Consort of A Thousand Faces
Chapter 438 : Sudah Mandi
Sesuai
dugaan, Chu Ling Long tak lagi bicara, hanya fokus pada makanannya dengan
ekspresi cemberut. Jelas bahwa ia tidak dalam suasana hati untuk mendengarkan
musik yang meriah atau menonton penari yang bergoyang-goyang.
Perjamuannya
sangat meriah saat para menteri terus memberi selamat dan bersulang dengan Pei
Qian Hao, sebuah gestur yang ia balas dengan senang hati.
Baru
setelah pukul sembilan malam, perayaan itu perlahan berakhir. Menerima tatapan
penuh makna dari Pei Qian Hao, Situ Lin pun berdiri dan mengumumkan akhir
perjamuan.
Pei
Qian Hao membantu Su Xi-er bangun sebelum keduanya menjalin tangan mereka,
mengucapkan selamat malam pada semua orang sebelum akhirnya meninggalkan
halaman.
Setelah
itu, berbagai utusan dan pejabat perlahan-lahan keluar dari halaman. Demi
menjaga citranya, Situ Lin adalah yang terakhir pergi. Hanya ketika ia kembali
ke Istana Naga Langit barulah ia mendapatkan kembali temperamen aslinya. Gedebuk! Ia
sudah melompat ke arah Ranjang Naga-nya, dan dengan gembira mengusap-usap
selimutnya. "Ranjang kesayanganku, Kaisar ini akhirnya datang untukmu.
Hari ini sangat melelahkan."
Tetapi,
segera setelah ucapan itu meninggalkan mulutnya, ia mendengar suara tawa
seorang wanita dari belakangnya, membuat dadanya menegang. Oh tidak,
itu kedengaran seperti Bibi Kekaisaran! Tetapi, bukankah ia sudah pergi? Jika
ia ada di sini, maka itu artinya Paman Kekaisaran juga!
Situ
Lin langsung merangkak naik dari tempat tidur, merasakan tatapan dingin terlempar
ke arahnya segera setelah ia berbalik. Menepuk-nepuk jubah naganya, ia
menundukkan kepalanya dengan cepat. "Paman Kekaisaran, mengapa kau
tiba-tiba datang ke Istana Naga Langit selarut ini? Aku bahkan belum membuat
persiapan yang layak."
Pei
Qian Hao menjawab dengan suara rendah. "Penampilanmu di perjamuan malam
ini lumayan bagus; kau menampilkan banyak aura kaisar yang mengesankan.
Pangeran ini secara khusus datang kemari untuk memujimu, tetapi aku tidak
menyangka ...."
Setelah
tertangkap basah, mata Situ Lin pun dipenuhi penyesalan. Tidak
seharusnya aku begitu ceroboh dan langsung menerjang ke atas ranjangku segera
setelah aku berlari masuk ke aula bagian dalam. Apakah aku akan dihukum?
Su
Xi-er berjalan maju dan tersenyum. "Yang Mulia semakin kelihatan seperti
seorang kaisar. Paman Kekaisaranmu dan aku awalnya sudah menetap di kereta
kuda, tetapi ia secara khusus turun dan berjalan ke Istana Naga Langit untuk
mengunjungimu. Bahkan jika kau berbaring di tempat tidur, Paman Kekaisaranmu
tetap merasa senang dalam hatinya. Semua orang lelah, dan seorang kaisar pun
tidak ada bedanya."
Situ
Lin sangat tersentuh, pinggiran matanya memerah selagi ia mendongakkan
kepalanya untuk menatap Pei Qian Hao. "Paman Kekaisaran, apakah kau
benar-benar senang?" Apakah ia benar-benar senang untukku dari
lubuk hatinya?
"Tentu
saja Pangeran ini senang karena Yang Mulia telah berkembang. Hanya saja,
pastikan untuk memeriksa apakah tidak ada orang di sekitar di masa depan
sebelum kau beristirahat seperti yang kau lakukan barusan ini. Apa kau
mengerti?"
