Kamis, 28 Mei 2026

3L3W Lotus Step 1 - Chapter 9 part 1

3L3W Lotus Step 1

Chapter 9 part 1


Taman Qu Shui dibangun di pinggiran barat ibu kota, terdiri dari dua taman dan enam belas halaman, yang dibangun di dekat Gunung Jing Ming. Di taman timur dan barat, bebatuan aneh dibangun membentuk gunung buatan, dan ratusan bunga dikumpulkan membentuk taman yang indah.

Terdapat paviliun dan menara di halaman depan dan belakang yang terlihat seperti naga dan burung phoenix yang menari, dan di sana juga terdapat ruangan-ruangan terpisah dan kamar-kamar kecil yang menciptakan gaya elegan dan indah. Yang lebih ajaib lagi adalah halaman terakhir, yang terhubung dengan air, terdapat reservoir air besar, yang menghubungkan pegunungan dan sungai untuk mengairi keenam belas halaman, membentuk pemandangan megah puluhan air berkelok-kelok yang mengalir di sekitar taman, bagaikan seekor naga dan ular yang meliuk-liuk, yang sangat menarik.

Saking megah dan indahnya, bahkan tidak bisa dibandingkan dengan istana kekaisaran di ibu kota. Sekilas, ini adalah hasil karya mendiang kaisar. Karena ia bukanlah tukang menghabiskan uang yang luar biasa seperti mendiang kaisar, bisa dikatakan akan sulit memiliki keberanian untuk membangun istana seperti itu.

Setelah menetap di Taman Qu Shui, Cheng Yu sudah tinggal bersama neneknya, Ibu Suri, melayaninya selama setengah bulan.

Ibu Suri sudah tua dan tidak suka banyak bergerak atau keramaian, jadi selama lima belas hari mereka tinggal diam di Halaman Song He, salah satu dari enam belas halaman, membaca, menyalin, dan mendiskusikan kitab suci Buddha. Ini membuat Cheng Yu, secara sempurna melewatkan jamuan makan Kaisar untuk para menteri, tur Kaisar ke taman bersama para menteri, dan Kaisar serta para menteri menikmati teater dan pertunjukan bersama-sama ... serangkaian program hiburan yang sangat disukainya.

Terlebih lagi, Ibu Suri mengabdikan dirinya kepada Sang Buddha, sehingga hanya ada hidangan vegetarian di Halaman Song He, yang juga membuat Cheng Yu merasa tertekan. Untungnya, ia menyerahkan saputangannya, dan Nona Qi Ying'er, putri sah Jenderal Kediaman Marquis Chong Wu, akan datang setiap hari ke Taman Qu Shui, untuk memberinya paha ayam atau leher bebek.

Pada hari keenam belas, Cheng Yu akhirnya terbebas dari Halaman Song He. Karena Kaisar secara pribadi datang ke Halaman Song He untuk mengungkapkan permohonannya kepada Ibu Suri. Ia mengatakan bahwa, putra mahkota Kerajaan Wu Nuo Su datang ke istana bersama adik laki-lakinya dan para utusannya, dan selama perjamuan, ia memamerkan kinerja utusan wanitanya di perjamuan. Mereka mengajaknya berpartisipasi dalam pertandingan yang seru. Ia pun menyetujuinya.

Beberapa hari lagi, akan ada kompetisi antara Da Xi dan Wu Nuo Su. Walaupun keempat pemain wanita yang akan mewakili Da Xi dalam kompetisi telah dipilih oleh Kasim Shen, namun jika terjadi kecelakaan selama pertandingan, harus selalu ada penggantinya, jadi ia ingin meminjamkan Putri Hong Yu yang cukup pandai dalam Ji Qiu, untuk digunakan.

(T/N: 击鞠 - Ji Ju / Ji Qiu—seperti permainan polo modern. Disebut juga Da Qiu/Ji Qiu, lebih populer di Dinasti Tang. Para pemain harus menunggang kuda untuk memukul bolanya. Bola yang digunakan dalam Ji Qiu seukuran kepalan tangan, bagian tengahnya bolong, terbuat dari kayu yang ringan dan fleksibel, dan di bagian luar bolanya juga diukir dengan pola yang indah.)

