Jumat, 29 Mei 2026

CTF - Chapter 398

Consort of A Thousand Faces

Chapter 398 : Yun Ruo Feng Melihatnya


Setelah menyelesaikan tugas menggantung sutra merah, kelompok Su Xi-er, Hong Li, dan Ruo Yuan makan siang bersama. Lalu mereka menyapu Perpustakaan Kekaisaran sebelum Su Xi-er pergi sendirian untuk menjenguk Tan Ge, menyadari bahwa kondisi orang itu sudah membaik.

Guru Agung Kong sudah menyatakan bahwa apabila Tan Ge masih berbaring di ranjang selama beberapa hari sebelum pernikahan, ia harus dipindahkan ke istana lain; alasannya adalah bahwa dengan adanya orang sakit yang tinggal di istana yang sama, akan tidak menguntungkan bagi suasana pesta. Ditambah, setiap ruangan di Perpustakaan Kekaisaran harus dibersihkan menggunakan air honey locust Cina, hingga semuanya bersinar. Bagaimanapun juga, seseorang baru saja meninggal dunia di sini beberapa hari sebelumnya.

Pei Qian Hao pulang terlambat setelah Su Xi-er kembali ke Istana Naga Langit. Segera setelah ia berjalan masuk ke dalam ruangan, ia menjelaskan pada Su Xi-er bahwa mereka akan pergi meninggalkan istana untuk menemui penjahit yang akan membuatkan gaun pengantin. Sementara untuk yang lainnya, ia menganjurkan Su Xi-er bahwa ia yang akan menangani semuanya.

Su Xi-er memandanginya dari samping. Ia benar-benar perhatian.

Menangkap Su Xi-er yang memandanginya, Pei Qian Hao merasa agak canggung. Ia berjalan ke belakangnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Su Xi-er sebelum membawanya ke ranjang. "Pergi tidurlah. Kau harus bangun pagi-pagi besok."

"Bagaimana dengan Anda?" balas Su Xi-er.

Pei Qian Hao menundukkan kepalanya dan menempelkan dahinya ke kening Su Xi-er. "Pangeran ini akan membaca."

Su Xi-er tertegun. Tidak mungkin buku medis itu lagi, kan?

Semburan tawa yang lucu pun lolos dari bibirnya. "Lihatlah dirimu. Aku tahu kalau pikiranmu pasti sudah jadi liar. Jangan khawatir, Pangeran ini akan membaca buku militer hari ini."

Kemudian, ia mengeluarkan buku dari lengan jubahnya, mengayun-ngayunkannya di depan Su Xi-er supaya ia dapat membaca judulnya sebelum duduk di meja di dalam ruangan.

Su Xi-er meliriknya. Ia tidak bisa menyalahkanku karena keliru menebaknya, ketika ia berubah dari bersikap serius menjadi tidak tahu malu dengan sebegitu cepatnya. Pada akhirnya, Su Xi-er menyangga kepalanya dengan tangan kanan, tertidur sambil mengawasinya dengan sungguh-sungguh meneliti buku di tangannya.

Tatapan Pei Qian Hao mendalam selagi matanya terhenti di serentet kata-kata yang tertulis di halaman tersebut.

Penyisipan Jiwa.

Buku ini mungkin terlihat seperti panduan militer di permukaannya, tetapi sebenarnya ... mengenai okultisme.

Matanya terpaku pada kata-kata itu sementara ia mengepalkan tangan kanannya sebelum melemaskannya lagi. Baru setelah sekian lama, ia menutup bukunya, berjalan ke lemari pakaian, dan menyimpan buku itu di bawah semua barang lainnya.

Ia tidak percaya pada okultisme, tetapi sekarang .... Keraguan berkedip di matanya, dan kekehan pelan lepas dari bibirnya. Lupakan saja, tidak masalah siapa dirinya. Pada akhirnya, ini semua hanya kecurigaanku sendiri. Satu-satunya hal yang kuketahui secara pasti adalah bahwa ia adalah orang yang kuinginkan.

