Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Consort of A Thousand Faces 4. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2026

CTF - Chapter 430

Consort of A Thousand Faces

Chapter 430 : Kosong dan Sunyi


Saat Pangeran Hao kembali ke Kediaman Pangeran Hao, ia merasa hatinya sakit setelah menemukan Su Xi-er duduk dan menunggunya untuk makan malam bersama. Ia langsung maju ke depan dan meraih tangannya, berkata, "Sewaktu Pangeran ini pergi, kau harus makan duluan. Kau tidak perlu menunggu Pangeran ini ketika waktunya makan; tubuhmu sudah cukup kurus."

Kemudian ia menyendokkan sup ubi ke dalam mangkuk sebelum menyerahkannya pada Su Xi-er. "Minum ini untuk menutrisi tubuhmu."

Su Xi-er mengambil mangkuknya dan tersenyum. "Tubuhku dalam kondisi yang baik, dan aku sudah makan bersama Ruo Yuan dan Hong Li selagi kau pergi. Aku hanya menunggumu sekarang, karena aku lapar lagi."

Pei Qian Hao mengangguk sebelum bergumam, "Tampaknya, bergerak lebih banyak juga adalah hal yang bagus. Dengan begitu, kau bisa makan lebih banyak." Kemudian ia menaruh beberapa potong daging dan sayuran di piringnya.

Tadinya Su Xi-er tidak mengerti apa maksudnya dengan 'bergerak lebih'. Hanya setelah mereka menyelesaikan makan malam dan membersihkan diri, barulah ia menyadari apa yang dimaksudnya!

Melihat tatapan iblisnya, Su Xi-er langsung protes, "Malam ini tidak boleh. Biarkan aku istirahat. Siapa yang melakukannya tiga kali sehari?"

"Pangeran ini mempelajari bahwa tiga kali sehari termasuk sedikit. Selain itu, Pangeran ini telah menahannya selama dua puluh lima tahun."

Su Xi-er meliriknya. "Jangan bicara padaku tentang dua puluh lima tahun itu."

Pei Qian Hao berjalan ke depan dan membopongnya sebelum Su Xi-er bisa mengatakan apa-apa, menurunkannya di ranjang empuk sebelum sosok tingginya menindihnya. "Xi-er." Suaranya lambat dan lembut, dan terdengar seolah ia berusaha untuk menyenangkannya.

Su Xi-er menatapnya, merasa bahwa pria itu mulai tampaak semakin mirip dengan seorang anak kecil yang tidak diberi permen. Ia mengangkat tangannya dengan tak berdaya untuk mengetuk ringan kepala Pei Qian Hao. "Kau harus lebih lembut; kalau tidak, kau tidak akan bisa terus melakukan apa yang kau inginkan."

"Pangeran ini pasti akan lebih lembut; jangan cemas, Wang Fei." Pei Qian Hao tersenyum selagi ia mulai beraksi. Ia sudah akrab dengan bagaimana cara melepaskan pakaian Su Xi-er dan mengetahui semua titik yang disentuh untuk membuatnya merasa nyaman.

Kontras dengan malam yang membekukan, ruangan itu terbakar penuh gairah intens sementara suara aktivitas mereka merembes keluar. Untungnya karena tak ada pengawal maupun pelayan wanita yang tinggal di aula utama. Bahkan Hong Li dan Ruo Yuan menetap di kamar di halaman belakang.

Sebagai pasangan yang baru menikah, tak terhindarkan bahwa mereka lebih panas dalam pergerakannya.

***

Keesokan harinya, Su Xi-er mulai menyesali keputusannya selagi ia duduk di aula utama Kediaman Pangeran Hao. Tidak seharusnya aku mengalah dan menjanjikannya. Lihatlah apa yang sudah terjadi. Ia berangkat kerja segera setelah pagi turun, segar sekali. Sedangkan, area di antara kakiku sakit sekali.

Langit tidak adil. Mengapa tubuh pria dibuat sekuat itu, sementara wanita lemah dan tidak sanggup menahan gerakan yang kuat?

Tiba-tiba saja, Yu Xiao melesat masuk dengan ekspresi yang tidak tenang. "Wang Fei, tolong katakan yang sejujurnya padaku. Apakah Pangeran Yun benar-benar sudah mati?"

Menyadari penampilannya, Su Xi-er teringat sesuatu yang pernah dikatakannya.

"Aku ingin membunuh Pangeran Yun dengan panah di jantungnya, dan aku telah berlatih untuk melakukannya selama ini."

Tetapi kini, Yun Ruo Feng sudah tak ada lagi di dunia ini.

"Beritahu aku, apakah Pangeran Yun sudah mati? Aku bahkan tidak mendengar apa-apa, tetapi ia mati begitu saja!" Yu Xiao jadi semakin resah. Aku sudah melatih kemampuan memanahku begitu keras, hanya untuk mengetahui bahwa Yun Ruo Feng sudah mati! Ia tidak rela!

Su Xi-er mengangguk. "Yu Xiao, Pangeran Yun jatuh dari jurang yang sangat tinggi, dan masuk ke dalam hutan yang dipenuhi dengan serigala, anjing hutan, dan harimau. Tidak mungkin ia bisa selamat."

"Ia mati, begitu saja ...." Yu Xiao mengerutkan alisnya, tinjunya terkepal erat. Aku tidak sempat menggunakan Panah Penembus Jantung yang kulatih sekian lama, dan Yun Ruo Feng mati dengan begitu mudahnya! Bahkan jika tidak ada mayatnya, itu tetaplah kematian yang terlalu bagus. Kakak mati secara tragis, dan kini, aku bahkan tidak dapat menegakkan keadilan untuknya!

"Yu Xiao, aku tahu bahwa kau membencinya, tetapi kita tidak bisa hidup demi kebencian." Su Xi-er maju ke depan untuk menasihatinya ketika ia melihat kegusaran serta ketidakfokusan di matanya.

Tujuannya dalam hidup adalah untuk membunuh Yun Ruo Feng secara pribadi, dan membalaskan dendam kakaknya. Tetapi, objek balas dendamnya sudah mati sebelum ia dapat kesempatan, dan ia bahkan terlambat mengetahui soal itu.

"Pangeran Yun sudah mati, dan tujuanku dalam hidup sepertinya telah menghilang. Meski jika aku mengatakan itu, sepertinya, bukan hanya aku seorang yang menginginkan balas dendam." Yu Xiao berkata kosong, hatinya langsung bingung.

"Yun Ruo Feng menyinggung terlalu banyak orang, dan ada banyak yang ingin melihat kepalanya di ujung tombak. Yu Xiao, apa yang harus kau lakukan selanjutnya adalah untuk merencanakan sesuatu untuk dirimu sendiri, dan jangan biarkan kebencian mengambil alih hidupmu. Apa kau mengerti?" Su Xi-er menghiburnya perlahan dengan suara yang lembut. Membenci seseorang itu sulit, tetapi belajar untuk melepaskan kebencian itu jauh lebih sulit.

Setelah sekian lama, Yu Xiao akhirnya mengangguk. "Wang Fei, apa yang harus kulakukan di masa depan? Rencanaku adalah untuk mengikutimu dalam hidup ini, tetapi Anda memiliki begitu banyak orang yang handal untuk melindungi di sisi Anda. Bahkan Pangeran Hao yang berkuasa pun adalah penyokong Anda; aku bisa berguna untuk apa?"

Su Xi-er tertawa. "Bukan hanya kau mahir dalam pertempuran, kau juga berpengetahuan tentang ilmu pengobatan. Kenapa kau tidak masuk ketentaraan dan meniti jalanmu dari prajurit biasa? Kau bahkan dapat membantu untuk mengobati prajurit lainnya dengan keahlian medismu."

Mata Yu Xiao berbinar. Aku bisa melakukan itu! Ia segera menjawab, "Wang Fei, tolong sampaikan perkataan yang bagus untukku dengan Pangeran Hao supaya ia mengizinkanku untuk memasuki ketentaraan. Kakak lelakiku juga berada di ketentaraan selama bertahun-tahun, dan aku pasti akan bekerja keras untuk menghormati kenangannya!"

"Kau tidak memerlukanku untuk mengucapkan kata-kata bagus supaya kau lulus ujian. Selain itu, kau hanya bisa mendapatkan pengakuan dari para prajurit di sana, apabila kau mengandalkan kemampuanmu sendiri."

Pengingat Su Xi-er yang tepat waktu pun mencerahkan Yu Xiao. Aku bisa memasuki ketentaraan bahkan tanpa bantuan Wang Fei, tetapi itu adalah suatu tempat dimana kami harus mengandalkan kemampuan sendiri, bukannya koneksi kami.

"Wang Fei, kapankah ujiannya, dan seperti apakah itu? Aku akan menunggu di sini sampai Pangeran Hao kembali." Mata Yu Xiao berbinar penuh semangat. Pangeran Yun sekarang sudah mati bahkan tanpa ada mayat yang tersisa. Karena begitulah kasusnya, aku akan mengikuti jejak Kakak, dan menjadi seseorang yang dapat secara gagah menerjang ke garis depan medan perang.

Tiba-tiba saja, Yu Xiao teringat Mei Jin Xiu. Aku tidak akan bisa melihatnya lagi setelah aku pergi ke barak tentara. Meskipun telah menyinggungku, ia benar-benar mengatakan bahwa ia tidak akan report-repot bertengkar dengan anak kecil. Aku paling benci ketika orang mengatakan hal seperti itu; saat aku kembali dari barak tentara, aku akan mencarinya dan menunjukkan padanya, siapakah bosnya!

Tepat sewaktu ia sedang memikirkan soal Mei Jin Xiu, ia mendengar suara dari belakangnya. "Wang Fei, barang bawan wanita rendahan ini sudah tiba di kediaman pagi ini. Mulai sekarang, silakan beritahu aku apabila Anda merasa tidak sehat; kemampuan medisku sudah meningkat lumayan pesat setelah menghabiskan beberapa hari terakhir mempelajari obat-obatan!" Ia berkata tegas dengan percaya diri.

