Kamis, 28 Mei 2026

3L3W Lotus Step 1 - Chapter 10 part 1

3L3W Lotus Step 1

Chapter 10 part 1


Ada jamuan makan malam itu, tetapi Cheng Yu tidak muncul. Kaisar datang ke Taman Qu Shui untuk menghabiskan musim panas dan bersenang-senang, jadi ia akan mengadakan jamuan makan dengan para menteri dari waktu ke waktu. Selalu ada akrobatik, nyanyian dan tarian di jamuan makan tersebut. Kaisar tahu bahwa Cheng Yu menyukai ini, tetapi ia tidak terlihat di jamuan makan.

Kaisar tertawa marah dan berkata kepada Kasim Shen, "Ia benar-benar tahu cara menghindariku."

Kasim Shen dengan rendah hati berkata mewakili Cheng Yu, "Putri kecil juga orang yang tahu rasa malu."

Keesokan harinya, Ibu Suri memanggil para putri dan petugas wanitanya untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Setelah Kaisar dan para menterinya selesai mendiskusikan permasalahan mereka, Ibu Suri mengirim seseorang untuk mengundang mereka. Kaisar pun membawa beberapa menteri yang dekat bersamanya, dan bertemu dengan Shizi Raja Li Chuan dalam perjalanan, sekalian mengajak Shizi juga.

Ketika ia tiba di tempat pertunjukan, ia melihat sekilas ke tribun, tetapi tetap saja tidak melihat Cheng Yu. Kaisar bingung dan berkata kepada Kasim Shen, "Sepertinya ia bukannya menghindariku. Ia bahkan tidak datang untuk menyaksikan dramanya. Si monyet yang tidak tahu malu itu, apakah sudah mengubah karakternya?"

Kasim Shen adalah orang yang sangat teliti dan tidak pernah berbicara omong kosong tentang hal-hal yang tidak diyakininya, jadi ia dengan sangat hati-hati menjawab Kaisar, "Bagaimana kalau hamba pergi dan mencaritahu?"

Kaisar membawanya ke sini untuk menyaksikan drama tersebut. Selain Shizi Raja Li Chuan, ada juga beberapa pejabat penting yang baru saja membahas masalah di aula dewan, termasuk Jenderal Agung, Menteri Kiri dan Kanan, Menteri dari Kementerian Personalia, Kementerian Ritus dan Kementerian Pekerjaan, serta Penasihat Kekaisaran.

Kaisar yang sekarang, memiliki harem yang sangat damai, dan urusan keluarganya juga sangat tenang, kecuali menikahkan putri, tetaplah menikahkan para putri. Jadi ia tidak pernah menghindari para menteri ketika membicarakan urusan keluarganya. Namun, para menteri tidak banyak memberikan nasihat mengenai urusan keluarga Kaisar. Ketika Cheng Yun membahas urusan keluarga, hanya Kasim Shen yang bisa menemaninya ngobrol sedikit-sedikit.

Namun hari ini Jenderal Agung justru menyela, "Apakah ia sakit?"

Semua orang di istana tahu bahwa Jenderal Agung adalah sepupu Putri Ke-19, Yan Lan. Ketika Jenderal Agung, yang selalu acuh tak acuh, mengajukan pertanyaan ini saat ini, mungkin mengira yang baru saja disebutkan Kaisar adalah Putri Yan Lan.

Kaisar jelas berpikir demikian, ia pun berkata kepada Lian San, "Aiqing, tidak perlu khawatir tentang hal itu. Tak terjadi apa-apa pada Yan Lan."

(T/N: Aiqing—sebutan dari kaisar kepada menterinya.)

Sang Jenderal mengangkat matanya, tampak bingung, "Bukankah yang baru saja disebutkan Kaisar adalah Hong Yu?"

Shizi Raja Li Chuan, yang sedari tadi diam saja, tampak terkejut dan menatap lurus ke arah Lian San.

Kaisar, yang ditanya secara langsung oleh Lian San, tertegun dan berkata, "Yang barusan kutanyakan, memang adalah Hong Yu," katanya dengan rasa ingin tahu, "tetapi bagaimana Aiqing mengetahuinya?"

