Consort of A Thousand Faces
Chapter 435 : Mendemonstrasikan Bakat yang Luar Biasa
Semua
orang membungkuk dan menjawab secara berbarengan, "Terima kasih banyak,
Yang Mulia." Barulah kemudian, mereka duduk.
Jelas
bahwa pandangan semua orang langsung tertuju pada Su Xi-er, tetapi mereka
mengerti kalau peraturannya menentukan bahwa Kaisar harus menjadi orang pertama
yang berbicara.
Memahami
situasinya, Situ Lin memasang ekspresi serius sebelum berdeham ringan, menarik
perhatian semuanya. "Tujuan dari perjamuan malam ini adalah untuk
merayakan pernikahan Pangeran Hao. Karena Ayahanda Kaisar mangkat lebih awal,
Kaisar ini menganggap Pangeran Hao seperti ayahku. Aku akan bersulang teh
sebagai ganti anggur dengan Pangeran Hao, dan berharap agar Pangeran Hao dan
Hao Wang Fei akan memiliki pernikahan yang langgeng."
Kasim
di belakang Situ Lin segera maju ke depan untuk menuangkan secangkir teh
untuknya.
Dayang
istana di belakang Pei Qian Hao pun bersiap untuk melakukan hal yang sama,
tetapi dihentikan oleh satu tangan ramping yang terulur dari samping. Tiba-tiba
mengerti, dayang istana itu menyerahkan teko tehnya pada Su Xi-er.
Duduk
secara diagonal dari kanan mereka adalah Chu Ling Long, yang terkekeh pelan,
alis tipisnya terangkat dengan tampang menggoda. "Hao Wang Fei tampak
benar-benar familier. Apakah Putra Mahkota ini pernah bertemu denganmu di suatu
tempat sebelumnya?"
Ucapannya
mengejutkan semua orang yang hadir, dengan beberapa menteri yang tentunya jadi
penasaran tentang hubungan antara Putra Mahkota Dong Ling dan Hao Wang
Fei. Sebelum Hao Wang Fei menikahi Pangeran Hao, ia selalu berada
di Bei Min. Kalau begitu kasusnya, bagaimana ia mengenal Putra Mahkota Dong
Ling?
Su
Xi-er tersenyum bahkan di bawah banyak tatapan bingung, auranya sama sekali
tidak kalah dari para bangsawan di sekitarnya. "Putra Mahkota Dong Ling
benar-benar punya pengelihatan yang bagus. Aku masih seorang dayang kecil yang
mengikuti di belakang Pangeran Hao ketika kita bertemu."
Chu
Ling Long gigih, bertekad untuk melihat bagaimana Su Xi-er akan bereaksi.
"Kau datang ke perjamuan kerajaan Nan Zhao bersama Pangeran Hao. Putra
Mahkota ini masih tidak bisa melupakan Tarian Menekuk Ranting yang ditampilkan
di panggung di Sungai Air Caltrop. Aku bertanya-tanya, apakah aku bisa
menyaksikannya sekali lagi malam ini?"
Para
pejabat dari Bei Min mengerutkan alis mereka. Kebiasaan Bei Min berbeda
dari kerajaan lainnya; wanita berstatus tinggi tidak boleh menari di depan umum
dalam acara apa pun selain perjamuan kerajaan. Putra Mahkota Dong Ling bahkan
tidak mempertimbangkan acaranya sebelum ia bicara. Tetapi, mata para
pemimpin dari suku asing berbinar penuh semangat. Beberapa dari mereka
menantikan untuk menyaksikan tarian Su Xi-er setelah menyadari bahwa ialah
orang yang tampil selama perjamuan kerajaan Nan Zhao.
Sebelum
Pei Qian Hao dapat mengatakan apa-apa, Su Xi-er mencubitnya di bawah meja,
supaya tetap diam.
Memahami
niatnya, Pei Qian Hao pun melakukan sesuai keinginannya.
Su
Xi-er tersenyum selagi ia menjawab, "Aku takutnya, kau akan kecewa, Putra
Mahkota."
Chu
Ling Long menyapukan pandangannya ke wajah para menteri sebelum bertanya,
"Bolehkah aku bertanya dengan tidak sopan, kenapa begitu?"
