3L3W Lotus Step 1
Chapter 6 part 1
Di antara gadis-gadis di Kota Ping'an, dalam hal semangat kepahlawanan, itu pastilah Nona Qi Ying'er, putri sah sang jenderal dan putri sulung dari Kediaman Marquis Chong Wu, yang bagaikan bintang dan disanjung semua jenderal. Nama Nona Qi imut dan halus, tetapi ia sama sekali tidak seperti itu. Ia sudah tinggal di perbatasan bersama ayahnya sejak ia lahir. Ayahnya bertugas di garis depan untuk membela keluarga dan bangsa, dan ia berada di belakang, untuk menindas para pria dan wanita yang suka menindas orang lain. Ia pun dilempar kembali ke ibu kota oleh ayahnya yang sudah tua ketika ia baru berusia delapan tahun. Karena keberaniannya yang dilatih di perbatasan, Nona Qi ahli dalam menggunakan pedang besi seberat 28 pon. Ia dapat menebas serigala liar dan membunuh harimau. Ia adalah sosok berbakat unik di antara para wanita terkenal di Kota Ping'an.
Bunga aneh lainnya di antara wanita terkenal di Kota Ping'an adalah si Putri Giok Merah, Cheng Yu.
Kedua bunga aneh ini sangat dekat.
Tetapi bahkan Nona Qi yang seperti ini saja berpikir bahwa ia tidak dapat memenangkan kata "keberanian" dari Cheng Yu. Ia, Nona Qi, tidak takut pada serigala, harimau, macan tutul, nyamuk, tikus, semut, tetapi ia selalu takut pada ular, selalu takut pada dewa gila, dan selalu takut pada tongkat bergagang tebal di aula leluhur mereka.
Namun Cheng Yu benar-benar tidak takut pada apa pun. Omong-ngomong, ia tidak tahu bagaimana cara mengunakan tombak atau pun pentungan, ia bahkan tidak bisa menggunakan parang, tetapi ia tidak takut pada apa pun.
Nona Qi teringat saat Putri Giok Merah menyeretnya mengunjungi gua tersembunyi di tengah Gunung Xiao Yao Tai di pinggiran ibu kota. Ia ketakutan sekali sampai-sampai ia tidak bisa bertahan begitu tiba di pintu masuk gua. Sewaktu ia melihat beberapa ekor ular besar setebal mangkuk tergeletak tidak jauh dari gua di bawah sinar matahari terbenam, ia begitu ketakutan dan hampir mencekik Cheng Yu sampai mati di tempat.
Cheng Yu sangat tenang, tetapi ia terbatuk beberapa kali dan menepis tangannya, "Ah, kau benar-benar takut pada ular." Seolah terkejut, ia menghela napas lagi, "Kau adalah teman baikku. Aku hanya ingin membawamu ke sini. Ada hal-hal yang sangat indah di dalamnya. Kau benar-benar tidak ingin mengikutiku masuk dan melihatnya?" Ia menepuk punggung tangannya dengan semangat dan berkata, "Ular-ular itu sebenarnya tidak berbisa dan tidak ada yang perlu ditakutkan."
Nona Qi menancapkan pisau besar itu ke tanah dan menggelengkan kepalanya seperti mainan drum.
(T/N: contoh rattle drum toys/mainan drum putar.)
Cheng Yu, yang berumur empat belas setengah tahun, merasa sedikit frustasi, "Mengapa kalian semua seperti ini? Xiao Hua takut, Mu Zhou takut, Hu Sheng dan yang lainnya takut, bahkan kau pun takut."Nona Qi, yang sedang bersandar pada pedang seberat 28 pon yang terbuat dari besi halus, menyarankan kepadanya dengan gigi menggelatuk, "Cari Zhu Zhu Zhu Zhu Zhu Zhu Zhu Zhu Jin."
Cheng Yu membantunya keluar dari gua dan menarik napas dalam-dalam dengan murung, "Ai, lupakan saja."
Memang, lupakan saja.