Jenderal berkata dengan tenang, "Aku hanya menebak-nebak." Ia bergumam, "Sang Putri menyukai jamuan makan dan menyaksikan drama. Pada jamuan makan tadi malam, bahkan di teater hari ini, ia tidak terlihat." Jenderal pun sedikit menundukkan pandangannya, "Hamba tetap merasa, ia sakit."

Shizi Raja Li Chuan memandang Lian San dan sedikit mengernyit. Kaisar juga sedikit mengernyit, tetapi mereka tampaknya tidak mengerutkan kening karena hal yang sama.

Kaisar berkata, "Ia menunggang kuda di lapangan kemarin sore dan tidak melihat tanda-tanda penyakit apa pun. Secara logikanya ...."

Jenderal itu telah berdiri dari kursi kayu rosewood dan berkata, "Hamba mewakili Kaisar, akan pergi melihat Putri."

Shizi Raja Li Chuan sepertinya ingin bangkit juga, namun ia berhenti lagi dengan tangan berada di sandaran lengan kursi.

Bagaimanapun juga, Shizi tetaplah seorang Shizi yang mempertimbangkan situasi secara keseluruhan dan tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam situasi seperti itu.

Para menteri yang hadir tidak menyadari langkah kecil Shizi Raja Li Chuan ini. Para menteri menatap dengan heran ke arah Kaisar yang sedang duduk sambil berpikir keras dan sang jenderal yang punggungnya berangsur-angsur memudar. Mereka mendapat kesan bahwa sang jenderal tak banyak bicara, dan hampir tidak ada yang perlu dibicarakan dengan Kaisar selama berdiskusi. Tentu saja, ia memang tidak punya apa-apa untuk dibicarakan dengan mereka juga. Mereka tidak pernah menyangka bahwa ada suatu hari, mereka akan mendengar sang jenderal berbicara dengan Kaisar perihal seorang wanita di depan mereka, terutama, Putri Hong Yu-lah orangnya.

Putri Hong Yu dengan Jenderal, punya hubungan apa? Meskipun Ibu Suri dengan tegas memerintahkan istana untuk tidak menyebutkannya lagi, tetapi .... Tetapi demi menolak pernikahan tersebut, Jenderal bahkan mengungkit 'Wei Utara saja masih belum ditaklukkan, kenapa harus berkeluarga' .... Para pejabat penting menekan gelombang yang melonjak di hati mereka dan saling berpandangan.

Para menteri bergosip dan keheranan, sementara Kaisar sebenarnya sedikit bingung. Tetapi bagaimana mungkin seorang Kaisar bisa mengungkapkan keraguannya kepada orang lain dengan mudah? Oleh karena itu, setelah semua menteri bubar, ia bertanya kepada Kasim Shen, "Apa yang terjadi pada Lian San dan Hong Yu?"

Kasim Shen adalah orang yang sangat menarik untuk diajak bicara.

Kasim Shen tersenyum dan menjawab, "Apakah Yang Mulia berharap Jenderal dan Putri ada apa-apanya, atau tidak ada apa-apanya?"

Kaisar menyesap tehnya dan berkata, "Jika Lian San tidak ingin menikah, tidak apa-apa. Jika ia ingin menikah, demi memulai sebuah keluarga, sebaiknya ia menikahi putri sulungku."

Untuk pertama kalinya dalam kehidupan Cheng Yun, ia merasa bahwa topik menikahkan seorang gadis tidaklah begitu berat. Namun, ketika ia teringat akan sifat macam apa yang dimiliki sepupunya ini, ia merasa tertekan. "Hong Yu juga berusia enam belas tahun. Setiap hari hanya tahunya bermain-main saja, menunggang kuda dan memanjat pohon, bahkan memanggang burung." Berbicara tentang ini, hati Cheng Yun sakit lagi, dan ia menenangkan diri selama beberapa waktu. "Hanya wajah itu yang masih bisa dilihat. Saat ini, aku berharap Lian San bisa sedangkal mungkin, demi wajah Hong Yu itu, mengingkari sumpahnya dan menikahinya."

Kasim Shen sedikit khawatir, "Tetapi sejauh yang hamba ketahui, Jenderal bukanlah orang yang dangkal."

Cheng Yun merasa sakit dadanya akan kumat lagi.

