Jumat, 03 Juli 2026

CTF - Chapter 428

Consort of A Thousand Faces

Chapter 428 : Getaran di dalam Hutan


"Itulah sebabnya kau ingin menciumku di sini?" Su Xi-er menekankan tangannya ke dada Pei Qian Hao, sudah mencurigai bahwa ini bukan satu-satunya motifnya. Di waktu yang sama, sabuk di pinggangnya sudah jatuh ke tanah.

Kekehan kecil lolos dari tenggorokan Pei Qian Hao. Ia bergerak lebih mendekatinya, membiarkan Su Xi-er merasakan kehangatan napasnya di sebelah telinganya. "Menurutmu, apa yang ingin Pangeran ini lakukan?" Tangannya lanjut menjelajah di sekitar pinggangnya, seolah-olah akan menyelip ke dalam.

Su Xi-er menangkap tangannya. "Kita di luar; kau tidak boleh main-main. Kemarin sudah cukup."

"Jangan khawatir, tidak akan ada yang berani untuk masuk. Pangeran ini tahu bahwa bagian tubuhmu yang itu sudah sembuh." Pei Qian Hao mengatakan itu dengan datar.

Su Xi-er tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya ketika ia berbicara tanpa sedikit pun rasa malu. Tepat saat ia memikirkan bagaimana cara menolaknya, Pei Qian Hao sudah mulai beraksi. Oleh sebab itu, Su Xi-er hanya bisa menyerah di bawah gerakannya yang kuat.

Angin yang berembus menyebabkan pepohonan bergemerisik sementara batang pohonnya bergetar, dan suara genit pun dapat terdengar. Dikelilingi oleh ladang bunga yang kosong, tidak ada yang bisa mendengar mereka.

Tidak jelas berapa lama waktu berlalu sebelum akhirnya hening, dengan suara wanita yang memudar bersamaan erangan samar. Wajah si wanita mungil sudah merona merah, matanya yang agak menyipit pun berkelap-kelip dengan keindahan yang baru. Itu cukup untuk menyalakan api dalam hati siapa saja, dan pria di depannya pun bukan pengecualian. Pei Qian Hao tidak tahan untuk mulai bergerak lagi sebelum akhirnya tenang.

***

Dua jam kemudian, Su Xi-er memandang Pei Qian Hao dengan tatapan manja sebelum merapikan gaunnya. "Kau benar-benar tidak tahu malu!"

Ucapan malu-malunya menimbulkan kekehan pelan dari Pei Qian Hao. "Kita sudah menikah; kenapa kita harus malu? Pangeran ini tidak pernah tahu bagaimana caranya menuliskan kata 'malu'."

Su Xi-er mendengus dan mengulangi dirinya sendiri. "Kau betul-betul tidak tahu malu. Kita ada di hutan sekarang ini, tetapi kau menganggapnya sebagai tempat tidur. Jangan bermimpi untuk mendapatkan apa yang kau inginkan di masa depan." Meskipun Su Xi-er pemberani dan berkemauan keras, ia sangat malu dalam hal ini.

Ia berbalik dan pergi segera setelah ia selesai bicara, berusaha sekuat mungkin untuk mengabaikan Pei Qian Hao.

Melihat ekspresi seriusnya, Pei Qian Hao mengerti bahwa Su Xi-er merasa malu, dan maju ke depan untuk menggenggam tangannya. "Pangeran ini berjanji padamu bahwa kita hanya akan melakukannya di dalam ruangan di masa depan, ya?"

Urusan ini harus dilakukan secara pelan-pelan; tidak boleh terburu-buru. Pada akhirnya, suatu hari nanti, ia akan terbiasa.

"Bersumpahlah." Su Xi-er berhenti di jalannya, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.

Demi menyenangkannya, Pei Qian Hao hanya bisa bersumpah dengan sungguh-sungguh. "Pangeran ini hanya akan bercinta di dalam kamar. Jika aku gagal melakukannya, kau bisa menghukum Pangeran ini agar tidak menyentuhmu selama tujuh hari."