"Kau tidak perlu menyebut dirimu sebagai 'wanita rendahan ini' di masa depan. Rasanya terlalu menyesakkan untuk terlalu banyak mengikuti formalitas." Su Xi-er menjawab sambil tersenyum sebelum berdiri dan berjalan ke arah Yu Xiao.

"Kemampuan bertarung Feng Chang Qing lumayan bagus. Kau bisa berkonsultasi dengannya sebelum kau memasuki ketentaraan." Su Xi-er menyarankan.

Yu Xiao mengangguk. Aku sangat terkesan dengan Kakak Chang Qing, tetapi ia meninggalkan ladang bunga lebih cepat pagi ini. Aku harus pergi mencarinya.

"Wang Fei, aku akan pergi dan mencarinya." Yu Xiao pun berbalik untuk pergi keluar, berhenti sejenak selagi ia melewati Mei Jin Xiu dan mendengus. "Tunggu sampai aku kembali dari barak tentara dan mengendalikan kesombonganmu!" Lalu, ia pun pergi meninggalkan aula utama tanpa menunggu respons Mei Jin Xiu.

Mei Jin Xiu mendengus menghina. "Kau hanya anak-anak. Di saat kau selesai mendapatkan pengalaman, aku sudah menjadi jauh lebih hebat." Kau pikir bisa mengalahkanku? Teruslah bermimpi!

Memerhatikan Mei Jin Xiu, Su Xi-er menyadari bahwa mereka mirip di aspek tertentu. Misalnya, kita bersemangat untuk menang. Namun, meskipun arogan, sifat itu juga yang membuatnya disukai orang lain.

"Wang Fei, aku punya permintaan yang lancang." Mei Jin Xiu tiba-tiba melontarkannya selagi ia menatap Su Xi-er. 

 

Continue reading CTF - Chapter 430

CTF - Chapter 429

Consort of A Thousand Faces

Chapter 429 : Memenuhi Peran Seorang Suami


Tentu saja, Su Xi-er mengetahui buku medis apa yang sedang dibicarakannya, mendorongnya untuk menampar kening Pei Qian Hao. "Aku lihat kalau kau sudah mempelajarinya dengan sangat menyeluruh. Kau tidak diizinkan untuk membacanya lagi; aku menyitanya." Tatapannya tegas, seolah-olah ialah yang memegang kendali.

Yu Chi Mo baru saja memasuki pintu masuk aula utama ketika ia kebetulan berkesempatan melihat adegan ini, matanya terbelalak takjub. Pernikahannya baru kemarin, tetapi Hao Wang Fei sudah mengatur Pangeran Hao. Meski demikian, ekspresi Pangeran Hao bukan hanya natural, tetapi juga seolah ia juga berusaha sebisanya untuk menyenangkannya. Aku ... belum pernah melihat Pangeran Hao seperti ini!

Tampaknya, pria akan berubah setelah menikah. Bahkan Pangeran Hao yang bijaksana dan heroik saja, sudah berubah!

Pei Qian Hao mengalihkan pandangannya pada Yu Chi Mo, memberi sinyal padanya agar masuk ke dalam. Sewaktu Su Xi-er mendengar langkah kaki di belakangnya, ia langsung mendorong Pei Qian Hao untuk berdiri di samping. Aku harus membiarkannya menjaga reputasinya di depan orang luar, terutama anak buahnya.

"Pangeran ini memerintahkanmu untuk menyampaikan titah lisanku untuk Pangeran Kekaisaran Ketiga, agar menuju Provinsi Bulan dan membantu Tuan Shui dalam pengelolaannya."

Yu Chi Mo sangat kebingungan. Kenapa ia tiba-tiba memindahkan Pangeran Kekaisaran Ketiga? Namun, ia tidak berani menanyakannya secara lantang. "Bawahan ini mematuhi perintah."

"Juga, bawa sekelompok Pasukan Pengawal Kekaisaran untuk menjelajahi setiap daerah pedesaan yang jauh dan terpencil. Pangeran ini juga memerintahkanmu untuk memanggil Pangeran Kekaisaran Kedua ke ibu kota sesegera mungkin."

Yu Chi Mo terkejut. Pangeran Kekaisaran Kedua berkelana sesuka hati, dan tidak tinggal di satu lokasi yang tetap. Akan sulit untuk menemukannya, tetapi setidaknya, jauh lebih gampang dibandingkan dengan menyelidiki latar belakang Hao Wang Fei. Oleh sebab itu, ia pun segera membungkuk. "Bawahan ini akan melaksanakannya sekarang." Kemudian ia memutar tumitnya, menghilang dari aula utama dalam sekejap.

Di dalam aula utama, Pei Qian Hao melingkarkan tangannya di pinggang Su Xi-er. "Ayo kembali ke kamar; di sana hangat."

Su Xi-er menolak, "Aku baru saja keluar dari kamar untuk mendapatkan udara segar. Jangan buru-buru kembali." Siapa yang tahu apakah ia akan bergerak segera setelah kami kembali ke kamar? Kami sudah bercinta dua kali hari ini, dan dua-duanya bertahan lumayan lama. Pinggangku akan sakit jika terus begini.

"Aku mendengar aura heroikmu di medan perang, tetapi mengapa kau gemetar ketakutan di tempat tidur?" Pei Qian Hao berbisik di telinganya dan tertawa kecil.

Su Xi-er meliriknya. Bagaimana bisa di tempat tidur dibandingkan dengan medan perang? Tubuhku jelas-jelas lebih lemah darinya, dan aku hanya bisa mengaku kalah di bawah serangannya. Ia baru merasakan manisnya untuk pertama kalinya, dan ia sudah mengatakan hal-hal yang tidak tahu malu hingga wanita mana pun akan merasa malu.

Su Xi-er mendadak tersenyum dengan manisnya, mengalungkan lengannya di leher pria itu dan berjinjit untuk mencium bibirnya. Namun, sebelum Pei Qian Hao dapat menyerang balik, ia sudah menarik diri, meninggalkannya tergantung dengan canggung.

"Pangeran Hao, kau sudah menyinggungku. Kau tak diizinkan untuk menyentuhku selama tujuh hari." Su Xi-er mendengus sebelum menuju ke halaman belakang.

Ekspresi Pei Qian Hao muram. Bagaimana bisa aku tidak menyentuhnya selama tujuh hari?! Hati wanita tidak terduga, seperti mencoba untuk mencari sebatang jarum di dalamnya lautan. Aku tidak boleh hanya mengikuti semua yang dikatakannya, terutama saat hanya kesalahan kecil yang menghasilkan hukuman tujuh hari! Aku tidak melakukan apa-apa seperti melakukannya di hutan juga, jadi bagaimana adil baginya untuk memberikan hukuman seberat itu?

Namun, tepat saat Pei Qian Hao sudah akan menyusul Su Xi-er, seorang pengawal tiba-tiba datang untuk melapor.

Mendengar perkataannya, Pei Qian Hao mengangguk, dan melihat ke arah halaman belakang. Aku akan menangani masalah ini saat aku kembali di malam hari. Aku harus memenuhi peran seorang suami.

Mengikuti di belakang Pangeran Hao, pengawal itu dengan cepat menyiapkan kereta kuda untuk Pei Qian Hao, untuk memasuki istana kekaisaran.

***

Istana kekaisaran, istana peristirahatan Consort Dowager Guo.

"Pangeran Hao sudah tiba." Seorang kasim mengumumkan. Consort Dowager Guo segera membubarkan dayang-dayang istananya dan secara pribadi menuangkan secangkir teh untuk Pei Qian Hao sebelum meletakkannya kembali ke atas meja di sebelah tempat duduk yang lebih rendah.

Sewaktu ia melihat Pei Qian Hao berjalan masuk ke aula bagian luar, Consort Dowager Guo menunjukkan senyum ramah. "Consort Dowager ini memberi selamat kepada Pangeran Hao karena menikahi seorang istri yang cantik. Aku sangat menyukai Su Xi-er, dan aku harap ia dapat menemani nenek tua ini di masa depan, jika ia punya waktu."

Pei Qian Hao membungkuk dengan tangannya terlipat di depannya, dan duduk di kursi yang lebih rendah, tersenyum selagi ia berkomentar, "Consort Dowager Guo, kulitmu cerah, dan kejayaanmu dari masa lalu dapat terlihat dari wajahmu. Kau tidak bisa dianggap sebagai nenek tua."

Kata-katanya membuat Consort Dowager Guo tertawa. Wanita yang sudah berumur tentunya senang dipuji karena terlihat muda dan cantik.

"Consort Dowager Guo, karena kau telah mengundang Pangeran ini kemari, silakan langsung ke intinya. Pangeran ini tidak suka bertele-tele."

Memahami karakter Pei Qian Hao, Consort Dowager Guo tidak lagi ragu-ragu. "Kau memindahkan Pangeran Kekaisaran Ketiga keluar ibu kota, dan ia sedang minum teh di istana peristirahatan Consort Dowager ini ketika Pasukan Kekaisaran membawanya pergi. Aku tidak akan mengomentari ini, tetapi apakah kau benar-benar dapat menemukan Pangeran Kekaisaran Kedua?"

Ia sangat gembira setelah mendengar bahwa putranya sudah akan kembali ke istana, tetapi di waktu yang sama, ia juga takut kalau itu tak lebih dari fantasi belaka. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk mengundang Pei Qian Hao masuk istana sehingga pria itu dapat meyakinkannya dengan kata-katanya.

"Tentu saja kita bisa menemukannya. Pangeran ini mengerti bahwa kau merindukan Pangeran Kekaisaran Kedua, Consort Dowager. Aku sudah secara khusus memerintahkan anak buahku untuk mencarinya, jadi kau bisa tenang, karena ia akan segera kembali."

Mata Consort Dowager Guo pun berbinar. "Itu bagus sekali! Tetapi Consort Dowager Guo ini punya sebuah permintaan. Setelah Pangeran Kekaisaran Kedua kembali ke istana, bisakah kau menurunkan perintah untuk melarangnya keluar dari ibu kota? Setelah pergi selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak repot-repot kembali untuk tahun baru. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya di luar sana, dan Consort Dowager ini benar-benar merindukannya. Ia sudah berumur tiga puluh tahun, usia dimana ia sepenuhnya mandiri; tidak baik baginya untuk tetap berkeliaran tanpa tujuan."

