Selasa, 28 April 2026

CTF - Chapter 325

Consort of A Thousand Faces

Chapter 325 : Pertemuan Terakhir


Ketika Guru Agung Kong mendengar tanggapan Su Xi-er, ia pun lega. "Bagus, kalau begitu, kau harus ke dapur untuk makan." Setelah itu, ia meninggalkan tempat tersebut.

Su Xi-er berjalan keluar dari tempat penyimpanan buku setelah meletakkan lima buku terakhir di rak atas. Hanya ada beberapa ruangan di dalam Perpustakaan Kekaisaran; aula utama, tempat penyimpanan buku, Paviliun Kaligrafi, dan Paviliun Pengajaran, sekaligus dapur-dapur dan kamar mandi, dan juga beberapa ruangan pribadi di halaman belakang.

Perpustakaan Kekaisaran hanya memiliki lima pekerja, termasuk kasim dan asisten pria. Itulah yang terjadi, hanya ada satu meja untuk dua pria dan tiga wanita, semuanya duduk berhadapan.

Dari semua orang yang ada di sana, Su Xi-er hanya mengenali Tan Ge dan kasim yang membawanya kemari.

Tepat setelah ia masuk, ia mendengar suara tawa seorang wanita—Chao Mu.

Saat Chao Mu melihat Su Xi-er, matanya langsung berbinar. "Su Xi-er, duduk di sini. Aku sudah mendengar dari yang lainnya kalau kau cantik, tetapi melihatmu secara langsung membuatku berpikir kalau kau adalah seorang dewi yang turun dari kahyangan."

Si asisten pria yang duduk di seberangnya pun tertawa. "Jadi, inilah Court Lady Su yang baru saja masuk ke Perpustakaan Kekaisaran. Namaku adalah Shu Xian, orang di sebelahku adalah juru masak, dan setelah itu ada Xiao Yuan Zi."

Xiao Yuan Zi adalah kasim yang membawa Su Xi-er kemari, dan tengah menyusun meja dengan mangkuk dan sumpit.

Ada beberapa orang di dalam Perpustakaan Kekaisaran, tetapi semua orang tersenyum bahagia; hanya senyuman Tan Ge yang samar.

Su Xi-er mengangguk pada semua orang sebelum mengambil semangkuk nasi dari juru masak dan duduk di sebelah Chao Mu.

Chao Mu menatap Tan Ge di sebelah kirinya dan Su Xi-er di sebelah kanannya, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Hebat, ada dua wanita cantik di sisiku!"

Shu Xian tersenyum lembut. "Chao Mu belum pernah tertawa sebahagia ini sebelumnya."

Chao Mu langsung mengambil sumpitnya dan mengetuk kepala Shu Xian. "Kau mau mati? Aku setahun lebih tua darimu, tetapi kau berani memanggil namaku secara langsung!"

Shu Xian mengangkat bahu. "Peringkat di Perpustakaan Kekaisaran tergantung pada siapa yang datang kemari lebih dulu. Aku di sini sebelum dirimu, jadi kau yang seharusnya tidak boleh memanggil namaku secara langsung."

Oleh karenanya, keduanya pun mulai adu mulut; meninggalkan Su Xi-er menonton dan tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya setelah si juru masak duduk, barulah mereka berhenti.

Tan Ge terus makan dengan kepala tertunduk, hanya mendongak dan tersenyum saat Chao Mu menyenggolnya.

"Aneh. Tampaknya hanya aku saja yang suka berbicara. Tan Ge, Su Xi-er, bukankah itu membosankan, hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa?"

Su Xi-er menjawab, "Setelah tinggal di Istana Samping untuk waktu yang sangat lama, aku terbiasa untuk tetap diam."

Tan Ge menatap Su Xi-er. Tidak mudah untuk hidup di istana. Satu kecerobohan akan membuat kehilangan nyawamu.