Kasim Shen mendekat dan berbisik, "Hamba tua ini dengar, Putri Kecil melakukan aksi 'menerbangkan lima koin tembaga' saat bermain di lapangan kemarin, yang menarik perhatian semua pemain di Wu Nuo Su untuk mengaguminya. Pada saat itu, Putri terlihat sangat hidup dan penuh semangat. Jenderal melihatnya dari tribun penonton dan sepertinya sangat mengaguminya. Hamba rasa, itulah mengapa Jenderal memerhatikan Putri Kecil hari ini ...."

Karena Cheng Yun tidak pandai bermain Ji Qiu, ia tidak memahami konsep "menerbangkan lima koin tembaga", jadi ia tidak mengerti seberapa besar sorotan perhatian yang dibuat Cheng Yu kemarin.

Mendengar Kasim Shen berbicara tentang ungkapan Gu Pan Sheng Zi, ia menjadi lebih tak berdaya dan berkata, "Gu Pan Sheng Zi dan penuh energi. Sederhananya, karena wajahnya itulah." Ia bertanya pada Kasim Shen, "Jika Lian San melihat Hong Yu memanjat tembok, memanjat pohon dan memanggang burung, apakah ia masih bisa terpesona oleh Hong Yu?"

(T/N: 盼生姿 - gù pàn shēng zī - idiom yang artinya, ada penampilan cantik ketika orang menoleh ke belakang dan mengangkat matanya.)

Meskipun Kasim Shen adalah seorang kasim, ia tidak dapat membayangkan pria seperti apa yang jatuh hati dengan gadis seperti itu, jadi Kasim Shen memilih untuk tetap diam.

Cheng Yun terdiam beberapa saat, lalu bertanya, "Seperti apa biasanya wanita-wanita cantik yang dekat dengan Lian San?"

Dalam hal ini, Kasim Shen memiliki gaya bagaikan pedagang seperti ketika melayani mendiang kaisar sebagai guru kekaisaran, dan segera menjawab dengan fasih, "Jenderal tampaknya lebih menyukai gadis pendiam, yang berbicara dengan halus dan bertutur kata lembut, berjalan seperti pohon dedalu yang lemah lembut dan juga harus berbakat, pandai melukis dan kaligrafi, dan juga bisa memainkan Yao Qin. Hal ini berlaku untuk beberapa wanita-wanita yang dekat dengan Jenderal."

Kaisar mendengar kata "beberapa" dan menghela napas, "Jika Hong Yu bisa menikahi Lian San, aku tidak tahu apakah itu akan baik atau buruk untuknya."

Kasim Shen berkata, "Yang Mulia memiliki hati yang baik."

Tetapi Kaisar baru minum setengah cangkir teh, dan sebelum ia menghabiskan tehnya, ia memutuskan untuk menjual Cheng Yu. Ia mengangkat kepalanya dan berkata kepada Kasim Shen, "Lian San menyukai qin dan melukis. Pelukis dan pemain qin di istana, pilihkan dua untuk memberi Hong Yu pelajaran tambahan. Untungnya, ia pintar dan bisa mempelajari semuanya dengan cepat."

Kasim Shen mengerti dan berkata sambil tersenyum, "Cara berbicara dan berjalan, hamba tua juga akan mencarikan petugas istana untuk mengajari Putri."

***

Cheng Yu memang sakit. Sindrom kepanikan. Itu penyakit lama. Kambuhnya tadi malam.

Zi You Tan di Menara Sepuluh Bunga akan bangun dari tidurnya dalam beberapa hari ke depan, dan Zhu Jin harus bertanggung jawab di sana. Kebangkitan pemimpin You Dan Hua adalah masalah besar, jadi Cheng Yu meminta Li Xiang untuk tetap tinggal.

Cheng Yu memasuki istana sendirian, dan Ibu Suri mengalokasikan beberapa dayang istana untuk keperluan sementara. Karena ia tidak pernah suka orang lain mengikutinya, dan dayang istana milik Ibu Suri tidak sehebat Li Xiang, mereka pun kehilangan dirinya dalam perjalanan ke perjamuan tadi malam. Pada akhirnya, Nona Qi-lah yang menggendong Cheng Yu kembali, yang pingsan dan tidak diketahui oleh siapa pun. Untungnya, Li Xiang kembali tepat waktu dari urusan di Menara Sepuluh Bunga, jadi masalah ini tidak membuat Ibu Suri dan Kaisar khawatir.