Consort Dowager Guo sangat senang atas pernikahan akbar Pei Qian Hao, tetapi jadi sedih segera setelah ia teringat bahwa putranya masih berkeliaran tanpa tujuan di luar sana, meskipun lima tahun lebih tua dari Pei Qian Hao. Tak hanya ia menjauhi urusan duniawi, ia bahkan tidak mau menikahi seorang Wang Fei.

"Consort Dowager, jangan khawatir. Setelah Pangeran Kekaisaran Kedua kembali, ia tidak akan bisa pergi lagi. Yang Mulia masih belum cukup umur untuk menangani urusan mahkamah sendiri, tetapi Pangeran ini sudah menikah. Karena sekarang aku mengurusi Wang Fei di rumah, tentunya aku tidak akan bisa menghabiskan waktu sebanyak yang dulu kulakukan dengan Yang Mulia. Pangeran ini pasti akan membuat Pangeran Kekaisaran Kedua kembali dan mengambil tanggung jawabnya."

Consort Dowager Guo langsung mengerti bahwa putranya akan menerima jabatan resmi setelah kembali. Dengan tanggung jawab yang harus dipikul, ia tidak akan melarikan diri dari ibu kota dan menghabiskan hari-harinya di luar lagi.

Air mata menggenang di mata Consort Dowager Guo. "Terima kasih banyak, Pangeran Hao. Consort Dowager ini tidak mengharapkan apa-apa baginya untuk menaiki tampuk kekuasaan. Sudah cukup baginya untuk sedikit menahan diri, dan mengabdikan dirinya ke Keluarga Kekaisaran Situ dengan bekerja bersamamu dalam membantu Yang Mulia."

"Kau tidak perlu cemas, Consort Dowager Guo. Tentu saja Pangeran ini punya pengaturanku sendiri."

Consort Dowager Guo sangat lega setelah mendengar janji Pangeran Hao, tersenyum selagi ia berkata, "Meskipun Consort Dowager ini jauh lebih tua daripada Hao Wang Fei, kami tetap sama-sama wanita. Wanita lebih memahami sesama wanita. Jika kau kesulitan dalam memahami pemikirannya di masa depan, dan mengalami masalah, kau bisa berkonsultasi dengan Consort Dowager ini."

"Terima kasih banyak atas niat baiknya, Consort Dowager. Pangeran ini tidak akan menahan diri di masa yang akan datang." Pei Qian Hao berdiri dan membungkuk sebelum ia pergi.

Consort Dowager Guo mengangguk, senang ketika ia memerhatikan sosok jangkungnya yang berlalu. Aku tidak memercayai siapa pun, tetapi apabila Pangeran Hao mengatakan bahwa ia bisa membawa kembali putraku, ia pasti bisa. Kali ini, putraku tidak akan pergi setelah kembali.

Memiliki Pangeran Kekaisaran Kedua yang mendapatkan posisi seorang pejabat, berdinas di mahkamah, dan menikahi seorang wang fei sebelum mempunyai anak adalah harapan yang dimiliki Consort Dowager Guo untuk separuh sisa hidupnya.

Setelah mengalami perubahan dalam hidup selama bertahun-tahun, Consort Dowager Guo telah menyaksikan praktisnya segala sesuatu yang dapat ditawarkan istana. Entah itu berencana licik dalam kegelapan, atau bahkan berbicara secara terbuka, ia sudah melihat semuanya. Karena itu, pemikirannya jauh lebih murah hati dari yang lainnya. Pei Ya Ran masih muda, tetapi memiliki banyak rencana licik. Setelah meninggalkan istana kali ini, aku takutnya ia tidak akan bisa kembali bahkan jika ia menginginkannya.

Menghela napas, Consort Dowager Guo pun berjalan masuk ke aula bagian dalam dan membersihkan diri sebelum bersiap untuk istirahat.

 

Continue reading CTF - Chapter 429

CTF - Chapter 428

Consort of A Thousand Faces

Chapter 428 : Getaran di dalam Hutan


"Itulah sebabnya kau ingin menciumku di sini?" Su Xi-er menekankan tangannya ke dada Pei Qian Hao, sudah mencurigai bahwa ini bukan satu-satunya motifnya. Di waktu yang sama, sabuk di pinggangnya sudah jatuh ke tanah.

Kekehan kecil lolos dari tenggorokan Pei Qian Hao. Ia bergerak lebih mendekatinya, membiarkan Su Xi-er merasakan kehangatan napasnya di sebelah telinganya. "Menurutmu, apa yang ingin Pangeran ini lakukan?" Tangannya lanjut menjelajah di sekitar pinggangnya, seolah-olah akan menyelip ke dalam.

Su Xi-er menangkap tangannya. "Kita di luar; kau tidak boleh main-main. Kemarin sudah cukup."

"Jangan khawatir, tidak akan ada yang berani untuk masuk. Pangeran ini tahu bahwa bagian tubuhmu yang itu sudah sembuh." Pei Qian Hao mengatakan itu dengan datar.

Su Xi-er tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya ketika ia berbicara tanpa sedikit pun rasa malu. Tepat saat ia memikirkan bagaimana cara menolaknya, Pei Qian Hao sudah mulai beraksi. Oleh sebab itu, Su Xi-er hanya bisa menyerah di bawah gerakannya yang kuat.

Angin yang berembus menyebabkan pepohonan bergemerisik sementara batang pohonnya bergetar, dan suara genit pun dapat terdengar. Dikelilingi oleh ladang bunga yang kosong, tidak ada yang bisa mendengar mereka.

Tidak jelas berapa lama waktu berlalu sebelum akhirnya hening, dengan suara wanita yang memudar bersamaan erangan samar. Wajah si wanita mungil sudah merona merah, matanya yang agak menyipit pun berkelap-kelip dengan keindahan yang baru. Itu cukup untuk menyalakan api dalam hati siapa saja, dan pria di depannya pun bukan pengecualian. Pei Qian Hao tidak tahan untuk mulai bergerak lagi sebelum akhirnya tenang.

***

Dua jam kemudian, Su Xi-er memandang Pei Qian Hao dengan tatapan manja sebelum merapikan gaunnya. "Kau benar-benar tidak tahu malu!"

Ucapan malu-malunya menimbulkan kekehan pelan dari Pei Qian Hao. "Kita sudah menikah; kenapa kita harus malu? Pangeran ini tidak pernah tahu bagaimana caranya menuliskan kata 'malu'."

Su Xi-er mendengus dan mengulangi dirinya sendiri. "Kau betul-betul tidak tahu malu. Kita ada di hutan sekarang ini, tetapi kau menganggapnya sebagai tempat tidur. Jangan bermimpi untuk mendapatkan apa yang kau inginkan di masa depan." Meskipun Su Xi-er pemberani dan berkemauan keras, ia sangat malu dalam hal ini.

Ia berbalik dan pergi segera setelah ia selesai bicara, berusaha sekuat mungkin untuk mengabaikan Pei Qian Hao.

Melihat ekspresi seriusnya, Pei Qian Hao mengerti bahwa Su Xi-er merasa malu, dan maju ke depan untuk menggenggam tangannya. "Pangeran ini berjanji padamu bahwa kita hanya akan melakukannya di dalam ruangan di masa depan, ya?"

Urusan ini harus dilakukan secara pelan-pelan; tidak boleh terburu-buru. Pada akhirnya, suatu hari nanti, ia akan terbiasa.

"Bersumpahlah." Su Xi-er berhenti di jalannya, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.

Demi menyenangkannya, Pei Qian Hao hanya bisa bersumpah dengan sungguh-sungguh. "Pangeran ini hanya akan bercinta di dalam kamar. Jika aku gagal melakukannya, kau bisa menghukum Pangeran ini agar tidak menyentuhmu selama tujuh hari."

Bagi seorang pria sehat yang telah bertahan selama dua puluh lima tahun, bisa dianggap wajar baginya untuk menikmati berhubungan intim setiap malam setelah menikahi wanita yang dicintainya. Tidak menyentuhnya selama tujuh hari akan lebih menyakitkan daripada memotong dagingnya, jadi itu adalah sumpah yang berat baginya.

Melihat ekspresinya yang sungguh-sungguh, Su Xi-er memutuskan memercayainya untuk saat ini. "Kurangi sedikit tenaganya lain kali. Kau begitu cepat sampai-sampai kau bahkan tidak bisa dihentikan."

"Kita akan melakukan apa pun yang kau katakan." Menyadari ekspresi Su Xi-er sudah tenang, ia pun mengulurkan tangan kanannya untuk memeluk pinggangnya.

Tidak buruk. Aku sudah makan hari ini, tetapi aku bisa memberinya makan hingga ia kenyang dan menyantapnya lagi malam ini. Pei Qian Hao berhenti sebentar, tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Semenjak pertama kali mereka melakukannya, ia tidak tahan untuk tidak memikirkannya kapan saja ia melihat Su Xi-er. Hanya saja, untuk seseorang dengan kebanggaan sebesar dirinya, tidak mungkin ia akan mengakuinya.

Ketimbang mencoba menjelaskannya dengan kata-kata, Pei Qian Hao merasa, lebih baik untuk membuktikan dirinya melalui tindakannya.

Pei Qian merayu Su Xi-er sebentar lagi sebelum mereka meninggalkan hutan. Saat mereka mendekati ladang bunga, ia menggendong Su Xi-er ke atas kereta kuda.

Setelah insiden ini, seorang pangeran yang arogan telah belajar dari pembelajarannya: Wang Fei-ku menyukainya saat aku mengucapkan kata-kata manis. Aku hanya perlu merayunya dengan benar, dan setelahnya aku bisa memperoleh sejumlah keuntungan sebagai gantinya.

