengan mata terbelalak selagi ia berjalan ke aula. Saat ini tengah hari, tetapi ia berjalan dengan begitu cepatnya ke arah kamar utama. Tidak dapat dihindari bahwa orang akan salah paham. Lalu, semua orang sekali lagi teringat bahwa Pei Qian Hao telah menahan diri selama dua puluh lima tahun. Bahkan, menggunakan kata 'serigala' dan 'harimau' untuk menggambarkannya saja, tidak akan cukup untuk menunjukkan kekuatan hebat ... Pangeran Hao.

***

Setelah memasuki kamar utama, Pei Qian Hao menurunkan Su Xi-er di atas ranjang, mengangkat alis selagi menatapnya. "Wang Fei, apa yang harus kita lakukan berikutnya?"

Petunjuknya sudah sangat mencolok. Aku bodoh kalau aku tidak memahami apa maksudnya. Su Xi-er segera duduk tegak. "Aku mau minum sup polong teratai; aku akan pergi ke aula utama untuk menunggu Ruo Yuan dan Hong Li membawakannya kemari."

"Mereka baru saja mempersiapkannya, jadi akan butuh waktu sebelum mereka selesai. Kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang lain?" Tepat setelah ia mengatakan itu, sosok jangkungnya pun menekan ke bawah, menjepit tangan Su Xi-er di atas kepalanya.

Jejak ciuman pun menghujani dan menutupi mulutnya, menekan kata-kata yang hendak diucapkannya. Lidahnya menyelinap masuk ke dalam mulutnya dan membelitnya. Di bawah serangannya, Su Xi-er pun tak bisa menahan diri untuk mengangkat kakinya dan melingkarkannya di pinggang Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao terkekeh lembut. "Kau mengambil inisiatif."

Wajah Su Xi-er merona merah seketika selagi ia berusaha untuk menurunkan kakinya, tetapi pria itu sudah memegangi mereka. "Sekarang, Pangeran ini tidak akan membiarkanmu mundur."

Suhu ruangannya pun melonjak, dan lantainya langsung dipenuhi dengan jubah mereka. Apabila ada orang di luar, mereka juga bisa mendengar suara derit kerangka tempat tidur yang kokoh.

Setelah beberapa lama, Ruo Yuan dan Hong Li sampai di luar halaman utama membawa sup polong teratai. Sudah begitu lama; Wang Fei seharusnya sudah kembali ke halaman utama. Namun, tepat setelah mereka memasuki halaman utama, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Semestinya ada pengawal di sekitar karena itu tengah hari, tetapi bagaimana bisa tidak ada orang di sini?

Ruo Yuan kebingungan, dan tanpa sadar, berhenti untuk bertanya. "Wang Fei tidak ada di halaman utama, kan? Terlalu sunyi di sini."

"Ia sudah pasti tidak berada di taman belakang, dan kita juga sudah memeriksa bahwa tidak ada orang di aula utama. Harusnya ia berada di sini. Pangeran Hao masih belum kembali dari istana. Ayo pergi." Hong Li menariknya bersama sewaktu mereka berjalan masuk.

Mereka melihat tidak ada siapa-siapa di aula halaman utama, dan karena itu menyimpulkan bahwa ia mungkin berada di kamar utama di belakang. Oleh sebab itu, mereka berdua pun berjalan mendekat.

Tepat saat mereka sampai di pintu kamar bagian luar, serangkaian suara malu-malu pun sampai ke telinga mereka, menyebabkan mereka langsung tersipu.

Hong Li menarik-narik Ruo Yuan yang bengong dan berbisik, "Cepat pergi."

Ekspresi Ruo Yuan kembali normal, dan ia langsung mengikuti Hong Li saat mereka bergegas pergi. Hanya setelah mereka sampai di aula halaman utama, barulah jantung mereka yang berdebar-debar jadi tenang.

"Segala sesuatunya pasti akan sering memanas di antara pasangan yang baru menikah. Kita harus lebih memerhatikannya saat kita melayani Wang Fei di masa depan." Hong Li menepuk-nepuk dadanya selagi ia menasihati Ruo Yuan, yang mengangguk setuju dengan cepat.

"Pangeran Hao pasti tidak akan senang jika ia mengetahuinya. Kita harus berhati-hati."

Dengan demikian, mereka berdua pun tertinggal menunggu di aula utama hingga sup polong teratainya jadi dingin. Mereka hanya bisa kembali ke halaman belakang untuk menghangatkannya lagi sebelum membawakannya kembali.

Kedua kalinya mereka datang, wajah mereka penuh kewaspadaan selagi berjalan dengan hati-hati ke aula utama. Hanya ketika mereka melihat Su Xi-er duduk di kursi atas, barulah mereka akhirnya merasa lega.

Ruo Yuan dan Hong Li membungkuk. "Wang Fei, sup polong teratainya di sini."

Tepat sewaktu ucapan itu meninggalkan mulut mereka, satu tangan besar pun dengan cekatan mengambil mangkuk itu.

Ruo Yuan dan Hong Li menyaksikan sewaktu Pei Qian Hao membawa sesendok sup itu ke bibirnya sebelum meniupnya dan menyuapi Su Xi-er. Gerakan terlatihnya membuatnya jelas bahwa ia sering melakukan ini. Tingkat kasih sayangnya ini sudah cukup untuk membuat orang terkejut lagi!

Pei Qian Hao menoleh ke arah mereka berdua yang masih bengong. "Kalian boleh mundur."

Suara dinginnya menyebabkan mereka terperanjat, tetapi mereka membungkuk dengan cepat. "Hamba akan undur diri." Lalu mereka pun memutar tumitnya dan bergegas pergi.

Su Xi-er menatap Pei Qian Hao. "Pinggangku sakit."

Pei Qian Hao langsung jadi cemas. "Bagian pinggangmu yang mana yang sakit?" Tangannya dengan cepat menjelajah ke bagian tubuhnya yang disebutkan sebelumnya selagi ia bertanya.

"Berhenti menyiksaku dan pinggangnya tidak akan sakit lagi."

Pei Qian Hao berhenti menggerakkan tangannya dan menundukkan kepala untuk menatapnya. "Pangeran ini akan menginstruksikan Mei Jin Xiu agar menyiapkan beberapa obat-obatan untuk menutrisi tubuhmu. Aku akan memerhatikannya selama periode waktu ini." Sikapnya tiba-tiba jadi serius karena Su Xi-er sudah mengatakan bahwa itu menyakitkan.

Su Xi-er merasa agak tidak enak dan enggan setelah melihat bagaimana ia bersikap. Ia masih muda dan gagah, sekaligus baru mengalami sesuatu yang baru. Hal yang wajar jika ia sedikit kesulitan menahan diri, tetapi bagaimana aku bisa menahannya berkali-kali dalam sehari?

Karenanya, ia pun tersenyum padanya. "Bagaimana kalau kita berdua mundur selangkah? Tidak lebih dari dua kali sehari, ya?"

"Sesuai dengan keinginanmu." Pei Qian Hao menerimanya dan menyuapi sesendok sup lagi ke bibirnya.

Su Xi-er membuka bibirnya dan meminum sup itu sambil tersenyum, merasa itu sangat lezat.

***

Kontras dengan atmosfer yang hangat itu, lima ratus kilometer jauhnya dari ibu kota, Xie Yun berekspresi bak badai tanpa adanya sisa-sisa kelembutannya yang biasa. Seorang jenderal bawahannya meninggal, banyak prajurit yang tewas, dan masih ada yang lainnya yang menghilang.

Ini sudah memberikan pukulan yang besar bagiku, dan itu semua karena Pei Qian Hao! Metodenya terlalu kejam! Aku baru saja menyelesaikan masalah ini ketika salah satu bawahanku datang untuk melaporkan bahwa Ibu Suri sudah menghilang dari kuil. Di atas semua ini, Pangeran Yun bukan hanya gagal menculik Su Xi-er, tetapi bahkan kehilangan nyawanya selama prosesnya!

Senyum mengejek terbentuk di sudut bibir Xie Yun. Aku sudah memandang tinggi Yun Ruo Feng.

 

Continue reading CTF - Chapter 440

CTF - Chapter 439

Consort of A Thousand Faces

Chapter 439 : Sebenarnya Mengetahui


Hari berikutnya, Pei Qian Hao dan Su Xi-er bangun dan sarapan bersama sebelum ia pergi untuk menghadiri pertemuan mahkamah pagi. Karena Pei Qian Hao melakukan itu, Su Xi-er pun berkeliling secara acak di kediaman bersama Ruo Yuan dan Hong Li di sisinya.

Ruo Yuan menunjuk ke kerimbunan pepohonan di kejauhan. "Setelah mengamati dengan cermat, aku menyadari bahwa tanaman di kediaman sangat berbeda."

Su Xi-er berminat. "Beritahu kami, apa maksudmu dengan berbeda?"

"Lihat, sudah musim dingin, tetapi sepetak pepohonan itu masih hijau. Pepohonan ini pastinya tipe yang tetap subur sepanjang musim. Bahkan ada bermacam-macam bunga berwarna-warni yang akan mekar di taman belakang!" Ruo Yuan menjadi semakin bersemangat sewaktu ia menggambarkan mereka. Kita masih bisa melihat pemandangan semenakjubkan ini di musim dingin!

Hong Li tertawa. "Pepohonan yang kau sebutkan adalah holly Cina—mereka tetap hidup sepanjang tahun. Sedangkan bunganya, mereka semua berbeda warna, tetapi semuanya adalah bunga yang sama: bunga prem. Banyak penyair yang mengarang puisi berdasarkan bunga-bunga ini. Mereka tidak takut pada angin dingin yang keras, mekar dengan bangganya dan pantang menyerah."

(T/N: contoh bunganya.)


 

"Hong Li, kau adalah seorang ahli yang memiliki kemampuan tersembunyi; kau sebenarnya tahu sangat banyak!" Ruo Yuan tersenyum, wajahnya penuh kekaguman.

