Jumat, 29 Mei 2026

CTF - Chapter 383

Consort of A Thousand Faces

Chapter 383 : Menguji Tan Ge


Larut dalam kesedihannya, Tan Ge bahkan tidak menyadari langkah kaki Su Xi-er. Hanya ketika orang itu tiba-tiba saja memanggil namanya, barulah ia ditarik dari pikirannya. Bahkan kemudian, ia hanya bisa menatap ke depan sementara hatinya terasa seolah itu terikat.

Penampilannya menyebabkan Su Xi-er mengerutkan alisnya. "Tan Ge, ada apa?"

Tan Ge gelisah. Bukankah ia sudah mencurigaiku? Mengapa ia kembali ke Perpustakaan Kekaisaran? Dan mengapa ia masih mau berbicara denganku?

"Chao Mu sudah tiada. Kaulah satu-satunya dayang istana yang bertugas menyapu Perpustakaan Kekaisaran." Su Xi-er menghela napas sementara ia mengamatinya.

"Ia meninggal dalam pelukanku." Tan Ge bergumam seraya menggenggam erat gagang sapunya.

Tatapan Su Xi-er menjadi lebih tajam selagi ia menatap Tan Ge. "Chao Mu meninggal dalam pelukanmu?"

"Benar, aku melihatnya mati dengan mataku sendiri. Ia perlahan-lahan berhenti bernapas ... dan berhenti tersenyum." Kesedihan melintas di mata Tan Ge sewaktu ia meneruskan. "Malam itu, aku meninggalkan kamarku, bersiap-siap untuk pergi ke Dapur Kekaisaran untuk mengambil pangsit. Ketika aku melewati kamarmu, aku menyadari pintunya yang terbuka lebar, dan Chao Mu terbaring di lantai di depannya. Sewaktu aku berlari mendekat, ia memberitahuku bahwa air di dalam tekonya sudah diracuni, dan bahwa seseorang mengincarmu. Ia juga ... ingin aku memberitahumu bahwa ia tidak bisa lagi mengambil pangsit dari Perpustakaan Kekaisaran bersamamu."

Rasa sakit menguasai hati Su Xi-er. Bahkan sewaktu ia sekarat, Chao Mu masih mengingat janji kami untuk pergi dan mengambil pangsit di Dapur Kekaisaran.

Tatapan Tan Ge mendalam. Ia menatap Su Xi-er lekat-lekat, berteriak kepadanya, "Su Xi-er, kenapa kau tidak ada di kamarmu hari itu? Mengapa kau berjanji pada Chao Mu untuk mengambil pangsit bersama-sama? Racun itu jelas-jelas ditujukan padamu; itu adalah salahmu makanya Chao Mu mati!"

Tan Ge tidak dapat mengendalikan emosi pada akhir kalimatnya, air mata tanpa sadar mengalir di wajahnya. Chao Mu begitu murni, tetapi ia tetap mati. Jika Su Xi-er tetap tinggal di Istana Samping tanpa menarik perhatian Pangeran Hao, Commandery Prince Xie tidak akan menargetkannya, dan semua ini tidak akan terjadi. Sekarang, karena sudah sampai di titik ini, semua orang patut disalahkan!

"Chao Mu meninggal karena aku, tetapi ia tidak akan pernah mengalami nasib seperti itu jika tidak ada orang yang meracuni airnya. Tan Ge, apa sebenarnya hubunganmu dengan Commandery Prince Xie?"

Melihat niat Su Xi-er, Tan Ge tertawa muram. "Kau cerdas sekali. Commandery Prince Xie memang mengancamku supaya membunuhmu!"

Su Xi-er diam-diam memerhatikan Tan Ge selagi ekspresinya berubah akibat penderitaannya.

"Lahan Kediaman Tan dan tanah feodalnya dijual oleh pemerintah setempat, dan semua orang di dalam keluarga diasingkan, termasuk orang tua dan anak-anak. Apa yang bisa kulakukan selain menyaksikannya tak berdaya? Dan menghilangnya diriku dari Perpustakaan Kekaisaran? Itu bukan karena diculik oleh seorang pria berbaju hitam, tetapi karena Commandery Prince Xie ingin aku menyaksikan kehancuran Kediaman Tan dengan mata kepalaku sendiri!" Tawa Tan Ge pun pecah, matanya menjadi tak bernyawa sewaktu ia terus bicara.

Melihat kondisinya saat ini, Su Xi-er menyatakan, "Orang yang meracuni air di dalam kamarku adalah kau; kau dipaksa oleh Commandery Prince Xie."

"Bukan aku," Tan Ge menjawab perlahan. Ia mengangkat lengan bajunya, memperlihatkan sebagian kulitnya yang sudah rusak. "Commandery Prince Xie menuangkan sejumlah bubuk obat ke tanganku yang menyebabkan kulitku membusuk secara menyakitkan. Ia mengancamku dengan bubuk itu, tetapi aku terus ragu-ragu, terlepas dari banyaknya kesempatan yang kumiliki untuk membunuhmu. Kesempatan terakhir yang diberikannya kepadaku adalah pukul sebelas malam di hari perjamuan Titik Balik Matahari Musim Dingin istana."

Tan Ge tersenyum pahit. "Tetapi aku tidak bergerak, dan itulah mengapa aku dihukum. Kediaman Tan sudah hancur, tetapi aku tak kuasa untuk melakukan apa pun. Su Xi-er mengapa kau memprovokasi Commandery Prince Xie? Apa kau tahu betapa mengerikannya dia?"

Suaranya dipenuhi dengan kesedihan dan kebencian. Aku membenci semua orang, bukan hanya Commandery Prince Xie. Aku juga membenci Pangeran Hao dan Su Xi-er! Merekalah yang mengubahku. Aku tidak pernah menjadi seseorang yang akan berkomplot untuk melawan orang lain, tetapi kini aku sudah jadi seperti ini.