Sejak itu, Cheng Yu tidak mengunjungi gua di Gunung Xiao Yao Tai selama lebih dari dua tahun. Sebab, pada bulan kedua, Zhu Jin mengetahui bahwa ia senang pergi ke dua gunung tersebut untuk menjelajahi misteri di dalamnya. Gunung-gunung itu berbahaya, dan ia punya nasib seperti itu. Ketika Zhu Jin mengetahui hal ini, ia sangat marah hingga ia hampir mati bersamanya. Enam bulan berikutnya, ia diawasi dengan ketat.
Setelah setengah tahun itu, saat ia merayakan ulang tahunnya yang kelima belas, Zhu Jin segera membawanya keluar dari ibu kota kerajaan ke Li Chuan, jadi ia meninggalkan gua kecil ini selama lebih dari dua tahun.
Di bawah sinar matahari yang terbenam, Yang Mulia Pangeran Ketiga berdiri di pintu masuk gua dan menggunakan kipas lipat untuk mengangkat tanaman merambat hijau yang menjuntai ke tanah. Matanya tertuju pada beberapa ular piton raksasa yang meringkuk di dalam gua beberapa saat, lalu pindah ke dinding gua yang tertutup lumut, dan kemudian berpindah lagi ke dalam gua yang suram dan gelap.
Lian San mengajukan pertanyaan kepada Cheng Yu: "Ini yang kau katakan," ia mengingat-ingat ucapan Cheng Yu waktu itu, "Tempat yang tidak akan bisa kutemukan kekurangannya, tempat baru yang akan kusukai?" Ia berpikir sejenak, "Aku tidak mengerti kenapa harus menyukai tempat ini."
Cheng Yu menjelaskan kepada Lian San, "Tidak, kau harus melewati beberapa ekor ular piton yang ada di sini untuk sampai ke tempat itu." Sambil ia mengeluarkan bola kain kasa yang digunakan untuk mengusir ular, dan mengikatnya. Setelah mengikat dirinya sendiri, ia pergi untuk mengikat Lian San.
Yang Mulia Pangeran Ketiga pun mengambil inisiatif untuk mundur dan menjaga jarak tiga kaki darinya, "Jangan mendekat, aku tidak akan mengikat benda itu."
Cheng Yu menghela napas dan membujuk Lian San dengan niat baik, "Benda ini kelihatannya jelek, tetapi efektif mengusir ular. Jika kau tidak mengikatnya, kita tidak akan bisa melewati ular-ular piton itu. Ini cara yang paling aman dan yang paling mujarab. Itu cara yang efektif, Kakak Lian San, bertahanlah." Selagi ia bicara, dengan cepat ia menghampiri Lan San dan maju dua langkah.
Namun Yang Mulia Pangeran Ketiga segera mundur dua langkah.
Cheng Yu menunjuk tali itu tanpa daya, "Ikat saja sebentar. Kakak Lian San, jangan keras kepala. Baru aman jika kau mengikatnya seperti ini. Apabila kau tidak mengikatnya, aku tidak akan membawamu masuk!"
Yang Mulia Pangeran Ketiga melirik ke dalam gua dan berkata, "Hanya melewati formasi ular saja, kan?"
Cheng Yu segera memahami pikiran Lian San dan segera menghentikannya, "Jangan main-main, itu terlalu berbahaya!"
Lian San mengangguk dan berkata, "Kau benar, itu terlalu berbahaya." Setelah mengatakan ini, tubuhnya tiba-tiba tersapu ke belakang dan menghilang ke dalam gua dalam sekejap mata.
Pikiran Cheng Yu menjadi kosong. Setelah bereaksi, ia mengikuti hilangnya Lian San dengan ngeri.
Gua itu gelap sekali, dan ketika bau darah yang menyengat memasuki lubang hidungnya, seluruh tubuh Cheng Yu bergetar. Ia tidak berani memikirkan bau darah siapa itu, jadi ia menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan tongkat api dan menyalakannya. Meskipun cahaya api yang terang memenuhi lubang dalam sekejap, cahayanya terasa sedikit redup ketika menyinari lebih ke dalam.
