3L3W Lotus Step 1
Chapter 2 part 1
Walaupun ribuan flora berbeda ada di dunia ini, pada umumnya, hanya ada empat tipe: Dewa Bunga, Makhluk Abadi Bunga, Siluman Bunga, dan yang tidak dapat berubah wujud.
Flora dunia dapat merasakan dan menyadari lingkungan mereka, tetapi yang mampu menyerap esensi spiritual Langit dan Bumi, berkultivasi menjadi wujud manusia sangat sedikit dan jarang.
Entah mereka memiliki akar yang baik dan tumbuh menjadi pemimpin klan, atau mereka ditanam di tempat yang dipenuhi esensi roh yang melimpah, memungkinkan mereka tumbuh dengan mudah dan berkultivasi menjadi siluman roh bunga yang indah.
Ratusan flora berbeda ditemukan di Menara Sepuluh Bunga adalah yang pertama. Bertahun-tahun yang lalu, ayah Cheng Yu memang menghabiskan banyak upaya untuk mengasingkan para pemimpin klan seratus bunga ke Menara Sepuluh Bunga. Melalui metode inilah, Cheng Yu dapat dengan aman selamat dari bencana penyakit yang telah ditakdirkannya.
Perlu diingat bahwa, jika bukan karena Cheng Yu, seratus bunga dan pepohonan ini bisa mengambil wujud manusia lebih dari sepuluh tahun yang lalu, dan Menara Sepuluh Bunga tidak hanya akan dikelola oleh Zhu Jin dan Li Xiang saja.
Tetapi, Hua Fei Wu, yang berasal dari hutan tua jauh di pegunungan, mewakili jenis terakhir dari kultivasi siluman bunga.
Kampung halaman Hua Fei Wu bukanlah pegunungan biasa. Itu adalah gunung yang diselimuti kabut tebal penuh esensi spiritual di Empat Lautan dan Delapan Dataran, dikenal sebagai Pegunungan Abadi Zhi Yue. Itu juga rumah bagi penguasa seratus miliar sungai dan pegunungan di ribuan dunia fana—Cang Yi Shenjun.
(T/N : Zhi Yue Xian Shan.)
Hua Fei Wu tumbuh di sebelah paviliun di taman belakang Cang Yi Shenjun. Shenjun itu suka menikmati tehnya di paviliun, dan ketika tehnya yang belum habis itu jadi dingin, ia akan menyiraminya dengan itu. Cang Yi Shenjun tidak tahu bahwa menyirami bunga dengan teh adalah hal tabu. Hua Fei Wu beruntung, bukan hanya ia selamat dari penyiraman konstan itu, tetapi pada hari yang menentukan, ia secara misterius bertransformasi menjadi seorang siluman bunga.
Cheng Yu penasaran sekali soal ini dan menanyai Hua Fei Wu, “Kau bertransformasi di kediaman seorang makhlukk abadi. Bukankah seharusnya kau bertransformasi menjadi seorang peri bunga atau dewi bunga? Kenapa kau bertransformasi jadi siluman bunga?”
Hua Fei Wu menjelaskan dengan bersemangat, “Ketika Master bunga tiada, ratusan dan ribuan bunga menjadi siluman, dan dunia ini tak lagi memiliki dewa bunga.”
Cheng Yu menjawab, “Aku tidak mengerti apa maksudmu.”
Hua Fei Wu terlalu malu untuk mengakui bahwa ia sendiri tidak begitu memahami penjelasannya sendiri, dan mengusap hidungnya, “Tidak apa-apa jika kau tidak mengerti, itulah yang dikatakan semua orang.”
Takut akan kegigihan Cheng Yu lebih lanjut menekan masalah ini, Hua Fei Wu pun mengubah topiknya, “Kenapa semua bunga di sini memanggilmu Master Bunga? Empat Lautan dan Delapan Dataran pernah memiliki seorang Master Bunga, yang telah berkultivasi dari teratai merah, seorang dewa terhormat di antara para Dewa Bunga. Ia dianugerahi gelar Master Seratus Ribu Bunga.”
Membentangkan tangannya sebelum meneruskan, “Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, Master Bunga meninggal dunia, tetapi sebelum ia meninggal, ia dikatakan sebagai satu-satunya yang layak disebut sebagai Master Bunga.”