Pei Qian Hao berbalik dan berjalan menuju ke ranjang, menggelengkan kepalanya ketika ia melihat tangan Su Xi-er menggantung keluar dari selimut. Jika aku tidak memeluknya saat ia tidur, tangannya akan mulai gelisah.

Dengan hati-hati, ia menarik tangan Su Xi-er ke bawah selimut. Tepat saat ia baru saja akan melepaskan, tiba-tiba saja Su Xi-er menariknya dan bergumam pelan, "Hamba ini bau."

Sudut mulut Pei Qian Hao terangkat. Ia bahkan memimpikan tentang kehidupannya di Istana Samping.

Pei Qian Hao meremas tangan Su Xi-er. "Pangeran ini tidak keberatan kalau kau bau." Hanya setelah Pei Qian Hao dengan lembut meletakkan tangannya di tangan wanita itu, barulah Su Xi-er mengendurkan genggamannya.

Pei Qian Hao perlahan-lahan melepaskan jubah luarannya dan naik ke atas ranjang, memeluknya dari belakang sewaktu ia tertidur.

***

Pagi berikutnya, Su Xi-er tidak melihat Pei Qian Hao ketika ia bangun. Ia selalu sarapan bersamaku. Aku penasaran, kemana ia menghilang pagi-pagi sekali.

"Nona Xi-er, air berkumur dan sarapannya sudah disiapkan." Seorang dayang istana memberitahukan dengan hormat kepadanya dari luar pintu.

Su Xi-er menjawab mengiyakan sebelum berpakaian. Tak lama kemudian, ia sudah mengikatkan sanggul sederhana untuk dirinya sendiri sebelum berjalan keluar dari kamar.

Dalam waktu kurang dari satu jam, ia sudah selesai menyegarkan diri dan sarapan. Kemudian, ia meninggalkan Istana Naga Langit bersama Wu Ling dan pengawal lainnya dari Kediaman Pangeran Hao yang mengikuti di belakang.

Terlihat ada lebih banyak pengawal yang ikut hari ini, dengan beberapa pengawal lagi yang berdiri di samping sebuah kereta kuda yang terlihat biasa saja di kejauhan.

Wu Ling mengulurkan tangannya. "Silakan naik ke kereta kuda di depan. Ruo Yuan dan Hong Li akan datang nanti."

Su Xi-er mengangguk, dan maju ke depan untuk naik ke kereta kuda tersebut. Tak lama sebelum Ruo Yuan dan Hong Li juga tiba.

"Kita bisa meninggalkan istana lagi." Mata Hong Li berbinar selagi bertepuk tangan gembira.

Duduk di sebelahnya adalah Ruo Yuan, yang terus saja menundukkan kepalanya. Mengapa Komandan Wu di sini lagi? Aku merasa malu setiap kali aku berjumpa dengannya.

"Ruo Yuan, jangan gugup ketika kau melihat Komandan Wu." Su Xi-er mengingatkan.

Ruo Yuan kembali tersadar beberapa saat setelahnya, tetapi tetap menundukkan kepalanya. Bagaimana aku harus menghentikan diriku bersikap gugup? Satu-satunya solusi adalah tidak melihatnya! Oleh sebab itu, ia terpikirkan sebuah ide: bersembunyi darinya. Ada terlalu banyak jurang antara aku dan Komandan Wu. Selain itu, ia punya Nona Qing. Mereka akur, dan Komandan Wu sepertinya cukup menyukainya.

Manik mata Ruo Yuan pun menggelap setelah memikirkan ini. Aku tidak boleh gugup. Komandan Wu akan menikahi Nona Qing di masa yang akan datang. Jika ia mengetahui kalau aku masih memiliki perasaan semacam ini, ia pasti akan memukuliku sampai mati.

Dikarenakan inilah, makanya ekspresi Ruo Yuan menjadi acuh tak acuh hingga ia mendongakkan kepalanya untuk tersenyum pada Su Xi-er. "Kita akan pergi mengukur untuk gaun pengantinmu. Su Xi-er, kau pasti akan jadi sangat cantik hingga membelah bumi ketika kau mengenakannya di hari pernikahan!"

