Jumat, 29 Mei 2026

CTF - Chapter 397

Consort of A Thousand Faces

Chapter 397 : Pemandangan yang Meriah


Su Xi-er berhenti di jalannya, bayangan akan wajah Chao Mu muncul dalam benaknya selagi ia menatap dayang istana tersebut. Dayang istana ini yang telah dengan sengaja mencubit kaki Chao Mu hanya supaya ia dapat membuatku jatuh.

Mata Su Xi-er menggelap mengingat kenangan itu, tiba-tiba saja, atmosfer yang dingin membebani dayang-dayang istana yang berada di dekat sana, hingga mereka merasa tercekik.

Dayang istana yang menerima ini pun gemetaran di bawah pelototan Su Xi-er, akhirnya bersimpuh di tanah. "Nona Xi-er, hamba bersalah. Mohon bermurah hati dan melepaskan hamba."

"Aku hanyalah seorang wanita, bukan pria terhormat. Aku tidak murah hati." Su Xi-er memberi sinyal pada Wu Ling dengan matanya sebelum berjalan maju.

Meski tidak tahu bagaimana si dayang istana di depan mereka telah menyinggung Su Xi-er, Wu Ling yakin bahwa karakter orang itu tidak akan pernah membiarkan dirinya untuk memberikan hukuman, kecuali itu adalah pelanggaran yang berat.

Oleh karenanya, ia melambaikan tangan untuk menginstruksikan pengawal di istana. "Seret dayang ini keluar dan beri dia lima belas kali pukulan papan."

Bagi seorang gadis muda, untuk menerima lima belas kali pukulan, sama saja dengan merenggut setengah nyawanya. Ia roboh di tanah dalam keterkejutan, dan baru tersadar setelah seseorang mulai menyeretnya pergi. Ia berteriak dengan kencang, "Mohon ampuni hamba! Hamba tidak akan berani melakukannya lagi!"

Jeritan tak berkesudahannya yang membuat ngeri itu memasuki telinga dayang-dayang istana lainnya, menyebabkan hati mereka gemetar ketakutan. Aura Su Xi-er sudah berubah secara drastis sekarang, karena ia akan menjadi Hao Wang Fei. Kita harus memastikan untuk menghormatinya di masa depan.

Tepat sewaktu Su Xi-er baru saja akan sampai di Perpustakaan Kekaisaran, Wu Ling datang untuk melaporkan, "Dayang istana itu sudah menerima hukumannya. Namun, bolehkah aku bertanya, mengapa Anda memutuskan untuk melakukan demikian?"

"Ia sudah menyinggung Chao Mu." Su Xi-er berkata pelan, menatap ke kejauhan seolah tengah mengenang.

Wu Ling memerhatikannya selagi ia berjalan pergi. Chao Mu adalah wanita yang menyedihkan; hidupnya terpotong begitu saja. Biarpun demikian, ia juga bisa dianggap beruntung; ia dapat menjalani hidup yang menyenangkan seperti yang diinginkannya, tak terbelenggu oleh kekhawatiran dunia.

***

Di dalam Perpustakaan Kekaisaran, Ruo Yuan sedang menyangga satu bangku dengan satu tangan selagi yang satunya memegang sutra merah di tangannya. Sementara itu, Hong Li sedang berdiri di atas bangku dan menggantungkan sutra merah di atap.

Semua atap, pepohonan, bahkan pintu halaman, harus didekorasi dengan sutra merah sebelum matahari terbenam, kalau tidak itu tidak akan jadi keberuntungan.

"Hong Li, miring! Geser lebih ke sebelah kiri!" Ruo Yuan mendongakkan kepalanya dan mengejap-ngejapkan matanya.

Hong Li melakukan seperti yang disuruh. "Ruo Yuan, apa ini pas?"

Namun, satu-satunya tanggapan yang diterimanya adalah keheningan. Bingung, Hong Li pun menoleh menatap Ruo Yuan, hanya untuk melihat orang itu menatap bengong ke arah lain. Tepat saat ia baru saja akan bertanya ada masalah apa, Hong Li merasa bangkunya goyang karena getaran tangan Ruo Yuan.

"Ah ...." Mendadak kehilangan keseimbangan, membuat Hong Li jatuh ke lantai. Tepat sewaktu ia baru saja akan menumbur tanah, jeritannya menggema di seluruh aula.

Beberapa saat setelahnya, ia merasakan tangan yang besar di punggungnya, membantunya bangun.

Setelah Hong Li berhasil berdiri dengan benar, ia menyadari bahwa tangan Wu Ling masih berada di pinggangnya. Ia mendorongnya karena kaget, tetapi tenaga berlebihannya membuat Wu Ling terkejut.

Sekarang, di sisi lain, Wu Ling jatuh ke arah Ruo Yuan. Tanpa adanya keraguan, Ruo Yuan mengulurkan tangannya untuk menyangga pinggang Wu Ling, persis seperti yang dilakukan orang itu kepada Hong Li.

Itu hanya butuh waktu sekejap, tetapi adegan canggung di depannya membuat Su Xi-er menahan tawa.

"Komandan Wu, apa Anda baik-baik saja?" Ruo Yuan menenangkan debaran jantungnya yang jadi liar, selagi ia bertanya penuh perhatian.

Menyadari senyuman Su Xi-er, Wu Ling langsung berdiri tegak dan mendorong Ruo Yuan. Berbicara seolah-olah tak ada banyak yang terjadi, ia berkata, "Aku adalah seorang pria. Apa yang mungkin bisa terjadi padaku?"

