3L3W Lotus Step 1
Chapter 3 part 2
Cheng Yu berjongkok di gang kecil di luar Lin Lang Ge untuk sesaat, dan kemudian perlahan-lahan beranjak keluar untuk mengejar Tuan Muda Lian, yang wajahnya hanya dilihat separuh itu.
Zhu Jin pernah bilang bahwa, jika seorang wanita ingin mencari seorang suami, ia harus mencari yang setia dan jujur. Playboy yang punya banyak kekasih bukanlah pasangan yang baik .... Cheng Yu menendang batu kerikil sepanjang jalannya dan menghela napas. Apabila ia masih bisa menyusul Jenderal Lian dengan berkeliaran seperti ini, maka ia akan membantu Hua Fei Wu lagi. Tetapi kalau tidak terkejar, Cheng Yu pun menguap dan memandangi gang yang sepi dan terpencil yang secara khusus dipilihnya ini. Ia tidak bisa menahan sudut mulutnya yang menunjukkan senyuman. Xiao Hua, ini karena Langit tidak mau kau menderita di jalan pernikahan, jadi beliau menggunakan tanganku untuk menyelamatkanmu.
Ia mengejar pria itu, dan setelah beberapa saat, ia tidak berhasil menangkapnya, tetapi ia menemukan sebuah toko kerajinan kecil yang menarik di sebuah gang kecil.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari ke toko itu.
Toko kerajinan kecil ini terlihat kuno, tetapi barang-barang yang dijualnya semuanya baru. Misalnya, panggung teater kayu eboni kecil di konternya sangat cerdas: begitu tirai dibuka, gadis penari bunga kayu sepanjang jari tangan akan muncul dari panggung dan melakukan trik saputangan dengan sangat cekatan. Ada juga peri sewarna gading berukir kecil yang memainkan seruling di atas kolam teratai biru kehijauan, dengan panjang satu kaki dan lebar satu kaki, yang juga sangat menarik: ketika kau menekan bunga teratai dengan lembut di kolam, jari-jari perinya bergerak dan suara seruling melayang ke telingamu.
Cheng Yu mencondong ke atas meja dan menatap peri yang bermain seruling tanpa berkedip, tidak rela berpisah untuk waktu yang lama, menyentuh dompetnya, yang berisi sedikit uang, dan menghela napas dengan sedih.
Tiba-tiba, suara seseorang terdengar dari samping: "Ini dibuat dengan indah, bukan?"
Cheng Yu bergumam, "Ya," menolehkan kepalanya, "Kau sedang berbicara denganku ....," dan ia pun tersendat.
Pemuda itu begitu dekat dengannya sehingga ketika ia memiringkan kepalanya, ia menatap sepasang mata phoenix yang panjang dan sipit. Dalam fisiognomi, dikatakan bahwa mata burung phoenix adalah mata yang agung; mata yang tajam di bagian dalam dan lebar di bagian luar, dengan ekor yang sedikit terangkat. Ia baru saja menatap mata ini beberapa saat yang lalu, jadi tentu saja ia langsung mengenalinya saat melihatnya lagi.
Cheng Yu sangat terkejut sampai-sampai ia menyandarkan tubuhnya ke lemari dan berteriak "Ah!", "Itu kau!" Pada saat ini, ia akhirnya bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas. Sekilas, itu tampak seperti wajah yang sangat tampan, tidak heran Hua Fei Wu memikirkannya. Tetapi sebelum ia bisa melihat lebih dekat, pemuda itu sudah berbalik ke samping untuk mengutak-atik pernak-pernik lain di atas meja, meninggalkannya hanya dengan tampilan samping. Cheng Yu tiba-tiba merasa bahwa wajah pemuda itu terlihat familier, tetapi ia tidak ingat di mana ia pernah bertemu dengannya untuk sesaat.
Pemuda itu mencondongkan diri untuk memeriksa sebuah benda kecil di depannya, sebuah pagoda perunggu, dan ketika ia menggoyangkan lonceng Buddha di sudut pagoda, seorang biksu kecil akan keluar dari loteng sambil mengetuk-ngetuk muyu.
