Selasa, 28 April 2026

CTF - Chapter 332

Consort of A Thousand Faces

Chapter 332 : Mendapat Ide

Setelah meninggalkan barak tentara, Xie Yun memilih untuk menuju istana kekaisaran, alih-alih kembali ke kediamannya.

***

Sementara itu, Pei An Ru terbangun setelah beristirahat di Istana Kedamaian Penuh Kasih. Namun, kabar pertama yang diterimanya setelah terbangun adalah bahwa ayahnya sudah dipenggal di muka umum. Aku kira, Pangeran Hao akan berbelas kasihan pada ayahku dan membiarkannya hidup setelah aku memohon padanya, tetapi pada akhirnya ....

Hati Pei An Ru terasa sakit. Tanpa ayah, ibuku dan aku sudah kehilangan satu-satunya pilar penunjang kami.

Sembari ia memikirkan tentang ini, pintu kamarnya terbuka, memperlihatkan Pei Ya Ran. Dengan santai ia berjalan masuk dan melirik Pei An Ru. "Ayahmu mati karena Su Xi-er. Kalau bukan karena dia, maka mungkin Pangeran Hao akan memandangmu dan membiarkan ayahmu untuk hidup setelah kau memohon padanya."

Pei An Ru bangkit dari kursin dan membungkuk untuk menyampaikan hormatnya. Setelah itu, ia bertanya kebingungan. "Ibu Suri, bagaimana bisa seorang wanita biasa seperti Su Xi-er memengaruhi keputusan Pangeran Hao?"

Pei Ya Ran mendengus dingin. "Kau bahkan tidak memercayai kata-kata Ibu Suri ini; pantas saja ayahmu mati."

Pei An Ru gemetaran dan mengatupkan bibirnya, menatap Pei Ya Ran dengan ekspresi yang terguncang. "Aku pergi ke Istana Samping malam itu dan melihat Pangeran Hao berduaan bersama Su Xi-er di dalam kamarnya. Aku pikir, Pangeran Hao akan segera kehilangan minatnya pada seorang wanita jahat yang hanya bisa mencoba untuk menggodanya."

"Ibu Suri ini tidak akan bertele-tele; Keluarga Pei yang sekarang tidak berniat untuk membawamu kembali ke kediaman mereka. Bukankah kau masuk istana kekaisaran demi Pangeran Hao? Namun, karena yang dilakukannya adalah mengabaikanmu, akan lebih baik bagimu untuk keluar sendiri dari istana kekaisaran." Pei Ya Ran berujar sementara dengan malas ia duduk di atas bangku.

Pei An Ru memikirkan tentang itu dengan hati-hati. Aku memang masuk istana demi Pangeran Hao, tetapi aku berbeda dari Su Xi-er, dan tidak akan menggodanya. Untuk menarik seorang pria berkuasa seperti Pangeran Hao, dibutuhkan tampilan yang elegan, bukannya vulgar.

Tetapi, Ibu Suri benar; Su Xi-er adalah kendala yang besar untukku.

(T/N : Ya ampun, ini anak, kecil-kecil uda halu juga. Ckckck, sesat semua cewe-cewe Pei ini.)

"Ibu Suri, Su Xi-er tidak punya status apa-apa. Apa lagi yang bisa digunakannya untuk menarik Pangeran Hao selain wajahnya?"

Pei Ya Ran mengangkat alisnya dan tertawa. "Satu-satunya kelebihan yang dimilikinya adalah kecantikannya. Jika ia tidak cantik lagi, Pangeran Hao tidak akan memperlakukan sebaik itu juga, meskipun jika ia memang memedulikannya. Ia tidak akan mengabaikan peraturan dan membawa Su Xi-er masuk ke Kediaman Pangeran Hao juga!"

"Apa? Membawanya ke dalam Kediaman Pangeran Hao? Status apa yang akan dimilikinya?" Pei An Ru tampak syok. Aku pernah mendengar bahwa, satu-satunya wanita di Kediaman Pangeran Hao adalah Nona Qing. Akan tetapi, bahkan Nona Qing saja adalah seorang pelayan tanpa status. Jika Su Xi-er masuk Kediaman Pangeran Hao, barangkali ia akan memainkan sejumlah trik agar mengandung anak Pangeran Hao, dan statusnya akan meningkat.

