Selasa, 10 Maret 2026

CTF - Chapter 276

Consort of A Thousand Faces

Chapter 276 : Tidak Ada Kesempatan


Mendengarkan panggilan sayang 'Lan-er' yang lolos dari bibir Yun Ruo Feng, Su Xi-er merasakan jijik dalam dirinya. Dulu, ia menyukainya saat pria itu akan memanggilnya dengan sesayang itu ... tetapi waktu seperti itu sudah lama lenyap. Tidak mungkin untuk kembali ke masa lalu.

Sekarang ini, ia hanya ingin melucuti Yun Ruo Feng atas segala yang dimilikinya. Sedikit demi sedikit, aku akan membiarkanmu mengalami rasa sakit dan siksaan yang kulalui; perasaan terjatuh dari puncak, perasaan ditipu dan dipermalukan oleh orang lain ... Yun Ruo Feng, bagi seseorang yang terobsesi dengan kekuasaan seperti dirimu, aku sungguh harus bertanya-tanya, seberapa sakitnya karena pengaruhmu untuk terkikis sedikit demi sedikit darimu. Aku tidak akan membunuhmu sekarang, karena kau bahkan tidak pantas untuk mati. Penderitaan tanpa akhir, harus jadi tujuan terakhirmu.

Yun Ruo Feng memerhatikan selagi Su Xi-er diam-diam balas menatapnya sebelum mencoba meyakinkannya lagi. "Lan-er, Pei Qian Hao kejam dan tak berperasaan. Ia bersikap dingin terhadap semua orang, menyembunyikan pemikirannya jauh di dalam hatinya. Ia mungkin tampak seperti buku yang terbuka, tetapi tidak ada yang dapat melampaui kebenaran. Lan-er, kau tidak boleh pergi bersama Pei Qian Hao. Pangeran ini akan mendapatkanmu kembali ...."

(T/N : berani-beraninya dia bilang Hao kayak gitu. Hiss, emang ini orang minta dilempar keluar dari jendela.)

Yun Ruo Feng disela dengan tatapan tajam sebelum ia dapat melengkapi kalimatnya. Apa ia tidak punya malu? Menyebut Pei Qian Hao kejam dan tak berperasaan ... memikirkan kalau ia sanggup mengucapkan kata-kata semacam itu! Mata Su Xi-er dipenuhi dengan penghinaan dan rasa jijik. Yun Ruo Feng melihat wajahnya, dan segera mengerti. Tampang di wajahnya menggelap, tetapi dengan cepat digantikan dengan topeng yang lembut.

"Lan-er, penampilanmu sudah berubah, dan kau terus hidup; ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan Langit kepadamu dan diriku. Jika kau sungguh membenciku sampai ke intinya, kau tidak akan berbicara padaku setenang sekarang. Bukankah alasan kau membuat Pei Qian Hao tetap berada di rumah pos adalah karena kau sedang menungguku?" Yun Ruo Feng berujar perlahan, tangannya terulur dan ingin memeluk Su Xi-er.

Su Xi-er minggir ke samping dan sekali lagi, menghindari tangan terulur Yun Ruo Feng. Ia hanya meninggalkan rumah pos untuk mengambil hiasan rambut beruntai dan mengunjungi Paviliun Angin Cyan, tetapi Yun Ruo Feng berpikir kalau ia di sini demi pria itu.

"Bukankah kau sedang menunggu Pangeran ini?" Yun Ruo Feng mendadak berubah serius dan memerhatikan Su Xi-er. Mungkin aku keliru. Dengan seberapa angkuh dirinya, mana mungkin ia bersedia untuk menurunkan harga dirinya dan menungguku? Mengapa aku memiliki pemikiran konyol seperti ini? Aku bahkan sampai repot-repot untuk menghindari pengawal kekaisaran Pangeran Hao supaya aku bisa datang.

Su Xi-er mendengus dan menatap Yun Ruo Feng. "Dengan mata yang mana kau melihat aku sedang menunggumu?"