Pengawal yang menunggu di luar ladang bunga dibiarkan kebingungan ketika ia melihat ekspresi Su Xi-er. Wang Fei berekspresi tenang saat ia memasuki ladang bunga, tetapi matanya tampak menawan dan berkabut sekarang, setelah ia keluar. Apa sebenarnya yang dilakukan kedua orang ini di dalam?

"Kembali ke Kediaman Pangeran Hao." Nada bicara yang keras itu menyentak si pengawal dari pemikirannya.

Tak lagi ragu-ragu, si pengawal melompat naik ke kereta dan mengangkat cemetinya, mulai mengendarai ke arah Kediaman Pangeran Hao.

Ibu kota masih tenggelam dalam nuansa meriahnya pernikahan, dan sutra merah yang digantungkan di pintu tiap rumah hanya akan dilepas saat hujan turun.

"Hao Wang Fei pastinya tersiksa kemarin. Kalian harus ingat bahwa Pangeran Hao menahan diri selama dua puluh lima tahun. Mana mungkin ia tidak seganas harimau saat pertama kali menyentuh wanita?!"

"Benar sekali! Tidak akan ada yang menyangka itu merupakan kali pertama Pangeran Hao. Sepertinya, begitu banyak wanita yang dibawanya ke Istana Kecantikan di masa lalu, pasti hanyalah dekorasi."

"Aku tidak mengerti pemikiran Pangeran Hao. Itu adalah pertama kalinya merasakan rasa manis yang pertama kali selama dua puluh lima tahun. Aku takutnya di masa depan ...." Banyak warga sipil yang tertawa terbahak-bahak mendengar itu.

Seperti yang dikatakan rakyat jelata, Su Xi-er sudah banyak diombang-ambingkan, tetapi luka tusukan pada lengannya sudah sembuh dengan sangat cepat setelah membubuhkan bubuk bunga Ling Rui. Setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka, Pei Qian Hao membawanya untuk tidur siang, hanya untuk melewati babak lainnya yang bahkan mencakup dua posisi. Pada akhirnya, seluruh wajah Su Xi-er memerah.

(T/N : wes habis sudah neng Si-er :D)

***

Wu Ling kembali ke aula utama Kediaman Pangeran Hao pada pukul 6.30 malam. "Melapor pada Pangeran Hao, kami tidak menemukan jasad Pangeran Yu di dasar jurang. Hutan di bawah dipenuhi dengan anjing hutan dan serigala. Jatuh dari ketinggian itu pastinya menghasilkan tempat kejadian yang penuh darah, yang menarik binatang buas di dekatnya untuk memakan jasadnya."

Agak tragis bagi Pangeran Yun yang dulunya berjaya, untuk mati tanpa jasad yang utuh.

"Jelajahi area itu secara menyeluruh selama tiga hari. Apabila kau masih tidak bisa menemukan jasadnya, tarik semua prajurit dan jangan lanjutkan masalah ini lebih jauh. Pastikan untuk merahasiakan masalah ini." Pei Qian Hao memerintahkan dengan suara dalam selagi ia melambaikan tangannya.

"Pangeran Hao, bawahan ini mematuhi perintah. Aku juga ingin melaporkan bahwa masalah Commandery Prince Xie sudah ditangani. Haruskah kita membuat lebih banyak penghalang jalan untuk menahannya?"

Sinar yang menusuk keluar dari mata Pei Qian Hao. "Sudah waktunya Xie Yun bisa kembali. Kau tidak perlu menghentikannya."

"Bawahan ini mematuhi perintah." Wu Ling kemudian berbalik, bersiap untuk berjalan keluar dari aula utama, tetapi dihentikan oleh Pei Qian Hao.

"Instruksikan Yu Chi Mo untuk memasuki kediaman pangeran. Pangeran ini punya pekerjaan untuknya."

"Bawahan ini akan segera memberitahukannya." Kemudian Wu Ling pun meninggalkan kediaman dengan cepat.

Dalam perjalanannya keluar, kebetulan ia menabrak Ruo Yuan, tetapi tidak berhenti untuk menyapanya dikarenakan urgensi dari perintahnya sebelumnya.

Ruo Yuan hanya bisa merasakan embusan angin yang melewatinya. Tadinya aku ingin membungkuk dan menyapanya, tetapi Komandan Wu berjalan lewat dengan buru-buru, bahkan tidak melirikku. Apakah karena ia tergesa-gesa, atau karena ia tak lagi mengingatku? Bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang gadis gemuk rendahan.

(T/N : ga gitu kok Ruo Yuan, dirimu tuh spesial juga. Semangat mbak'e.)

***

Pei Qian Hao sedang minum teh sambil menunggu Yu Chi Mo, tetapi ia tidak menduga Su Xi-er akan meninggalkan kamar dan datang ke aula utama. Tampaknya aku tidak bekerja keras siang ini; ia memulihkan tenaganya secepat itu.

Ia sudah membiarkan Su Xi-er tidur selama dua jam sebelum bermain-main dengannya, lagi dan lagi, selama empat jam. Akhirnya, Su Xi-er memejamkan matanya dan tertidur lelap.

Tubuh Su Xi-er memancarkan aura yang memikat, dan ekspresinya mirip dengan bunga di musim semi. Ketika ia berjalan ke sisinya, Pei Qian Hao merasa seolah angin sepoi-sepoi lembut sudah lewat. Aroma feminin yang ditiup angin itu menyebabkan jantungnya berdebar.

Karenanya, Pei Qian Hao pun memeluknya lagi. "Apa kau yakin kau sudah istirahat dengan baik? Setelah kita makan malam, kita ...."

Su Xi-er menamparnya. "Tidak mungkin, sudah pasti tidak malam ini. Bagaimana bisa ada orang sepertimu yang terus melakukannya siang dan malam?"

"Xi-er, Pangeran ini harus membiarkanmu melihat buku medis itu. Perilaku Pangeran ini sangat normal."

(T/N : omg bang Hao, dirimu membuatku banyak meninggalkan translator note. Ckck, keganasan yang hakiki.)

 

Continue reading CTF - Chapter 428

CTF - Chapter 427

Consort of A Thousand Faces

Chapter 427 : Melihat-lihat


Terlepas dari masa lalunya yang bergejolak dan menyedihkan, penggambarannya hampir sangat tenang. Menangkap semangat pantang menyerah di wajahnya, Su Xi-er pun tidak tahan untuk mengulurkan tangan, perlahan-lahan mengelusnya. Baik kesengsaraan dan pengalamannya, lebih buruk dariku.

"Apakah hatimu merasa sakit untuk Pangeran ini?" Pei Qian Hao menggenggam tangannya dan menekankannya ke pipinya, tangan lainnya melingkari pinggangnya, menyatukan tubuh mereka dengan erat.

Su Xi-er mengangguk. "Tentu saja hatiku merasa sakit untukmu. Mulai sekarang, aku akan memikul sebagian dari bebanmu juga." Aku harus melakukan apa yang kubisa, meski jika aku tidak sanggup melakukannya dalam beberapa aspek.

Pei Qian Hao tidak menolaknya. Lumayan bagus, memiliki seseorang yang berjuang di sampingku, tetapi akan kupastikan kalau ia menjalani kehidupan yang bebas dari kekhawatiran. Aku harus menepati janjiku untuk menjaganya, memastikannya berbahagia. Pria mana pun yang membiarkan seorang wanita bekerja banting-tulang demi dirinya, bukanlah seorang pria sejati.

"Xi-er, apa maksud gestur tangan yang kau lakukan dengan Ning Lian Chen itu?"

Su Xi-er tersenyum sewaktu ia menjawab, "Setiap kali Lian Chen dan aku dalam kesulitan, kami menggunakan gestur tangan ini untuk saling menyemangati. Situasi di Nan Zhao saat ini cukup menyusahkan, jadi kita hanya akan menggunakan delapan ratus pasukan elitmu sebagai upaya terakhir."

"Lakukan satu kali dengan Pangeran ini." Pei Qian Hao mengangkat tangan kanannya, memberi sinyal padanya agar mengepalkan tangan kirinya.

Su Xi-er menatapnya dan dalam hati meratap. Sifat kekanak-kanakannya kambuh lagi. Ia bahkan cemburu pada Lian Chen, meskipun Lian Chen adalah adik iparnya!

"Cepat, ulurkan tanganmu dan lakukan itu dengan Pangeran ini." Desak Pei Qian Hao.

Tawa pun lolos dari bibir Su Xi-er sewaktu ia menurutinya, mengulurkan kepalan tangannya, sementara tangan Pei Qian Hao membungkusnya.

"Kau benar-benar seperti anak kecil." Su Xi-er tidak tahan untuk berkomentar.

Tatapan Pei Qian Hao mendalam untuk sesaat sebelum jejak main-main melintas. "Biarkan Pangeran ini membawamu ke suatu tempat." Tanpa menunggu jawabannya, ia meraup Su Xi-er ke dalam pelukannya dan berjalan ke kereta kuda di kejauhan.

Pengawal di dekat kereta sudah berpaling dan berpura-pura tidak melihat apa-apa ketika ia melihat interaksi Pei Qian Hao dan Su Xi-er. Hanya ketika ia mendengar langkah kaki dari belakangnya, barulah ia berbalik dan membungkuk. "Bawahan ini ...."

Sebelum ia selesai, ia melihat Pei Qian Hao dengan cepat mengangkat Su Xi-er ke dalam kereta kuda.

"Pergi ke ladang bunga." Suara dalam Pei Qian Hao menggema dari dalam kereta.

Menerima perintah, si pengawal pun melompat ke atas kereta dan mengangkat cemetinya, menuju ke Sungai Pedagang ibu kota.

***

Semua warga sipil di ibu kota mengetahui bahwa Pei Qian Hao telah memerintahkan agar area di sebelah Sungai Pedagang dibersihkan untuk sebuah ladang bunga. Akan ada berbagai macam bunga yang ditanam, tetapi sebagian besarnya untuk Ling Rui. Jika eksperimennya berhasil, itu akan mengejutkan semua kerajaan.