Su Xi-er diam-diam mengamati pemandangan di depannya. Hong Li berasal dari keluarga terpelajar sebelum ia masuk istana, jadi tidak mengherankan kalau ia banyak membaca. Sayang sekali, keluarganya merosot hingga ke titik dimana ia dipaksa masuk istana. Sedangkan untuk orang tuanya, aku takutnya mereka tidak ada lagi di dunia ini. Kalau tidak, mengapa Hong Li tidak mencari mereka saat ia diizinkan keluar?

"Mengapa kita tidak pergi ke taman belakang untuk melihat-lihat?" Ruo Yuan tiba-tiba mengusulkan. Aku benar-benar ingin melihat bunga premnya lagi.

Su Xi-er mengangguk. "Baiklah, kalau begitu, kita akan pergi sekarang."

Mereka bertiga dengan segera sampai di taman belakang, mengagumi pemandangannya.

Tanpa memerhatikan waktunya, ketiganya masih di taman belakang saat Pei Qian Hao kembali dari pertemuan mahkamah. Ia tidak menemukan Su Xi-er di aula utama, tetapi sebelum ia bisa pergi jauh, seorang pengawal mendatanginya untuk memberitahukannya, "Pangeran Hao, Wang Fei sedang mengagumi bunga prem di taman belakang."

Pei Qian Hao mengangguk dan berbalik menuju ke arah taman belakang. Ia baru saja berjalan sebentar ketika ia melihat Feng Chang Qing yang mengenakan jubah birunya, juga menuju ke jalan yang sama.

Mendengarkan langkah kaki di belakangnya, Feng Chang Qing langsung berbalik, dadanya menegang setelah melihat Pei Qian Hao. Mungkinkah Pangeran Hao mencurigai sesuatu? Namun, ucapan Pei Qian Hao selanjutnya membuatnya membeku di jalannya.

"Feng Chang Qing, Pangeran ini sudah mengetahui tentang identitasmu; seorang bawahan Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang terdahulu. Kau sangat setia, bahkan kehilangan penampilan tampanmu demi dirinya." Pei Qian Hao berbicara selagi ia menghampiri Feng Chang Qing, akhirnya berhenti tiga langkah jauhnya dari orang itu.

"Dikarenakan kesetiaanmu terhadap majikanmu, makanya Pangeran ini memerintahkanmu agar menjadi pengawal Wang Fei. Aku hanya bisa tenang jika itu adalah orang setia yang kukenal setia."

Tatapan Feng Chang Qing mendalam selagi ia memandangi Pei Qian Hao. Tiba-tiba mengatakan hal semacam ini ... mungkinkah ia sudah mengetahui identitas Putri Pertama Kekaisaran?

"Pangeran ini sudah mengetahui semua masalah tentang Wang Fei. Apa kau sedang menuju ke taman belakang karena ada sesuatu yang harus kau laporkan?"

Feng Chang Qing tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tenang setelah tersadar dari keterkejutannya.

Pei Qian Hao memuji Feng Chang Qing dalam hati. Aku sudah mengatakan begitu banyak, tetapi ia masih mengamati diam-diam dan menutup mulutnya rapat-rapat. Tak hanya ia mahir dalam keterampilan tempur, kehebatannya dalam florikultura juga salah satu yang terbaik. Aku harus mengakui bahwa bawahan setia istriku sangat hebat.

Untuk menilai seorang majikan, orang cukup melihat bawahan mereka. Kekuatan tangguh Ning Ru Lan tercerminkan dalam kemampuan Feng Chang Qing sendiri.

Setelah beberapa saat, Feng Chang Qing akhirnya bersedia membuka mulut. Ia membungkuk pada Pei Qian Hao sebelum berkata, "Pangeran Hao, bahkan jika Anda sudah mengetahui tentang identitas Putri Pertama Kekaisaran, bawahan ini tetap tidak bisa memberitahukan Anda apa yang akan aku laporkan. Aku hanya boleh memberitahukan Putri Pertama Kekaisaran. Jika Anda ingin mengetahuinya, Anda bisa bertanya padanya."

Lancang sekali! Kilat berbahaya muncul di mata Pei Qian Hao, tetapi ia segera menyingkirkannya. "Pergilah duluan ke taman belakang. Pangeran ini akan pergi sebentar lagi."

"Terima kasih banyak, Pangeran Hao." Feng Chang Qing membungkuk lagi sebelum berbalik taman belakang."

Pei Qian Hao menyaksikan kepergian cepat Feng Chang Qing. Seorang majikan yang berani menghasilkan bawahan yang berani. Karakter Feng Chang Qing lumayan bagus; tidak hanya ia teliti, ia juga hanya setia pada Su Xi-er. Tipe orang seperti ini mengingatkanku pada bawahan Pangeran Yun, Qin Ling.

***

Tepat saat Feng Chang Qing sampai di pintu masuk taman belakang, ia mendengar suara tawa beberapa wanita. Setelah berbelok di tikungan, ia melihat Ruo Yuan dan Hong Li sedang tertawa terbahak-bahak sedangkan Su Xi-er tersenyum tipis selagi ia memerhatikan mereka dari samping.

Ia dapat membedakan suasana hati Su Xi-er yang bagus. Semenjak Putri Pertama Kekaisaran menikahi Pangeran Hao, selalu ada senyuman di wajahnya, meski kadang samar-samar.

Mendengar langkah kaki, Su Xi-er menoleh dan melihat Feng Chang Qing. Mungkin ada sesuatu yang harus dilaporkannya. Karena itulah, ia membubarkan Ruo Yuan dan Hong Li dengan menyuruh mereka untuk menyiapkan sup polong teratai.

Hanya setelah mereka berdua meninggalkan halaman belakang, barulah Feng Chang Qing bicara. "Putri Pertama Kekaisaran, Pangeran Hao telah mengetahui tentang identitas Anda."

Su Xi-er mengangguk. "Mmm, aku tidak memberitahukan padamu tentang masalah ini." Meskipun ia mengetahui soal itu, aku masih bisa merasakan cintanya yang dalam dan intens untukku.

"Dengan kematian Pangeran Yun, Yang Mulia hanya perlu menstabilkan mahkamah sebelum ia dapat benar-benar menggenggam kekuasaan kekaisaran. Bawahan lama Anda dari Nan Zhao sudah mengirimkan surat, menanyakan apa langkah kita selanjutnya."

Pandangan Su Xi-er jadi menjauh selagi ia terpikirkan Ning Lian Chen yang berada jauh di Nan Zhao. "Bawahan-bawahan lama di Nan Zhao harus membantu Lian Chen dengan seluruh kekuatan mereka. Ingatlah untuk diam-diam melatih pasukan dan mengelola bisnis."

"Apa yang harus kita lakukan dengan mereka yang mengikuti kita ke Bei Min? Terus menangani bisnis?" tanya Feng Chang Qing.

"Meski jika Yun Ruo Feng sudah mati, bawahan ini masih berguna. Bahkan jika segala sesuatunya stabil sekarang, bukan berarti bahwa kedamaian akan bertahan selamanya. Kita tidak boleh menurunkan kewaspadaan kita."

"Bawahan ini mematuhi perintah."

Melihat ekspresi seriusnya, Su Xi-er tidak tahan untuk berkomentar, "Kau sudah melewati dua puluh tahun, kan? Jika ada gadis mana saja yang kau sukai, ingatlah untuk memberitahuku."

Feng Chang Qing tertegun sejenak sebelum ia menjawab dengan cepat, "Bawahan ini tidak terburu-buru untuk menikah." Selain itu, penampilanku ini cukup untuk menakuti siapa saja.

"Yu Xiao unggul dalam tumbuhan dan ramuan aneh, sementara Mei Jin Xiu dengan rajin mempelajari keterampilan medis Keluarga Mei. Dengan mereka berdua yang bekerja sama, aku yakin kalau penampilanmu dapat dipulihkan." Wajah Su Xi-er penuh dengan tekad. Apabila kolaborasi mereka masih tidak dapat memulihkan penampilan Feng Chang Qing, aku akan memikirkan cara lain.

"Putri Pertama Kekaisaran, bawahan ini telah menyusahkan Anda. Terima kasih banyak." Feng Chang Qing memahami karakternya, dan mengatahui bahwa ia adalah orang yang tidak akan terbujuk begitu ia menetapkan pikirannya. Namun. Ia juga mengetahui bahwa luka-lukanya terlalu dalam untuk bekas luka di wajahnya dapat memudar.

"Feng Chang Qing, tidak tepat bagimu untuk sendirian. Harapanku adalah agar bawahanku dapat memiliki sebuah keluarga, dan menghabiskan hari-harinya dengan bahagia." Su Xi-er mengucapkan setiap katanya.

Pei Qian Hao kebetulan mendengar ucapannya sewaktu ia memasuki taman belakang. "Ia benar; kau seharusnya memiliki keluargamu sendiri, dan menghabiskan hari-harimu dengan bahagia."

Feng Chang Qing berbalik dan membungkuk dengan hormat. "Bawahan ini memberi hormat kepada Pangeran Hao."

Pei Qian Hao melambaikan tangannya dan memberi sinyal agar ia bangkit. "Gadis mana yang kau sukai?"

"Bawahan ini tidak mempunyai wanita yang kusukai. Tidak perlu terburu-buru dalam urusan ini." Feng Chang Qing tidak menduga seorang pria menanyakannya sesuatu seperti itu.

Su Xi-er menatap Pei Qian Hao. "Kau sudah hampir selesai dengan ladang bunganya, kan?"

"Persiapan untuk tahapan awal sudah selesai. Kita hanya perlu menunggu hingga musim semi berikutnya." Pei Qian Hao menjawab selagi ia menyelipkan helaian rambut yang lepas ke belakang telinganya.

Su Xi-er mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Feng Chang Qing, carilah waktu untuk berjalan-jalan di luar. Siapa tahu kau akan menemukan seorang gadis yang kau sukai?"

