Consort of A Thousand Faces
Chapter 325 : Pertemuan Terakhir
Ketika Guru Agung Kong mendengar tanggapan Su Xi-er, ia pun lega.
"Bagus, kalau begitu, kau harus ke dapur untuk makan." Setelah itu,
ia meninggalkan tempat tersebut.
Su Xi-er berjalan keluar dari tempat penyimpanan buku setelah meletakkan
lima buku terakhir di rak atas. Hanya ada beberapa ruangan di dalam
Perpustakaan Kekaisaran; aula utama, tempat penyimpanan buku, Paviliun
Kaligrafi, dan Paviliun Pengajaran, sekaligus dapur-dapur dan kamar mandi, dan
juga beberapa ruangan pribadi di halaman belakang.
Perpustakaan Kekaisaran hanya memiliki lima pekerja, termasuk kasim dan
asisten pria. Itulah yang terjadi, hanya ada satu meja untuk dua pria dan tiga
wanita, semuanya duduk berhadapan.
Dari semua orang yang ada di sana, Su Xi-er hanya mengenali Tan Ge dan
kasim yang membawanya kemari.
Tepat setelah ia masuk, ia mendengar suara tawa seorang wanita—Chao Mu.
Saat Chao Mu melihat Su Xi-er, matanya langsung berbinar. "Su Xi-er,
duduk di sini. Aku sudah mendengar dari yang lainnya kalau kau cantik, tetapi
melihatmu secara langsung membuatku berpikir kalau kau adalah seorang dewi yang
turun dari kahyangan."
Si asisten pria yang duduk di seberangnya pun tertawa. "Jadi,
inilah Court Lady Su yang baru saja masuk ke Perpustakaan
Kekaisaran. Namaku adalah Shu Xian, orang di sebelahku adalah juru masak, dan
setelah itu ada Xiao Yuan Zi."
Xiao Yuan Zi adalah kasim yang membawa Su Xi-er kemari, dan tengah
menyusun meja dengan mangkuk dan sumpit.
Ada beberapa orang di dalam Perpustakaan Kekaisaran, tetapi semua orang
tersenyum bahagia; hanya senyuman Tan Ge yang samar.
Su Xi-er mengangguk pada semua orang sebelum mengambil semangkuk nasi
dari juru masak dan duduk di sebelah Chao Mu.
Chao Mu menatap Tan Ge di sebelah kirinya dan Su Xi-er di sebelah
kanannya, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Hebat, ada dua wanita cantik
di sisiku!"
Shu Xian tersenyum lembut. "Chao Mu belum pernah tertawa sebahagia
ini sebelumnya."
Chao Mu langsung mengambil sumpitnya dan mengetuk kepala Shu Xian.
"Kau mau mati? Aku setahun lebih tua darimu, tetapi kau berani memanggil
namaku secara langsung!"
Shu Xian mengangkat bahu. "Peringkat di Perpustakaan Kekaisaran
tergantung pada siapa yang datang kemari lebih dulu. Aku di sini sebelum
dirimu, jadi kau yang seharusnya tidak boleh memanggil namaku secara
langsung."
Oleh karenanya, keduanya pun mulai adu
mulut; meninggalkan Su Xi-er menonton dan tersenyum tanpa mengucapkan sepatah
kata pun. Hanya setelah si juru masak duduk, barulah mereka berhenti.
Tan Ge terus makan dengan kepala tertunduk, hanya mendongak dan
tersenyum saat Chao Mu menyenggolnya.
"Aneh. Tampaknya hanya aku saja yang suka berbicara. Tan Ge, Su
Xi-er, bukankah itu membosankan, hanya tersenyum dan tidak mengatakan
apa-apa?"
Su Xi-er menjawab, "Setelah tinggal di Istana Samping untuk waktu
yang sangat lama, aku terbiasa untuk tetap diam."
Tan Ge menatap Su Xi-er. Tidak mudah untuk hidup di istana. Satu
kecerobohan akan membuat kehilangan nyawamu.
