Selasa, 28 April 2026

CTF - Chapter 334

Consort of A Thousand Faces

Chapter 334 : Tertimpa Musibah


Tidak mampu mengabaikan keadaan linglung Tan Ge yang tidak biasa, Su Xi-er segera bicara ke topiknya. "Mengapa Commandery Prince Xie mencarimu setelah Istana Kecantikan dibubarkan? Kesepakatan macam apa yang dibuatnya denganmu?"

Tan Ge tertegun. Aku tidak berpikir kalau Su Xi-er akan menanyaiku dengan cara yang seblak-blakan ini. Tetapi, aku tidak bisa memberitahunya. "Aku tidak tahu kenapa ia datang mencariku, dan aku bahkan tidak tahu apa yang ia pikir dapat kuperbuat untuknya."

"Begitukah?" Nada bicara Su Xi-er meninggi, tatapan menyelidiknya perlahan-lahan surut dari matanya.

Tan Ge tertawa. "Aku tidak bisa memahami Commandery Prince Xie, maupun membuat kesepakatan dengannya. Apa kau tidak percaya ucapanku? Meski jika aku ingin membuat suatu kesepakatan, pastinya akan ada alasan yang cukup baginya untuk bekerja bersamaku. Menurutmu, apa yang tertinggal di Kediaman Tan, yang mampu memikat seorang bangsawan untuk menolongku?"

Su Xi-er tidak merespons itu. Apa yang dikatakan Tan Ge masuk akal. Namun, itu juga aneh baginya untuk mengikuti kami keluar istana kekaisaran. Apa yang bisa dilakukannya di luar istana?

Keduanya tidak bicara setelah itu, meninggalkan hanya derak roda kereta kuda di telinga mereka selama sisa perjalanan mereka menuju ke jalanan paling ramai di ibu kota.

Di saat kereta kuda berhenti, Situ Lin sudah berganti ke busana lain. Ia mengenakan seragam Perpustakaan Kekaisaran yang sama seperti Su Xi-er dan Tan Ge. Namun, busana itu mirip dengan gaun yang biasa dikenakan oleh wanita biasa. Apabila orang tidak melihat ujung dari lengan jubahnya dengan cermat, mereka tidak akan melihat kata-kata 'Busana Kekaisaran' pada mereka.

Tatapan penuh rasa ingin tahu Situ Lin menyapu ke kiri dan kanan sementara ia terus berjalan. Ketika ia menemukan sesuatu yang menarik, ia akan langsung memutuskan untuk membelinya, menyuruh si pengawal kekaisaran di sebelahnya yang membayarkannya.

Segera saja, ia sudah mengumpulkan sejumlah besar barang. Saat penjaja lain menyadari ini, mereka mengira bahwa ia adalah seorang tuan muda yang boros yang berasal dari keluarga bangsawan, dan mulai bersaing untuk menawarkan barang dagangan mereka, dengan harapan mendapatkan perhatiannya.

"Wow, lempar cincin!" Situ Lin menyerahkan benda di tangannya kepada pengawal kekaisaran dan berjalan menuju ke kios lemparan dering tersebut. Ia membeli beberapa lusin cincin lingkarnya dan mulai bermain dengan bersemangat, tetapi tidak punya keberuntungan untuk mengenai targetnya.

Si pedagang pun mencoba menyembunyikan senyumannya. "Tuan Muda, cobalah perhatikan baik-baik teknikmu, dan kau akan segera mengenai sebuah target."

Su Xi-er melihat ekspresi terkalahkan di wajah Situ Lin, sehingga ia maju dan mengambil beberapa cincin dari tangannya sebelum membidikkan mereka kepada objek yang terlihat paling indah di tanah.

Sebelum si pedagang bisa mengatakan apa-apa, Su Xi-er mengibaskan pergelangan tangannya, dan suara dari cincin yang melingkar di sekitar sasarannya pun dapat terdengar. Tepat sasaran!

Situ Lin bertepuk tangan penuh kegembiraan. "Kena! Cepat bawakan kemari!"

