Selasa, 28 April 2026

CTF - Chapter 340

Consort of A Thousand Faces

Chapter 340 : Berjanji Seumur Hidup


Ketika Pei Qian Hao melihat betapa serius Su Xi-er, ia mengulurkan tangan kanan dan membawanya dekat ke dadanya. "Pangeran ini tidak tahu bagaimana cara untuk menyenangkan wanita, aku juga tidak tahu bagaimana cara mengutarakan kata-kata manis itu. Apakah luka di tanganmu sudah mendingan?"

Meskipun ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan ketulusan dan perhatiannya, tindakannya lebih dari cukup bagiku untuk memahaminya.

Kepala Su Xi-er bersandar di dadanya, mendengarkan degupan jantungnya yang kuat. "Jauh lebih baik. Keropeng yang baru sudah terbentuk, dan akan lepas beberapa hari lagi."

"Pangeran Hao, apakah Anda akan membawa hamba ke istana di hari Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin?" Su Xi-er menengadahkan kepalanya, menatapnya dan bertanya. Sengaja memilih hari Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin ... apakah ia bermaksud untuk mengumumkan bahwa ia akan mengambilku sebagai Wang Fei-nya kepada seluruh pejabat di perjamuan istana tersebut?

"Ada tiga perjamuan istana yang penting di Bei Min: satu adalah perjamuan kerajaan; yang lainnya adalah perjamuan Tahun Baru; dan yang ketiga adalah perjamuan Titik Balik Matahari Musim Dingin. Sehari sebelum dan sesudah perjamuan-perjamuan itu adalah yang paling bertanda baik dan cocok untuk pernikahan." Pei Qian Hao berujar perlahan sementara ia membelai rambutnya.

Paling cocok untuk pernikahan. Ada kilat yang melintas di mata Su Xi-er. Kalau begitu kasusnya, apakah ia berencana untuk mempersiapkan semuanya untuk sebuah pesta pernikahan setelah festival tersebut?

Kalau aku sungguh menikahinya, maka jati diriku yang sebenarnya .... Alis Su Xi-er tertaut, dan tatapannya mendalam.

"Ada masalah apa?" Pei Qian Hao dengan lembut mengusap pelipisnya guna menenangkan Su Xi-er.

"Pangeran Hao, apakah Anda akan menikahi hamba, tak peduli siapakah sebenarnya hamba ini? Akankah Anda memperlakukan hamba setulus hati, dan hanya memiliki hamba di sisi Anda seumur hidup Anda?" Su Xi-er menatapnya dengan pandangan sungguh-sungguh di matanya.

Aku tidak memercayai pria, tetapi entah mengapa aku memercayai ucapan Pei Qian Hao .... Ia adalah seseorang yang tidak pernah berbohong, dan membenci orang yang melakukannya.

Pei Qian Hao dapat melihat keseriusan di dalam matanya. Membutuhkan sesuatu seperti konfirmasi secara verbal ... wanita itu sulit. Apabila aku tidak menikahinya, siapa lagi yang akan kunikahi? Apakah ia berpikir kalau aku akan membiarkannya melarikan diri bersama pria lain?

"Pangeran ini akan memberikan segala hal yang kau inginkan, mengerti?" Pei Qian Hao berkata dengan suara dalamnya yang biasa dengan tatapan penuh kesungguhan yang selaras dengan tatapan Su Xi-er.

Mata Su Xi-er melengkung membentuk senyuman. Ia berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, hamba memercayai Anda. Walaupun hamba tidak mengatakan apa-apa, aku mengingat segala hal yang Anda lakukan untukku."

"Aku lihat, kau masih punya hati nurani." Pei Qian Hao menundukkan kepalanya, dan bibirnya perlahan-lahan mendarat di bibir Su Xi-er.

Aroma lembut wanita, bercampur lembut dengan aroma maskulin pria.

"Karena aku memercayai Anda, maka itu artinya bahwa aku sudah memutuskan bahwa Andalah orangnya. Jika ...."