Li Xiang bergegas kembali ke kota di bawah lindungan malam dan pergi ke Aula Ren'an untuk menjemput Li Mu Zhou, yang baru saja menanggalkan pakaian dan pergi tidur. Tabib Xiao Li mampu mendiagnosis dan merawat Cheng Yu dengan mata tertutup. Ia digendong oleh Li Xiang dan memberi Cheng Yu beberapa obat. Ia menguap dan meremas beberapa bola harum dan menyalakannya di pembakar dupa untuknya. Kemudian, ia undur diri, dan Li Xiang pun membawa dan mengantarkannya pulang.

Cheng Yu, yang sedang tak sadarkan diri, tidak tahu bahwa ia sedang sakit atau sedang koma. Ketika ia tertidur dalam keadaan tak sadarkan diri, ia tidak tahu bahwa ia sedang bermimpi. Karena semuanya terasa sangat nyata.

Dalam mimpinya, ia baru saja berpisah jalan dengan Nona Qi di lapangan. Ia berhasil dalam tantangan "menerbangkan lima koin tembaga" hari ini. Ia melakukannya sendiri satu kali, dan Nona Keempat Liu, keponakan Ibu Suri, yang merupakan pembela di tim Da Xi, memintanya untuk melakukannya lagi. Ia pun tampil cemerlang pada kedua kesempatan tersebut. Namun, melakukan ini membutuhkan tenaga dan upaya, jadi ia langsung mengantuk begitu hari mulai gelap.

Tetapi Nona Qi berkata bahwa, ada dua ekor singa dalam rombongan akrobatik yang dipelihara di istana yang akan digunakan untuk merayakan ulang tahun dan akan menghibur mereka di perjamuan malam ini. Ia tidak boleh melewatkan hal baru ini, jadi Cheng Yu menahan rasa kantuknya dan membuat janji dengan Nona Qi untuk bertemu di dekat bebatuan di Halaman Jian Shui setengah jam kemudian, supaya mereka bisa pergi ke jamuan makan untuk menonton singa bersama-sama.

Ia terkantuk-kantuk dan kembali ke Halaman Song He untuk berganti pakaian, tetapi ia tidak menyangka bahwa begitu ia berjalan mengitari beranda di belakang Halaman Ming Yue, ia melihat Ji Ming Feng berdiri di bawah pohon locust.

Saat itu, senja menelan sinar terakhir di cakrawala, dan lentera istana menyala, memantulkan koridor yang panjang.

Ia berdiri di sudut dan melihat ke sekeliling. Separuh tubuh Ji Shizi, berpakaian hitam, tersembunyi di balik bayang-bayang senja, dan separuh tubuhnya lainnya berada di bawah cahaya terang lentera istana. Aroma bunga locust yang tertiup angin pun tercium.

Ia tahu seperti apa rupa bunga locust. Seseorang pernah menggambarkannya untuknya. Bunga-bunga itu tampak seperti lonceng-lonceng kecil yang dirangkai dalam satu tandan. Anak-anak di Li Chuan semua suka mengikatkan lonceng kecil seperti ini di pergelangan tangan dan pergelangan kaki mereka. Ding-dang, ding-dong, loncengnya akan kerap berbunyi mengiringi tawa anak-anak.

Qing Ling pernah memberinya satu set lonceng kecil yang terbuat dari perak, yang diikatkan di pergelangan tangannya. Lonceng itu mengeluarkan suara gemerincing saat ia menggerakkannya. Alis dan mata Qing Ling melengkung selagi ia berkata, "Sesuai dugaan, Putri sangat menyukai ini."

Angin malam bertiup, dan ia mengedipkan matanya.

Dalam sekejap, ia seakan-akan mendengar bunyi lonceng lagi.

Makam Kuno Nan Ran.

Loncengnya hilang, begitu pula dengan Qing Ling.

