Sabtu, 07 Maret 2026

CTF - Chapter 264

Consort of A Thousand Faces

Chapter 264 : Mencoba Sendiri Obatnya


Yu Xiao masuk ke kamar tempat Su Xi-er berada, merasakan udara hangat dari penghangat menerpanya.

Pei Qian Hao masih duduk di pinggir ranjang. Ketika ia melihat kalau Yu Xiao penuh luka goresan, ia bertanya, "Apa kau berhasil mendapatkan tanaman obatnya? Bagaimana tubuhmu?"

"Tidak apa-apa, aku membawa tanaman obatnya bersamaku, dan aku akan bertahan hidup tanpa masalah. Namun, satu pengawal kekaisaranmu, barangkali mati setelah ia terjatuh dari jurang, mencoba untuk mengalihkan tentara menjauh dariku."

Pei Qian Hao tidak mengatakan apa-apa, hanya menundukkan kepalanya untuk menatap Su Xi-er yang tertidur. Tatapannya berubah dingin. Yun Ruo Feng telah menyinggungku dengan membuat seorang pengawal kekaisaran jatuh dari jurang. Tidak ikut campur dalam urusan Nan Zhao, bukan lagi suatu pilihan!

(T/N : hao, daku padamu, seorang pengawal pun berharga buat dirimu ga kayak si nganu =_=)

"Ambil sepotong ginseng dan emut di mulutmu." Pei Qian Hao menyerahkan ginseng itu pada Yu Xiao.

Yu Xiao mengambilnya dan meletakkan sepotong ke dalam mulutnya. Kemudian, ia berjalan ke arah rak di dalam kamar dan menggunakan sisa air panas untuk membersihkan luka-lukanya.

Yu Xiao bergerak dengan cepat, melepaskan duri-duri yang masih tersangkut di kulitnya secara efisien tanpa terlalu banyak tersentak. Lalu, ia pergi dan menuju ke kamar si tabib senior untuk mengambil beberapa tanaman obat untuk luka-lukanya.

Yu Xiao kembali bersama si tabib senior di belakangnya, orang itu sudah selesai merebuskan obat dari tanaman obat yang baru saja dibawa pulang.

Namun, Yu Xiao menghadangnya maju ke depan. "Rumput Jiwa sangat tidak lazim. Itu adalah obat, sekaligus racun, jadi aku akan mencobanya lebih dulu."

Tentunya, tabib senior itu mengetahui tentang kegunaan pengobatan Rumput Jiwa. Saat ia melihat Yu Xiao mengulurkan tangan, ia segera menarik kembali mangkuknya. "Tidak, bukan hanya kau masih anak-anak, kau juga diselimuti dengan luka. Kalau terjadi sesuatu, kau tidak akan selamat."

"Jangan khawatir, aku sudah pernah mencoba segala macam racun sebelumnya, dan tubuhku baik-baik saja. Biarkan kucoba obatnya." Yu Xiao meraih mangkuk obat lagi setelah ini.

Namun, sebelum ia bisa mengambilnya ke tangannya, suara yang rendah dan dalam pun berbunyi, "Bawakan kemari. Pangeran ini akan mencoba obatnya."

Gerakan Yu Xiao terhenti; ekspresi si tabib senior juga serius. Meskipun Guan Xiang memberitahukan padaku jati dirinya, aku masih tidak bisa memercayai bahwa pria di balik pintu ini adalah Pangeran Hao dari Bei Min, sudah jelas kalau nona ini tidak mungkin hanyalah dayang biasa apabila Pangeran Hao sendiri yang mencoba obat untuknya.

Tabib senior itu membawakan obatnya dengan hati-hati ke dalam kamar, bersama Yu Xiao yang diam-diam mengikuti di belakangnya. Setelah menutup pintu, Yu Xiao berbalik, melihat Pei Qian Hao perlahan-lahan menyeruput obat itu tanpa kata.