Hong Li tertawa terbahak-bahak mendengarkan frasa 'menghancurkan bumi'. "Kau menggunakan apa pun yang Guru Agung Kong ajarkan padamu. Bagaimana bisa 'menghancurkan bumi' digunakan untuk mendeskripsikan penampilan seorang wanita?"

Sudut mulut Su Xi-er pun melengkung membentuk senyuman selagi ia diam-diam memerhatikan mereka adu mulut.

Ruo Yuan menatap Hong Li bingung. "Kalau begitu, apa yang mesti kukatakan?"

"Kecantikan yang memesona yang membuat ikan tenggelam dan angsa pun turun; Saking cantiknya, sampai-sampai bulan bersembunyi di balik awan dan bunga-bunga pun dibuat malu. Kecantikan yang menghancurkan, yang menyebabkan jatuhnya suatu bangsa!" Hong Li tersenyum sewaktu ia menjawab.

(T/N : Frasa yang digunakan untuk mendeskripsikan Empat Kecantikan Tiongkok Kuno.)

"Membuat Pangeran Hao jatuh cinta padanya, hehe." Ruo Yuan terkikik selagi ia berkomentar.

Su Xi-er hanya bisa tertawa. "Kau pintar sekali. Aku harus meminta Guru Agung Kong untuk mengajarimu dengan benar."

"Guru Agung Kong begitu berpendidikan, dan aku sudah merasa senang karena ia menggunakan sejumlah waktu luangnya untuk mengajariku. Aku tidak bisa menyita terlalu banyak waktunya." Ruo Yuan tertawa dengan gaya yang lucu sebelum menolehkan kepalanya untuk melihat ke luar kereta.

Kereta kuda sudah meninggalkan istana kekaisaran, dan berjalan di jalan utama yang dipenuhi oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya.

Penjahit yang akan mereka temui adalah yang disebutkan oleh Guru Agung Kong kemarin. Suaminya sudah wafat, meninggalkanya hanya dengan satu putri yang sudah menikah ke sebuah keluarga petani di pinggiran kota tahun lalu. Sebagai hasilnya, penjahit ini sendirian dan menjalani kehidupan yang sederhana semenjak saat itu.

Kereta kuda itu berhenti di seberang Penginapan Ye, dimana penjahit itu tinggal, dan membolehkan Su Xi-er serta yang lainnya untuk turun.

Yun Ruo Feng sedang minum teh di ruangannya ketika ia membuka jendela dan secara kebetulan menangkap pemandangan mereka yang turun dari kereta kuda.

Ketika Su Xi-er memasuki rumah jahit, Yun Ruo Feng pelan-pelan menurunkan cangkir tehnya, jantungnya ikut tenggelam bersamanya.

Ia sudah akan menikah. Ia berjalan ke dalam rumah jahit untuk memilih gaun pengantinnya.

Perasaan yang masam pun mengalir keluar dari lubuk hatinya, menyebabkan hatinya terasa sakit. Adegan dari Su Xi-er yang memasuki rumah jahit membuat itu terasa seperti jarum yang sedang menusuk-nusuk matanya.

Saat ini, pengurus Penginapan Ye masuk ke dalam membawa kue. "Pelanggan, kue-kue nya sudah di sini. Silakan dicicipi. Ini merupakan keahlian terkenal Bei Min."

Hanya setelah si pengurus meletakkan semua kue di atas meja, barulah ia menyadari bahwa Yun Ruo Feng sedang memandangi rumah jahit di seberang penginapan. Ia pun tak tahan untuk berkomentar, "Hanya ada satu penjahit di rumah jahit tersebut, tetapi keterampilan menjahitnya luar biasa meski sudah hampir berusia enam puluh tahun. Ketika anggota keluarga Rumah Tangga Kekaisaran menikahi seorang istri, mereka akan mengunjunginya secara pribadi untuk memintanya menjahitkan sebuah gaun pengantin."

Setiap katanya seperti pisau yang menembus hati Yun Ruo Feng. Tatapan yang semula jernih di matanya, kini terselubung dan gelap.

Pengurus itu bingung. Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Bukankah pelanggan sedang memandangi rumah jahit itu karena ia merasa tertarik?


0 comments:

Posting Komentar