Selasa, 28 April 2026

CTF - Chapter 321

Consort of A Thousand Faces

Chapter 321 : Dayang dari Istana Samping yang Hebat Sekali


Guru Agung Kong berhenti membelai janggutnya, suaranya jadi serius. "Lanjutkan."

Su Xi-er menatap Tan Ge dan tersenyum samar. "Hamba biasa-biasa saja; bagaimana kalau kita membicarakan tentang Tan Ge? Saat kami masuk Perpustakaan Kekaisaran, sebelum aku sempat menyadari gaya berpakaiannya, aku sudah bisa mencium bau samar cendana darinya. Ketenangan yang halus menyertai aroma buku; para sastrawan menghargai ketenangan. Tetapi, jika seseorang akan menampilkan sebuah lagu, itu akan meningkatkan esensi dari membaca buku. Dikatakan demikian ... Tan Ge, kau berasal dari suatu keluarga sastrawan, apa aku benar?"

(T/N : paragraf ini, intinya adalah Su Xi-er menjelaskan bagaimana ia menebak latar belakang keluarga Tan Ge dari namanya. Penjelasan mengenai huruf-huruf dalam nama Tan Ge ada di akhir chapter sebelumnya.)

Tan Ge terkesan karena Su Xi-er mampu menentukan sebanyak itu, hanya dari mendengarkan namanya. Bagaimanapun juga, ada banyak orang dari rumah musik dan tari, yang juga memiliki huruf 'Ge' yang sama di dalam nama mereka.

Mata Tan Ge memperlihatkan kekaguman selagi ia mengangguk kecil. "Nona, kau sangat berbakat dengan kata-katamu; sayang sekali karena kau telah tersembunyi jauh di dalam Istana Samping."

Semua ini disadari oleh Guru Agung Kong. Mereka berdua memiliki kelebihan masing-masing. Su Xi-er pandai dengan kata-kata, teliti dengan proses pemikirannya, dan tiap kata yang diucapkannya tepat sasaran. Tan Ge sopan dan tulus; ia tidak terlihat meremehkan Su Xi-er karena statusnya sebagai seorang dayang istana dari Istana Samping. Aku dapat melihat kekaguman dalam mata Tan Ge adalah tulus.

Guru Agung Kong mengangguk, tetapi pada akhirnya, ia hanya bisa memilih satu court lady. Karena itu, ia memutuskan untuk memberikan tantangan lainnya untuk mereka. "Ikutlah denganku." Kakinya berbalik menuju ke Paviliun Kaligrafi, mendorong kedua wanita itu untuk ikut serta.

Bau tinta yang kuat memasuki hidung mereka sebelum mata mereka terbiasa dengan cahaya, menampilkan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan meja tulis. Masing-masing mejanya memiliki satu set kuas, tinta, kertas, dan batu tinta di atasnya, dan di dinding kedua sisinya, berbarislah rak-rak buku yang penuh dengan buku salinan, membuatnya mudah diakses orang.

(T/N: kuas, tinta, kertas dan batu tinta adalah empat benda standar yang digunakan untuk menulis dalam Cina kuno. Buku salinan : mengandung contoh-contoh catatan kaligrafi untuk disalin orang lain ketika berlatih kaligrafi.)

Guru Agung Kong menunjuk ke arah meja tulis. "Kalian punya waktu selama satu batang dupa yang terbakar. Giling tintanya sendiri dan masing-masing tulis di selembar kertas. Jika kalian tidak percaya diri dalam tulisan kalian, kalian boleh menggunakan buku salinan dari rak. Ketika waktunya habis, aku akan memeriksa mereka dan memutuskan siapa di antara kalian yang bisa masuk ke Perpustakaan Kekaisaran."

(T/N : waktu dari terbakarnya sebatang dupa, dapat bervariasi, tergantung faktor lainnya, seperti lingkungan, sehingga jangkanya bisa dari lima belas menit hingga satu jam, meski biasanya, diasumsikan kurang-lebih antara tiga puluh menit hingga satu jam.)

Su Xi-er dan Tan Ge mengangguk serentak sebelum masing-masing pergi ke meja tulis. Tan Ge sudah mempelajari kaligrafi sejak usia muda, sehingga ia mengetahui semua tentang goresan dan gaya-gayanya. Menemukan gayanya sendiri lewat mempelajari hasil kerja dari sastrawan terkenal lainnya, Tan Ge telah menemukan gaya menulisnya sendiri, dan tidak membutuhkan karya dari buku salinan. Dengan demikian, ia segera mulai menggiling batang tintanya.