Pada waktu itu, Cheng Yu baru tiga belas tahun, dan Cheng Yu yang berumur tiga belas tahun tidak memedulikan soal hidup matinya seorang peri, juga tidak mengganggunya karena ia dan si peri kebetulan disebut dengan gelar yang sama. Zhu Jin baru-baru ini mencabut kendali keuangannya, jadi ia menaruh hati dan jiwanya untuk mengkhawatirkan tentang masa depan keuangannya dan cenderung tidak memikirkan yang lainnya.
Cheng Yu menjawab Hua Fei Wu, “Mereka menyebutku Master Bunga karena aku adalah bos besar Menara Sepuluh Bunga, tetapi aku tidak memiliki kendali keuangan apa pun. Zhu Jin adalah bos kita yang sebenarnya.”
Hua Fei Wu agak kaget dan menanyainya, “Lalu, darimana kau menemukan uang untuk mencariku hari ini?”
Cheng Yu memandangi langit, dan menjawab acuh tak acuh: “Memenangkan uang di rumah judi.”
Hua Fei Wu terkejut ketika Zhu Jin, yang muncul secara tergesa-gesa mencari Cheng Yu, mendengar apa yang dikatakannya, dan segera membawanya kembali ke Menara Sepuluh Bunga, dimana ia dikurung selama sepuluh hari lagi.
Hua Fei Wu sangat berniat menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya di alam fana. Setelah bertahan melalui timbul-tenggelamnya di tempat berfoya-foya seperti Lin Lang Ge selama lebih dari setahun, ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menemukan cinta sejati dalam dunia permainan manusia di antara anak-anak hedonistik dari orang tua yang kaya.
Dengan wawasan ini, Hua Fei Wu akhirnya jadi pintar untuk satu kali dan sangat merasa bahwa ia perlu mencari cara lain untuk meraih impiannya.
Namun, karena ia tidak terbiasa dengan cara-cara dunia fana, ia termangu untuk waktu yang lama sebelum akhirnya mendekati satu-satunya teman dekat manusianya—Cheng Yu yang berumur empat belas tahun—untuk menjadi konsultannya.
Untuk keluarga kaya di Dinasti Da Xi, dalam hal membesarkan anak perempuan, jika tetua keluarga dapat diandalkan dan teliti, mereka akan menunggu hingga si anak tumbuh sekitar tiga belas atau empat belas tahun, sebelum membuat rencana untuk mencarikannya pernikahan yang diharapkan.
Alasan kenapa Hua Fei Wu meminta bantuan Cheng Yu adalah karena ia saat ini dalam usia pernikahan, dan seharusnya lebih fasih dalam urusan romantis dunia fana, menjadikannya orang yang tepat sebagai konsultannya.
Karena Cheng Yu sudah kehilangan kedua orang tuanya semenjak ia masih kecil, kedua siluman bunga, Zhu Jin dan Li Xiang sudah susah payah membesarkannya hingga dewasa. Mereka tidak mematuhi etiket tradisional membesarkan seorang putri yang berbudi luhur, memilih untuk mementingkan kepribadiannya yang ceria dan kesehatannya terlebih dulu.
Demi menguatkan tulangnya, Zhu Jin diam-diam setuju untuk membiarkannya mengambil identitas Tuan Muda Yu, memungkinkannya bergaul dengan para remaja yang sangat bersemangat dan lincah di pasar Kota Ping An, menembakkan panah, bergulat, dan memainkan sepak bola Cina. Ini mengakibatkan Cheng Yu mengembangkan sifat yang agak tomboi.
Meskipun Putri Giok Merah, Cheng Yu, sudah mencapai usia yang sama seperti gadis lainnya di Kota Ping An yang mulai diam-diam memikirkan tentang seperti apa calon suami mereka, hal pertama yang paling penting dalam hidupnya adalah bagaimana caranya menghasilkan lebih banyak uang, dan hal terbesar kedua adalah bagaimana mencetak gol yang lebih hebat di kompetisi sepak bola Cina berikutnya.