Takut kalau Su Xi-er akan merasa tidak nyaman dengan perjalanan keretanya yang bergelombang, Pei Qian Hao mendudukkannya di pangkuannya sepanjang waktu.

Satu jam kemudian, kereta kuda sampai di depan ladang bunga. Pei Qian Hao menggendongnya turun dari kereta kuda dan bertanya, "Perjalanan yang bergelombangnya ...."

Su Xi-er menyelanya. "Itu bukan apa-apa. Selain itu, bagaimana aku bisa merasa tidak nyaman dengan bantalan manusia sebesar ini?" Kemudian ia melihat ke kejauhan.

Ladang bunganya sangat luas, dan terdiri dari tiga bagian. Beberapa bagiannya sudah dihuni oleh rumpun pohon yang lebat, sementara yang lainnya dibiarkan kosong.

Pei Qian Hao menggenggam tangannya dan menunjuk ke kejauhan. "Kita akan mengisi bagian lahan yang kosong dengan Ling Rui tahun depan; kau bisa melihat lautan bunga kesukaanmu di sini, di Bei Min, setelah itu terjadi."

Ketika mereka mengunjungi Kediaman Shui di Nan Zhao, mereka menemukan bahwa ibu Shui Ying Lian, telah berhasil mentransplantasikan bunga Ling Rui, meskipun di area yang kecil. Jika Pei Qian Hao dapat meniru pencapaiannya dalam skala besar seperti ini, bukan hanya rakyat Bei Min saja yang akan dibuat takjub.

"Mari Pangeran ini mengajakmu ke sana untuk melihat-lihat." Pei Qian Hao menggandeng tangannya sewaktu mereka berjalan ke pintu masuk ladang bunga dimana pengawal menunggu.

Tanah di lahan yang kosong itu dijaga, dan mata Su Xi-er pun melebar kala ia melihatnya dari dekat. "Darimana kau menemukan tanah ini?" Ia paham bahwa tanahnya bukan asli Bei Min. Seberapa besar usaha yang dikerahkan untuk memindahkan tanah sebanyak ini?!

"Pastinya ada cara, dan itu berkat adik lelakimu. Feng Chang Qing juga lumayan; ia cukup berwawasan tentang kualitas air." Ekspresi pengakuan muncul di mata Pei Qian Hao untuk sesaat sebelum ia membawanya untuk terus berjalan ke depan.

Kali ini, ia berjalan langsung ke dalam hutan yang menghijau, dimana angin menderu terhadang oleh rimbunnya pepohonan.

Su Xi-er mengamati keadaan sekelilingnya dan menyadari bahwa pepohonannya adalah tipe yang akan tetap rimbun sepanjang empat musim, jadi ia pun tidak tahan untuk bertanya, "Mengapa kau membawaku kemari?"

Pei Qian Hao meletakkan tangannya di pundaknya dan menatap dalam ke matanya. "Tempat ini masih berada di dalam ibu kota, tetapi kita masih bisa mendapatkan saat-saat yang tenang di tengah ramainya ibu kota. Aku tahu kau suka hidup sederhana. Saat kita tua, kita bisa membangun beberapa rumah bambu, sehingga akan terasa hangat di musim dingin dan terasa sejuk di musim panas. Bukankah itu akan luar biasa?"

Ia sudah merencanakan jauh ke depan. Walaupun Pei Qian Hao tidak mengungkapkan seluruhnya, Su Xi-er paham bahwa, Situ Lin akan memerlukan seorang menteri yang kuat untuk membantunya di masa yang akan datang ketika ia mengambil takhta kekaisaran.

Tinggal di sini, memungkinkan kami untuk menikmati hidup, sekaligus bersiap-siap kalau-kalau ia sekonyong-konyong dibutuhkan di mahkamah. Mata Su Xi-er dipenuhi kekaguman. Itu adalah keberuntungan Bei Min, memiliki seorang pejabat yang rela sampai sejauh ini.

"Ada apa? Kau tidak menyukainya? Tempat ini secara khusus ...."

Su Xi-er menekankan jarinya ke bibir Pei Qian Hao. "Aku senang dengan apa pun yang kau lakukan, dan tempat ini memang sesuai dengan seleraku. Bukan hanya kita dapat menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di masa yang akan datang, tetapi kita bahkan bisa naik kapal dan memancing di dekat Sungai Pedagang."

Melihat senyuman dan bibir ceri merahnya, Pei Qian Hao tidak tahan untuk mencium jari yang digenggam di mulutnya dengan menggoda.

Merasakan kehangatan di jarinya, Su Xi-er tersipu sewaktu ia segera mencoba untuk menarik tangannya. Namun, sebelum ia bisa melakukannya, Pei Qian Hao sudah menariknya.

Mendongakkan kepalanya dan menatap ke manik mata hitam Pei Qian Hao yang tak berdasar, Su Xi-er dapat merasakan percikan api yang berbahaya, menyala di matanya.

"Pei Qian Hao! Kau ...." Dalam kegugupannya, tanpa sadar Su Xi-er menjeritkan nama lengkapnya. Percikan api itu ... dan sekarang ini kita ada di hutan ....

"Wang Fei, ada apa dengan Pangeran ini?" Tangan Pei Qian Hao yang lain mendadak berkeliaran di pinggangnya, mendorongnya ke batang pohon.

Su Xi-er menengadahkan kepalanya dan melihat tatapan menggoda melintas di matanya, langsung memastikan teorinya. Ia ....

"Xi-er, apakah adegan ini familier? Pertama kalinya kita bertemu, juga di hutan, tetapi dulu, kita berada di Istana Samping." Pei Qian Hao tersenyum mengingat kenangan itu. "Darimana kau mendapatkan nyali sebesar itu untuk membuat Pangeran ini pingsan?"

Ia menurunkan kepalanya untuk menghadapnya sementara hidung mereka bersentuhan, menjaga mata mereka sejajar selagi aura mereka terjalin.

"Xi-er." Ia memanggil dengan lembut, tangannya perlahan-lahan menarik sabuk Su Xi-er dari pinggangnya.

Manik mata Su Xi-er menyusut sejenak. "Kita ada di hutan. Jangan main-main."

"Pertama kalinya Pangeran ini menciummu adalah di hutan, dan juga merupakan kali pertamaku mencium seorang wanita. Tidakkah kau pikir, itu sudah diatur oleh langit?" Meskipun tidak pernah mencium seorang wanita, aku sangat mabuk malam itu sampai-sampai aku memaksa melakukan itu dengannya.

Terlepas apakah itu adalah kebetulan atau takdir, kami ditakdirkan untuk bertemu.

 

Continue reading CTF - Chapter 427

CTF - Chapter 426

Consort of A Thousand Faces

Chapter 426 : Ciuman Paksa


Su Xi-er sangat jelas tentang betapa dahsyatnya pasukan elit Pei Qian Hao. Reputasi mereka terkenal kemana-mana setelah menang berkali-kali melawan rintangan yang sepertinya tak dapat diatasi. Kerajaan mana pun akan ketakutan mendengar pasukan elitnya, jauh lebih mengembangkan rumor tentang Pei Qian Hao yang dingin, tak berperasaan, kejam, dan haus darah.

"Lian Chen, hati-hati dengan apa yang kau lakukan. Aku akan membantu Nan Zhao dalam aspek lainnya." Su Xi-er menenangkannya sambil tersenyum sebelum mengulurkan tangan kanannya yang mengepal.

Kakak-beradik itu akan selalu melakukan ini kapan saja mereka berhadapan dengan tantangan. Memahami niatnya dengan sekali lihat, Ning Lian Chen mengulurkan tangan kirinya dan membungkuskannya di kepalan tangan Su Xi-er. Mereka berdua tersenyum satu sama lain saling memahami dan serempak berkata, "Kerja keras."

Pengertian tanpa ucapan ini membuat Pei Qian Hao sangat tidak senang. Tetapi, Ning Lian Chen adalah adik iparku, sekaligus satu-satunya keluarga istriku. Walaupun tahu kalau tidak semestinya aku merasa tidak senang, aku tidak tahan!

Menyadari ekspresi Pei Qian Hao, Ning Lian Chen segera menarik tangannya dan memberitahunya, "Memercayakan Kakak Perempuan padamu, membuatku tenang." Kemudian, ia berjalan ke arah Liu Yin Yin dan mengulurkan tangannya. "Kemarilah."

Liu Yin Yin masih marah, tetapi ketika ia melihat ekspresi jeleknya dan rentetan prajurit Nan Zhao di kejauhan, ia mengerti kalau ia tidak boleh melawannya di sini dan tidak menghormati kekuasaan kekaisaran.

Oleh karenanya, dengan patuh Liu Yin Yin maju ke depan dan menyambut tangannya, naik ke kereta kuda bersamanya.

Ketika kereta kuda mulai bergerak, tiba-tiba saja Liu Yin Yin mengangkat tirai jendela dan melambai pada Su Xi-er. "Kakak Peri, kau harus datang ke Nan Zhao saat kau senggang. Kalau tidak, aku akan ditindas oleh Fang Ling Dang!"

Tepat setelah ia selesai berteriak, Ning Lian Chen menariknya masuk kembali. "Fang Ling Dang itu lembut dan sopan. Mana mungkin ia bisa menindasmu; lebih banyak yang percaya kalau itu sebaliknya."

Mendengarkannya membela Fang Ling Dang, amarah Liu Yin Yin melonjak lagi ke permukaan. "Anda hanya membicarakan tentang kelebihannya dan selalu memikirkan tentang dirinya. Aku diusir keluar dari istana peristirahatan Anda kapan pun aku berusaha untuk masuk, sementara ia bisa secara terbuka masuk dan tinggal selama beberapa malam!"

Tentunya Ning Lian Chen punya alasannya untuk mengusirnya keluar. Gadis ini akan memanjat ke ranjangku, tetapi setidaknya Fang Ling Dang mematuhi peraturan. Selain itu, ia juga digunakan untuk mengendalikan Tabib Kekaisaran Fang, dan akan selalu tidur di dipan di aula samping.