Bagi seorang pria sehat yang telah bertahan selama dua puluh lima tahun, bisa dianggap wajar baginya untuk menikmati berhubungan intim setiap malam setelah menikahi wanita yang dicintainya. Tidak menyentuhnya selama tujuh hari akan lebih menyakitkan daripada memotong dagingnya, jadi itu adalah sumpah yang berat baginya.

Melihat ekspresinya yang sungguh-sungguh, Su Xi-er memutuskan memercayainya untuk saat ini. "Kurangi sedikit tenaganya lain kali. Kau begitu cepat sampai-sampai kau bahkan tidak bisa dihentikan."

"Kita akan melakukan apa pun yang kau katakan." Menyadari ekspresi Su Xi-er sudah tenang, ia pun mengulurkan tangan kanannya untuk memeluk pinggangnya.

Tidak buruk. Aku sudah makan hari ini, tetapi aku bisa memberinya makan hingga ia kenyang dan menyantapnya lagi malam ini. Pei Qian Hao berhenti sebentar, tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Semenjak pertama kali mereka melakukannya, ia tidak tahan untuk tidak memikirkannya kapan saja ia melihat Su Xi-er. Hanya saja, untuk seseorang dengan kebanggaan sebesar dirinya, tidak mungkin ia akan mengakuinya.

Ketimbang mencoba menjelaskannya dengan kata-kata, Pei Qian Hao merasa, lebih baik untuk membuktikan dirinya melalui tindakannya.

Pei Qian merayu Su Xi-er sebentar lagi sebelum mereka meninggalkan hutan. Saat mereka mendekati ladang bunga, ia menggendong Su Xi-er ke atas kereta kuda.

Setelah insiden ini, seorang pangeran yang arogan telah belajar dari pembelajarannya: Wang Fei-ku menyukainya saat aku mengucapkan kata-kata manis. Aku hanya perlu merayunya dengan benar, dan setelahnya aku bisa memperoleh sejumlah keuntungan sebagai gantinya.

Pengawal yang menunggu di luar ladang bunga dibiarkan kebingungan ketika ia melihat ekspresi Su Xi-er. Wang Fei berekspresi tenang saat ia memasuki ladang bunga, tetapi matanya tampak menawan dan berkabut sekarang, setelah ia keluar. Apa sebenarnya yang dilakukan kedua orang ini di dalam?

"Kembali ke Kediaman Pangeran Hao." Nada bicara yang keras itu menyentak si pengawal dari pemikirannya.

Tak lagi ragu-ragu, si pengawal melompat naik ke kereta dan mengangkat cemetinya, mulai mengendarai ke arah Kediaman Pangeran Hao.

Ibu kota masih tenggelam dalam nuansa meriahnya pernikahan, dan sutra merah yang digantungkan di pintu tiap rumah hanya akan dilepas saat hujan turun.

"Hao Wang Fei pastinya tersiksa kemarin. Kalian harus ingat bahwa Pangeran Hao menahan diri selama dua puluh lima tahun. Mana mungkin ia tidak seganas harimau saat pertama kali menyentuh wanita?!"

"Benar sekali! Tidak akan ada yang menyangka itu merupakan kali pertama Pangeran Hao. Sepertinya, begitu banyak wanita yang dibawanya ke Istana Kecantikan di masa lalu, pasti hanyalah dekorasi."

"Aku tidak mengerti pemikiran Pangeran Hao. Itu adalah pertama kalinya merasakan rasa manis yang pertama kali selama dua puluh lima tahun. Aku takutnya di masa depan ...." Banyak warga sipil yang tertawa terbahak-bahak mendengar itu.

Seperti yang dikatakan rakyat jelata, Su Xi-er sudah banyak diombang-ambingkan, tetapi luka tusukan pada lengannya sudah sembuh dengan sangat cepat setelah membubuhkan bubuk bunga Ling Rui. Setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka, Pei Qian Hao membawanya untuk tidur siang, hanya untuk melewati babak lainnya yang bahkan mencakup dua posisi. Pada akhirnya, seluruh wajah Su Xi-er memerah.

