Rabu, 18 Maret 2026

CTF - Chapter 293

Consort of A Thousand Faces

Chapter 293 : Lemak Perut


Malam yang gelap pun segera tiba, dengan bulan yang menyembunyikan cahayanya di balik awan. Tidak ada angin sepoi-sepoi malam hari, bahkan para penduduk masuk lebih awal dari biasanya ketika kota tenggelam dalam keheningan. Menit berubah jadi jam, dan segera saja, mataharinya terbit lagi. Di waktu siang bergulir, rombongan Pei Qian Hao bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke Bei Min.

Kereta kuda yang dipinjamkan pada Pei Qian Hao untuk digunakan sementara ia berada di Nan Zhao, sudah dikembalikan ke Kediaman Pangeran Yun. Walaupun Yun Ruo Feng adalah orang yang menyambut Pei Qian Hao ketika ia sampai di Nan Zhao, Ning Lian Chen-lah yang sekarang ini mengantarkan mereka pulang.

Ning Lian Chen mengenakan jubah kasual dengan beberapa pengawal kekaisaran di sisinya. Takut membangkitkan kecurigaan Pei Qian Hao, tatapan Ning Lian Chen hanya tetap pada Su Xi-er sejenak sebelum berbalik padanya. "Pangeran Hao, Kaisar ini akan menemanimu ke pinggiran ibu kota."

"Yang Mulia benar-benar ramah," Pei Qian Hao menjawab dengan tenang sebelum ia mengangguk pada Su Xi-er. "Naik duluan ke kereta."

Su Xi-er mengiyakan pelan sebelum naik ke atas kereta kuda dengan beberapa buntalan di tangannya. Kemudian, ia bersandar di tirai dan mendengarkan dengan hati-hati percakapan di antara Ning Lian Chen dan Pei Qian Hao.

"Pangeran Hao, Kaisar ini akan mengunjungi Bei Min secara pribadi setelah situasi di Nan Zhao stabil. Aku akan pastikan untuk mengirimkan sekelompok penanam bunga dan pengrajin yang handal juga."

Dengan nada bicaranya yang tipikal, penyendiri dan dingin, Pei Qian Hao membalas, "Pintu Bei Min tentunya terbuka untuk Yang Mulia apabila kau ingin berkunjung. Sudah makin telat, dan Pangeran ini tidak akan basa-basi dengan Yang Mulia. Karena Yang Mulia ingin mengantarkan kami hingga ke pinggiran kota, Pangeran ini akan lebih dulu mengucapkan terima kasih."

Lalu, Pei Qian Hao berbalik dan naik ke kereta kuda, mendorong Su Xi-er untuk dengan cepat berpindah ke sudut tempat duduk.

Selagi kereta kuda bergerak menuju ke gerbang ibu kota, Ning Lian Chen terpaku pada kereta tempat Su Xi-er berada. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada Kakak Perempuan, aku penasaran, berapa lama yang akan dibutuhkan hingga kami bertemu kembali.

Rakyat jelata berbaris di kedua sisi jalanan untuk mengantarkan rombongan tersebut. Mereka semua mengetahui Pangeran Hao duduk di dalam kereta kuda di depan, dan Kaisar berada di kereta kuda di belakang.

Seorang wanita bergaun ungu bersembunyi di tengah kerumunan, matanya mengekori kereta kuda tersebut—Mei Jin Xiu. Setelah meninggalkan Paviliun Angin Cyan, ia sudah kembali ke Keluarga Mei dan disambut dengan pemandangan dari seorang pria asing yang duduk di kursi tertinggi di aula utama, penghinaan melukis ekspresinya. Tetua Keluarga Mei sudah melucuti seluruh kekuasaan dan otoritasnya sementara ia tidak ada.

Ia telah diusir dari Keluarga Mei, tidak menyisakan apa pun kecuali beberapa perak. Otoritas lokal mengklaim bahwa itu adalah urusan keluarga, dan menolak untuk ikut campur. Mei Jin Xiu tak bisa berbuat banyak selain menelan ketidakadilan di dalam hatinya dan berjalan di sekitar sambil melamun, sepenuhnya bingung apa yang harus diperbuat selanjutnya. Ia tidak punya tempat yang dituju, dan ia tidak memiliki sumber daya untuk memikirkan rencana pembalasan dendam juga.

