Kamis, 19 Maret 2026

CTF - Chapter 304

Consort of A Thousand Faces

Chapter 304 : Terus-Menerus Mengambil Keuntungan


Pei An Ru mengencangkan kepalan tangannya. "Putri pejabat ini akan pergi ke Istana Samping sekarang. Ibu Suri, tolong suruh seorang dayang istana memanduku ke sana."

Melihat betapa bertekadnya ia, Pei Ya Ran melambaikan tangan dan memanggil seorang dayang istana. "Bawa ia ke Istana Samping dan segera kembali. Kalau kau tertahan terlalu lama dan ketahuan, Ibu Suri ini tidak akan mengampunimu."

Jantung si dayang istana pun berdetak kencang sebelum ia mengangguk. "Pelayan ini mengerti." Setelah itu, ia berbalik dan mengulurkan tangannya. "Nona An Ru, silakan ikuti pelayan ini."

Pei An Ru mengerti dan mulai mengikuti si dayang istana menuju Istana Samping. Keduanya berjalan sangat cepat, dan segera menghilang dari pandangan Pei Ya Ran.

Banyak hal yang pasti akan meledak sekarang. Tak peduli bagaimana Pei Qian Hao bereaksi, ia tidak akan bisa menyembunyikan kabar bahwa ia berada di Istana Samping. Ketika pejabat mahkamah mengetahui bahwa orang yang saat ini tengah mengendalikan politik mahkamah ditemukan berada di tempat semacam itu, mereka pasti tidak akan merasa senang. Dengan usia muda Kaisar, Prince Regent mewakili Kaisar dalam politik. Seseorang dengan pengaruh seperti itu harus menikahi seseorang dari keluarga bangsawan. Meski itu bukanlah diriku, itu tidak boleh seorang dayang rendahan seperti Su Xi-er!

Ketika ia memikirkan ini, mata Pei Ya Ran tampak lebih jahat lagi. Ibu Suri ini sudah bersedia membiarkanmu hidup apabila kau mengurusi urusanmu sendiri; tetapi Su Xi-er, kau telah melemparkan dirimu sendiri ke jalan neraka!

***

Sementara itu, Pei Qian Hao sudah berada di dalam Istana Samping. Ia berjalan menuruni jalur yang familier ke kamar Su Xi-er, tetapi menemukan bahwa pintu kamarnya tertutup rapat ketika ia mencoba membukanya. Tidak ada dayang istana yang punya kebiasaan mengaitkan pintu mereka; hanya seorang majikan saja yang akan berlaku begitu. Kunci-kunci ini mungkin sama saja seperti dekorasi bagi orang lainnya, tetapi wanita kecil ini mencoba menjauhkan diriku di saat ia kembali ke istana kekaisaran.

Bagaimana bisa kait pintu kecil itu menghadangku? Pei Qian Hao meletakkan tangan kanannya di pintu dan mengerahkan sejumlah tenaga, menyebabkan suara gedoran yang menggema di dalam kamar itu sendiri.

Su Xi-er, yang sedang setengah berbaring di ranjangnya dan berpakaian lengkap, segera bangkit dan memakai sepatunya. "Siapa?"

Namun, satu-satunya jawaban yang diterimanya adalah suara gedoran yang berkelanjutan di pintu. Kalau aku tidak membukanya, suara ribut itu akan membangunkan dayang istana lainnya, termasuk Dayang Senior Liu.

Menghela napas, Su Xi-er segera mulai berjalan menuju ke pintu. "Pangeran Hao, hamba tahu itu Anda. Berhenti menggedor pintunya." Ia membuka kunci dan pintunya, memperlihatkan wajah dingin dan tampan Pei Qian Hao.

Segera saja, Pei Qian Hao meletakkan tangannya di bahu Su Xi-er dan berjalan masuk ke dalam kamar tanpa bicara.

Su Xi-er menutup pintu di belakangnya sebelum menguncinya lagi. Kemudian, ia berbalik dan membungkuk. "Pangeran Hao, apa yang Anda perlukan dari hamba selarut ini?"

"Jika kau tahu itu sudah larut, kenapa kau masih belum melepaskan bajumu untuk tidur?" Tatapannya bergerak di sekitar Su Xi-er. Baru beberapa jam, tetapi ia sudah berganti pakaian ke seragam abu-abu kuning dari Istana Samping. Apakah ia juga memakai korset Cina abu-abu itu lagi?

"Pangeran Hao, hamba berpikir bahwa, dengan kepribadian Anda, ada kemungkinan besar Anda akan berkunjung. Karena ini, hamba masih belum melepaskan pakaian, dan hanya berbaring untuk istirahat. Dan aku benar, Anda memang datang." Su Xi-er berbicara dengan nada yang terukur, ekspresinya hormat.

Ia melakukan segala macam langkah yang berani di Nan Zhao, tetapi kini karena kami telah kembali ke Bei Min, ia jadi seorang pelayan lagi. Apakah ia sedang berpura-pura karena aku di sini, atau apakah itu karena kami berada di istana kekaisaran?

Pei Qian Hao mengerutkan alisnya tidak senang. "Kemari."

Su Xi-er sudah sering kali mendengarkan kata-kata ini. Ini sudah larut malam; dan kami adalah pria dan wanita, berduaan di dalam kamar ini. Apabila ia mencoba untuk melakukan sesuatu yang tidak pantas, aku juga tidak akan bisa membela diriku sendiri. Sudah pasti aku tidak boleh ke sana kali ini!

"Kemari." Suara yang rendah dan dalam itu terdengar lagi, dipenuhi bahaya dan kuasa. Itu nyaris seolah ia sedang bertanya, "Kau berani tidak mengikuti perintah Pangeran ini?"

