Consort of A Thousand Faces
Chapter 427 : Melihat-lihat
Terlepas
dari masa lalunya yang bergejolak dan menyedihkan, penggambarannya hampir
sangat tenang. Menangkap semangat pantang menyerah di wajahnya, Su Xi-er pun
tidak tahan untuk mengulurkan tangan, perlahan-lahan mengelusnya. Baik
kesengsaraan dan pengalamannya, lebih buruk dariku.
"Apakah
hatimu merasa sakit untuk Pangeran ini?" Pei Qian Hao menggenggam
tangannya dan menekankannya ke pipinya, tangan lainnya melingkari pinggangnya,
menyatukan tubuh mereka dengan erat.
Su
Xi-er mengangguk. "Tentu saja hatiku merasa sakit untukmu. Mulai sekarang,
aku akan memikul sebagian dari bebanmu juga." Aku harus melakukan
apa yang kubisa, meski jika aku tidak sanggup melakukannya dalam beberapa
aspek.
Pei
Qian Hao tidak menolaknya. Lumayan bagus, memiliki seseorang yang
berjuang di sampingku, tetapi akan kupastikan kalau ia menjalani kehidupan yang
bebas dari kekhawatiran. Aku harus menepati janjiku untuk menjaganya,
memastikannya berbahagia. Pria mana pun yang membiarkan seorang wanita bekerja
banting-tulang demi dirinya, bukanlah seorang pria sejati.
"Xi-er,
apa maksud gestur tangan yang kau lakukan dengan Ning Lian Chen itu?"
Su
Xi-er tersenyum sewaktu ia menjawab, "Setiap kali Lian Chen dan aku dalam
kesulitan, kami menggunakan gestur tangan ini untuk saling menyemangati.
Situasi di Nan Zhao saat ini cukup menyusahkan, jadi kita hanya akan
menggunakan delapan ratus pasukan elitmu sebagai upaya terakhir."
"Lakukan
satu kali dengan Pangeran ini." Pei Qian Hao mengangkat tangan kanannya,
memberi sinyal padanya agar mengepalkan tangan kirinya.
Su
Xi-er menatapnya dan dalam hati meratap. Sifat kekanak-kanakannya
kambuh lagi. Ia bahkan cemburu pada Lian Chen, meskipun Lian Chen adalah adik
iparnya!
"Cepat,
ulurkan tanganmu dan lakukan itu dengan Pangeran ini." Desak Pei Qian Hao.
Tawa
pun lolos dari bibir Su Xi-er sewaktu ia menurutinya, mengulurkan kepalan
tangannya, sementara tangan Pei Qian Hao membungkusnya.
"Kau
benar-benar seperti anak kecil." Su Xi-er tidak tahan untuk berkomentar.
Tatapan
Pei Qian Hao mendalam untuk sesaat sebelum jejak main-main melintas.
"Biarkan Pangeran ini membawamu ke suatu tempat." Tanpa menunggu
jawabannya, ia meraup Su Xi-er ke dalam pelukannya dan berjalan ke kereta kuda
di kejauhan.
Pengawal
di dekat kereta sudah berpaling dan berpura-pura tidak melihat apa-apa ketika
ia melihat interaksi Pei Qian Hao dan Su Xi-er. Hanya ketika ia mendengar
langkah kaki dari belakangnya, barulah ia berbalik dan membungkuk.
"Bawahan ini ...."
Sebelum
ia selesai, ia melihat Pei Qian Hao dengan cepat mengangkat Su Xi-er ke dalam
kereta kuda.
"Pergi
ke ladang bunga." Suara dalam Pei Qian Hao menggema dari dalam kereta.
Menerima
perintah, si pengawal pun melompat ke atas kereta dan mengangkat cemetinya,
menuju ke Sungai Pedagang ibu kota.
***
Semua
warga sipil di ibu kota mengetahui bahwa Pei Qian Hao telah memerintahkan agar
area di sebelah Sungai Pedagang dibersihkan untuk sebuah ladang bunga. Akan ada
berbagai macam bunga yang ditanam, tetapi sebagian besarnya untuk Ling Rui.
Jika eksperimennya berhasil, itu akan mengejutkan semua kerajaan.
Takut
kalau Su Xi-er akan merasa tidak nyaman dengan perjalanan keretanya yang
bergelombang, Pei Qian Hao mendudukkannya di pangkuannya sepanjang waktu.
Satu
jam kemudian, kereta kuda sampai di depan ladang bunga. Pei Qian Hao
menggendongnya turun dari kereta kuda dan bertanya, "Perjalanan yang
bergelombangnya ...."
Su
Xi-er menyelanya. "Itu bukan apa-apa. Selain itu, bagaimana aku bisa
merasa tidak nyaman dengan bantalan manusia sebesar ini?" Kemudian ia
melihat ke kejauhan.
Ladang
bunganya sangat luas, dan terdiri dari tiga bagian. Beberapa bagiannya sudah
dihuni oleh rumpun pohon yang lebat, sementara yang lainnya dibiarkan kosong.
Pei
Qian Hao menggenggam tangannya dan menunjuk ke kejauhan. "Kita akan
mengisi bagian lahan yang kosong dengan Ling Rui tahun depan; kau bisa melihat
lautan bunga kesukaanmu di sini, di Bei Min, setelah itu terjadi."
Ketika
mereka mengunjungi Kediaman Shui di Nan Zhao, mereka menemukan bahwa ibu Shui
Ying Lian, telah berhasil mentransplantasikan bunga Ling Rui, meskipun di area
yang kecil. Jika Pei Qian Hao dapat meniru pencapaiannya dalam skala besar
seperti ini, bukan hanya rakyat Bei Min saja yang akan dibuat takjub.
