Minggu, 22 Maret 2026

RTMEML - Chapter 82 (2)

 Chapter 82 (2) : Jual Beli


Rebirth of the Malicious Empress of Military Lineage: Chapter 82 (Part 2)


Di dalam kereta kuda, Shen Miao masih larut dalam pikirannya, dan orang tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, dan Jing Zhe serta Gu Yu tidak berani mengganggu rentetan pemikirannya, karena itulah tetap diam. Sebenarnya, mereka juga tidak mengetahui bisnis macam apa yang akan dilakukan Shen Miao. Itu jelas-jelas pegadaian, tetapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya digadaikan. Karena Shen Miao tidak membicarakan soal itu, kedua pelayan tersebut juga tidak membuka mulut mereka.

Tetapi setelah melewati suatu tempat, Gu Yu berkata sambil tersenyum, “Di depan adalah Guang Fu Zhai. Karena sudah lama sekali sejak Anda keluar, bagaimana kalau membiarkan hamba membelikan beberapa camilan dari sana?”

Camilan Guang Fu Zhai selalu dicari-cari, dan saat ini bukan waktu yang paling ramai, sehingga tidak ada salahnya membeli beberapa camilan. Meskipun Shen Miao sendiri tidak benar-benar suka memakan mereka, Luo Xue Yan dan Shen Qiu menyukainya.

Shen Miao menganggukkan kepalanya, “Kalau begitu, pergilah.”

Gu Yu melompat turun dari kereta dan menuju ke Guang Fu Zhai seorang diri.

Mo Qing dan beberapa dari mereka mengelilingi kereta kuda itu dan karena mereka semua tinggi dan kuat, mereka agak menarik perhatian, sehingga orang-orang yang melewati mereka akan melirik mereka dua kali. Shen Miao menyibakkan tirainya untuk ventilasi, tetapi pandangannya tertarik oleh orang lain.

Orang itu kemungkinan besar juga keluar dari Guang Fu Zhai dan membawa satu kantong berisi camilan. Ketika mata orang itu pas sekali bertemu pandang dengan mata Shen Miao, mau tak mau ia pun agak tertegun.

Itu adalah Pei Lang.

Shen Miao sudah lama sekali tidak ke Guang Wen Tang, karena ia tidak menginginkan reputasi seorang wanita berbakat maupun mendapatkan kehormatan terpelajar. Beberapa hari ini, ia sibuk dengan urusannya dan melupakan bahwa akan ada pertemuan seperti ini. Ia memandangi Pei Lang dan tiba-tiba tersenyum selagi ia menganggukkan kepalanya di dalam kereta kuda.

Pei Lang agak tertegun sesaat. Sebenarnya, Shen Miao adalah muridnya. Ming Qi memandang rasa hormat terhadap gurunya, tanpa memasukkan Xie Jing Xing, semua murid akan memperlakukannya dengan hormat. Tetapi anggukan Shen Miao memberikan Pei Lang kesan yang salah, seolah-olah itu tampak seperti ia yang memandang Shen Miao dan gadis itu bahkan lebih tinggi daripada dirinya.

Sebelum ia sempat merespon, Shen Miao sudah menurunkan tirainya. Mo Qing dan beberapa dari mereka menyadari garis pandangan Shen Miao, melihat ke arah Pei Lang dengan waspada.

Pei Lang berdiri mengakar di tempat. Tindakan kasar semacam ini akan membuat dirinya, yang arogan hingga ke tulang, merasa marah. Tetapi ia tidak tahu untuk alasan apa, selain dari perasaan entah ingin tertawa atau menangis, tidak ada perasaan lain yang timbul karena itu. Kemungkinan besar itu karena penampilan kuat Shen Miao akhir-akhir ini yang membuatnya merasa bahwa, jika Shen Miao seperti murid-muridnya yang lain dan bersikap patuh, ia tidak akan terbiasa.

Pei Lang menggelengkan kepalanya dan hanya bisa berjalan menjauh.