Tabib senior itu tampak cemas. Rumput Jiwa seperti jamur di pegunungan. Ada yang beracun dan ada yang bagus. Sementara warna dan bentuk dari jamur akan memperlihatkan apakah mereka beracun atau tidak, hal yang sama tidak dapat dikatakan pada Rumput Jiwa. Baik yang beracun atau pun yang normal, semua tampak sama.

Jika Rumput Jiwa ini beracun, bahkan dewa pun tak akan bisa menyelamatkannya. Baik nona dan Pangeran Hao akan mati. Jika Rumput Jiwa ini bagus, maka kita akan sangat beruntung, memiliki obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit.

"Pangeran Hao, periksa dalam lima belas menit, apakah tubuh Anda merasa gatal atau apakah tenggorokan Anda merasa sakit. Jika Anda bisa bernapas dengan normal, warna bibir Anda normal, dan Anda tidak merasa mati rasa, maka Anda boleh memberikan semangkuk obat ini untuk diminum Nona." Si tabib senior berkata dengan hormat. Tanpa mengutarakan secara lantang, pada dasarnya, ia sedang memberitahukan Pei Qian Hao bahwa ia akan mati jika terjadi sesuatu.

Pei Qian Hao mengangguk dan menyerahkan obatnya pada si tabib senior. "Bawa ini dan panaskan. Obatnya akan dingin dalam lima belas menit."

Jantung si tabib senior berdebar kencang. Pangeran Hao tidak mencemaskan tentang apakah sesuatu akan terjadi pada dirinya, tetapi apakah nona ini akan merasa nyaman meminum obat yang dingin.

"Bawa dan panaskan obatnya." Suara dalam Pangeran Hao memecah keterguncangan si tabib senior. Ia segera mengambil mangkuk obat dan berbalik pergi.

Detik perlahan-lahan berlalu, dan Yu Xiao jadi gelisah. Ia memiliki pengetahuan medis, dan telah menciptakan beberapa jenis obat aneh selama bertahun-tahun. Namun, bahkan dirinya saja, tidak akan bisa mengetahui perbedaan di antara Rumput Jiwa yang bagus dan buruk setelah mempelajarinya untuk waktu yang lama. Seseorang hanya bisa mengetahuinya dengan mencoba meminum obatnya.

Jika Pangeran Hao mati, tanggung jawabnya akan jatuh padaku. Yu Xiao bahkan merasa jauh lebih gugup sekarang, matanya dipenuhi kecemasan.

"Kenapa kau begitu gugup padahal Pangeran ini saja tidak?" Pei Qian Hao tertawa. Tawanya mengandung sejejak rasa main-main.

"Akulah orang yang mengumpulkan Rumput Jiwa. Melihat bagaimana ia akan memengaruhi dua nyawa, aku tidak melihat bagaimana aku bisa tidak gugup."

"Bukankah kau ingin mengikuti dayang Pangeran ini? Apabila ia mampu melewati rintangan ini, Pangeran ini akan mengizinkanmu untuk mengikutinya. Namun, ia adalah dayang Pangeran ini. Meskipun kau hanyalah seorang anak muda, kau tetap tidak boleh muncul di sebelahnya."

Yu Xiao kaget setelah mendengar ini. Sekarang bukan waktunya untuk mendiskusikan hal semacam ini! Tetapi aku mengerti apa yang dimaksud oleh Pangeran Hao. Aku boleh mengikutinya, tetapi aku harus melakukannya dari balik layar. Setelah bertahun-tahun, bahkan Guan Xiang saja tidak bisa menerka diriku, tetapi Nona bisa! Kami hanya bisa berharap untuk yang terbaik sekarang.

Pei Qian Hao menundukkan kepalanya dan memandangi Su Xi-er, tangannya mengelus telinganya yang berwarna merah muda. Mereka terasa hangat dan lembut. Tidak buruk. Setelah itu, ia terus mengelus dagu dan lehernya, sepenuhnya mengabaikan situasi saat ini.

Ia hanya mengelus-elusnya secara perlahan dan memijat titik akupunturnya di waktu bersamaan, membuat agar ia akan merasa lebih baik, meskipun sedang tertidur.

