Kamis, 12 Maret 2026

CTF - Chapter 282

Consort of A Thousand Faces

Chapter 282 : Terlambat


Tepat sebelum Yun Ruo Feng jatuh ke dalam danau, Qin Ling mengumpulkan keberanian untuk berjalan masuk ke taman belakang. Ia sudah menunggu di luar sana selama lebih dari dua jam, dan jadi cemas ketika Pangeran Yun masih belum kembali.

Ketika akhirnya ia menemukan Pangeran Yun, orang itu sedang membungkuk untuk memungut pecahan guci anggur yang berserakan sebelum ia terjatuh ke dalam danau. Ombak memecah permukaan danaunya, meniup permukaannya yang semula tenang.

Qin Ling segera berlari dan melompat ke dalam danau, menangkap tangan Yun Ruo Feng dan berupaya membawanya ke pinggiran. Namun, semabuk itu dirinya, Yun Ruo Feng dengan keras kepalanya meronta, mencoba tetap berada di dasar danau. Qin Ling tidak punya pilihan selain membuatnya pingsan dengan memukul lehernya sebelum menyeretnya ke tepian.

Saat Qin Ling melihat wajah sepucat mayat Pangeran Yun, ia tahu bahwa ini tidak tampak bagus. Pangeran Yun sudah terpengaruh terlalu parah atas hilangnya kekuasaannya kali ini.

Tanpa memikirkan tentang yang lain, Qin Ling menggendong Pangeran Yun di punggungnya dan berlari ke dalam aula utama. Kemudian, ia menginstruksikan seorang pengawal, agar memanggil Tabib Istana Kekaisaran Fang secara diam-diam dari istana kekaisaran.

Seorang dayang dari Kediaman Pangeran Yun sudah dipanggil untuk menggantikan baju basah Yun Ruo Feng. Namun, sebelum tangannya menyentuhnya, mata Yun Ruo Feng terbuka dengan kobaran dingin. "Jangan sentuh Pangeran ini! Lan-er tidak suka jika orang lain menyentuh Pangeran ini!"

Dayang itu kebingungan. Siapa Lan-er? Apakah Pangeran Yun menyukai seorang wanita bernama Lan-er? Dayang itu tidak tahu apa yang mesti diperbuat dan segera meninggalkan kamar untuk mencari Qin Ling.

Saat ia memberitahu Qin Ling tentang situasinya, pria itu segera mengerti siapakah si 'Lan-er'. "Aku akan mengurusnya, tetap diam soal hal ini."

Dayang itu mengangguk dan memutar tumitnya, berlalu.

Ketika Qin Ling memasuki aula utama, ia menemukan Yun Ruo Feng sedang duduk di atas sebuah bangku kayu berwarna merah, mata orang itu dengan marah melesat ke sekeliling ruangan. "Dimana teh Pangeran ini? Teh favorit Lan-er disimpan di sini oleh Pangeran ini. Kenapa menghilang?! Ia tidak akan senang jika ia mengetahui teh itu menghilang."

Sewaktu Qin Ling melihat bahwa Pangeran Yun yang putus asa di sebelahnya, ia mulai cemas dan buru-buru maju. "Pangeran Yun, Anda baru saja meminta dayang Anda untuk membawa teh itu pergi, mengatakan bahwa Anda tidak mau melihat daun-daun teh itu. Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu sudah meninggal; Anda harus melepaskannya."

"Meninggal?" Yun Ruo Feng tertawa kecil dan mendadak terdiam. "Ia belum meninggal; ia masih hidup. Pangeran ini baru melihatnya. Ia tidak mau memaafkan Pangeran ini dan menolak untuk kembali."

Qin Ling bahkan lebih cemas lagi. Pangeran Yun mulai bicara omong kosong. Mana bisa ia bertemu dengan seseorang yang sudah meninggal dunia? Ia terlalu merindukan Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu sampai-sampai itu jadi penyakit. Tetapi, kalau ia begitu merindukannya, mengapa ia membunuhnya? Mungkin, kalau ia tidak melakukan seperti itu, Pangeran Yun tidak akan jadi begini. Barangkali, Komandan Wei tidak perlu mati juga.

