Rabu, 18 Maret 2026

CTF - Chapter 294

Consort of A Thousand Faces

Chapter 294 : Tempat Itu Kecil


Tatapan Pei Qian Hao tertuju pada perutnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menggoda. Dengan tatapan yang menggelap, ia berkomentar, "Pangeran ini menyadari kalau kau mendapatkan lebih banyak lemak perut, tetapi merasa bahwa bagian di atasnya masih kecil." Lalu, tatapannya melayang ke bagian terlembut di tubuhnya yang disebutkan tadi.

Mengikuti tatapan Pei Qian Hao, tanpa sadar Su Xi-er memeluk dirinya sendiri dengan kuat. Tak peduli apa identitasnya, wanita mana pun akan memedulikannya jika seorang pria mengatakan bahwa ia kecil di bagian sana. Su Xi-er hanya memutar bola matanya pada Pei Qian Hao dan segera membalas, "Hamba sudah kurang gizi sejak kecil, dan tentunya tidak besar di bagian sana. Namun, hamba tidak lebih buruk juga dari wanita lainnya."

Su Xi-er tidak menyadari bagaimana kata-kata serta ekspresinya dapat disalahartikan.

Pei Qian Hao terkekeh jelas dan nyaring, sebuah indikasi dari suasana hatinya yang baik. "Pangeran ini merasa bahwa aku dapat memegangi keduanya dengan satu tangan; apakah itu masih tidak dianggap kecil?"

Ekspresi Su Xi-er menggelap mendengar perkataannya; ia berpaling, tampaknya menolak untuk menatap pria itu. Sebenarnya, ia tidak tahan untuk tidak meliriknya melalui pengelihatan pinggirnya. Bagaimana mungkin baginya untuk memegangi keduanya dengan satu tangan! Ia jelas-jelas memegang satu di masing-masing tangannya ketika ia menyentuh mereka di dalam kamar.

Menyadari pemikirannya sendiri, darah bergegas ke telinga Su Xi-er. Apa yang tengah kupikirkan? Berada di sekitar Pei Qian Hao terlalu lama, aku sungguh menjadi .... Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Su Xi-er menggelengkan kepalanya dan melihat ke luar kereta melalui tirai untuk mengalihkan perhatiannya.

Su Xi-er yang sekarang, seperti seorang wanita kecil yang pemalu. Bibir Pei Qian Hao terangkat membentuk senyuman sewaktu ia mencondongkan diri ke depan lagi, mengulurkan tangannya selagi ia melingkarkan mereka di sekitar pinggang gadis itu.

Segera Su Xi-er jatuh ke dalam pelukannya, tangan Pei Qian Hao jatuh pada bagian tubuhnya yang itu selagi ia berbicara di telinga Su Xi-er dengan suara yang serak, "Pangeran ini salah berkata begitu; aku hanya bisa memegang satu di tiap tangan."

(T/N : enak ya bang remes-remes 'bakpao mini' 😏 )

Apa yang semestinya terdengar seperti sebuah permintaan maaf dari orang lain, terdengar seperti kata-kata dari seorang penjahat saat itu keluar dari bibir Pei Qian Hao.

Su Xi-er mendorong tangannya. "Hamba tidak suka membahas ini. Pangeran Hao, silakan nikmati waktu selama perjalanan kita untuk istirahat yang baik." Kemudian, ia bangkit berdiri dan berpindah ke sisi lain kereta sembari memerhatikan pria itu dengan waspada.

Sudut bibir Pei Qian Hao sedikit terangkat selagi ia memejamkan matanya dan bersandar di dinding kereta, seolah ia sedang beristirahat.

Dua hari berlalu hanya seperti ini, dengan rombongan yang memilih untuk berkemah dan mendirikan tenda daripada tinggal di sebuah penginapan ketika malam turun.

Dengan laju secepat itu, rombongan tersebut tiba di ibu kota Bei Min hanya dalam dua hari.

