Sabtu, 25 Juli 2026

CTF - Chapter 438

Consort of A Thousand Faces

Chapter 438 : Sudah Mandi


Sesuai dugaan, Chu Ling Long tak lagi bicara, hanya fokus pada makanannya dengan ekspresi cemberut. Jelas bahwa ia tidak dalam suasana hati untuk mendengarkan musik yang meriah atau menonton penari yang bergoyang-goyang.

Perjamuannya sangat meriah saat para menteri terus memberi selamat dan bersulang dengan Pei Qian Hao, sebuah gestur yang ia balas dengan senang hati.

Baru setelah pukul sembilan malam, perayaan itu perlahan berakhir. Menerima tatapan penuh makna dari Pei Qian Hao, Situ Lin pun berdiri dan mengumumkan akhir perjamuan.

Pei Qian Hao membantu Su Xi-er bangun sebelum keduanya menjalin tangan mereka, mengucapkan selamat malam pada semua orang sebelum akhirnya meninggalkan halaman.

Setelah itu, berbagai utusan dan pejabat perlahan-lahan keluar dari halaman. Demi menjaga citranya, Situ Lin adalah yang terakhir pergi. Hanya ketika ia kembali ke Istana Naga Langit barulah ia mendapatkan kembali temperamen aslinya. Gedebuk! Ia sudah melompat ke arah Ranjang Naga-nya, dan dengan gembira mengusap-usap selimutnya. "Ranjang kesayanganku, Kaisar ini akhirnya datang untukmu. Hari ini sangat melelahkan."

Tetapi, segera setelah ucapan itu meninggalkan mulutnya, ia mendengar suara tawa seorang wanita dari belakangnya, membuat dadanya menegang. Oh tidak, itu kedengaran seperti Bibi Kekaisaran! Tetapi, bukankah ia sudah pergi? Jika ia ada di sini, maka itu artinya Paman Kekaisaran juga!

Situ Lin langsung merangkak naik dari tempat tidur, merasakan tatapan dingin terlempar ke arahnya segera setelah ia berbalik. Menepuk-nepuk jubah naganya, ia menundukkan kepalanya dengan cepat. "Paman Kekaisaran, mengapa kau tiba-tiba datang ke Istana Naga Langit selarut ini? Aku bahkan belum membuat persiapan yang layak."

Pei Qian Hao menjawab dengan suara rendah. "Penampilanmu di perjamuan malam ini lumayan bagus; kau menampilkan banyak aura kaisar yang mengesankan. Pangeran ini secara khusus datang kemari untuk memujimu, tetapi aku tidak menyangka ...."

Setelah tertangkap basah, mata Situ Lin pun dipenuhi penyesalan. Tidak seharusnya aku begitu ceroboh dan langsung menerjang ke atas ranjangku segera setelah aku berlari masuk ke aula bagian dalam. Apakah aku akan dihukum?

Su Xi-er berjalan maju dan tersenyum. "Yang Mulia semakin kelihatan seperti seorang kaisar. Paman Kekaisaranmu dan aku awalnya sudah menetap di kereta kuda, tetapi ia secara khusus turun dan berjalan ke Istana Naga Langit untuk mengunjungimu. Bahkan jika kau berbaring di tempat tidur, Paman Kekaisaranmu tetap merasa senang dalam hatinya. Semua orang lelah, dan seorang kaisar pun tidak ada bedanya."

Situ Lin sangat tersentuh, pinggiran matanya memerah selagi ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Pei Qian Hao. "Paman Kekaisaran, apakah kau benar-benar senang?" Apakah ia benar-benar senang untukku dari lubuk hatinya?

"Tentu saja Pangeran ini senang karena Yang Mulia telah berkembang. Hanya saja, pastikan untuk memeriksa apakah tidak ada orang di sekitar di masa depan sebelum kau beristirahat seperti yang kau lakukan barusan ini. Apa kau mengerti?"