(T/N: Muyu—wooden fish, juga dikenal sebagai blok kuil Tionghoa, adalah sebuah instrumen perkusi kayu. Ikan kayu/muyu digunakan oleh para biarawan dan jemaatnya dalam tradisi Buddha Mahayana. Alat tersebut sering digunakan pada saat ritual yang melibatkan pengutipan ulang sutra, mantra, atau teks Buddha lainnya. Contohnya.)
Pemuda itu membunyikan lonceng Buddha dua kali sebelum seolah-olah ia baru teringat untuk berbicara kepada Cheng Yu, "Aku ingat kau berada di tempat Hua Fei Wu ...." Ia berhenti sejenak untuk menemukan kata-kata, "Sedang bersenang-senang." Setelah menggunakan kata ini ia sepertinya merasa sedikit geli. Meski hanya sekilas, Cheng Yu menangkap sedikit senyuman di sudut mulutnya yang tersungging, "Kenapa kau keluar lagi?"
"Aku, aku keluar karena ...." Cheng Yu ragu-ragu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa, setelah ia mengejar-ngejarnya dengan begitu serampangan, ia masih bisa bertemu dengan pemuda berpakaian putih ini begitu saja. Mungkinkah ini karena langit telah menakdirkan Xiao Hua untuk jatuh ke dalam lubang api?
Ya sudah deh. Karena ia telah bersumpah, ia tak punya pilihan selain memenuhi keinginan Hua Fei Wu. Ia tergagap dua atau tiga kali dan menjawab dengan kaku, "Aku keluar untuk mengejarmu."
Pemuda itu mengangkat alisnya, "Oh?"
"En." Cheng Yu mengangguk dengan sungguh-sungguh, menarik napas dalam-dalam dan dalam hati melafalkan Amitabha Buddha, meminta Dewa Empat Penjuru memaafkannya karena harus mulai berbicara omong kosong lagi.
"Kakak Hua ...." katanya, "Kau, Jenderal, kaulah yang sangat dicintainya, aku ...." katanya tanpa perasaan, "Itu, itu hanya angan-anganku saja yang jatuh cinta pada Kakak Hua. Aku selalu mengganggunya, tetapi Kakak Hua sebenarnya menolak, ia lebih suka bersamamu ...." Awalnya, ia tergagap, tetapi kemudian, saat ia masuk ke dalam cerita, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara panjang lebar: "Orang sepertimu, Jenderal, tidak akan mengerti cinta yang sia-sia. Aku tidak memintamu untuk mengasihaniku, aku hanya memintamu untuk mengasihani Kakak Hua, satu-satunya harapanku adalah Kakak Hua tidak akan menderita rasa sakit yang kualami sekarang .... "
Pemuda itu sudah cukup bersabar, tetapi saat ia mendengar ini, mau tidak mau ia pun menyela perkataannya, "Maksudmu, kau menyukai Hua Fei Wu?"
Cheng Yu sudah mengaku kepada para dewa, jadi tentu saja tidak ada beban baginya untuk berbicara omong kosong dengan mata yang terbuka lebar di saat ini. Bukan hanya ia tidak merasa terbebani, ia juga mengagumi kejeniusannya sendiri saat ia berbicara omong kosong, bagaimana ia bisa mengarang cerita yang begitu pedih dan mengharukan! Saking asyiknya terobsesi dengan bakatnya sendiri, sehingga ia tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh pemuda itu. "Apa yang kau katakan?" Ia bertanya kepada pemuda itu dengan nada datar.
Pemuda itu sangat sabar dan mengulangi, "Maksudmu, kau menyukai Hua Fei Wu, bukan?"
Biksu kecil di pagoda itu pun kembali mundur ke loteng setelah membunyikan satu babak muyu. Pemuda itu mengulurkan jari telunjuknya untuk membunyikan lonceng kecil di tingkat ketiga, "Kau adalah seorang gadis." Ia berkata, suaranya datar dan tidak ada yang istimewa, namun Cheng Yu tiba-tiba merasa seolah-olah ia pernah mendengar kata-kata itu di suatu tempat sebelumnya. Pemuda itu menoleh ke belakang dan berkata, "Kenapa kau tidak berbicara?"