Alhasil, ketika Hua Fei Wu yang lelah berpergian sampai di Menara Sepuluh Bunga untuk mendiskusikan kehidupan romantisnya dengannya, Cheng Yu baru saja menyelesaikan beberapa halaman tugas sekolah untuk Wan Yan Zhai dan tidak sempat menyembunyikan mereka, jadi ia pun dalam keadaan linglung sepanjang percakapan tersebut.
Tetapi, ia memiliki semangat persaudaraan, dan menduga bahwa masalah ini tidak begitu sulit untuk ditangani. Setelah mengirim Hua Fei Wu pergi, ia pun mengurung diri, dan fokus mempelajari novel mitos tentang makhluk abadi, roh, siluman dan manusia dengan takdir yang saling terkait.
Setelah menjejalkannya selama beberapa hari, ia merasa seolah ia serba tahu, sehingga ia pun menunju Lin Lang Ge keesokan harinya.
Gagasan pertama yang diusulkan Cheng Yu pada Hua Fei Wu adalah konsep meminjam dan mengembalikan payung dari novel, “Si Wanita Berbaju Putih Menimbang Pagoda Lei Feng”.
Dikatakan bahwa, Xu Xuan meminjamkan si Wanita Berbaju Putih sebuah payung di bawah atap kedai teh di pintu masuk gang Shen Gong. Keesokan harinya, Xu Xuan pergi ke rumah si Wanita Berbaju Putih untuk mengambil kembali payungnya. Tindakan meminjamkan dan mengembalikan payungnya membentuk ikatan rasa terima kasih, dan cinta bersemi, berpuncak pada cerita << Legenda Siluman Ular Putih >>.
Ia menganjurkan Hua Fei Wu untuk mencoba memanfaatkan hujan lebat untuk menunggu di penyeberangan perahu di sebelah utara kota dengan payung cadangan. Apabila ia melihat seorang pria tampan turun dari perahu tanpa payung, ia bisa menawarkan untuk meminjamkan payung, boleh jadi menjebak jiwa yang sial untuk memenuhi percintaan yang tidak biasa dengannya.
Hua Fei Wu, yang berasal dari pegunungan yang dalam, belum banyak melihat dunia dan juga tidak banyak membaca. Ia langsung berpikir bahwa itu adalah ide yang luar biasa, sehingga ia pun pergi dengan senang hati untuk mempersiapkan payung sebelum ia bahkan mendengarkan gagasan kedua.
***
Langit sangat murah hati.
Hujan turun keesokan harinya.
Cheng Yu masih tertidur saat Hua Fei Wu menyeretnya keluar dari Menara Sepuluh Bunga ke penyeberangan perahu kecil di utara kota.
Ada paviliun kayu di dekat penyeberangan perahu kecil ini, dan di sinilah kedua wanita itu bercakap-cakap secara pribadi.
Hua Fei Wu menunjuk ke dua keranjang bambu besar yang ditutupi kertas minyak dan dengan gugup bertanya pada Cheng Yu, “Aku sudah membawa dua puluh payung, Master Bunga, menurutmu, itu cukup?”
Cheng Yu sedikit bingung selagi ia menjawab, “Huh?”
Hua Fei Wu mengusap tangannya dan berkata, “Beginilah rencanaku. Kalau-kalau para bangsawannya semua muda, tampan dan berbakat, dan jika aku menyukai mereka semua, satu atau dua payung tidak akan cukup, jadi aku membawa dua puluh payung supaya aman, meskipun ini mungkin nyaris tidak cukup agar rencananya tanpa kendala.”
Cheng Yu berjongkok dan mulai mengobrak-abrik payung di dalam keranjang bambunya, dan menanyai Hua Fei Wu, “Kita harus membawa dua keranjang payung ini ke pintu masuk penyeberangan perahu, lalu aku akan menjaga mereka sembari berdiri di sebelahmu, jadi ketika kau melihat seseorang yang kau sukai, aku akan menyerahkan payungnya kepada orang itu, kan?”
Ia dengan tulus menasihati Hua Fei Wu, “Ini mungkin membuat kita kelihatan seperti sedang menjual payung.”
Sebuah inspirasi pun muncul selagi ia berbicara sampai di titik ini, “Hari ini adalah hari dimana menjual payung adalah hal yang bagus, kita ....”