Situ Lin mengangguk berulang kali. "Aku mengerti sekarang. Paman Kekaisaran, kau sedang mengajariku untuk mengamati situasinya sebelum aku bertindak. Apakah kalian berdua akan tinggal di Istana Naga Langit malam ini?"

"Pangeran ini hanya datang untuk mengunjungimu. Kami akan kembali ke Kediaman Pangeran Hao." Pei Qian Hao menggesturkan pada Su Xi-er. "Kemari."

Su Xi-er menepuk pundak Situ Lin. "Ingatlah untuk melakukannya selangkah demi selangkah, dan jangan terlalu gugup." Kemudian ia pun berbalik dan berjalan ke sisi Pei Qian Hao.

Memerhatikan sosok mereka yang berlalu, Situ Lin dapat sangat merasakan kebahagiaan dalam hati Paman Kekaisarannya. Paman Kekaisaran yang dulu akan selalu sendirian, keluar masuk istana seorang diri, tetapi kini, ada seorang wanita berbaju merah di sampingnya.

Dengan seseorang yang menemani Paman Kekaisaran, ia tidak akan merasa kesepian lagi. Sekarang, tergantung padaku untuk bekerja keras supaya Paman Kekaisaran bisa berhenti mencemaskanku. Barulah kemudian ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Bibi Kekaisaran dengan tenang.

Senyuman Situ Lin jadi semakin lebar, semakin ia memikirkannya. Hanya ketika ia mendengar suara dayang istana, barulah ia kembali tersadar. Ia dengan cepat memasang ekspresi serius sebelum memerintahkannya untuk membawakan sebaskom air untuknya membersihkan diri.

***

Sementara itu, kereta kuda dari Kediaman Pangeran Hao berjalan dengan cepat menyusuri jalan yang hampir ditinggalkan.

Su Xi-er duduk di pelukan Pei Qian Hao dan bersandar di dadanya. Lengan besarnya melingkari tubuhnya, dan sabuk jubah luarannya sudah terlepas sewaktu ia menyelimuti Su Xi-er.

Bahkan jika angin dingin di luar kereta bertiup, ia dapat menahannya dengan tubuhnya yang kuat. Merasa sangat hangat, sudut mulut Su Xi-er pun tanpa sadar terangkat. Akhirnya, ia memejamkan matanya dan tertidur dalam dekapannya.

Ia masih belum terbangun ketika mereka sampai di Kediaman Pangeran Hao, jadi Pei Qian Hao dengan hati-hati menggendongnya selagi ia turun dari kereta.

Para pengawal di pintu masuk sudah akan memberikan hormat mereka saat Pei Qian Hao memberi sinyal agak mereka diam, menggendong Su Xi-er ke halaman utama.

Para pengawal pun bertukar pandang satu sama lain, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun, sudah lama terbiasa akan pemandangan begini. Di dunia ini, hanya Hao Wang Fei yang bisa membuat Pangeran Hao bertingkah seperti itu.

Pei Qian Hao memberi perhatian ekstra selagi ia menurunkan Su Xi-er ke ranjang dengan lembut. Kemudian ia mendudukkan dirinya di pinggir sebelum pelan-pelan membantunya melepaskan gaunnya.

Su Xi-er mengerang dalam tidurnya dan menepis tangannya, berbalik ke sisi lain selagi ia terus tidur. Penampilannya saat ini nakal dan menggemaskan bagi Pei Qian Hao.

Terlepas dari betapa tenangnya seseorang biasanya, mereka akan bertingkah seperti anak kecil di depan orang yang mereka cintai.

Pei Qian Hao terkekeh pelan dan berbisik, "Bagaimana kau akan tidur tanpa melepaskan gaunmu?" Lalu, ia mengulurkan tangan untuk melonggarkan pakaiannya.