Saat mendengar suara muyu berbunyi, Cheng Yu melihat ke langit dan ke bawah untuk beberapa saat dan berkata, "Aku, eh, yah, itu ...." Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara terus mengarang, merasakan bakatnya mengering. Setelah beberapa waktu, ia pun berbisik: "Ketika aku berpakaian sebagai Tuan Muda Kecil Yu, tidak ada yang pernah mengenaliku sebagai seorang wanita."
Tangan pemuda itu memetik lonceng Buddha dan berhenti sejenak sebelum menjawab, "Tidak mungkin."
Cheng Yu masih percaya diri dengan penyamarannya sebagai seorang pria, jadi ia sedikit menghibur dirinya sendiri dan menyebutkan prestasinya dengan jelas kepada pemuda itu, satu per satu. "Sungguh, aku tidak membual," ia pun memulai, "Aku pergi ke Kai Yuan Fang untuk bermain Cu ju pada usia delapan tahun dan sekarang telah menjadi ketua tim Cu Ju di Kai Yuan Fang, dan mereka masih tidak menyadari bahwa aku seorang wanita; aku berumur dua belas tahun ketika aku membantu temanku pergi ke Lin Lang Ge demi menebus Hua Fei Wu, dan sekarang aku adalah tamu kelas pertama Lin Lang Ge, namun mereka masih belum tahu bahwa aku adalah seorang wanita. Aku berusia tiga belas tahun ketika mulai menulis untuk orang-orang di Wan Yan Zhai, meniru tulisan tangan para bangsawan muda yang tidak berpendidikan itu dengan sangat baik, tetapi mereka masih tidak bisa melihat bahwa aku adalah seorang wanita; menurutku, dalam hal berdandan seperti pria, semua orang benar-benar harus percaya padaku, aku dapat mengatakan bahwa aku sangat pandai berdandan dari dalam hingga ke luar, tidak ada yang benar-benar menganggap bahwa aku adalah ...."
(T/N: cu ju adalah permainan menendang bola zaman dulu, mungkin mirip dengan sepak bola zaman sekarang.)
Pemuda itu menyela ceritanya yang panjang lebar, "Apa kau sudah lupa?" Ia berujar lirih, "Bahwa setahun yang lalu kau tidak bisa menyembunyikannya dari mataku."
"Hah?" kata Cheng Yu.
Pemuda itu akhirnya menolehkan kepalanya untuk menatapnya, wajahnya dingin, dan ia berbicara dengan nada penuh kepastian, "Kau benar-benar lupa."
Pemuda itu melangkah lebih dekat. Ia bertubuh tinggi hingga harus menundukkan kepalanya sedikit sebelum tatapannya bisa mendarat di wajahnya.
Cheng Yu akhirnya memiliki cukup waktu untuk melihat penampilan pemuda itu. Ia melihat cambangnya yang seperti dipangkas pisau, alis bak pedangnya yang miring, dan mata phoenix yang memiliki cahaya ilahi yang tertahan, tidak peduli berapa kali ia melihatnya, ia tetap mengaguminya. Dan karena ia berdiri dekat kali ini, ia bisa dengan jelas melihat pupil mata itu, seperti semacam harta karun berwarna cokelat dengan lingkaran cahaya gelap.
Ya, kuning. Pupil mata pemuda itu berwarna kuning yang langka.
Jantung Cheng Yu berdebar-debar dan tiba-tiba saja sebuah pencerahan mendatanginya: "Penyeberangan feri kecil ... payung ... Xiao Hua ... eh, itu kau!" Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, pria berpakaian putih di depannya segera bersatu dengan pemuda tampan yang pakaiannya setengah basah, yang sudah terkubur jauh di dalam ingatannya. Ia akhirnya mengerti mengapa ia selalu merasa akrab dengan pria berpakaian putih ini hari ini, dan mengapa kata-katanya terkadang membuatnya merasa akrab, karena setahun yang lalu, di paviliun kayu di feri kecil itu, ialah yang berdiri di depannya, dan ia jugalah yang mengangkat alis padanya sembari berkata, "Kau adalah seorang gadis."