(T/N : wes habis sudah neng Si-er :D)

***

Wu Ling kembali ke aula utama Kediaman Pangeran Hao pada pukul 6.30 malam. "Melapor pada Pangeran Hao, kami tidak menemukan jasad Pangeran Yu di dasar jurang. Hutan di bawah dipenuhi dengan anjing hutan dan serigala. Jatuh dari ketinggian itu pastinya menghasilkan tempat kejadian yang penuh darah, yang menarik binatang buas di dekatnya untuk memakan jasadnya."

Agak tragis bagi Pangeran Yun yang dulunya berjaya, untuk mati tanpa jasad yang utuh.

"Jelajahi area itu secara menyeluruh selama tiga hari. Apabila kau masih tidak bisa menemukan jasadnya, tarik semua prajurit dan jangan lanjutkan masalah ini lebih jauh. Pastikan untuk merahasiakan masalah ini." Pei Qian Hao memerintahkan dengan suara dalam selagi ia melambaikan tangannya.

"Pangeran Hao, bawahan ini mematuhi perintah. Aku juga ingin melaporkan bahwa masalah Commandery Prince Xie sudah ditangani. Haruskah kita membuat lebih banyak penghalang jalan untuk menahannya?"

Sinar yang menusuk keluar dari mata Pei Qian Hao. "Sudah waktunya Xie Yun bisa kembali. Kau tidak perlu menghentikannya."

"Bawahan ini mematuhi perintah." Wu Ling kemudian berbalik, bersiap untuk berjalan keluar dari aula utama, tetapi dihentikan oleh Pei Qian Hao.

"Instruksikan Yu Chi Mo untuk memasuki kediaman pangeran. Pangeran ini punya pekerjaan untuknya."

"Bawahan ini akan segera memberitahukannya." Kemudian Wu Ling pun meninggalkan kediaman dengan cepat.

Dalam perjalanannya keluar, kebetulan ia menabrak Ruo Yuan, tetapi tidak berhenti untuk menyapanya dikarenakan urgensi dari perintahnya sebelumnya.

Ruo Yuan hanya bisa merasakan embusan angin yang melewatinya. Tadinya aku ingin membungkuk dan menyapanya, tetapi Komandan Wu berjalan lewat dengan buru-buru, bahkan tidak melirikku. Apakah karena ia tergesa-gesa, atau karena ia tak lagi mengingatku? Bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang gadis gemuk rendahan.

(T/N : ga gitu kok Ruo Yuan, dirimu tuh spesial juga. Semangat mbak'e.)

***

Pei Qian Hao sedang minum teh sambil menunggu Yu Chi Mo, tetapi ia tidak menduga Su Xi-er akan meninggalkan kamar dan datang ke aula utama. Tampaknya aku tidak bekerja keras siang ini; ia memulihkan tenaganya secepat itu.

Ia sudah membiarkan Su Xi-er tidur selama dua jam sebelum bermain-main dengannya, lagi dan lagi, selama empat jam. Akhirnya, Su Xi-er memejamkan matanya dan tertidur lelap.

Tubuh Su Xi-er memancarkan aura yang memikat, dan ekspresinya mirip dengan bunga di musim semi. Ketika ia berjalan ke sisinya, Pei Qian Hao merasa seolah angin sepoi-sepoi lembut sudah lewat. Aroma feminin yang ditiup angin itu menyebabkan jantungnya berdebar.

Karenanya, Pei Qian Hao pun memeluknya lagi. "Apa kau yakin kau sudah istirahat dengan baik? Setelah kita makan malam, kita ...."

Su Xi-er menamparnya. "Tidak mungkin, sudah pasti tidak malam ini. Bagaimana bisa ada orang sepertimu yang terus melakukannya siang dan malam?"

"Xi-er, Pangeran ini harus membiarkanmu melihat buku medis itu. Perilaku Pangeran ini sangat normal."

(T/N : omg bang Hao, dirimu membuatku banyak meninggalkan translator note. Ckck, keganasan yang hakiki.)

 

0 comments:

Posting Komentar