Sabtu, 25 Juli 2026

CTF - Chapter 435

Consort of A Thousand Faces

Chapter 435 : Mendemonstrasikan Bakat yang Luar Biasa


Semua orang membungkuk dan menjawab secara berbarengan, "Terima kasih banyak, Yang Mulia." Barulah kemudian, mereka duduk.

Jelas bahwa pandangan semua orang langsung tertuju pada Su Xi-er, tetapi mereka mengerti kalau peraturannya menentukan bahwa Kaisar harus menjadi orang pertama yang berbicara.

Memahami situasinya, Situ Lin memasang ekspresi serius sebelum berdeham ringan, menarik perhatian semuanya. "Tujuan dari perjamuan malam ini adalah untuk merayakan pernikahan Pangeran Hao. Karena Ayahanda Kaisar mangkat lebih awal, Kaisar ini menganggap Pangeran Hao seperti ayahku. Aku akan bersulang teh sebagai ganti anggur dengan Pangeran Hao, dan berharap agar Pangeran Hao dan Hao Wang Fei akan memiliki pernikahan yang langgeng."

Kasim di belakang Situ Lin segera maju ke depan untuk menuangkan secangkir teh untuknya.

Dayang istana di belakang Pei Qian Hao pun bersiap untuk melakukan hal yang sama, tetapi dihentikan oleh satu tangan ramping yang terulur dari samping. Tiba-tiba mengerti, dayang istana itu menyerahkan teko tehnya pada Su Xi-er.

Duduk secara diagonal dari kanan mereka adalah Chu Ling Long, yang terkekeh pelan, alis tipisnya terangkat dengan tampang menggoda. "Hao Wang Fei tampak benar-benar familier. Apakah Putra Mahkota ini pernah bertemu denganmu di suatu tempat sebelumnya?"

Ucapannya mengejutkan semua orang yang hadir, dengan beberapa menteri yang tentunya jadi penasaran tentang hubungan antara Putra Mahkota Dong Ling dan Hao Wang FeiSebelum Hao Wang Fei menikahi Pangeran Hao, ia selalu berada di Bei Min. Kalau begitu kasusnya, bagaimana ia mengenal Putra Mahkota Dong Ling?

Su Xi-er tersenyum bahkan di bawah banyak tatapan bingung, auranya sama sekali tidak kalah dari para bangsawan di sekitarnya. "Putra Mahkota Dong Ling benar-benar punya pengelihatan yang bagus. Aku masih seorang dayang kecil yang mengikuti di belakang Pangeran Hao ketika kita bertemu."

Chu Ling Long gigih, bertekad untuk melihat bagaimana Su Xi-er akan bereaksi. "Kau datang ke perjamuan kerajaan Nan Zhao bersama Pangeran Hao. Putra Mahkota ini masih tidak bisa melupakan Tarian Menekuk Ranting yang ditampilkan di panggung di Sungai Air Caltrop. Aku bertanya-tanya, apakah aku bisa menyaksikannya sekali lagi malam ini?"

Para pejabat dari Bei Min mengerutkan alis mereka. Kebiasaan Bei Min berbeda dari kerajaan lainnya; wanita berstatus tinggi tidak boleh menari di depan umum dalam acara apa pun selain perjamuan kerajaan. Putra Mahkota Dong Ling bahkan tidak mempertimbangkan acaranya sebelum ia bicara. Tetapi, mata para pemimpin dari suku asing berbinar penuh semangat. Beberapa dari mereka menantikan untuk menyaksikan tarian Su Xi-er setelah menyadari bahwa ialah orang yang tampil selama perjamuan kerajaan Nan Zhao.

Sebelum Pei Qian Hao dapat mengatakan apa-apa, Su Xi-er mencubitnya di bawah meja, supaya tetap diam.

Memahami niatnya, Pei Qian Hao pun melakukan sesuai keinginannya.

Su Xi-er tersenyum selagi ia menjawab, "Aku takutnya, kau akan kecewa, Putra Mahkota."