Cheng Yu mengetuk kepalanya, "Jenderal Lian yang dibicarakan Xiao Hua adalah kau!"
Pemuda itu menatapnya, "Ini aku." Wajahnya masih dingin, seolah-olah ia tidak senang karena Cheng Yu baru teringat pada dirinya saat ini.
Cheng Yu tidak peduli dengan wajah acuh tak acuh pemuda itu. Ia ingat bahwa ini adalah teman lama, dan wajahnya segera dipenuhi dengan kegembiraan bertemu kembali dengan seorang teman lama: "Jadi, kau tetap pergi menemui Xiao Hua." Di titik ini, nyaris hal yang wajar baginya untuk teringat akan payung itu, dan pengembalian si payung, ia pun sedikit bingung dan berkata, "Tidak. Aku tidak dengar kau pergi ke Lin Lang Ge sejak saat itu. Aku bahkan menanyai Xiao Hua apakah ada pemuda yang sangat tampan yang mendatanginya untuk mengembalikan payung, dan ia bilang tidak." Ia menatapnya skeptis dan berujar tegas, "Kau tidak mengembalikkan payungku."
"Kau bertanya tentang diriku?" Pemuda itu menanyainya.
Ia mengangguk, "Aku sudah bertanya berkali-kali, sampai Xiao Hua sudah bosan." Sekali lagi ia yakin: "Kau benar-benar tidak mengembalikan payungku!"
Wajah pemuda itu pun melembut, bahkan ada senyum kecil yang muncul di matanya, "Mari kita tinggalkan cerita lama untuk saat ini." Ia menatapnya dengan lumayan geli, "Apa kau ingat bahwa kau benar-benar mengejarku tadi sebenarnya bukan untuk membuatku mengembalikan payung itu, kan?"
"Oh, iya!" Cheng Yu akhirnya ingat tujuan awalnya, "Apa yang kukatakan?"
Pemuda itu menyenggol bahunya dengan ujung kipasnya, "Kita sedang membicarakan tentang kau yang seorang gadis. Jadi kau dan Hua Fei Wu," ia pun tersenyum kecil, "Apa yang terjadi?"
"Itu, itu ...." Ia ragu-ragu sejenak, berpikir bahwa ini terlalu sulit baginya. Pemuda itu sudah tahu kalau ia adalah seorang gadis dan ia tidak bisa terus mengada-ada. "Aku, aku hanya membantu Xiao Hua, ia, ia memintaku untuk berpura-pura menyukainya agar aku bisa membuatmu marah dan cemburu ...."
Pemuda itu mengangguk, "Lanjutkan."
Keringat bercucuran di kening Cheng Yu saat ia membela Xiao Hua, "Tetapi Xiao Hua melakukan ini karena ia menyukaimu. Ia hanya melakukan ini karena ia menyukaimu." Ia berusaha keras untuk memberikan kata-kata yang baik untuk Hua Fei Wu, "Lihatlah, Xiao Hua kita sangat cantik, dan ia sangat menyukaimu, kau harus bersikap baik padanya, bukan begitu?"
Seruling yang dimainkan si peri gading mendadak berhenti, dan pemuda itu mengangkat tangannya untuk memetik kuncup bunga kecil di samping boneka itu, dan peri kecil itu segera memainkan lagu lainnya, dan suara pemuda itu berkata: "Ia tidak sebaik dirimu."
Mata Cheng Yu terpaku pada peri berwarna gading berukir yang kembali memainkan seruling, jadi perhatiannya pun sepenuhnya terserap. Ia tidak mendengar apa yang dikatakan pemuda itu dengan jelas, dan hanya ketika ia tersadar barulah ia terpikir untuk menanyai si pemuda, "Omong-omong, barusan kau bilang apa?"
Namun, pemuda itu tidak menjawabnya lagi, tetapi hanya tersenyum dan berkata, "Kau mengatakan bahwa aku harus bersikap baik kepada Hua Fei Wu, jadi aku bertanya kepadamu, bagaimana aku harus bersikap baik padanya."