Ibu Suri sudah menyetujuinya.

Cheng Yu mengikuti Kaisar keluar dari Halaman Song He, dan merasa sangat bersemangat, sehingga banyak bicara.

Misalnya, Kaisar bertanya padanya, "Dalam pertandingan Ji Qiu dengan Wu Nuo Su, apa kau tahu, kenapa aku pergi menemui Ibu Suri untuk mencarimu sebagai pengganti?"

Biasanya, ia akan mengucapkan mantra "Adik ini bodoh, aku seorang hamba, aku tidak tahu apa-apa" dan langsung menyerahkan panggungnya kepada kaisar. Apa pun yang Kaisar katakan, akan dilakukannya, karena semua orang di istana selalu hidup begini.

Tetapi hari ini ia berbicara dengan sangat antusias, "Kakak Kaisar kasihan pada Adik Perempuan ini!" Ia berseri-seri, "Adik perempuan ini tahu bahwa Kakak Kaisar sebenarnya tidak menganggap keterampilan Ji Qiu Adik Perempuan ini luar biasa, dan tidak benar-benar ingin menggunakanku sebagai sebagai pengganti.

"Kakak Kaisar merasa Adik ini sangat menderita setelah membaca Sutra selama lima belas hari di tempat Nenek Kekaisaran, makanya hanya menggunakan alasan ini untuk menyelamatkan Adik ini. Adik ini sungguh terharu!"

Kaisar mengangkat sebelah alisnya dan berkata, "Lalu, apa kau tahu, kenapa aku melakukan perjalanan khusus untuk menyelamatkanmu?"

Ia tersenyum dengan mata melengkung dan berkata dari lubuk hatinya, "Karena Adik ini berperilaku baik dan bijaksana!"

Kaisar tertawa marah padanya dan berkata, "Kau ... berperilaku baik dan bijaksana? Omong kosong!"

Cheng Yu mengakui kesalahannya lebih cepat dari siapa pun dan berkata, "Kalau begitu, aku menyadari kesalahanku."

Kaisar memandangnya dan tidak bisa marah. Ia berdeham dan membicarakan urusannya, "Karena aku sudah menyelamatkanmu, kau juga harus membantuku. Ketika kau bertemu Jenderal Agung nanti, jangan kehilangan kesabaran dan menyebabkan masalah bagiku. Apabila kau bisa melakukan itu, kau benar-benar bijaksana, dan aku akan merasa lega."

Cheng Yu tidak mengerti mengapa Kaisar tiba-tiba menyebut Jenderal Agung itu, tetapi melihat bahwa Kaisar tidak ingin dirinya mengungkapkan pendapat apa pun, ia menurut tanpa beropini dan hanya mengangguk, "Mn, aku mengerti."

Kaisar menghela napas dan berkata, "Aku tahu, dalam hati kau merasa dirugikan, tetapi Jenderal Agung adalah pilar negara. Kata-kata bahwa 'Wei Utara belum aman dan masih malu untuk berkeluarga', bukanlah pernyataan yang dibuat hanya untuk mempersulit dirimu. Ini adalah tekad besar seorang jenderal dan aku selalu tersentuh olehnya. Kau juga seharusnya menghormatinya."

Wei Utara belum aman, masih malu untuk berkeluarga. Delapan kata ini terdengar familier.

Cheng Yu memikirkannya dengan ragu-ragu, dan tiba-tiba mendapat inspirasi, teringat sebuah kejadian lama: ketika ia pertama kali kembali ke Kota Ping'an, seorang Jenderal memutuskan pertunangan dengannya.

Ketika ibu Cheng Yu, Putri Jing'an, meninggal dunia, seorang pendeta Tao tua yang melakukan ritual untuk ibunya pernah meramalkan takdirnya, mengatakan bahwa ia akan menderita tiga bencana dalam hidup ini: penyakit, takdir, dan cinta.

