Selasa, 28 April 2026

CTF - Chapter 327

Consort of A Thousand Faces

Chapter 327 : Wardrobe-don


(T/N : Ini adalah referensi yang berasal dari kabe-don, dimana 'kabe' berarti tembok dan 'don' merujuk pada suara yang dihasilkan ketika menabok si tembok. Itu sering digambarkan, seorang pria sedang memerangkap seorang gadis di tembok. Versi lainnya adalah 'yuka-don; dimana 'yuka' berarti lantai dan pria itu menahan si gadis di lantai, bukannya di tembok. Dalam kasus ini, itu adalah 'wardrobe' dan 'don' yang digabungkan. Nah, kalau di chapter ini, belakangnya, lemari pakaian, makanya judulnya : wardrobe-don.)

Pei Qian Hao menundukkan kepala agar matanya sejajar dengan mata Su Xi-er. "Apakah kau baru saja meminta Pangeran ini untuk pergi?"

Aku pasti akan menghukumnya jika ia berani bilang iya! Tampaknya, tidak ada yang mengendalikannya.

Su Xi-er menengadahkan kepalanya untuk menatapnya. "Pangeran Hao, Anda terlalu dekat. Luka hamba masih belum sembuh, dan mungkin akan koyak lagi ...." Ia sengaja menjeda.

Sesuai dugaan, Pei Qian Hao agak bergerak mundur, memberikan Su Xi-er sedikit ruang bernapas.

"Gulung lengan bajumu untuk Pangeran ini periksa lukamu."

Su Xi-er melakukan seperti yang disuruh. Baru saja membersihkan dirinya, tubuhnya saat ini diliputi dengan aroma feminin yang menyegarkan.

Keropeng yang baru masih tumbuh di atas luka yang sekarang diperban.

Pei Qian Hao mengangguk setuju. "Berhati-hatilah supaya menjauhi masalah sebelum lukamu pulih sepenuhnya."

"Hamba mengerti."

Walapun Pei Qian Hao tidak menekannya di lemari pakaian lagi, ia tidak berencana untuk melepaskan Su Xi-er dengan mudah. Ia mengangkat tangannya dan meletakkan mereka di kedua sisi kepala Su Xi-er, memenjarakannya di antara mereka.

Ia menundukkan kepalanya, membuat Su Xi-er mengira kalau ia sedang mencoba untuk menciumnya sewaktu ia mendekat. Namun, sebelum gadis itu bisa berpaling, Pei Qian Hao malah bergerak menuju ke lehernya. Ia lanjut menanamkan jejak ciuman menurun, hingga ia mengistirahatkan kepalanya di ceruk lehernya.

Satu tangan Pei Qian Hao menekan pintu lemari pakaian, sementara yang lainnya sedang memegangi pinggang Su Xi-er, mencegahnya melawan.

Gelombang ciuman yang berapi-api menyebabkan benak Su Xi-er jadi kosong selagi ia berdiri di sana, dan membiarkan Pei Qian Hao melakukan sesuka hatinya.

Akan tetapi, ini berlanjut sangat lama, hingga gerakan dadakan dari Su Xi-er cukup untuk secara tak sengaja menarik sabuk pinggang Pei Qian Hao. Aroma samar pria itu tiba-tiba saja menyerang hidung Su Xi-er, dan mau tak mau, ia melihat tubuh kencang dan otot perut yang diberikan kehidupan militer pada pria itu.

Merasakan bahaya yang meningkat, Su Xi-er mendorongnya menjauh.

Menyadari kalau jubahnya terbuka, Pei Qian Hao tertawa riang. "Su Xi-er, aku tidak tahu kalau kau sangat hebat dalam melepaskan baju orang."

"Hamba tidak bermaksud untuk melakukannya; itu adalah kecelakaan." Su Xi-er mencoba menjelaskan, tetapi ketika ia melihat tatapan menggoda di mata Pei Qian Hao, ia tidak tahu bagaimana meneruskannya.

"Pangeran ini sedang dalam suasana hati yang baik hari ini, tetapi masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh orang yang menciptakannya. Bantu Pangeran ini mengenakan jubahku dengan benar." Pei Qian Hao merentangkan tangannya, siap untuk dilayani oleh Su Xi-er.