Akan tetapi, Su Xi-er berbeda. Ia selalu hebat dalam kaligrafi di kehidupannya yang lalu, dan sanggup menyalin dengan sempurna, tulisan tangan dari sastrawan terkenal lainnya. Itu sampai pada titik dimana, bahkan Guru Agung Liu saja memujinya sebelum ia meninggal dunia. Masalahnya adalah, ia berkenan untuk meniru orang lain, meski jika ia punya bakat untuk itu. Menggabungkan keanggunan wanita dan ketegasan pria, barangkali tidak dapat dihindari, bahwa kekuatan dan tenaga dari kuasnya telah melahirkan gaya uniknya sendiri, yang karenanya dikenal di dunia sastra Nan Zhao sebagai Aksara Lan.

Tentu saja, Yun Ruo Feng telah melarang penggunaan Aksara Lan setelah kematian Ning Ru Lan, bahkan sampai membakar semua buku salinan yang digunakan untuk mengajarinya. Namun, Aksara Lan sudah mulai menyebar ke kerajaan lainnya.

Su Xi-er berjalan ke rak dan dengan hati-hati melihat ke buku-buku salinan. Apabila ada satu dengan Aksara Lan, aku akan menggunakan yang satu itu dan menuliskannya dalam gayaku sendiri. Kalau tidak, aku hanya harus meniru gaya lainnya.

Terlalu hebat dalam menulis tanpa meniru, hanya akan memancing kecurigaan dengan jati diriku yang sekarang.

Ketika Guru Agung Kong melihat ini, ia hanya bisa menghela napas sendiri. Aku akan merendahkan standarku ketika aku menilai tulisan Su Xi-er. Tidak masuk akal untuk mengharapkan seorang dayang dari Istana Samping untuk bisa menulis sebagus Nona Tan.

Guru Agung Kong sudah yakin sekali kalau kaligrafi Su Xi-er akan kalah dari kaligrafi Tan Ge, tetapi ia tidak tahu bahwa, ketika waktu yang ditentukan habis, matanya nyaris saja lepas dari rongga matanya.

Su Xi-er terus melihat-lihat rak sampai akhirnya ia menemukan buku salinan dengan Aksara Lan di rak bagian atas! Ia mengambil satu bangku dan berjinjit untuk mengambilnya.

Setelah ia membukanya, ia bisa memastikan bahwa ia telah menemukan apa yang dicarinya. Ini memang gayaku. Tampaknya, bahkan Bei Min saja mengadopsi Akasara Lan, meskipun lebih memandang tinggi militer daripada mengejar kesusastraan.

Saat Guru Agung Kong melihat buku salinan yang tengah dipegang Su Xi-er, ia menggelengkan kepalanya. "Aksara Lan berasal dari Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang terdahulu; ada banyak titik sulit yang tidak sesuai denganmu. Biarkan aku memilihkan sesuatu yang lebih mudah."

Akan tetapi, tepat saat Guru Agung Kong maju ke depan untuk memilihkan satu gaya yang lebih mudah untuknya, Su Xi-er tertawa dan menghentikannya.

"Hamba menyukai tantangan. Hamba sangat cepat dalam mempelajari sesuatu, terutama meniru, jika aku boleh mengatakannya."

Ketika Guru Agung Kong melihat kalau ia bertekad, ia mendesah. Ia akan mengerti betapa sulitnya itu setelah ia mulai menulis. Melihat bagaimana ini adalah sesuatu yang dipilihnya sendiri, Pangeran Hao tidak bisa menyalahkanku jika ia kalah.

Su Xi-er meletakkan buku salinan itu ke atas meja dan dengan sengaja menggiling tintanya lebih lambat. Aku harus pastikan untuk memperlambatnya, sehingga Guru Agung Kong tidak berpikir kalau aku familier dengan ini.

Sementara itu, Tan Ge sudah setengah menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Melihat ke arah Su Xi-er, matanya melebar kaget. Apakah ia sungguh memilih buku salinan itu?!

Su Xi-er tersenyum pada Tan Ge dan setelahnya mengangkat kuas untuk memulai. Ia sengaja melambat, agar pergerakannya tampak seperti seorang pemula.

Akan tetapi, ini adalah aksara yang diciptakannya. Tak peduli seberapa besar ia ingin berpura-pura bahwa ia adalah seorang pemula, mata yang terlatih akan bisa mengetahui kalau ia berbeda.

Perlahan-lahan, Guru Agung Kong menyadari kalau ada sesuatu yang aneh. Batang dupa sudah setengah habis, tetapi ia dapat melihat bahwa goresan Su Xi-er sudah berubah banyak sekali dari ketika ia pertama kali mulai menulis.