Merasakan bahwa tatapan di luar kereta kuda sudah beralih, mata Shen Miao terkulai selagi ia melihat ke bawah pada ujung lengan jubahnya. Terhadap Pei Lang, ia merasakan perasaan yang rumit, karena ia membenci ketidakpedulian Pei Lang terhadap masalah perlakuan Fu Xiu Yi atas Wan Yu dan Fu Ming, tetapi juga mengetahui bahwa Pei Lang hanya melakukan apa yang dikiranya merupakan kesetiaan terhadap penguasa. Kebencian di kehidupan yang lalu sudah berakhir, dan meskipun masih ada kegunaan Pei Lang di kehidupan ini, ia tidak semestinya terjerat dalam masalah ini. Hanya saja, ada ketidaknyamanan dalam hatinya.

Selagi ia berpikir, Gu Yu sudah kembali setelah membelikan camilan.

***

Setelah kembali ke kediaman Shen, langitnya belum termasuk gelap, dan karena Shen Qiu juga tinggal di halaman Barat, Shen Miao berencana untuk mengirimkan camilan itu kepada Shen Qiu. Tepat saat ia berjalan ke aula utama, kebetulan ia bertemu Ren Wan Yun yang sedang menyangga Shen Qing selagi mereka berjalan keluar.

Ren Wan Yun menatap Shen Miao seolah ada pisau di matanya dan Shen Qing menatapnya dengan sangat jahat, bahkan sampai-sampai Gu Yu dan Jing Zhe mau tak mau bergidik, sewaktu mereka maju ke depan untuk melindungi Shen Miao.

“Nona Kelima tidak pergi ke tempat Nyonya Besar untuk memberi salam belakangan ini.”

Ren Wan Yun mengungkit masalah itu, “Mungkinkah kau berniat untuk menjadi cucu yang tidak berbakti?”

Shen Miao meliriknya. Ren Wan Yun sekarang seperti seekor anjing gila, menggigit siapa saja yang dilihatnya. Di satu pihak, ia takut pada Shen Xin dan Luo Xue Yan, dan di lain pihak, ia tidak rela atas kemalangan Shen Qing, karena itulah ia hanya bisa melakukan beberapa tindakan kecil yang remeh.

Tetapi Shen Miao sama sekali tidak takut.

Ia sama sekali tidak takut akan reputasi itu dan tersenyum lembut kepada Shen Qing, “Shen Kedua sekarang masih punya tenaga untuk mengurusi masalahku dan tidak takut kalau Kakak Pertama akan merasa terluka. Penganugerahan Permaisuri cepat dan ia harus memasuki kediaman Pangeran bulan depan. Shen Kedua juga harus mengajarkan beberapa hal pada Kakak Pertama, bagaimanapun juga, keluarga itu bukanlah keluarga biasa, melainkan Pangeran Peringkat Pertama.”

Selesai, ia berjalan pergi bersama Jing Zhe dan Gu Yu bahkan tanpa berbalik.

Ren Wan Yun begitu marah hingga tubuhnya mulai bergetar. Beberapa hari ini, semakin ia marah, semakin ia merasa pikirannya kacau, sampai ia tidak punya waktu untuk berurusan dengan para yi niang itu, yang lebih disukai Shen Gui belakangan ini.

Shen Dong Ling, yang dilahirkan oleh Wan yi niang, yang memiliki citra lemah, tanpa penyokong dan selalu berada di belakang pintu yang tertutup, mulai memasak untuk Shen Gui dari waktu ke waktu. Dengan Shen Qing sebagai contohnya, ia bahkan lebih penurut. Dan Wan yi niang merayu Shen Gui dengan sangat baik, dan Ren Wan Yun serta Shen Qing-lah yang hari-harinya tidak seperti sebelumnya.

Ini semua gara-gara Shen Miao. Kalau tidak, dengan cara-cara Ren Wan Yun, mana mungkin Wan yi niang rendahan itu, yang diatur olehnya sejak awal, bisa jadi sesombong ini sekarang.