Namun, karena sekarang Yun Ruo Feng sudah mati, tidak perlu lagi membiarkan Fang Ling Dang di istana peristirahatanku; aku akan menyuruh seseorang untuk mengusirnya setelah masalah di mahkamah stabil.

"Kenapa Anda tidak bilang apa-apa? Itu karena Anda tidak punya apa pun untuk dikatakan. Akan kutunjukkan pada Anda!" Liu Yin Yin menggulung lengan bajunya, memperlihatkan satu bekas di sikunya. "Bekas ini tersisa saat Fang Ling Dang mencubit tanganku; sakit sekali, dan aku masih punya bekas ini bahkan sampai sekarang! Tetapi, ketika aku datang ke istana peristirahatan Anda belum lama ini, Anda mengusirku keluar tanpa alasan!" Liu Yin Yin sudah hampir menangis sampai di akhirnya.

Ning Lian Chen memandang bengong bekas yang tampak jelas di lengannya, alisnya tertaut sementara Liu Yin Yin terus berbicara.

"Aku dengar kalau Anda berada di ruang baca ketika aku menyelinap ke dalam istana peristirahatan Anda, jadi aku pergi untuk memeriksa Anda. Ketika aku sampai di sana, Fang Ling Dang sedang membantu Anda menggilingkan batang tinta, dan aku merasa tidak senang. Itulah mengapa, aku menyelinap masuk ke dalam kamar tidur untuk menunggu Anda. Bahkan, setelah semua itu, Anda mengusirku keluar segera setelah Anda masuk. Setelahnya, para pengawal juga mengusirku pergi." Liu Yin Yin tidak akan pernah melupakan kesombongan yang berkedip di mata Fang Ling Dang.

Wanita itu adalah seekor serigala berbulu domba! Mengalami penderitaan semacam itu, Liu Yin Yin telah memutuskan untuk tidak mengungkit mereka pada Ning Lian Chen karena amarahnya.

Ning Lian Chen mengulurkan tangannya dan mengelus bekas itu. "Seharusnya kau mengatakan sesuatu saat aku mengusirmu, tetapi kau masih tidak bilang apa-apa selama beberapa hari ini di Bei Min."

"Apakah Anda memberiku kesempatan untuk mengatakan apa-apa?" Mata Liu Yin Yin agak bengkak karena menangis, menyebabkan hati Ning Lian Chen terasa sakit.

"Yin Yin, maafkan aku. Aku akan menangani Fang Ling Dang." Ning Lian Chen menenangkannya sewaktu ia memijat-mijat tangannya.

Usahanya tak bekerja pada Liu Yin Yin, dan ia mengibaskan tangannya. "Sudah tidak sakit lagi. Hanya tersisa bekas kecil. Jangan menitikkan air mata buaya."

Ning Lian Chen tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat reaksinya, hanya mengetuk kepalanya dengan lembut. "Dasar nakal."

"Jangan memperlakukanku seenaknya. Aku masih marah!" Liu Yin Yin berpaling dari Ning Lian Chen, masih belum siap untuk memaafkannya.

"Yin Yin, jangan marah. Saat kita kembali ke Nan Zhao, bagaimana kalau aku membawamu keluar istana saat aku senggang?" Tadinya, Ning Lian Chen ingin menjaga jarak dari Liu Yin Yin, tetapi ia rasa, sekarang bukanlah waktu yang tepat setelah mengetahui seberapa besar penderitaannya.

Liu Yin Yin langsung berbalik, dan kebetulan melihat bibir Ning Lian Chen yang agak merah. Bentuk bibirnya tampak sangat bagus; mirip permen. Tiba-tiba saja, satu ide jail pun mendatanginya, dan dengan cepat berdiri sebelum melingkarkan tangannya di leher Ning Lian Chen.

Kali ini, Ning Lian Chen tidak mendorongnya, berpikir kalau ia hanya ingin dipeluk seperti yang mereka lakukan dulu. Anak-anak suka dihibur setelah mengalami penderitaan. Aku akan melakukan hal yang sama dengan Kakak Perempuan sebagai anak kecil.

Akan tetapi, Liu Yin Yin bukan hanya menginginkan pelukan. Melihat kalau Ning Lian Chen tidak menolaknya, ia berasumsi kalau Ning Lian Chen setuju. Aku mau makan permen hari ini! Bibirnya indah sekali sampai-sampai terlihat seolah kau bisa memeras air keluar dari bibirnya. Apakah Fang Ling Dang sudah pernah memakan bibirnya sebelumnya?

Setelah memikirkan soal itu, sekali lagi, Liu Yin Yin jadi kesal. Aku mau menyingkirkan bau Fang Ling Dang! Meluap penuh keberanian, tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya dan dengan gesit menangkap bibir itu.

Bibir mereka bertemu, yang satu hangat, dan yang lainnya agak dingin. Dalam sekejap saat mereka melakukan kontak, mata Ning Lian Chen melebar sewaktu ia merasakan bibirnya yang jadi hangat.

Detik berikutnya, ia mendorong Liu Yin Yin. Di waktu yang sama, kereta kuda menyentak, memaksanya untuk menariknya lagi, takut kalau ia akan jatuh.

Oleh sebab itu, Liu Yin Yin pun menyerang sekali lagi, menghisap dan menggigit bibirnya, bahkan akhirnya menyelipkan lidahnya ke dalam mulutnya.

Setelah kereta kudanya stabil, Ning Lian Chen mendorongnya dan memegangi pundaknya, tampang serius menyapu matanya. "Liu Yin Yin!" Aura menekan kekaisarannya terpampang penuh.

Ketakutan sampai-sampai ia gemetaran, Liu Yin Yin dengan waspada memandanginya. "Ada apa?"

"Di masa depan, menjauhlah dariku! Kalau kau melakukan ini lagi, aku benar-benar akan meninggalkanmu untuk mengurusi dirimu sendiri!" Ning Lian Chen melepaskannya tepat setelah itu. Sulit dipercaya bahwa aku dicium oleh gadis berumur sepuluh tahun, dan lebih-lebih lagi, itu adalah ciuman pertamaku.

Takut oleh teriakannya, Liu Yin Yin menundukkan kepalanya dan menggumam, "Aku tidak akan berani melakukannya lagi." Hanya permen yang sulit didapatkan yang rasanya enak. Aku sudah mengingat rasanya.

Pengawal di samping kereta merasa kelopak matanya berkedut ngeri sebelum mendesah di waktu berikutnya. Nona Yin Yin terlalu nakal. Ia selalu menjadi alasan Yang Mulia jadi mengamuk. Haah, Nona Yin Yin pastinya adalah seseorang yang dikirimkan oleh Langit untuk menghukum Yang Mulia.

***

Kontras dengan episode kacau di dalam kereta kuda, ada lebih banyak nuansa nyaman di antara Su Xi-er dan Pei Qian Hao. Meski begini, ada jejak kemuraman pada adegan itu.

Su Xi-er masih memikirkan tentang Ning Lian Chen, bertanya-tanya, dibutuhkan berapa lama sebelum ia dapat berjumpa lagi dengannya. Kematian Yun Ruo Feng sudah pasti akan menimbulkan pergolakan penuh gejolak yang akan menyebabkan keresahan di Nan Zhao. Terlebih lagi, kami tidak bisa mengumumkan penyebab asli kematiannya. Hanya bisa dikatakan bahwa ia meninggal secara tak terduga saat tinggal di kediamannya.

"Kau masih memikirkan tentang Ning Lian Chen?" Pei Qian Hao menekankan keningnya di kening Su Xi-er sewaktu ia memeluknya.

Su Xi-er mengangguk. "Masih ada dua tahun lagi sebelum ia cukup umur. Sekarang ini ...."

"Pangeran ini kehilangan orang tuaku saat aku berumur tujuh tahun, jadi gelandangan hingga aku masuk Kediaman Pei. Aku bergabung dalam ketentaraan ketika berumur sepuluh tahun, maju ke medan perang ketika berumur tiga belas tahun, memimpin pasukan saat berusia lima belas tahun, menjadi jenderal kepala saat aku berumur tujuh belas, dan melejit terkenal dalam satu pertempuran ketika aku berumur delapan belas tahun. Demikian pula, Ning Lian Chen bukan anak kecil lagi." 

 

Continue reading CTF - Chapter 426

CTF - Chapter 425

Consort of A Thousand Faces

Chapter 425 : Membuat Keriuhan


Pei Qian Hao tidak langsung naik ke kereta kuda, memilih untuk menjauh ke samping. "Yang Mulia, silakan naik duluan ke kereta kuda." Kami harus menunjukkan keramahan dengan layak sebagai tuan rumah kerajaan; meski bukan begitu, Ning Lian Chen adalah adik iparku. Mana bisa aku membiarkannya naik setelah diriku?

Di waktu yang sama, Ning Lian Chen memahami maksud Pei Qian Hao. Dengan demikian, ia hanya tersenyum kecil sebelum mengangkat tirai kereta dan naik. Hanya setelah ia duduk, baru Pei Qian Hao sendiri naik.

Setelah semuanya mengambil tempat duduk mereka, si pengawal yang mengemudikan keretanya melecut cemetinya, dan kereta pun menuju gerbang ibu kota bersama para pasukan Nan Zhao yang mengikuti di belakang. Warga mulai berkumpul di samping rombongan, mengetahui bahwa kereta itu milik Kaisar Nan Zhao.

Hanya ada satu kereta saat Kaisar Nan Zhao datang ke Bei Min, tetapi kini ada dua. Beberapa warga sipil yang cepat tanggap pun berspekulasi dengan berani, "Mungkinkah kereta kuda yang luas di depan itu milik Pangeran Hao?"

Tidak seperti kereta kuda dari Kediaman Commandery Prince, kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao tidak ada penanda khusus. Karenanya, semuanya hanya bisa menebak-nebak.

Di dalam kereta kuda, Liu Yin Yin terus mengamati keadaan sekelilingnya hingga akhirnya ia mendeteksi ada yang tidak beres dari ekspresi Pei Qian Hao. Ia langsung bangkit berdiri, ingin duduk di sebelah Ning Lian Chen.