Langkah Cheng Yu ragu-ragu, dan cahayanya pun demikian. Dengan tidak pasti, ia bergerak sedikit demi sedikit melalui kegelapan yang dalam, dan akhirnya ada bayangan samar keluar dari dalam gua.
Lian San berdiri dengan tenang di lingkaran cahaya buram, dan saraf tegang Cheng Yu pun mengendur.
Ada bangkai ular di sekelilingnya, dan bau darah mengotori tempat tersebut. Hanya tempat Lian San berdiri yang tidak ternoda darah ular dan merupakan area yang bersih. Dalam cahaya api yang redup, pakaian Lian San seputih salju. Ia memiringkan kepalanya sedikit untuk merapikan lengan jubah tangan kanannya. Bayangannya terlihat di dinding gua karena cahaya api, menciptakan penampilan yang tenang dan kalem.
Melihat rangkaian kejadian seperti itu, Cheng Yu akhirnya mengerti apa yang dimaksud pria itu di balik mengiyakan bahwa "Itu terlalu berbahaya" ketika ia meyakinkannya bahwa gua itu berbahaya. Cheng Yu mengatakan bahwa ular piton terlalu berbahaya, dan Lian San mengatakan bahwa ia terlalu berbahaya untuk ular piton tersebut.
Cheng Yu tidak sanggup melihat mayat ular di tanah lagi, menutupi keningnya dan berpikir sendiri, ini benar-benar sangat berbahaya ah, bahkan Kakak Lian San juga.
Setelah Lian San selesai merapikan, ia mengangkat matanya dan bertanya dengan tenang, "Kita telah melewati formasi ular. Mana yang mau kau tunjukkan padaku?"
Cheng Yu menenangkan diri sejenak, sambil menyilangkan kaki dan melompat-lompat melewati mayat ular di tanah. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk ke depan, "Jalan masih panjang, lanjutkan saja sampai akhir." Cahaya terang dari apinya berlekuk-lekuk dibawa olehnya, tampak melompat-lompat. Bayangannya yang melompat muncul di dinding gua, menjadikannya agak hidup dan lucu, membuat adegan pembunuhan sebesar itu jadi lebih ceria.
Lian San mengambil obor dari tangannya dan melihat santai ke jalan di depan, mengerutkan keningnya. Cheng Yu menoleh dan melihat lumpur di tanah dan bangkai hewan di sepanjang jalan. Ia pun berkata canggung, "Setiap gua muram ya seperti ini. Kakak Lian San bertahanlah. Pernah dengar pepatah mengatakan, 'Pemandangan indah datangnya dari bahaya?'"
Lian San melihat ke jalan di depannya, "Ini tidak berbahaya, ini kotor."
Cheng Yu berkata dengan acuh tak acuh, "Hampir sama." Ia hendak mengangkat kakinya untuk memimpin jalan, tetapi begitu ia mengangkat kakinya, ia langsung ditarik ke dalam pelukan Lian San.
Kemudian ia merasakan keduanya melaju kencang melintasi jalan setapak, dengan kecepatan kilat, bahkan lebih cepat daripada ia menunggangi kuda tercepat di jalan paling mulus.
Tidak ada angin di dalam gua, tetapi ia merasakan angin pada saat yang sangat cepat itu.
Namun angin dengan kecepatan seperti itu tidak menusuk dan menggigit, melainkan seperti angin malam lembut bertiup di atas Sungai Bai Yu pada malam musim panas, membawa kehangatan unik dan kesenangan awal musim panas.
Kehangatan terasa di pipi dan dahinya.
Lian San memeluknya dan menempelkan dahi dan pipi Cheng Yu ke dadanya. Ia mungkin berpikir akan sulit bagi Cheng Yu untuk menahan kecepatan, jadi itu adalah sikap protektif.
Dada Lian San terasa hangat.
Ketika ia menurunkannya, ia menatapnya sebentar. Apinya sudah lama padam, dan cahaya saat ini datang dari ujung gua. Barangkali, panas dari dada Lian San menginfeksi pipinya. Cheng Yu merasa wajahnya sedikit panas, jadi ia mengangkat tangannya dan mengusap-usapnya.
