Jumat, 29 Mei 2026

CTF - Chapter 386

Consort of A Thousand Faces

Chapter 386 : Surat Pemutusan


Yu Chi Mo merasa seolah ada tatapan dingin yang membunuhnya sampai mati dengan ribuan sayatan. Ia tidak berani mengangkat kepalanya, dan hanya membungkuk. "Pangeran Hao, Ibu Suri tiba-tiba saja menghilang dari Istana Kedamaian Penuh Kasih."

Tiba-tiba saja menghilang di siang bolong .... Su Xi-er termenung sesaat sebelum ia melihat ke arah Pei Qian Hao, hanya untuk melihat ekspresi tak pedulinya. Seakan-akan ia sudah lama menduga ini terjadi.

"Jaga kerahasiaan masalah ini. Pangeran ini akan pergi ke Istana Kedamaian Penuh Kasih nanti." Ia melambaikan tangannya supaya Yu Chi Mo pergi.

Yu Chi Mo kaget. Apakah Pangeran Hao berencana untuk melanjutkan pernikahan dengan menghilangnya Ibu Suri? Kita bisa menyembunyikan masalah ini untuk sementara waktu, tetapi tidak mungkin kalau kita bisa merahasiakan ini untuk waktu yang lama. Prioritas kita seharusnya adalah untuk mencari Ibu Suri.

"Kenapa kau masih belum pergi? Apa kau perlu Pangeran ini untuk mengantarkanmu secara pribadi?" Suara dingin Pei Qian Hao pun terdengar.

Melihat ekspresi gelap Pei Qian Hao, Yu Chi Mo merasa jantungnya bergetar untuk sesaat. Lebih baik tidak menerima 'gestur sopan' ini. Ia segera membungkuk dan pergi.

Pei Qian Hao berbalik ke arah Su Xi-er, menggandeng tangannya selagi mereka berangkat. "Ikutlah ke Istana Kedamaian Penuh Kasih bersama Pangeran ini."

Pemandangan dari mereka berdua yang berjalan pergi sembari bergandengan tangan membuat Wu Ling tercengang. Karena Pangeran Hao berada di sisi Su Xi-er, ia tidak akan memerlukanku untuk terus mengikutinya. Apa aku tinggal di sini dan menjaga Tan Ge saja?

Setelah menyadari bahwa sekali lagi ia akan menjaga seorang gadis lemah, Wu Ling merasa terserang sakit kepala. Ia merenung sejenak. Kami masih belum tahu apakah Tan Ge baik atau jahat. Aku bisa mengawasinya dengan dalih sedang menjaganya.

***

Barisan dayang-dayang istana dan kasim menundukkan kepala mereka, bahkan tidak berani untuk bernapas. Wu Ling datang bersama Su Xi-er pagi ini, dan sekarang ia sedang berjalan berdampingan dengan Pangeran Hao sembari memegang tangannya.

Bei Min dan Nan Zhao mirip dalam hal masyarakat misoginis mereka. Walaupun Bei Min setingkat di bawahnya, status seorang pria masih jauh lebih tinggi daripada seorang wanita. Jangankan Pangeran Hao, bahkan wanita dari keluarga rakyat biasa tidak boleh berjalan berdampingan dengan suami mereka.

Segera saja, beberapa dayang istana mulai iri pada Su Xi-er, sementara yang lainnya teringat akan He Xiang Yu. Dulu, He Xiang Yu disayangi, bahkan sampai melangkah lebih jauh dan memamerkan betapa mengesankan dirinya. Sekarang ia mati, tetapi yang ditinggalkannya untuk menggosok pispot akan naik ke langit layaknya seekor burung phoenix!

Su Xi-er mengedarkan pandangannya sambil lalu ke arah para dayang sebelum pergi bersama Pei Qian Hao.

Selagi pasangan itu berbelok di tikungan, kebetulan Situ Li menangkap pemandangan dari sosok mereka yang menjauh.

