3L3W Lotus Step 1
Chapter 13 part 2
Keesokan
harinya Cheng Yu tidak pergi ke Halaman Ju Shuang pagi-pagi seperti biasanya.
Karena ia minum dengan Qing Ling tadi malam, Qing Ling memberitahunya bahwa
nyanyian burung kepodang di Vila Gunung Qing Que di pinggiran Han Cheng adalah
pemandangan musim semi yang unik di Prefektur Li Chuan, selalu banyak orang
berbakat dan tamu terhormat datang untuk mendengarkan nyanyian burung kepodang
setiap tahunnya.
Qing
Ling tidak banyak bicara, tetapi ia sangat pandai bercerita. Oleh karena itu,
ketika ia bercerita tentang tempat suci ini untuk jalan-jalan, membuat orang
merasa seperti seolah berada di sana, seolah-olah ia benar-benar melihat turis
yang berpuisi dengan anggur, orang-orang berbakat yang mabuk dan bait-baitnya,
dan wanita cantik yang menyetel senar untuk menyelaraskan satu sama lain.
Cheng
Yu tidak tertarik dengan puisi para cendekiawan berbakat, namun ia sangat
tertarik dengan nyanyian para penyanyi. Ia tergelitik oleh kata-kata Qing Ling
dan pergi ke Vila Gunung Qing Que keesokan paginya untuk mendengarkan burung
kepodang. Ia tidak kembali ke kediaman sampai tiga perempat dari shen
shi.
(T/N: 申时 shēn shí—dari pukul
15.00-17.00)
Karena
ia adalah seorang gadis atletis dan tidak rapuh seperti remaja putri lainnya,
ia tidak merasa terlalu lelah bahkan setelah berjalan dan bermain hampir
sepanjang hari. Setelah kembali ke rumah, ia berpikir bahwa ia bisa bertemu Ji
Ming Feng saat you shi sambil membaca di Ruang Baca
Selatan. Tanpa banyak berpikir, ia pun pergi ke Halaman Ju Shuang.
(T/N: 酉时 yǒu shí—dari pukul 17.00-19.00)
Itu
adalah hari yang menyenangkan, Cheng Yu melangkah ke Halaman Ju Shuang, dan
melihat Ji Ming Meng dari jauh. Ruang baca selatan berada di sebelah Danau Yan
Yu, pohon dedalu asap ditanam di seluruh tepi danau, dan ada beberapa pohon
aprikot, bagai untaian benang hijau berguguran, dan aprikot musim seminya
harum, menciptakan pemandangan musim semi yang indah.
Cheng
Yu berjalan mendekat dan melihat Ji Shizi mengenakan pakaian
biru, memegang gulungan di tangannya, duduk di dekat jendela, terlihat sangat
tampan. Namun mata Shizi tidak tertuju pada halaman buku
itu. Shizi sedikit mengernyit dan memandangi pemandangan danau
di kejauhan, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Cheng
Yu melambaikan tangannya dan menyapa Ji Ming Feng dari kejauhan,
"Kakak Shizi!"
Mendengar
suaranya, Ji Shizi sedikit terkejut, dan kembali menatapnya
dari danau. Namun Shizi tidak menanggapinya, matanya hanya
tertuju padanya sejenak, lalu menjauh, lalu berbalik ke danau lagi.
Cheng
Yu mengusap hidungnya dan berjalan menuju pintu ruang baca tanpa peduli. Sudah
biasa bagi Shizi untuk mengabaikannya, jadi ia tidak
keberatan. Adapun Shizi yang sedang mengerutkan kening di
danau tadi .... Ji Shizi mungkin tidak terlalu senang hari
ini.
Maka
ia tidak boleh mengganggu Ji Shizi hari ini. Ia harus
membiarkannya sendirian. Bukankah orang suka sendirian ketika mereka tidak
senang? Tetapi bukan ide yang baik untuk berbalik dan pergi setelah ia datang.
Atau haruskah ia pergi ke ruang baca untuk menyapa Ji Shizi, lalu
mencari alasan untuk pergi? Ya, ini lumayan pantas.
Ia
membuka pintu ruang baca, menyapa Ji Ming Feng, dan kemudian berjalan di depan
kursi berlengannya beberapa saat sebelum tiba-tiba teringat, "Ah, aku
berjanji pada Kakak Qing Ling bahwa aku akan menyulam sulaman dua sisi
dengannya hari ini. Kenapa aku datang ke ruang baca selatan lagi? Kakak Shizi,
aku ada urusan lain hari ini. Kalau begitu hari ini ...."
Ji
Ming Feng meliriknya dan menyelanya dengan kasar, "Itu bukan urusan yang
serius." Setelah jeda, ia mengulurkan tangan dan mengetuk meja,
"Kemari dan minumlah air gula."
Cheng
Yu tertegun dan melihat panci sup porselen putih dan mangkuk porselen putih
diletakkan di atas meja di depan Ji Ming Feng. Ia tidak begitu mengerti mengapa
ia memintanya untuk minum air gula. Mungkinkah karena ia bilang ia manis
kemarin dan benar-benar menyimpan dendam hari ini, mengetahui bahwa ia benci
minum air gula manis, jadi ia menyiapkan ini hanya untuknya? Ia tidak mungkin
seperti ini ....