Su Xi-er berdiri di sana dan tidak bergerak. Ia mendongakkan kepalanya dan bertanya dengan nada yang jelas, "Pangeran Hao, hamba bisa mematuhi instruksi Anda dari sini, jadi mengapa aku harus berjalan ke sisimu?"

Mata Pei Qian Hao sedikit menyipit dan perlahan-lahan, ia berjalan ke arahnya. Ia tidak mendengarkanku lagi.

"Apa kau tidak memahami konsekuensi karena tidak mematuhi Pangeran ini?"

Suara Pei Qian Hao terdengar di sebelah telinga Su Xi-er sebelum sepasang lengan mulai melingkarkan diri mereka di sekitar pinggangnya.

Namun, ia tidak takut untuk menyingkir. Ia menurunkan tubuhnya dan menghindar ke bawah tangannya, berputar-putar hingga ia berdiri hampir satu meter di belakang pria itu.

Mendadak tertinggal dalam posisi yang canggung dimana ia memeluk udara, ekspresi Pei Qian Hao menggelap sewaktu ia berbalik dan melantunkan dengan suara yang dalam. "Su Xi-er."

Su Xi-er mundur dua langkah dan membungkuk lagi. "Hamba di sini. Pangeran Hao, hamba akan mematuhi instruksi apa saja yang Anda miliki jika mereka tidak membuatku dalam keadaan terjepit."

"Kau benar-benar mengira bahwa Pangeran ini tidak bisa mengatasimu?" Mata Pei Qian Hao yang menyipit pun kembali normal. Gerakannya yang selanjutnya secepat kilat, mirip seperti seekor macan kumbang yang menerkam mangsanya.

Kamar itu kecil, dan pintunya merupakan satu-satunya jalan keluar apabila Su Xi-er ingin pergi. Meksi jika ia berhasil keluar, ia tahu bahwa pria itu akan tetap mengikuti, dan hiruk-pikuk yang selanjutnya akan membangunkan semua orang lain.

Pei Qian Hao memegangi tangan Su Xi-er sementara ia menggunakan tangan lainnya, secara perlahan-lahan mengambil hiasan rambut kayu dari kepalanya, meletakkannya ke atas meja di sebelah mereka.

Rambutnya yang terlepas, nyaris cukup panjang untuk mencapai pinggangnya saat rambutnya terurai.

Semua orang mengatakan bahwa, pria menyukai wanita yang berambut panjang seperti sutra. Pei Qian Hao pun tidak terkecuali. Wanita di keempat kerajaan besar menghargai dan menjaga rambut mereka, dan hanya akan memotongnya apabila itu menjadi suatu beban untuk diatur.

(T/N : untuk mengurangi penjelasan yang panjang, masyarakat Cina kuno, menghargai rambut mereka dan tidak akan semudah itu memotongnya karena itu dianggap sebagai hadiah dari orang tua mereka. Karena rasa bakti itu penting, memotong rambut seseorang bisa melanggar norma / tidak sopan.)

Pei Qian Hao merapikan rambut panjang Su Xi-er dengan cermat dan memeluknya erat-erat selagi ia menghirup wangi rambutnya.

Namun, kata-kata Su Xi-er membuatnya tertegun. "Pangeran Hao, hamba tidak mencuci rambutku hari ini."

Tak ada jawaban dari itu. Ketika Su Xi-er mengangkat kepalanya dan mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeramannya, tiba-tiba saja ia mengeratkan tangan yang ada di pinggang Su Xi-er dan membalikkan gadis itu agar menghadapnya.

Wajah Pei Qian Hao tiba-tiba saja memenuhi pandangan Su Xi-er, wangi maskulinnya memasuki hidungnya sewaktu pria itu menanamkan ciuman di mulutnya, mencoba untuk mengaitkan lidahnya dengan miliknya.

Tangan pria itu masih melingkarinya dengan erat, perlahan-lahan memindahkan mereka hingga mereka berada tepat di sebelah ranjang.

Su Xi-er menggunakan seluruh tenaga untuk akhirnya melepaskan diri dari tangannya sebelum mencoba mendorongnya pergi. Namun, karena betapa dekat pria itu, Su Xi-er tidak sanggup mengerahkan cukup banyak pengaruh untuk melakukannya.

"Pangeran ini tidak sabar; berapa lama yang kau butuhkan untuk memutuskannya?"

Maksudnya jelas—Kapan kau akan kembali ke Kediaman Pangeran Hao bersama Pangeran ini? Aku tidak bisa membiarkanmu terus menundanya. Akan tetapi, Su Xi-er tahu bahwa Pei Qian Hao menginginkan seorang wanita yang berbudi luhur, yang akan secara patuh menurutinya, sekaligus membantu membesarkan anak-anaknya. Pei Qian Hao juga sengaja menghindari topik Hao Wang Fei dulu.

Jika aku masuk Kediaman Pangeran Hao sebagai seorang dayang; paling banter aku akan jadi seorang selir. Tidak mungkin bagiku untuk menjadi Hao Wang Fei! Belum pernah ada kasus dimana seorang wanita dengan posisi rendahan yang melejit ke posisi semacam itu, terutama jika mereka adalah pelayan.

Su Xi-er mendongak menatapnya. Orang-orang dengan pengaruh, suka merasa bahwa segalanya berada dalam kendali mereka. Pei Qian Hao pun tidak ada bedanya.

"Pangeran Hao, hamba sudah mengatakan bahwa ...."

Sebelum ia bisa selesai, ia mendengar ketukan keras di pintunya, dan suara seorang wanita dapat terdengar. "Su Xi-er! Cepatlah keluar!"

Disela, Su Xi-er mengalihkan tatapannya dan menendang Pei Qian Hao. "Seseorang di sini; apa Anda mau sembunyi?" 

0 comments:

Posting Komentar