"Mari
Pangeran ini mengajakmu ke sana untuk melihat-lihat." Pei Qian Hao
menggandeng tangannya sewaktu mereka berjalan ke pintu masuk ladang bunga
dimana pengawal menunggu.
Tanah
di lahan yang kosong itu dijaga, dan mata Su Xi-er pun melebar kala ia
melihatnya dari dekat. "Darimana kau menemukan tanah ini?" Ia paham
bahwa tanahnya bukan asli Bei Min. Seberapa besar usaha yang dikerahkan
untuk memindahkan tanah sebanyak ini?!
"Pastinya
ada cara, dan itu berkat adik lelakimu. Feng Chang Qing juga lumayan; ia cukup
berwawasan tentang kualitas air." Ekspresi pengakuan muncul di mata Pei
Qian Hao untuk sesaat sebelum ia membawanya untuk terus berjalan ke depan.
Kali
ini, ia berjalan langsung ke dalam hutan yang menghijau, dimana angin menderu
terhadang oleh rimbunnya pepohonan.
Su
Xi-er mengamati keadaan sekelilingnya dan menyadari bahwa pepohonannya adalah
tipe yang akan tetap rimbun sepanjang empat musim, jadi ia pun tidak tahan
untuk bertanya, "Mengapa kau membawaku kemari?"
Pei
Qian Hao meletakkan tangannya di pundaknya dan menatap dalam ke matanya.
"Tempat ini masih berada di dalam ibu kota, tetapi kita masih bisa
mendapatkan saat-saat yang tenang di tengah ramainya ibu kota. Aku tahu kau
suka hidup sederhana. Saat kita tua, kita bisa membangun beberapa rumah bambu,
sehingga akan terasa hangat di musim dingin dan terasa sejuk di musim panas.
Bukankah itu akan luar biasa?"
Ia
sudah merencanakan jauh ke depan. Walaupun Pei Qian Hao tidak
mengungkapkan seluruhnya, Su Xi-er paham bahwa, Situ Lin akan memerlukan
seorang menteri yang kuat untuk membantunya di masa yang akan datang ketika ia
mengambil takhta kekaisaran.
Tinggal
di sini, memungkinkan kami untuk menikmati hidup, sekaligus bersiap-siap
kalau-kalau ia sekonyong-konyong dibutuhkan di mahkamah. Mata Su Xi-er dipenuhi
kekaguman. Itu adalah keberuntungan Bei Min, memiliki seorang pejabat yang rela
sampai sejauh ini.
"Ada
apa? Kau tidak menyukainya? Tempat ini secara khusus ...."
Su
Xi-er menekankan jarinya ke bibir Pei Qian Hao. "Aku senang dengan apa pun
yang kau lakukan, dan tempat ini memang sesuai dengan seleraku. Bukan hanya
kita dapat menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di masa yang akan datang,
tetapi kita bahkan bisa naik kapal dan memancing di dekat Sungai
Pedagang."
Melihat
senyuman dan bibir ceri merahnya, Pei Qian Hao tidak tahan untuk mencium jari
yang digenggam di mulutnya dengan menggoda.
Merasakan
kehangatan di jarinya, Su Xi-er tersipu sewaktu ia segera mencoba untuk menarik
tangannya. Namun, sebelum ia bisa melakukannya, Pei Qian Hao sudah menariknya.
Mendongakkan
kepalanya dan menatap ke manik mata hitam Pei Qian Hao yang tak berdasar, Su
Xi-er dapat merasakan percikan api yang berbahaya, menyala di matanya.
"Pei
Qian Hao! Kau ...." Dalam kegugupannya, tanpa sadar Su Xi-er menjeritkan
nama lengkapnya. Percikan api itu ... dan sekarang ini kita ada di
hutan ....
"Wang
Fei, ada apa dengan Pangeran ini?" Tangan Pei Qian Hao yang lain
mendadak berkeliaran di pinggangnya, mendorongnya ke batang pohon.
Su
Xi-er menengadahkan kepalanya dan melihat tatapan menggoda melintas di matanya,
langsung memastikan teorinya. Ia ....
"Xi-er,
apakah adegan ini familier? Pertama kalinya kita bertemu, juga di hutan, tetapi
dulu, kita berada di Istana Samping." Pei Qian Hao tersenyum mengingat
kenangan itu. "Darimana kau mendapatkan nyali sebesar itu untuk membuat
Pangeran ini pingsan?"
Ia
menurunkan kepalanya untuk menghadapnya sementara hidung mereka bersentuhan,
menjaga mata mereka sejajar selagi aura mereka terjalin.
"Xi-er."
Ia memanggil dengan lembut, tangannya perlahan-lahan menarik sabuk Su Xi-er
dari pinggangnya.
Manik
mata Su Xi-er menyusut sejenak. "Kita ada di hutan. Jangan
main-main."
"Pertama
kalinya Pangeran ini menciummu adalah di hutan, dan juga merupakan kali
pertamaku mencium seorang wanita. Tidakkah kau pikir, itu sudah diatur oleh
langit?" Meskipun tidak pernah mencium seorang wanita, aku sangat
mabuk malam itu sampai-sampai aku memaksa melakukan itu dengannya.
Terlepas
apakah itu adalah kebetulan atau takdir, kami ditakdirkan untuk bertemu.

0 comments:
Posting Komentar