 

Continue reading CTF - Chapter 439

CTF - Chapter 438

Consort of A Thousand Faces

Chapter 438 : Sudah Mandi


Sesuai dugaan, Chu Ling Long tak lagi bicara, hanya fokus pada makanannya dengan ekspresi cemberut. Jelas bahwa ia tidak dalam suasana hati untuk mendengarkan musik yang meriah atau menonton penari yang bergoyang-goyang.

Perjamuannya sangat meriah saat para menteri terus memberi selamat dan bersulang dengan Pei Qian Hao, sebuah gestur yang ia balas dengan senang hati.

Baru setelah pukul sembilan malam, perayaan itu perlahan berakhir. Menerima tatapan penuh makna dari Pei Qian Hao, Situ Lin pun berdiri dan mengumumkan akhir perjamuan.

Pei Qian Hao membantu Su Xi-er bangun sebelum keduanya menjalin tangan mereka, mengucapkan selamat malam pada semua orang sebelum akhirnya meninggalkan halaman.

Setelah itu, berbagai utusan dan pejabat perlahan-lahan keluar dari halaman. Demi menjaga citranya, Situ Lin adalah yang terakhir pergi. Hanya ketika ia kembali ke Istana Naga Langit barulah ia mendapatkan kembali temperamen aslinya. Gedebuk! Ia sudah melompat ke arah Ranjang Naga-nya, dan dengan gembira mengusap-usap selimutnya. "Ranjang kesayanganku, Kaisar ini akhirnya datang untukmu. Hari ini sangat melelahkan."

Tetapi, segera setelah ucapan itu meninggalkan mulutnya, ia mendengar suara tawa seorang wanita dari belakangnya, membuat dadanya menegang. Oh tidak, itu kedengaran seperti Bibi Kekaisaran! Tetapi, bukankah ia sudah pergi? Jika ia ada di sini, maka itu artinya Paman Kekaisaran juga!

Situ Lin langsung merangkak naik dari tempat tidur, merasakan tatapan dingin terlempar ke arahnya segera setelah ia berbalik. Menepuk-nepuk jubah naganya, ia menundukkan kepalanya dengan cepat. "Paman Kekaisaran, mengapa kau tiba-tiba datang ke Istana Naga Langit selarut ini? Aku bahkan belum membuat persiapan yang layak."

Pei Qian Hao menjawab dengan suara rendah. "Penampilanmu di perjamuan malam ini lumayan bagus; kau menampilkan banyak aura kaisar yang mengesankan. Pangeran ini secara khusus datang kemari untuk memujimu, tetapi aku tidak menyangka ...."

Setelah tertangkap basah, mata Situ Lin pun dipenuhi penyesalan. Tidak seharusnya aku begitu ceroboh dan langsung menerjang ke atas ranjangku segera setelah aku berlari masuk ke aula bagian dalam. Apakah aku akan dihukum?

Su Xi-er berjalan maju dan tersenyum. "Yang Mulia semakin kelihatan seperti seorang kaisar. Paman Kekaisaranmu dan aku awalnya sudah menetap di kereta kuda, tetapi ia secara khusus turun dan berjalan ke Istana Naga Langit untuk mengunjungimu. Bahkan jika kau berbaring di tempat tidur, Paman Kekaisaranmu tetap merasa senang dalam hatinya. Semua orang lelah, dan seorang kaisar pun tidak ada bedanya."

Situ Lin sangat tersentuh, pinggiran matanya memerah selagi ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Pei Qian Hao. "Paman Kekaisaran, apakah kau benar-benar senang?" Apakah ia benar-benar senang untukku dari lubuk hatinya?

"Tentu saja Pangeran ini senang karena Yang Mulia telah berkembang. Hanya saja, pastikan untuk memeriksa apakah tidak ada orang di sekitar di masa depan sebelum kau beristirahat seperti yang kau lakukan barusan ini. Apa kau mengerti?"

Situ Lin mengangguk berulang kali. "Aku mengerti sekarang. Paman Kekaisaran, kau sedang mengajariku untuk mengamati situasinya sebelum aku bertindak. Apakah kalian berdua akan tinggal di Istana Naga Langit malam ini?"

"Pangeran ini hanya datang untuk mengunjungimu. Kami akan kembali ke Kediaman Pangeran Hao." Pei Qian Hao menggesturkan pada Su Xi-er. "Kemari."

Su Xi-er menepuk pundak Situ Lin. "Ingatlah untuk melakukannya selangkah demi selangkah, dan jangan terlalu gugup." Kemudian ia pun berbalik dan berjalan ke sisi Pei Qian Hao.

Memerhatikan sosok mereka yang berlalu, Situ Lin dapat sangat merasakan kebahagiaan dalam hati Paman Kekaisarannya. Paman Kekaisaran yang dulu akan selalu sendirian, keluar masuk istana seorang diri, tetapi kini, ada seorang wanita berbaju merah di sampingnya.

Dengan seseorang yang menemani Paman Kekaisaran, ia tidak akan merasa kesepian lagi. Sekarang, tergantung padaku untuk bekerja keras supaya Paman Kekaisaran bisa berhenti mencemaskanku. Barulah kemudian ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Bibi Kekaisaran dengan tenang.

Senyuman Situ Lin jadi semakin lebar, semakin ia memikirkannya. Hanya ketika ia mendengar suara dayang istana, barulah ia kembali tersadar. Ia dengan cepat memasang ekspresi serius sebelum memerintahkannya untuk membawakan sebaskom air untuknya membersihkan diri.

***

Sementara itu, kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao berjalan dengan cepat menyusuri jalan yang hampir ditinggalkan.

Su Xi-er duduk di pelukan Pei Qian Hao dan bersandar di dadanya. Lengan besarnya melingkari tubuhnya, dan sabuk jubah luarannya sudah terlepas sewaktu ia menyelimuti Su Xi-er.

Bahkan jika angin dingin di luar kereta bertiup, ia dapat menahannya dengan tubuhnya yang kuat. Merasa sangat hangat, sudut mulut Su Xi-er pun tanpa sadar terangkat. Akhirnya, ia memejamkan matanya dan tertidur dalam dekapannya.

Ia masih belum terbangun ketika mereka sampai di Kediaman Pangeran Hao, jadi Pei Qian Hao dengan hati-hati menggendongnya selagi ia turun dari kereta.

Para pengawal di pintu masuk sudah akan memberikan hormat mereka saat Pei Qian Hao memberi sinyal agak mereka diam, menggendong Su Xi-er ke halaman utama.

Para pengawal pun bertukar pandang satu sama lain, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun, sudah lama terbiasa akan pemandangan begini. Di dunia ini, hanya Hao Wang Fei yang bisa membuat Pangeran Hao bertingkah seperti itu.

Pei Qian Hao memberi perhatian ekstra selagi ia menurunkan Su Xi-er ke ranjang dengan lembut. Kemudian ia mendudukkan dirinya di pinggir sebelum pelan-pelan membantunya melepaskan gaunnya.

Su Xi-er mengerang dalam tidurnya dan menepis tangannya, berbalik ke sisi lain selagi ia terus tidur. Penampilannya saat ini nakal dan menggemaskan bagi Pei Qian Hao.

Terlepas dari betapa tenangnya seseorang biasanya, mereka akan bertingkah seperti anak kecil di depan orang yang mereka cintai.

Pei Qian Hao terkekeh pelan dan berbisik, "Bagaimana kau akan tidur tanpa melepaskan gaunmu?" Lalu, ia mengulurkan tangan untuk melonggarkan pakaiannya.

Su Xi-er menggerutu dalam tidurnya, kesal karena merasa seseorang menyentuhnya. Mencoba lepas dari penyerang yang tidak diketahuinya sesegera mungkin, ia pun berbalik. Ini membantu Pei Qian Hao dalam melepaskan gaunnya, tetapi juga memikatnya lebih jauh.

Namun, Pei Qian Hao tidak tega mengganggu istirahat damai Su Xi-er. Pada akhirnya, ia melepaskan jubah luarannya dan meletakkan mereka bersamaan dengan gaun luaran Su Xi-er di rak pakaian sebelum berbaring di sampingnya.

Saat itu, pukul satu pagi lewat sedikit, ketika Su Xi-er terbangun dengan mengantuk. Setelah mengingat bahwa ia masih belum membersihkan diri, ia pun langsung bangun, tetapi ia ditarik kembali oleh Pei Qian Hao sebelum ia bisa turun dari ranjang.

Baru bangun tidur, suaranya agak serak. "Kau pergi kemana?"

"Memanaskan air untuk membersihkan diri. Kau masih belum mandi juga, kan? Aku akan pergi dan mengambilkan air."

Pei Qian Hao duduk tegak dan memeluknya, segala tanda kantuk menghilang dari matanya. "Ayo pergi bersama." Ia melepaskannya dan turun dari ranjang untuk menyerahkan pakaian luarannya pada Su Xi-er.

Su Xi-er mengambilnya dan memakainya sebelum mereka berdua menuju ke belakang halaman utama.

Setelah menghabiskan satu jam, mereka berhasil memanaskan air dalam jumlah besar, tetapi Su Xi-er akhirnya mengetahui bahwa Pei Qian Hao bukannya mencari mandi yang biasa.

Ada cukup banyak air yang dituangkan ke dalam bak mandi kayu, dan suhunya sudah disesuaikan sebelum mereka menambahkan bubuk bunga Ling Rui. Su Xi-er berdiri di depan bak mandi kayu itu sementara ia memerhatikan Pei Qian Hao melepaskan pakaian luarannya.

Setelah Pei Qian Hao melepaskan jubah luarannya, ia menatapnya. "Pangeran ini akan membantu menelanjangimu nanti."

'Membersihkan diri' yang dimaksudnya adalah untuk mandi bersama. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena terlalu naif dan tidak banyak berpikir. Kami bahkan telah melakukan tindakan yang paling intim, jadi mandi bersama di halaman kami sendiri, tidak bisa dianggap berlebihan.