"Oh," Cheng Yu tidak meragukannya, setelah memikirkannya, menunjuk ke peri gading berukir kecil yang telah diperhatikannya, menghampiri si pemuda dengan gaya yang bermartabat, "Aku yang paling mengenal Xiao Hua. Aku tahu Xiao Hua menyukai pernak-pernik kecil seperti peri kecil yang meniup seruling ini. Apakah kau mau bersikap baik padanya? Kau bisa membeli ini dan memberikannya padanya, dan ia akan senang sekali!" Ia diam-diam menatap si pemuda dengan hati yang merasa bersalah.
Tanpa diduga, matanya bertemu dengan pemuda itu. Cheng Yu segera berdiri tegak dengan mata, hidung, dan hati yang terbuka.
(T/N : maksudnya memberi perhatian penuh.)
Pemuda itu bertanya di atas kepalanya, "Apakah kau yakin ialah yang senang sekali dan bukannya kau yang senang?"
Cheng Yu sangat terkejut, tetapi ia berhasil bertahan dan bergumam pelan, "Ialah yang senang."
Pemuda itu berkata, "Benarkah begitu?" Ia dengan santai memainkan seruling giok si peri gading berukir, "Kukira, kau adalah sahabat Hua Fei Wu, aku membelikannya untuknya dan ia akan memberikannya kepadamu nanti."
Cheng Yu tidak benar-benar paham bagaimana si pemuda dapat melihat tembus ke angan-angannya. Ia merasa malu dan frustasi untuk sesaat. Ia menunduk dan mengutak-atik dompetnya, yang hanya ada sedikit uang. Setelah beberapa saat, dia pun berbisik, "Aku berbohong padamu, aku menginginkan si peri gading berukir, tetapi aku juga tidak bermaksud membohongimu." Ia mendongak dan mengintip ke arah pemuda itu secara diam-diam. "Aku hanya tidak punya banyak uang sekarang. Aku sebenarnya menghasilkan uang dengan cepat, tetapi sewaktu aku menghasilkan uang, tidak tahu siapa yang akan membeli peri kecil ini. Itulah sebabnya kupikir, kau bisa membelinya untuk Xiao Hua dan kemudian ia bisa meminjamkannya kepadaku untuk kumainkan sementara waktu."
Pemuda itu menatapnya sejenak, kemudian berbalik dan membangunkan si pemilik toko tua. Dengan beberapa patah kata, si pemilik toko telah membungkus peri gading berukir itu dalam sebuah kotak kayu dan menyerahkannya kepadanya.
Pemuda itu menyerahkan kotak itu kepada Cheng Yu.
Cheng Yu sangat gembira dan berkata, "Aku akan segera memberikannya kepada Xiao Hua, dan aku akan memintanya untuk bermain dengannya selama beberapa hari jika ia sudah cukup menikmatinya."
Pemuda itu menghentikannya, "Ini untukmu."
Cheng Yu sangat terkejut sampai-sampai kotak itu hampir jatuh ke tanah. Pemuda itu dengan cepat mengulurkan tangan untuk membantunya memeganginya. Cheng Yu memeluk kotak itu dengan kaget dan berkata, "Mengapa kau memberikannya padaku? Harganya sangat mahal."
Pemuda itu mengangkat matanya, "Bukankah kau bilang aku masih berutang payung padamu dan belum mengembalikannya kepadamu?"
Cheng Yu memeluk kotak kayu itu dan tidak sanggup menurunkannya, tetapi setelah keingian yang besar itu lewat, ia tetap mengembalikan kotak itu: "Payung itu tidak semahal ini, selain itu payungnya sebenarnya tidak dibeli dengan uangku, melainkan dibeli oleh Xiao Hua. Aku ...." ia memikirkan sebuah kata: "Aku tidak bisa menerima sesuatu secara cuma-cuma."
"Kau tidak boleh diberikan sesuatu secara cuma-cuma," pemuda itu mengulangi perlahan, bertanya dengan rasa ingin tahu, "Lalu mengapa tidak apa-apa bagiku untuk membelikannya untuk Hua Fei Wu?"
Cheng Yu segera berkata, "Karena Xiao Hua memiliki kontribusinya, Xiao Hua akan menyanyikan sebuah lagu kecil untukmu."