Chu Ling Long menyapukan pandangannya ke wajah para menteri sebelum bertanya, "Bolehkah aku bertanya dengan tidak sopan, kenapa begitu?"

Tatapan semua orang langsung fokus pada Su Xi-er. Situ Lin sangat terkesan oleh jawaban Bibi Kekaisarannya ini, dan yakin bahwa ia punya cara untuk menangani situasi saat ini. Namun, demi mempertahankan statusnya sebagai Kaisar suatu bangsa, ia terus menjaga ekspresinya tetap netral.

Tawa lembut wanita pun dapat terdengar, kedengaran seperti lonceng perak dan angin sepoi-sepoi bertiup di danau. "Setiap orang punya hari buruk mereka, dan tidak selalu ada alasan yang rumit. Aku hanya merasa tidak mau saja malam ini."

Beberapa pemimpin suku asing mau tak mau menarik napas dingin, dan para menteri dari Bei Min juga terkejut; bahkan Pei Qian Hao tak terkecuali. Tujuan dari perjamuannya adalah untuk merayakan pernikahan Pangeran Hao, dan perkataan Su Xi-er berada di bawah statusnya.

Namun, Su Xi-er tiba-tiba berdiri dan membungkuk pada semua orang. "Aku yakin semua orang pernah melihat berbagai macam tarian, tetapi tak peduli seberapa indahnya tarian itu, siapa saja akan merasa bosan setelah menyaksikannya berkali-kali. Daripada tarian, aku telah mempersiapkan sesuatu yang lain untuk menghibur semuanya."

Semuanya langsung bersemangat lagi, bahkan Pei Zheng pun penasaran dengan apa yang akan dilakukannya.

Su Xi-er melihat ke arah Guru Agung Kong dan bertanya, "Ayah angkat, bisakah Anda memerintahkan seseorang agar menyiapkan beberapa peralatan menulis dan meja untukku?"

Guru Agung Kong mengangguk dan menginstruksikan Xiao Yuan Zi dan seorang pengawal untuk langsung menuju Perpustakaan Kekaisaran. Bagaimanapun juga, ia memanggilku 'ayah angkat'. Jika ia bisa mendapatkan pujian dari penonton, itu juga akan membuatku bangga. Ia adalah seseorang yang menghormati orang berbakat mana pun, terlepas dari jenis kelamin mereka.

Chu Ling Long mengambil cangkir anggur dari mejanya dan mengayunkannya lembut. "Peralatan menulis? Hao Wang Fei, kau akan melukis, atau mengarang puisi?"

Pei Qian Hao berbicara dingin sebelum Su Xi-er dapat menjawab. "Putra Mahkota, kau bisa menunggu dengan sabar, apa yang dimilikinya. Bagaimana bisa kau setidaksabaran ini, padahal kau adalah seseorang yang akan menjadi penguasa dari suatu kerajaan?"

Setiap kali kaisar baru akan menaiki takhta, tak diragukan lagi mahkamah akan dilanda kekacauan. Jika itu ditangani dengan baik, kerajaan akan berkembang; sebaliknya, kerajaan akan menderita jika hal-hal seperti itu tidak diurus dengan baik.

Mendengarkan implikasi dari perkataan Pei Qian Hao, Chu Ling Long mendengus dalam hati. Ia memang berpengalaman dan cerdik, dan siasatnya betul-betul dalam. Tertinggal tanpa jawaban, Chu Ling Long berbalik pada Su Xi-er. Mari kita lihat, apa yang akan dilakukannya.

Di lain pihak adalah Hua Zi Rong, yang tetap diam selama ini. Ia hanya fokus untuk meminum anggur di cangkirnya secara perlahan, mencuri pandang beberapa kali ke arah Su Xi-er dari waktu ke waktu. Ini bukanlah pertama kalinya wanita ini menantang Putra Mahkota Chu, dan ia berhasil membuatnya kehabisan kata-kata setiap kalinya. Itu sendiri saja, sudah termasuk kemampuan yang cukup besar.

Rasa ingin tahu semuanya pun terus menumpuk, dan di tengah gumaman kolektif mereka, peralatan menulis dan meja akhirnya datang.

