Sabtu, 25 Juli 2026

CTF - Chapter 440

Consort of A Thousand Faces

Chapter 440 : Cium Aku


Feng Chang Qing merasa sedikit malu. Putri Pertama Kekaisaran tidak pernah begitu ngotot soal ini sebelumnya, dan sekarang Pangeran Hao juga ikut-ikutan. Ia segera membungkuk selagi ia berbicara dengan cepat. "Bawahan ini harus pergi mengecek latihan bela diri Yu Xiao, dan akan undur diri dulu." Lalu ia pun memutar tumitnya sebelum Su Xi-er bahkan bisa mengingat apa yang dikatakannya.

Menyaksikan sosoknya yang berlalu dengan cepat, Su Xi-er merasa bersalah. Kesetiaan murninya hanya karena aku kebetulan menyelamatkannya sewaktu ia dipukuli. Ia sudah lama membalas budi ini padaku, tetapi ia terus mengikutiku bahkan hingga sekarang. Ia bahkan sampai mengabaikan penampilan dan pernikahannya sendiri.

Pei Qian Hao memeluknya, dan berbisik di telinganya. "Xi-er, Feng Chang Qing memiliki rencana dan pemikirannya sendiri tentang ini. Pada akhirnya, ia akan menikah suatu hari nanti, dan kau tidak perlu menyalahkan dirimu soal itu."

"Sebelum kau bertemu denganku, kapan kau berencana untuk menikah?" Su Xi-er menengadahkan kepalanya dan bertanya dengan ekspresi yang sungguh-sungguh.

"Pangeran ini awalnya tidak berencana untuk menikah, berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memasuki hatiku. Tetapi siapa yang tahu bahwa Pangeran ini telah memperhitungkan segalanya, kecuali dirimu." Pei Qian Hao terkekeh pelan, dan menggelitiki hidungnya dengan jarinya. "Kau adalah peri kecil yang memesona."

Su Xi-er menyeringai lebar dengan gaya yang nakal. "Pangeran Hao, apakah kau sudah terpikat?"

"Memang sudah." Kilatan berkedip di mata Pei Qian Hao saat ia memeluknya dan berputar, menekannya ke batang pohon bunga prem.

Adegan ini mirip dengan yang di hutan pinggiran kota, dan Su Xi-er langsung menghentikannya. "Kita cukup banyak melakukannya semalam. Kau tidak diizinkan untuk melakukannya di siang bolong. Selain itu, aku merasa kedinginan." Ia tahu bahwa dua kalimat pertamanya tidak akan bekerja, tetapi ia yakin bahwa beberapa patah kata terakhirnya akan efektif.

Sesuai dugaan, Pei Qian Hao menarik kembali tangannya. "Pangeran ini akan membawamu kembali ke dalam kamar." Kemudian ia segera lanjut menggendongnya. Merasakan dunia berputar di sekelilingnya, Su Xi-er segera mendapati dirinya mengalungkan lengan di leher Pei Qian Hao, menatap matanya dengan tatapan yang cemerlang.

Hati Pei Qian Hao tergerak, dan ia pun membungkuk untuk mencium kening Su Xi-er sebelum melangkah keluar dari taman belakang dan menuju ke halaman utama.

Semua pengawal yang mereka lalui sepanjang jalan akan membungkuk setelah melihat Pei Qian Hao, kemudian menyaksikan dengan mata terbelalak selagi ia berjalan ke aula. Saat ini tengah hari, tetapi ia berjalan dengan begitu cepatnya ke arah kamar utama. Tidak dapat dihindari bahwa orang akan salah paham. Lalu, semua orang sekali lagi teringat bahwa Pei Qian Hao telah menahan diri selama dua puluh lima tahun. Bahkan, menggunakan kata 'serigala' dan 'harimau' untuk menggambarkannya saja, tidak akan cukup untuk menunjukkan kekuatan hebat ... Pangeran Hao.

***

Setelah memasuki kamar utama, Pei Qian Hao menurunkan Su Xi-er di atas ranjang, mengangkat alis selagi menatapnya. "Wang Fei, apa yang harus kita lakukan berikutnya?"

Petunjuknya sudah sangat mencolok. Aku bodoh kalau aku tidak memahami apa maksudnya. Su Xi-er segera duduk tegak. "Aku mau minum sup polong teratai; aku akan pergi ke aula utama untuk menunggu Ruo Yuan dan Hong Li membawakannya kemari."

"Mereka baru saja mempersiapkannya, jadi akan butuh waktu sebelum mereka selesai. Kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang lain?" Tepat setelah ia mengatakan itu, sosok jangkungnya pun menekan ke bawah, menjepit tangan Su Xi-er di atas kepalanya.

Jejak ciuman pun menghujani dan menutupi mulutnya, menekan kata-kata yang hendak diucapkannya. Lidahnya menyelinap masuk ke dalam mulutnya dan membelitnya. Di bawah serangannya, Su Xi-er pun tak bisa menahan diri untuk mengangkat kakinya dan melingkarkannya di pinggang Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao terkekeh lembut. "Kau mengambil inisiatif."

Wajah Su Xi-er merona merah seketika selagi ia berusaha untuk menurunkan kakinya, tetapi pria itu sudah memegangi mereka. "Sekarang, Pangeran ini tidak akan membiarkanmu mundur."

Suhu ruangannya pun melonjak, dan lantainya langsung dipenuhi dengan jubah mereka. Apabila ada orang di luar, mereka juga bisa mendengar suara derit kerangka tempat tidur yang kokoh.

Setelah beberapa lama, Ruo Yuan dan Hong Li sampai di luar halaman utama membawa sup polong teratai. Sudah begitu lama; Wang Fei seharusnya sudah kembali ke halaman utama. Namun, tepat setelah mereka memasuki halaman utama, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Semestinya ada pengawal di sekitar karena itu tengah hari, tetapi bagaimana bisa tidak ada orang di sini?