Aku hanya takut kalau ia akan terlalu bersemangat dan akan berakhir menyiksaku. Su Xi-er menatapnya dengan waspada. "Sudah lewat pukul satu pagi. Kalau kau ...."

"Tidak apa-apa, kau bisa bangun telat besok." Pei Qian Hao sudah melepaskan celana dalamannya, selagi ia dengan cepat berjalan ke arahnya. "Airnya akan jadi dingin. Apa kau berencana untuk sakit?" Kemudian, ia pun mengulurkan tangannya, dan gaun merah Su Xi-er jatuh ke lantai, dengan cepat diikuti oleh pakaian dan celana dalamannya.

Pei Qian Hao menggendongnya dan dengan hati-hati memasukkannya ke dalam bak mandi kayu itu sebelum melangkah masuk dan memeluknya dari belakang.

Mereka berdua hanya mandi pada awalnya, tetapi atmosfernya jadi semakin memanas seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya, tangan Su Xi-er menempel di sisi bak mandi kayu sementara air di dalamnya bergoyang dengan keras, dan ruangan itu diliputi kehangatan.

Satu jam setelahnya, Pei Qian Hao melepaskannya dengan puas dan membantu Su Xi-er menggosok tubuhnya lagi. Akhirnya, ia membantu Su Xi-er mengenakan pakaian sebelum berpakaian sendiri. Tak lama kemudian, Pei Qian Hao pun menggendong Su Xi-er kembali ke kamar utama.

 

Continue reading CTF - Chapter 438

CTF - Chapter 437

Consort of A Thousand Faces

Chapter 437 : Rubah Betina yang Licik


Semua orang menarik napas dingin dengan kaget lagi sementara pandangan mereka beralih antara Chu Ling Long dan Pei Qian Hao. Bukannya Pangeran Hao bersembunyi di belakang wanitanya, tetapi ia hanya tidak sudi untuk mengambil tindakan! Para menteri dari Bei Min bersorak dalam hati. Putra Mahkota Chu berbicara tanpa menahan diri di wilayah Bei Min. Sudah waktunya untuk menunjukkan padanya, siapakah bosnya! Tahu rasa dia karena mencoba buat onar dan meremehkan Bei Min!

Oleh sebab itu, tatapan semuanya pun sekali lagi tertuju pada Su Xi-er. Kita bisa mengandalkan Hao Wang Fei untuk memadamkan api kearoganan Putra Mahkota Chu! Dalam sekejap, para pejabat dari Bei Min mulai benar-benar mengapresiasi Su Xi-er. Walaupun ia adalah seorang dayang, auranya ini sangat cocok dengan Pangeran Hao!

Meskipun bingung tentang bagaimanakah seorang dayang mampu mengembangkan sikap semacam itu hanya dalam beberapa bulan, semua orang menyetujui bahwa itu dikarenakan keberadaan dan aura Pangeran Hao yang sangat kuat. Setelah bersama-sama dengannya setiap hari, tak dapat dihindari apabila Hao Wang Fei akan berakhir dengan cara yang sama.

Bukan seolah ia juga sangat sombong; keangkuhan ini muncul dari kepercayaan diri!

Tidak lama sebelum para pengawal kembali membawa banyak guci anggur, dan para dayang istana mengisi cangkir anggur yang besar itu.

Su Xi-er mengangkat cangkir anggurnya lebih cepat dari Chu Ling Long dan tersenyum. "Putra Mahkota Chu, aku ingin mengungkapkan rasa terima kasihku padamu karena berpergian sejauh ini untuk merayakan pernikahan Pangeran Hao dan diriku. Aku bersedia menerima hasilnya, terlepas dari apa pun yang terjadi, sehingga aku berharap agar kau tidak akan menyulitkanku juga, Putra Mahkota Chu."

Kemudian ia menenggak isi cangkir anggur besarnya sekali teguk. Cangkir besar itu setara dengan tiga cangkir biasa, dan sanggup melakukan hal semacam itu sudah cukup untuk membuktikan nilainya. Hampir tidak ada wanita di Bei Min yang memiliki semangat seperti ini!

Selain itu, ia mengandalkan alasan untuk membenarkan ucapannya. Setelah Wang Fei bersikap begitu murah hati, Putra Mahkota Chu hanya akan tampak seperti pecundang picik dan menjengkelkan apabila ia bersikeras mendorong masalah ini!

Chu Ling Long tidak punya pilihan selain mengakui bahwa Su Xi-er sangat pandai bicara, dengan setiap kata-katanya mengandung makna yang dalam. Sesuai dugaan, burung-burung berbulu berkumpul bersama. Rubah berpengalaman dan cerdik, Pei Qian Hao, telah menemukan rubah betina yang sama liciknya.

Dengan mereka berdua yang bersatu, aku mungkin sekali akan berhadapan dengan kematian jika aku tidak berhati-hati. Chu Ling Long langsung menyembunyikan pemikirannya di balik tampilan luar, dan tidak berani bertindak gegabah.

Ia langsung mengambil cangkir anggur yang disajikan oleh dayang istana di belakangnya dan mengisinya, dengan hormat membungkuk ke orang banyak sebelum menenggak isinya.

Ia baru saja selesai meminumnya ketika ia mendengar tepukan tangan yang nyaring, dan suara lambat dan lembut Su Xi-er pun memenuhi udara lagi. "Kau benar-benar bisa menahan alkoholmu dengan baik, Putra Mahkota Chu. Isi lagi!"

Dayang istana itu mematuhi perintahnya dan segera menuangkan anggur untuk Chu Ling Long.

Untuk menyelamatkan reputasinya, ia menenggaknya dalam beberapa tegukan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dayang istana di belakang Su Xi-er juga menuangkan secangkir lagi, membuat Wang Fei menghabiskannya secepat ia meminum yang pertama.

Wajah tersenyum Su Xi-er yang kemerah-merahan saat ini, memukau mereka yang hadir, dan para pemimpin suku asing pun tidak dapat menahan diri untuk tidak merasa tersentuh ketika perasaan hormat melonjak dalam hati mereka.

Pei Qian Hao sangat tidak senang sewaktu ia melihat rasa hormat mereka yang sangat jelas di wajah mereka, dan berpaling pada Su Xi-er yang sekarang ini memancarkan daya pikat dewasa dengan matanya yang sedikit menyipit.

Tidak jelas berapa banyak cangkir yang telah diminum Chu Ling Long ketika ia tiba-tiba merasa dirinya jadi agak pusing. Namun, saat ia melihat ke arah Su Xi-er, ia melihat kalau wajahnya sangat tenang. Aku ... tidak mungkin kalah, kan?

Dengan keterampilan pengamatannya yang tajam, Su Xi-er mendeteksi ada sesuatu yang tidak beres dengan Chu Ling Long, dan menurunkan cangkir anggurnya sambil tersenyum. "Bahkan, orang-orang yang sanggup menahan alkohol mereka dengan baik pun akan mabuk. Masih ada pertunjukan tarian dan opera yang harus kita nikmati selanjutnya, jadi kita jangan minum lagi. Akan tetapi ...."

Rasa ingin tahu semua orang pun terpancing mendengarkan kata terakhir. Kompetisinya masih belum selesai, dan rasanya tak ada dari mereka yang mabuk. Tidak ada hasilnya!

Di tengah kebingungan semuanya, Su Xi-er pun mengusulkan, "Putra Mahkota Chu, mari kita berputar-putar di tempat. Siapa pun yang bertahan paling lama akan menjadi pemenangnya."

Pada saat ini, Hua Zi Rong yang pendiam akhirnya menimpali. "Hao Wang Fei, kau telah mempertimbangkan semua detailnya. Usulanmu akan membuat semua orang tetap sadar sementara memungkinkan kami untuk membedakan siapakah yang memiliki toleransi alkohol yang lebih baik. Siapa pun yang berada dalam pengaruh alkohol akan jadi lebih pusing, atau bahkan pingsan setelah berputar-putar. Namun, ini tidak menguntungkan bagimu, Hao Wang Fei. Putra Mahkota Chu telah berlatih seni bela diri sejak masih kecil; berputar di tempat tidak ada apa-apa baginya."

Pei Qian Hao membalas, "Wang Fei sangat murah hati; ia tidak akan meributkan hal-hal kecil seperti itu."

Terganggu dengan ucapannya, Chu Ling Long melambaikan tangannya. "Pangeran ini akan mengimbanginya. Aku akan berputar sepuluh kali sebelum kau mulai. Bagaimana?"

Su Xi-er menerima usulannya. "Baiklah. Silakan dimulai, Putra Mahkota Chu."

Chu Ling Long menyapukan pandangannya ke seluruh penonton sebelum ia maju ke depan untuk berdiri di tengah lantai dan mulai berputar.

Jubah ungunya berkibar tertiup angin malam, memancarkan aura yang lebih intens dan memikat. Su Xi-er juga maju ke depan dan mulai berputar setelah Chu Ling Long menyelesaikan sepuluh putarannya.

Gerakan Su Xi-er sangat lembut saat ia berputar, dan gaun merahnya menari bersamanya, seperti bunga yang mekar dengan bangganya dan di tengah lautan ombak merah yang tertiup angin.

Penonton pun secara tak sadar tertarik selagi mereka menontonnya. Pantas saja Pangeran Hao memperlakukannya bagaikan harta karun. Pria mana yang tidak akan menyukai orang seluar biasa ini?

Situ Lin tersenyum begitu lebar hingga matanya hampir membentuk satu garis. Namun, ia langsung menghapusnya dari wajahnya ketika ia merasakan pandangan dingin Paman Kekaisarannya padanya. Aku harus menampilkan otoritas seorang Kaisar di depan semua orang.

Gerakan Su Xi-er menjadi semakin cepat, sedangkan Chu Ling Long sepertinya jadi melambat. Namun, ia tidak rela dikalahkan. Benar-benar tidak bisa diterima untuk kalah dari seorang wanita!

Pada saat ini, Su Xi-er sengaja berhenti dan tersenyum sewaktu ia menatap Chu Ling Long.