Si pedagang pun membungkuk dan dengan enggan mengambilkan sebuah vas porselen indah dengan desain bunga dari tanah. "Nona, kau benar-benar beruntung." Tuan muda itu hanya membeli beberapa lusin cincin, tetapi mereka sudah memenangkan hadiah paling mahal yang kumiliki. Selama bertahun-tahun aku mempunyai kios ini, belum pernah ada orang yang memenangkannya.

Mana mungkin aku tidak menghela napas ketika aku rugi hari ini karena satu vas itu!

"Lemparkan lagi, aku akan memberikanmu semua cincinnya!" Menyaksikan teknik Su Xi-er, Situ Lin memberikan semua cincinnya pada Su Xi-er.

Su Xi-er melihat keberatan di mata si pedagang, sehingga ia memutuskan untuk mempermudahnya, dan hanya mengincar beberapa pernak-pernik berharga murah. Dikatakan begitu, ia akan mendapatkan apa pun yang dibidiknya, membuat mulut si pengawal kekaisaran berkedut. Bisakah kau berhenti melemparkan cincinnya? Aku tidak bisa memegangi benda-benda ini lagi!

Segera, pengawal itu membawakan beberapa lusin barang, dan kedua tangan Tan Ge juga penuh.

Situ Lin terus bersorak, tetapi si pedagang hanya ingin Su Xi-er pergi. Berhenti melemparkan cincinnya!

Bukannya mengambil lebih banyak cincin dari Situ Lin setelah ia selesai melemparkan cincin di tangannya, Su Xi-er berjalan ke arah si pedagang. "Ini, kau boleh mengambilnya lagi, aku rasa, kami akan berhenti di sini, aku tidak bisa membuatmu rugi."

Si pedagang tertegun dan hampir menangis. "Nona, kau sungguh adalah orang yang luar biasa!"

"Su Xi-er, aku tidak bisa memegangi ini lagi." Tan Ge menyuarakan, barang-barang di tangannya menumpuk tinggi.

Semua anak-anak yang lewat, melirik mereka dengan tatapan mendamba di mata mereka. Aku betul-betul menginginkan barang-barang itu.

Su Xi-er melihat ke arah anak-anak yang lewat dan mengusulkan pada Situ Lin. "Kita punya terlalu banyak barang untuk dibawa. Bagaimana kalau Anda memilih barang kesukaan Anda, dan kita bisa memberikan sisanya pada anak-anak lainnya?"

Situ Lin tidak bersedia, tetapi jadi berhati lunak ketika ia melihat anak-anak yang lewat. Aku bisa memiliki apa pun yang kumau di istana, tetapi orang-orang ini hanya mengingikan mainan kecil.

Setelah pemikiran ini melintasi benaknya, dengan cepat Situ Lin memilih sebuah boneka kain kecil dan mulai mendistribusikan benda-benda itu pada anak-anak lainnya.

Semua anak-anak di jalanan pun berebut maju, dan segera saja, semua barang yang dibawa oleh si pengawal dan Tan Ge pun telah dibagikan semua.

Situ Lin menyentuh boneka kain di tangannya tanpa mengatakan apa-apa.

Su Xi-er berjalan ke sebelahnya. "Boneka kain yang kau pegang adalah seorang gadis."

Situ Lin tersedu dan berujar lirih. "Ibunda Permaisuri dulunya sering membuat boneka-boneka kain. Boneka kain perempuan buatannya adalah yang paling cantik."

Su Xi-er berhenti bicara saat ia melihat roman mukanya yang sayu, malah memilih untuk menepuk pundaknya.

Tak lama setelahnya, Situ Lin memasukkan boneka kain itu ke dalam lengan jubahnya dan meneriaki si pengawal. "Mari kita pergi melihat-lihat danau!"

Keempatnya berjalan menuju ke danau dan melihat bermacam-macam perahu yang mengapung di danau. Beberapa adalah perahu nelayan, dan beberapa adalah perahu pedagang, sementara lainnya adalah perahu bunga.

Sinar cahaya meledak dari mata Situ Lin. Ketika pemilik salah satu perahu yang sedang mencari pelanggan melihat tatapan cerahnya, ia segera mulai mengayuh perahunya ke sana. Situ Lin mengabaikan protes yang lainnya dan dengan cepat naik ke atas perahu.

