Jumat, 03 Juli 2026

CTF - Chapter 427

Consort of A Thousand Faces

Chapter 427 : Melihat-lihat


Terlepas dari masa lalunya yang bergejolak dan menyedihkan, penggambarannya hampir sangat tenang. Menangkap semangat pantang menyerah di wajahnya, Su Xi-er pun tidak tahan untuk mengulurkan tangan, perlahan-lahan mengelusnya. Baik kesengsaraan dan pengalamannya, lebih buruk dariku.

"Apakah hatimu merasa sakit untuk Pangeran ini?" Pei Qian Hao menggenggam tangannya dan menekankannya ke pipinya, tangan lainnya melingkari pinggangnya, menyatukan tubuh mereka dengan erat.

Su Xi-er mengangguk. "Tentu saja hatiku merasa sakit untukmu. Mulai sekarang, aku akan memikul sebagian dari bebanmu juga." Aku harus melakukan apa yang kubisa, meski jika aku tidak sanggup melakukannya dalam beberapa aspek.

Pei Qian Hao tidak menolaknya. Lumayan bagus, memiliki seseorang yang berjuang di sampingku, tetapi akan kupastikan kalau ia menjalani kehidupan yang bebas dari kekhawatiran. Aku harus menepati janjiku untuk menjaganya, memastikannya berbahagia. Pria mana pun yang membiarkan seorang wanita bekerja banting-tulang demi dirinya, bukanlah seorang pria sejati.

"Xi-er, apa maksud gestur tangan yang kau lakukan dengan Ning Lian Chen itu?"

Su Xi-er tersenyum sewaktu ia menjawab, "Setiap kali Lian Chen dan aku dalam kesulitan, kami menggunakan gestur tangan ini untuk saling menyemangati. Situasi di Nan Zhao saat ini cukup menyusahkan, jadi kita hanya akan menggunakan delapan ratus pasukan elitmu sebagai upaya terakhir."

"Lakukan satu kali dengan Pangeran ini." Pei Qian Hao mengangkat tangan kanannya, memberi sinyal padanya agar mengepalkan tangan kirinya.

Su Xi-er menatapnya dan dalam hati meratap. Sifat kekanak-kanakannya kambuh lagi. Ia bahkan cemburu pada Lian Chen, meskipun Lian Chen adalah adik iparnya!

"Cepat, ulurkan tanganmu dan lakukan itu dengan Pangeran ini." Desak Pei Qian Hao.

Tawa pun lolos dari bibir Su Xi-er sewaktu ia menurutinya, mengulurkan kepalan tangannya, sementara tangan Pei Qian Hao membungkusnya.

"Kau benar-benar seperti anak kecil." Su Xi-er tidak tahan untuk berkomentar.

Tatapan Pei Qian Hao mendalam untuk sesaat sebelum jejak main-main melintas. "Biarkan Pangeran ini membawamu ke suatu tempat." Tanpa menunggu jawabannya, ia meraup Su Xi-er ke dalam pelukannya dan berjalan ke kereta kuda di kejauhan.

Pengawal di dekat kereta sudah berpaling dan berpura-pura tidak melihat apa-apa ketika ia melihat interaksi Pei Qian Hao dan Su Xi-er. Hanya ketika ia mendengar langkah kaki dari belakangnya, barulah ia berbalik dan membungkuk. "Bawahan ini ...."

Sebelum ia selesai, ia melihat Pei Qian Hao dengan cepat mengangkat Su Xi-er ke dalam kereta kuda.

"Pergi ke ladang bunga." Suara dalam Pei Qian Hao menggema dari dalam kereta.

Menerima perintah, si pengawal pun melompat ke atas kereta dan mengangkat cemetinya, menuju ke Sungai Pedagang ibu kota.

***

Semua warga sipil di ibu kota mengetahui bahwa Pei Qian Hao telah memerintahkan agar area di sebelah Sungai Pedagang dibersihkan untuk sebuah ladang bunga. Akan ada berbagai macam bunga yang ditanam, tetapi sebagian besarnya untuk Ling Rui. Jika eksperimennya berhasil, itu akan mengejutkan semua kerajaan.

Takut kalau Su Xi-er akan merasa tidak nyaman dengan perjalanan keretanya yang bergelombang, Pei Qian Hao mendudukkannya di pangkuannya sepanjang waktu.

Satu jam kemudian, kereta kuda sampai di depan ladang bunga. Pei Qian Hao menggendongnya turun dari kereta kuda dan bertanya, "Perjalanan yang bergelombangnya ...."

Su Xi-er menyelanya. "Itu bukan apa-apa. Selain itu, bagaimana aku bisa merasa tidak nyaman dengan bantalan manusia sebesar ini?" Kemudian ia melihat ke kejauhan.

Ladang bunganya sangat luas, dan terdiri dari tiga bagian. Beberapa bagiannya sudah dihuni oleh rumpun pohon yang lebat, sementara yang lainnya dibiarkan kosong.

Pei Qian Hao menggenggam tangannya dan menunjuk ke kejauhan. "Kita akan mengisi bagian lahan yang kosong dengan Ling Rui tahun depan; kau bisa melihat lautan bunga kesukaanmu di sini, di Bei Min, setelah itu terjadi."