Mengira bahwa Su Xi-er telah berhenti bergerak karena ia pusing, dan sepenuhnya menyadari bahwa ia tidak tahan lebih lama lagi, Chu Ling Long langsung berhenti. Namun, ia berhenti begitu mendadak hingga ia tidak dapat mengendalikan pusat gravitasinya, menyebabkannya terhuyung beberapa langkah ke belakang.

Su Xi-er melihat ke arah penonton. "Putra Mahkota Chu tidak stabil dalam langkahnya. Siapakah yang dianggap sebagai pemenang babak ini?"

Semua menteri menjawab satu per satu, "Tentu saja Hao Wang Fei."

Di saat Chu Ling Long mendapatkan kembali keseimbangannya, ia menyadari bahwa ia telah ditipu! Su Xi-er sengaja membuat jebakan untukku dengan berhenti secara tiba-tiba! Rubah betina ini terlalu licik!

"Putra Mahkota Chu, orang harus berani kalah saat mereka berani bersaing." Su Xi-er tersenyum padanya sebelum berjalan kembali ke sisi Pei Qian Hao. Ia duduk dan mengedip padanya, seolah-olah ia sedang mengatakan, 'giliranmu untuk naik ke panggung'.

Memahami apa yang diisyaratkan Su Xi-er padanya, Pei Qian Hao pun berdiri. "Putra Mahkota Chu, tujuan dari perjamuan istana ini adalah untuk perayaan, jadi tidak baik untuk merusak nuansa harmonis yang kita miliki. Bahkan jika kau kalah, tidak ada dari yang hadir, yang akan menggosipkannya. Pelayan, kemari dan papah Putra Mahkota Chu kembali ke tempat duduknya."

Kata-kata 'kalah' dan 'papah' sangat mengganggu Chu Ling Long. Namun, terlepas dari kekalahannya, ia tidak bisa bilang apa-apa soal itu. Ia hanya bisa berjalan dengan cemberut kembali ke tempat duduknya sendiri, bahkan membuat Hua Zi Rong yang pendiam dengan banyak kegembiraan menari di matanya.

Ia sedang mengolok-olok diriku! Chu Ling Long menatap ke depan. Ini pertama kalinya aku mempermalukan diriku di depan semua orang.

Melihat bahwa Chu Ling Long, kurang lebihnya sudah menerima hukumannya, Situ Lin pun berbicara, "Semuanya, silakan makan sebanyak yang kalian suka untuk perayaan malam ini. Petugas Upacara, pergi dan sampaikan perintah agar tariannya dimulai."

Petugas Upacara langsung mengangguk, dan buru-buru berjalan ke samping panggung sebelum melambaikan tangannya. Segera, suara musik sutra dan bambu dapat terdengar, menciptakan suasana yang semarak saat diiringi gerak lincah para penarinya.

Pei Qian Hao menundukkan kepalanya dan berbisik pada Su Xi-er. "Apakah kepalamu sakit karena terlalu banyak minum?"

"Anggur sesedikit ini tidak termasuk banyak. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemas." Su Xi-er tersenyum selagi ia menjawab, mengambilkan beberapa hidangan untuknya.

"Minum anggur hanya akan membuat masalahnya jadi kacau. Kau tidak diizinkan untuk minum-minum di masa yang akan datang; ini satu-satunya pengecualian, apa kau mengerti?"

Su Xi-er menyeringai. "Baiklah. Lagipula, lihatlah bagaimana Putra Mahkota Chu sudah diam semenjak ia diberi pelajaran. Ia tidak akan berani berbicara lagi dalam waktu dekat."

Chu Ling Long menyadari interaksi antara mereka berdua. Pasangan suami-istri ini bersekongkol untuk berurusan denganku. Ini termasuk kekalahanku kali ini!

 

Continue reading CTF - Chapter 437

CTF - Chapter 436

Consort of A Thousand Faces

Chapter 436 : Langkah Tak Terduga dari Hao Wang Fei

Pria di dalam lukisan itu, helaian rambutnya tersebar di bahu, dan di tangannya ada sebuah payung kertas minyak. Dengan senyum tipis di bibirnya, aura yang memikat tampak terpancar dari lukisan tersebut. Meskipun senyum tipisnya sengaja tidak disorot, pesona dari sosok di lukisan itu memungkinkan orang untuk membedakan identitas mereka dengan sekali lihat—Putra Mahkota Chu.

(T/N : contoh payung kertas minyak.)



Sementara para menteri masih melongo, Guru Agung Kong-lah yang pertama kembali tersadar, berulang kali bertepuk tangan dan berseru dengan lantang, "Tampaknya seperti lukisan biasa, tetapi itu menggunakan teknik melemahkan profilnya dan menguatkan sikapnya; itu membuat orang langsung membedakan identitas orang tersebut. Hao Wang Fei, ini adalah lukisan yang bagus!"

Mata Chu Ling Long menggelap setelah mendengarkan pujian tiada akhir itu, pandangannya terpaku pada Su Xi-er.

Di lain pihak, Hua Zi Rong tiba-tiba tersenyum, merendahkan suaranya. "Putra Mahkota Chu, kau selalu menikmati tontonan begini, tetapi setiap kali kau berhadapan dengan Hao Wang Fei, kau pasti menderita kerugian."

Ekspresi Chu Ling Long memburuk, dan tatapannya beralih pada Hua Zi Rong. "Putra Mahkota ini menyadari bahwa penguasa Xi Liu mulai jadi lebih banyak bicara hari ini." Kemudian, ia mengangkat cangkir anggurnya dan berdiri. "Lukisannya dibuat dengan sangat baik. Karena kau sudah melukis Putra Mahkota ini, mengapa kau tidak menghadiahkan lukisan ini untukku?"

Suaranya jelas, dan sudut mulutnya terangkat sementara kilatan melintas di matanya.

Su Xi-er sudah berjalan ke sisi Pei Qian Hao, dan ia tersenyum selagi ia menjawab, "Putra Mahkota Chu, lukisan ini aslinya adalah hadiah untukku. Xiao Yuan Zi, segera berikan lukisan itu kepada pengawal pribadi Putra Mahkota Chu."

"Hamba mematuhi perintah." Xiao Yuan Zi pun membungkuk dengan tangan terlipat di depannya, kemudian berjalan ke halaman bersama dengan lukisan di tangannya.

Chu Ling Long tetap berdiri sewaktu ia bermain-main dengan cangkir anggurnya dan berkata, "Putra Mahkota ini bingung. Bagaimanakah Hao Wang Fei mengetahui bagaimana caranya melukis sedangkan ia awalnya adalah seorang dayang? Keahlian melukismu cukup bagus bahkan sampai-sampai Guru Agung Kong sangat memujimu, tetapi keterampilanmu tidak sesuai dengan identitasmu."

Semua menteri pun mengerutkan alis mereka. Perjamuan istana malam ini adalah untuk merayakan pernikahan Pangeran Hao; topik yang paling tabu adalah latar belakang Hao Wang Fei. Tetapi, Putra Mahkota Chu langsung mengutarakan pikirannya, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada Pangeran Hao.

Sementara semua orang tersesat dalam pikiran mereka, Su Xi-er hanya tersenyum, matanya melirik ke arah Pei Qian Hao sebelum suara jernihnya memecah konsentrasi semua orang.

"Aku tidak berpikir bahwa aku punya bakat untuk melukis, tetapi sepertinya aku salah. Tak perlu dikatakan bahwa aku punya seorang guru pribadi; orang yang pintar barangkali sudah menebak ini."

Tekanan yang disengaja dari kata-kata 'orang pintar' membuat reputasi Chu Ling Long jatuh lagi.

Chu Ling Long menyembunyikan tatapan dalam di matanya, dan mempertanyakan, "Jika aku boleh berani bertanya, siapakah yang Hao Wang Fei pilih sebagai guru pribadinya?"

Selagi semua orang masih tenggelam dalam kebingungan, Su Xi-er pun menjawab, "Guru yang terkenal itu ada di sini." Ia melirik Pei Qian Hao, suaranya lembut. "Pangeran Hao, kau sudah mengajariku bagaimana caranya melukis sejak lama. Apakah aku melakukan pekerjaan yang bagus barusan ini?"

Mulut semua orang mendadak menganga lebar tanpa memedulikan reputasi mereka, termasuk para menteri dari Bei Min. Apa yang sudah kita dengar?! Pangeran Hao sebenarnya bisa melukis?! Ia telah menyembunyikan fakta ini begitu dalam hingga bahkan kita saja tidak mengetahuinya!

Pei Qian Hao menatap Su Xi-er penuh makna, sudut mulutnya sedikit melengkung ke atas sewaktu ia berdiri. Di saat ia menghadap semua orang, ia sudah mendapatkan kembali watak dinginnya yang biasa. Biarpun tidak tampak marah, ekspresi seriusnya menuntut perhatian semua orang. "Pangeran ini memang orang yang mengajari Hao Wang Fei bagaimana cara melukis. Jika kalian ragu, Putra Mahkota Chu, jangan ragu untuk bertanya pada Pangeran ini."

Dengan jawaban Pei Qian Hao, Chu Ling Long tidak bisa lagi mencoba menggali lebih dalam. Semua orang punya batasan bawah mereka sendiri, dan selain itu, ini Bei Min. Terlepas dari betapa angkuhnya Chu Ling Long, ia tidak berani membuat keributan di kandang orang lain.

"Putra Mahkota ini terkesan dengan Hao Wang Fei karena cepat tanggap dan bisa belajar. Bahkan lebih dari itu, aku juga menghormati Pangeran Hao. Pangeran ini benar-benar terkesan, tidak hanya pemerintahan dan prestasi militermu, tetapi bahkan keterampilanmu dalam melukis. Tidak mengherankan jika Bei Min mulai menghargai literatur." Chu Ling Long mengangkat cangkir anggurnya. "Pangeran ini bersulang pada Pangeran Hao dan Hao Wang Fei." Ia meneguk isi cangkirnya.

