Consort of A Thousand Faces
Chapter 440 : Cium Aku
Feng
Chang Qing merasa sedikit malu. Putri Pertama Kekaisaran tidak pernah
begitu ngotot soal ini sebelumnya, dan sekarang Pangeran Hao juga
ikut-ikutan. Ia segera membungkuk selagi ia berbicara dengan cepat.
"Bawahan ini harus pergi mengecek latihan bela diri Yu Xiao, dan akan
undur diri dulu." Lalu ia pun memutar tumitnya sebelum Su Xi-er bahkan
bisa mengingat apa yang dikatakannya.
Menyaksikan
sosoknya yang berlalu dengan cepat, Su Xi-er merasa bersalah. Kesetiaan
murninya hanya karena aku kebetulan menyelamatkannya sewaktu ia dipukuli. Ia
sudah lama membalas budi ini padaku, tetapi ia terus mengikutiku bahkan hingga
sekarang. Ia bahkan sampai mengabaikan penampilan dan pernikahannya sendiri.
Pei
Qian Hao memeluknya, dan berbisik di telinganya. "Xi-er, Feng Chang Qing
memiliki rencana dan pemikirannya sendiri tentang ini. Pada akhirnya, ia akan
menikah suatu hari nanti, dan kau tidak perlu menyalahkan dirimu soal
itu."
"Sebelum
kau bertemu denganku, kapan kau berencana untuk menikah?" Su Xi-er
menengadahkan kepalanya dan bertanya dengan ekspresi yang sungguh-sungguh.
"Pangeran
ini awalnya tidak berencana untuk menikah, berpikir bahwa tidak ada seorang pun
yang mampu memasuki hatiku. Tetapi siapa yang tahu bahwa Pangeran ini telah
memperhitungkan segalanya, kecuali dirimu." Pei Qian Hao terkekeh pelan,
dan menggelitiki hidungnya dengan jarinya. "Kau adalah peri kecil yang
memesona."
Su
Xi-er menyeringai lebar dengan gaya yang nakal. "Pangeran Hao, apakah kau
sudah terpikat?"
"Memang
sudah." Kilatan berkedip di mata Pei Qian Hao saat ia memeluknya dan
berputar, menekannya ke batang pohon bunga prem.
Adegan
ini mirip dengan yang di hutan pinggiran kota, dan Su Xi-er langsung
menghentikannya. "Kita cukup banyak melakukannya semalam. Kau tidak
diizinkan untuk melakukannya di siang bolong. Selain itu, aku merasa
kedinginan." Ia tahu bahwa dua kalimat pertamanya tidak akan bekerja,
tetapi ia yakin bahwa beberapa patah kata terakhirnya akan efektif.
Sesuai
dugaan, Pei Qian Hao menarik kembali tangannya. "Pangeran ini akan
membawamu kembali ke dalam kamar." Kemudian ia segera lanjut
menggendongnya. Merasakan dunia berputar di sekelilingnya, Su Xi-er segera
mendapati dirinya mengalungkan lengan di leher Pei Qian Hao, menatap matanya
dengan tatapan yang cemerlang.
Hati
Pei Qian Hao tergerak, dan ia pun membungkuk untuk mencium kening Su Xi-er
sebelum melangkah keluar dari taman belakang dan menuju ke halaman utama.
Semua
pengawal yang mereka lalui sepanjang jalan akan membungkuk setelah melihat Pei
Qian Hao, kemudian menyaksikan dengan mata terbelalak selagi ia berjalan ke
aula. Saat ini tengah hari, tetapi ia berjalan dengan begitu cepatnya
ke arah kamar utama. Tidak dapat dihindari bahwa orang akan salah paham. Lalu,
semua orang sekali lagi teringat bahwa Pei Qian Hao telah menahan diri selama
dua puluh lima tahun. Bahkan, menggunakan kata 'serigala' dan 'harimau'
untuk menggambarkannya saja, tidak akan cukup untuk menunjukkan kekuatan hebat
... Pangeran Hao.