Seorang dayang istana berencana untuk bangkit ketika ia mendadak melihat Situ Li, karenanya mendorongnya untuk membungkuk lagi. "Hamba memberi hormat kepada Pangeran Kekaisaran Ketiga."

Situ Li mengangkat tangannya. "Kau boleh bangun." Kemudian, ia melanjutkan berjalan maju ke depan sembari tenggelam dalam pikirannya.

Ia datang dari istana Consort Dowager Guo, dimana ia sudah mendengar bahwa Ibu Suri menghilang, dan sekarang ini sedang menuju ke Istana Kedamaian Penuh Kasih sendiri.

***

Situ Lin sekarang ini sedang berdiri di aula utama Istana Kedamaian Penuh Kasih, berhadapan dengan seorang dayang istana yang gemetaran yang sedang berlutut di lantai dengan ekspresi serius. Sikap mengesankan seorang kaisar pun ditampilkan secara penuh selagi ia menegurnya. "Kau bahkan tidak bisa menjaga Ibu Suri dengan baik! Apa gunanya Kaisar ini memilikimu? Dimana terakhir kali kau melihat Ibu Suri?"

Dayang istana itu belum pernah menyaksikan amarah Kaisar, dan suaranya bergetar. "Ibu Suri menginstruksikan hamba agar menyeduhkan teh krisan guna mengurangi panas internalnya, tetapi ketika hamba kembali, Ibu Suri telah menghilang. Aku tidak dapat menemukannya, tak peduli bagaimana aku mencarinya."

Situ Lin mengerutkan alisnya. Kemana perginya Ibu Suri? Mungkinkah ia sudah diculik seseorang? Mengapa Paman Kekaisaran masih belum di sini?

Suara dingin seorang pria pun terdengar. "Masalah ini tak ada hubungannya dengan dayang istana. Mundur."

Setelah terlepas dari tuduhan, dayang istana itu langsung meninggalkan aula utama.

Situ Lin melirik Su Xi-er. Mengapa Paman Kekaisaran membawa Bibi Kekaisaran ketika Ibu Suri menghilang?

"Yang Mulia, menurut pendapat Pangeran ini, Ibu Suri pergi secara sukarela. Hampir tidak ada orang di dunia ini yang berhasil menculik Ibu Suri."

Situ Lin terkejut. "Mengapa ia pergi secara sukarela? Ia adalah Ibu Suri!"

"Karena Ibu Suri punya idenya sendiri, Pangeran ini akan mengikuti harapannya." Ia menoleh pada Su Xi-er. "Kau tahu bagaimana cara meniru tulisan tangan?"

Su Xi-er tidak mengerti bagaimana Pei Qian Hao mengetahuinya, tetapi tetap mengangguk. Memang, bahkan seorang ahli saja akan kesulitan membedakan tiruanku dari yang aslinya.

"Semestinya kau bisa melihat tulisan tangan Ibu Suri dari itu." Pei Qian Hao menunjuk ke gulungan kata-kata yang tergantung di aula utama. "Tuliskan sepucuk surat pemutusan sebagai gantinya."

Situ Lin tidak mengerti apa yang sedang direncanakan Pei Qian Hao. Mengapa ia menyuruh Bibi Kekaisaran agar meniru tulisan tangan Ibu Suri dan menuliskan sepucuk surat pemutusan, bukannya mencarinya?

Su Xi-er merenung sejenak sebelum memahami niat Pei Qian Hao, tersenyum padanya. Dengan sikap sombongnya yang biasa, aku tidak menyangka ia juga punya bakat untuk memainkan trik kecil.

"Tidak masalah. Bawakan peralatan menulisnya."

Situ Lin melupakan segalanya tentang menampilkan sikap dari seorang kaisar. "Ah? Bibi Kekaisaran, surat pemutusan apa yang kau tulis?"

"Yang Mulia, ambilkan peralatan menulis secara diam-diam untuk Bibi Kekaisaran Anda." Kata Pei Qian Hao dengan suara dalamnya.