Yun Ruo Feng mengerutkan keningnya. Tak peduli semarah apa dirinya di kehidupannya yang lalu, ia tidak akan pernah berbicara padaku dengan cara yang semasam dan setidak tertarik itu. Cinta melahirkan kebencian, dan alasan mengapa ia menampilkan kebencian seperti ini terhadapku sekarang, adalah karena seberapa banyak ia mencintaiku sebelumnya.

"Ning Ru Lan, kau masih mencintai Pangeran ini," Yun Ruo Feng berujar pasti dengan tampang menyetujui. Jika ia tidak mencintaiku, kenapa ia terus menargetkanku semenjak ia tiba di Nan Zhao? Tanpa adanya cinta, tidak akan ada kebencian.

"Yun Ruo Feng, apa kau menyesal sekarang? Semestinya, kau yang lebih tahu dari siapa pun juga bahwa tidak ada yang namanya mundur dalam sebuah peperangan, tidak ada obat untuk penyesalan di dunia ini. Apa kau masih memerlukanku untuk mengajarimu ini?" Nada bicara Su Xi-er acuh tak acuh, selagi tatapannya memindai ruangan tersebut dan tertuju pada satu jarum jahit yang tertinggal di atas kabinet pendek.

Jarum tersebut terletak di sebelah secarik kain bermotif di atas kabinet. Barangkali itu ditinggalkan oleh seorang penjahit wanita yang datang untuk membetulkan pakaian. Tetapi sekarang, ini akan berguna.

Su Xi-er sedikit berpindah dan diam-diam menyembunyikan jarum jahit itu di tangannya.

"Menyesal?" Nada bicara Yun Ruo Feng meninggi seolah ia kusut, tetapi itu terdengar seperti pertanyaan yang tak perlu dijawab, bahkan bagi dirinya sendiri. Dalam hatinya, ia merasa tidak nyaman ketika ia melihat temperamen lembut Su Xi-er di depan Pei Qian Hao. Ia masih orang yang sama, tetapi kenapa ia begitu mengasingkan diri, angkuh, dan merasa sok penting di depanku, sementara jadi lembut dan sabar di depan Pei Qian Hao?

Terlepas dari aku menyesal atau tidak, ia tidak boleh pergi bersama Pei Qian Hao. Aku tidak bisa menoleransi seorang wanita yang tadinya milikku, berbaring dalam pelukan pria lain!

(T/N : YUN ... asbadagsdfadjiufegbkjl)

Yun Ruo Feng menyipitkan matanya. "Pei Qian Hao tidak akan bisa membawamu kembali jika ia tidak dapat menemukanmu." Suara Yun Ruo Feng terdengar, tangannya mendadak mengular di sepanjang ruangan sewaktu ia mengincar titik akupuntur tidur di leher Su Xi-er.

Di waktu yang sama, Su Xi-er sudah mempersiapkan jarum jahit di tangannya. Ia melemparkannya dengan akurasi yang terlatih, memerhatikan sewaktu jarum itu menancapkan diri di tempurung lutut Yun Ruo Feng. Sepersekian detik berikutnya, Yun Ruo Feng tersandung, ekspresinya berubah sewaktu rasa sakit menyerang kakinya.

Setelah berada di medan perang selama bertahun-tahun, lulut Yun Ruo Feng menderita sisa-sisa dari luka yang dulu, dan akan sakit saat hujan turun. Tak perlu dikatakan, bahwa sebatang jarum ditancapkan ke lututnya akan menyebabkan rasa sakit yang hebat. Tentu saja, Su Xi-er sangat mengetahui ini. Saat kaki pria itu mulai sakit di kehidupannya yang lalu, ia memerintahkan pelayan untuk membawakan sebaskom air panas sebelum memijat sendiri lutut pria itu.

Di saat ini, Yun Ruo Feng mulai menggigil. Manis, lembut, dan sabar. Meskipun jarang-jarang, aku tidak bisa memungkiri bahwa ia pernah menunjukkan sisi ini padaku sebelumnya. Ombak menghantam ke dalam hati Yun Ruo Feng. Harga dirikulah yang mesti disalahkan; aku hanya melihat sisi arogan Ning Ru Lan, fokus pada semua kesalahannya. Karena ini, aku mengabaikan semua hal yang menarikku padanya sejak awal.