Pangeran Yun sendiri yang membawa semua ini pada dirinya. Ini jauh lebih jelas bagi Qin Ling, tetapi ia tidak berani mengatakannya. Malahan, ia tidak sanggup untuk mengatakannya.

"Pangeran ini mau minum teh; bawakan kemari." Yun Ruo Feng menatap Qin Ling dan memerintahkan.

"Pangeran Yun, Anda harus mengganti pakaian basah Anda."

Yun Ruo Feng melambaikan tangannya. "Tidak, Pangeran ini mau minum teh."

Qin Ling tidak dapat terpikirkan yang lainnya untuk dikatakan, selain .... "Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu mungkin akan segera berada di sini. Jika ia melihat Anda duduk di sini dengan baju yang basah, ia tidak akan senang."

"Tidak akan senang ...." Yun Ruo Feng menggumam sendiri. Pikiran mabuknya dipenuhi dengan pemikiran tentang Ning Ru Lan.

"Kau benar, Pangeran ini akan mengganti pakaianku. Segera bawakan tehnya kemari."

"Bawahan ini mengerti." Lalu, Qin Ling meninggalkan ruangan tersebut untuk mengambilkan teh.

Namun, ia hanya bisa mendesah saja selagi ia berjalan pergi. Jika Pangeran Yun tahu kalau ini akan jadi hasilnya, mengapa ia membunuh Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu? Semestinya ia paham bahwa, apa yang terjadi, maka akan terjadilah. Aku harap agar Pangeran Yun dapat memikirkan ini dan merasa bersalah.

Sebagai seorang bawahan, aku tidak punya pilihan selain mengikuti perintah majikanku. Namun, aku, paling tidak, berharap agar perintah yang kuikuti itu tepat secara moral, dan dilakukan demi kebaikan para warga sipil.

Ia baru berjalan beberapa langkah saat ia melihat Tabib Kekaisaran Fang berlari kemari. Itu sudah larut malam, dan pria tua itu memilih jalan yang jarang digunakan agar tidak menarik perhatian.

Ketika ia melihat Qin Ling, ia segera bertanya, "Komandan Qin, bagaimana keadaan Pangeran Yun?"

Qin Ling menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak baik. Ia jatuh ke dalam danau di taman belakang setelah mabuk-mabukan, dan kini ia terus saja mengoceh tentang Putri Pertama Kekaisaran yang terdahulu."

Ekspresi Tabib Kekaisaran Fang berubah saat ia mendengar ini. Kemudian, ia menghela napas. "Cinta yang bernasib buruk." Setelah itu, ia berjalan menuju ke aula utama.

Kediaman Pangeran Yun sudah jadi kacau karena Yun Ruo Feng.

***

Hari berikutnya, di rumah pos Nan Zhao.

Pei Qian Hao sedang duduk di aula utama rumah pos sementara ia memerhatikan Su Xi-er, satu cangkir teh dipegang di tangannya. Ia meniup permukaan teh itu dan bertanya, "Dibandingkan dengan Rumah Aprikot Keberuntungan, apa yang membuatmu tertarik pada Paviliun Angin Cyan?"

"Rumah Aprikot Keberuntungan hanya memiliki hidangan dari Nan Zhao, tetapi Paviliun Angin Cyan memiliki hidangan dari keempat kerajaan besar, bahkan punya makanan penutup yang berasal dari kerajaan yang lebih kecil." Su Xi-er menjawab perlahan sebelum dengan sengaja bertanya, "Pangeran Hao, Anda sudah memegangi cangkir teh itu selama satu jam; tehnya mungkin sudah dingin. Mengapa Anda perlu meniup-niupnya sebelum meminumnya?"