"Su Xi-er sangat ambisius. Ibu Suri ini tidak tahu status apa yang akan dimilikinya. Jika kita tidak menghentikannya, maka ayahmu tidak akan jadi satu-satunya orang yang mati."

Pei An Ru jadi serius dan mulai bergumam dalam suara yang rendah, "Kalau kecantikan Su Xi-er dihancurkan, maka ia tidak akan disayangi oleh Pangeran Hao lagi."

"Ia sudah tidak berada di Istana Samping lagi. Su Xi-er malah sudah ditempatkan di Perpustakaan Kekaisaran dan naik ke jabatan seorang court lady." Pei Ya Ran menambahkan sementara matanya agak menyipit.

Mata Pei An Ru berbinar. "Ada banyak buku di Perpustakaan Kekaisaran. Kita harus menyalakan api ketika Su Xi-er berada di dalam tempat penyimpanan buku, sehingga, meksi jika ia lolos, ia tidak akan bisa menyelamatkan wajahnya."

Tepat setelah ia selesai bicara, Pei Ya Ran menggebrakkan tangannya dengan kuat ke atas meja. "Tidak masuk akal! Pangeran Hao sedang memperhatikan, baik militer dan literatur saat ini. Dengan Keluarga Xie yang sudah menarik para pejabat sipil mahkamah ke pihak mereka, insiden apa pun di Perpustakaan Kekaisaran akan menghasilkan konsekuensi yang serius. Ibu Suri ini tidak mau mendengarkan apa yang barusan kau katakan lagi."

Mulut Pei An Ru sedikit menganga, tetapi ia tidak bilang apa-apa. Kalau begitu kasusnya, maka kita hanya bisa menggunakan obat. Tetapi, dimana aku bisa menemukan mereka? Aku tidak akan bisa mendapatkan mereka di istana kekaisaran, sehingga aku hanya bisa mencari mereka di luar sana.

Pei An Ru langsung mengangkat kepalanya. "Ibu Suri, aku ingin meminta izin untuk keluar istana."

Sejak awal, Pei Ya Ran tidak mau mempertahankan Pei An Ru di Istana Kedamaian Penuh Kasih. Faktanya, semua yang baru saja dikatakannya adalah supaya Pei An Ru meminta pergi sendiri.

Karenanya, Pei Ya Ran langsung menyetujui permintaan ini. "Ibu Suri ini akan mengirimkan kereta kuda untuk membawamu keluar."

Setelah itu, Pei Ya Ran bangkit dan meninggalkan ruangan itu.

Tak lama setelahnya, seorang kasim kecil pun datang untuk membawa Pei An Ru keluar dari istana. Pei An Ru tidak ragu-ragu dan langsung mengikuti si kasim kecil itu keluar.

Satu jam kemudian, ia keluar istana kekaisaran dan memasuki satu toko obat. Di sinilah, secara kebetulan Ye Qing Zhu melihatnya. Aku penasaran, kenapa Pei An Ru masuk ke toko obat, tetapi ... aku tidak dalam posisi untuk memedulikan tentang orang-orang dari Keluarga Pei. Ye Qing Zhu memutuskan untuk pergi.

***

Sekarang ini, Su Xi-er berada di Paviliun Kaligrafi setelah Guru Agung Kong memerintahkannya untuk mengatur berbagai perlengkapan menulis.

Tepat sewaktu ia mulai menyusun, suara dari seorang bocah lelaki yang kaget pun dapat terdengar. "Cantik, aku tidak tahu kau benar-benar akan ada di sini!"

Su Xi-er mengangkat kepalanya dan melihat Situ Lin mengenakan jubah naga berwarna kuning terangnya. Matanya besar, dan ia memandangi Su Xi-er dengan gembira.

"Hamba memberi hormat pada Yang Mulia."

Alis Situ Lin mengerut sewaktu ia berjalan untuk memegang tangan Su Xi-er. "Cantik, kenapa kau di sini, di Perpustakaan Kekaisaran?"

