Kamis, 12 Maret 2026

CTF - Chapter 287

Consort of A Thousand Faces

Chapter 287 : Cadar Dilepas


Sekarang, Pei Qian Hao sudah meninggalkan paviliun batu dan menuju ke pergola bunga di halaman belakang. Kelima penanam bunga berdiri dalam satu barisan sementara mereka menunggu Pangeran Hao untuk membuat keputusan final.

Su Xi-er berdiri di samping dan membungkuk. "Pangeran Hao, silakan pilih dari lima orang yang tersisa." Dalam dua babak pemilihan, ia sengaja menjatuhkan beberapa penanam bunga paling berpengalaman demi meningkatkan kesempatan Feng Chang Qing terpilih.

Mata Pei Qian Hao memindai mereka berlima sebelum tatapannya akhirnya mendarat pada Feng Chang Qing; lebih spesifiknya, pada cadar yang dipakainya. "Mengapa kau memakai cadar?" Pei Qian Hao tidak mengujinya tentang florikultura, tetapi malah langsung menanyakan padanya tentang cadarnya.

Suara serak Feng Chang Qing terdengar. "Menjawab Pangeran Hao, wajah orang desa ini terluka ketika aku masih muda, menghancurkan penampilanku. Orang desa ini takut kalau aku akan merusak pemandangan Pangeran Hao apabila aku melepaskan cadarku."

"Pangeran ini hanya memedulikan tentang keterampilanmu dalam menanam dan menumbuhkan bunga Ling Rui. Lepaskan cadarmu."

Feng Chang Qing menerima perintah tersebut dan baru saja akan mengangkat tangan untuk melepaskan cadarnya ketika Su Xi-er berjalan ke sebelah Pei Qian Hao dan menyelanya. "Pangeran Hao, Anda sudah mengatakan bahwa satu-satunya hal yang penting adalah keterampilannya dalam menanam bunga Ling Rui. Meski begitu, kenapa Anda masih kukuh tentang cadarnya?"

"Tidak bolehkah Pangeran ini merasa itu aneh?" Pei Qian Hao menjawab dingin, tatapannya tetap pada Feng Chang Qing, seakan sedang memerintahkan orang itu lagi, agar melepaskan cadarnya.

Tanpa adanya perubahan dalam ekspresinya, Feng Chang Qing melepaskan cadarnya begitu saja. Penampilan cacatnya begitu mengerikan di siang bolong, menyebabkan keempat penanam bunga mundur ketakutan. Setiap bekas lukanya nampak dalam, membuat Feng Chang Qin terlihat seperti hantu.

Su Xi-er dapat melihat ketakutan dan rasa jijik di mata keempat penanam bunga. Walau demikian, Feng Chang Qing tetap tanpa ekspresi, seolah ia sudah lama mati rasa pada reaksi semacam ini.

Feng Chang Qing terus menggunakan suara yang serak, agar Pei Qian Hao tidak semakin curiga. "Pangeran Hao, orang-orang desa semuanya mengatakan bahwa wajahku ini adalah wajah hantu, dan mereka ketakutan setelah melihatnya, itulah mengapa, orang desa ini mengenakan sehelai cadar."

Dengan saksama, Pei Qian Hao mempelajari bekas luka di wajah Feng Chang Qing, matanya diliputi kecurigaan. "Pangeran ini tidak akan memercayaimu dengan mudahnya. Menilai dari warnanya, bekas luka di wajahmu itu, paling lama baru ditorehkan setahun yang lalu. Namun, kau mengklaim bahwa mereka luka sejak masa kanak-kanakmu."

Alis Feng Chang Qing melengkung. Pangeran Hao memang memiliki pengamatan yang tajam. Ia dapat mengetahui kebohonganku hanya dengan warna bekas luka.

Karenanya, Feng Chang Qing berlutut begitu saja. "Semua orang memiliki masa lalu mereka, dan bekas luka ini adalah refleksi akan diriku. Entah kapan mereka ditorehkan, mereka merupakan bagian dari kehidupan orang desa ini. Bukan niat orang desa ini untuk menipu Pangeran Hao barusan ini."

Su Xi-er menyadari keraguan dan minat di mata Pei Qian Hao. Ia mundur selangkah dan tetap diam. Pei Qian Hao hanya akan jadi semakin curiga apabila aku bicara sekarang.

"Kejadian masa lalu adalah seperti awan yang lewat; semua orang memiliki kisah mereka masing-masing. Apa yang membuatku tertarik sekarang ini adalah kemampuanmu." Kemudian, Pei Qian Hao mengisyaratkan seorang pengawal kemari. "Bawakan beberapa bunga Ling Rui yang layu itu keluar."

"Bawahan ini menerima perintah." Pengawal itu menghilang selama beberapa menit sebelum kembali bersama lima pot bunga Ling Rui yang layu, meletakkan masing-masing satu pot di depan setiap kandidat.

Di saat ini, Feng Chang Qing sudah mengenakan lagi cadarnya.

"Orang yang bisa paling akurat menentukan akar penyebab dari layunya bunga-bunga Ling Rui ini selama waktu sebatang dupa yang terbakar, akan mengikuti Pangeran ini kembali ke Bei Min besok siang."

Karenanya, para penanam bunga segera mulai mempelajari bunga Ling Rui di hadapan mereka. Mereka mengamati semuanya, dari tanah, hingga ke akarnya, bahkan warna daunnya.

Su Xi-er maju ke depan sambil tersenyum. "Pangeran Hao, akan butuh beberapa waktu hingga mereka selesai. Hamba akan menyeduhkan secangkir teh dan membawakan Anda bangku."

Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Tidak perlu untuk itu; temani Pangeran ini jalan-jalan di sekitar sini."

Pergi secara tiba-tiba memang gaya Pei Qian Hao. Su Xi-er segera mengikuti setelah dirinya, tetapi diam-diam berbalik dan melemparkan lirikan bermakna pada Feng Chang Qing sebelum pergi.

"Pangeran Hao, kemana Anda akan berjalan-jalan?"

Pei Qian Hao memutar tumitnya dan berlalu sebelum menjawab. "Kamarku."

Su Xi-er menghentikan langkah kakinya. Kamar adalah untuk istirahat, tetapi ia mau jalan-jalan di dalamnya?

"Susullah." Suara yang dalam dan kuat terdengar sementara Pei Qian Hao mempercepat langkah kakinya dan masuk ke dalam kamar dalam sekejap mata.

Su Xi-er mengikuti Pei Qian Hao masuk dan melihatnya mengambil sebuah botol cokelat kecil dari kabinet.

Ia memandangi gadis itu dengan tatapan yang acuh tak acuh sebelum menunjuk ke ranjang. "Lepaskan bajumu dan berbaringlah di atas ranjang."

Reaksi pertama Su Xi-er adalah mundur selangkah dalam kebingungan. Mengapa ia menyuruhku untuk melepaskan bajuku tanpa alasan?

"Ini adalah bubuk bunga Ling Rui yang baru; segera bubuhkan pada dirimu sendiri. Pangeran ini ingin melihat bagaimanakah efeknya." Ekspresi tak pedulian Pei Qian Hao membuatnya terkesan seolah ia sungguh hanya ingin melihat efek dari bubuk itu.

"Hamba tidak membutuhkan bubuk bunga Ling Rui, tetapi hamba bisa membantu membubuhkannya pada Anda." Su Xi-er menyarankan dengan lembut sementara ia menghampirinya. "Lepaskan baju Anda dan berbaringlah di atas ranjang; hamba akan membubuhkannya untuk Anda."

"Pangeran ini tidak akan mengulangi diriku. Lepaskan tidak?" Kemudian, Pei Qian Hao maju selangkah lagi, seakan ia sudah akan melepaskannya untuk Su Xi-er.

Su Xi-er merasa tak berdaya. Sepertinya, tidak bisa mengubah pikirannya. "Kenapa aku harus melepaskan semua bajuku? Itu bisa dibubuhkan hanya di satu tempat saja."

"Pangeran ini akan membubuhkannya di setiap bagian dari tubuhmu demi melihat efeknya."

Kilat berkedip di mata Su Xi-er, sementara ia dengan cepatnya tiba di depan Pei Qian Hao dan mengambil botol itu dari tangannya. "Hamba akan kembali ke kamarku untuk membubuhkannya sendiri dan tidak akan merepotkan Anda, Pangeran Hao."

"Jika kau bernyali keluar dari kamar ini, kau boleh mencobanya." Sebelum Su Xi-er bisa berbalik, suara dalam Pei Qian Hao terdengar di dalam kamar tersebut.

"Pangeran Hao, jika hamba berjalan keluar sekarang, apa yang akan Anda lakukan?"

Melihat dagu Su Xi-er yang terangkat dengan angkuhnya, rasa main-main muncul di kedalaman mata Pei Qian Hao. "Pangeran ini akan mengambil apa yang paling kau pedulikan."

Su Xi-er membeku. Ia tidak mengetahui identitasku yang sebenarnya. Baginya, hal yang paling kupedulikan adalah kesucianku. Kalau aku mencoba berjalan keluar, ia akan ....

"Pangeran ini tidak bercanda," Pei Qian Hao mengulurkan satu tangan, "Berikan aku botolnya, lepaskan baju, dan berbaring."

Su Xi-er merenung sejenak, tetapi sebelum ia bisa membuat keputusan, Pei Qian Hao sudah maju ke depan dan meletakkan kedua tangannya di pinggang Su Xi-er. Dalam sekejap mata, ia merasakan dirinya dilemparkan ke atas ranjang dan melihat Pei Qian Hao dengan satu tangan yang terangkat.

Su Xi-er langsung duduk tegak, menghindar ke sisi bagian dalam tempat tidur, dan mulai melepaskan bajunya.

Baru setelahnya, Pei Qian Hao puas. Kita tidak akan membuang-buang begitu banyak waktu jika ia lebih penurut.

Setelah melepaskan jubah luaran dan celananya, dan meraih baju dalamnya, Su Xi-er ragu-ragu sejenak sebelum ia mengatupkan bibir dan menguatkan diri agar menelanjangi dirinya sendiri.

Pei Qian Hao membuka botol itu dan aroma samar pun keluar dari sana.

Ia membungkuk dan menuangkan bubuk itu ke punggung Su Xi-er. Bubuknya menyerap dengan cepat ke dalam kulit, dan tak lama, tidak ada jejak yang tertinggal di punggung Su Xi-er.

Sepasang tangan besar bergerak di sepanjang punggungnya sebelum hidungnya mendekat. "Wanginya harum."

Kemudian, ia melakukan hal yang sama pada tangan dan kaki Su Xi-er, sebelum tangannya mencapai ke bagian paling penting dari anatomi wanita.

Pei Qian Hao menghentikan gerakannya dan menatap Su Xi-er, melihat bahwa mata gadis itu tertutup dengan rapatnya.

0 comments:

Posting Komentar