Jari-jari seperti jari gadis yang indah digosokkan pada pipi merah muda, dengan pesona yang tak disengaja. Matanya sedikit terangkat dan walaupun mata itu bingung, matanya begitu lembap, seperti tetesan air pertama yang mencair dari salju di awal musim semi, murni, halus dan lembut. Tampak indah sekali.
Cheng Yu tidak tahu seperti apa wajahnya saat ini, tetapi ia memandang Lian San yang pendiam dengan rasa ingin tahu, dan melihat bahwa mata kuningnya agak dalam, dan melihat tangan kanannya terangkat, seolah ingin mengelusnya. Kemudian pada akhirnya, tangan bagaikan giok itu tidak menyentuhnya, berhenti di udara dan ditarik kembali.
Cheng Yu memerhatikan arah jarinya dan tidak bisa menahan untuk tidak menggosok ujung mata kirinya, masih bingung, "Ada apa dengan mataku?"
Lian San tertawa, sangat lembut, tertahan di sudut mulutnya. Cheng Yu bertanya-tanya apakah ada sesuatu di sana, jadi mau tak mau ia pun menguceknya lebih keras. Lian San menghentikan tangannya, "Bukan apa-apa, hanya warnanya memerah."
"Benarkah?" Cheng Yu berhenti menguceknya dan sedikit khawatir, "Apakah bengkak karena aku menguceknya? Jelek sekali, ya?"
Lian San tidak menjawabnya tepat waktu, dan setelah menatapnya sebentar, ia menatapnya kosong, lalu berkata, "Tidak, ini sangat indah."
Cheng Yu tertegun sejenak, dan Lian San sudah menolehkan kepalanya untuk mengganti topik pembicaraan. Ia melihat ke gua yang dipenuhi kabut putih di depannya dan bertanya padanya, "Tempat yang kau bilang pasti aku sukai, apakah di sini?"
Cheng Yu mengikutinya dan melihat kabut putih di depannya. Ia sedikit bingung, "Ada di sini, tetapi aku belum pernah melihat kabut di sini sebelumnya." Ia menebak-nebak sambil mengangkat dagunya, "Apakah kabut akan mereda nanti ...."
Sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, lubang kabut putih telah benar-benar surut seolah-olah angin telah menerbangkan awan, dan dalam sekejap seluruh pemandangan yang tertutupi terungkap. Namun, bukan tempat elok yang disukai Cheng Yu, melainkan taman istana yang indah. Di pintu masuknya, ada nuansa yang indah dan damai sekali, lalu ketika didengar dengan cermat, bahkan dapat terdengar suara samar kicauan burung yang gembira di telinga.
Ini jelas merupakan sebuah gua di Gunung Xiao Yao Tai, tetapi ada sebuah istana dengan balok berukir dan bangunan dicat yang tersembunyi di dalam gua. Sekilas, ini bukanlah ciptaan alami. Wajah Cheng Yu memucat sedikit demi sedikit. Perasaan takut menyebar dari telapak kaki ke seluruh tubuhnya, dan ketika mencapai bahu dan lehernya, rasanya seperti ada tangan besar yang mencekik tenggorokannya.
Pemandangan di Makam Kuno Nan Ran kembali terlintas di benaknya.
Lian San tidak menyadari perubahan ekspresi Cheng Yu saat ini. Ia sedikit terkejut. Jika ia mengenalinya dengan benar, apa yang muncul setelah kabut putih hilang adalah formasi abadi. Apalagi formasi abadi ini masih berasal dari zaman prasejarah, hanya muncul dalam kitab suci yang disimpan oleh Dong Hua Dijun di Istana Tai Chen, You Wu Jie.
(T/N: 忧无解 - yōu wú jiě, nama formasi abadinya.)
Segala macam kekhawatiran muncul dari hati, sebuah formasi yang tidak bisa dibedakan maupun dipecahkan oleh siapa pun, You Wu Jie.