Hua Fei Wu cepat-cepat menyelanya, “Master Bunga, kenapa kau tidak tetap di sini saja untuk menjaga dua keranjangnya, pertama-tama, aku akan membawa beberapa payung bersamaku untuk mengintai ke depan. Jika muatan perahu ini memiliki barang berkualitas, aku akan kembali untuk mengambil yang lainnya, tetapi kalau tidak, tiga atau empat payung semestinya cukup untuk kuberikan.”
Cheng Yu memandangi dua keranjang bambu di hadapannya dan menyetujui dengan cepat.
Hua Fei Wu menanggapi apa yang dikatakan hanya setelah ia sudah berjalan keluar dari paviliun dan buru-buru mundur untuk menginstruksikan Cheng Yu, “Master Bunga, bersumpahlah padaku kalau kau tidak akan menjual payung-payung yang kutinggalkan.”
Menggambar lingkaran di tanah dengan kakinya, Cheng Yu menjawab, “Baiklah,” ia mengangkat kepalanya dan melirik malu-malu padanya, “Kalau begitu ... bisakah kau memberitahuku, dengan harga berapa aku tidak boleh menjualnya?”
Hua Fei Wu menggertakkan gerahamnya, “Kau tidak boleh menjualnya dengan harga berapa pun!”
***
Paviliun kecil itu terletak di daerah terpencil. Ada dua pohon di depan paviliun, menghadangnya dari pandangan, sehingga tidak banyak orang yang akan menemukannya dan menggunakan untuk menghindari hujan.
Cheng Yu menjaga payungnya hingga ia mulai mengantuk.
Dalam keadaan mengantuk, ia mendengar suara seorang pria yang mendarat di atas kepalanya, “Berapa harga yang kau jual untuk payungnya?”
Ia terperangah, setengah membuka matanya, dan melihat sepasang sepatu bot berpola awan bersol putih yang basah sebagian. Menengadah sedikit lebih jauh, ia melihat sudut jubah putih yang setengah basah.
Meskipun otak Cheng Yu belum sepenuhnya terjaga, ia masih bisa mengingat apa yang diinstruksikan Hua Fei Wu sebelum ia pergi, jadi ia pun samar-samar menjawab pelan, “Oh, tidak untuk dijual.”
Di luar paviliun, suara angin dan hujan pun menyatu, dan di tengah-tengah suara hujan deras, orang itu berkata acuh tak acuh, “Aku sungguh ingin membelinya. Buka harga, adik kecil.”
Seolah-olah ia berada dalam posisi yang sulit, Cheng Yu mengucek matanya selagi ia menjawab, “Tidak ada harganya.”
“Benarkah begitu? Dari sekian banyaknya payung, tidak ada satu pun yang bisa diberi harga? Ini benar-benar menarik.”
Tanda ketertarikan pun merayap ke dalam suara itu, tampak seolah-olah pemiliknya merasa bahwa hal ini betul-betul menarik.
Cheng Yu diam-diam berpikir bahwa, kalau ia tidak mau jual, maka ia tidak akan menjualnya, dan bertanya-tanya, bagaimana ini bisa menarik. Ia kebetulan sudah selesai mengucek matanya, dan mendongakkan kepalanya untuk menatap mata orang itu.
Mata pria itu juga secara kebetulan melirik ke arahnya, dan tatapan mereka bertemu di udara. Cheng Yu teralihkan untuk sesaat. Pria itu menundukkan kepalanya dan mulai mengobrak-abrik dan mencabut sebuah payung dengan tangannya. Jemari di tangan itu putih berkilau dan ramping, seperti giok bening.
Pria itu berujar sambil lalu, “Dengan hujan sederas ini, juallah sebuah payung padaku, Adik Kecil. Anggap saja sebagai perbuatan baik dan tawarkan aku kemudahannya. Sepakat?”
Cheng Yu tidak menjawabnya karena ia benar-benar bingung.
Saat itu tentang bakat menghargai keindahan, tak ada orang lain selain Tuan Muda Yu di Dinasti Da Xi yang bisa mengklaim tempat nomor satunya. Tuan Muda Yu tumbuh besar di Menara Sepuluh Bunga dan kerap mengunjungi Lin Lang Ge sejak ia masih sangat muda. Oleh karena itu, bahkan mendiang Kaisar yang memiliki tiga ribu wanita cantik di haremnya, tidak memiliki secuil pun bakat yang dimiliki Tuan Muda Yu.