"Paman Kekaisaran, tolong tunggu sebentar!" Situ Lin segera berjalan keluar dari Istana Kedamaian Penuh Kasih untuk mengambil sendiri perlengkapannya.

Hanya dengan dirinya dan Pei Qian Hao yang tersisa di aula utama, Su Xi-er memberitahunya, "Bukan hanya kita harus menuliskan sepucuk surat pemutusan hari ini, kita juga harus meminta Yang Mulia agar menuliskan surat terima kasih."

"Surat terima kasih?" Pei Qian Hao tidak memahami ide Su Xi-er.

"Undangan pernikahan sudah dikirimkan kepada para penguasa dari tiap kerajaan. Karena skala pernikahannya setara dengan pernikahan seorang kaisar, kita harus menyuruh Yang Mulia menuliskan surat terima kasih, berterima kasih kepada Paman Kekaisarannya yang bertindak seperti ayahnya. Dengan begitu, tidak akan ada yang bisa menyebarkan desas-desus jahat tentang Anda yang berusaha untuk naik takhta."

Status Pei Qian Hao adalah seorang pejabat yang bekerja untuk Yang Mulia, tetapi setelah surat itu diumumkan, statusnya akan mirip dengan seorang 'ayah' daripada murni seorang pejabat. Jika Situ Lin sendiri mengatakan bahwa pengaturan pernikahan itu berkat Paman Kekaisarannya, para pejabat mahkamah tidak akan berani untuk mengajukan keberatan, terlepas dari bagaimana pernikahan tersebut diadakan.

Aturan harus diikuti, tetapi perasaan dapat membuat kata-kata yang tidak hidup menjadi hidup.

Pei Qian Hao memeluknya. "Kau sangat pintar, tetapi ...." Aura arogannya memancar darinya sewaktu ia menyatakan dengan gaya yang pantang menyerah, "Tidak perlu hal semacam itu. Memangnya kenapa kalau para pejabat mahkamah keberatan? Apakah Pangeran ini harus memedulikan tentang mereka saat itu adalah soal pernikahanku sendiri? Pangeran ini tidak berkenan melakukan itu."

Su Xi-er kembali merasakan karakternya yang sombong dan percaya diri. Ia tidak memedulikan tentang orang lain yang keberatan akan tindakannya saat itu adalah sesuatu yang ingin dilakukannya.

"Pei Qian Hao, Anda benar-benar tidak terkendali." Su Xi-er mengangkat kepalanya untuk menatap Pei Qian Hao, mengucapkan kata-katanya.

Ia tertawa. "Ini adalah pernikahan-sekali-seumur-hidup. Bagaimana mungkin Pangeran ini tidak lebih tak terkendali lagi?"

Su Xi-er hampir merasa napasnya tercekat. Pernikahan-sekali-seumur-hidup. Kata-kata arogan Pei Qian Hao nyaris menyebabkan air matanya berjatuhan.

Hanya satu orang dalam kehidupan ini. Hanya ada satu pernikahan, tentu saja ia harus menjadi lebih tidak terkendali!

Pada akhirnya, Su Xi-er melemparkan lirikan padanya. "Dulu, Anda mengatakan kalau Anda tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan kata-kata manis, tetapi sekarang lihatlah Anda; seolah-olah mulut Anda sudah dilumuri dengan madu."

Saat ini, mereka mendengar dehaman ringan. Ada tatapan jail di mata Situ Lin ketika mereka berbalik untuk menatapnya. "Paman Kekaisaran, Bibi Kekaisaran, kalian harus lebih perhatikan tempat. Aku masih anak-anak."

Situ Lin sudah membawakan bahan-bahan menulis bersamanya, dan sekarang sedang meletakkan mereka di atas meja. "Bibi Kekaisaran, kau bisa menulis sekarang. Aku sudah menginstruksikan pengawal kekaisaran di luar agar menghentikan siapa saja yang mencoba untuk memasuki Istana Kedamaian Penuh Kasih." 


0 comments:

Posting Komentar