Istana kekaisaran Bei Min sudah membuat persiapan yang dibutuhkan untuk menyambut mereka. Pasukan Tentara Kekaisaran berbaris di kedua sisi jalan, dari gerbang kota, sepanjang jalan menuju ke gerbang istana kekaisaran. Masing-masing dari mereka berdiri dengan tenang di tempat, penuh rasa hormat untuk orang yang lewat.

Sementara itu, rakyat jelata yang telah mendengar bahwa Pangeran Hao akan kembali hari ini, sudah menghentikan pekerjaan mereka, demi melihatnya. Orang-orang ini bukan hanya menantikan kedatangan Pangeran Hao, tetapi juga wanita yang ada di sisinya. Dari apa yang telah mereka dengar, mereka berasumsi bahwa Pangeran Hao akan membawa si wanita yang sangat disayanginya ini kembali bersamanya.

Wanita macam apakah yang mampu membuat Pangeran Hao membubarkan Istana Kecantikan demi dirinya? Memikirkan ini, kerumunan itu hanya bisa merasa bersemangat, rasa ingin tahu di wajah mereka tidak salah lagi.

Ketika salah satu dari rakyat jelata yang berdiri di ujung jalan melihat sudut kereta kuda, ia pun tidak tahan untuk berteriak, "Mereka di sini!"

Pasukan Tentara Kekaisaran di sebelahnya melemparkannya tatapan dingin, mendiamkan sisa warga kota lainnya juga yang ada di belakangnya.

Ketika iring-iringan kereta kuda akhirnya masuk ibu kota, keadaannya sunyi senyap. Perintahnya dipertahankan dengan baik, tanpa ada seorang pun yang berani bicara dengan santai.

Di dalam kereta kudanya sendiri, Su Xi-er sudah berpindah ke sudut paling dalam sehingga tidak ada yang dapat melihatnya.

Para pasukan pengawal itu berlutut dengan satu kaki dan berteriak keras secara serentak, "Pangeran Hao, selamat datang kembali!"

Suara mereka berkumandang di seluruh jalanan yang lebar itu. Kemudian, para warga pun buru-buru berlutut dan mengikuti para pengawal, "Pangeran Hao, selamat datang kembali!"

Tangan seorang pria keluar dari jendela kereta, memberi sinyal agar semuanya bangkit sebelum ditarik masuk kembali.

Setelah melihat gestur tersebut, pengawal dan rakyat pun bangkit berdiri dan dengan hormat berpindah ke samping selagi mereka menyaksikan kereta kuda tersebut berkendara menjauh.

Melihat bahwa kereta kuda sudah hampir menghilang dari pandangan mereka, beberapa orang tidak tahan untuk mencoba mengintip untuk terakhir kalinya; mereka ingin melihat apakah ada seorang wanita di dalam kereta!

Semua orang sudah berdiri di sekitar sana sejak pagi, tetapi mereka tidak dapat melihat Pangeran Hao atapun si wanita misterius yang dibawanya kembali bersamanya. Mereka hanya bisa mendesah kecewa.

Ketika kereta kuda sepenuhnya menghilang dari pandangan, dan si pengawal kekaisaran telah mundur masuk ke istana, diskusi yang heboh pun terjadi. Entah mereka menghela napas atau berspekulasi.

"Jadi, apakah Pangeran Hao membawanya kembali?"

"Tentu saja, atau, kenapa pula Istana Kecantikan akan dibubarkan?"

"Itu benar, tetapi kita bahkan tidak bisa melihatnya. Angin bahkan menyibakkan tirainya; setidaknya membiarkan kita melihat sedikit sisi sampingnya!"

"Semua orang pulang saja ke rumah. Mana mungkin Pangeran Hao membiarkan seorang wanita yang begitu disukainya muncul di depan umum? Ia pasti menyembunyikannya!"