Ini adalah dunia fana. Dunia fana yang dihuni oleh manusia, di mana para dewa tidak menetap.
Akan tetapi, formasi abadi prasejarah telah terbuka di sini.
Tentu saja, bukan ini yang ingin ditunjukkan Cheng Yu padanya.
You Wu Jie adalah cara terbaik untuk menembus ke dalam hati manusia, membingungkan mereka, menjebak mereka, bahkan menyiksa mereka. Ini adalah labirin hati. Namun formasi ini hanya bisa dipicu oleh niat membunuh. Yang Mulia Pangeran Ketiga yakin bahwa Cheng Yu, yang suka membawa tumpukan bola kasa untuk mengunjungi gua ini dan dapat hidup berdampingan secara damai dengan sekelompok ular piton, bahkan belum pernah menyentuh sudut formasi ini sebelumnya.
Sederet panjang wanita cantik berjalan dari beranda berwarna merah terang di depan, semuanya mengenakan pakaian tipis dan lengan lebar, dan mereka menari di udara sambil berjalan. Ada yang centil dan menawan, ada yang penyendiri dan dingin, ada yang serius dan bermartabat, serta ada yang anggun dan berkelas.
Jelas You Wu Jie menganggap Lian San itu romantis, tetapi pada saat yang sama ia terlalu berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi, sehingga bahkan formasi abadi seperti itu, yang dirancang khusus untuk memahami dan menyiksa hati orang, tidak dapat memahami siapa yang paling disukainya. Formasi itu harus menyajikan segala macam rupa untuk menyesatkannya.
Gadis kecil yang berada di garis depan kelompok wanita cantik memiliki temperamen yang sangat lincah. Ketika ia melihat kupu-kupu berwarna-warni terbang di depan matanya, matanya berbinar dan ia meninggalkan kelompok itu untuk terbang menuju kupu-kupu tersebut. Ketika kupu-kupu kecil itu ditangkap di tangannya, ia tersenyum bahagia, mendongak memandang Lian San dari jarak jauh. Ia menatap mata Lian San, dan mengedipkan mata padanya tanpa rasa takut.
Penampilan dan sikapnya sebenarnya agak mirip dengan Cheng Yu.
Yang Mulia Pangeran Ketiga tertegun sejenak, tetapi momen tertegun itu hanya berlangsung sesaat. Saat berikutnya, ia melengkungkan sudut bibirnya seolah ia menganggap gerakan formasi itu sangat menarik, dan tanpa sadar dengan santai menurunkan pandangannya, hanya mengetuk-ngetuk kipas di tangannya, satu demi satu.
Pada saat itu, banyak kupu-kupu berwarna-warni tiba-tiba muncul di taman, menyebabkan wanita-wanita cantik yang berjalan perlahan itu berseru. Dan karena kemunculan kupu-kupu berwarna-warni yang tidak dapat dijelaskan, mereka datang jauh-jauh, sehingga tawa para wanita cantik juga sampai ke arah Yang Mulia Pangeran Ketiga. Kupu-kupu warna-warni beterbangan, dan pakaian warna-warni juga berkibar. Ada banyak mata penuh kasih sayang yang tersembunyi di antara tulle pakaian warna-warni yang berkibar, pemalu dan penakut, dan mereka siap menolak tetapi juga menyambut.
Gadis kecil yang berkedip dengan Lian San tadi adalah yang paling berani. Ia melihat kupu-kupu warna-warni dan mengejarnya, kemudian ia mendekati Lian Song. Ia memiringkan kepalanya dan berkata dengan polos, "Kakak, bisakah kau bantu aku menangkap kupu-kupu biru itu?"
Ia memang seperti Cheng Yu. Yang Mulia Pangeran Ketiga tersenyum, dan dengan lambaian tangannya, ia mengirimkan kupu-kupu biru yang berdiri di ujung kipas dan membentangkan sayapnya dengan lembut di depan gadis itu.