Ujung telinga Su Xi-er merona merah selagi ia berjalan maju untuk membantu Pei Qian Hao merapikan pakaiannya.

Melihat jejak merah di telinganya, Pei Qian Hao merasa sangat senang. Tidak buruk, akhirnya ia tahu bagaimana caranya jadi malu.

Setelah baju Pei Qian Hao terpakai lagi, Su Xi-er langsung mundur. Pei Qian Hao yang sekarang ini sangatlah 'berbahaya', jadi aku tidak boleh dekat dengannya. Bagaimana kalau ia menahanku di pintu lemari pakaian lagi ....

"Su Xi-er apa lagi yang kau sembunyikan dariku selain tulisan tanganmu yang bagus?" Pei Qian Hao mengetuk-ngetuk meja pelan selagi ia duduk di bangku kayu.

Tentu saja aku tidak boleh mengungkapkan semua kartuku pada Pei Qian Hao.

Su Xi-er menjawab, "Pangeran Hao, hamba hanya tahu bagaimana caranya meniru, tetapi jika Anda sungguh berniat untuk mendapatkan sebuah jawaban, maka Anda bisa mengatakan bahwa hamba ini pandai belajar."

Rasa main-main melintas di mata Pei Qian Hao, dan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dengan mudah; jahit-menjahit, dan keempat seni—kecapi, catur, kaligrafi, dan melukis adalah beberapa contohnya. Di lain pihak, hal-hal seperti keterampilan medis, kecerdikan militer, dan kemampuan berpolitik tidak semudah itu."

Apa yang tidak diketahui Pei Qian Hao adalah bahwa kebetulan sekali Su Xi-er mampu melakukan semua hal itu. Jahit-menjahitnya tidak hebat, tetapi ia mengetahui dasarnya. Sementara untuk empat kesenian, keterampilan kaligrafinya termasuk yang terbaik, dan keterampilannya pada tiga hal lainnya hanya sedikit lebih buruk. Sementara untuk memimpin pasukan dan memerintah suatu kerajaan? Tidak perlu dikatakan lagi!

Su Xi-er tersenyum selagi ia bergurau. "Pangeran Hao, terlepas dari seberapa pintarnya hamba, aku masih tidak akan bisa memimpin pasukan dan memerintah suatu kerajaan. Hamba sangat terkesan dengan keterampilan Anda dalam aspek-aspek ini."

Kalimat terakhirnya tulus berasal dari dasar hatinya. Ia sudah menghargai bakat Pei Qian Hao ketika ia adalah Ning Ru Lan, dan apresiasi ini semakin bertumbuh setelah benar-benar bertemu dengannya.

"Seberapa terkesannya?" Pei Qian Hao mempertanyakan, terbukti sedikit tidak senang tentang Su Xi-er yang mengabaikannya hanya dengan mengucapkan kata 'terkesan'.

Su Xi-er merenunginya sesaat. Kadang kala, perlu untuk menjilat dengan cara yang berlebihan.

Karenanya, ia pun tersenyum cerah. "Hamba terkesan dari lubuk hatiku. Di seluruh dunia ini, Pangeran Hao berdiri di puncak, tanpa ada seorang pun yang melampaui Anda."

Kata-katanya sangat menyenangkan Pei Qian Hao, dan senyuman terbentuk di sudut bibirnya. "Su Xi-er, dari apa yang Pangeran ini lihat, bakat terbaikmu terletak pada kemampuanmu berbicara."

"Hamba tidak berani menerima sanjungan itu." Ia berbalik untuk melihat ke luar jendela dimana sinar bulan menerangi malam yang sunyi. Kapan Pei Qian Hao akan pergi?

Senyum Pei Qian Hao segera menghilang, kegembiraannya berubah jadi kesedihan. Mengapa ia masih melihat ke luar jendela saat aku berada di sini?

Segera saja, Pei Qian Hao bangkit berdiri dan bertanya dengan suara yang rendah. "Apakah sinar bulannya sangat menyenangkan untuk dipandang?"

