Consort of A Thousand Faces
Chapter 428 : Getaran di dalam Hutan
"Itulah
sebabnya kau ingin menciumku di sini?" Su Xi-er menekankan tangannya ke
dada Pei Qian Hao, sudah mencurigai bahwa ini bukan satu-satunya motifnya. Di
waktu yang sama, sabuk di pinggangnya sudah jatuh ke tanah.
Kekehan
kecil lolos dari tenggorokan Pei Qian Hao. Ia bergerak lebih mendekatinya,
membiarkan Su Xi-er merasakan kehangatan napasnya di sebelah telinganya.
"Menurutmu, apa yang ingin Pangeran ini lakukan?" Tangannya lanjut
menjelajah di sekitar pinggangnya, seolah-olah akan menyelip ke dalam.
Su
Xi-er menangkap tangannya. "Kita di luar; kau tidak boleh main-main.
Kemarin sudah cukup."
"Jangan
khawatir, tidak akan ada yang berani untuk masuk. Pangeran ini tahu bahwa
bagian tubuhmu yang itu sudah sembuh." Pei Qian Hao mengatakan itu dengan
datar.
Su
Xi-er tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya ketika ia berbicara tanpa sedikit
pun rasa malu. Tepat saat ia memikirkan bagaimana cara menolaknya, Pei Qian Hao
sudah mulai beraksi. Oleh sebab itu, Su Xi-er hanya bisa menyerah di bawah
gerakannya yang kuat.
Angin
yang berembus menyebabkan pepohonan bergemerisik sementara batang pohonnya
bergetar, dan suara genit pun dapat terdengar. Dikelilingi oleh ladang bunga
yang kosong, tidak ada yang bisa mendengar mereka.
Tidak
jelas berapa lama waktu berlalu sebelum akhirnya hening, dengan suara wanita
yang memudar bersamaan erangan samar. Wajah si wanita mungil sudah merona
merah, matanya yang agak menyipit pun berkelap-kelip dengan keindahan yang
baru. Itu cukup untuk menyalakan api dalam hati siapa saja, dan pria di
depannya pun bukan pengecualian. Pei Qian Hao tidak tahan untuk mulai bergerak
lagi sebelum akhirnya tenang.
***
Dua
jam kemudian, Su Xi-er memandang Pei Qian Hao dengan tatapan manja sebelum
merapikan gaunnya. "Kau benar-benar tidak tahu malu!"
Ucapan
malu-malunya menimbulkan kekehan pelan dari Pei Qian Hao. "Kita sudah
menikah; kenapa kita harus malu? Pangeran ini tidak pernah tahu bagaimana
caranya menuliskan kata 'malu'."
Su
Xi-er mendengus dan mengulangi dirinya sendiri. "Kau betul-betul tidak
tahu malu. Kita ada di hutan sekarang ini, tetapi kau menganggapnya sebagai
tempat tidur. Jangan bermimpi untuk mendapatkan apa yang kau inginkan di masa
depan." Meskipun Su Xi-er pemberani dan berkemauan keras, ia sangat malu
dalam hal ini.
Ia
berbalik dan pergi segera setelah ia selesai bicara, berusaha sekuat mungkin
untuk mengabaikan Pei Qian Hao.
Melihat
ekspresi seriusnya, Pei Qian Hao mengerti bahwa Su Xi-er merasa malu, dan maju
ke depan untuk menggenggam tangannya. "Pangeran ini berjanji padamu bahwa
kita hanya akan melakukannya di dalam ruangan di masa depan, ya?"
Urusan
ini harus dilakukan secara pelan-pelan; tidak boleh terburu-buru. Pada
akhirnya, suatu hari nanti, ia akan terbiasa.
"Bersumpahlah."
Su Xi-er berhenti di jalannya, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.
Demi
menyenangkannya, Pei Qian Hao hanya bisa bersumpah dengan sungguh-sungguh.
"Pangeran ini hanya akan bercinta di dalam kamar. Jika aku gagal
melakukannya, kau bisa menghukum Pangeran ini agar tidak menyentuhmu selama
tujuh hari."