“Ibu.”

Shen Qing yang ada di sampingnya, menarik tangannya.

Hari-hari ini, ia telah menderita segala macam perlakuan acuh tak acuh hingga temperamen sombongnya yang sebelumnya sudah berkurang cukup banyak, tetapi kejahatan dan kebencian di matanya tidak berkurang selagi ia berkata sambil menggertakkan giginya, “Jangan khawatir. Toleransi sedikit. Tunggu sampai aku memasuki kediaman Pangeran Peringkat Pertama, bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawa ini, aku akan membuat Pangeran Yu bertindak pada Shen Miao. Aku pasti tidak akan membiarkannya hidup dengan baik.”

Karena Shen Qing sudah mengandung, Permaisuri menganugerahkan pernikahannya agar diadakan bulan depan, sehingga masalah itu akan lebih muda ditangani lebih awal. Dalam waktu sesingkat itu, dan terlebih lagi karena itu adalah titah kekaisaran, Ren Wan Yun tidak punya jalan keluar dan hanya bisa menyaksikan Shen Qing melompat ke dalam lubang api.

“Qing-er tidak boleh takut.”

Ren Wan Yun berkata, “Kakak Lelakimu akan segera kembali, dan Yuan-er adalah yang paling pintar. Saat ia kembali, ia pasti akan memikirkan cara untuk menghancurkan jalang kecil itu.”

Shen Yuan juga akan bergegas kembali untuk menghadiri pernikahan Shen Qing dan mata Ren Wan Yun berkilat. Sekarang, ia terisolasi dan tak berdaya, jika bukan karena Shen Yuan Bo menuruti kata-kata Nyonya Besar untuk menyenangkannya, takutnya bahkan wanita tua itu tidak akan membantunya.

***

Saat Shen Miao kembali ke halaman Barat, ia terkejut melihat Shen Qiu sedang menunggunya di sana.

Melihatnya kembali, Shen Qiu kemudian mengembuskan napas lega dan memeriksa satu kali sebelum berkata, “Kenapa pergi lama sekali? Aku akan berpikir telah terjadi sesuatu.”

“Di kaki Kaisar dan di siang bolong, siapa pun yang berani bertindak, berarti mereka orang bodoh.”

Shen Miao memberikan cambilan itu padanya, “Dibeli dalam perjalanan pulang. Untukmu.”

Shen Qiu terkejut sejenak dan agak tersentuh sewaktu ia menerimanya. Kepulangan kali ini, sikap Shen Miao terhadapnya berubah, dan itu membuatnya sangat senang.

“Kenapa Ayah dan Ibu tidak ada?” tanya Shen Miao.

“Baru kembali ke ibu kota dan harus berinteraksi sosial dengan rekan-rekannya.”

Shen Qiu melihat sekitar dan berkata, “Adik tidak di sini hari ini. Beberapa hari ini, Ayah berseteru dengan Shu Kedua dan Ketiga, dan barusan ini, Nyonya Besar memarahi Ayah dengan keras.”

“Ayah berseteru dengan Shu Kedua dan Ketiga?”

Shen Qiu melihat tampang di wajah Shen Miao dan berkata setelah berpikir, “Adik, kau juga mengetahui bahwa itu karena masalah aula leluhur, Ayah dan Ibu agak tidak puas dengan Shu Kedua dan Ketiga. Tentu saja mereka memang memerhatikannya, kemungkinan besar Nyonya Besar gelisah dan karena itu memarahi Ayah.”

Berbicara sampai sini, Shen Qiu tidak tahan untuk menunjukkan ekspresi ketidakadilan, “Hati Nyonya Besar terlalu memihak. Apa salahnya Ayah? Shu Kedua dan Ketiga tidak menjagamu dengan baik di kediaman, bahkan aku saja marah, apalagi apa yang Ayah rasakan.”

Shen Qiu tidak menggunakan ‘Nenek’ tetapi ‘Nyonya Besar’, rupanya juga sangsi terhadap Nyonya Besar Shen.