Sebelum Su Xi-er bisa selesai bicara, Pei Qian Hao membungkamnya dengan ciuman lainnya. "Jangan mengatakan apa pun yang tak ingin kudengar."

Setelah itu, ia mulai mencium Su Xi-er lebih kuat. Tangannya juga jadi lebih berani, meraba-raba seluruh tubuh Su Xi-er hingga ia terdorong ke tepian ranjang.

Dulu, Su Xi-er selalu menolak Pei Qian Hao, sehingga ia merasa senang sekarang, karena gadis itu jadi penurut. Tangannya membelai bahu telanjang Su Xi-er selagi jubahnya melorot, bibirnya menemani mereka perlahan-lahan.

Namun, Pei Qian Hao terdiam dan menatapnya dalam ketika ia merasakan keropeng di tangan Su Xi-er.

Akhirnya, ia menarik kembali pakaiannya. "Aku akan menunggu hingga kau pulih sepenuhnya. Aku sudah menunggu begitu lama; beberapa hari lagi bukan apa-apa."

Tiba-tiba saja, Su Xi-er tertawa, suara tawa seperti loncengnya memasuki telinga Pei Qian Hao. "Kapan Anda mulai memiliki pemikiran buruk tentang hamba? Anda mengatakan bahwa Anda telah menunggu begitu lama."

"Aku sudah menunggu semenjak kehidupanku yang terakhir. Bukankah itu lama?" Pei Qian Hao bercanda selagi ia terus merapikan pakaian Su Xi-er.

Su Xi-er berpikir. Ia bilang kalau ia tidak tahu bagaimana caranya menggunakan kata-kata manis untuk menyanjung wanita, tetapi bukankah apa yang baru saja dikatakannya, lebih manis dari apa pun?

Tiba-tiba saja, ada suara ketukan panik di pintu sewaktu suara Wu Ling langsung mengikuti. "Pangeran Hao .... Bawahan ini punya permintaan."

Tangan Pei Qian Hao berhenti bergerak. Tidakkah ia tahu bahwa aku berduaan dengan Su Xi-er? Mengapa ia harus memilih waktu ini untuk mengganggu kami?

"Pangeran Hao, Komandan Wu pasti dalam masalah. Hamba akan pergi dan membukakan pintu." Su Xi-er bangkit dari ranjang, merapikan gaunnya, dan membukakan pintu.

Ketika Wu Ling melihat wajah merona merah Su Xi-er, sekaligus dengan ekspresi gelap Pei Qian Hao, hatinya bergetar. Aku .... Apakah aku mengganggu Pangeran Hao di tengah-tengah sesuatu?

(T/N: Iye bang wuling, uda ganggu banget emang XD)

"Ada apa?" Pei Qian Hao duduk di satu kursi dan bertanya dingin.

Suara Wu Ling tidak bisa menahan getaran kecilnya selagi ia memohon, "Ye Qing Zhu ada di sini, dan ia mengetahui bahwa hamba berada di sini juga. Pangeran Hao, bisakah Anda memikirkan sesuatu untuk membantu bawahan ini menjauhkannya?"

"Kau sudah mengetahui selama beberapa tahun bahwa ia mengganggumu. Bukankah semestinya kau sudah terbiasa dengan itu?" Suara Pei Qian Hao tenang dan menunjukkan sikap yang tak pedulian.

"Bawahan ini selalu memperlakukannya seperti seorang adik perempuan. Aku mengira, kalau aku memperlakukannya dengan dingin, maka ia akan menyingkirkan perasaannya. Aku tidak tahu bahwa perasaannya malah akan jadi semakin kuat." Wajah Wu Ling menunjukkan ekspresi kesal.

Su Xi-er bertanya, "Komandan Wu, berapa umurmu tahun ini?"

Wu Ling kaget sejenak. Mengapa ia mendadak menanyaiku, berapa umurku? Apakah ia akan mendesakku untuk menikah? Aku tidak bisa; Pangeran Hao saja masih belum menikah!