Ruo Yuan kebingungan, dan tanpa sadar, berhenti untuk bertanya. "Wang Fei tidak ada di halaman utama, kan? Terlalu sunyi di sini."

"Ia sudah pasti tidak berada di taman belakang, dan kita juga sudah memeriksa bahwa tidak ada orang di aula utama. Harusnya ia berada di sini. Pangeran Hao masih belum kembali dari istana. Ayo pergi." Hong Li menariknya bersama sewaktu mereka berjalan masuk.

Mereka melihat tidak ada siapa-siapa di aula halaman utama, dan karena itu menyimpulkan bahwa ia mungkin berada di kamar utama di belakang. Oleh sebab itu, mereka berdua pun berjalan mendekat.

Tepat saat mereka sampai di pintu kamar bagian luar, serangkaian suara malu-malu pun sampai ke telinga mereka, menyebabkan mereka langsung tersipu.

Hong Li menarik-narik Ruo Yuan yang bengong dan berbisik, "Cepat pergi."

Ekspresi Ruo Yuan kembali normal, dan ia langsung mengikuti Hong Li saat mereka bergegas pergi. Hanya setelah mereka sampai di aula halaman utama, barulah jantung mereka yang berdebar-debar jadi tenang.

"Segala sesuatunya pasti akan sering memanas di antara pasangan yang baru menikah. Kita harus lebih memerhatikannya saat kita melayani Wang Fei di masa depan." Hong Li menepuk-nepuk dadanya selagi ia menasihati Ruo Yuan, yang mengangguk setuju dengan cepat.

"Pangeran Hao pasti tidak akan senang jika ia mengetahuinya. Kita harus berhati-hati."

Dengan demikian, mereka berdua pun tertinggal menunggu di aula utama hingga sup polong teratainya jadi dingin. Mereka hanya bisa kembali ke halaman belakang untuk menghangatkannya lagi sebelum membawakannya kembali.

Kedua kalinya mereka datang, wajah mereka penuh kewaspadaan selagi berjalan dengan hati-hati ke aula utama. Hanya ketika mereka melihat Su Xi-er duduk di kursi atas, barulah mereka akhirnya merasa lega.

Ruo Yuan dan Hong Li membungkuk. "Wang Fei, sup polong teratainya di sini."

Tepat sewaktu ucapan itu meninggalkan mulut mereka, satu tangan besar pun dengan cekatan mengambil mangkuk itu.

Ruo Yuan dan Hong Li menyaksikan sewaktu Pei Qian Hao membawa sesendok sup itu ke bibirnya sebelum meniupnya dan menyuapi Su Xi-er. Gerakan terlatihnya membuatnya jelas bahwa ia sering melakukan ini. Tingkat kasih sayangnya ini sudah cukup untuk membuat orang terkejut lagi!

Pei Qian Hao menoleh ke arah mereka berdua yang masih bengong. "Kalian boleh mundur."

Suara dinginnya menyebabkan mereka terperanjat, tetapi mereka membungkuk dengan cepat. "Hamba akan undur diri." Lalu mereka pun memutar tumitnya dan bergegas pergi.

Su Xi-er menatap Pei Qian Hao. "Pinggangku sakit."

Pei Qian Hao langsung jadi cemas. "Bagian pinggangmu yang mana yang sakit?" Tangannya dengan cepat menjelajah ke bagian tubuhnya yang disebutkan sebelumnya selagi ia bertanya.

"Berhenti menyiksaku dan pinggangnya tidak akan sakit lagi."

Pei Qian Hao berhenti menggerakkan tangannya dan menundukkan kepala untuk menatapnya. "Pangeran ini akan menginstruksikan Mei Jin Xiu agar menyiapkan beberapa obat-obatan untuk menutrisi tubuhmu. Aku akan memerhatikannya selama periode waktu ini." Sikapnya tiba-tiba jadi serius karena Su Xi-er sudah mengatakan bahwa itu menyakitkan.

Su Xi-er merasa agak tidak enak dan enggan setelah melihat bagaimana ia bersikap. Ia masih muda dan gagah, sekaligus baru mengalami sesuatu yang baru. Hal yang wajar jika ia sedikit kesulitan menahan diri, tetapi bagaimana aku bisa menahannya berkali-kali dalam sehari?

Karenanya, ia pun tersenyum padanya. "Bagaimana kalau kita berdua mundur selangkah? Tidak lebih dari dua kali sehari, ya?"

"Sesuai dengan keinginanmu." Pei Qian Hao menerimanya dan menyuapi sesendok sup lagi ke bibirnya.

Su Xi-er membuka bibirnya dan meminum sup itu sambil tersenyum, merasa itu sangat lezat.

***

Kontras dengan atmosfer yang hangat itu, lima ratus kilometer jauhnya dari ibu kota, Xie Yun berekspresi bak badai tanpa adanya sisa-sisa kelembutannya yang biasa. Seorang jenderal bawahannya meninggal, banyak prajurit yang tewas, dan masih ada yang lainnya yang menghilang.

Ini sudah memberikan pukulan yang besar bagiku, dan itu semua karena Pei Qian Hao! Metodenya terlalu kejam! Aku baru saja menyelesaikan masalah ini ketika salah satu bawahanku datang untuk melaporkan bahwa Ibu Suri sudah menghilang dari kuil. Di atas semua ini, Pangeran Yun bukan hanya gagal menculik Su Xi-er, tetapi bahkan kehilangan nyawanya selama prosesnya!

Senyum mengejek terbentuk di sudut bibir Xie Yun. Aku sudah memandang tinggi Yun Ruo Feng.

 

0 comments:

Posting Komentar