Pada akhirnya, Guru Agung Kong tidak dapat menekan rasa penasarannya lagi dan berjalan mendekat untuk melihatnya. Saat ia melihat lembar tulisan setengah selesai milik Su Xi-er, ekspresinya sangat takjub.

Guru Agung Kong melupakan tentang etika dan langsung melambaikan tangannya guna menghentikan Su Xi-er melanjutkan. Ia mengambil kertas kaligrafi itu, dan alisnya mengernyit jadi satu garis.

Tan Ge, yang sudah selesai menulis, menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan ekspresi Guru Agung Kong, selagi ia menurunkan kuasnya.

Guru Agung Kong hanya jadi semakin terkejut sewaktu ia terus membaca ke bawah kertas tersebut. Di saat ia sampai di bagian bawah, ia mengambil buku salinan itu, dengan cermat membandingkan goresan-goresannya. Walaupun ada sejumlah perbedaan di ujung goresannya, semua yang lainnya, sama persis!

Apa yang tidak diketahuinya adalah bahwa, Su Xi-er sudah sengaja membuat ujung goresannya berbeda, sehingga apa yang tertulis di atas lembaran kertas itu hanyalah separuh dari kemampuannya yang sesungguhnya.

"Hebat! Hebat! Hebat!" Tak sanggup memikirkan kata lainnya, Guru Agung Kong hanya bisa mengulang-ulang seruan ini tiga kali dengan bibir yang bergetar.

Tan Ge memandangi Su Xi-er kebingungan. Guru Agung Kong adalah seorang otoritas terkemuka di dunia sastra. Sanggup mengejutkannya sampai begini, berarti bahwa dayang dari Istana Samping ini benar-benar bukan orang biasa!

Guru Agung Kong menurunkan lembaran kertas itu, matanya dipenuhi kekaguman. "Kau sangat berbakat dalam meniru orang lain sampai-sampai aku hampir tidak bisa membedakannya dari tulisan aslinya! Apabila Putri Pertama Kekaisaran Nan Zhao yang terdahulu masih hidup, bahkan ia akan menganggukkan kepalanya, menyetujui, setelah melihat ini!"

(T/N : iya, inilah orangnya Pak Guru Kong. Wkwk.)

"Terima kasih banyak atas pujiannya, Guru Agung Kong." Su Xi-er menjawab acuh tak acuh, menampilkan senyum dalam roman mukanya. Siapa yang akan mengetahui kalau akulah Ning Ru Lan itu sendiri?

"Haa, bakatmu sudah terkubur jauh di Istana Samping. Bahkan, jika kau masuk Perpustakaan Kekaisaran, bakatmu masih akan tersia-siakan." Guru Agung Kong menghargai orang-orang berbakat, dan hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.

Dari kalimat ini, Tan Ge mengerti kalau ia sudah kalah. Setelah gagal masuk Istana Kekaisaran, sekali lagi, harapan dari Kediaman Tan menghilang.

Tatapan Guru Agung Kong tertuju pada Tan Ge. "Pemenang dari pertandingan ini adalah Su Xi-er."

Baru ketika itulah, Tan Ge akhirnya menyadari nama Su Xi-er, satu ingatan samar-samar memanggil dirinya. Su Xi-er ... nama ini sangat akrab. Tunggu, bukankah Su Xi-er adalah wanita yang disayangi oleh Pangeran Hao? Kalau begitu, maka ia pastinya direkomendasikan oleh Pangeran Hao! Barangkali, ia juga adalah alasan mengapa Pangeran Hao membubarkan Istana Kecantikan? Lupakan saja itu, Pangeran Hao pasti merekomendasikan dirinya karena statusnya yang rendah. Bekerja di Perpustakaan Kekaisaran adalah satu cara untuk meningkatkan posisinya, cukup untuk memungkinkannya masuk ke Kediaman Pangeran Hao!

Tan Ge sangat terkejut, membuatnya berulang kali melangkah ke belakang. Itu bukan karena ia sudah kalah dari pertandingan, tetapi karena ia mengetahui bahwa ia telah berhadapan dengan Su Xi-er.

Guru Agung Kong berpikir kalau ia tidak bisa menerima penilaian tersebut, sehingga ia menyerahkan lembaran kaligrafi itu pada Tan Ge. "Walaupun Kediaman Tan sudah merosot, Kediaman Tan selalu menjadi keluarga sastrawan. Kau akan mengerti ketika kau melihat tulisan Su Xi-er."

Tan Ge mengambil lembaran kertas itu, dan matanya jadi selebar kelereng ketika ia melihatnya.

0 comments:

Posting Komentar