Namun, ia tidak dapat terpikirkan yang lain untuk dikatakan, sehingga ia menjawab jujur. "Aku lebih muda daripada Pangeran Hao. Pangeran Hao masih belum menikah, jadi bawahan ini tidak terburu-buru."

Wu Ling tidak tahu bahwa kata-katanya membuat seseorang kesal. Menyiratkan bahwa aku tua di depan Su Xi-er .... Aku belum melupakan bagaimana Su Xi-er dan si Ning Lian Chen yang muda dan kuat itu saling menggoda.

"Wu Ling, kau tangani masalahmu sendiri. Enyahlah." Suara Pei Qian Hao dingin sekali sewaktu ia menuangkan secangkir teh untuknya sendiri.

Wu Ling terperangahEnyahlah?

"Komandan Wu, kau harus duduk dan berbincang secara pantas dengan Ye Qing Zhu. Kalau kau terus menghindarinya, situasi yang sama hanya akan terulang lagi. Pada akhirnya, ia bahkan mungkin akan menahanmu untuk menikahi orang lain. Bagaimana bisa kau mengetahui kapan orang yang kau sukai mungkin muncul?"

Wu Ling merenungkan kata-katanya. Ia benar, aku tidak bisa bersembunyi lagi. Aku harus berbicara secara layak pada Ye Qing Zhu, demi kami berdua.

Wu Ling mulai beranjak pergi, kemudian ia terdiam dan berbalik. "Nona Xi-er, bagaimana aku harus berbicara pada Ye Qing Zhu?"

Su Xi-er merasa tak berdaya. Apa yang ada dalam kepalanya? Apakah ia tidak tahu bagaimana caranya berbicara pada seorang gadis?

Wu Ling menghela napas sebelum mengumpulkan keberaniannya dan berbalik pada Pei Qian Hao. "Pangeran Hao, Ibu Suri adalah adik perempuan Anda, tetapi ia memiliki perasaan yang lain terhadap Anda. Apa yang Anda katakan pada Ibu Suri?"

Semua orang mengetahui bahwa Pangeran Hao dan Ibu Suri memiliki hubungan yang aneh, tetapi tak ada seorang pun yang berani membahasnya secara terbuka. Bagi Wu Ling, secara langsung mengajukan pertanyaan semacam itu, tampaknya ia sungguh merasa telah tersudut oleh Ye Qing Zhu.

Su Xi-er juga merasa penasaran tentang masalah ini. Ibu Suri selalu menargetkanku. Faktanya, ia masih melakukan itu, dan masih belum menyerah soal Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao tidak marah maupun kesal. Ia mengambil cangkir tehnya perlahan dan menyesapnya. "Kau mau tahu?"

Wu Ling dengan tegas mengangguk. Su Xi-er juga menjadi bersemangat.

Setelah sesaat, suara rendah dan dalamnya terdengar. "Sangat mudah. Pangeran ini menghancurkan sebuah meja redwood dengan tanganku di Istana Kedamaian Penuh Kasih."

Sudut mulut Wu Ling berkedut. Pangeran Hao kasar sekali. Ia bahkan menghancurkan sebuah meja di Istana Kedamaian Penuh Kasih!

Su Xi-er juga tidak mengetahui tentang ini, tetapi merasakan jantungnya berdegup kencang ketika ia mendengarnya.

"Bawahan ini tidak bisa menggunakan metode Pangeran Hao. Bawahan ini akan undur diri." Wu Ling menangkupkan kedua tangan untuk memberi hormat sebelum berbalik pergi. Ini adalah sesuatu yang harus kuhadapi sendiri.

(T/N : Bang Wu Ling, jangan minta saran Bang Hao, sesat. Lah wong dianya sendiri ja masih rada-rada begitu sama Su Xi-er. Wkwk.)

0 comments:

Posting Komentar