Bakat luar biasa Cheng Yu dalam menghargai keindahan adalah sesuatu yang pelan-pelan tumbuh akibat pengaruh paparan sehari-harinya akan orang-orang rupawan. Ia memiliki sebuah rahasia yang hanya diketahui flora—ia terlahir dengan kemampuan untuk melihat bunga serta tanaman selama musim berbunga seperti wanita cantik yang memesona atau pria tampan, terlepas apakah mereka dapat bertransformasi menjadi manusia atau tidak.
Ambil contoh, Yao Huang, sebuah bunga yang masih belum bertransformasi. Ketika belum musim berbunga, Cheng Yu melihatnya sebagai bunga peony yang kuncup, tetapi begitu ia mekar, apa yang dilihatnya bukan lagi Yao Huang si bunga, tetapi seorang pemuda tampan yang duduk di mejanya sepanjang hari, menatap jijik ke ruangannya. Awalnya, ini memberikannya banyak stres, tetapi kali berikutnya Yao Huang mekar, ia memindahkananya ke kamar Zhu Jin di sebelah.
Sejak saat itu, ia dapat mendengar mereka berdua mengobrol sampai larut tiap malam. Kedua siluman bunga itu suka membaca dan senang belajar, jadi ia bahkan bisa mendengar Yao Huang dan Zhu Jin mendiskusikan teorema Phytagoras dalam cahaya lilin di mimpinya. Ini benar-benar kenangan yang tak tertahankan untuk diingat-ingat ....
Alhasil tumbuh dengan cara ini, Cheng Yu jadi agak kebal terhadap “keindahan”. Memandangi wajah orang asing dan menjadi betul-betul linglung adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi padanya semenjak ia lahir. Ini membuatnya merasa agak aneh, dan ia tidak tahan untuk memandangi pemuda di depannya dua kali lagi.
Ia menyadari bahwa rambut dan pakaian pemuda itu setengah basah gara-gara hujan, tetapi ia tetap tak terlihat seperti sosok yang menyedihkan. Bicara secara masuk akal, ia sudah berjalan di dalam hujan untuk beberapa lama, jadi ujung jubah dan sepatunya seharusnya ternoda oleh lumpur, tetapi jubah putih dan sepatunya tetap bersih.
Pemuda itu menyadari tatapan terpaku Cheng Yu, dan menaksirnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki sebelum sekonyong-konyong ia tersenyum. Senyum itu tidak mencapai dasar matanya, jadi itu kelihatan agak dingin. Senyum ini dingin, namun memiliki kesan romantis. Cheng Yu sudah bertemu dengan banyak orang rupawan, tetapi belum pernah melihat orang dengan tabiat yang bertentangan seperti ini.
Di tengah suara lembut angin dan hujan, pemuda itu mengangkat alisnya dan berkata, “Kau adalah seorang gadis.”
Cheng Yu tidak pernah ketahuan saat berdandan sebagai lelaki, jadi suara boom pun meledak di benaknya, tetapi ia tidak memedulikan apa yang diucapkan pemuda itu. Seluruh tubuh dan pikirannya tertuju ke wajah pemuda itu—alis yang terangkat memunculkan keceriaan dari dalam wajah dinginnya, membuat wajah itu benar-benar rupawan.
Cheng Yu begitu tenggelam dalam ketertarikannya sampai-sampai ia tetap terpana, tetapi ia masih tidak lupa merencanakan untuk teman baiknya, Hua Fei Wu. Ia adalah teman baik panutan.
Roda pikirannya mulai berputar dengan sangat cepat, selagi ia memikirkan si pemuda yang buru-buru memasuki paviliun. Wajah seperti ini, praktisnya bisa menggerakkan Kekaisaran Langit di atas, dan Dewi Bumi di bawah, jadi akan mustahil bagi Hua Fei Wu untuk menolaknya. Tetapi, takdir bergantung pada kesempatan, dan Hua Fei Wu tidak ada di sini sekarang, jadi ia membutuhkan dirinya untuk membuat keputusan mewakilinya sekali ini.
Pemuda itu berbicara sekali lagi, “Nona, payung ini ....”