Su Xi-er berjalan maju dan meminta Xiao Yuan Zi untuk membantunya menggilingkan batang tintanya. Kemudian, ia melihat ke arah Chu Ling Long. "Aku akan melukis malam ini, tetapi bukan hanya lukisan tanaman; aku akan melukiskan lukisan manusia. Putra Mahkota Chu, karena kaulah yang pertama bicara, aku akan melukismu. Ini akan memakan waktu kurang dari lima belas menit."

Para pelukis handal di kerumunan mengetahui bahwa, melukis sesuatu seperti tumbuhan adalah mudah, tetapi melukis manusia akan jadi hal yang paling sulit. Bukan hanya lukisannya harus menunjukkan penampilan mereka, itu juga harus mencerminkan aura mereka. Biasanya dibutuhkan waktu beberapa jam untuk melukiskan karya yang indah, tetapi Su Xi-er menyatakan bahwa ia dapat melakukannya dalam waktu lima belas menit!

Mau tak mau, semua orang pun penasaran, bagaimanakah ia akan menyelesaikannya, bahkan Guru Agung Kong pun jadi skeptis. Bagaimana ia akan menyelesaikan tugas semenantang ini?

Sangat kontras, Pei Qian Hao adalah gambaran dari ketenangan. Ia perlahan-lahan menyesap tehnya selagi sudut mulutnya kadang-kadang terangkat, menunjukkan suasana hatinya yang baik. Wanitaku cukup luar biasa. Orang-orang ini harus menunggu hingga bola mata mereka copot dari rongga matanya.

(T/N : cie, cie, proud husband detected. Bucinnya kamu bang, dah ga da obat.)

Pandangan semua orang tertuju pada kuas Su Xi-er. Tintanya sudah disiapkan, dan ia melirik sekilas pada Chu Ling Long sebelum memulai, kepalanya tidak pernah terangkat selama seluruh prosesnya. Kuasnya menari dengan gesit di atas kertas, dan jelas bagi semua orang bahwa ia bukanlah amatir.

Meskipun ibu Ning Ru Lan berasal dari kelompok minoritas, ia sangat menghargai literatur, terutama kaligrafi dan melukis. Sementara untuk menari, Ning Ru Lan memilihnya karena kesukaannya akan tarian. Di sisi lain, ia sudah dipaksa oleh keadaan untuk belajar memerintah kerajaan.

Bukannya orang itu kuat dan tangguh di saat mereka keluar dari rahim ibu mereka. Orang-orang kuat, seperti Ning Ru Lan dan Pei Qian Hao, keduanya adalah produk dari keadaan mereka.

Meski menjadi orang yang sangat memahami melukis, mata Guru Agung Kong dipenuhi kebingungan. Apakah Su Xi-er benar-benar berasal dari Istana Samping? Apakah ia benar-benar berasal dari latar belakang miskin sebelum ia memasuki istana? Mau tak mau, ia pun jadi ragu.

Chu Ling Long baru saja menghabiskan setengah cangkirnya ketika lukisannya selesai. Saat Xiao Yuan Zi maju ke depan untuk melihat, ekspresi membekunya hanya meningkatkan antisipasi semua orang.

Beberapa orang sudah menjerit, "Cepat, bawakan kemari dan tunjukkan pada kami!"

Barulah kemudian, Xiao Yuan Zi tersadar. Ia mengambil lukisan itu dengan hati-hati dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi selagi ia membawakan lukisan itu ke penonton.

Dengan bantuan dari cahaya bulan yang terang dan lentera merah, semua orang melihat orang di dalam lukisan dan mata mereka melebar. Bahkan Guru Agung Kong saja tidak tahan untuk menarik napas dingin. Lukisan ini ... benar-benar luar biasa!

Sewaktu Chu Ling Long melihatnya, tinjunya mengepal erat, dan wajahnya berubah menghijau karena marah. Su Xi-er! Siapa sangka, aku tidak pernah melihat ini akan terjadi!

 

0 comments:

Posting Komentar