Bagi
seorang pria sehat yang telah bertahan selama dua puluh lima tahun, bisa
dianggap wajar baginya untuk menikmati berhubungan intim setiap malam setelah
menikahi wanita yang dicintainya. Tidak menyentuhnya selama tujuh hari akan
lebih menyakitkan daripada memotong dagingnya, jadi itu adalah sumpah yang
berat baginya.
Melihat
ekspresinya yang sungguh-sungguh, Su Xi-er memutuskan memercayainya untuk saat
ini. "Kurangi sedikit tenaganya lain kali. Kau begitu cepat sampai-sampai
kau bahkan tidak bisa dihentikan."
"Kita
akan melakukan apa pun yang kau katakan." Menyadari ekspresi Su Xi-er
sudah tenang, ia pun mengulurkan tangan kanannya untuk memeluk pinggangnya.
Tidak
buruk. Aku sudah makan hari ini, tetapi aku bisa memberinya makan hingga ia
kenyang dan menyantapnya lagi malam ini. Pei Qian Hao berhenti sebentar,
tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Semenjak pertama kali mereka
melakukannya, ia tidak tahan untuk tidak memikirkannya kapan saja ia melihat Su
Xi-er. Hanya saja, untuk seseorang dengan kebanggaan sebesar dirinya, tidak
mungkin ia akan mengakuinya.
Ketimbang
mencoba menjelaskannya dengan kata-kata, Pei Qian Hao merasa, lebih baik untuk
membuktikan dirinya melalui tindakannya.
Pei
Qian merayu Su Xi-er sebentar lagi sebelum mereka meninggalkan hutan. Saat
mereka mendekati ladang bunga, ia menggendong Su Xi-er ke atas kereta kuda.
Setelah
insiden ini, seorang pangeran yang arogan telah belajar dari
pembelajarannya: Wang Fei-ku menyukainya saat aku mengucapkan kata-kata
manis. Aku hanya perlu merayunya dengan benar, dan setelahnya aku bisa
memperoleh sejumlah keuntungan sebagai gantinya.
Pengawal
yang menunggu di luar ladang bunga dibiarkan kebingungan ketika ia melihat
ekspresi Su Xi-er. Wang Fei berekspresi tenang saat ia memasuki ladang
bunga, tetapi matanya tampak menawan dan berkabut sekarang, setelah ia keluar.
Apa sebenarnya yang dilakukan kedua orang ini di dalam?
"Kembali
ke Kediaman Pangeran Hao." Nada bicara yang keras itu menyentak si pengawal
dari pemikirannya.
Tak
lagi ragu-ragu, si pengawal melompat naik ke kereta dan mengangkat cemetinya,
mulai mengendarai ke arah Kediaman Pangeran Hao.
Ibu
kota masih tenggelam dalam nuansa meriahnya pernikahan, dan sutra merah yang
digantungkan di pintu tiap rumah hanya akan dilepas saat hujan turun.
"Hao Wang
Fei pastinya tersiksa kemarin. Kalian harus ingat bahwa Pangeran Hao
menahan diri selama dua puluh lima tahun. Mana mungkin ia tidak seganas harimau
saat pertama kali menyentuh wanita?!"
"Benar
sekali! Tidak akan ada yang menyangka itu merupakan kali pertama Pangeran Hao.
Sepertinya, begitu banyak wanita yang dibawanya ke Istana Kecantikan di masa
lalu, pasti hanyalah dekorasi."
"Aku
tidak mengerti pemikiran Pangeran Hao. Itu adalah pertama kalinya merasakan
rasa manis yang pertama kali selama dua puluh lima tahun. Aku takutnya di masa
depan ...." Banyak warga sipil yang tertawa terbahak-bahak mendengar itu.
Seperti
yang dikatakan rakyat jelata, Su Xi-er sudah banyak diombang-ambingkan, tetapi
luka tusukan pada lengannya sudah sembuh dengan sangat cepat setelah
membubuhkan bubuk bunga Ling Rui. Setelah mereka menyelesaikan makan siang
mereka, Pei Qian Hao membawanya untuk tidur siang, hanya untuk melewati babak
lainnya yang bahkan mencakup dua posisi. Pada akhirnya, seluruh wajah Su Xi-er
memerah.