Takut kalau ia akan jatuh, Ning Lian Chen mengulurkan tangannya untuk membawanya mendekat dan menempatkannya di tempat duduk di sebelahnya. "Mengapa kau tiba-tiba saja berdiri tanpa sebab?"

"Tempat duduk di sebelah Kakak Peri harus disediakan untuk suaminya. Aku memberikan tempat dudukku padanya." Liu Yin Yin terkikik.

Itu cukup sederhana, tetapi Ning Lian Chen mengartikan kata-katanya di jalan lain. Kalau begitu, yang duduk di sebelahnya haruslah suaminya. Jantung Ning Lian Chen tenggelam. Biarpun Yin Yin baru sepuluh tahun, aku harus tetap menjaga jarakku darinya. Kalau ia terus menempel padaku saat ia dewasa, bagaimana ia akan menikah? Selain itu, melakukan begitu juga akan melukai reputasinya.

Menyadari bahwa Ning Lian Chen terdiam, Liu Yin Yin segera menarik tangannya dan memiringkan kepalanya sewaktu ia bertanya, "Kenapa Anda mendadak tidak senang? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"

Sebelum ia dapat menjawab, malah Pei Qian Hao yang berbicara. "Kau tidak salah." Hanya aku yang bisa mengambil tempat duduk di samping Su Xi-er.

Su Xi-er menarik Pei Qian Hao dan memelankan suaranya. "Jangan begitu dingin saat kau bebicara; kau akan menakuti Yin Yin." Ia boleh bersikap dingin pada orang lain, tetapi Lian Chen dan Yin Yin dekat denganku. Aku harap, ia bisa berhenti bersikap sedingin itu di depan mereka.

Pei Qian Hao mengulurkan tangan dan menariknya ke sisinya, memeluknya dengan erat sebelum menurunkan bibirnya ke telinga Su Xi-er dan berbisik, "Xi-er, Pangeran ini tidak bisa mengubah kepribadianku. Aku hanya bisa bersikap hangat padamu, tetapi aku bisa berusaha keras untuk memperbaikinya."

Su Xi-er memandanginya. Aku tidak boleh memaksanya, sama seperti ia tidak memaksaku.

Duduk di sisi lainnya, Liu Yin Yin jadi bersemangat setelah menyaksikan adegan di antara mereka. Ia tertawa sendiri sebelum meniru tindakan mereka dengan Ning Lian Chen, melakukannya dengan cukup cepat hingga ia tidak bisa mengelak. Memeluk pinggangnya, Liu Yin Yin bergerak ke atas untuk berbisik di telinganya. "Apa aku menirunya dengan baik? Aku merasa sepertinya Kakak Peri lumayan suka dipeluk oleh orang lain. Apa Anda menyukainya juga?"

Wajah Ning Lian Chen yang semula lembut, segera menggelap. Apa-apaan dengan otak gadis ini?!

Tak seperti ekspresi gelap Ning Lian Chen, Pei Qian Hao tertawa terbahak-bahak dan menggoda, "Menurut Pangeran ini, Yin Yin mempelajarinya lumayan baik. Yang Mulia beruntung."

Aura dingin yang menyelimuti Pei Qian Hao sudah menghilang secara signifikan, mendorong sudut mulut Su Xi-er untuk terangkat.

Ning Lian Chen masih memasang ekspresi muramnya, sewaktu ia menggunakan kedua tangan untuk melepaskan cengkeraman Liu Yin Yin. "Duduk yang benar. Kalau kau tidak bersikap seperti seorang gadis yang benar, bagaimana kau akan menemukan seseorang untuk dinikahi di masa depan? Apa kau kira kalau aku akan terus membesarkanmu seumur hidupmu?"

Setiap katanya kasar, terutama kalimat terakhirnya, yang membuat wajah Liu Yin Yin jadi pucat. Ia menatap Ning Lian Chen tak berdaya, merasa dirugikan. "Aku tidak mau Anda membesarkanku selamanya. Setelah aku lima belas tahun, aku akan meninggalkan istana dan mencari jalan bertahan hidupku sendiri."

Pei Qian Hao berkomentar, "Kau lumayan bernyali untuk melakukan itu."

"Jangan ikut-ikutan." Su Xi-er mencubit pinggangnya. Kenapa ia banyak sekali bicara hari ini?

Pei Qian Hao menundukkan kepalanya dan tersenyum padanya, memelankan suaranya. "Si gadis Yin Yin ini menarik. Menurut Pangeran ini, mungkin akan ada sejumlah kesempatan di antara dirinya dan Adik Lelakimu di masa yang akan datang."

"Kulihat, kau benar-benar tidak punya kerjaan karena kau bisa memikirkan tentang masalah remeh orang lain." Su Xi-er mengocehinya sewaktu ia mencubit Pei Qian Hao lagi. Beberapa saat yang lalu, ia membicarakan tentang menjodohkan Ruo Yuan dan Wu Ling, dan sekarang, ia mengatakan bahwa akan ada kesempatan bagi Yin Yin dan Lian Chen untuk bersama. Hal semacam itu sepenuhnya bergantung pada mereka.

Ada kilat yang berkedip di mata Pei Qian Hao sewaktu ia semakin mengecilkan suaranya, hampir menyentuhkan bibirnya ke telinga Su Xi-er sewaktu ia berbicara. "Bagaimana bisa kau bilang Pangeran ini tidak punya kerjaan? Apakah berada di atasmu, tidak dihitung?"

Sulit dipercaya bahwa ia bisa membicarakan hal-hal tak terkendali seperti itu dengan begitu alaminya. Su Xi-er tidak tahu bagiamana harus menjawab, jadi ia hanya bisa memelototinya. "Mulutmu penuh dengan omong kosong."

Melihat penampilan Su Xi-er yang kebingungan, Pei Qian Hao teringat akan malam pertama mereka. Buku medis itu benar-benar akurat. Selama kau memahami metodenya dan menggunakan tenaga yang pas, kehehidupan pasangan suami-istri pasti bisa harmonis. Aku harus memberikan hadiah kepada Tabib Kekaisaran Zhao karena memberikanku buku sebagus itu.

Berbeda dengan pertengkaran hangat mereka, atmosfer di sisi lain dari kereta mirip seperti badai yang ganas.

Liu Yin Yin mengabaikan Ning Lian Chen, bergeser sejauh yang ia bisa darinya. Sementara itu, Ning Lian Chen membiarkannya melakukan sesukanya. Aku tidak boleh terlalu memanjakannya, kalau tidak, ia akan kehilangan semua sopan santun dan melupakan tata krama. Lihat saja apa yang terjadi setelah membiarkannya untuk sesaat; apa saja bisa keluar dari mulutnya!

Saat kami kembali ke Nan Zhao, aku harus memastikan untuk menjaga jarakku darinya supaya ia tidak akan terus memikirkan tentang hal-hal yang tidak masuk akal dan tak berguna.

Kereta kuda segera sampai di area pinggiran kota setelah melewati gerbang ibu kota, dan waktunya untuk perpisahan pun tiba dengan cepat.

Percobaan Su Xi-er untuk menghentikan Pei Qian Hao sia-sia saja sewaktu ia membopongnya turun dari kereta di depan Ning Lian Chen. "Setelah perjalanan panjang yang bergelombang, apa kau merasa tidak nyaman?"

"Mana mungkin aku selemah itu?" Su Xi-er meliriknya, hatinya dipenuhi dengan kehangatan.

Tiba-tiba saja, Liu Yin Yin berkata dari dalam kereta kuda. "Aku bisa turun sendiri." Ia mengangkat tirai pintu dan melangkah keluar tanpa keraguan.

Namun, sebelum ia bisa melompat turun, ia berakhir kehilangan keseimbangannya. Ia meluncur ke depan, dan memejamkan matanya ketakutan sewaktu tanah tampak mendekat dengan cepat.

Dalam sekejap mata, satu tangan terulur dari balik tirai, dan Ning Lian Chen menariknya kembali tepat waktu sebelum menurunkannya dari kereta.

Memandangi wajah tampannya yang membesar di hadapan matanya, jantung Liu Yin Yin berdebar-debar sebelum ia mendorongnya. Liu Yin Yin tiba-tiba merasa seolah jantungnya belum pernah berdetak dengan begitu kencangnya sebelumnya. Mungkinkah aku sakit? Aku harus mencari tabib kekaisaran untuk memeriksaku saat kami kembali ke Nan Zhao, tetapi itu tidak boleh Tabib Kekaisaran Fang!

Setelah membubarkan para prajurit dan pengawal, Ning Lian Chen berjalan ke arah Su Xi-er dengan sejejak senyuman di wajahnya. "Aku berangkat sekarang, tetapi aku akan kembali setelah aku menstabilkan urusan di mahkamah."

"Pangeran ini akan secara diam-diam mengutus delapan ratus prajurit untuk membantu Anda dalam usaha pemugaran Anda."

"Terima kasih, Pangeran Hao; delapan ratus pasukan elitmu dapat dibandingkan dengan kekuatan lebih dari sepuluh ribu pasukan. Aku hanya akan menggunakan mereka sebagai upaya terakhir." Ning Lian Chen menyatakan dengan tenang. Yang terbaik adalah jika aku bisa dengan lancar merebut kembali kekuasaan militer Yun Ruo Feng dan tentara pengorbanannya tanpa kehilangan seorang pun.

 

Continue reading CTF - Chapter 425

CTF - Chapter 424

Consort of A Thousand Faces

Chapter 424 : Adik Ipar Merasa Tenang


Ning Lian Chen memasang ekspresi serius. "Pangeran Hao, aku akan mengingat apa yang kau katakan di dalam hati." Kemudian, ia melihat ke arah Su Xi-er lagi. "Kakak Perempuan, kau tidak perlu mencemaskan tentang Nan Zhao. Aku sudah dewasa, dan aku bukan lagi anak nakal itu."

Su Xi-er memandanginya. Meskipun beban di pundaknya begitu besar, ia berusaha untuk bersikap santai supaya aku tidak merasa cemas. Hatinya merasa sakit sewaktu ia mengangkat tangannya untuk menepuk kepalanya, nada bicaranya penuh kasih sayang saat ia berbicara lagi. "Lian Chen, kau sudah dewasa."