Su Xi-er memerhatikan ekspresi sedih Tan Ge. Seseorang dengan eskpresi itu biasanya tidak berbohong. Terlebih lagi, aku bisa merasakan kebencian, kesedihan, dan amarah di hatinya yang menyembur layaknya banjir.

"Jangan pernah kembali ke Perpustakaan Kekaisaran!" Tan Ge mendorongnya. Walaupun aku punya dendam dalam hatiku, aku tidak akan mampu menjawab diriku sendiri apabila aku terus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraniku.

Karena tubuh Su Xi-er masih belum pulih sepenuhnya, ia tersandung beberapa langkah ke belakang ketika Tan Ge mendorongnya.

Tiba-tiba saja, satu anak panah yang ganas melesat keluar dari semak-semak, langsung menuju ke punggung Su Xi-er.

Selalu waspada, Su Xi-er pun mengelak. Dengan gerak kakinya, ia masih bisa sepenuhnya menghindarinya.

Namun, Tan Ge dengan cekatan menarik Su Xi-er ke belakangnya dan menggunakan tubuhnya untuk menerima serangan anak panah tersebut. Ujungnya menancap di dada kirinya, menyebabkan manik matanya mengerut. Tidak sempat berpikir barusan ini, ia langsung menghadang anak panah itu karena insting.

Su Xi-er menyangganya, menggenggam tangannya. "Tan Ge."

Tan Ge menatapnya linglung, sementara jejak darah menetes turun dari sudut mulutnya. "Maafkan aku, Su Xi-er. Aku tidak ingin menyakitimu, dan aku tidak melakukan itu." Meskipun tersenyum, suaranya perlahan-lahan menghilang. Aku bisa membebaskan diri jika aku mati.

Walaupun Su Xi-er mencurigai Tan Ge yang meracuni airnya, ia tak lagi memeganginya dengan jarak satu tangan. Kepribadian baik Tan Ge yang asli masih ada; bagaimanapun juga, ia menghadang panah itu tanpa berpikir.

"Su Xi-er, aku bukan orang yang jahat, kan?" Tan Ge meremas tangan Su Xi-er dan tersenyum.

"Tentu saja kau bukanlah orang yang jahat. Kau cantik dan berbakat. Kau pasti akan bertemu dengan seorang pria yang baik dan punya anak-anak yang mengagumkan di masa depan. Tidak akan terjadi apa-apa denganmu." Su Xi-er berusaha menghiburnya selagi ia memeriksa keadaan sekelilingnya. Tidak menemukan siapa-siapa, ia hanya berkata, "Aku akan membawamu ke Institut Tabib Kekaisaran."

"Jangan selamatkan aku. Biarkan aku mati." Tan Ge menutup matanya, pernapasannya lemah.

Su Xi-er merasakan denyut nadinya, dan mengetahui bahwa itu lemah. Wu Ling pastinya disibukkan dengan orang yang menembakkan panah tersebut. Bagaimana aku membawa Tan Ge ke Institut Tabib Kekaisaran?

Seolah-olah datang menanggapi pemikirannya, Tabib Kekaisaran Zhao mendadak datang bergegas membawa kotak obatnya. Ia datang untuk membawakan Guru Agung Kong obat setelah mendengar kalau orang itu merasa kurang sehat belakangan ini. Ia tidak menyangka akan menemukan Su Xi-er sedang berdiri dekat seorang dayang istana yang terpanah di dadanya.

Kelopak mata Tabib Kekaisaran Zhao berkedut. Mengapa terjadi begitu banyak insiden beberapa hari terakhir ini? Siapa sih sebenarnya yang begitu gencar mengejar para dayang istana di Perpustakaan Kekaisaran?

Su Xi-er tidak menanyakan Tabib Kekaisaran Zhao tentang mengapa ia ada di sini, dan sebaliknya, segera meminta bantuannya. "Tabib Kekaisaran Zhao, tolong cepatlah periksa Tan Ge."

Ia maju ke depan bersama kotak obatnya dan berjongkok sebelum memeriksa denyut nadi Tan Ge selagi ia melihat ke panah tersebut. "Panahnya melewati jantungnya. Masih ada harapan untuknya. Pergi dan panaskan air selagi aku membantunya ke kamar."

"Baiklah." Su Xi-er langsung pergi ke ruang ketel.

Sembari menopang Tan Ge, Tabib Kekaisaran Zhao asal masuk saja ke dalam satu ruangan, tidak mengetahui bahwa penghuni sebelumnya adalah Chao Mu.

***

Sementara itu, orang yang menembakkan panah sedang bertukar jurus dengan Wu Ling di dalam hutan.

Orang itu mengenakan jubah hitam, dan keahlian bertarungnya lumayan hebat karena Wu Ling bukanlah tandingannya setelah lebih dari sepuluh ronde.

"Ck, ck, kau harus lebih banyak berlatih. Kau bahkan jauh lebih buruk ketimbang orang-orang dari Nan Zhao." Suara Shi Mo serak. Dalam sekejap, ia sudah menghilang ke dalam hutan.

Wu Ling merenungi kata-katanya. Orang-orang dari Nan Zhao? Apakah pria ini berhubungan dengan Nan Zhao? Siapa sebenarnya orang ini?

Setelah merenung sebentar, Wu Ling dengan cepat menuju ke Perpustakaan Kekaisaran. Targetnya adalah Su Xi-er, tetapi aku gagal dalam misiku. Ia terancam bahaya karena aku tidak melindunginya dengan baik.

(T/N : ngga gitu kok babang Wu Ling, emang Shi Mo-nya yang kelewat jago ._.)


0 comments:

Posting Komentar