Rasa kantuknya hilang dalam sekejap, dan ia berdiri di sana dengan wajah pucat dalam keadaan linglung untuk waktu yang lama. Baru setelah sekelompok dayang istana yang membawa lentera dengan lembut berjalan melewati Ji Ming Feng, mereka berhenti untuk memberi hormat, memecah keheningan adegan itu dan mengusir dering lonceng yang tak ada habisnya itu, membawanya kembali ke dunia saat ini.

Ketika ia sadar kembali, ia merasa Ji Ming Feng mungkin tidak melihatnya, jadi ia mundur dua langkah ke pohon salam di sudut, berniat mengambil jalan memutar untuk menghindarinya. Namun, Cheng Yu tiba-tiba mendengar suara pemuda itu, "Apa kau menghindariku?"

Ia membeku. Ji Ming Feng perlahan-lahan mendatanginya. Sekelompok dayang istana yang memegang lentera juga kebetulan berjalan di sampingnya. Para dayang itu berhenti, membungkuk memberi hormat padanya, lalu pergi. Cahaya yang berkelap-kelip bagaikan bintang pagi yang pecah di lautan. Ia terdiam sesaat, "Aku tidak menghindarimu."

Ji Ming Feng hanya menatapnya.

Bagaimanapun juga, ia tidak pandai berbohong, jadi ia memilih untuk tetap diam di bawah tatapan Ji Ming Feng.

Tentu saja ia menghindarinya. Saat itu, ketika Zhu Jin membawanya pergi dari Kediaman Raja Li Chuan, ia memikirkan Ji Ming Feng sejenak.

Dalam momen singkat itu, ia hanya memikirkan kata-kata terakhir yang ditinggalkan Ji Ming Feng untuknya, "Kau terlalu berani dan gegabah, bertindak sembrono. Kau bahkan tidak tahu bagaimana caranya bertobat setelah membuat seratus kali kesalahan. Hari ini, Qing Ling mati karena dirimu, dan di masa depan, akan ada lebih banyak orang dari Li Chuan yang mati karena kecerobohanmu. Sanggupkah kau menanggung begitu banyak nyawa?" Seolah-olah takut kalau itu belum cukup menyakitkan dirinya, ia berkata, "Mungkin karena kau adalah seorang Putri, kau mengira mereka dilahirkan dengan nyawa murahan. Kau tidak benar-benar peduli sebegitu banyaknya nyawa."

Oleh karena itu, Cheng Yu merasa mustahil Ji Ming Feng ingin bertemu dengannya. Tidak peduli betapa tidak masuk akalnya dirinya, ia tetap mengetahui hal ini. Ia berpikir, demi satu sama lain, akan lebih baik jika mereka berdua menjadi orang asing. Namun hari ini, ia membuatnya sedikit bingung. Ji Ming Feng sepertinya ada di sini hanya untuk menunggunya?

Apa yang bisa dibicarakan saat bertemu lagi? Mengingatkannya berulang kali bahwa ia masih menanggung satu nyawa di pundaknya?

Ia bersandar di pagar kayu dan menatap Ji Ming Feng dengan tatapan kosong, berpikir, ya, mungkin itulah yang dipikirkannya.

Cheng Yu tidak berbicara sekian lama, dan Ji Ming Feng terdiam beberapa saat.

Akhirnya, Ji Ming Feng-lah yang memecah kesunyian dan bertanya dengan lembut, "Barusan, aku melihatmu dan teman-temanmu bermain bola di lapangan. Kau bermain ... sangat baik. Aku tidak tahu betapa kau menikmati kegiatan ini saat berada di Li Chuan. Ji Ming Chun mengajakmu, tetapi kau tidak pernah memedulikannya."

Ji Ming Chun adalah kakak laki-laki Ji Ming Feng, seorang playboy kelahiran selir yang menghabiskan hari-harinya dengan tidak melakukan apa pun selain menjadi antek sabung ayam yang baik. Ia berkata perlahan, "Saat itu, kau hanya suka membaca. Dalam waktu kurang dari dua bulan, kau sudah bolak-balik membaca buku di ruang bacaku sebanyak dua kali." Ada jejak kesedihan dan nostalgia dalam suaranya, "Dirimu yang sekarang, jauh lebih hidup daripada saat itu."