Pemandangan orang-orang ini dan adegan ini sungguh memanjakan mata, tetapi Cheng Yu, yang menyaksikan semua ini, hanya merasa ngeri.
Ia bukanlah seorang gadis kecil yang tidak berpengalaman di dunia, perjalanannya ke Li Chuan pada usia lima belas tahun membuatnya memahami banyak hal tentang dunia. Semakin membahayakan nyawa, semakin hal itu bersembunyi dalam keindahannya.
Ia melihat ke wanita-wanita cantik itu, seolah-olah mereka adalah kerangka merah dan merah muda, dan kepanikan di hatinya menjadi lebih kuat, hampir membuat kakinya lemah. Tetapi ketika ia melihat si cantik kecil di dunia fantasi dengan kupu-kupu biru di dalam sangkar hendak menelusup ke dalam pelukan Lian San, Cheng Yu berdiri dan melangkah ke belakang Lian San terlebih dahulu. Ketika si cantik kecil yang lincah mencoba menerkam Lian San dengan wajah malu-malu, Cheng Yu berjinjit untuk menutupi mata Lian San.
Tetapi mungkin Lian San terlalu tinggi, atau mungkin ia terlalu gelisah, meski ia berjinjit, tangannya hanya menyentuh dagu Lian San.
Wajah tampannya tampak sedingin batu giok, namun saat benar-benar disentuh, terasa hangat.
Jari-jarinya menekuk di bawah panas yang tak terduga, dan kemudian Cheng Yu merasakan jari-jari Lian San mengikutinya. Seolah ragu, meraba keempat jari yang Cheng Yu letakkan di dagunya, dan menyentuhnya dengan ringan.
"Apa yang kau lakukan?" bisiknya.
Jari-jarinya juga hangat.
Cheng Yu sedikit gemetar dan mencoba berjinjit lebih tinggi, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menempel di punggung Lian San.
Lian San membeku sesaat, tetapi ia tidak punya waktu untuk memerhatikan hal itu.
Tubuh Lian San lebih tinggi dari kelihatannya. Ketika Cheng Yu memeluknya, Cheng Yu merasakan kegugupan yang tak dapat dijelaskan. Tangannya secara acak menyilang di wajahnya, "Kakak Lian San," suaranya bergetar, "Kakak Lian San," suaranya penuh campuran kepanikan dan ketakutan. "Jangan dengarkan, jangan dilihat, dan jangan bicara."
Yang Mulia Pangeran Ketiga tercengang.
Butuh beberapa saat baginya untuk kembali sadar. Ia tidak menyangka bahwa Cheng Yu tidak hanya tidak dibuat bingung oleh You Wu Jie, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mengingatkannya akan kejanggalan di tempat ini. Seorang manusia masih dapat mempertahankan sifat aslinya ditengah kekhawatirannya yang belum terselesaikan, kecuali ia sudah berbahagia dan bebas dari rasa khawatir sepanjang hidupnya, dan tidak pernah merasakan sedikit pun rasa sakit atau kesedihan di hatinya. Namun hal ini jelas mustahil.
Yang Mulia Ketiga sedikit bingung, tetapi ini bukan waktunya untuk bingung.
Ia tanpa sadar menyentuh jari Cheng Yu di wajahnya lagi, tetapi Cheng Yu salah mengira bahwa pria itu ingin melepaskan diri darinya. Dalam kepanikan, Cheng Yu menekan seluruh tubuhnya ke arahnya, menekannya lebih dekat, dan jari-jarinya tidak lagi mencari matanya dengan sia-sia, seluruh lengannya diturunkan dan melingkari pinggangnya.
Tangan Cheng Yu memeluknya erat-erat, tubuhnya yang hangat menempel di punggungnya, dan wajah sampingnya dekat dengan wajahnya, "Dengarkan aku, Kakak Lian San," suaranya serak dan mendesak, dengan sedikit gemetar, "Ini semua palsu. Ini bukan tempat yang bagus, dan gadis-gadis cantik ini ... jangan lihat mereka, jangan pikirkan mereka, mereka sangat berbahaya!" Melihat bahwa Lian San tidak meronta lagi, Cheng Yu dengan ragu-ragu melonggarkan kekangannya. Hanya satu tangan yang memeluknya, sementara tangan lainnya ditarik dan menembus jauh ke dalam kerah bajunya sendiri.