Su Xi-er menatapnya sembari tersenyum kecil. "Pangeran Hao, hamba merasa sangat berterimakasih karena Anda meluangkan waktu dari jadwal sibuk Anda untuk mengunjungi hamba."

"Begitu, kalau begitu, kau sangat berterimakasih sampai-sampai kau memutuskan untuk berpaling dan mengagumi bulan?" Pei Qian Hao melanjutkan sementara ia menghampirinya, akhirnya berhenti di sebelahnya tanpa melakukan apa-apa.

"Pangeran Hao, haruskah hamba terus menatap Anda? Tidakkah Anda akan mengatakan bahwa aku terlalu menyukai kecantikan?" Kata 'kecantikan' tentunya merujuk pada wajah tampan Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao merasa kesal. Bagaimana bisa penampilan gagah seorang pria digambarkan dengan 'kecantikan'? Tidakkah ia tahu bagaimana caranya menggunakan istilah yang lain?

Menyadari ketidaksenangan Pei Qian Hao, Su Xi-er pun memuji, "Pangeran Hao, Anda adalah pria paling tampan dan dewasa yang pernah hamba temui."

Su Xi-er melihat mata Pei Qian Hao yang jadi rileks, satu tanda yang terlihat bahwa suasana hatinya membaik. Tiba-tiba saja, ia terkesan bahwa pria ini seperti seorang anak kecil yang berjuang untuk mendapatkan perhatiannya.

"Pangeran Hao, siapakah Xie Liu Li?" Tiba-tiba saja Su Xi-er teringat apa yang dibacanya dari buku yang ia jatuhkan sebelumnya di Perpustakaan Kekaisaran, dan mencoba untuk memancingnya.

"Adik perempuan kandung Commandery Prince Xie." Jawaban Pei Qian Hao singkat, memberi tanda bahwa ia tidak ingin membicarakan tentang Keluarga Xie.

Su Xi-er dapat merasakan keengganannya untuk membocorkan informasi lebih, tetapi masih mencoba untuk mendorongnya. "Pangeran Hao, apakah Anda dan Xie Liu Li sebelumnya bertunangan?"

Ia hanya melihat kalau alis Pei Qian Hao agak tertaut sebelum mereka kembali normal. "Darimana kau mendengar itu?"

"Ketika hamba sedang menjemur buku hari ini, aku menemukan sebuah buku lama yang berjudul 'Puisi Klasik'. Beberapa ujung halamannya terlipat, dan beberapa kata-kata yang digarisbawahi di halaman-halaman ini memberikan kesan bahwa Anda dan Xie Liu Li akan menikah. Bagian bawahnya bahkan terdapat nama Anda tertulis bersama dengan namanya." Su Xi-er menceritakan kembali secara perlahan, mengingat untuk mengamati ekspresi Pei Qian Hao dengan cermat.

Sesaat kemudian, tatapan Pei Qian Hao menjadi tak bisa diduga. "Buku itu seharusnya sudah lama dihancurkan. Kau memercayai omong kosong sembarangan yang dituliskan oleh orang lain?"

Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Hamba merasa itu aneh, itulah mengapa aku bertanya pada Anda."

"Di masa depan, jangan memercayai teori-teori tentang Pangeran ini. Kau hanya boleh memercayai Pangeran ini, apa kau mengerti?" Pei Qian Hao menepuk-nepuk kepalanya.

"Kalau memang itu kasusnya, maka pertunangan itu pastinya tidak pernah ada. Tetapi ... siapa yang menuliskan kata-kata di dalam 'Puisi Klasik' itu?" Su Xi-er langsung merasakan sentilan di dahinya, mendorongnya untuk mengangkat satu tangan dan menggusap-usapnya sementara ia menatap Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao mengulurkan tangan dan memegangi pinggangnya, tangan lainnya mengelus dahi Su Xi-er dengan lembut. "Bagaimana bisa Pangeran ini mengetahui siapa yang menuliskannya? Mustahil untuk menyelidikinya biarpun aku ingin melakukannya. Haruskah Xie Liu Li yang menuliskannya hanya karena namanya ada di sana?"

0 comments:

Posting Komentar