Situ
Lin mengangguk berulang kali. "Aku mengerti sekarang. Paman Kekaisaran,
kau sedang mengajariku untuk mengamati situasinya sebelum aku bertindak. Apakah
kalian berdua akan tinggal di Istana Naga Langit malam ini?"
"Pangeran
ini hanya datang untuk mengunjungimu. Kami akan kembali ke Kediaman Pangeran
Hao." Pei Qian Hao menggesturkan pada Su Xi-er. "Kemari."
Su
Xi-er menepuk pundak Situ Lin. "Ingatlah untuk melakukannya selangkah demi
selangkah, dan jangan terlalu gugup." Kemudian ia pun berbalik dan
berjalan ke sisi Pei Qian Hao.
Memerhatikan
sosok mereka yang berlalu, Situ Lin dapat sangat merasakan kebahagiaan dalam
hati Paman Kekaisarannya. Paman Kekaisaran yang dulu akan selalu
sendirian, keluar masuk istana seorang diri, tetapi kini, ada seorang wanita
berbaju merah di sampingnya.
Dengan
seseorang yang menemani Paman Kekaisaran, ia tidak akan merasa kesepian lagi.
Sekarang, tergantung padaku untuk bekerja keras supaya Paman Kekaisaran bisa
berhenti mencemaskanku. Barulah kemudian ia bisa menghabiskan lebih banyak
waktu bersama Bibi Kekaisaran dengan tenang.
Senyuman
Situ Lin jadi semakin lebar, semakin ia memikirkannya. Hanya ketika ia
mendengar suara dayang istana, barulah ia kembali tersadar. Ia dengan cepat
memasang ekspresi serius sebelum memerintahkannya untuk membawakan sebaskom air
untuknya membersihkan diri.
***
Sementara
itu, kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao berjalan dengan cepat menyusuri
jalan yang hampir ditinggalkan.
Su
Xi-er duduk di pelukan Pei Qian Hao dan bersandar di dadanya. Lengan besarnya
melingkari tubuhnya, dan sabuk jubah luarannya sudah terlepas sewaktu ia
menyelimuti Su Xi-er.
Bahkan
jika angin dingin di luar kereta bertiup, ia dapat menahannya dengan tubuhnya
yang kuat. Merasa sangat hangat, sudut mulut Su Xi-er pun tanpa sadar
terangkat. Akhirnya, ia memejamkan matanya dan tertidur dalam dekapannya.
Ia
masih belum terbangun ketika mereka sampai di Kediaman Pangeran Hao, jadi Pei
Qian Hao dengan hati-hati menggendongnya selagi ia turun dari kereta.
Para
pengawal di pintu masuk sudah akan memberikan hormat mereka saat Pei Qian Hao
memberi sinyal agak mereka diam, menggendong Su Xi-er ke halaman utama.
Para
pengawal pun bertukar pandang satu sama lain, tetapi tidak mengatakan sepatah
kata pun, sudah lama terbiasa akan pemandangan begini. Di dunia ini,
hanya Hao Wang Fei yang bisa membuat Pangeran Hao bertingkah seperti itu.
Pei
Qian Hao memberi perhatian ekstra selagi ia menurunkan Su Xi-er ke ranjang
dengan lembut. Kemudian ia mendudukkan dirinya di pinggir sebelum pelan-pelan
membantunya melepaskan gaunnya.
Su
Xi-er mengerang dalam tidurnya dan menepis tangannya, berbalik ke sisi lain
selagi ia terus tidur. Penampilannya saat ini nakal dan menggemaskan bagi Pei
Qian Hao.
Terlepas
dari betapa tenangnya seseorang biasanya, mereka akan bertingkah seperti anak
kecil di depan orang yang mereka cintai.
Pei
Qian Hao terkekeh pelan dan berbisik, "Bagaimana kau akan tidur tanpa
melepaskan gaunmu?" Lalu, ia mengulurkan tangan untuk melonggarkan pakaiannya.
Su
Xi-er menggerutu dalam tidurnya, kesal karena merasa seseorang menyentuhnya.