Saat tokoh penting dari kerajaan lain mengajak bersulang, pihak penerima juga diharuskan untuk membalas gesturnya sebagai bentuk kesopanan.

Pei Qian Hao mengambil cangkir anggurnya, tetapi sebelum dayang istana di belakangnya dapat menuangkan apa-apa, guci anggurnya sudah diberikan pada Su Xi-er.

"Isi cangkirnya untuk Pangeran ini." Pei Qian Hao meletakkan cangkirnya di depan Su Xi-er, aura dinginnya sudah menghilang cukup signifikan.

Mengetahui bahwa ia ingin minum kali ini, Su Xi-er mengambil guci anggurnya dan menuangkannya untuknya.

"Pangeran ini bersulang dengan Putra Mahkota Chu." Pei Qian Hao langsung meneguk isinya.

Tatapan Chu Ling Long tertuju pada Su Xi-er. "Hao Wang Fei, apa kau tidak akan mengajak Putra Mahkota ini bersulang?"

Sebelum Su Xi-er dapat mengatakan apa-apa, Pei Qian Hao menawarkan diri, "Pangeran ini akan bersulang menggantikan Wang Fei." Ia mengangkat cangkir anggurnya ke depan Su Xi-er supaya ia dapat membantunya mengisinya lagi.

Namun, Su Xi-er menggelengkan kepalanya, dan menanyai Chu Ling Long. "Putra Mahkota Chu, apakah kau paling suka minum anggur?"

Meski tidak memahami alasan di balik pertanyaan itu, ia masih menjawab secara jujur, "Aku memang paling suka minum anggur. Apa, kau mau membandingkan toleransi alkohol dengan Putra Mahkota ini?"

Tawa kecil yang lembut pun lepas dari antara bibir Su Xi-er. "Putra Mahkota Chu, kau suka bercanda. Bagaimana bisa seorang pria dan wanita bersaing dalam hal seperti itu? Bahkan jika mereka mengatakan bahwa kau secantik perempuan, kau tetap tidak diperbolehkan untuk bersaing dengan wanita dalam hal-hal seperti itu."

Perkataannya yang terkesan sambil lalu meninggalkan rasa yang berbeda dalam hati orang lain. Hao Wang Fei sedang mengejek Putra Mahkota Chu karena penampilan femininnya!

Ekspresi Chu Ling Long penuh badai. Tidak bisa diterima! Ia bahkan tidak menyisakan sedikit pun muka untukku di depan para pejabat! Jika ia bersikeras bersikap arogan, maka tidak masalah kalau aku juga bertindak secara sengaja.

Karenanya, ia hanya menyatakan, "Putra Mahkota ini tidak peduli tentang bagaimana orang lain bergosip. Aku akan bersaing denganmu dalam hal kapasitas alkohol malam ini. Pelayan, kemari dan isi cangkir Pangeran ini."

Dayang istana di belakangnya secara sadar maju ke depan untuk mengikuti perintahnya.

Karena perang sudah diumumkan padanya, ia akan tampak picik apabila ia tidak menerimanya. Meskipun Bei Min mulai menghargai literatur, tak dapat dipungkiri bahwa telah menekankan militer untuk sebagian besar sejarahnya, sehingga banyak pria yang penuh dengan semangat seni bela diri. Beberapa wanita Bei Min juga terpengaruh oleh semangat seperti ini, dan lebih kuat ketimbang wanita dari kerajaan lainnya.

Setelah memahami niat Su Xi-er, Pei Qian Hao langsung menatapnya dan memelankan suaranya. "Pangeran ini tidak mengizinkanmu untuk minum anggur."

"Putra Mahkota Chu terlalu arogan, dan aku harus menghabisi sikap sombongnya itu. Jangan cemaskan aku; toleransi alkoholku sangat tinggi."

Sebagai warga Nan Zhao, dan tadinya Putri Pertama Kekaisaran pula, toleransi alkoholku sudah biasa. Orang harus mengetahui bahwa Nan Zhao adalah sebuah kerajaan yang terkenal untuk anggurnya. Putra Mahkota Chu benar-benar percaya diri. Tunggu hingga ia melihat bagaimana aku akan memberinya pelajaran!

Pei Qian Hao menyadari kilat halus di mata Su Xi-er, kemudian berbalik untuk melihat ke ekspresi tak tahu apa-apa Chu Ling Long. Ck, ck, Wang Fei akan bergerak, tetapi Putra Mahkota Chu masih sangat sombong saat ini.

"Dengan semangat yang begitu tinggi, mana mungkin aku menolak ajakan Putra Mahkota Chu? Cangkir anggurnya terlalu kecil; aku tidak bisa minum sampai puas. Pelayan, kemari dan ganti dengan yang lebih besar."

Mata semua orang nyaris jatuh dari rongganya. Apakah Wang Fei kelewat sombong atau ia benar-benar bisa menahan alkoholnya dengan baik? Ia berencana untuk membuat Putra Mahkota Chu mabuk dengan mengubah ukuran cangkirnya?

Chu Ling Long tertawa terbahak-bahak. "Mana mungkin Putra Mahkota ini takut pada seorang wanita? Kita akan mengunakan cangkir yang paling besar. Apabila Putra Mahkota ini tanpa sengaja membuat Hao Wang Fei mabuk, apakah kau akan mengamuk, Pangeran Hao?"

Suara dalam dan mengesankan seorang pria pun menjawabnya. "Tentu saja tidak; selain itu, terlalu cepat untuk menentukan hasilnya."

Chu Ling Long merasa dirinya kesulitan untuk menjaga reputasinya. Pei Qian Hao terlalu angkuh dan sombong! Karena itulah, ia hanya tertawa. "Pangeran Hao, bagaimana kau tahan melihat Wang Fei mengikuti kompetisi ini? Tidak akan baik jika orang mulai bergosip bahwa kau adalah seorang pria yang bersembunyi di belakang seorang wanita."

"Jangan khawatir Putra Mahkota Chu, tentu saja Pangeran ini lebih dari sekadar tandingan untuk Wang Fei. Jika kau tidak bisa menang melawannya, maka kau juga bukanlah tandingan Pangeran ini." Suaranya dingin, dan tatapan tanpa emosinya menembus ke dalam Chu Ling Long.

 

Continue reading CTF - Chapter 436

CTF - Chapter 435

Consort of A Thousand Faces

Chapter 435 : Mendemonstrasikan Bakat yang Luar Biasa


Semua orang membungkuk dan menjawab secara berbarengan, "Terima kasih banyak, Yang Mulia." Barulah kemudian, mereka duduk.

Jelas bahwa pandangan semua orang langsung tertuju pada Su Xi-er, tetapi mereka mengerti kalau peraturannya menentukan bahwa Kaisar harus menjadi orang pertama yang berbicara.

Memahami situasinya, Situ Lin memasang ekspresi serius sebelum berdeham ringan, menarik perhatian semuanya. "Tujuan dari perjamuan malam ini adalah untuk merayakan pernikahan Pangeran Hao. Karena Ayahanda Kaisar mangkat lebih awal, Kaisar ini menganggap Pangeran Hao seperti ayahku. Aku akan bersulang teh sebagai ganti anggur dengan Pangeran Hao, dan berharap agar Pangeran Hao dan Hao Wang Fei akan memiliki pernikahan yang langgeng."

Kasim di belakang Situ Lin segera maju ke depan untuk menuangkan secangkir teh untuknya.

Dayang istana di belakang Pei Qian Hao pun bersiap untuk melakukan hal yang sama, tetapi dihentikan oleh satu tangan ramping yang terulur dari samping. Tiba-tiba mengerti, dayang istana itu menyerahkan teko tehnya pada Su Xi-er.

Duduk secara diagonal dari kanan mereka adalah Chu Ling Long, yang terkekeh pelan, alis tipisnya terangkat dengan tampang menggoda. "Hao Wang Fei tampak benar-benar familier. Apakah Putra Mahkota ini pernah bertemu denganmu di suatu tempat sebelumnya?"

Ucapannya mengejutkan semua orang yang hadir, dengan beberapa menteri yang tentunya jadi penasaran tentang hubungan antara Putra Mahkota Dong Ling dan Hao Wang FeiSebelum Hao Wang Fei menikahi Pangeran Hao, ia selalu berada di Bei Min. Kalau begitu kasusnya, bagaimana ia mengenal Putra Mahkota Dong Ling?

Su Xi-er tersenyum bahkan di bawah banyak tatapan bingung, auranya sama sekali tidak kalah dari para bangsawan di sekitarnya. "Putra Mahkota Dong Ling benar-benar punya pengelihatan yang bagus. Aku masih seorang dayang kecil yang mengikuti di belakang Pangeran Hao ketika kita bertemu."

Chu Ling Long gigih, bertekad untuk melihat bagaimana Su Xi-er akan bereaksi. "Kau datang ke perjamuan kerajaan Nan Zhao bersama Pangeran Hao. Putra Mahkota ini masih tidak bisa melupakan Tarian Menekuk Ranting yang ditampilkan di panggung di Sungai Air Caltrop. Aku bertanya-tanya, apakah aku bisa menyaksikannya sekali lagi malam ini?"

Para pejabat dari Bei Min mengerutkan alis mereka. Kebiasaan Bei Min berbeda dari kerajaan lainnya; wanita berstatus tinggi tidak boleh menari di depan umum dalam acara apa pun selain perjamuan kerajaan. Putra Mahkota Dong Ling bahkan tidak mempertimbangkan acaranya sebelum ia bicara. Tetapi, mata para pemimpin dari suku asing berbinar penuh semangat. Beberapa dari mereka menantikan untuk menyaksikan tarian Su Xi-er setelah menyadari bahwa ialah orang yang tampil selama perjamuan kerajaan Nan Zhao.

Sebelum Pei Qian Hao dapat mengatakan apa-apa, Su Xi-er mencubitnya di bawah meja, supaya tetap diam.

Memahami niatnya, Pei Qian Hao pun melakukan sesuai keinginannya.

Su Xi-er tersenyum selagi ia menjawab, "Aku takutnya, kau akan kecewa, Putra Mahkota."