Lian San tidak bergerak atau berbicara.
Ketika Cheng Yu memeluk Lian San beberapa saat yang lalu, gadis lincah yang memohon pada Lian San untuk membantunya mengambil kupu-kupu melarikan diri dengan agak ragu. Mengabaikan Cheng Yu yang sedang memeluk Lian San dengan erat, tangan rampingnya terlihat dari lengan bajunya, dan ia perlahan menyentuh tangan Lian San yang memegang kipas, "Kupu-kupu biruku baru saja ketakutan. Kakak, bantu aku menangkap yang lain." Jari-jari lebih sentimental dan romantis dibandingkan malam musim semi, dan matanya bahkan lebih lembut dan mendalam daripada air musim gugur. Ia memandang Lian San dengan senyum di wajahnya.
Yang Mulia Pangeran Ketiga menunduk, tetapi matanya bukan tertuju pada tangan yang diulurkan si gadis pengejar kupu-kupu untuk menggodanya, melainkan pada lengan yang melingkari pinggangnya. Sebagian kecil pergelangan tangan yang gemetar terlihat dari lengan jubah ungunya. Warna putihnya agak terlalu menyilaukan. Tulang pergelangan tangan dan tulang ulna sedikit menonjol karena pengerahan tenaga. Kulit yang sedikit tegang itu tampak transparan, menutupi tulang yang mungil dan halus. Pergelangan tangan yang sangat indah. Pergelangan tangan yang begitu indah hingga hampir terlihat rapuh. Namun tampak centil tanpa alasan.
Lengan giok itu tiba-tiba bergerak, dan tangan kecil yang putih, rapuh dan halus itu meninggalkan pinggangnya dan memegang salah satu tangannya. Tangan lainnya mengikuti dan menyentuhnya, membuka telapak tangannya sedikit demi sedikit. Sentuhan hangat dan halusnya membuat Lian San tiba-tiba tegang, namun gadis itu tidak merasakannya. Ia terus-menerus menyerahkan sesuatu ke telapak tangannya. Ketika Lian San membentangkannya, ia melihat bahwa itu adalah segel jimat yang baru saja dikeluarkan dari dekat tubuh Cheng Yu, masih membawa sedikit kehangatan dari tubuh manusia.
"Jangan dengarkan, jangan dilihat, Kakak Lian San." Kedua tangan itu meluncur ke bawah dan memeluk pinggangnya lagi, licin seperti air, lembap seperti batu giok, dengan kepolosan yang membuat kesal. Cheng Yu memperingatkannya dengan lembut lagi, "Jangan dengarkan, jangan dilihat." Ada sedikit getaran dalam suaranya. Sedikit gemetar. Ini menunjukkan bahwa ia takut. "Jimat ini sangat efektif. Telah melindungiku dari banyak bencana. Aku sudah menahan kakak-kakak cantik ini. Kakak Lian San, kalau kau kembali ke jalan yang kau tempuh saat datang, jimat itu pasti akan melindungimu untuk keluar dari gua ini," katanya.
Ia sangat ketakutan tetapi masih memikirkan cara membantunya melarikan diri. Tentu saja, strategi kasar ini tidak bisa menghadapi formasi seperti You Wu Jie, tetapi hati Cheng Yu semakin membuka mata Lian San.
Gadis lincah yang tadi menggodanya akhirnya menemukan tempat untuk menelusup di hadapannya. Ia masih berusaha menyenangkannya. Ia tersenyum manis dan lembut, memanggilnya Kakak, memintanya melemparkan kupu-kupu kuning lagi untuknya. Yang Mulia Pangeran Ketiga meletakkan kipas itu di bibirnya dan memberi isyarat diam padanya. Itu adalah gerakan yang sangat lambat, dan karena kelambatannya, itu sangat anggun.