Tiba-tiba saja, Mei Jin Xiu melihat seorang pemuda dengan sebuah guci anggur di pinggangnya di dalam keramaian. Pemuda itu kemudian berjalan ke depan dengan cepat, tatapannya tidak meninggalkan kereta kuda di bagian depan rombongan.

Kemarin, Pangeran Hao mengutus seorang bawahan ke Asosiasi Sastra untuk memberitahukan Yu Xiao bahwa mereka akan berangkat ke Bei Min siang ini. Yu Xiao sedang meneliti tanaman obat ketika pesannya sampai, dan baru berkemas setelah ia selesai. Beruntungnya, aku tepat waktu. Yu Xiao mengejar mereka.

Ketika mereka tiba di pinggiran kota, Yu Xiao sudah menyusul, tetapi tidak menyadari bahwa Mei Jin Xiu telah membuntutinya.

Orang itu bersembunyi di balik sebatang pohon yang tebal selagi ia menatap ke depan, tangannya tanpa sadar terkepal. Aku sudah tidak punya tujuan di Nan Zhao, maupun memiliki kepercayaan yang tersisa di dalam Keluarga Mei setelah para tetua mengkhianatiku. Lagipula, mereka selalu menentang semua yang kucoba lakukan, jadi, kenapa aku tidak pergi saja ke Bei Min?

Tatapan Yu Xiao menyapu melewati Ning Lian Chen dan akhirnya tertuju pada kereta kuda yang paling luas. "Pangeran Hao, maafkan aku karena terlambat. Kereta kuda manakah yang harus kunaiki?"

Su Xi-er mengangkat tirai kereta sementara suara rendah Pei Qian Hao terdengar. "Yang ada di belakang."

Yu Xiao menerima perintah tersebut dan melompat naik ke atas kereta kuda seperti seekor kera. Ketika ia menemukan Feng Chang Qing sudah duduk di salah satu tempat duduk, mau tak mau, entah mengapa, ia merasa kalau ia sudah pernah bertemu dengan pria lainnya.

Su Xi-er menyaksikan semuanya dari kereta, melemparkan tatapan menenangkan pada Ning Lian Chen agar mengurangi kecemasannya. Tepat sebelum Ning Lian Chen dapat menganggukkan kepalanya, Pei Qian Hao sudah menarik Su Xi-er kembali ke dalam kereta kuda, punggung lebarnya menghadang pandangan gadis itu.

"Yang Mulia, kita sudah sampai di daerah pedesaan. Tidak akan pantas bagi Yang Mulia untuk menemani kami lebih jauh."

Ning Lian Chen mengangkat tangannya dan menangkupkan mereka. "Pangeran Hao, hati-hati di jalan."

Pei Qian Hao mengangguk dan membiarkan tirainya jatuh sebelum memerintahkan pengawal untuk meneruskan.

Ning Lian Chen mengakar di tempatnya untuk waktu yang lama sementara ia memandangi kereta kuda yang menghilang di kejauhan. Kakak Perempuan, kau harus tetap aman dan baik-baik saja di Bei Min. Lian Chen akan tetap di sini untuk melindungi Nan Zhao dan Rumah Tangga Kekaisaran Ning.

Ketika rombongan kereta kuda itu sepenuhnya menghilang, Ning Lian Chen naik ke keretanya dan memerintahkan pengawal agar kembali ke istana kekaisaran.

Mei Jin Xiu baru keluar dari balik pepohonan setelah Ning Lian Chen pergi. Di sebelah kanannya adalah jalan yang jauh dari rumah; di sebelah kirinya adalah ibu kota Nan Zhao. Mei Jin Xiu berdiri mengakar di tempat, belum pernah membuat keputusan sepelik ini sebelumnya.