Chao Mu cemberut. "Kalian tidak perlu takut di Perpustakaan Kekaisaran. Guru Agung Kong paling-paling hanya akan menyuruh kalian menulis kalimat. Sementara untuk diriku sendiri, itu adalah hukuman yang paling kubenci, tetapi Shu Xian tidak keberatan karena ia menulis dengan baik. Aku hanya memintanya menuliskan kalimat-kalimat itu untukku setiap saat."

Sudut mulut Su Xi-er terangkat dan ia bergurau, "Apa kau tidak takut kalau aku akan memberitahukan Guru Agung Kong?"

"Jangan!" Chao Mu tampak ngeri. "Kalau ia mengetahuinya, ia akan menghukumku dan membuatku menulis kalimat lagi!"

Su Xi-er menggelengkan kepalanya sambil tersenyum samar. "Aku hanya sedang menakut-nakutimu."

Segera setelah ia selesai bicara, Guru Agung Kong masuk ke dalam ruangan dan menginstruksikan Su Xi-er, "Kau harus mengeluarkan semua buku-buku lama dari tiga ruang penyimpanan buku dan menjemur mereka di bawah matahari. Kita harus cepat-cepat melakukannya sebelum musim dingin tiba."

Su Xi-er mengangguk dan makan lebih cepat, tetapi Chao Mu mulai menggerutu, "Guru Agung Kong, ada begitu banyak buku; Su Xi-er tidak akan bisa mengerjakan semuanya sendirian."

"Kau bisa pergi dan membantu Su Xi-er setelah kau selesai menyapu jalan." Guru Agung Kong berlalu setelah ia selesai bicara.

Chao Mu menggerutu tidak senang. "Semua pangeran kekaisaran sudah meninggalkan istana, sehingga Guru Agung Kong hanya mengajari Yang Mulia sekarang. Ia bisa bersantai setelah mengajar selama enam jam. Benar-benar kehidupan yang tanpa beban."

Tan Ge menjawab dengan lembut, "Guru Agung Kong juga ada masanya ketika ia sibuk dengan urusan penting. Setiap kali ada sebuah festival, Menteri Ritus harus mendiskusikan perencanaan dengan Guru Agung Kong untuk menentukan bagaimana perayaannya harus dijalankan, begitupula bagaimana untuk mendekorasinya. Masalah-masalah ini yang membutuhkan perhatiannya."

Chao Mu mengangguk berulang-ulang. "Dulunya kau adalah putri sulung dari sebuah kelaurga sastrawan, sehingga kau memahami hal-hal ini. Kau harus memperingatkanku jika aku membuat kesalahan di masa depan."

Tan Ge tertegun sejenak, tetapi kemudian mengangguk menyetujuinya.

Su Xi-er menyadari perubahan dalam ekspresinya. Berasal dari keluarga sastrawan adalah keuntungan terbesar Tan Ge, tetapi tampaknya, ia lebih memilih untuk tidak membicarakannya. 

Setelah itu, Chao Mu terus mengoceh dengan bahagianya sementara semua orang mendengarkan sembari tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.

Aku rasa, seseorang hanya bisa bahagia di istana apabila mereka memiliki kepribadian seperti ini. Tan Ge pun hanya bisa meratap dalam hati.

Di saat Su Xi-er selesai makan, semua orang juga hampir selesai.

Suara nyaring Chao Mu dapat terdengar. "Semuanya, jangan bergerak, ini giliranku untuk mencuci mangkuk hari ini!" Setelah itu, dengan gesit ia membereskan semuanya.

Su Xi-er tersenyum dan bertanya, "Kapan giliranku untuk mencuci mangkuk?"

"Kau tidak usah karena kau adalah seorang court lady. Ini bukanlah pekerjaan seorang pejabat wanita." Chao Mu menggelengkan kepala dan menolaknya.

Shu Xian tidak senang. "Aku adalah asisten pria. Meskipun aku berpangkat rendah, aku masih berbeda dari pelayan biasanya. Kenapa aku harus mencuci mangkuk? Kenapa kau masih menyuruhku mencuci mangkuk?"