Malam segera tiba, dan Su Xi-er mengingatkan Situ Lin bahwa mereka harus kembali ke istana setelah bermain seharian. Namun, karena ia sedang bersenang-senang, ia tidak memedulikannya.

Seiring dengan bulan yang mulai tampak, tangan Tan Ge terkepal erat di lengan bajunya.

Mendengarkan peringatan terus-terusan Su Xi-er untuk kembali, ia pun hanya bisa mengalah. "Aku mau makan manisan hawthorn Cina di sebelah sana. Belikan untukku, dan aku akan kembali setelah aku memakan mereka."

Su Xi-er menggelengkan kepalanya sebelum berjalan menuju ke sisi lain danau; ia tidak tahu bahwa ia sudah ditargetkan.

Tan Ge memerhatikan sementara ia maju ke depan dan mengingat apa yang diucapkan Xie Yun. Ia mulai merasa bertentangan. Aku tidak ingin melakukan apa pun terhadap Su Xi-er. Aku tidak bisa, tetapi ....

"Ada masalah apa? Aku sengaja membuatnya pergi. Ayo kita pergi, kau bisa bermain denganku!" Situ Lin menarik-narik lengan baju Tan Ge dan menyeretnya maju.

Tak lama setelahnya, bunyi ceburan keras dapat terdengar. Banyak warga sipil di sekitar danau yang mulai berteriak, "Seorang wanita jatuh ke dalam air; cepat selamatkan dia!"

Tan Ge terkejut dan dengan cepat berbalik; Situ Lin pun dalam keadaan yang serupa. Bagaimana bisa seseorang jatuh ke dalam air?

Warga sipil yang mengetahui bagaimana caranya berenang pun mulai melompat ke dalam air. Namun, wanita yang jatuh ke dalam air terus meronta hingga ia tenggelam ke dasar danau dan menghilang. Kerumunan warga sipil itu tidak bisa menemukannya, tak peduli seberapa keras mereka mencoba.

Tan Ge panik. "Seperti apa wanita yang jatuh ke dalam air itu?"

Wanita yang melihatnya pun menjawab, "Ia sepertinya berusia lima belas atau enam belas tahun, dan lumayan cantik. Bajunya ...."

Wanita itu tidak tahu bagaimana menggambarkannya, tetapi ketika ia melihat baju Tan Ge, ia menunjuk mereka dan berkata, "Mereka mirip dengan bajumu."

Satu kalimat itu membuat Tan Ge merasa seolah jantungnya tenggelam ke dalam jurang tak berdasar. Bagaimana mungkin! Aku belum melakukan apa-apa, jadi bagaimana mungkin terjadi sesuatu pada Su Xi-er? Mungkinkah itu karena Commandery Prince Xie sudah menyiapkan trik lain di balik lengan bajunya?

Sebelum aku meninggalkan Perpustakaan Kekaisaran, perintah yang diberikan Commandery Prince Xie kepadaku sudah seperti sebuah duri dalam hatiku. "Cari kesempatan yang tepat dan lakukan."

Ia juga memberikannya sekantong bubuk obat yang tak berwarna atau pun berbau, membuat Tan Ge tidak mengetahui, jenis bubuk obat macam apakah itu.

Tan Ge mengepalkan tinjunya dengan erat sebelum mengeluarkan kantong bubuk obat dari lengan bajunya dan melemparkannya ke dalam danau. Aku tidak mau menyakiti siapa-siapa, dan aku benar-benar tidak mau menyakiti Su Xi-er. Bukan aku yang mendorong Su Xi-er ke dalam air, sehingga hanya mungkin Commandery Prince Xie yang bergerak.

Tanpa diketahui orang lain, seorang pria berbaju hitam bersembunyi dekat sana. Setelah mengamati situasi tersebut, ia cepat-cepat melarikan diri. Su Xi-er sudah jatuh ke dalam air. Setelah berada di dalam sana sebegitu lama, ia pasti sudah mati.

"Tan Ge, ada masalah apa?" Situ Lin tidak mengerti ekspresi kesakitannya.

Tan Ge menatap Situ Lin. "Kemungkinan, Su Xi-er yang jatuh ke dalam air." 

0 comments:

Posting Komentar