Untuk selamat dari musibah penyakit, ada musibah hidup, dan untuk selamat dari musibah hidup, ada juga musibah cinta. Hanya ketika ketiga musibah itu berlalu pada saat yang sama barulah ia dapat bertahan hidup. Di antara berbagai malapetaka yang dialaminya, sang pendeta Tao tua secara khusus menyebutkan malapetaka cinta, dengan mengatakan bahwa malapetaka ini berhubungan dengan pernikahan dan pernikahan di tempat yang jauh. Begitu pernikahan di tempat yang jauh muncul, kehidupan sang putri pun berakhir.

Oleh karena itu, Cheng Yu tidak terlalu peduli dengan pernikahan. Baginya, selama itu bukan pernikahan dengan kerabat, itu adalah pernikahan yang baik. Oleh karena itu, ketika ia pertama kali mendengar bahwa Ibu Suri telah memberinya pernikahan, sejenak ia merasa bahwa takdir akhirnya terbuka untuknya. Kemudian, ketika ia mendengar bahwa sang jenderal menolak untuk menikah, Li Xiang sangat marah. Namun, Cheng Yu tidak berpendapat apa-apa dan hanya merasa bahwa kehendak Tuhan itu seperti pisau. Bagaimanapun juga, takdirnya masih sama.

Saat itu, ia tidak menyadari bahwa masalah ini adalah masalah besar baginya, jadi ia tidak ambil pusing. Dalam dua bulan, ia sudah benar-benar melupakannya. Saat ini, ketika Kaisar menyinggungnya, ia ingat bahwa sebenarnya ini harus dianggap sebagai peristiwa besar.

Kemudian, ia dengan cerdas merasakan bahwa dalam benak Kaisar, semestinya ia menjadi gadis pemarah yang menyimpan dendam karena sang jenderal memutuskan pertunangan. Jelas sekali bahwa sang jenderal juga akan menemani Kaisar ke Taman Qu Shui kali ini. Kaisar takut sesuatu akan terjadi padanya yang akan mempermalukan keluarga kekaisaran dan mempermalukan dirinya, jadi ia datang untuk memperingatkannya terlebih dahulu.

Namun Kaisar masih merasa bersalah padanya, makanya ia memperingatkannya dengan sangat sungguh-sungguh.

Ini.

Ini bagus!

Ia segera masuk ke dalam drama tersebut, dan berkata kepada Kaisar dengan sedih sambil menyeka air matanya, "Kalau begitu ... seorang putri yang pertunangannya diputuskan, benar-benar ... sangat menyedihkan, dan sulit untuk menjadi orang yang baik .... Tetapi Kaisar meminta Adik Perempuan ini untuk lebih penurut ...." Ia tersedak, "Kalau begitu, Adik Perempuan ini tidak akan memikirkan hal lain lagi."

Ia tersedak dan mengejang, "Kudengar, Kakak Kaisar mengundang rombongan menyanyikan sebuah opera saat menghibur para menteri beberapa hari yang lalu. Nyanyiannya sangat bagus. Menontonnya bisa menghilangkan kekhawatiran dan kebosanan. Mungkin menonton pertunjukan itu bisa meringankan penderitaan Adik ini ...."

Kaisar adalah seorang kaisar yang selalu takut pada saudari-saudarinya dalam kehidupan sehari-harinya. Ia paling takut pada saudari-saudari yang menyeka air mata mereka di depannya. Mendengar Cheng Yu terisak, kelopak matanya langsung berkedut dan ia mengangkat kakinya untuk pergi, dan berkata dengan cepat, "Kalau begitu, suruh mereka memainkan beberapa opera untukmu."

Cheng Yu menyeka sudut matanya, tetapi melangkah ke depan Kaisar, menghalanginya, terisak, "Adik ini belum selesai bicara," ia tersedak lagi dan mengejang lagi, "Adik ini berpikir, ini saat yang tepat untuk menyantap jenis melon yang dipersembahkan sebagai upeti dari selatan saat menonton pertunjukan. Kulitnya tipis, dagingnya tebal, teksturnya manis dan berair. Aku ingin tahu, apakah mereka sudah membayarkan upetinya tahun ini."