Chao Mu cemberut. "Kalian tidak perlu takut di Perpustakaan
Kekaisaran. Guru Agung Kong paling-paling hanya akan menyuruh kalian menulis
kalimat. Sementara untuk diriku sendiri, itu adalah hukuman yang paling
kubenci, tetapi Shu Xian tidak keberatan karena ia menulis dengan baik. Aku
hanya memintanya menuliskan kalimat-kalimat itu untukku setiap saat."
Sudut mulut Su Xi-er terangkat dan ia bergurau, "Apa kau tidak
takut kalau aku akan memberitahukan Guru Agung Kong?"
"Jangan!" Chao Mu tampak ngeri. "Kalau ia mengetahuinya,
ia akan menghukumku dan membuatku menulis kalimat lagi!"
Su Xi-er menggelengkan kepalanya sambil tersenyum samar. "Aku hanya
sedang menakut-nakutimu."
Segera setelah ia selesai bicara, Guru Agung Kong masuk ke dalam ruangan
dan menginstruksikan Su Xi-er, "Kau harus mengeluarkan semua buku-buku
lama dari tiga ruang penyimpanan buku dan menjemur mereka di bawah matahari.
Kita harus cepat-cepat melakukannya sebelum musim dingin tiba."
Su Xi-er mengangguk dan makan lebih cepat, tetapi Chao Mu mulai
menggerutu, "Guru Agung Kong, ada begitu banyak buku; Su Xi-er tidak akan
bisa mengerjakan semuanya sendirian."
"Kau bisa pergi dan membantu Su Xi-er setelah kau selesai menyapu
jalan." Guru Agung Kong berlalu setelah ia selesai bicara.
Chao Mu menggerutu tidak senang. "Semua pangeran kekaisaran sudah
meninggalkan istana, sehingga Guru Agung Kong hanya mengajari Yang Mulia
sekarang. Ia bisa bersantai setelah mengajar selama enam jam. Benar-benar
kehidupan yang tanpa beban."
Tan Ge menjawab dengan lembut, "Guru Agung Kong juga ada masanya
ketika ia sibuk dengan urusan penting. Setiap kali ada sebuah festival, Menteri
Ritus harus mendiskusikan perencanaan dengan Guru Agung Kong untuk menentukan
bagaimana perayaannya harus dijalankan, begitupula bagaimana untuk
mendekorasinya. Masalah-masalah ini yang membutuhkan perhatiannya."
Chao Mu mengangguk berulang-ulang. "Dulunya kau adalah putri sulung
dari sebuah kelaurga sastrawan, sehingga kau memahami hal-hal ini. Kau harus
memperingatkanku jika aku membuat kesalahan di masa depan."
Tan Ge tertegun sejenak, tetapi kemudian mengangguk menyetujuinya.
Su Xi-er menyadari perubahan dalam ekspresinya. Berasal dari
keluarga sastrawan adalah keuntungan terbesar Tan Ge, tetapi tampaknya, ia
lebih memilih untuk tidak membicarakannya.
Setelah itu, Chao Mu terus mengoceh dengan bahagianya sementara semua
orang mendengarkan sembari tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.
Aku rasa, seseorang hanya bisa bahagia di istana apabila mereka memiliki
kepribadian seperti ini. Tan Ge pun hanya bisa meratap
dalam hati.
Di saat Su Xi-er selesai makan, semua orang juga hampir selesai.
Suara nyaring Chao Mu dapat terdengar. "Semuanya, jangan bergerak,
ini giliranku untuk mencuci mangkuk hari ini!" Setelah itu, dengan gesit
ia membereskan semuanya.
Su Xi-er tersenyum dan bertanya, "Kapan giliranku untuk mencuci
mangkuk?"
"Kau tidak usah karena kau adalah seorang court lady.
Ini bukanlah pekerjaan seorang pejabat wanita." Chao Mu menggelengkan
kepala dan menolaknya.
Shu Xian tidak senang. "Aku adalah asisten pria. Meskipun aku
berpangkat rendah, aku masih berbeda dari pelayan biasanya. Kenapa aku harus
mencuci mangkuk? Kenapa kau masih menyuruhku mencuci mangkuk?"