Cheng
Yu membungkuk dengan curiga, dan Ji Ming Feng sudah menuangkan air gula dan
meletakkannya di depannya. Ia sendiri mengambil kuas, membuka buku tersebut,
memberikan komentar pada buku yang baru saja ia buka.
Cheng
Yu meliriknya. Shizi menyadari tatapannya dan mengangkat matanya
untuk melihatnya. Ia dengan cepat menarik kembali pandangannya, berlama-lama
dan memuji kaligrafi Shizi, "Biasanya, menggunakan kuas yang
lembut ketika menulis dalam naskah biasa, gampang membuat hurufnya kehilangan
semangatnya, tetapi Kakak Shizi, kau memiliki bentuk dan semangat
dalam guratan tulisan tanganmu. Kau sungguh luar biasa!"
Shizi mengabaikan
kata-katanya dan terus menulis dengan kuas tangan kanannya. Ia mengetukkan jari
telunjuk tangan kirinya di depan mangkuk porselen putih berisi air gula dan
berkata singkat, "Minumlah."
Cheng
Yu bertahan beberapa saat, dan setelah sekian lama, ia berkata,
"Kakak Shizi, aku tidak terlalu suka yang manis-manis
...."
Kuas Shizi berhenti
dan ia mendongak menatapnya, "Jadi?"
"Jadi
menurutku," tetapi melihat Ji Shizi mengerutkan kening,
ia tiba-tiba teringat bahwa Shizi sedang tidak senang hari
ini. Bukankah ia baru saja merenungkan dirinya sendiri kemarin? Bahkan tanpa
penjelasan Qin Su Mei, ia tidak boleh mendapat masalah saat ini. Ia segera
berhenti, langsung mengganti topik pembicaraan, dan memaksakan senyuman di
wajahnya, "Jadi menurutku ... walaupun biasanya aku tidak suka yang
manis-manis," pikirnya hati-hati, "tetapi inilah air gula yang kau
sisakan untukku. Karena secara khusus disisakan oleh Kakak Shizi untukku,
maka aku tidak boleh pilih-pilih soal makanan." Ia mengambil mangkuk
porselen putih sambil mengamati ekspresi Ji Ming Feng. Ketika ia melihat
Ji Shizi menatapnya sejenak, ia tidak bisa berhenti, dan harus
menyesapnya tanpa keraguan.
Ketika
air gula menyentuh bibirnya, ia berkata, "Kenapa air gula bunga bunga lili
dan biji teratai ini dingin?"
Ji Shizi berkata
dengan tenang, "Kau terlambat dan air gulanya dingin. Apakah ini salah air
gulanya?"
Ia
terkejut saat mengakui kesalahannya, "Ini salahku."
Ia
ragu-ragu untuk waktu yang lama, dan kemudian menemukan alasan untuk dirinya
sendiri, "Tetapi menurutku, karena ini dingin, sebaiknya aku tidak minum
semangkuk air gula ini," katanya dengan tatapan tulus, "Ini juga demi
Kakak Shizi, karena," ia agak mencondong mendekat, menjelaskan
logika internal masalah ini kepadanya, "Begini, jika aku minum air gula
dingin ini dan jatuh sakit, siapa yang pada akhirnya akan bersusah payah
merawatku? Tentu saja kau, Kakak Shizi. Bukankah itu akan
menimbulkan masalah lagi padamu?"
Ji Shizi bahkan
tidak memandangnya. Ia mencelupkan kuasnya ke dalam tinta dan berkata dengan
tenang, "Kau tidak bisa menggangguku. Tabib Qi tinggal di halaman
sebelahmu. Ia sangat pandai mengobati sakit perut."
Jantung
Cheng Yu berdetak kencang. Yah, ia ceroboh. Shizi tidak mudah
ditipu seperti Xiao Hua dan Li Xiang. Sebagai seorang putri yang masih bisa
tetap tenang di sarang bandit dan melakukan perjalanan bersamanya siang dan
malam tanpa masalah, memang sulit baginya untuk memercayai bahwa Cheng Yu
mendadak begitu lemah sampai ia bisa dikalahkan oleh semangkuk sup dingin.
Ia
mengambil mangkuk porselen putih dan bergumam dengan enggan, "Kalau begitu
aku akan meminumnya saja."
Namun
ketika air gula masuk ke perutnya, ia menyadari bahwa sebenarnya rasanya cukup
enak. Cheng Yu sangat terkejut dan bertanya kepada Ji Shizi dengan
curiga, "Kenapa ini tidak terlalu manis hari ini? Apakah kau menyuruh Nona
Qin supaya tidak merebusnya terlalu manis? Tidak, bukankah Nona Qin pergi
membakar dupa hari ini?"
Ji Shizi terdiam
setelah mendengar ini, "Apakah Qin Su Mei satu-satunya di dunia ini yang
tahu cara membuat sup?"