Su Xi-er menggerutu dalam tidurnya, kesal karena merasa seseorang menyentuhnya. Mencoba lepas dari penyerang yang tidak diketahuinya sesegera mungkin, ia pun berbalik. Ini membantu Pei Qian Hao dalam melepaskan gaunnya, tetapi juga memikatnya lebih jauh.

Namun, Pei Qian Hao tidak tega mengganggu istirahat damai Su Xi-er. Pada akhirnya, ia melepaskan jubah luarannya dan meletakkan mereka bersamaan dengan gaun luaran Su Xi-er di rak pakaian sebelum berbaring di sampingnya.

Saat itu, pukul satu pagi lewat sedikit, ketika Su Xi-er terbangun dengan mengantuk. Setelah mengingat bahwa ia masih belum membersihkan diri, ia pun langsung bangun, tetapi ia ditarik kembali oleh Pei Qian Hao sebelum ia bisa turun dari ranjang.

Baru bangun tidur, suaranya agak serak. "Kau pergi kemana?"

"Memanaskan air untuk membersihkan diri. Kau masih belum mandi juga, kan? Aku akan pergi dan mengambilkan air."

Pei Qian Hao duduk tegak dan memeluknya, segala tanda kantuk menghilang dari matanya. "Ayo pergi bersama." Ia melepaskannya dan turun dari ranjang untuk menyerahkan pakaian luarannya pada Su Xi-er.

Su Xi-er mengambilnya dan memakainya sebelum mereka berdua menuju ke belakang halaman utama.

Setelah menghabiskan satu jam, mereka berhasil memanaskan air dalam jumlah besar, tetapi Su Xi-er akhirnya mengetahui bahwa Pei Qian Hao bukannya mencari mandi yang biasa.

Ada cukup banyak air yang dituangkan ke dalam bak mandi kayu, dan suhunya sudah disesuaikan sebelum mereka menambahkan bubuk bunga Ling Rui. Su Xi-er berdiri di depan bak mandi kayu itu sementara ia memerhatikan Pei Qian Hao melepaskan pakaian luarannya.

Setelah Pei Qian Hao melepaskan jubah luarannya, ia menatapnya. "Pangeran ini akan membantu menelanjangimu nanti."

'Membersihkan diri' yang dimaksudnya adalah untuk mandi bersama. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena terlalu naif dan tidak banyak berpikir. Kami bahkan telah melakukan tindakan yang paling intim, jadi mandi bersama di halaman kami sendiri, tidak bisa dianggap berlebihan.

Aku hanya takut kalau ia akan terlalu bersemangat dan akan berakhir menyiksaku. Su Xi-er menatapnya dengan waspada. "Sudah lewat pukul satu pagi. Kalau kau ...."

"Tidak apa-apa, kau bisa bangun telat besok." Pei Qian Hao sudah melepaskan celana dalamannya, selagi ia dengan cepat berjalan ke arahnya. "Airnya akan jadi dingin. Apa kau berencana untuk sakit?" Kemudian, ia pun mengulurkan tangannya, dan gaun merah Su Xi-er jatuh ke lantai, dengan cepat diikuti oleh pakaian dan celana dalamannya.

Pei Qian Hao menggendongnya dan dengan hati-hati memasukkannya ke dalam bak mandi kayu itu sebelum melangkah masuk dan memeluknya dari belakang.

Mereka berdua hanya mandi pada awalnya, tetapi atmosfernya jadi semakin memanas seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya, tangan Su Xi-er menempel di sisi bak mandi kayu sementara air di dalamnya bergoyang dengan keras, dan ruangan itu diliputi kehangatan.

Satu jam setelahnya, Pei Qian Hao melepaskannya dengan puas dan membantu Su Xi-er menggosok tubuhnya lagi. Akhirnya, ia membantu Su Xi-er mengenakan pakaian sebelum berpakaian sendiri. Tak lama kemudian, Pei Qian Hao pun menggendong Su Xi-er kembali ke kamar utama.

 

0 comments:

Posting Komentar