Consort of A Thousand Faces
Chapter 424 : Adik Ipar Merasa Tenang
Ning
Lian Chen memasang ekspresi serius. "Pangeran Hao, aku akan mengingat apa
yang kau katakan di dalam hati." Kemudian, ia melihat ke arah Su Xi-er
lagi. "Kakak Perempuan, kau tidak perlu mencemaskan tentang Nan Zhao. Aku
sudah dewasa, dan aku bukan lagi anak nakal itu."
Su
Xi-er memandanginya. Meskipun beban di pundaknya begitu besar, ia
berusaha untuk bersikap santai supaya aku tidak merasa cemas. Hatinya
merasa sakit sewaktu ia mengangkat tangannya untuk menepuk kepalanya, nada
bicaranya penuh kasih sayang saat ia berbicara lagi. "Lian Chen, kau sudah
dewasa."
Perasaan
putus asa juga merayap ke dalam hati Ning Lian Chen. Sudah lama kami
tidak bertemu, tetapi kami harus berpisah lagi. "Kakak, aku baru
akan merasa tenang saat aku bisa menyaksikan kebahagiaanmu." Tidak
memedulikan Pei Qian Hao, ia menggenggam tangan Su Xi-er dan berjalan mendekati
orang itu.
Ning
Lian Chen tertawa sebelum menarik tangan Pei Qian Hao dan meletakkannya di atas
tangan Su Xi-er. "Pangeran Hao, ia adalah satu-satunya keluargaku di dunia
ini. Ia juga adalah Kakak Perempuan yang paling kuhormati, dan aku akan
memercayakannya padamu di kehidupan ini. Kau harus memperlakukannya dengan
baik, kalau tidak, aku akan membawanya kembali ke Nan Zhao."
Menyaksikan
tangan mereka yang terjalin, Ning Lian Chen merasa bahwa kebahagiaan Su Xi-er
sebagai kebahagiaannya sendiri.
Pei
Qian Hao menarik Su Xi-er ke sisinya dengan tatapan sungguh-sungguh.
"Pangeran ini tidak akan memberikanmu kesempatan itu."
"Aku
merasa jauh lebih tenang sekarang karena aku sudah mendapatkan janjimu. Kakak
Perempuan memiliki kepribadian yang berbeda dari wanita kebanyakan, jadi
kuharap, kau bisa sedikit mengalah padanya kapan pun yang kau bisa, Pangeran
Hao. Akan lebih baik lagi jika kau selalu memikirkannya lebih dulu sebelum kau
membuat keputusan." Karena Ning Lian Chen lebih akrab dengan Su Xi-er, ia
memastikan untuk memberikan beberapa saran pada Pei Qian Hao sebelum ia pergi.
Pei
Qian Hao menoleh untuk menatap Su Xi-er, rasa main-main berkedip di matanya.
"Pangeran ini sudah benar-benar merasakan kepribadianmu ini."
Ia
tertawa dengan gaya yang percaya diri, atau mungkin angkuh. "Pangeran ini
adalah satu-satunya orang di dunia ini yang sanggup menahan kepribadian Kakak
Perempuanmu. Mungkin, hanya pria kuat yang dapat menandinginya, tetapi Pangeran
ini merasa terhormat memiliki Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao."
Su
Xi-er merasa sangat tersentuh. Kata-kata jujurnya menyebabkan sebuah perasaan
masam menggenang dalam hatinya, dan matanya jadi basah tak terkendali.
Pei
Qian Hao segera mengusap air matanya. "Kau jelek saat menangis. Pangeran
ini tidak menginginkanmu lagi."
"Kau
berani?" Sudut mulut Su Xi-er tersungging.
Ia
jelas-jelas tertawa, tetapi air mata berjatuhan dari matanya. Sekali lagi, Pei
Qian Hao betul-betul merasa kalau hati wanita tidak bisa ditebak, bisa menangis
dan tersenyum di waktu bersamaan. "Kau benar; Pangeran ini memang tidak
berani."
Ning
Lian Chen praktisnya berseri-seri. Ia tidak menyangka kalau karakter asli Pei
Qian Hao begitu sabar. Rumornya bilang bahwa Pangeran Hao itu dingin,
tak berperasaan, kejam, dan haus darah. Tetapi, di mataku, Pei Qian Hao adalah
yang paling tulus dan terus-terang.
"Kakak
Perempuan, aku harus pergi sekarang." Ning Lian Chen menyingkirkan tampang
enggan di wajahnya sewaktu ia berbicara. Walaupun perpisahan
menyakitkan, semua hal yang baik akan berakhir, dan waktunya untuk mengucapkan
perpisahan akan datang. Tanpa adanya perpisahan, kebahagiaan dari pertemuan
kembali juga tidak akan ada.
"Lian
Chen, aku akan mengantarmu." Su Xi-er langsung merasa seseorang menarik
tangannya, jadi ia pun menambahkan, "Pangeran Hao, mari kita antar Lian
Chen bersama-sama."
Pei
Qian Hao tak lagi merasa tidak senang selagi ia mengangguk padanya. "Mari
kita pergi bersama-sama." Kemudian, ia menginstruksikan pengawal agar
mempersiapkan kereta kuda.
Segera,
kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao pun berangkat ke rumah pos. Sepanjang
jalan, Ning Lian Chen menggunakan kesempatan terakhir ini untuk secara terus-menerus
mengamati Pei Qian Hao, tak lagi berusaha untuk menyembunyikannya. Ia menyadari
kalau tangan Pei Qian Hao tidak pernah meninggalkan tangan Su Xi-er, dan ketika
perjalanannya jadi agak bergelombang, ia menanyai Su Xi-er apakah ia melukai
dirinya sendiri dan nyaris mencoba untuk memangkunya.