Gadis kecil itu tertegun sejenak. Setelah ragu-ragu, ia mencondongkan tubuh lebih dekat ke arahnya dengan lebih hati-hati, tetapi ketika ia membuka mulut untuk berbicara, wajahnya tiba-tiba berubah. Jari-jari putih halus Lian San menekan tenggorokannya dan ia memandang Lian Song dengan tidak percaya di wajahnya. Wajah Pangeran Ketiga tidak menunjukkan adanya ekspresi yang spesial.
Setelah sadar, tangan bebas gadis kecil itu meraih Lian Song dengan kuat. Yang Mulia Pangeran Ketiga tidak mengelak, tetapi hanya sedikit melengkungkan sudut bibirnya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya, dan sepasang tangan cerah itu tertahan di udara, kemudian seluruh tubuh gadis itu membeku di depan Yang Mulia Pangeran Ketiga bagaikan patung.
Yang Mulia Pangeran Ketiga mengangkat matanya untuk melihat awan biru di langit yang jauh. Tangan yang memegang kipas itu sepertinya jatuh ke lengan Cheng Yu di sekelilingnya, tetapi pada akhirnya tidak jatuh sama sekali. Ia berhenti di sana, sepertinya tersesat dalam pikirannya.
Tentu saja, Cheng Yu tidak mengetahui hal ini. Ia mendengarkan gadis muda yang lincah itu menyesatkan Lian Song, dan melihat bahwa Lian Song tetap diam. Cheng Yu akhirnya ingat desas-desus bahwa Lian San adalah seorang playboy sejati.
Karena ia seorang playboy, ia mungkin suka jatuh ke pelukan wanita cantik. Bahkan Cheng Yu merasa sedikit gugup saat melihat gadis kecil cantik itu. Sungguh tidak optimis apakah Lian San bisa mengendalikannya. Dengan pemikiran ini di benaknya, Cheng Yu tanpa sadar memeluk Lian Song lebih erat, berharap ia bisa menggunakan ini untuk mengikat jiwanya dan mencegah orang lain membawanya pergi.
Saat ia memeluk Lian San, ia berbicara dengannya dengan suara rendah, berusaha membuatnya tetap terjaga, "Kakak Lian San, tolong tetap terjaga sebentar lagi. Tidak semestinya aku membawamu ke sini. Itu tidak seperti ini sebelumnya, dan aku seharusnya tidak menimbulkan masalah."
Ketika ia mengatakan bahwa ia tidak boleh menimbulkan masalah, Cheng Yu bingung sejenak, sedikit linglung dan agak sedih, "Ji Shizi benar, aku benar-benar sangat berani bersikap gegabah dan nakal, aku membuat kesalahan ratusan kali tanpa tahu bagaimana caranya bertobat, itu semua salahku."
Ia memarahi dirinya sendiri dengan kasar, suaranya bergetar: "Aku selalu mendapat masalah, tetapi waktu itu aku tidak membiarkan capung itu .... "
Begitu kata "capung" keluar dari mulutnya, Cheng Yu berhenti dengan aneh, dan seluruh tubuhnya membeku. Ia membeku untuk beberapa saat sebelum tersadar kembali, tetapi ia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya berkata, "Aku pasti akan membuatmu keluar," seolah dia bersumpah pada dirinya sendiri, "Jika ada yang harus mati kali ini, biar aku yang mati, tetapi aku akan membuatmu keluar."
Lian San mengerutkan kening, dengan sensitif merasakan sepertinya ada yang salah dengan kondisi mental gadis di belakangnya, tetapi sebelum ia bisa melihat lebih dekat, Cheng Yu sudah mendorongnya ke arah dari mana ia datang, dan ia sendiri menuju ke arah para wanita cantik kupu-kupu yang beterbangan.
***
Tang Qi ingin ngobrol:
Formasi You Wu Jie ini dibuat oleh kenalan kalian untuk melindungi seseorang yang tidak terlalu kalian kenal. Tebak siapa kenalan kalian ini?

0 comments:
Posting Komentar