Consort of A Thousand Faces
Chapter 332 : Mendapat Ide
Setelah meninggalkan barak tentara, Xie Yun memilih untuk menuju istana
kekaisaran, alih-alih kembali ke kediamannya.
***
Sementara itu, Pei An Ru terbangun setelah beristirahat di Istana
Kedamaian Penuh Kasih. Namun, kabar pertama yang diterimanya setelah terbangun
adalah bahwa ayahnya sudah dipenggal di muka umum. Aku kira, Pangeran
Hao akan berbelas kasihan pada ayahku dan membiarkannya hidup setelah aku
memohon padanya, tetapi pada akhirnya ....
Hati Pei An Ru terasa sakit. Tanpa ayah, ibuku dan aku sudah
kehilangan satu-satunya pilar penunjang kami.
Sembari ia memikirkan tentang ini, pintu kamarnya terbuka,
memperlihatkan Pei Ya Ran. Dengan santai ia berjalan masuk dan melirik Pei An
Ru. "Ayahmu mati karena Su Xi-er. Kalau bukan karena dia, maka mungkin
Pangeran Hao akan memandangmu dan membiarkan ayahmu untuk hidup
setelah kau memohon padanya."
Pei An Ru bangkit dari kursin dan membungkuk untuk menyampaikan
hormatnya. Setelah itu, ia bertanya kebingungan. "Ibu Suri, bagaimana bisa
seorang wanita biasa seperti Su Xi-er memengaruhi keputusan Pangeran Hao?"
Pei Ya Ran mendengus dingin. "Kau bahkan tidak memercayai kata-kata
Ibu Suri ini; pantas saja ayahmu mati."
Pei An Ru gemetaran dan mengatupkan bibirnya, menatap Pei Ya Ran dengan
ekspresi yang terguncang. "Aku pergi ke Istana Samping malam itu dan
melihat Pangeran Hao berduaan bersama Su Xi-er di dalam kamarnya. Aku pikir,
Pangeran Hao akan segera kehilangan minatnya pada seorang wanita jahat yang
hanya bisa mencoba untuk menggodanya."
"Ibu Suri ini tidak akan bertele-tele; Keluarga Pei yang sekarang
tidak berniat untuk membawamu kembali ke kediaman mereka. Bukankah kau masuk
istana kekaisaran demi Pangeran Hao? Namun, karena yang dilakukannya adalah
mengabaikanmu, akan lebih baik bagimu untuk keluar sendiri dari istana
kekaisaran." Pei Ya Ran berujar sementara dengan malas ia duduk di atas
bangku.
Pei An Ru memikirkan tentang itu dengan hati-hati. Aku memang
masuk istana demi Pangeran Hao, tetapi aku berbeda dari Su Xi-er, dan tidak
akan menggodanya. Untuk menarik seorang pria berkuasa seperti Pangeran Hao,
dibutuhkan tampilan yang elegan, bukannya vulgar.
Tetapi, Ibu Suri benar; Su Xi-er adalah kendala yang besar untukku.
(T/N : Ya ampun, ini anak, kecil-kecil uda halu juga. Ckckck, sesat
semua cewe-cewe Pei ini.)
"Ibu Suri, Su Xi-er tidak punya status apa-apa. Apa lagi yang bisa
digunakannya untuk menarik Pangeran Hao selain wajahnya?"
Pei Ya Ran mengangkat alisnya dan tertawa. "Satu-satunya kelebihan
yang dimilikinya adalah kecantikannya. Jika ia tidak cantik lagi, Pangeran Hao
tidak akan memperlakukan sebaik itu juga, meskipun jika ia memang memedulikannya.
Ia tidak akan mengabaikan peraturan dan membawa Su Xi-er masuk ke Kediaman
Pangeran Hao juga!"
"Apa? Membawanya ke dalam Kediaman Pangeran Hao? Status apa yang
akan dimilikinya?" Pei An Ru tampak syok. Aku pernah mendengar
bahwa, satu-satunya wanita di Kediaman Pangeran Hao adalah Nona Qing. Akan
tetapi, bahkan Nona Qing saja adalah seorang pelayan tanpa status. Jika Su
Xi-er masuk Kediaman Pangeran Hao, barangkali ia akan memainkan sejumlah trik
agar mengandung anak Pangeran Hao, dan statusnya akan meningkat.