(T/N
: wes habis sudah neng Si-er :D)
***
Wu
Ling kembali ke aula utama Kediaman Pangeran Hao pada pukul 6.30 malam.
"Melapor pada Pangeran Hao, kami tidak menemukan jasad Pangeran Yu di
dasar jurang. Hutan di bawah dipenuhi dengan anjing hutan dan serigala. Jatuh
dari ketinggian itu pastinya menghasilkan tempat kejadian yang penuh darah,
yang menarik binatang buas di dekatnya untuk memakan jasadnya."
Agak
tragis bagi Pangeran Yun yang dulunya berjaya, untuk mati tanpa jasad yang
utuh.
"Jelajahi
area itu secara menyeluruh selama tiga hari. Apabila kau masih tidak bisa
menemukan jasadnya, tarik semua prajurit dan jangan lanjutkan masalah ini lebih
jauh. Pastikan untuk merahasiakan masalah ini." Pei Qian Hao memerintahkan
dengan suara dalam selagi ia melambaikan tangannya.
"Pangeran
Hao, bawahan ini mematuhi perintah. Aku juga ingin melaporkan bahwa
masalah Commandery Prince Xie sudah ditangani. Haruskah kita
membuat lebih banyak penghalang jalan untuk menahannya?"
Sinar
yang menusuk keluar dari mata Pei Qian Hao. "Sudah waktunya Xie Yun bisa
kembali. Kau tidak perlu menghentikannya."
"Bawahan
ini mematuhi perintah." Wu Ling kemudian berbalik, bersiap untuk berjalan
keluar dari aula utama, tetapi dihentikan oleh Pei Qian Hao.
"Instruksikan
Yu Chi Mo untuk memasuki kediaman pangeran. Pangeran ini punya pekerjaan
untuknya."
"Bawahan
ini akan segera memberitahukannya." Kemudian Wu Ling pun meninggalkan
kediaman dengan cepat.
Dalam
perjalanannya keluar, kebetulan ia menabrak Ruo Yuan, tetapi tidak berhenti
untuk menyapanya dikarenakan urgensi dari perintahnya sebelumnya.
Ruo
Yuan hanya bisa merasakan embusan angin yang melewatinya. Tadinya aku
ingin membungkuk dan menyapanya, tetapi Komandan Wu berjalan lewat dengan buru-buru,
bahkan tidak melirikku. Apakah karena ia tergesa-gesa, atau karena ia tak lagi
mengingatku? Bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang gadis gemuk rendahan.
(T/N
: ga gitu kok Ruo Yuan, dirimu tuh spesial juga. Semangat mbak'e.)
***
Pei
Qian Hao sedang minum teh sambil menunggu Yu Chi Mo, tetapi ia tidak menduga Su
Xi-er akan meninggalkan kamar dan datang ke aula utama. Tampaknya aku
tidak bekerja keras siang ini; ia memulihkan tenaganya secepat itu.
Ia
sudah membiarkan Su Xi-er tidur selama dua jam sebelum bermain-main dengannya,
lagi dan lagi, selama empat jam. Akhirnya, Su Xi-er memejamkan matanya dan
tertidur lelap.
Tubuh
Su Xi-er memancarkan aura yang memikat, dan ekspresinya mirip dengan bunga di
musim semi. Ketika ia berjalan ke sisinya, Pei Qian Hao merasa seolah angin
sepoi-sepoi lembut sudah lewat. Aroma feminin yang ditiup angin itu menyebabkan
jantungnya berdebar.
Karenanya,
Pei Qian Hao pun memeluknya lagi. "Apa kau yakin kau sudah istirahat
dengan baik? Setelah kita makan malam, kita ...."
Su
Xi-er menamparnya. "Tidak mungkin, sudah pasti tidak malam ini. Bagaimana
bisa ada orang sepertimu yang terus melakukannya siang dan malam?"
"Xi-er,
Pangeran ini harus membiarkanmu melihat buku medis itu. Perilaku Pangeran ini
sangat normal."
(T/N
: omg bang Hao, dirimu membuatku banyak meninggalkan translator note. Ckck,
keganasan yang hakiki.)

0 comments:
Posting Komentar