Chu Ling Long menyapukan pandangannya ke wajah para menteri sebelum bertanya, "Bolehkah aku bertanya dengan tidak sopan, kenapa begitu?"

Tatapan semua orang langsung fokus pada Su Xi-er. Situ Lin sangat terkesan oleh jawaban Bibi Kekaisarannya ini, dan yakin bahwa ia punya cara untuk menangani situasi saat ini. Namun, demi mempertahankan statusnya sebagai Kaisar suatu bangsa, ia terus menjaga ekspresinya tetap netral.

Tawa lembut wanita pun dapat terdengar, kedengaran seperti lonceng perak dan angin sepoi-sepoi bertiup di danau. "Setiap orang punya hari buruk mereka, dan tidak selalu ada alasan yang rumit. Aku hanya merasa tidak mau saja malam ini."

Beberapa pemimpin suku asing mau tak mau menarik napas dingin, dan para menteri dari Bei Min juga terkejut; bahkan Pei Qian Hao tak terkecuali. Tujuan dari perjamuannya adalah untuk merayakan pernikahan Pangeran Hao, dan perkataan Su Xi-er berada di bawah statusnya.

Namun, Su Xi-er tiba-tiba berdiri dan membungkuk pada semua orang. "Aku yakin semua orang pernah melihat berbagai macam tarian, tetapi tak peduli seberapa indahnya tarian itu, siapa saja akan merasa bosan setelah menyaksikannya berkali-kali. Daripada tarian, aku telah mempersiapkan sesuatu yang lain untuk menghibur semuanya."

Semuanya langsung bersemangat lagi, bahkan Pei Zheng pun penasaran dengan apa yang akan dilakukannya.

Su Xi-er melihat ke arah Guru Agung Kong dan bertanya, "Ayah angkat, bisakah Anda memerintahkan seseorang agar menyiapkan beberapa peralatan menulis dan meja untukku?"

Guru Agung Kong mengangguk dan menginstruksikan Xiao Yuan Zi dan seorang pengawal untuk langsung menuju Perpustakaan Kekaisaran. Bagaimanapun juga, ia memanggilku 'ayah angkat'. Jika ia bisa mendapatkan pujian dari penonton, itu juga akan membuatku bangga. Ia adalah seseorang yang menghormati orang berbakat mana pun, terlepas dari jenis kelamin mereka.

Chu Ling Long mengambil cangkir anggur dari mejanya dan mengayunkannya lembut. "Peralatan menulis? Hao Wang Fei, kau akan melukis, atau mengarang puisi?"

Pei Qian Hao berbicara dingin sebelum Su Xi-er dapat menjawab. "Putra Mahkota, kau bisa menunggu dengan sabar, apa yang dimilikinya. Bagaimana bisa kau setidaksabaran ini, padahal kau adalah seseorang yang akan menjadi penguasa dari suatu kerajaan?"

Setiap kali kaisar baru akan menaiki takhta, tak diragukan lagi mahkamah akan dilanda kekacauan. Jika itu ditangani dengan baik, kerajaan akan berkembang; sebaliknya, kerajaan akan menderita jika hal-hal seperti itu tidak diurus dengan baik.

Mendengarkan implikasi dari perkataan Pei Qian Hao, Chu Ling Long mendengus dalam hati. Ia memang berpengalaman dan cerdik, dan siasatnya betul-betul dalam. Tertinggal tanpa jawaban, Chu Ling Long berbalik pada Su Xi-er. Mari kita lihat, apa yang akan dilakukannya.

Di lain pihak adalah Hua Zi Rong, yang tetap diam selama ini. Ia hanya fokus untuk meminum anggur di cangkirnya secara perlahan, mencuri pandang beberapa kali ke arah Su Xi-er dari waktu ke waktu. Ini bukanlah pertama kalinya wanita ini menantang Putra Mahkota Chu, dan ia berhasil membuatnya kehabisan kata-kata setiap kalinya. Itu sendiri saja, sudah termasuk kemampuan yang cukup besar.

Rasa ingin tahu semuanya pun terus menumpuk, dan di tengah gumaman kolektif mereka, peralatan menulis dan meja akhirnya datang.

Su Xi-er berjalan maju dan meminta Xiao Yuan Zi untuk membantunya menggilingkan batang tintanya. Kemudian, ia melihat ke arah Chu Ling Long. "Aku akan melukis malam ini, tetapi bukan hanya lukisan tanaman; aku akan melukiskan lukisan manusia. Putra Mahkota Chu, karena kaulah yang pertama bicara, aku akan melukismu. Ini akan memakan waktu kurang dari lima belas menit."

Para pelukis handal di kerumunan mengetahui bahwa, melukis sesuatu seperti tumbuhan adalah mudah, tetapi melukis manusia akan jadi hal yang paling sulit. Bukan hanya lukisannya harus menunjukkan penampilan mereka, itu juga harus mencerminkan aura mereka. Biasanya dibutuhkan waktu beberapa jam untuk melukiskan karya yang indah, tetapi Su Xi-er menyatakan bahwa ia dapat melakukannya dalam waktu lima belas menit!

Mau tak mau, semua orang pun penasaran, bagaimanakah ia akan menyelesaikannya, bahkan Guru Agung Kong pun jadi skeptis. Bagaimana ia akan menyelesaikan tugas semenantang ini?

Sangat kontras, Pei Qian Hao adalah gambaran dari ketenangan. Ia perlahan-lahan menyesap tehnya selagi sudut mulutnya kadang-kadang terangkat, menunjukkan suasana hatinya yang baik. Wanitaku cukup luar biasa. Orang-orang ini harus menunggu hingga bola mata mereka copot dari rongga matanya.

(T/N : cie, cie, proud husband detected. Bucinnya kamu bang, dah ga da obat.)

Pandangan semua orang tertuju pada kuas Su Xi-er. Tintanya sudah disiapkan, dan ia melirik sekilas pada Chu Ling Long sebelum memulai, kepalanya tidak pernah terangkat selama seluruh prosesnya. Kuasnya menari dengan gesit di atas kertas, dan jelas bagi semua orang bahwa ia bukanlah amatir.

Meskipun ibu Ning Ru Lan berasal dari kelompok minoritas, ia sangat menghargai literatur, terutama kaligrafi dan melukis. Sementara untuk menari, Ning Ru Lan memilihnya karena kesukaannya akan tarian. Di sisi lain, ia sudah dipaksa oleh keadaan untuk belajar memerintah kerajaan.

Bukannya orang itu kuat dan tangguh di saat mereka keluar dari rahim ibu mereka. Orang-orang kuat, seperti Ning Ru Lan dan Pei Qian Hao, keduanya adalah produk dari keadaan mereka.

Meski menjadi orang yang sangat memahami melukis, mata Guru Agung Kong dipenuhi kebingungan. Apakah Su Xi-er benar-benar berasal dari Istana Samping? Apakah ia benar-benar berasal dari latar belakang miskin sebelum ia memasuki istana? Mau tak mau, ia pun jadi ragu.

Chu Ling Long baru saja menghabiskan setengah cangkirnya ketika lukisannya selesai. Saat Xiao Yuan Zi maju ke depan untuk melihat, ekspresi membekunya hanya meningkatkan antisipasi semua orang.

Beberapa orang sudah menjerit, "Cepat, bawakan kemari dan tunjukkan pada kami!"

Barulah kemudian, Xiao Yuan Zi tersadar. Ia mengambil lukisan itu dengan hati-hati dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi selagi ia membawakan lukisan itu ke penonton.

Dengan bantuan dari cahaya bulan yang terang dan lentera merah, semua orang melihat orang di dalam lukisan dan mata mereka melebar. Bahkan Guru Agung Kong saja tidak tahan untuk menarik napas dingin. Lukisan ini ... benar-benar luar biasa!

Sewaktu Chu Ling Long melihatnya, tinjunya mengepal erat, dan wajahnya berubah menghijau karena marah. Su Xi-er! Siapa sangka, aku tidak pernah melihat ini akan terjadi!

 

Continue reading CTF - Chapter 435

CTF - Chapter 434

Consort of A Thousand Faces

Chapter 434 : Sikap yang Elegan


Setelah mereka memasuki aula utama, Consort Dowager Guo menarikkan sendiri kursi untuk Su Xi-er, menggesturkan pada orang itu untuk duduk sambil tersenyum.

Su Xi-er merasa sedikit malu dengan kebaikan Consort Dowager Guo, tetapi segera duduk ketika ia mendengar ucapan selanjutnya yang keluar dari mulutnya.

"Kalau saja, Consort Dowager ini melahirkan seorang putri, aku tidak perlu terlalu cemas. Sayang sekali, aku melahirkan seorang putra yang sudah berkeliaran tanpa peduli di dunia. Consort Dowager ini akan mengambilmu sebagai putri angkatku apabila Guru Besar Kong tidak melakukannya; kenapa kau tidak datang meminta Consort Dowager ini, Pangeran Hao?" Consort Dowager Guo memasang senyum ramah selagi ia meratap main-main.

Pei Qian Hao tersenyum sewaktu ia menjawab, "Consort Dowager, mana mungkin Pangeran ini mengganggumu ketika kau berdoa dengan damai pada Buddha?"

"Tetapi Consort Dowager ini benar-benar menyukai gadis semenggemaskan ini." Consort Dowager Guo berkomentar sementara ia memandangi Su Xi-er. Jelas bahwa ia sangat cantik hanya dengan sekali lihat, dan ia hanya tampak semakin cantik saat aku melihat lebih dekat. Rasanya, aku tidak akan bosan memandanginya. Pantas saja Pangeran Hao sangat menghargainya dan berusaha keras demi dirinya.

Melihat Consort Dowager Guo praktisnya berseri-seri, Su Xi-er pun membuat lelucon kecil untuk mencairkan suasana. "Consort Dowager, aku akan jadi arogan jika Anda begitu memujiku."