Ning
Lian Cheng mengamati semuanya dalam diam, baru berhenti ketika mereka sampai di
rumah pos.
Mendeteksi
perubahan Ning Lian Chen, Pei Qian Hao memastikan bahwa adik iparnya akhirnya
sudah memberikan kepercayaannya.
Di
luar pintu masuk rumah pos, ada sebuah kereta kuda biasa dengan para prajurit
Nan Zhao yang berbaris tertib di sebelahnya. Itu adalah kereta biasa yang sama
persis ketika Ning Lian Chen tiba.
Mendengar
pergerakan dari luar kereta, Liu Yin Yin mengangkat tirai jendela dan
melambai-lambai pada Ning Lian Chen. "Aku sudah menunggu Anda lama
sekali."
Su
Xi-er menatap ke arah Pei Qian Hao. "Apakah tidak apa-apa kalau kita
mengantarkan mereka hingga mereka sampai di pinggiran kota?"
"Sesuai
keinginanmu." Pei Qian Hao menjawab acuh tak acuh sebelum mengalihkan
perhatiannya pada kereta kuda yang tidak mencolok itu. Agak sempit
untuk empat orang.
Oleh
sebab itu, Pei Qian Hao mengusulkan, "Yang Mulia, mengapa Anda tidak
menaiki kereta kuda Pangeran ini bersama denganku sampai ke pinggiran
kota?"
Liu
Yin Yin cemberut. "Aku juga mau duduk bersama kalian berdua."
Su
Xi-er tertawa. "Baiklah, kalau begitu kita akan duduk bersama-sama."
Barulah
kemudian, Liu Yin Yin tertawa dengan gembira. Ia segera mengangkat tirai pintu
dan menekuk lututnya, bersiap untuk melompat dari kereta. Akan tetapi,
kemungkinan besar ia hanya akan berakhir jatuh ke bawah dengan seberapa kecil
dirinya.
Tepat
ketika ia akan melompat, Ning Lian Chen dengan cepat bergegas ke samping kereta,
mengulurkan tangannya untuk menurunkan Liu Yin Yin.
Su
Xi-er memerhatikan diam-diam adegan itu, saat ia mendengar suara Pei Qian Hao.
"Aku tidak tahu kalau Adik Lelakimu handal dalam mengurusi gadis
kecil."
Liu
Yin Yin cemberut sewaktu ia dengan sembarangan menampar Ning Lian Chen.
"Jangan selalu menggendongku turun. Aku bukan anak kecil; aku sudah tumbuh
besar!" Ia sengaja menekankan kata-kata 'tumbuh besar', merasa sangat
tidak senang karena Ning Lian Chen terus-terusan memperlakukannya sebagai anak
kecil.
"Saat
seorang gadis dewasa, menstruasinya akan datang. Kau bisa mulai mengatakan
kalau kau sudah dewasa setelah itu terjadi." Ning Lian Chen menyatakan
dengan serius dan apa adanya.
Liu
Yin Yin kebingungan. Apa itu menstruasi? Aku harus mempelajari ini
dengan benar saat aku kembali ke Nan Zhao.
Pei
Qian Hao tidak tahan untuk menurunkan kepalanya saat ia mendengar kata-kata
Ning Lian Chen, berbisik pada Su Xi-er. "Metode Adik Lelakimu dalam
mendidik anak-anak, agak spesial."
Nada
bicaranya agak menggoda, dan Su Xi-er memelototinya. "Mulutmu jadi semakin
fasih."
Namun,
biarpun Pei Qian Hao sudah mengecilkan suaranya, Liu Yin Yin sangat sensitif
dengan kata 'anak-anak'. Walaupun tidak mendengar yang lainnya, ia dengan mudah
mengindentifikasikan kata yang spesifik itu.
Karenanya,
Liu Yin Yin pun melepaskan diri dari Ning Lian Chen dan melangkah ke arah Pei
Qian Hao, mendongakkan kepalanya untuk memelototinya. "Siapa yang kau
sebut anak kecil?!"
Meskipun
mengetahui status Pei Qian Hao, Liu Yin Yin terlalu marah untuk memedulikannya,
usia mudanya tidak membantu apa-apa tentang tindakan sembrononya.
Pei
Qian Hao tertawa. "Siapa lagi kalau bukan kau?"
Liu
Yin Yin membusungkan dadanya. "Coba katakan itu sekali lagi!"
Su
Xi-er menarik lengan jubah Pei Qian Hao. "Jangan menakuti Yin Yin."
Kemudian, ia membungkuk untuk mengelus kepala Liu Yin Yin. "Yin Yin, suatu
hari, kau pasti akan tumbuh dewasa. Hanya ketika kau bersikap bijaksana, baru
kau tidak dipanggil anak kecil."
Liu
Yin Yin langsung tersenyum. "Tetap Kakak Peri yang terbaik. Ayo kita naik
kereta." Lalu, ia segera menarik Su Xi-er ke arah kereta kuda dari
Kediaman Pangeran Hao.
Pei
Qian Hao menatap Ning Lian Chen dan mau tak mau berkomentar, "Mengurusi
anak kecil, lumayan sulit."
"Dulunya,
aku tidak terbiasa, dan hanya berpikir itu akan merepotkan. Sekarang, rasanya
aku sudah terbiasa dengan itu. Kita hanya perlu membiarkan semua berjalan
dengan sendirinya." Ning Lian Chen kemudian menggesturkan pada Pei Qian
Hao. "Pangeran Hao, silakan naik ke kereta kuda."

0 comments:
Posting Komentar