Kulit kepala kaisar mati rasa ketika ia dihentikan oleh Cheng Yu, dan terus berkata dengan cepat, "Baru saja datang pagi ini. Akan kuberikan padamu dua nanti."

Cheng Yu juga menyeka sudut matanya dan menunjukkan lima jari dengan tangannya yang kosong, "Lima."

Kaisar tidak ingin tinggal lebih lama lagi, "Kalau begitu, lima."

Cheng Yu dibebaskan dari Halaman Song He, memakan melon yang diberikan oleh Kaisar, dan mendengarkan opera yang dinyanyikan khusus untuknya tiga kali sehari oleh Kaisar, dan menjalani kehidupan yang sangat tanpa beban. Sewaktu ia bosan mendengarkan opera, ia teringat bahwa ia adalah pemain pengganti dan masih harus tampil di tim Ji Qiu yang akan bermain atas nama Da Xi, melawan Wu Nuo Su.

Ji Qiu adalah permainan polo.

Cheng Yu telah memainkan Cu Ju dan Ji Qiu sejak ia masih kecil. Ada lapangan Ji Qiu yang dibuat untuknya oleh Zhu Jin di taman belakang Menara Sepuluh Bunga. Ia kerap menunggangi kuda yang berlari kencang. Di usia empat belas tahun, ia sudah bisa memainkan banyak trik menunggang kuda sambil memukul bola kayu ke gawang. Di antara para wanita, level Ji Qiu-nya termasusk sangat tinggi.

Namun karena ia belum pernah bermain polo di istana, Kaisar tidak mengetahui kemampuannya.

Kasim Shen menghabiskan banyak upaya untuk memilih tim yang terdiri dari enam orang. Selain Cheng Yu dan Nona Qi, ada seorang wanita bangsawan dan tiga pejabat wanita istana.

Karena pertandingan besar akan segera hadir, ia sudah berlatih sangat intensif akhir-akhir ini. Cheng Yu hanyalah pemain pengganti, jadi ia tidak punya kesempatan untuk berlatih. Ia sendiri merasa tidak apa-apa jika ia hanya menonton dari pinggir lapangan. Inilah yang dipikirkannya. Menurut standar orang-orang di lapangan, jika ia gegabah masuk ke lapangan, kecuali Nona Qi yang bisa menghadapinya, akan sulit baginya untuk tidak kehilangan kepercayaan dari keempat orang lainnya. Ini akan merugikan seluruh tim.

Level Nona Qi juga jauh lebih tinggi daripada empat orang lainnya. Karena rasa tanggung jawab yang sama, ia juga jarang pergi ke lapangan untuk berlatih. Entah ia sering terlambat atau pulang lebih awal dan tidak latihan dengan baik. Sebagian waktunya, ia tidur di sebelah Cheng Yu dengan tampang buku rusak di wajahnya. Cheng Yu tidak peduli, dan Kasim Shen juga sulit mengaturnya. Kasim Shen merasa itu terlalu sulit baginya.

Setelah berlatih seperti ini selama beberapa hari, keesokan harinya adalah kompetisi besar.

Di penghujung hari, Kaisar memimpin ratusan pejabat ke lapangan Ji Qiu di depan Istana Ming Yue, yang hanya dibuka saat kompetisi diadakan. Podium penonton pun penuh sesak.

Yang Mulia Pangeran Ketiga duduk di samping Guru Kekaisaran hari ini.

Yang Mulia Ketiga diperintahkan oleh Kaisar untuk melatih pasukan di kamp di pinggiran ibu kota beberapa hari yang lalu, dan baru memasuki Taman Qu Shui pada malam sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian besar utusan dari Wu Nuo Su dan Da Xi yang ada di sini untuk menghabiskan musim panas sebagian besar tidak mengenalinya. Namun seorang pemuda seanggun itu, begitu tampan dan luar biasa, serta duduk dalam posisi terhormat di sebelah kanan Guru Kekaisaran, terlihat bahwa posisinya juga sangat tinggi, yang tentu saja menimbulkan rasa iri dan keingintahuan.