Suaranya mengandung rasa menyalahkan selagi ia menatap ke arah Hong Li. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan berakhir dalam keadaan menyedihkan begini. "Aku tidak pernah menyinggungmu, kan, Nona? Aku hanya menyanggamu ketika aku melihat kalau kau terjatuh."

Hong Li kehabisan kata-kata. Apa yang harus kukatakan? Ruo Yuan menyukaimu? Walaupun kau memang menyanggaku, tanganmu di pinggangku. Ruo Yuan akan merasa tidak nyaman ketika ia melihat itu.

Su Xi-er maju ke depan untuk memecah atmosfer yang canggung tersebut. "Ayo lanjutkan menggantung sutra merahnya."

Su Xi-er baru saja akan memanjat ke bangku tinggi itu ketika Hong Li menghentikannya. "Kau adalah pengantin wanitanya; kau tidak boleh menjadi orang yang menggantungkannya. Ruo Yuan dan aku yang akan melakukannya."

"Biarkan aku yang melakukannya. Aku tidak membutuhkan bangku untuk meraihnya." Tawar Wu Ling.

Hong Li melirik Ruo Yuan sebelum mendorongnya.

Akhirnya, Ruo Yuan tergagap, "Komandan Wu, Anda adalah seorang pria. Hanya wanita yang boleh menggantungkan sutra merah. Jika Anda ingin membantu, Anda harus menjadi seorang wanita."

Ia tidak begitu fasih ketika berbicara dengan Wu Ling, dan sepenuhnya melewatkan betapa kata-katanya sangat ... tidak pantas.

Ekspresi Wu Ling menggelap, dan matanya berkedut. Ia baru akan mengambil sutra merah, tetapi kini tertinggal dengan tangan yang tergantung canggung di udara. Pada akhirnya, ia hanya bisa menjatuhkan tangannya dan mundur selangkah.

Su Xi-er terkekeh kecil. "Baiklah, Ruo Yuan dan aku akan memegangi bangkunya. Hong Li, kau akan bertugas untuk menggantungkan sutra merahnya. Wu Ling, kau bisa memberitahukan pada kami jika ada yang miring."

"Baiklah." Wu Ling mundur beberapa langkah ke belakang, memerhatikan mereka bertiga selagi mereka menggantungkan sutra merah itu. Dengan semua orang yang bekerja bersama-sama, tak lama sebelum seluruh deretan atapnya didekorasi dengan sutra merah.

Setelah mereka selesai, mereka berpindah ke sisi lainnya. Ketika mereka sampai di kamar milik Chao Mu, Su Xi-er merasa sedikit sedih. Ia teringat kata-kata yang diucapkan Chao Mu kepadanya. "Saat aku dewasa, aku juga mau memakai benang merah di leherku."

Saat Ruo Yuan menyadari kalau pikiran Su Xi-er melayang-layang, ia berbisik, "Ada apa? Aku dengar, wanita yang sudah akan menikah, cenderung menjadi lebih melankolis dan sensitif."

Su Xi-er tertawa. "Kau baru saja datang ke Perpustakaan Kekaisaran, dan kau sudah mengetahui bagaimana caranya menggunakan idiom empat kata.

(T/N : Arti literalnya adalah idiom yang terdiri dari empat suku kata dalam bahasa Mandarin, dan idiom semacam ini sering kali digunakan di Tiongkok, jauh lebih banyak ketimbang dalam Bahasa Inggris.)

"Jangan menggodaku lagi. Guru Agung Kong baru mengajari itu padaku kemarin." Ruo Yuan malu selagi ia diam-diam menggumam. Aku tidak pernah belajar, bahkan aku buta huruf. Guru Agung Kong hanya mengajariku sedikit ketika ia melihat kalau aku berminat.

"Ruo Yuan sangat pintar, dapat langsung menggunakan apa yang telah dipelajarinya!" Hong Li tertawa terbahak-bahak sebelum naik lagi ke atas bangku dan terus mengantungkan sutra merah tersebut.

Sepenuhnya terlibat dalam tugas, wajah Ruo Yuan dan Hong Li dihiasi senyuman. Hanya dalam beberapa jam saja, Perpustakaan Kekaisaran sudah hampir seluruhnya diselimuti dengan sutra merah, memberikannya nuansa perayaan.

Guru Agung Kong benar-benar terpana ketika ia kembali, matanya berbinar-binar.

Hong Li tertawa. "Guru Agung Kong, apakah Anda menangis?"

"Omong kosong, orang tua ini tidak menangis." Guru Agung Kong mengomel selagi ia maju ke depan, merasa senang saat ia melihat warna merah yang menguntungkan. "Hebat sekali karena Perpustakaan Kekaisaran menjadi lebih semarak!"

Guru Agung Kong kemudian teringat sesuatu. "Ada sesuatu yang terjadi pada tangan penjahit terbaik di istana, jadi ia tidak bisa menjahitkan gaun pernikahanmu. Kami sudah menemukan penjahit handal lainnya yang bekerja di ibu kota, tetapi ia baru akan menyetujuinya jika ia merasa karakter pengantin wanita sesuai kesukaannya. Su Xi-er, mungkin kau harus pergi secara pribadi ke sana."

Hong Li cemberut. "Sungguh temperamen yang besar. Kita bahkan harus mengundangnya secara pribadi."

Guru Agung Kong menjelaskan, "Orang-orang berbakat di dunia, sering memiliki kepribadian yang eksentrik."

"Aku akan keluar dari istana besok." Bagaimanapun juga, aku harus meninggalkan istana untuk melihat apakah aku bisa mengumpulkan beberapa informasi.

Pernikahan akan segera tiba, tetapi apakah Lian Chen sudah dalam perjalanannya kemari? Aku penasaran, bagaimana keadaannya sekarang ini.


0 comments:

Posting Komentar