Tatapan
semua orang langsung fokus pada Su Xi-er. Situ Lin sangat terkesan oleh jawaban
Bibi Kekaisarannya ini, dan yakin bahwa ia punya cara untuk menangani situasi
saat ini. Namun, demi mempertahankan statusnya sebagai Kaisar suatu bangsa, ia
terus menjaga ekspresinya tetap netral.
Tawa
lembut wanita pun dapat terdengar, kedengaran seperti lonceng perak dan angin
sepoi-sepoi bertiup di danau. "Setiap orang punya hari buruk mereka, dan
tidak selalu ada alasan yang rumit. Aku hanya merasa tidak mau saja malam
ini."
Beberapa
pemimpin suku asing mau tak mau menarik napas dingin, dan para menteri dari Bei
Min juga terkejut; bahkan Pei Qian Hao tak terkecuali. Tujuan dari perjamuannya
adalah untuk merayakan pernikahan Pangeran Hao, dan perkataan Su Xi-er berada
di bawah statusnya.
Namun,
Su Xi-er tiba-tiba berdiri dan membungkuk pada semua orang. "Aku yakin
semua orang pernah melihat berbagai macam tarian, tetapi tak peduli seberapa
indahnya tarian itu, siapa saja akan merasa bosan setelah menyaksikannya
berkali-kali. Daripada tarian, aku telah mempersiapkan sesuatu yang lain untuk
menghibur semuanya."
Semuanya
langsung bersemangat lagi, bahkan Pei Zheng pun penasaran dengan apa yang akan
dilakukannya.
Su
Xi-er melihat ke arah Guru Agung Kong dan bertanya, "Ayah angkat, bisakah
Anda memerintahkan seseorang agar menyiapkan beberapa peralatan menulis dan
meja untukku?"
Guru
Agung Kong mengangguk dan menginstruksikan Xiao Yuan Zi dan seorang pengawal
untuk langsung menuju Perpustakaan Kekaisaran. Bagaimanapun juga, ia
memanggilku 'ayah angkat'. Jika ia bisa mendapatkan pujian dari penonton, itu
juga akan membuatku bangga. Ia adalah seseorang yang menghormati orang
berbakat mana pun, terlepas dari jenis kelamin mereka.
Chu
Ling Long mengambil cangkir anggur dari mejanya dan mengayunkannya lembut.
"Peralatan menulis? Hao Wang Fei, kau akan melukis, atau
mengarang puisi?"
Pei
Qian Hao berbicara dingin sebelum Su Xi-er dapat menjawab. "Putra Mahkota,
kau bisa menunggu dengan sabar, apa yang dimilikinya. Bagaimana bisa kau
setidaksabaran ini, padahal kau adalah seseorang yang akan menjadi penguasa
dari suatu kerajaan?"
Setiap
kali kaisar baru akan menaiki takhta, tak diragukan lagi mahkamah akan dilanda
kekacauan. Jika itu ditangani dengan baik, kerajaan akan berkembang;
sebaliknya, kerajaan akan menderita jika hal-hal seperti itu tidak diurus
dengan baik.
Mendengarkan
implikasi dari perkataan Pei Qian Hao, Chu Ling Long mendengus dalam
hati. Ia memang berpengalaman dan cerdik, dan siasatnya betul-betul
dalam. Tertinggal tanpa jawaban, Chu Ling Long berbalik pada Su
Xi-er. Mari kita lihat, apa yang akan dilakukannya.
Di
lain pihak adalah Hua Zi Rong, yang tetap diam selama ini. Ia hanya fokus untuk
meminum anggur di cangkirnya secara perlahan, mencuri pandang beberapa kali ke
arah Su Xi-er dari waktu ke waktu. Ini bukanlah pertama kalinya wanita
ini menantang Putra Mahkota Chu, dan ia berhasil membuatnya kehabisan kata-kata
setiap kalinya. Itu sendiri saja, sudah termasuk kemampuan yang cukup besar.
Rasa
ingin tahu semuanya pun terus menumpuk, dan di tengah gumaman kolektif mereka,
peralatan menulis dan meja akhirnya datang.