Pemuda itu mengangkat matanya dan berkata sembari tersenyum geli, "Kau juga bisa menyanyikan sebuah lagu untukku."
Ia menyodorkan kotak kayu kepada pemuda itu, wajahnya penuh penyesalan, "Tetapi aku tidak tahu bagaimana cara menyanyikan sebuah lagu."
Pemuda itu mengangkat kipas lipatnya dan mendorong kotak kayu itu kembali dalam pelukannya, "Terus, siapa yang memberimu hadiah, yang bisa kau terima?"
"Dari para orang yang lebih tua, kurasa," ia menghitung dengan jari-jarinya, "dan dari sepupu dan sepupu-sepupuku, aku seharusnya bisa menerimanya."
Pemuda itu berpikir sejenak, "Kau masih muda, jadi aku seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi kakak lelakimu. Karena aku adalah kakak lelakimu, ini adalah hadiah dari seorang kakak lelaki, dan hadiah dari orang yang lebih tua tidak boleh ditolak. Jadi begitu saja."
Cheng Yu memikirkan kata-kata pemuda itu berulang kali dan berkata dengan sedih, "Tetapi kau bukan kakak lelakiku."
Pemuda itu menyipitkan matanya sedikit, "Kalau begitu mulai hari ini dan seterusnya, aku adalah kakak lelakimu."
"Bisakah ...."
Pemuda itu tersenyum, dan senyumnya mengandung sedikit kesejukan: "Jika aku mengatakan aku adalah kakakmu, aku adalah kakakmu. Kakak yang seperti ini, apa kau masih tidak senang?"
Cheng Yu disesatkan olehnya dan tidak menyadari bahwa akar masalahnya bukanlah apakah ia senang memiliki saudara laki-laki atau tidak. Akar masalahnya adalah bahwa menurut etiket dunia ini, tidak ada orang yang akan menganggap seseorang sebagai saudaranya, kemudian siapa saja akan benar-benar menjadi saudara mereka. Di dunia yang fana ini, bahkan orang yang paling kasar dan sembrono sekali pun harus menyembelih kepala babi dan membakar dupa serta berdoa kepada Langit untuk mengaku sebagai saudara yang benar. Tetapi pemuda itu tampaknya tidak siap untuk berunding dengannya tentang masalah ini, dan menatapnya dengan mata yang berat, yang membuatnya merasa sangat tertekan.
Ia harus menyerah dan berkata, "Baiklah, kalau begitu anggap saja kau adalah kakakku." Setelah dipikir-pikir, meskipun leluhur keluarga Cheng mungkin tidak senang dengan pengakuannya yang santai, tetapi pemuda itu sangat tampan, apa yang bisa dikeluhkan oleh leluhur meskipun mereka adalah leluhur? Setelah memikirkan hal ini untuk para leluhur, ia segera menerima pertemuan aneh ini dan bertanya kepada pemuda itu, "Jadi, kakakku, siapa namamu?"
"Aku anak ketiga dari tiga bersaudara di rumah, dan orang-orang yang mengenalku dengan baik memanggilku Lian San."
"Oh, Kakak Lian San." Ia berpikir sejenak dan berkata, "Kalau begitu aku akan memanggilmu Kakak Lian San, dan kau memanggilku Ah Yu. Mulai dari sekarang, kau akan menjadi kakakku." Ia berbicara dengan gaya dewasa, "Kalau begitu sudah selesai."
Pemuda itu mengangguk, seolah-olah setuju dengan kesimpulannya, dan menanyainya lagi, "Ah Yu dari keluarga mana?"
Ah Yu dari keluarga mana, Ah Yu dari keluarga Cheng, tetapi hanya ada satu-satunya keluarga di dunia ini yang bermarga Cheng yaitu keluarga Kaisar Cheng. Zhu Jin juga memberitahukannya sebelumnya bahwa, tidak masalah seberapa banyak ia mengacau di luar sana, selama ia bermain-main dengan nama Tuan Muda Yu. Ia tidak boleh membiarkan orang mengetahui bahwa marganya adalah Cheng, dan membuat Ibu Suri dan Kaisar mengetahui bahwa ia bertingkah seliar ini di luaran sana. Ia akan dikurung di Menara Sepuluh Bunga mulai dari sekarang hingga hari ia menikah.