Cheng Yu tidak buka suara, ia menundukkan kepalanya dan melihat ke arah bayangan pepohonan di koridor.

Ji Ming Feng juga mengikuti pandangannya dan memandangi bayangan pohon yang bergoyang lembut. Setelah beberapa saat, ia menghela napas dan berkata, "Lama tidak bertemu, Ah Yu, apa tak ada yang ingin kau katakan padaku?"

Cheng Yu masih tidak berbicara.

Ji Ming Feng berhenti sejenak dan sedikit mengernyit, "Meskipun kau juga diam saat itu ...."

Cheng Yu akhirnya angkat bicara. Ia menyelanya dan mengulangi kata-katanya, "Pada saat itu," ia berbisik, "Shizi selalu ingin aku mengingat saat itu. Sebab, Shizi merasa aku tidak pantas untuk hidup bahagia."

Ji Ming Feng tercengang di sana.

Angin sepoi-sepoi bertiup, dan ia merasa mendengar bunyi lonceng yang lembut lagi. Ia mencoba beberapa kali dan akhirnya menyebutkan namanya, "Aku belum melupakan Qing Ling," katanya.

Ia tidak melihat ke arah Ji Ming Feng, tetapi melihat jauh ke koridor yang berkelok-kelok, "Pada saat itu, Shizi berkata bahwa kecerobohanku akan membunuh banyak orang." Ia menjeda, "Meskipun pada akhirnya tidak menjadi kenyataan, aku tidak pernah lupa, aku memang membuat Qing Ling terbunuh."

Matanya melebar, dan alisnya sedikit berkerut, membuatnya tampak seperti hendak menangis, tetapi suaranya mantap, "Shizi berkata bahwa karena aku seorang putri, makanya aku tidak peduli pada nyawa manusia. Shizi mungkin tidak percaya padaku, tetapi sebenarnya aku ...."

Cheng Yu berkedip, dengan sedikit kemerahan di ujung matanya, "Jangankan banyak nyawa, bahkan satu nyawa pun, aku tidak sanggup memikulnya." Ia menggigit bibirnya kuat-kuat dan tidak menangis sama sekali.

Angin tiba-tiba bertiup kencang, itu akan menjadi malam yang sejuk, dan daun osmanthus kecil bertebaran. Mata Ji Ming Feng sangat dalam, dan ia melangkah maju, "Kata-kata yang kucapkan ...."

Cheng Yu mundur selangkah dan berkata, "Aku sangat berharap bisa menjadi orang asing lagi terhadap Shizi, tetapi aku juga tahu bahwa Shizi menganggapku tidak pantas mendapatkan harapan ini. Shizi bertanya padaku, apakah tidak ada yang ingin kukatakan padamu," raut wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan, "Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu Shizi lagi dalam kehidupan ini, jadi aku tidak tahu harus berkata apa." Ia terdiam, seolah sedikit bingung, "Shizi melihatku satu kali, lalu menyiksaku satu kali. Shizi mungkin merasa aku pantas disiksa seperti ini, tetapi ...."

Ia mengalihkan pandangannya ke Ji Ming Feng, tetapi ia tidak melihat apa-apa. Ia hanya merasakan dering lonceng di kepalanya semakin keras, dan rasa sakit seperti tusukan peniti datang dari bagian terdalam dirinya. Ia berbisik, "Mohon kasihanilah aku."

Wajah Ji Ming Feng memucat dalam sekejap. Cheng Yu tidak melihatnya, karena matanya kabur. Matanya mulai perih, dan ia menguceknya sembarangan dengan tangannya. Pada saat itu, ia menyadari bahwa Ji Ming Feng sepertinya ingin maju ke depan.

Ia mengucapkan selamat tinggal dengan tergesa-gesa, tetapi tidak melihat ekspresi Ji Ming Feng ketika ia mengucapkan selamat tinggal. Ji Ming Feng tidak mencoba menghentikannya, dan tidak menyusulnya ketika ia pergi dengan cepat.