Chao Mu menggerutu jengkel. "Karena kau adalah seorang pria!"
Suaranya menggema dan itu tanpa sengaja menusuk ke dalam hati Xiao Yuan Zi.
Ketika Chao Mu menyadari apa yang telah diucapkannya, ia merasa malu dan
berbicara lebih pelan. "Xiao Yuan Zi, kau bahkan jauh lebih hebat dari
seorang pria dalam hatiku! Kau jauh lebih baik dari Shu Xian!"
"Tidak apa-apa, aku tidak memasukkan hal semacam itu ke dalam hati.
Kau tidak perlu cemas."
Su Xi-er mendengarkan percakapan mereka dan setelahnya meninggalkan
dapur. Perpustakaan Kekaisaran adalah sebuah tempat yang menyenangkan.
Setidaknya, tak ada yang berencana jahat terhadap rekan sejawat mereka; pantas
saja Pei Qian Hao ingin mengirimkanku ke sini.
Ketika ia memikirkan tentang Pei Qian Hao, ia merasakan dadanya
sesak. Barang-barangku masih ada di Istana Samping!
Akan tetapi, tepat saat Su Xi-er berjalan masuk ke halaman, ia melihat
Dayang Senior Liu masuk ke Perpustakaan Kekaisaran membawa sebuah buntalan
kain. Dayang Senior Liu pasti membawakan buntalan pakaianku!
Ketika Dayang Senior Liu melihat Su Xi-er, ia tersenyum murah hati.
"Kau adalah seorang pejabat wanita sekarang, sehingga semua
barang-barangmu sudah dikemas dengan rapi di dalam sini oleh Ruo Yuan. Semua
botol-botol kecil berwarna cokelat dikemas di
dalam sini juga."
"Terima kasih banyak, Dayang Senior Liu." Su Xi-er menerima
buntalan itu. Ekspresinya tidak berubah meskipun mengetahui bahwa Dayang Senior
Liu telah melihat barang-barang di dalam buntalan tersebut.
Dayang Senior Liu mengetahui bahwa beberapa barang di dalam buntalan itu
tidak mungkin bisa didapatkan oleh seorang pelayan, dan menyimpulkan bahwa
mereka pastinya diberikan oleh Pangeran Hao. Tetapi, apakah Su Xi-er
masih mengingat janji lama kami?
Oleh karena itulah, Dayang Senior Liu melangkah mendekat pada Su Xi-er
dan mengecilkan suaranya. "Kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan
membantu Yang Mulia."
"Jangan cemas, aku belum melupakannya. Dikatakan begitu, aku juga
tidak berpikir kalau Pangeran Hao adalah seseorang yang akan mencoba untuk
merebut kekuasaan. Ia tampak seperti orang yang jujur."
Dayang Senior Liu menghela napas. "Sulit untuk mengetahui apa yang
sedang dipikirkan oleh Pangeran Hao, dan tidak ada yang bisa yakin sampai
akhir. Aku hanya bisa berharap kalau kau akan mengingat janjimu meski jika kau
menjadi teman tidur Pangeran Hao. Kekuasaan Kekaisaran tidak boleh berpindah
tangan, kalau tidak, aku akan mengecewakan mendiang majikanku."
"Dayang Senior Liu, mohon jangan cemas. Aku pasti akan menepati
janjiku." Su Xi-er tersenyum untuk menenangkannya.
"Aku pergi dulu. Ada beberapa pengawal dari Istana Kedamaian Penuh
Kasih yang bersembunyi di dekat Istana Samping pagi ini, jadi akan sulit bagiku
untuk datang di masa yang akan datang." Dayang Senior Liu memberitahukan
sebelum ia memutar tumitnya dan pergi.
Su Xi-er memerhatikan sosok Dayang Senior Liu yang menjauh selagi ia
pergi, tidak mengetahui bahwa itu akan menjadi terakhir kalinya ia melihat
Dayang Senior Liu.

0 comments:
Posting Komentar