Apakah aku salah? Tatapan Yun Ruo Feng ternoda dengan guratan rasa sakit. Apakah aku salah? Yun Ruo Feng terlahir dengan latar belakang yang rendah, menyebabkan hatinya memendam hasrat membara untuk bangkit di atas orang lain sehingga ia tidak akan diinjak-injak oleh siapa pun!

"Yun Ruo Feng, kau terlalu bersemangat untuk unggul, tetapi kau tidak pernah belajar dari kesalahan-kesalahanmu, dan selalu menyalahkan orang lain. Kau bilang kalau aku dingin dan arogan, tetapi biar kutanyakan padamu: Berapa banyak perhatian yang kau tunjukkan padaku? Apa kau sungguh mengenalku?" Su Xi-er berkata dingin, tidak merasakan apa pun ketika melihat ekspresi kesakitan Yun Ruo Feng.

"Serahkan kekuasaan, dan kembalikan semuanya pada Ning Lian Chen." Su Xi-er mengamati mata Yun Ruo Feng, mengedipkan keragu-raguan di matanya.

Beberapa saat kemudian, Yun Ruo Feng menjawab, "Aku akan mengembalikan kekuasaan padanya, tetapi tidak semuanya. Aku sudah bekerja keras selama bertahun-tahun .... Aku pantas mendapatkan segala yang kumiliki sekarang! Lan-er, jika aku mengembalikan setengah kekuasaanku pada Yang Mulia, bisakah kau kembali ke sisiku? Aku tidak ingin kau menderita di luar sana. Tinggallah di Kediaman Pangeran Yun dan nantikan kepulanganku setiap harinya. Dukung suamimu dan didik anak-anak kita sementara kau menjalani sebuah kehidupan tanpa kecemasan; bukankah kau ingin menikmati hidup seperti ini?"

Harapan bersinar di mata Yun Ruo Feng. Akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar melupakan Ning Ru Lan. Aku ... aku mencintainya. Aku tidak tahu seberapa besar, tetapi aku tahu kalau aku mencintainya. Aku tahu kalau aku tidak akan pernah makan atau tidur dengan tenang tanpa dirinya.

Aku memperlakukan Ning An Lian dengan baik, hanya untuk memenuhi fantasiku sendiri, memperlakukan dirinya seperti seorang Ning Ru Lan yang telah mengelupaskan harga dirinya dan tersenyum manja padaku.

"Lan-er, kembalilah padaku. Kita akan menjalani setiap harinya tanpa beban, ya?" Yun Ruo Feng menoleransi rasa sakit di lututnya dan bangkit berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Su Xi-er.

"Angin sepoi-sepoi yang sudah berlalu tidak akan pernah lewat lagi. Rumah Tangga Kekaisaran Ning tidak boleh ditantang. Setengah saja tidak cukup; kau harus mengembalikan semua yang telah kau ambil." Kemudian, Su Xi-er berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Yun Ruo Feng dengan ekspresi yang agak tertegun di belakangnya.

Ia berdiri di sana tanpa bergerak, memandangi pintu sampai rasa sakit menusuk lututnya lagi. Ia menarik keluar jarum tersebut, memerhatikan kilau kecil di permukaannya. Ning Ru Lan sama seperti jarum ini, menusuk tepat di sekujur tubuhku.

Yun Ruo Feng tertawa, tetapi terdengar menyedihkan dan hancur. Baru sekaranglah aku menyadari betapa butanya aku ketika aku membunuhnya hari itu. Hanya sisi negatif tentang dirinya yang mengaburkan pikiranku, dan aku meyakini fantasi untuk hidup bersama Ning An Lian. Aku kira bahwa ia akan sanggup menggantikan Ning Ru Lan dan membantuku, mendidik anak-anak kami dan hidup bersama-sama dalam damai.

Pada akhirnya, aku kehilangan segalanya, termasuk hatiku, kepada Ning Ru Lan. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan yang kumiliki sekarang untuk mendapatkannya kembali.

(T/N : Mas Yun, ga baik halu kebanyakan, ntar nyusul An Lian pula gilanya -__-)

0 comments:

Posting Komentar