Ketika mereka mengunjungi Kediaman Shui di Nan Zhao, mereka menemukan bahwa ibu Shui Ying Lian, telah berhasil mentransplantasikan bunga Ling Rui, meskipun di area yang kecil. Jika Pei Qian Hao dapat meniru pencapaiannya dalam skala besar seperti ini, bukan hanya rakyat Bei Min saja yang akan dibuat takjub.

"Mari Pangeran ini mengajakmu ke sana untuk melihat-lihat." Pei Qian Hao menggandeng tangannya sewaktu mereka berjalan ke pintu masuk ladang bunga dimana pengawal menunggu.

Tanah di lahan yang kosong itu dijaga, dan mata Su Xi-er pun melebar kala ia melihatnya dari dekat. "Darimana kau menemukan tanah ini?" Ia paham bahwa tanahnya bukan asli Bei Min. Seberapa besar usaha yang dikerahkan untuk memindahkan tanah sebanyak ini?!

"Pastinya ada cara, dan itu berkat adik lelakimu. Feng Chang Qing juga lumayan; ia cukup berwawasan tentang kualitas air." Ekspresi pengakuan muncul di mata Pei Qian Hao untuk sesaat sebelum ia membawanya untuk terus berjalan ke depan.

Kali ini, ia berjalan langsung ke dalam hutan yang menghijau, dimana angin menderu terhadang oleh rimbunnya pepohonan.

Su Xi-er mengamati keadaan sekelilingnya dan menyadari bahwa pepohonannya adalah tipe yang akan tetap rimbun sepanjang empat musim, jadi ia pun tidak tahan untuk bertanya, "Mengapa kau membawaku kemari?"

Pei Qian Hao meletakkan tangannya di pundaknya dan menatap dalam ke matanya. "Tempat ini masih berada di dalam ibu kota, tetapi kita masih bisa mendapatkan saat-saat yang tenang di tengah ramainya ibu kota. Aku tahu kau suka hidup sederhana. Saat kita tua, kita bisa membangun beberapa rumah bambu, sehingga akan terasa hangat di musim dingin dan terasa sejuk di musim panas. Bukankah itu akan luar biasa?"

Ia sudah merencanakan jauh ke depan. Walaupun Pei Qian Hao tidak mengungkapkan seluruhnya, Su Xi-er paham bahwa, Situ Lin akan memerlukan seorang menteri yang kuat untuk membantunya di masa yang akan datang ketika ia mengambil takhta kekaisaran.

Tinggal di sini, memungkinkan kami untuk menikmati hidup, sekaligus bersiap-siap kalau-kalau ia sekonyong-konyong dibutuhkan di mahkamah. Mata Su Xi-er dipenuhi kekaguman. Itu adalah keberuntungan Bei Min, memiliki seorang pejabat yang rela sampai sejauh ini.

"Ada apa? Kau tidak menyukainya? Tempat ini secara khusus ...."

Su Xi-er menekankan jarinya ke bibir Pei Qian Hao. "Aku senang dengan apa pun yang kau lakukan, dan tempat ini memang sesuai dengan seleraku. Bukan hanya kita dapat menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di masa yang akan datang, tetapi kita bahkan bisa naik kapal dan memancing di dekat Sungai Pedagang."

Melihat senyuman dan bibir ceri merahnya, Pei Qian Hao tidak tahan untuk mencium jari yang digenggam di mulutnya dengan menggoda.

Merasakan kehangatan di jarinya, Su Xi-er tersipu sewaktu ia segera mencoba untuk menarik tangannya. Namun, sebelum ia bisa melakukannya, Pei Qian Hao sudah menariknya.

Mendongakkan kepalanya dan menatap ke manik mata hitam Pei Qian Hao yang tak berdasar, Su Xi-er dapat merasakan percikan api yang berbahaya, menyala di matanya.

"Pei Qian Hao! Kau ...." Dalam kegugupannya, tanpa sadar Su Xi-er menjeritkan nama lengkapnya. Percikan api itu ... dan sekarang ini kita ada di hutan ....

"Wang Fei, ada apa dengan Pangeran ini?" Tangan Pei Qian Hao yang lain mendadak berkeliaran di pinggangnya, mendorongnya ke batang pohon.

Su Xi-er menengadahkan kepalanya dan melihat tatapan menggoda melintas di matanya, langsung memastikan teorinya. Ia ....

"Xi-er, apakah adegan ini familier? Pertama kalinya kita bertemu, juga di hutan, tetapi dulu, kita berada di Istana Samping." Pei Qian Hao tersenyum mengingat kenangan itu. "Darimana kau mendapatkan nyali sebesar itu untuk membuat Pangeran ini pingsan?"

Ia menurunkan kepalanya untuk menghadapnya sementara hidung mereka bersentuhan, menjaga mata mereka sejajar selagi aura mereka terjalin.

"Xi-er." Ia memanggil dengan lembut, tangannya perlahan-lahan menarik sabuk Su Xi-er dari pinggangnya.

Manik mata Su Xi-er menyusut sejenak. "Kita ada di hutan. Jangan main-main."

"Pertama kalinya Pangeran ini menciummu adalah di hutan, dan juga merupakan kali pertamaku mencium seorang wanita. Tidakkah kau pikir, itu sudah diatur oleh langit?" Meskipun tidak pernah mencium seorang wanita, aku sangat mabuk malam itu sampai-sampai aku memaksa melakukan itu dengannya.

Terlepas apakah itu adalah kebetulan atau takdir, kami ditakdirkan untuk bertemu.

 

0 comments:

Posting Komentar