Yan Lan memandang Lian Song dari kejauhan, tetapi melihat bahwa Lian Song tidak mengangkat matanya untuk melihat ke lapangan. Guru Kekaisaran sedang berbicara dengannya, tetapi ia memiringkan kepalanya untuk mendengarkan dan tidak menjawab. Kipas lipat di tangannya menyentuh sandaran tangan kursi.

Hati Yan Lan tergerak. Dalam mimpi samar-samar tentang Jiu Chong Tian, ia terkadang bisa melihat Lian Song seperti ini. Selalu ada berbagai jamuan makan di Jiu Chong Tian. Yang Mulia Pangeran Ketiga tidak berlagak dan selalu muncul di jamuan makan umum yang penting, tetapi ia selalu seperti ini.

Tidak peduli kapan atau di mana, Yang Mulia Ketiga selalu menjadi Yang Mulia Ketiga. Ia merasa sulit untuk memahami Yang Mulia Ketiga, tetapi juga sulit untuk melepaskan diri darinya.

Seseorang menyentuh lengannya. Yan Lan menoleh dan melihat Putri Ke-17 duduk di sampingnya. Putri Ke-17 menutup mulutnya dengan saputangan sutra dan menghampiri untuk berbicara dengannya, "Aku sudah lama tidak melihat Jenderal Agung, tetapi Jenderal Agung masih tetap tampan seperti biasanya." Sebelum ia bisa menjawab, Putri Ke-17 berujar misterius, "Barusan, aku ngobrol dengan Adik Ke-18. Aku ingat Jenderal Agung adalah sepupumu, Adik Yan Lan. Kau pasti tahu kalau Nenek Kekaisaran pernah berniat menikahkan si gadis Hong Yu itu dengan Jenderal Agung?"

Yan Lan tidak berkata apa-apa.

Putri Ke-18 menarik lengan baju Putri Ke-17, tetapi Putri Ke-17 tidak peduli, "Kita semua bersaudara, apanya yang tidak bagus untuk ditanyakan?" Menghadap ke Yan Lan dan bertanya, "Apakah Adik Perempuan pernah mendengar Jenderal Agung menyebutkan hal ini?"

Yan Lan terdiam beberapa saat dan berkata, "Kakak Perempuan punya banyak informasi, tetapi aku belum pernah mendengar Kakak Sepupuku menyebutkan masalah ini."

Putri Ke-17 tidak memercayainya, dan memandang Yan Lan dengan alis terangkat. Namun, melihat Yan Lan tetap diam, ia tidak dapat mengajukan pertanyaan lebih jauh, jadi ia mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri dan berkata, "Kalau begitu Jenderal Agung sedang melindungi reputasi Hong Yu. Sang Jenderal Agung adalah orang yang saleh, tetapi Nenek Kekaisaran juga terlalu menyukai Hong Yu, yang membuat masalah ini sangat memalukan. Sedangkan urusan pernikahan, Jenderal Agung tentu saja tidak akan bisa menerima seorang gadis yang hanya tahunya bermain-main dan tidak paham apa pun sebagai istrinya, makanya ...." Ia menutup mulutnya dan tertawa.

Putri ke-18, yang berpenampilan malu-malu, memandang ke arah Yan Lan dan kemudian ke Putri ke-17. Bibirnya memutih dan ia membujuk Putri ke-17, "Kakak Ke-17, jangan bicara omong kosong. Nenek Kekaisaran menganugerahkan pernikahan kepada Jenderal Agung. Di bawah status PutriJun Zhu memiliki status paling terhormat, dan karena Jenderal Agung adalah menteri penting dan tidak boleh dijodohkan dengan seorang Putri, wajar jika pernikahan itu diberikan pada Hong Yu. Ini bukan karena Nenek Kekaisaran berat sebelah atau tidak ...."