Ketika tabib senior itu masuk ke dalam kamar lagi bersama mangkuk obatnya, lima belas menit telah berlalu. Pei Qian Hao tidak mengalami reaksi yang merugikan, artinya, Rumput Jiwa ini bagus!

Yu Xiao menghela napas lega. Dengan semua ketegangan meninggalkan tubuhnya, tiba-tiba saja ia menyadari kalau lukanya terasa sakit sekali. Karena sepertinya ini akan baik-baik saja, ia cepat-cepat meninggalkan kamar untuk mengambil lebih banyak tanaman obat untuk luka goresnya.

Pei Qian Hao memegangi Su Xi-er dengan satu tangan dan memegangi mangkuk obat dengan tangan lainnya. Sekarang ini ia sedang tidur dan tidak bisa minum obatnya sendiri. Hanya ada satu cara.

Ada kilat yang melintas di mata Pei Qian Hao. Sudut mulutnya sedikit terangkat, seolah ia baru saja mendapatkan keuntungan.

Ia menundukkan kepalanya dan menyeruput obat tersebut, menahannya di dalam mulutnya sebelum membawa bibirnya ke bibir Su Xi-er dan mencungkil mulutnya terbuka. Tidak sadarkan diri, Su Xi-er tidak bisa menghentikan Pei Qian Hao melakukan sesukanya. Oleh sebab itu, selain memberinya minum obat, Pei Qian Hao juga mengambil kesempatan untuk menghisap lidah kecil Su Xi-er setiap kali ia memberinya seteguk obat lagi.

Pei Qian Hao memberikan semangkuk obat itu pada Su Xi-er menggunakan metode yang sama. Di saat mangkuknya kosong, wajah Su Xi-er sudah kembali ke warnanya yang biasa, dan napasnya juga sebagian besar agak tenang.

Tabib senior itu maju ke depan untuk memeriksa denyut nadinya dan mengangguk. "Nona akan bangun, paling lama dalam dua jam. Ia harus merawat tubuhnya, tetapi setelah tiga hari, luka pedang di tangannya akan membentuk keropeng."

Pei Qian Hao mengangguk dan melambaikan tangannya. "Pergi dan siapkan semangkuk Sup Kurma Merah. Ia kehilangan banyak darah dan memerlukan sesuatu untuk membantunya pulih."

"Pangeran Hao, mari buatkan makanan untuk Anda. Anda masih belum makan apa-apa sampai sekarang."

"Tidak perlu, Pangeran ini tidak lapar."

Tabib senior itu bisa mengetahui dari nada bicara Pei Qian Hao kalau keputusan orang itu tidak akan berubah. Alhasil, ia membungkuk dan mengambil mangkuk kosong itu sebelum meninggalkan kamar.

Pei Qian Hao dengan hati-hati membaringkan Su Xi-er di atas ranjang dan menyelimutinya sebelum tangannya mulai bergerak.

Tidak ada siapa-siapa di sekitar, dan nyawa Su Xi-er selamat. Akhirnya, hatinya bisa tenang, dan tangannya perlahan-lahan melayang dari leher gadis itu ke dalam selimut.

Setelah beberapa saat, tangan Pei Qian Hao secara tak sengaja melayang ke tempat yang empuk di tubuh Su Xi-er. Ia ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkannya, dan mengulurkan satu tangan ke pinggangnya. Mata gelapnya memandangi bibir merah muda Su Xi-er. Baru saja diberi minum obat oleh Pei Qian Hao, bibir Su Xi-er masih merah terang dengan bercak obat di bibirnya. Di bawah cahaya dari sinar lilin, gadis itu tampak sangat menawan.

Warna wajah Su Xi-er berangsur membaik selagi pernapasannya jadi lebih tenang; bahkan tubuhnya yang semula tak bergerak mulai gelisah.

"Kau jadi nakal tepat setelah pulih." Pei Qian Hao memarahinya pelan sebelum kembali bersandar di tiang ranjang, tangannya sudah mengelus-elus pinggang Su Xi-er dengan lembut.

0 comments:

Posting Komentar