***
Setelah
memasuki kamar utama, Pei Qian Hao menurunkan Su Xi-er di atas ranjang,
mengangkat alis selagi menatapnya. "Wang Fei, apa yang harus kita
lakukan berikutnya?"
Petunjuknya
sudah sangat mencolok. Aku bodoh kalau aku tidak memahami apa maksudnya. Su
Xi-er segera duduk tegak. "Aku mau minum sup polong teratai; aku akan
pergi ke aula utama untuk menunggu Ruo Yuan dan Hong Li membawakannya
kemari."
"Mereka
baru saja mempersiapkannya, jadi akan butuh waktu sebelum mereka selesai.
Kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang lain?" Tepat setelah ia
mengatakan itu, sosok jangkungnya pun menekan ke bawah, menjepit tangan Su
Xi-er di atas kepalanya.
Jejak
ciuman pun menghujani dan menutupi mulutnya, menekan kata-kata yang hendak
diucapkannya. Lidahnya menyelinap masuk ke dalam mulutnya dan membelitnya. Di
bawah serangannya, Su Xi-er pun tak bisa menahan diri untuk mengangkat kakinya
dan melingkarkannya di pinggang Pei Qian Hao.
Pei
Qian Hao terkekeh lembut. "Kau mengambil inisiatif."
Wajah
Su Xi-er merona merah seketika selagi ia berusaha untuk menurunkan kakinya,
tetapi pria itu sudah memegangi mereka. "Sekarang, Pangeran ini tidak akan
membiarkanmu mundur."
Suhu
ruangannya pun melonjak, dan lantainya langsung dipenuhi dengan jubah mereka.
Apabila ada orang di luar, mereka juga bisa mendengar suara derit kerangka
tempat tidur yang kokoh.
Setelah
beberapa lama, Ruo Yuan dan Hong Li sampai di luar halaman utama membawa sup
polong teratai. Sudah begitu lama; Wang Fei seharusnya sudah kembali ke
halaman utama. Namun, tepat setelah mereka memasuki halaman utama,
mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Semestinya ada
pengawal di sekitar karena itu tengah hari, tetapi bagaimana bisa tidak ada
orang di sini?
Ruo
Yuan kebingungan, dan tanpa sadar, berhenti untuk bertanya. "Wang Fei tidak
ada di halaman utama, kan? Terlalu sunyi di sini."
"Ia
sudah pasti tidak berada di taman belakang, dan kita juga sudah memeriksa bahwa
tidak ada orang di aula utama. Harusnya ia berada di sini. Pangeran Hao masih
belum kembali dari istana. Ayo pergi." Hong Li menariknya bersama sewaktu
mereka berjalan masuk.
Mereka
melihat tidak ada siapa-siapa di aula halaman utama, dan karena itu
menyimpulkan bahwa ia mungkin berada di kamar utama di belakang. Oleh sebab
itu, mereka berdua pun berjalan mendekat.
Tepat
saat mereka sampai di pintu kamar bagian luar, serangkaian suara malu-malu pun
sampai ke telinga mereka, menyebabkan mereka langsung tersipu.
Hong
Li menarik-narik Ruo Yuan yang bengong dan berbisik, "Cepat pergi."
Ekspresi
Ruo Yuan kembali normal, dan ia langsung mengikuti Hong Li saat mereka bergegas
pergi. Hanya setelah mereka sampai di aula halaman utama, barulah jantung
mereka yang berdebar-debar jadi tenang.
"Segala
sesuatunya pasti akan sering memanas di antara pasangan yang baru menikah. Kita
harus lebih memerhatikannya saat kita melayani Wang Fei di
masa depan." Hong Li menepuk-nepuk dadanya selagi ia menasihati Ruo Yuan,
yang mengangguk setuju dengan cepat.
"Pangeran
Hao pasti tidak akan senang jika ia mengetahuinya. Kita harus
berhati-hati."