Mencoba lepas dari penyerang yang tidak diketahuinya sesegera mungkin, ia pun
berbalik. Ini membantu Pei Qian Hao dalam melepaskan gaunnya, tetapi juga
memikatnya lebih jauh.
Namun,
Pei Qian Hao tidak tega mengganggu istirahat damai Su Xi-er. Pada akhirnya, ia
melepaskan jubah luarannya dan meletakkan mereka bersamaan dengan gaun luaran
Su Xi-er di rak pakaian sebelum berbaring di sampingnya.
Saat
itu, pukul satu pagi lewat sedikit, ketika Su Xi-er terbangun dengan mengantuk.
Setelah mengingat bahwa ia masih belum membersihkan diri, ia pun langsung
bangun, tetapi ia ditarik kembali oleh Pei Qian Hao sebelum ia bisa turun dari
ranjang.
Baru
bangun tidur, suaranya agak serak. "Kau pergi kemana?"
"Memanaskan
air untuk membersihkan diri. Kau masih belum mandi juga, kan? Aku akan pergi
dan mengambilkan air."
Pei
Qian Hao duduk tegak dan memeluknya, segala tanda kantuk menghilang dari
matanya. "Ayo pergi bersama." Ia melepaskannya dan turun dari ranjang
untuk menyerahkan pakaian luarannya pada Su Xi-er.
Su
Xi-er mengambilnya dan memakainya sebelum mereka berdua menuju ke belakang
halaman utama.
Setelah
menghabiskan satu jam, mereka berhasil memanaskan air dalam jumlah besar, tetapi
Su Xi-er akhirnya mengetahui bahwa Pei Qian Hao bukannya mencari mandi yang
biasa.
Ada
cukup banyak air yang dituangkan ke dalam bak mandi kayu, dan suhunya sudah
disesuaikan sebelum mereka menambahkan bubuk bunga Ling Rui. Su Xi-er berdiri
di depan bak mandi kayu itu sementara ia memerhatikan Pei Qian Hao melepaskan
pakaian luarannya.
Setelah
Pei Qian Hao melepaskan jubah luarannya, ia menatapnya. "Pangeran ini akan
membantu menelanjangimu nanti."
'Membersihkan
diri' yang dimaksudnya adalah untuk mandi bersama. Aku hanya bisa menyalahkan
diriku sendiri karena terlalu naif dan tidak banyak berpikir. Kami bahkan telah
melakukan tindakan yang paling intim, jadi mandi bersama di halaman kami
sendiri, tidak bisa dianggap berlebihan.
Aku
hanya takut kalau ia akan terlalu bersemangat dan akan berakhir
menyiksaku. Su
Xi-er menatapnya dengan waspada. "Sudah lewat pukul satu pagi. Kalau kau
...."
"Tidak
apa-apa, kau bisa bangun telat besok." Pei Qian Hao sudah melepaskan
celana dalamannya, selagi ia dengan cepat berjalan ke arahnya. "Airnya
akan jadi dingin. Apa kau berencana untuk sakit?" Kemudian, ia pun
mengulurkan tangannya, dan gaun merah Su Xi-er jatuh ke lantai, dengan cepat
diikuti oleh pakaian dan celana dalamannya.
Pei
Qian Hao menggendongnya dan dengan hati-hati memasukkannya ke dalam bak mandi
kayu itu sebelum melangkah masuk dan memeluknya dari belakang.
Mereka
berdua hanya mandi pada awalnya, tetapi atmosfernya jadi semakin memanas
seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya, tangan Su Xi-er menempel di sisi bak
mandi kayu sementara air di dalamnya bergoyang dengan keras, dan ruangan itu
diliputi kehangatan.
Satu
jam setelahnya, Pei Qian Hao melepaskannya dengan puas dan membantu Su Xi-er
menggosok tubuhnya lagi. Akhirnya, ia membantu Su Xi-er mengenakan pakaian
sebelum berpakaian sendiri. Tak lama kemudian, Pei Qian Hao pun menggendong Su
Xi-er kembali ke kamar utama.

0 comments:
Posting Komentar