Meskipun rasa ingin tahu mereka semakin merajalela, kerumunan itu setuju bahwa spekulasi ini yang paling masuk akal, walau mereka bahkan lebih penasaran lagi tentang wanita itu. Setelah satu babak diskusi lagi, perlahan-lahan, mereka bubar dan pulang ke rumah.

Seorang wanita, mengenakan gaun biasa, berdiri di kerumunan. Di sebelahnya, adalah gadis pelayannya yang berekspresi marah besar. Gadis pelayan itu menarik lengan baju wanita itu. "Nona, Pangeran Hao sungguh membubarkan Istana Kecantikan demi seorang wanita. Apakah Anda masih punya kesempatan?"

Wanita yang berbaju biasa itu menatap gadis pelayannya sambil tersenyum. "Rasanya lumayan baik, tidak berada di dalam Istana Kecantikan. Aku bisa menjalani hidup yang kuinginkan."

"Nona, pekerjaan apa yang dapat kita lakukan? Bagaimana kalau ada penjahat yang melihat kecantikan Anda?" Si gadis pelayan sangat gelisah dan mencemaskan tentang masa depan mereka.

"Bei Min memiliki hukum yang ketat, sampai-sampai kerajaan lain bahkan tidak sebanding. Belum lagi, ibu kota ini cukup aman hingga tidak ada banyak kriminal yang berani untuk menunjukkan wajah mereka di sini. Daripada mencemaskan tentang itu, kita berdua harus pergi ke sebuah rumah jahit, karena kita berdua bisa menjahit." Wanita itu membuat beberapa komentar cepat sebelum berlalu.

Sebelum wanita itu bisa mengambil beberapa langkah, gadis pelayannya menghentikannya. "Nona, Kepala Keluarga mengetahui bahwa Istana Kecantikan sudah dibubarkan, dan pasti akan datang mencari Anda. Setelah kita kembali ke Kediaman Tan, kita bisa memikirkan cara lainnya untuk mendekati Pangeran Hao."

Wanita yang berjubah biasa itu adalah Tan Ge. Alisnya tertaut sewaktu ia mendengarkan kata-kata 'Pangeran Hao'. Keluarga Tan masihlah sebuah keluarga yang berpengaruh di Bei Min ketika ia anak-anak, tetapi tertimpa tragedi setelah ulang tahunnya yang kesepuluh. Semenjak saat itu, ia sudah menjadi cahaya harapan Kediaman Tan.

Ia cantik, dan bisa menyanyi dan menari. Setelah itu, ia bahkan mempelajari sajak, lagu pendek, syair, dan lagu—empat bentuk dari puisi. Menjahit juga merupakan bagian dari edukasinya. Ketika ia berusia dua belas tahun, satu hal baru ditambahkan ke dalam daftarnya—Pei Qian Hao. Ia harus mempelajari kesukaannya, ketidaksukaannya, prinsip, temperamen, pilihannya dalam berpakaian, dan selera makanannya. Ayahnya bahkan akan mendeskripsikan ekspresi Pangeran Hao padanya dari saat orang itu berdiri di depan para pejabat mahkamah.

Semenjak saat itu, perlahan-lahan, Tan Ge mulai merasa bahwa hidupnya bukanlah miliknya sendiri. Hidupnya berputar di sekitar Pei Qian Hao, mengetahui lebih banyak tentang pria itu ketimbang yang diketahuinya tentang dirinya sendiri. Namun, hal yang paling menggelikan adalah bahwa Pei Qian Hao bahkan tidak mengetahui tentang keberadaannya.

Hari-hari berlalu, hingga Pangeran Hao akhirnya sampai di Kediaman Tan dan ia bisa melihat bagaimanakah rupanya yang sesungguhnya. Setelah itu, ia diterima masuk ke dalam Istana Kecantikan dengan rasa suka cita dari semua orang di dalam keluarga Tan.

0 comments:

Posting Komentar