Kemudian ia kembali ke Halaman Song He sambil melamun, meminum dua Pil Ning Shen, dan linglung beberapa saat, mengingat janji temunya dengan Nona Qi. Ia membawa seorang dayang istana kecil keluar dari kediamannya. Ia bahkan lupa mengganti pakaiannya. Gaun putih yang berkeringat melilit tubuhnya. Saat angin malam bertiup di malam yang sejuk, ia mulai bersin-bersin di tengah jalan. Dayang istana kecil itu pun kembali untuk membantunya mengambilkan mantel, dan ia berdiri di tempat terlindung untuk menunggu.

Ketika ia bosan, ia mendongak dan melihat banyak lentera melayang tidak jauh dari situ. Ia ingat bahwa itu adalah sebuah danau dan bertanya-tanya siapa yang memasang lentera sungai. Ia diam saja dan menganggur, jadi ia pun berjalan mendekat.

Ada banyak dudukan lentera batu yang berdiri di tepi danau. Saat melewati dudukan lentera batu ketujuh, samar-samar ia melihat para nona sedang memasang lentera sungai. Tampaknya mereka adalah beberapa wanita bangsawan yang diundang ke istana untuk menghabiskan musim panas.

Angin danau bertiup, dan tiba-tiba terjadi pertengkaran di antara para nona bangsawan tersebut. Suaranya agak samar, namun mendesak dan tajam. Ia tidak tertarik pada hal semacam ini, dan berbalik untuk kembali ke jalan semula, tetapi tiba-tiba mendengar jeritan, "Tolong, Nona kami jatuh ke dalam air!"

Ia berbalik secara naluriah. Saat ia menoleh ke belakang, ia melihat sosok yang meronta-ronta di danau, dan semburan air menciprat kemana-mana dari tangannya yang melambai-lambai dengan panik. Percikan airnya berwarna putih. Gambarannya tidak jelas, tetapi seperti palu berat yang menghantam otaknya, penglihatannya menjadi gelap, dan lengan putih yang melambai dengan panik di danau karena tidak bisa berenang sepertinya tiba-tiba ada di hadapannya—mengoyaknya.

Membuka segelnya.

Dalam kegelapan yang menakutkan, ia melihat makam kuno Nan Ran lagi. Seolah-olah sekali lagi kembali ke jalur makam yang dipenuhi rumput liar beracun.

Qing Ling memegang tangannya dan berlari sepanjang jalan. Dari dalam makam kuno terdengar suara sayup-sayup genderang, dentuman, demi dentuman. Bunyi genderang tersebut memanggil serangga beracun yang tak terhitung jumlahnya untuk mengikuti di belakang mereka. Di depan mereka ada Kolam Pengubah Tulang. Ada jembatan tali kayu di atasnya. Selama mereka menyeberangi jembatan dan memotong tali jembatan untuk menghalangi serangga beracun, mereka akan selamat.

Ia menekan dadanya, dan sebagian dari ingatannya membuatnya terengah-engah kehabisan napas. Ia mengulurkan tangan dan meraih pohon salam di sampingnya. Kau tidak boleh memikirkannya. Ia memperingatkan dirinya sendiri dengan gemetar, namun ingatan yang terkoyak itu bagaikan seekor harimau jahat yang sudah lama tidak makan. Begitu targetnya sudah dipastikan dan siap menyerang, ia menerkam dengan keganasan yang berniat melahapnya seluruhnya sampai habis tak bersisa.

Ia terjatuh di samping pohon salam.

Dalam keheningan yang tak ada habisnya, ia mendengar suara Qing Ling di belakangnya, "Putri, lari!"

Tiba-tiba ia berbalik dan melihat dirinya, yang belum berusia enam belas tahun, jatuh di samping jembatan tali yang rusak, sementara kolam pengubah tulang di depannya—membuat gelombang setinggi sepuluh kaki. Percikan gelombang airnya berwarna putih. Ia mendengar dirinya sendiri berteriak, "Qing Ling!"

Ia tidak bisa berdiri, dan keputusasaan menjalar ke seluruh tulang punggungnya, melewati bahu dan lehernya, seperti jaring sutra tebal yang akan menghancurkan otaknya. Ia merangkak menuju kolam pengubah tulang sambil meneriakkan nama Qing Ling. Pada saat yang dingin dan menakutkan itu, sebuah tangan terulur dan menutupi punggung tangannya. Tangan itu hangat sekali.

Ia pun membuka matanya.


0 comments:

Posting Komentar