Dengan
demikian, mereka berdua pun tertinggal menunggu di aula utama hingga sup polong
teratainya jadi dingin. Mereka hanya bisa kembali ke halaman belakang untuk
menghangatkannya lagi sebelum membawakannya kembali.
Kedua
kalinya mereka datang, wajah mereka penuh kewaspadaan selagi berjalan dengan
hati-hati ke aula utama. Hanya ketika mereka melihat Su Xi-er duduk di kursi
atas, barulah mereka akhirnya merasa lega.
Ruo
Yuan dan Hong Li membungkuk. "Wang Fei, sup polong teratainya di
sini."
Tepat
sewaktu ucapan itu meninggalkan mulut mereka, satu tangan besar pun dengan
cekatan mengambil mangkuk itu.
Ruo
Yuan dan Hong Li menyaksikan sewaktu Pei Qian Hao membawa sesendok sup itu ke
bibirnya sebelum meniupnya dan menyuapi Su Xi-er. Gerakan terlatihnya
membuatnya jelas bahwa ia sering melakukan ini. Tingkat kasih sayangnya ini
sudah cukup untuk membuat orang terkejut lagi!
Pei
Qian Hao menoleh ke arah mereka berdua yang masih bengong. "Kalian boleh
mundur."
Suara
dinginnya menyebabkan mereka terperanjat, tetapi mereka membungkuk dengan
cepat. "Hamba akan undur diri." Lalu mereka pun memutar tumitnya dan
bergegas pergi.
Su
Xi-er menatap Pei Qian Hao. "Pinggangku sakit."
Pei
Qian Hao langsung jadi cemas. "Bagian pinggangmu yang mana yang
sakit?" Tangannya dengan cepat menjelajah ke bagian tubuhnya yang
disebutkan sebelumnya selagi ia bertanya.
"Berhenti
menyiksaku dan pinggangnya tidak akan sakit lagi."
Pei
Qian Hao berhenti menggerakkan tangannya dan menundukkan kepala untuk
menatapnya. "Pangeran ini akan menginstruksikan Mei Jin Xiu agar
menyiapkan beberapa obat-obatan untuk menutrisi tubuhmu. Aku akan
memerhatikannya selama periode waktu ini." Sikapnya tiba-tiba jadi serius
karena Su Xi-er sudah mengatakan bahwa itu menyakitkan.
Su
Xi-er merasa agak tidak enak dan enggan setelah melihat bagaimana ia
bersikap. Ia masih muda dan gagah, sekaligus baru mengalami sesuatu
yang baru. Hal yang wajar jika ia sedikit kesulitan menahan diri, tetapi
bagaimana aku bisa menahannya berkali-kali dalam sehari?
Karenanya,
ia pun tersenyum padanya. "Bagaimana kalau kita berdua mundur selangkah?
Tidak lebih dari dua kali sehari, ya?"
"Sesuai
dengan keinginanmu." Pei Qian Hao menerimanya dan menyuapi sesendok sup
lagi ke bibirnya.
Su
Xi-er membuka bibirnya dan meminum sup itu sambil tersenyum, merasa itu sangat
lezat.
***
Kontras
dengan atmosfer yang hangat itu, lima ratus kilometer jauhnya dari ibu kota,
Xie Yun berekspresi bak badai tanpa adanya sisa-sisa kelembutannya yang biasa.
Seorang jenderal bawahannya meninggal, banyak prajurit yang tewas, dan masih
ada yang lainnya yang menghilang.
Ini
sudah memberikan pukulan yang besar bagiku, dan itu semua karena Pei Qian Hao!
Metodenya terlalu kejam! Aku baru saja menyelesaikan masalah ini ketika salah
satu bawahanku datang untuk melaporkan bahwa Ibu Suri sudah menghilang dari
kuil. Di atas semua ini, Pangeran Yun bukan hanya gagal menculik Su Xi-er,
tetapi bahkan kehilangan nyawanya selama prosesnya!
Senyum
mengejek terbentuk di sudut bibir Xie Yun. Aku sudah memandang tinggi
Yun Ruo Feng.

0 comments:
Posting Komentar