"Su Xi-er sangat ambisius. Ibu Suri ini tidak tahu status apa yang
akan dimilikinya. Jika kita tidak menghentikannya, maka ayahmu tidak akan jadi
satu-satunya orang yang mati."
Pei An Ru jadi serius dan mulai bergumam dalam suara yang rendah,
"Kalau kecantikan Su Xi-er dihancurkan, maka ia tidak akan disayangi oleh
Pangeran Hao lagi."
"Ia sudah tidak berada di Istana Samping lagi. Su Xi-er malah sudah
ditempatkan di Perpustakaan Kekaisaran dan naik ke jabatan seorang court
lady." Pei Ya Ran menambahkan sementara matanya agak menyipit.
Mata Pei An Ru berbinar. "Ada banyak buku di Perpustakaan
Kekaisaran. Kita harus menyalakan api ketika Su Xi-er berada di dalam tempat
penyimpanan buku, sehingga, meksi jika ia lolos, ia tidak akan bisa
menyelamatkan wajahnya."
Tepat setelah ia selesai bicara, Pei Ya Ran menggebrakkan tangannya
dengan kuat ke atas meja. "Tidak masuk akal! Pangeran Hao sedang
memperhatikan, baik militer dan literatur saat ini. Dengan Keluarga Xie yang sudah menarik para pejabat sipil mahkamah ke pihak mereka, insiden apa pun di Perpustakaan Kekaisaran akan menghasilkan konsekuensi yang
serius. Ibu Suri ini tidak mau mendengarkan apa yang barusan kau katakan
lagi."
Mulut Pei An Ru sedikit menganga, tetapi ia tidak bilang apa-apa. Kalau
begitu kasusnya, maka kita hanya bisa menggunakan obat. Tetapi, dimana aku bisa
menemukan mereka? Aku tidak akan bisa mendapatkan mereka di istana kekaisaran, sehingga aku hanya bisa mencari mereka
di luar sana.
Pei An Ru langsung mengangkat kepalanya. "Ibu Suri, aku ingin
meminta izin untuk keluar istana."
Sejak awal, Pei Ya Ran tidak mau mempertahankan Pei An Ru di Istana
Kedamaian Penuh Kasih. Faktanya, semua yang baru saja dikatakannya adalah
supaya Pei An Ru meminta pergi sendiri.
Karenanya, Pei Ya Ran langsung menyetujui permintaan ini. "Ibu Suri
ini akan mengirimkan kereta kuda untuk membawamu keluar."
Setelah itu, Pei Ya Ran bangkit dan meninggalkan ruangan itu.
Tak lama setelahnya, seorang kasim kecil pun datang untuk membawa Pei An
Ru keluar dari istana. Pei An Ru tidak ragu-ragu dan langsung mengikuti si
kasim kecil itu keluar.
Satu jam kemudian, ia keluar istana kekaisaran dan memasuki satu toko
obat. Di sinilah, secara kebetulan Ye Qing Zhu melihatnya. Aku
penasaran, kenapa Pei An Ru masuk ke toko obat, tetapi ... aku tidak dalam
posisi untuk memedulikan tentang orang-orang dari Keluarga Pei. Ye
Qing Zhu memutuskan untuk pergi.
***
Sekarang ini, Su Xi-er berada di Paviliun Kaligrafi setelah Guru Agung
Kong memerintahkannya untuk mengatur berbagai perlengkapan menulis.
Tepat sewaktu ia mulai menyusun, suara dari seorang bocah lelaki yang
kaget pun dapat terdengar. "Cantik, aku tidak tahu kau benar-benar akan
ada di sini!"
Su Xi-er mengangkat kepalanya dan melihat Situ Lin mengenakan jubah naga
berwarna kuning terangnya. Matanya besar, dan ia memandangi Su Xi-er dengan
gembira.
"Hamba memberi hormat pada Yang Mulia."
Alis Situ Lin mengerut sewaktu ia berjalan untuk memegang tangan Su
Xi-er. "Cantik, kenapa kau di sini, di Perpustakaan Kekaisaran?"
