Selasa, 28 April 2026

CTF - Chapter 335

Consort of A Thousand Faces

Chapter 335 : Bukan Dia


Mata Situ Lin melebar kala ia mendengar itu. "Apa?! Su Xi-er?!" Jantungnya serasa sesak. Kalau itu adalah Su Xi-er, maka habislah aku! Departemen Rumah Tangga Kekaisaran akan menyelidiki kematian seorang court lady, dan Paman Kekaisaranku akan mengetahui bahwa aku meninggalkan istana kekaisaran untuk bermain-main. Perlindungan Commandery Prince Xie tidak akan berarti apa-apa jika seseorang mati!

Para warga sipil melaporkan pada pihak berwenang bahwa seseorang sudah terjatuh ke dalam air, dan bahwa tubuhnya masih belum ditemukan. Tak lama setelahnya, pembantu petugas polisi pun tiba dan memerintahkan kerumunan untuk bubar sebelum menyelam ke dalam air untuk mencari jasadnya.

Situ Lin masih tercengang, dan bahkan tidak menyadari ketika seorang pembantu petugas polisi yang berjalan ke arahnya, menginstruksikan supaya ia meninggalkan area tersebut.

Pembantu petugas polisi itu mengira bahwa ia hanyalah seorang tuan muda yang suka bersenang-senang, sehingga ia berbicara lebih keras, "Tuan Muda, tolong pergi dan berhenti mengganggu penyelidikan kami."

"Tidak, aku harus melihat apakah itu adalah Su Xi-er."

Saat pembantu petugas polisi itu mendengarkan permohonannya, ia segera memahami bahwa wanita yang jatuh ke dalam air itu berkaitan dengan si tuan muda yang ada di depannya. "Baiklah kalau begitu, kau tetap di sini dan jangan menghalangi kami mengeluarkan mayatnya."

Kaki Situ Lin gemetaran ketika ia mendengar kata 'mayat', berdoa supaya itu bukan Su Xi-er.

Situ Lin, Tan Ge, dan si pengawal kekaisaran pun menunggu di dekat danau, dan menyaksikan sementara para petugas itu mencari mayatnya. Mereka melanjutkan hingga Hakim Provinsi tiba, tetapi masih belum menemukan apa-apa.

Ia sudah menunggu di Kantor Hakim Provinsi untuk sebuah laporan, tetapi saat tak seorang pun yang kembali bahkan setelah satu jam, ia pun memutuskan untuk datang sendiri. Sewaktu ia melihat Situ Lin, tubuhnya gemetaran. Bukankah itu adalah Yang Mulia?

Sebagai Hakim Provinsi ibu kota, ia sudah diundang sebagai seorang tamu ke perjamuan Tahun Baru tahun lalu. Di sana, ia cukup beruntung, bisa melihat Kaisar sepintas lalu.

Si Hakim Provinsi pun segera berjalan menuju ke arah Situ Lin dan membungkuk. "Pejabat rendahan ini memberi hormat pada Yang Mulia."

Ekspresi Situ Lin berubah. Seseorang mengenaliku! Apakah mereka akan memberitahukan Paman Kekaisaranku? Ia menggigil ketika ia memikirkan ini, tetapi ekspresinya tidak berubah. Ia mengangkat tangannya sedikit untuk memberi isyarat agar si Hakim Provinsi bangkit. "Bawahan-bawahanmu itu lambat sekali dalam mencari jenazahnya."

Hakim Provinsi itu tidak berani bersikap ceroboh dan buru-buru menjawab, "Pejabat rendahan ini akan pergi dan mendesak mereka agar bertindak cepat." Setelah itu, ia langsung bangkit dan mulai menginstruksikan sendiri para petugas polisi di dekat danau.

Semua petugas polisi pun menjadi lebih teliti dalam pencarian; beberapa orang bahkan mulai menggunakan jala.