Chao Mu menggerutu jengkel. "Karena kau adalah seorang pria!" Suaranya menggema dan itu tanpa sengaja menusuk ke dalam hati Xiao Yuan Zi.

Ketika Chao Mu menyadari apa yang telah diucapkannya, ia merasa malu dan berbicara lebih pelan. "Xiao Yuan Zi, kau bahkan jauh lebih hebat dari seorang pria dalam hatiku! Kau jauh lebih baik dari Shu Xian!"

"Tidak apa-apa, aku tidak memasukkan hal semacam itu ke dalam hati. Kau tidak perlu cemas."

Su Xi-er mendengarkan percakapan mereka dan setelahnya meninggalkan dapur. Perpustakaan Kekaisaran adalah sebuah tempat yang menyenangkan. Setidaknya, tak ada yang berencana jahat terhadap rekan sejawat mereka; pantas saja Pei Qian Hao ingin mengirimkanku ke sini.

Ketika ia memikirkan tentang Pei Qian Hao, ia merasakan dadanya sesak. Barang-barangku masih ada di Istana Samping!

Akan tetapi, tepat saat Su Xi-er berjalan masuk ke halaman, ia melihat Dayang Senior Liu masuk ke Perpustakaan Kekaisaran membawa sebuah buntalan kain. Dayang Senior Liu pasti membawakan buntalan pakaianku!

Ketika Dayang Senior Liu melihat Su Xi-er, ia tersenyum murah hati. "Kau adalah seorang pejabat wanita sekarang, sehingga semua barang-barangmu sudah dikemas dengan rapi di dalam sini oleh Ruo Yuan. Semua botol-botol kecil berwarna cokelat dikemas di dalam sini juga."

"Terima kasih banyak, Dayang Senior Liu." Su Xi-er menerima buntalan itu. Ekspresinya tidak berubah meskipun mengetahui bahwa Dayang Senior Liu telah melihat barang-barang di dalam buntalan tersebut.

Dayang Senior Liu mengetahui bahwa beberapa barang di dalam buntalan itu tidak mungkin bisa didapatkan oleh seorang pelayan, dan menyimpulkan bahwa mereka pastinya diberikan oleh Pangeran Hao. Tetapi, apakah Su Xi-er masih mengingat janji lama kami?

Oleh karena itulah, Dayang Senior Liu melangkah mendekat pada Su Xi-er dan mengecilkan suaranya. "Kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan membantu Yang Mulia."

"Jangan cemas, aku belum melupakannya. Dikatakan begitu, aku juga tidak berpikir kalau Pangeran Hao adalah seseorang yang akan mencoba untuk merebut kekuasaan. Ia tampak seperti orang yang jujur."

Dayang Senior Liu menghela napas. "Sulit untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Pangeran Hao, dan tidak ada yang bisa yakin sampai akhir. Aku hanya bisa berharap kalau kau akan mengingat janjimu meski jika kau menjadi teman tidur Pangeran Hao. Kekuasaan Kekaisaran tidak boleh berpindah tangan, kalau tidak, aku akan mengecewakan mendiang majikanku."

"Dayang Senior Liu, mohon jangan cemas. Aku pasti akan menepati janjiku." Su Xi-er tersenyum untuk menenangkannya.

"Aku pergi dulu. Ada beberapa pengawal dari Istana Kedamaian Penuh Kasih yang bersembunyi di dekat Istana Samping pagi ini, jadi akan sulit bagiku untuk datang di masa yang akan datang." Dayang Senior Liu memberitahukan sebelum ia memutar tumitnya dan pergi.

Su Xi-er memerhatikan sosok Dayang Senior Liu yang menjauh selagi ia pergi, tidak mengetahui bahwa itu akan menjadi terakhir kalinya ia melihat Dayang Senior Liu. 

0 comments:

Posting Komentar