(T/N: Putri yang benar-benar anak kandung kaisar, disebut Gong Zhu. Sedang Jun Zhu adalah gelar putri tetapi dari kerabat kaisar, setingkat di bawah gong zhu.)

Yan Lan tidak memerhatikan apa yang dikatakan Putri Ke-17 lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke lapangan Ji Qiu lagi. Ia memang telah mendengar tentang pernikahan yang diberikan oleh Ibu Suri kepada Yang Mulia Ketiga dan Hong Yu, dan fakta bahwa Yang Mulia Ketiga menolak titah kekaisaran tersebut dan menolak untuk menikah.

Yan Lan mengetahui bahwa Putri Hong Yu adalah anak yatim piatu dari Pangeran Jing'an. Karena kecintaan Ibu Suri kepada Pangeran Jing'an, Hong Yu juga agak disayangi oleh Ibu Suri. Hong Yu masih muda, tidak lebih dari enam belas tahun, tetapi ia memiliki penampilan yang sangat cantik, sosok yang menawan, dan temperamen yang lincah, sehingga Kaisar juga sangat menyukainya. Tetapi, ia dan Hong Yu tak banyak bicara.

Ketika ia pertama kali mendengar bahwa Ibu Suri telah menganugerahinya pernikahannya, ia memang sedikit terkejut, tetapi ia juga berharap Yang Mulia Ketiga akan menolak.

Para dewi di Jiu Chong Tian semuanya sangat cantik dan tidak satupun dari mereka yang pantas untuk Yang Mulia Ketiga, apalagi Hong Yu. Namun penganugerahan pernikahan Ibu Suri kepadanya membuatnya dengan serius mempertimbangkan kemungkinan peristiwa pernikahan yang mungkin akan dimiliki oleh Yang Mulia Pangeran Ketiga.

Ia memikirkannya berkali-kali, tetapi setiap kali ia memikirkannya, hatinya tenggelam. Seperti yang dikatakan Putri Ke-17, menurut peraturan mahkamah, seorang Fu Ma tidak dapat menjabat sebagai menteri penting. Oleh karena itu, penanugerahan pernikahan dengan Lian Song oleh Ibu Suri, sangat mustahil untuk dijadikan Fu Ma kepada seorang Putri. Dan, tak ada kemungkinan bahwa dirinya dan Yang Mulia Pangeran Ketiga punya kesempatan.

(T/N: 驸马 - Fu Ma - menantu lelaki kaisar, menikahi seorang putri yang statusnya gong zhu. Fu Ma dilarang ikut campur dalam pemerintahan dan tidak boleh menjadi menteri penting.)

Jika ada hal baik untuknya dalam hidup ini, satu-satunya hal yang bisa disyukurinya adalah tidak mungkin ada orang di dunia ini yang bisa bersama Yang Mulia Ketiga.

Karena ini adalah dunia fana, semua yang mereka lihat adalah dunia fana. Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa membuat Yang Mulia Ketiga terkesan seperti itu, sehingga Yang Mulia Ketiga lebih memilih menanggung kejahatan serius karena melanggar larangan Istana Surgawi untuk menikahinya.

Ia telah mengingat banyak kejadian masa lalu baru-baru ini, dan semakin ia mengingatnya, semakin jelas ia menyadari bahwa Yang Mulia Ketiga, yang tampak romantis, sebenarnya adalah yang paling tanpa perasaan.

Namun, paling bagus kalau ia tanpa perasaan.

Lagipula, sebelum kekejamannya, masih ada seseorang yang istimewa baginya di dunia ini, Chang Yi.

Dan Chang Yi bisa dianggap sebagai kehidupannya yang sebelumnya.

Yan Lan mau tidak mau mengalihkan pandangannya lagi secara diagonal, mendarat di Lian San. Ia melihat banyak mata orang tertuju padanya, namun ia tidak fokus pada siapa pun.

Itu saja sudah cukup. 

0 comments:

Posting Komentar