"Yang Mulia, tujuan Anda datang ke Pavilun Kaligrafi adalah untuk
melatih tulisan tangan Anda dengan benar. Sebagai Kaisar kerajaan, tulisan
tangan Anda hanya boleh sangat baik." Guru Agung Kong menegur dengan
serius.
Wajah kecil Situ Lin mengerut sementara ia mengeluh, "Guru Agung,
Kaisar ini bertemu dengan seorang kenalan di sini. Aku akan berlatih kaligrafi
setelah kami selesai bicara."
"Yang Mulia, kenalan yang sedang Anda bicarakan itu hebat dalam
kaligrafi."
"Cantik, kau jago dalam kaligrafi? Kaisar ini belum pernah
mendengar Guru Agung Kong memuji siapa pun
sebelumnya." Situ Lin tampak kaget. Guru Agung Kong sangat ketat
padaku. Sudah bagus kalau aku bisa menghindar dari dimarahi, apalagi dipuji!
Su Xi-er tersenyum. "Hamba tidak pantas mendapatkan pujian semacam
itu." Setelah itu, ia mengeluarkan selembar kertas dari laci dan
menaruhnya di atas meja. "Yang Mulia, hamba akan menyiapkan tinta untuk
Anda berlatih."
Situ Lin terkikik. "Kaisar ini senang karena seorang gadis cantik
akan menyiapkan tinta untukku! Aku pasti akan berlatih dengan rajin hari
ini!" Setelah itu, ia membuka buku salinan dan dengan sungguh-sungguh
mempelajarinya.
Guru Agung Kong menggelengkan kepalanya. Aku harap agar
kepribadian Yang Mulia akan berubah. Ia masih seperti anak-anak, dan hanya suka
bermain. Ia juga betul-betul kekurangan gaya seorang kaisar ketika ia
berbicara, dan hanya Pangeran Hao yang bisa menjaganya. Omong-omong, haruskah
aku memberitahu Pangeran Hao bahwa Yang Mulia memanggil Su Xi-er dengan sebutan
'Cantik'? Itu agak kurang pantas dengan status Yang
Mulia.
Jika Situ Lin mengetahui apa yang dipikirkan oleh Guru Agung Kong, sudah
pasti ia akan mati-matian memohon padanya agar tidak memberitahukan Paman
Kekaisarannya.
"Yang Mulia, tintanya siap untuk Anda." Su Xi-er berhenti
menggiling batangan tinta.
Situ Lin mengangguk. Ia mencelupkan ujung kuasnya ke dalam tinta dan
mulai menulis dengan benar.
Tak lama setelahnya, orang lain memasuki Pavilun Kaligrafi—Pangeran
Kekaisaran Ketiga, Situ Li.
Guru Agung Kong membungkuk untuk memberi salamnya, tetapi dihentikan
oleh Situ Li. "Guru Agung, kau tidak perlu terlalu sopan. Pangeran
Kekaisaran ini di sini, untuk saran dari Su Xi-er."
Ketika Situ Lin mendengar suaranya, ia tampak sangat gembira.
"Kakak Kekaisaran Ketiga!" Aku datang ke Perpustakaan
Kekaisaran di waktu yang tepat. Bukan hanya aku melihat Su Xi-er, aku juga
bertemu dengan Kakak Kekaisaran Ketiga-ku!
Dari semua kakak kekaisaranku, Kakak Kekaisaran Ketiga yang
memperlakukanku paling baik! Namun, Kakak Kekaisaran Ketiga yang kuhormati dan
kusayangi dikirimkan ke sebuah provinsi terpencil, dan baru diizinkan untuk
kembali tahun ini. Setelah kembali, ia tidak pernah datang menemuiku, sering
kali tinggal di luar istana!
"Hamba memberi hormat pada Pangeran Kekaisaran Ketiga." Su
Xi-er membungkuk.
Situ Li melambaikan tangannya. "Pangeran Kekaisaran ini di sini
untuk berkonsultasi denganmu. Kau adalah gurunya hari ini, sehingga Pangeran
Kekaisaran ini yang semestinya memberi hormat padamu."

0 comments:
Posting Komentar