Perasaan putus asa juga merayap ke dalam hati Ning Lian Chen. Sudah lama kami tidak bertemu, tetapi kami harus berpisah lagi. "Kakak, aku baru akan merasa tenang saat aku bisa menyaksikan kebahagiaanmu." Tidak memedulikan Pei Qian Hao, ia menggenggam tangan Su Xi-er dan berjalan mendekati orang itu.

Ning Lian Chen tertawa sebelum menarik tangan Pei Qian Hao dan meletakkannya di atas tangan Su Xi-er. "Pangeran Hao, ia adalah satu-satunya keluargaku di dunia ini. Ia juga adalah Kakak Perempuan yang paling kuhormati, dan aku akan memercayakannya padamu di kehidupan ini. Kau harus memperlakukannya dengan baik, kalau tidak, aku akan membawanya kembali ke Nan Zhao."

Menyaksikan tangan mereka yang terjalin, Ning Lian Chen merasa bahwa kebahagiaan Su Xi-er sebagai kebahagiaannya sendiri.

Pei Qian Hao menarik Su Xi-er ke sisinya dengan tatapan sungguh-sungguh. "Pangeran ini tidak akan memberikanmu kesempatan itu."

"Aku merasa jauh lebih tenang sekarang karena aku sudah mendapatkan janjimu. Kakak Perempuan memiliki kepribadian yang berbeda dari wanita kebanyakan, jadi kuharap, kau bisa sedikit mengalah padanya kapan pun yang kau bisa, Pangeran Hao. Akan lebih baik lagi jika kau selalu memikirkannya lebih dulu sebelum kau membuat keputusan." Karena Ning Lian Chen lebih akrab dengan Su Xi-er, ia memastikan untuk memberikan beberapa saran pada Pei Qian Hao sebelum ia pergi.

Pei Qian Hao menoleh untuk menatap Su Xi-er, rasa main-main berkedip di matanya. "Pangeran ini sudah benar-benar merasakan kepribadianmu ini."

Ia tertawa dengan gaya yang percaya diri, atau mungkin angkuh. "Pangeran ini adalah satu-satunya orang di dunia ini yang sanggup menahan kepribadian Kakak Perempuanmu. Mungkin, hanya pria kuat yang dapat menandinginya, tetapi Pangeran ini merasa terhormat memiliki Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao."

Su Xi-er merasa sangat tersentuh. Kata-kata jujurnya menyebabkan sebuah perasaan masam menggenang dalam hatinya, dan matanya jadi basah tak terkendali.

Pei Qian Hao segera mengusap air matanya. "Kau jelek saat menangis. Pangeran ini tidak menginginkanmu lagi."

"Kau berani?" Sudut mulut Su Xi-er tersungging.

Ia jelas-jelas tertawa, tetapi air mata berjatuhan dari matanya. Sekali lagi, Pei Qian Hao betul-betul merasa kalau hati wanita tidak bisa ditebak, bisa menangis dan tersenyum di waktu bersamaan. "Kau benar; Pangeran ini memang tidak berani."

Ning Lian Chen praktisnya berseri-seri. Ia tidak menyangka kalau karakter asli Pei Qian Hao begitu sabar. Rumornya bilang bahwa Pangeran Hao itu dingin, tak berperasaan, kejam, dan haus darah. Tetapi, di mataku, Pei Qian Hao adalah yang paling tulus dan terus-terang.

"Kakak Perempuan, aku harus pergi sekarang." Ning Lian Chen menyingkirkan tampang enggan di wajahnya sewaktu ia berbicara. Walaupun perpisahan menyakitkan, semua hal yang baik akan berakhir, dan waktunya untuk mengucapkan perpisahan akan datang. Tanpa adanya perpisahan, kebahagiaan dari pertemuan kembali juga tidak akan ada.

"Lian Chen, aku akan mengantarmu." Su Xi-er langsung merasa seseorang menarik tangannya, jadi ia pun menambahkan, "Pangeran Hao, mari kita antar Lian Chen bersama-sama."

Pei Qian Hao tak lagi merasa tidak senang selagi ia mengangguk padanya. "Mari kita pergi bersama-sama." Kemudian, ia menginstruksikan pengawal agar mempersiapkan kereta kuda.

Segera, kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao pun berangkat ke rumah pos. Sepanjang jalan, Ning Lian Chen menggunakan kesempatan terakhir ini untuk secara terus-menerus mengamati Pei Qian Hao, tak lagi berusaha untuk menyembunyikannya. Ia menyadari kalau tangan Pei Qian Hao tidak pernah meninggalkan tangan Su Xi-er, dan ketika perjalanannya jadi agak bergelombang, ia menanyai Su Xi-er apakah ia melukai dirinya sendiri dan nyaris mencoba untuk memangkunya.

Ning Lian Cheng mengamati semuanya dalam diam, baru berhenti ketika mereka sampai di rumah pos.

Mendeteksi perubahan Ning Lian Chen, Pei Qian Hao memastikan bahwa adik iparnya akhirnya sudah memberikan kepercayaannya.

Di luar pintu masuk rumah pos, ada sebuah kereta kuda biasa dengan para prajurit Nan Zhao yang berbaris tertib di sebelahnya. Itu adalah kereta biasa yang sama persis ketika Ning Lian Chen tiba.

Mendengar pergerakan dari luar kereta, Liu Yin Yin mengangkat tirai jendela dan melambai-lambai pada Ning Lian Chen. "Aku sudah menunggu Anda lama sekali."

Su Xi-er menatap ke arah Pei Qian Hao. "Apakah tidak apa-apa kalau kita mengantarkan mereka hingga mereka sampai di pinggiran kota?"

"Sesuai keinginanmu." Pei Qian Hao menjawab acuh tak acuh sebelum mengalihkan perhatiannya pada kereta kuda yang tidak mencolok itu. Agak sempit untuk empat orang.

Oleh sebab itu, Pei Qian Hao mengusulkan, "Yang Mulia, mengapa Anda tidak menaiki kereta kuda Pangeran ini bersama denganku sampai ke pinggiran kota?"

Liu Yin Yin cemberut. "Aku juga mau duduk bersama kalian berdua."

Su Xi-er tertawa. "Baiklah, kalau begitu kita akan duduk bersama-sama."

Barulah kemudian, Liu Yin Yin tertawa dengan gembira. Ia segera mengangkat tirai pintu dan menekuk lututnya, bersiap untuk melompat dari kereta. Akan tetapi, kemungkinan besar ia hanya akan berakhir jatuh ke bawah dengan seberapa kecil dirinya.

Tepat ketika ia akan melompat, Ning Lian Chen dengan cepat bergegas ke samping kereta, mengulurkan tangannya untuk menurunkan Liu Yin Yin.

Su Xi-er memerhatikan diam-diam adegan itu, saat ia mendengar suara Pei Qian Hao. "Aku tidak tahu kalau Adik Lelakimu handal dalam mengurusi gadis kecil."

Liu Yin Yin cemberut sewaktu ia dengan sembarangan menampar Ning Lian Chen. "Jangan selalu menggendongku turun. Aku bukan anak kecil; aku sudah tumbuh besar!" Ia sengaja menekankan kata-kata 'tumbuh besar', merasa sangat tidak senang karena Ning Lian Chen terus-terusan memperlakukannya sebagai anak kecil.

"Saat seorang gadis dewasa, menstruasinya akan datang. Kau bisa mulai mengatakan kalau kau sudah dewasa setelah itu terjadi." Ning Lian Chen menyatakan dengan serius dan apa adanya.

Liu Yin Yin kebingungan. Apa itu menstruasi? Aku harus mempelajari ini dengan benar saat aku kembali ke Nan Zhao.

Pei Qian Hao tidak tahan untuk menurunkan kepalanya saat ia mendengar kata-kata Ning Lian Chen, berbisik pada Su Xi-er. "Metode Adik Lelakimu dalam mendidik anak-anak, agak spesial."

Nada bicaranya agak menggoda, dan Su Xi-er memelototinya. "Mulutmu jadi semakin fasih."

Namun, biarpun Pei Qian Hao sudah mengecilkan suaranya, Liu Yin Yin sangat sensitif dengan kata 'anak-anak'. Walaupun tidak mendengar yang lainnya, ia dengan mudah mengindentifikasikan kata yang spesifik itu.

Karenanya, Liu Yin Yin pun melepaskan diri dari Ning Lian Chen dan melangkah ke arah Pei Qian Hao, mendongakkan kepalanya untuk memelototinya. "Siapa yang kau sebut anak kecil?!"

Meskipun mengetahui status Pei Qian Hao, Liu Yin Yin terlalu marah untuk memedulikannya, usia mudanya tidak membantu apa-apa tentang tindakan sembrononya.

Pei Qian Hao tertawa. "Siapa lagi kalau bukan kau?"

Liu Yin Yin membusungkan dadanya. "Coba katakan itu sekali lagi!"

Su Xi-er menarik lengan jubah Pei Qian Hao. "Jangan menakuti Yin Yin." Kemudian, ia membungkuk untuk mengelus kepala Liu Yin Yin. "Yin Yin, suatu hari, kau pasti akan tumbuh dewasa. Hanya ketika kau bersikap bijaksana, baru kau tidak dipanggil anak kecil."

Liu Yin Yin langsung tersenyum. "Tetap Kakak Peri yang terbaik. Ayo kita naik kereta." Lalu, ia segera menarik Su Xi-er ke arah kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao.

Pei Qian Hao menatap Ning Lian Chen dan mau tak mau berkomentar, "Mengurusi anak kecil, lumayan sulit."

"Dulunya, aku tidak terbiasa, dan hanya berpikir itu akan merepotkan. Sekarang, rasanya aku sudah terbiasa dengan itu. Kita hanya perlu membiarkan semua berjalan dengan sendirinya." Ning Lian Chen kemudian menggesturkan pada Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, silakan naik ke kereta kuda."

 

Continue reading CTF - Chapter 424