Setelah menyelesaikan kalimat itu, Shen Qiu tidak tahan untuk melihat ekspresi Shen Miao. Bagaimanapun juga, Shen Miao dibesarkan oleh Nyonya Besar Shen selama bertahun-tahun ini, dan sebelumnya ketika ia kembali, ia melihat Shen Miao sangat hormat kepada Nyonya Besar Shen. Shen Qiu mengucapkan kata-kata itu karena impuls dan tidak bisa memprediksikan apakah Shen Miao tidak menyukai ini.

“Kerabat dekat dan jauh itu berbeda. Apalagi, darah yang mengalir bukan darahnya sendiri.”

Shen Miao berujar acuh tak acuh, “Tentu saja akan ada diskriminasi.”

“Ha.”

Shen Qiu senang karena menemukan sekutunya, “Benar sekali. Ayah menunjukkan rasa hormat dan berbaktinya, karena Kakek, dan ia sudah melakukan banyak sekali selama bertahun-tahun ini. Bahkan sampai memarahi Ayah karena tidak berbakti ....”

“Itu bukan hanya karena Shu Kedua dan Ketiga, makanya ia memarahi Ayah.”

Shen Miao berkata, “Takutnya ini ada hubungannya dengan Ayah yang tidak mengeluarkan uang yang diberikan oleh Yang Mulia.”

Nyonya Besar Shen adalah orang yang mencintai uang sebanyak ia mencintai nyawanya, dan kali ini Shen Xin marah sekali sampai-sampai ia menahan hadiah itu untuk kepentingannya sendiri, dan terlebih lagi Shen Miao juga tidak mengajukan supaya mengirimkan uangnya ke sana. Seiring berjalannya waktu, tentu saja Nyonya Besar Shen tidak bisa duduk diam dan harus menebalkan kulitnya untuk datang mencari kesalahan.

“Ini benar-benar ....”

Shen Qiu ingin mengatakan beberapa hal, tetapi merasa tidak pantas untuk mengatakannya di depan adik perempuannya, sehingga ia menekannya, “Memangnya kenapa! Itu adalah barang Ayah, ia akan memberikannya kepada siapa pun yang diinginkannya!”

“Tepat, jadi biarkan saja ia meneruskan marah-marahnya. Selama itu masih bisa diabaikan di permukaan dan tidak mengganggunya, ia tidak akan bisa mencari trik apa pun. Tetapi temperamen Ayah kelewat lurus. Beberapa hal harus sabar di luarnya. Saat kesempatan datang, tentu saja akan ada jalan keluar untuk melampiaskan amarahnya.”

Shen Qiu merasa kata-kata Shen Miao agak aneh, tetapi samar-samar mengerti sesuatu dan tersenyum, “Satu tahun tidak bertemu, temperamen Adik sudah jadi jauh lebih kuat.”

Shen Miao tidak berkomentar dan melihat Shen Qiu sudah membuka kantong kertas itu dan memasukkan sepotong besar camilan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, “Camilan ibu kota Ding enak sekali untuk dimakan. Mana mungkin ada sesuatu seenak ini di gurun Barat Laut?”

Shen Miao memerhatikannya makan dalam diam dan bertanya dengan lembut tak lama setelahnya, “Bagaimana Kakak menganggap kesetiaan?”

“Kesetiaan?”

Shen Qiu berbicara bahkan tanpa mengangkat kepalanya, “Tentu saja mengabdikan diri kepada penguasa, mendedikasikan diri untuk melayani kerajaan, membunuh musuh dari luar, mendominasi seluruh negeri dan menjadi pilar bangsa.”

Selesai bicara, ia bertanya pada Shen Miao, “Kenapa Adik menanyakan ini?”

“Tidak ada.”

Shen Miao menggelengkan kepalanya dan berkata ringan, “Makanlah.”

Matanya berpikir keras, tetapi terdapat kilat kesedihan.

0 comments:

Posting Komentar