Selasa, 31 Maret 2026

CTF - Chapter 312

Consort of A Thousand Faces

Chapter 312 : Siapa Mengira Seperti Ini


Pei Qian Hao berjalan masuk ke dalam aula utama Istana Kedamaian Penuh Kasih, mengamati dayang istana di dalam sebelum Pei Ya Ran bahkan dapat membuka mulutnya.

Para dayang istana segera mengerti, dengan cepat undur diri sembari menutup pintu di belakang mereka.

Ekspresi Pei Ya Ran jadi serius sewaktu ia menghampiri tempat duduk paling atas dan duduk sebelum memberikan seulas senyuman, "Pangeran Hao, kau masih belum memberikan hormatmu pada Ibu Suri ini, bahkan setelah memasuki Istana Kedamaian Penuh Kasih. Kau terus mengingatkan Ibu Suri ini bahwa aku harus menampilkan sikap seorang Ibu Suri, tetapi, bagaimana denganmu? Apakah kau memiliki sikap seorang Prince Regent?"

Pei Qian Hao segera menangkupkan kedua tangannya. "Pejabat rendahan ini memberi hormat pada Ibu Suri."

Aku tidak peduli tentang dirinya yang memintaku untuk bersikap hormat di permukaan. Selama ia tidak menyentuh garis batas bawahku, semuanya masih bisa dinegosiasikan.

"Pangeran Hao, Ibu Suri ini mengerti apa yang hendak kau katakan. Su Xi-er adalah wanitamu, dan Ibu Suri ini tidak boleh melakukan apa pun kepadanya." Pei Ya Ran mengakui pelan selagi ia memainkan sebuah cangkir teh di tangannya.

"Baguslah karena kau memahami Pangeran ini, Ibu Suri. Mulai dari sekarang, aku harap agar kau tidak berhubungan dengan masalah yang terkait dengan Su Xi-er."

Pei Ya Ran tertawa dan merilekskan pegangannya. Prang! Cangkir teh porselen putih itu jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. "Seorang wanita seperti satu cangkir teh, memesona dan indah saat masa mudanya, sekaligus menarik perhatian semua orang. Namun, penampilan mereka rapuh seperti cangkir ini, dan akan dengan mudahnya hancur berkeping-keping setelah masa muda mereka. Pangeran Hao, apa yang dimiliki Su Xi-er selain dari penampilannya?"

"Ibu Suri, kau sedang mencoba untuk mengingatkan Pangeran ini agar fokus pada kekuasaan dan menyerah pada Su Xi-er, kan?" Tatapan Pei Qian Hao jadi dalam seperti kolam tak berdasar, membuatnya sulit untuk menerka apa yang tengah dikontempelasikannya.

Jantung Pei Ya Ran mendadak berdebar kencang. Itu menakutkanku, setiap kali ia menunjukkan ekspresi semacam itu. Setiap kali aku melihatnya di masa lalu, seseorang, atau bahkan seluruh keluarga mereka, terbunuh. Baginya, memperlihatkan ekspresi semacam itu sekarang ... mungkinkah itu berarti kalau ia ingin membunuhku?

Tetapi aku telah bersama-sama dengannya selama bertahun-tahun. Tidak semestinya ia begitu tidak tahu terima kasih dan tidak berperasaan!

Senyuman Pei Ya Ran menghilang, dan ia menggebrakkan tangannya di atas meja. "Kau semestinya selalu fokus pada kekuasaan. Kalau tidak, kenapa aku masuk ke dalam istana? Awalnya itu adalah demi Keluarga Pei, dan sekarang, ini semua demi dirimu! Sebagai Prince Regent, sekarang ini kau memonopoli kekuasaan terbesar di Bei Min. Di saat Kaisar cukup usia untuk mengambil takhta secara formal, semua pejabat mahkamah akan berada di pihakmu. Saat itu ...."

Tepat ketika ia baru saja akan tiba di bagian paling penting, bunyi retakan yang keras pun terdengar. Pei Ya Ran menyaksikan sewaktu meja redwood di aula utama tiba-tiba saja terbelah jadi dua, dengan tinju Pei Qian Hao masih berada di atasnya! Tatapannya dingin, dan ekspresinya gelap selagi ia menatapnya.

"Siapa saja yang berani untuk menentang Pangeran ini, akan menemui akhir yang sama dengan meja ini. Pangeran ini akan mengirimkan seseorang bersama dengan satu meja berkualitas tinggi besok." Setelah itu, Pei Qian Hao membungkuk untuk memberikan hormatnya. "Ibu Suri, istirahatlah lebih awal."

Kemudian, ia mulai berjalan ke pintu utama, langkah kakinya menggema di seluruh aula yang cekung itu. Setelah dayang istana yang gemetaran di luar melihatnya, ia pun berlutut dengan bunyi gedebuk. "Pelayan ini mengantarkan Pangeran Hao."

Pei Qian Hao tidak repot untuk menjawab, hanya langsung berjalan keluar. Dayang istana itu masih terlalu ketakutan untuk bangun, dan terlalu ngeri untuk melihat ke dalam aula utama juga. Semuanya, termasuk para dayang istana, pengawal, dan kasim, sudah mendengar suara pukulan yang keras barusan ini.

Di dalam aula utama, Pei Ya Ran masih membeku kaku. Tangannya mencengkeram sandaran lengan di kursi sementara ia memandangi sisa-sisa dari meja redwood itu, dan tetap begitu untuk beberapa waktu.

Beberapa saat kemudian, embusan angin dingin memasuki aula utama dan membuat Pei Ya Ran menggigil, akhirnya membantunya keluar dari keadaan terguncangnya.

"Kemari, bereskan semuanya di sini." Pei Ya Ran melambaikan tangannya pada dayang istana di luar sana dan memberi sinyal agar mereka masuk.