"Yang Mulia, tujuan Anda datang ke Pavilun Kaligrafi adalah untuk melatih tulisan tangan Anda dengan benar. Sebagai Kaisar kerajaan, tulisan tangan Anda hanya boleh sangat baik." Guru Agung Kong menegur dengan serius.

Wajah kecil Situ Lin mengerut sementara ia mengeluh, "Guru Agung, Kaisar ini bertemu dengan seorang kenalan di sini. Aku akan berlatih kaligrafi setelah kami selesai bicara."

"Yang Mulia, kenalan yang sedang Anda bicarakan itu hebat dalam kaligrafi."

"Cantik, kau jago dalam kaligrafi? Kaisar ini belum pernah mendengar Guru Agung Kong memuji siapa pun sebelumnya." Situ Lin tampak kaget. Guru Agung Kong sangat ketat padaku. Sudah bagus kalau aku bisa menghindar dari dimarahi, apalagi dipuji!

Su Xi-er tersenyum. "Hamba tidak pantas mendapatkan pujian semacam itu." Setelah itu, ia mengeluarkan selembar kertas dari laci dan menaruhnya di atas meja. "Yang Mulia, hamba akan menyiapkan tinta untuk Anda berlatih."

Situ Lin terkikik. "Kaisar ini senang karena seorang gadis cantik akan menyiapkan tinta untukku! Aku pasti akan berlatih dengan rajin hari ini!" Setelah itu, ia membuka buku salinan dan dengan sungguh-sungguh mempelajarinya.

Guru Agung Kong menggelengkan kepalanya. Aku harap agar kepribadian Yang Mulia akan berubah. Ia masih seperti anak-anak, dan hanya suka bermain. Ia juga betul-betul kekurangan gaya seorang kaisar ketika ia berbicara, dan hanya Pangeran Hao yang bisa menjaganya. Omong-omong, haruskah aku memberitahu Pangeran Hao bahwa Yang Mulia memanggil Su Xi-er dengan sebutan 'Cantik'? Itu agak kurang pantas dengan status Yang Mulia.

Jika Situ Lin mengetahui apa yang dipikirkan oleh Guru Agung Kong, sudah pasti ia akan mati-matian memohon padanya agar tidak memberitahukan Paman Kekaisarannya.

"Yang Mulia, tintanya siap untuk Anda." Su Xi-er berhenti menggiling batangan tinta.

Situ Lin mengangguk. Ia mencelupkan ujung kuasnya ke dalam tinta dan mulai menulis dengan benar.

Tak lama setelahnya, orang lain memasuki Pavilun Kaligrafi—Pangeran Kekaisaran Ketiga, Situ Li.

Guru Agung Kong membungkuk untuk memberi salamnya, tetapi dihentikan oleh Situ Li. "Guru Agung, kau tidak perlu terlalu sopan. Pangeran Kekaisaran ini di sini, untuk saran dari Su Xi-er."

Ketika Situ Lin mendengar suaranya, ia tampak sangat gembira. "Kakak Kekaisaran Ketiga!" Aku datang ke Perpustakaan Kekaisaran di waktu yang tepat. Bukan hanya aku melihat Su Xi-er, aku juga bertemu dengan Kakak Kekaisaran Ketiga-ku!

Dari semua kakak kekaisaranku, Kakak Kekaisaran Ketiga yang memperlakukanku paling baik! Namun, Kakak Kekaisaran Ketiga yang kuhormati dan kusayangi dikirimkan ke sebuah provinsi terpencil, dan baru diizinkan untuk kembali tahun ini. Setelah kembali, ia tidak pernah datang menemuiku, sering kali tinggal di luar istana!

"Hamba memberi hormat pada Pangeran Kekaisaran Ketiga." Su Xi-er membungkuk.

Situ Li melambaikan tangannya. "Pangeran Kekaisaran ini di sini untuk berkonsultasi denganmu. Kau adalah gurunya hari ini, sehingga Pangeran Kekaisaran ini yang semestinya memberi hormat padamu." 


0 comments:

Posting Komentar