Sebelum ia bisa selesai bicara, ia disela oleh payung ungu yang dipersembahkan di hadapannya.
Cheng Yu menatapnya dengan mata berkilauan, “Payung ini tidak boleh dijual, tetapi aku bisa meminjamkanmu satu. Ingatlah untuk mencari satu hari untuk mengembalikannya ke Lin Lang Ge.”
Ia menambahkan, “Carilah Hua Fei Wu.”
Pemuda itu mengambil payungnya, dan menundukkan kepalanya, memainkannya sejenak, “Lin Lang Ge, Hua Fei Wu?”
Cheng Yu menganggukkan kepalanya, dengan enggan menarik tatapannya dari wajah si pemuda. Pemuda itu meliriknya lagi. Itu adalah tatapan tanpa kehangatan, tetapi di ceruk terdalam pupilnya, muncul sedikit minat, dan pandangan yang tertuju ke wajahnya bertahan sedikit lebih lama, memungkinkan Cheng Yu untuk menyadari bahwa pupilnya berwarna kuning gelap.
“Kalau aku tidak salah ingat, Lin Lang Ge adalah sebuah rumah bordil. Nona, kau kelihatan seperti seorang nona muda dari keluarga yang baik,” kata pemuda itu.
Apa yang benar-benar dimaksudnya adalah menanyakannya, mengapa ia harus mengembalikan payung itu ke Lin Lang Ge.
Ini adalah cerita yang panjang, dan ia benar-benar terlalu malas untuk menjelaskan, jadi Cheng Yu pun dengan santai mencari alasan untuk dirinya sendiri, “Tidak ada lagi, hanya saja, aku sering pergi ke Lin Lang Ge untuk bersenang-senang, itu saja.”
Pemuda itu memandanginya, tatapannya berpindah dari matanya, turun ke dagunya dan berhenti, kemudian ia melanjutkan pandangannya ke bawah beberapa inci, “Untuk bersenang-senang.”
Pemuda itu tersenyum, “Apa kau tahu, tempat macam apakah rumah bordil itu?”
Cheng Yu tahu betul apa itu, dan menjawab tanpa ragu-ragu, “Sebuah tempat dimana orang bisa memanjakan diri dalam mencari kesenangan.”
Ekspresi pemuda itu agak mendalam, “Sebagai seorang gadis, bagaimana bisa kau mencari kesenangan di rumah bordil?”
Cheng Yu terjebak, bagaimana bisa ia mencari kesenangan dan bersenang-senang di sebuah rumah bordil? Yang dilakukannya hanyalah menghabiskan uang untuk sesi hotpot bersama Hua Fei Wu, tetapi mana mungkin ia mengatakannya dengan lantang?
Ia bergumam lama sebelum menjawab pemuda itu samar-samar, “Untuk minum anggur dan apa yang tidak ....”
Setelah ketidakjelasannya, akhirnya ia teringat bahwa alasan ia meladeni pemuda berjubah putih ini adalah untuk menjodohkan Hua Fei Wu dengannya, jadi tidak ada alasan untuk membocorkan begitu banyak hal tentang dirinya sendiri kepadanya.
Karena itu, ia pun dengan cerdik mengalihkan topiknya langsung ke Hua Fei Wu, bahkan secara logis mengaitkan fakta bahwa ia adalah pelanggan tetap rumah bordil itu, dan dengan serius memberitahu si pemuda, “Jadi, kau bisa percaya bahwa aku dan Ratu Bunga Lin Lang Ge, Hua Fei Wu sangat akrab satu sama lain.”
Pemuda itu berkata, “Oh.”
Apa artinya “oh”?
Cheng Yu tidak bisa sepenuhnya mengerti untuk sesaat, tetapi ia cukup jeli untuk memahami apa maksudnya melalui bahasa tubuhnya. Ia merasa bahwa pemuda ini tidak terlihat seolah ia membenci berbincang dengannya, sehingga ia pun melepaskan dirinya, hatinya memohon pengampunan dan para Dewa Surgawi dan Buddha untuk dosa yang akan datang karena berbicara omong kosong.