Para dayang di luar sana segera bangkit. Kaki mereka semuanya mati rasa setelah berlutut untuk waktu yang sangat lama, dan karenanya pelan-pelan masuk. Namun, setelah mereka melakukannya, mereka semua tertegun melihat kekacauan yang menyambut mereka, yang mana termasuk cangkir teh yang hancur dan meja redwood yang retak.

Pangeran Hao pasti kehilangan kesabarannya hingga terjadi sesuatu seperti ini. Hanya akibatnya saja, sudah cukup untuk memperlihatkan betapa mengerikannya ekspresinya.

"Segera bereskan semuanya!" Suara Pei Ya Ran penuh amarah.

Para dayang istana tidak berani lambat, langsung membungkuk untuk membersihkan kekacauan itu.

Tatapan di mata Pei Ya Ran tidak bisa diduga. Pei Qian Hao sudah mengatakan kata-kata sekasar itu; apabila aku terus menyerang Su Xi-er, ia tidak akan ragu untuk mengabaikan hubungan kami dan posisi sosial. Tentang ini, aku yakin, dan aku mengetahui caranya dengan sangat baik.

Aku tidak percaya kalau aku akan berakhir seperti ini dengannya. Aku selalu melakukan semuanya demi kepentingannya, tetapi ia membuanku demi seorang dayang rendahan!

Hati Pei Ya Ran jadi semakin sakit saat ia memikirkan soal ini, bahkan tangannya gemetaran saat ia mengangkatnya untuk menopang keningnya.

Setelah beberapa saat, Pei Ya Ran teringat kalau Pei An Ru masih belum kembali dari Istana Samping. Apakah ia pergi ke tempat yang salah? Tidak, tidak mungkin. Maka, Pei Qian Hao pasti ada di sana saat ia pergi ke Istana Samping.

Jadi, kemana Pei An Ru?

Saat ini, seorang kasim berlari dengan panik masuk ke dalam aula utama. "Melapor pada Ibu Suri, Nona An Ru ditemukan tidak sadarkan diri di samping jalur istana. Seorang pengawal sudah membawanya ke Istana Kedamaian Penuh Kasih, tetapi tubuhnya masih dingin. Ia harus menemui tabib kekaisaran."

Alis Pei Ya Ran berkerut. "Cepatlah pergi ke Institut Tabib Kekaisaran."

Si kasim pun segera membungkuk. "Pelayan ini akan ke sana sekarang juga."

Pei Ya Ran mengepalkan tangannya dengan erat. Su Xi-er, kita masih punya banyak hari di depan kita. Sekarang ini, Pei Qian Hao mewaspadaiku, jadi aku tidak akan melakukan apa-apa padamu saat ini. Namun, kau bisa yakin bahwa Ibu Suri ini akan membunuhmu dengan satu tembakan di masa depan!

Kemudian, Pei Ya Ran berdiri dan berjalan ke arah kamar tempat Pei An Ru sedang beristirahat.

Saat ia memasuki kamar, ia menyentuh kening Pei An Ru. Panas sekali, seakan-akan ia sudah terserang demam.

"Pelayan, panggil Tuan Pei untuk masuk Istana Kedamaian Penuh Kasih dan bawa Nona An Ru pergi. Ia sakit, dan tidak bisa terus berada di dalam istana." Pei Ya Ran menginstruksikan seorang dayang di sebelahnya.

Dayang istana itu langsung pergi keluar dan menyampaikan pesan tersebut pada seorang pengawal. Pengawal itu menerima perintah Ibu Suri dan dengan cepat meninggalkan istana, menuju Kediaman Pei.

***

Sementara itu, Su Xi-er sudah kembali ke Istana Samping, dan saat ini berada di dalam kamarnya setelah menerima beberapa instruksi dari Dayang Senior Liu. Kasim Zhang juga sudah kembali ke Departemen Rumah Tangga Kekaisaran.

Tepat saat Su Xi-er baru saja akan membuka pintu kamarnya, ia mendengar suara-suara yang berasal dari jalan, dan menemukan Hong Li menuju ke arahnya. Kenapa ia tampak begitu kebingungan?

Hong Li berhenti di depan Su Xi-er sebelum meluncurkan penjelasannya. "Aku menemukan seorang pria di halaman belakang Istana Samping. Ia bukan seorang kasim, tetapi ia terluka dan aku mengasihaninya. Aku menempatkannya di dalam kamarmu."

Ada orang lain yang tidur di kamar Hong Li, kalau tidak, ia tidak mungkin membawa pria itu ke dalam kamarku.

Alis Su Xi-er tertaut. Pei Qian Hao selalu mengunjungiku tanpa peringatan. Jika tiba-tiba saja ia menemukan seorang pria aneh di dalam kamarku, itu tidak akan berakhir baik.

Terlepas dari pikirannya, ekspresi Su Xi-er tidak berubah. Ia berujar pelan, "Mari masuk ke dalam dan lihat."

Hong Li mengangguk dan mengikuti Su Xi-er masuk ke dalam kamar.

Seorang pria yang mengenakan baju kasar sedang duduk di atas sebuah bangku kayu. Tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang banyak bercucuran darah.

Su Xi-er berjalan mendekat. Saat ia melihat cadar abu-abu pada dirinya, ia terkejut. Itu adalah Feng Chang Qing! Mungkinkah ia ketahuan oleh Pasukan Tentara Kekaisaran dan diserang oleh sekelompok dari mereka? Kalau tidak, ia tidak akan terluka sampai seperti ini dengan kemampuannya!

"Hong Li, pergi dan panaskan air. Aku akan membasuh lukanya."

Hong Li mengangguk dan berjalan ke arah dapur untuk memanaskan air.

0 comments:

Posting Komentar