"Saat pejabat rendahan ini mendengar bahwa seorang wanita yang jatuh ke dalam air, aku mengira bahwa itu adalah seorang wanita yang kesusahan akibat cinta yang memutuskan untuk bunuh diri."

Ekspresi Situ Lin menjadi serius. "Tidak akan jadi masalah sebesar ini kalau itu hanya warga sipil biasa!"

Saat Hakim Provinsi mendengar ini, ia merasa seolah ada sebongkah batu yang membebani hatinya. Mungkinkah itu adalah seorang wanita dari istana kekaisaran?

"Cepatlah temukan jenazahnya; Kaisar ini menunggu jawaban. Jika itu adalah Su Xi-er, Kaisar ini akan berada dalam masalah."

Aku tidak percaya bahwa ada seorang wanita yang bisa membuat Yang Mulia berada dalam masalah. Alis si Hakim Provinsi mengerut kuat. Ia berbalik dan memerhatikan bawahannya terus mencari jenazah tersebut.

Saat ini, rakyat-rakyat jelata yang berdiri jauh dari danau mulai berteriak, "Para prajurit di sini!"

Situ Lin mendengar mereka dengan jelas. Mereka tidak meneriakkan 'pengawal kekaisaran' atau ' petugas kepolisian', mereka mengatakan 'prajurit'! Satu-satunya yang dapat disebut prajurit adalah orang-orang dari tentara! Apakah Paman Kekaisaran sudah meninggalkan barak tentara? Apakah ia lewat di dekat tempat ini?

Tan Ge juga jadi cemas. Aku berharap agar tidak ada yang terjadi pada Su Xi-er, tetapi wanita itu baru saja mengatakan bahwa wanita yang terjatuh ke dalam air mengenakan gaun yang mirip denganku. Tiba-tiba saja, ia merasakan kegelisahan yang menggerogoti hatinya.

Panggilan dari para warga mendadak terhenti, dan dua baris prajurit menuju ke Kediaman Pangeran Hao dengan langkah yang tertib.

Di antara mereka, ada seorang pria jangkung mengenakan jubah bermotif ular warna hitam sementara ia menunggangi seekor kuda hitam. Matanya yang laksana baja itu tetap terpaku pada jalanan di depan hingga ia menyadari sekelompok petugas polisi yang mencari sesuatu di dalam danau.

Danau ini merupakan bagian dari sungai penting untuk perahu-perahu pedagang yang berpergian pulang-pergi dari Bei Min. Ada perintah resmi yang melarang siapa pun melompat ke dalamnya. Tetapi sepertinya, para petugas polisi itu tengah mencoba mencari jenazah.

Alisnya tertaut, dan aura dingin menyelimutinya sementara ia mengangkat tangan untuk menghentikan para prajurit. Rakyat yang mengelilingi langsung berlutut, tidak berani mendongak.

Ketika para warga akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengintip, mereka menyadari bahwa pria itu sudah menuju ke pinggir danau bersama empat prajurit yang menemaninya.

Situ Lin sedang melihat ke danau, tetapi terkejut hingga bergetar ketika ia mendengar suara langkah kaki dari belakangnya. Sebelum ia bisa berbalik, ia mendengar Hakim Provinsi yang memberikan hormatnya pada seseorang di belakangnya. "Pejabat rendahan ini memberi hormat kepada Pangeran Hao."

Pangeran Hao .... Paman Kekaisaran! Situ Lin pun gelisah. Ia berbalik secara perlahan dan menundukkan kepalanya. "Paman Kekaisaran."

Tan Ge mengikuti. "Hamba memberi hormat pada Pangeran Hao."

Tatapan dingin Pei Qian Hao menyapu Tan Ge dan mendarat pada Situ Lin, bertanya dengan nada yang sangat dingin. "Yang Mulia, dengan membawa keluar seorang dayang istana dari Perpustakaan Kekaisaran untuk bermain-main, peraturan istana manakah yang Anda langgar? Bagaimana Anda harus dihukum?"