Consort Dowager Guo langsung memahami maksudnya, dan itu hanya semakin membuatnya lebih menyukai Su Xi-er. Sejujurnya, Yang Mulia masih muda, meyisakan Pangeran Hao sebagai satu-satunya orang yang memiliki pengaruh paling besar di Bei Min. Oleh karenanya, tentu saja tidak ada wanita di harem kekaisaran yang statusnya bisa menandingi Hao Wang Fei.

Su Xi-er tidak angkuh maupun pemarah, sebaliknya, memiliki sikap yang lembut dan menyenangkan, yang susah didapat.

"Consort Dowager, Pangeran ini akan meninggalkan Xi-er di sini bersamamu hingga perjamuan malam ini." Ia menundukkan kepalanya untuk menatap Su Xi-er. "Pangeran ini akan pergi ke Istana Naga Langit untuk memeriksa pekerjaan rumah Yang Mulia; aku harus memastikan ia tidak bermalas-malasan."

Su Xi-er mengangguk dan menjawab dengan lembut, "Kalau begitu pergilah. Aku akan menemani Consort Dowager Guo."

Pei Qian Hao menjawab pelan sambil mengiyakan sebelum membungkuk pada Consort Dowager Guo dan berbalik pergi.

Tepat saat Pei Qian Hao sedang berjalan keluar dari istana peristirahatan, Ye Qing Zhu datang membawa sebuah nampan selagi ia menuju ke aula utama. Ketika ia melihat bahwa Pei Qian Hao pergi, ia langsung mengejarnya karena panik, mengakibatkan nampan di tangannya hampir tergelincir.

"Pangeran Hao," panggil Ye Qing Zhu. Kemudian ia mencengkeram nampannya dengan benar selagi ia membungkuk.

Pei Qian Hao bisa menebak apa yang hendak dikatakannya, dan langsung memutus segala harapannya. "Tinggallah di istana peristirahatan Consort Dowager dengan baik, dan kau akan dibebaskan dari tugasmu saat kau berumur delapan belas tahun."

"Pangeran Hao, hamba telah melayani Kediaman Pangeran Hao selama bertahun-tahun; aku tidak sanggup untuk pergi sekarang." Ye Qing Zhu tidak berani mengungkapkan alasan sebenarnya atas keinginannya untuk tetap tinggal; ia takut kalau Pei Qian Hao akan menolaknya jika ia mengetahuinya.

"Ye Qing Zhu, Pangeran ini mengetahui tentang perasaanmu untuk Wu Ling. Namun, kehadiranmu akan mengganggu kemampuannya bekerja untuk Pangeran ini." Kemudian Pei Qian Hao pun berlalu.

Ye Qing Zhu mengerutkan bibirnya. Ialah orang yang waktu itu menyuruhku berjuang untuk apa yang kusukai, tetapi ia sengaja memindahkanku keluar dari Kediaman Pangeran Hao. Menempatkanku di istana peristirahatan Consort Dowager, ia bahkan mengambil kemampuanku untuk diam-diam mengawasi Kakak Wu dari kejauhan.

Jantungnya berdebar menyakitkan dalam dadanya, dan itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya, ia dihadapkan dengan kesedihan yang tak berdaya. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain berbalik dan lanjut menuju aula utama.

Ia baru saja melangkah masuk ketika ia melihat Su Xi-er dan Consort Dowager mengobrol dengan riang satu sama lainnya. Su Xi-er berada di puncak kejayaannya, dan membuat iri semua orang.

Consort Dowager Guo melihat Ye Qing Zhu dan menginstruksikan, "Qing Zhu, taruh teko tehnya di sini dan tuangkan satu cangkir untuk Hao Wang Fei." Kemudian, ia berpaling pada Su Xi-er. "Teh yang diseduh pelayan ini enak. Cicipilah."

Su Xi-er mengangguk patuh, tatapannya tertuju pada Ye Qing Zhu.

Setelah menuangkan tehnya, Ye Qing Zhu menyerahkan cangkirnya pada Su Xi-er dengan hormat. "Hao Wang Fei, silakan minum perlahan. Masih panas."

"Gadis ini cerdas dan cepat tanggap karena melayani Kediaman Pangeran Hao selama bertahun-tahun. Pangeran Hao hanya memindahkannya ke istana Consort Dowager ini karena ia mengasihani nenek tua ini."

Su Xi-er tidak tahan untuk tertawa. "Consort Dowager, bagaiamana Anda adalah nenek tua? Kulit Anda begitu terawat hingga aku akan salah mengira Anda adalah seorang gadis."

Perkataan Su Xi-er sangat menyenangkan Consort Dowager Guo, dan tatapan orang itu nyaris seperti ia sedang memandangi anaknya sendiri. "Anak ini, mulutmu manis sekali. Kau bahkan memuji Consort Dowager ini sebagai seorang gadis."

Menyaksikan mereka berdua mengobrol dengan riang, Ye Qing Zhu mendadak teringat ekspresi Pei Qian Hao ketika ia menolaknya. Suasana hatinya langsung mencapai titik terendah. "Consort Dowager, hamba akan memerintahkan seseorang untuk membawakan kue kemari."

"Baiklah, kau boleh undur diri." Consort Dowager Guo melambaikan tangannya.

Ye Qing Zhu membungkuk selagi ia pergi, tetapi kekecewaan sekilas di matanya tidak luput dari Su Xi-er.

Panggilan 'Pangeran Hao' tiba-tiba itu, yang berasal dari lorong, tidak luput dari telinga Su Xi-er, dan jelas bahwa orang yang memanggilnya adalah Ye Qing Zhu. Ia pasti sudah memohon Pangeran Hao untuk kembali ke kediaman, hanya untuk ditolak. Dapat dimengerti kalau sekarang ia tertekan.

Selagi Consort Dowager Guo memerhatikan sosok Ye Qing Zhu yang berlalu, mau tak mau ia pun menghela napas. "Gadis ini menyembunyikan sesuatu dalam hatinya; gadis sebaik ini tidak seharusnya sebegitu sedih. Saat waktunya tepat, Consort Dowager ini akan mencarikan pasangan yang cocok untuknya."

Keingintahuan merayap di mata Su Xi-er. Bagaimana Consort Dowager Guo tetap tidak ternoda sementara tinggal di istana kekaisaran sekian lama? Aku paham dengan sangat jelas, apa yang mampu dilakukan para wanita di harem kekaisaran, dari menyaksikan Ayahanda Kaisar dulu. Mereka bahkan sanggup membunuh anak mereka sendiri untuk maju.

Setelah itu, Consort Dowager Guo penuh pujian saat ia memakan beberapa roti kukus rasa jagung. Lalu, ia membawa Su Xi-er ke taman belakang untuk berjalan-jalan sebelum mereka makan kue, dan mereka makan malam sebelum Pei Qian Hao kembali sekitar pukul 5:30 sore.

"Pangeran Hao, kalian berdua harus ke sana. Consort Dowager ini tidak suka keramaian, jadi aku tidak akan pergi. Aku harap kau bisa mengerti." Consort Dowager Guo mengeluarkan seuntai manik-manik Buddha dari lemari di aula utama dan bersiap untuk berjalan ke aula Buddha.

"Consort Dowager, tolong jaga dirimu baik-baik. Kami akan pergi duluan." Pei Qian Hao berpamitan padanya dengan sopan sebelum menggandeng tangan Su Xi-er dan pergi.

Hanya setelah mereka sampai di jalan istana yang sepi, barulah Pei Qian Hao berhenti dan membantu Su Xi-er merapikan rambut dan gaunnya.

Su Xi-er tertawa. "Consort Dowager Guo sudah membantuku merapikan diriku sore ini. Ayo langsung pergi ke sana."

"Xi-er, kau tidak diizinkan untuk menari." Pei Qian Hao mengingatkannya sebelum menggandeng tangannya lagi dan terus menyusuri jalan setapak.

Aku tahu kalau ia 'picik', dan hanya ingin aku menari untuknya, tetapi tak dapat dihindari bahwa seseorang akan memintanya di perjamuan istana.

Dengan hadirnya berbagai menteri mahkamah dan utusan dari kerajaan yang berbeda-beda, tidak ada cukup ruang di taman untuk menampung mereka semua. Dengan demikian, perjamuan akan diadakan di halaman yang biasanya hanya digunakan untuk perjamuan kerajaan.

Panggung tinggi sudah dipasang, dan anggota dari opera dan sanggar tari sudah lama memasuki istana.

Semua orang dituntun ke sisi tempat duduk mereka oleh para dayang istana, tetapi tetap berdiri karena mereka menunggu Kaisar dan Pangeran Hao.

Bahkan lebih daripada ini, semua orang mengetahui bahwa Hao Wang Fei akan datang, jadi perhatian semua orang akan terkunci padanya segera setelah ia tiba.

Seorang kasim mengumumkan dengan semangat tinggi, "Pangeran Hao dan Hao Wang Fei sudah tiba!"

Mata semua orang langsung beralih ke pintu masuk halaman, hanya untuk melihat seorang pria jangkung berjubah hitam sedang menggandeng tangan seorang wanita yang mengenakan gaun merah.

Langkah kaki si wanita ringan dan gesit, seolah-olah teratai bermekaran seiring tiap langkahnya. Setiap pergerakannya elegan, dan senyum samar di wajahnya memberikan sikap agung yang membuat semua orang bingung. Bagaimana ia mirip seorang pelayan dengan auranya? Bahkan Putri Pertama Kekaisaran suatu kerajaan saja mungkin kesulitan untuk menanggung sikap seperti itu!

Pei Qian Hao membawanya ke tempat duduk mereka, dan kebetulan Situ Lin memasuki halaman saat ini. Sewaktu ia melihat Pei Qian Hao mengangguk padanya, ia melambaikan tangannya dan berbicara pada para hadirin dengan gaya yang mengesankan, "Utusan dari berbagai kerajaan, pemimpin dari suku asing, pejabat yang terhormat, silakan duduk dan nikmati makanan kalian."

 

Continue reading CTF - Chapter 434