Pei Qian Hao tidak mengatakan apa-apa dan memperlihatkan senyum main-main di sudut mulutnya. Aku tidak benar-benar ingin meminum teh, itu hanya kebiasaanku saja untuk melakukannya.

"Pangeran ini tidak suka minum teh; aku suka minum anggur." Ia meletakkan cangkir teh tersebut selagi ia berbicara.

"Su Xi-er, Pangeran ini akan bertanya lagi padamu: Dimana kau akan bekerja setelah kau kembali ke Bei Min?"

Su Xi-er tahu apa yang sedang dipikirkannya, tetapi ia tidak bisa pergi ke Kediaman Pangeran Hao. "Hamba berasal dari Istana Samping, jadi aku akan kembali ke sana. Selain itu, kita tidak boleh membiarkan siapa pun mengetahui kalau hamba pergi ke Nan Zhao bersama Anda, Pangeran Hao."

"Berikan Pangeran ini sebuah alasan."

Su Xi-er pelan-pelan menjelaskan, "Pangeran Hao, mohon jangan salahkan hamba atas apa yang akan kukatakan. Di masa itu, ketika hamba bekerja di Istana Samping, aku sudah mendengar rumor tentang hubungan di antara Anda dan Ibu Suri. Anda memperlakukannya seperti seorang adik perempuan, tetapi sudah pasti Ibu Suri tidak memperlakukan Anda hanya sebagai seorang kakak lelaki. Pangeran Hao, hamba yakin bahwa Anda juga sangat mengetahui tentang ini. Jika Ibu Suri mengetahui kalau hamba menemani Anda ke Nan Zhao ...."

Pei Qian Hao terkekeh. Jarinya mengetuk ringan permukaan meja sebelum ia mulai mengerahkan lebih banyak tenaga dalam ketukannya. Ia tidak tahu bahwa aku sudah membubarkan Istana Kecantikan. Seluruh kerajaan mengetahui bahwa ada gadis cantik tiada tara di sisiku.

Ia tertawa dan menjawab, "Apa kau takut kalau Ibu Suri akan menghukummu?"

Su Xi-er mengangguk. "Bukan hanya itu, setiap gerak-gerik Anda diperhatikan oleh semua orang. Hamba tidak ingin berada dalam sorotan, Pangeran Hao." Setidaknya, untuk sekarang, aku tidak boleh berada dalam sorotan.

"Jika kita mengikuti apa yang baru kau katakan, maka kau harus kembali ke Istana Kecantikan secara diam-diam dan setelahnya, menunggu Pangeran ini untuk menginstruksikanmu agar kembali ke Istana Samping?" Tatapan main-main terlihat di mata Pei Qian Hao. Mari kita lihat bagaimana kau akan melakukan hal semacam itu saat Istana Kecantikannya sudah dibubarkan.

Su Xi-er belum mendengarkan kabar tersebut dan membalas, "Itu benar. Ada dua dayang dari Istana Samping yang menemani hamba ke Istana Kecantikan. Mereka sedang menunggu hamba untuk kembali. Pangeran Hao, mohon berikan sebuah titah lisan agar mengembalikan hamba ke Istana Samping segera setelah kita kembali."

"Jika kau memberitahu Pangeran ini lebih awal, mungkin aku bisa saja mengikuti permintaanmu. Sudah terlambat sekarang." Pei Qian Hao sengaja memasang ekspresi mengasihani.

"Apa maksud Anda, Pangeran Hao? Bukankah itu benar, bahwa Anda masih belum mengambil keputusan?" Su Xi-er memperlihatkan ekspresi serius. Apakah ia bertindak secara diam-diam?

"Apakah Pangeran ini harus mendiskusikannya denganmu sebelum membuat keputusan? Kau menghabiskan waktu sekian lama bersama Pangeran ini, bukankah kau mengetahui seperti apa kepribadianku?" Pei Qian Hao berhenti mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, dan tatapan di matanya jadi kian dalam. 

0 comments:

Posting Komentar