Su
Xi-er berjalan maju dan meminta Xiao Yuan Zi untuk membantunya menggilingkan
batang tintanya. Kemudian, ia melihat ke arah Chu Ling Long. "Aku akan
melukis malam ini, tetapi bukan hanya lukisan tanaman; aku akan melukiskan
lukisan manusia. Putra Mahkota Chu, karena kaulah yang pertama bicara, aku akan
melukismu. Ini akan memakan waktu kurang dari lima belas menit."
Para
pelukis handal di kerumunan mengetahui bahwa, melukis sesuatu seperti tumbuhan
adalah mudah, tetapi melukis manusia akan jadi hal yang paling sulit. Bukan
hanya lukisannya harus menunjukkan penampilan mereka, itu juga harus
mencerminkan aura mereka. Biasanya dibutuhkan waktu beberapa jam untuk
melukiskan karya yang indah, tetapi Su Xi-er menyatakan bahwa ia dapat
melakukannya dalam waktu lima belas menit!
Mau
tak mau, semua orang pun penasaran, bagaimanakah ia akan menyelesaikannya,
bahkan Guru Agung Kong pun jadi skeptis. Bagaimana ia akan
menyelesaikan tugas semenantang ini?
Sangat
kontras, Pei Qian Hao adalah gambaran dari ketenangan. Ia perlahan-lahan
menyesap tehnya selagi sudut mulutnya kadang-kadang terangkat, menunjukkan
suasana hatinya yang baik. Wanitaku cukup luar biasa. Orang-orang ini
harus menunggu hingga bola mata mereka copot dari rongga matanya.
(T/N
: cie, cie, proud husband detected. Bucinnya kamu bang, dah ga da obat.)
Pandangan
semua orang tertuju pada kuas Su Xi-er. Tintanya sudah disiapkan, dan ia
melirik sekilas pada Chu Ling Long sebelum memulai, kepalanya tidak pernah
terangkat selama seluruh prosesnya. Kuasnya menari dengan gesit di atas kertas,
dan jelas bagi semua orang bahwa ia bukanlah amatir.
Meskipun
ibu Ning Ru Lan berasal dari kelompok minoritas, ia sangat menghargai
literatur, terutama kaligrafi dan melukis. Sementara untuk menari, Ning Ru Lan
memilihnya karena kesukaannya akan tarian. Di sisi lain, ia sudah dipaksa oleh
keadaan untuk belajar memerintah kerajaan.
Bukannya
orang itu kuat dan tangguh di saat mereka keluar dari rahim ibu mereka.
Orang-orang kuat, seperti Ning Ru Lan dan Pei Qian Hao, keduanya adalah produk
dari keadaan mereka.
Meski
menjadi orang yang sangat memahami melukis, mata Guru Agung Kong dipenuhi
kebingungan. Apakah Su Xi-er benar-benar berasal dari Istana Samping?
Apakah ia benar-benar berasal dari latar belakang miskin sebelum ia memasuki
istana? Mau tak mau, ia pun jadi ragu.
Chu
Ling Long baru saja menghabiskan setengah cangkirnya ketika lukisannya selesai.
Saat Xiao Yuan Zi maju ke depan untuk melihat, ekspresi membekunya hanya
meningkatkan antisipasi semua orang.
Beberapa
orang sudah menjerit, "Cepat, bawakan kemari dan tunjukkan pada
kami!"
Barulah
kemudian, Xiao Yuan Zi tersadar. Ia mengambil lukisan itu dengan hati-hati dan
mengangkat tangannya tinggi-tinggi selagi ia membawakan lukisan itu ke
penonton.
Dengan
bantuan dari cahaya bulan yang terang dan lentera merah, semua orang melihat
orang di dalam lukisan dan mata mereka melebar. Bahkan Guru Agung Kong saja
tidak tahan untuk menarik napas dingin. Lukisan ini ... benar-benar
luar biasa!
Sewaktu
Chu Ling Long melihatnya, tinjunya mengepal erat, dan wajahnya berubah
menghijau karena marah. Su Xi-er! Siapa sangka, aku tidak pernah melihat ini
akan terjadi!

0 comments:
Posting Komentar