Perlahan-lahan, air mata mulai menggenangi matanya. Tetua Keluarga Mei yang menyaksikanku tumbuh besar, benar-benar memperlakukanku seperti ini! Ia mengepalkan tangannya, dan dengan tampang penuh tekad di wajahnya, ia menginjak ke jalan di sebelah kanannya. Aku bersumpah, di waktu berikutnya aku kembali ke Nan Zhao, aku akan merebut kembali Keluarga Mei dengan tanganku sendiri!!

Dalam beberapa hari terakhir, sepertinya Mei Jin Xiu jadi dewasa. Ia sudah terlalu sombong dan arogan, sangat amat, sampai-sampai ia terus membuat permohonan pada Pei Qian Hao meski setelah ia menyinggung pria itu. Dayang Pangeran Hao benar. Masalahnya terletak pada sikap keras kepala dan besar kepala; sesuatu yang hanya diperburuk oleh para tetua renta itu.

Daripada merecoki Pangeran Hao, aku harus melihat diriku sendiri. Aku hanyalah seorang tabib wanita biasa tanpa adanya kemampuan luar biasa untuk diperbincangkan. Oleh sebab itu, aku harus meneruskan pembelajarankus dan secara konstan memperbaiki diriku agar aku bisa dengan bangga mengangkat kepalaku. Aku juga akan memanfaatkan kemampuan medisku untuk mendapatkan sejumlah uang dengan mengobati orang di sepanjang jalan.

Jika aku cukup beruntung untuk bertemu dengan dayang Pangeran Hao lagi, aku pasti akan belajar darinya.

(T/N : semoga berhasil mbak Mei, harus kuat, ini cobaan :")

***

Di dalam kereta, mata Pei Qian Hao terpejam sementara ia bersandar di dinding kereta. Su Xi-er sedang memandangi pedesaan yang berlalu dengan cepat.

Saat itu juga, seekor burung merpati putih masuk ke dalam kereta kuda. Dengan kereta kuda yang sedang melaju secepat itu, si merpati pun menabrak dindingnya dengan suara keras.

Si merpati gemuk pun linglung akibat tabrakan itu, berguling-guling di lantai kereta sebelum akhirnya berhenti di depan kaki Su Xi-er.

Su Xi-er merasa geli dan tawa terbahak-bahak pun lolos dari bibirnya. Kemudian, ia mengambil surat dari kaki si merpati. "Pangeran Hao, suratnya."

Senyum masih ada di wajahnya selagi ia berbicara.

Pei Qian Hao sudah membuka matanya di saat burung merpati itu terbang masuk ke dalam kereta kuda. Ia mengambil surat itu dan membukanya.

Ia telah memberikan dua perintah. Pertama, menangkap Pei Yong; kedua, membubarkan Istana Kecantikan. Surat itu merinci bahkan keduanya telah selesai.

Saat itu juga, si merpati membangunkan dirinya dari lantai dan mengepakkan sayapnya, tidak yakin jalan keluarnya.

Mata Su Xi-er jadi cerah selagi ia membungkuk dan menangkap si merpati di dalam tangannya, mengangkat tirai sebelum membiarkannya terbang pergi.

"Pangeran Hao, seekor merpati gemuk seperti ini, bisa menjadi merpati pos? Apakah Anda tidak takut kalau itu akan ketahuan di tengah jalan?" Matanya dipenuhi dengan kilat menggoda selagi ia bertanya.

Pei Qian Hao merobek kertas di tangannya dan melemparkannya keluar kereta. "Siapa yang peduli apakah burungnya gemuk atau kurus? Seekor merpati yang bagus hanyalah yang dapat mengantarkan suratnya paling cepat ...."

"Komandan Wu baik sekali, menggemukkan merpatinya."

Pei Qian Hao mencondong ke depan dan menatapnya. "Apa kau sedang mengatakan bahwa alasan kau begitu kurus adalah karena Pangeran ini kurang baik?"

"Tidak, Pangeran Hao. Anda sangat baik hati, hamba sekarang jauh lebih gemuk dari sebelumnya."

"Dimana? Pangeran ini tidak merasa kalau kau bertambah berat badan dimana-mana."

Su Xi-er sedikit bergeser ke samping dan menjawab, "Aku mendapatkan sedikit lemak perut."

0 comments:

Posting Komentar