Situ Lin mengetahui bahwa ia yang bersalah. Tepat ketika ia akan membuka mulutnya untuk mengakui kesalahannya, para petugas polisi mulai menjerit. "Yang Mulia, jenazahnya sudah ditemukan!"

Tan Ge menjadi gelisah dan segera berbalik untuk melihat ke tanah di depannya.

"Paman Kekaisaran, Kaisar ini akan menerima hukumannya setelah aku kembali ke istana. Sekarang ini, aku harus pergi dan melihat apakah jenazah itu adalah jenazah Su Xi-er." Situ Lin memutar tumitnya dan maju ke depan, tidak mengetahui bahwa ekspresi Pei Qian Hao tiba-tiba berubah.

Situ Lin dan Tan Ge, keduanya bergegas ke pinggir sungai, tetapi sebelum mereka dapat melihat tubuh seorang wanita, sosok berjubah hitam menghadang pandangan mereka. Pangeran Hao jelas-jelas di belakang kami, tetapi sekarang ia bergegas maju!

Tatapan Pei Qian Hao seperti obor, hanya rileks setelah ia melihat kalau wanita yang ada di tanah bukanlah Su Xi-er. Namun, matanya sekali lagi jadi suram setelah ia kembali ke masalah yang ada.

Su Xi-er meninggalkan istana bersama-sama Yang Mulia. Tetapi, kemana tepatnya ia pergi?

Situ Lin mengembuskan napas lega. Syukurlah, karena itu bukan Su Xi-er; kalau tidak, jika seorang court lady meninggalkan istana dan mati, bukan hanya segalanya akan jadi sulit untuk menjelaskan pada Perpustakaan Kekaisaran, tetapi juga Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Bahkan sebagai seorang Kaisar, aku diharuskan untuk mematuhi peraturan istana.

"Bawa jenazahnya pergi dan tangani dengan layak," perintah Pei Qian Hao.

Setelah itu, ia berbalik kepada para prajurit di belakangnya. "Antarkan Yang Mulia kembali ke istana dan hukum beliau karena melanggar peraturan istana. Beliau akan menerima lima belas kali pukulan papan dan menghadap ke tembok guna merefleksikan kelakukan buruknya." Lalu, ia meninjau sekitarnya dan mulai berjalan maju.

Situ Lin memerhatikan Pei Qian Hao pergi dan menghela napas. Itu adalah masalah kecil, dipukul papan beberapa kali, tetapi sakit kepala untuk menuliskan baris-baris dari 'Perintah-perintah Peraturan Istana'.

"Yang Mulia, silakan kembali ke istana." Seorang prajurit mengulurkan tangannya dan memberi sinyal dengan hormat.

Situ Lin tidak punya pilihan. Waktu bermain singkatku berakhir di sini.

Saat aku keluar, aku bersama Su Xi-er, Tan Ge, dan seorang pengawal kekaisaran, tetapi sekarang kami kehilangan seseorang.

Tatapan Pei Qian Hao gelap sementara ia memerintahkan para prajurit. "Tutup gerbang-gerbang kota dan suruh prajurit yang menjaga mereka agar berjaga-jaga. Semua orang lainnya, mulai mencari setiap rumah."

Apakah Su Xi-er pergi sendiri, atau apakah ia diculik? Alis Pei Qian Hao mengerut. Aku harus menemukannya malam ini.

Aku hanya pergi ke barak tentara, dan sesuatu sudah terjadi padanya. Wanita ini membuatku sangat khawatir.

Para prajurit langsung membungkuk. "Bawahan ini mematuhi perintah."

Tak lama setelahnya, seluruh gerbang-gerbang kota ditutup. Pengawal kekaisaran dari Kediaman Pangeran Hao, sekaligus dengan dua baris prajurit yang dipimpin Pangeran Hao, semuanya mulai mencari seorang gadis yang mengenakan seragam Perpustakaan Kekaisaran.

0 comments:

Posting Komentar