Dengan kedua tangan menepuk ringan dadanya, ia berkata, “Kenapa payung ini dikembalikan kepada Hua Fei Wu? Itu karena, payung ini sungguh bukan punyaku, ini milik Hua Fei Wu. Dan tentang Hua Fei Wu, ia bukan hanya cantik, tetapi juga memiliki hati seperti Bodhisattva. Ia sering datang ke penyeberangan perahu pada hari hujan untuk menjaga keselamatan orang-orang yang terkena hujan, dan itulah mengapa, payung ini tidak boleh dijual.”
Semakin banyak omong kosong yang dibuatnya, semakin ia menjadi bersemangat soal itu, dan mulai memercayai apa yang ditumbuhkannya.
Ia bahkan memberikan saran tepat waktu kepada si pemuda berjubah putih, “Hua Fei Wu bersifat anggun dan lembut, dan sangat pandai dalam bernyanyi dan menari. Jika kau bisa meluangkan waktu setelah mengembalikan payungnya, kau harus tinggal untuk mengapresiasi suara jernih dan tariannya yang indah. Katanya, saat putra kedua Pejabat Tinggi Zuo mendengarkan suaranya yang berbeda, ia jadi benar-benar terpesona oleh suaranya, dan setelah Marquis Muda Lin melihat tarian pedangnya, ia membubarkan seluruh rumah penarinya.”
Ia bercerita panjang-lebar hingga ia sangat senang, dan bahkan merasa bahwa ia memiliki bakat sastra. Ia telah menggunakan serangkaian persamaan untuk menyanjung prestasi Hua Fei Wu. Tetapi setelah kegembiraan itu, ia menyadari ia sudah membuat kesalahan—orang yang bisa menari pedang bukanlah Hua Fei Wu.
Selain dari kecantikannya dan suaranya yang cukup bagus, Hua Fei Wu praktisnya tidak memiliki bakat luar biasa lainnya. Yang terkenal di seluruh ibu kota kerajaan untuk tarian pedangnya adalah musuh bebuyutan Hua Fei Wu.
Ia buru-buru mengarang untuk Hua Fei Wu, “Namun, Fei Wu baru-baru ini kakinya terkilir, jadi kemungkinan kau tidak akan bisa menyaksikan tariannya, sayang sekali.”
Sementara ia menghela napas penuh penyesalan, ia mencuri pandang ke si pemuda berjubah putih, pikirannya yang paling dalam merasa bahwa, bahkan tongkat kayu pun akan tergerak dengan upaya yang dibuatnya, jadi ia mengharapkan wajah si pemuda untuk menunjukkan ketertarikan.
Namun, pemuda itu menundukkan kepalanya untuk memandangi payung di tangannya, dan tidak tampak banyak bereaksi. Cheng Yu tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi di wajahnya.
Setelah beberapa saat, ia mendengar pemuda itu menanyainya, “Jadi Nona, siapa namamu?”
Cheng Yu linglung, “Huh?”
Pemuda itu membuka payungnya, dan payungnya pun mengembang dengan bunyi pop, wajahnya kini terhalang di balik payung.
Tindakan pemuda itu, yang memegangi payung dengan gagangnya dan mengangkatnya ke atas tidaklah lambat, tetapi Cheng Yu menangkap seluruh rangkaian gerakannya. Setelah gerakan itu, tepian payungnya pertama-tama memperlihatkan lekukan dagu yang dingin dan tegas, diikuti bibirnya dan pangkal hidungnya, dan akhirrnya sepasang mata kuning gelap yang tak bisa ditebak itu.
Di bawah payung, pemuda itu mengulang dengan suara rendah, “Aku bertanya, siapa namamu, Nona?”
Cheng Yu butuh waktu lama untuk bereaksi, dan terbatuk satu kali, “Ah, aku ....”
Ia berkata, “Aku hanya jiwa baik yang kadang-kadang dibawa Hua Fei Wu untuk membantunya saat ia melakukan perbuatan baiknya, nama dan semacamnya sebenarnya tidak layak untuk disebutkan.”
Pemuda itu tersenyum dan tidak bertanya lagi. Ia hanya mengucapkan sepatah kata terima kasih, dan berjanji untuk mengembalikan payungnya ke Lin Lang Ge keesokan harinya. Sesudah itu, ia mengangkat langkahnya dan berjalan ke hujan yang turun.


0 comments:
Posting Komentar