Ia bergidik memikirkan hal itu, dan setelah beberapa saat merasa malu, ia pun bergumam, "Tidak ada Ah Yu dari keluarga mana pun, hanya Ah Yu."
Pemuda itu berhenti bertanya, tidak terlalu peduli dengan dari keluarga manakah Ah Yu berasal. Atau apa marganya, ia benar-benar tidak peduli.
Namun Cheng Yu tidak punya banyak waktu luang untuk memikirkan hal ini saat ini. Ia dengan ragu-ragu melihat ke arah pemuda itu, "Karena kau adalah saudaraku sekarang, ada sesuatu yang kurasa tetap perlu kuberitahukan padamu." Ia menatap pemuda itu dengan berat seolah-olah ia berusaha keras untuk mengambil keputusan, dan menghela napas pelan, "Sebenarnya, adalah sebuah kerugian besar untuk mengakuiku sebagai adik perempuanmu."
Pemuda itu sangat berminat, "Aku ingin mendengar lebih banyak tentang hal itu."
Ia tidak sanggup menatap pemuda itu: "Aku sangat jago dalam menyebabkan masalah. Jika kau menjadi saudaraku, di masa depan masalah yang kutimbulkan akan menjadi urusanmu. Dulu, masalah yang kutimbulkan adalah urusan Zhu Jin, tetapi di masa depan ... ah."
Pemuda itu masih sangat tertarik, "Masalah seperti apa yang bisa kau timbulkan?"
Cheng Yu kemudian memberinya tatapan simpatik lagi, "Kau ... kau akan tahu nanti." Ia menggelengkan kepalanya sambil membawa kotak kayu itu ke luar, "Tetapi kaulah yang ingin menjadi saudaraku, jadi tidak ada yang bisa dilakukan."
***
Lian Song berdiri di bawah bayang-bayang toko kuno ini dan memerhatikan punggung Cheng Yu yang menjauh.
Diselimuti oleh jubah brokat cyan itu, memang tampak seperti punggung seorang pemuda, tetapi punggungnya ramping dan langsing, dengan nuansa dan pembawaan seorang wanita. Ia tidak tahu mengapa dunia tidak bisa melihat gadis di balik jubah itu. Namun Yang Mulia Ketiga juga tidak peduli dengan hal itu.
Dalam kehidupannya yang panjang sebagai makhluk abadi, ia telah melihat banyak wanita yang datang dan pergi dari sisinya, dengan berbagai macam kecantikan, kecantikan yang seperti api dan kecantikan yang seperti es. Namun, semua wanita cantik yang datang dan pergi dari sisinya ini sebenarnya sama sekali tidak ada bedanya bagi dirinya. Satu orang di antara puluhan ribu orang, dan puluhan ribu orang adalah satu orang.
Wanita, itu saja.
Namun, ia tidak pernah memiliki saudara perempuan.
Yang Mulia Ketiga sendiri sedikit terkejut akan reaksinya hari ini. Mengapa ia menawarkan diri untuk menjadi kakak lelakinya hanya demi membuat gadis kecil itu menerima peri gading berukir. Sebenarnya, ia tidak pernah menjadi orang sespontan ini di masa lalu.
Penjaga toko tua, yang sudah berpura-pura tertidur, akhirnya membuka matanya dan berkata kepadanya sambil tersenyum, "Gadis muda itu benar-benar cerdas, memilih karya Tuan Muda Ketiga yang paling dibangakan dalam sekejap. Aku ingat bahwa ukiran gading kecil itu telah membutuhkan banyak upaya dari Tuan Muda Ketiga."
Tangan kanannya bertumpu pada tempat di mana ukiran gading itu diletakkan, dan ia pun mengetuk-ngetukkan kipasnya di atas meja di tangannya, berpikir dalam hati, Oh, mungkin karena itu.
***
A/N: Insting bawaan playboy adalah tanpa disadari menggoda wanita cantik dalam tutur kata dan sikap mereka.