"Oh,
bukan Nona Qin yang membuatnya, lalu siapa yang membuatnya?" ia bertanya
sambil menyesapnya, tetapi ketika Ji Shizi tidak menjawab, ia bercanda,
"Tidak mungkin kan, kau, Kakak Shizi, yang membuatnya."
Ji Shizi tiba-tiba
mendongak, "Kenapa tidak mungkin aku yang membuatnya?"
Cheng
Yu tidak langsung menjawab. Cheng Yu tersedak. Selagi tersedak, Cheng Yu
terbatuk dan mengajukan pertanyaan pada Ji Shizi, "Kakak Shizi,
apakah kau secara khusus memasaknya untukku?"
Shizi tidak
menjawab.
Cheng
Yu menepuk dadanya untuk mencoba menenangkan dirinya dari tersedak,
"Be-benarkah?"
Ji Shizi akhirnya
menjawab seolah ia tidak tahan lagi, "Merebus untuk diminum sendiri,
merebusnya kebanyakan."
Cheng
Yu akhirnya berhenti batuk dan berkata dengan bingung, "Tetapi kau suka
makan yang rasanya sangat manis dan imut."
Ji Shizi mengangkat
alisnya, "Coba ucapkan imut lagi."
Cheng
Yu berhenti bicara.
Ji Shizi berkata
dengan tenang, "Aku tidak ingin makan yang manis-manis hari ini, tidak
boleh?"
Cheng
Yu mengangguk, "Baiklah, boleh."
Tetapi
rasa sup manis Shizi selalu membuatnya penasaran. Cheng Yu mau
tidak mau bertanya, "Kau minum yang manis dan tidak terlalu manis, jadi
menurutmu, yang tidak terlalu manis lebih baik atau yang manis lebih
enak?"
Hari
ini, Shizi tidak menganggapnya terlalu banyak bicara.
Sebaliknya, ia bertanya padanya, "Menurutmu yang mana yang rasanya lebih
enak?"
Ia
mengangkat mangkuk porselen putih di tangannya, "Tentu saja yang ini
rasanya enak." Ia tidak berkata apa-apa, "Dulu, aku selalu berpikir
bahwa saat merebus air gula, sup Li Xiang kami adalah yang terbaik. Aku tidak
menyangka, Kakak Shizi, kau juga memasaknya dengan sangat
baik."
Ji Shizi menundukkan
kepalanya dan menulis beberapa coretan di buku itu. Setelah ia meminum
semangkuk air gula itu, ia tiba-tiba berkata dengan tenang, "Lalu
bagaimana apa yang aku buat dibandingkan dengan apa yang dibuat oleh pelayanmu?
Mana yang lebih baik?"
Cheng
Yu berseru, "Tentu saja Li Xiang ...." Melihat ekspresi tidak begitu
baik Ji Ming Feng, ia pun berhenti dengan cerdas, "Ia tidak bisa
dibandingkan denganmu, Kakak Shizi."
Ji
Ming Feng berhenti menulis dan memandangnya sebentar. Cheng Yu memberi peringatan
pada dirinya sendiri di dalam hatinya. Ji Ming Feng tidak bodoh. Ia bisa menipu
Xiao Hua konyol itu dengan berbicara seperti ini, tetapi mana mungkin
bermain-main di depan Ji Ming Feng.
Melihat
ekspresi dingin Ji Ming Feng, Cheng Yu dipenuhi dengan emosi. Hari ini, ia
membuat Ji Ming Feng tidak senang lagi. Lupakan saja, mari kembali hari ini dan
belajar dari Qing Ling, lalu kita akan melanjutkan upaya kita besok. Ia
meletakkan kembali mangkuk itu dan menundukkan kepalanya di bawah tatapan Ji
Ming Feng yang bisa membekukan orang sampai mati, "Mungkin ada hal lain
yang harus kulakukan. Biarkan aku ...."
Ji
Ming Feng berkata dingin, "Kembali dan duduk, bacalah buku." Ia
melemparkan buku yang baru saja ditandainya kepadanya, lalu menundukkan
kepalanya dan melakukan hal-hal lain dan tidak pernah melihat ke arahnya lagi.
Sebuah
buku tebal jatuh ke pelukan Cheng Yu. Ia merasa buku itu tampak familier.
Ketika ia membuka sampulnya, ia melihat bahwa itu adalah buku tentang arti
bahasa Huo Tu yang telah dipelajarinya tanpa pamrih beberapa hari terakhir ini.
Ia membaliknya dengan santai dan melihat anotasi Ji Ming Feng dalam naskah
biasa, yang penuh dengan penjelasan sulit. Semakin jauh ia membalikkannya,
semakin terkejut dirinya. Ia tidak tahan untuk berkata, "Kakak Shizi,
kau ...."
Ji
Ming Feng menyelanya dingin, "Jika kau ingin belajar bahasa Huo Tu,
pelajarilah dengan giat. Terkadang kau mendengarkan burung kepodang dan
terkadang kau menyulam. Kapan kau bisa mempelajarinya?"
Cheng
Yu tertegun sejenak, "Aku sebenarnya belajar untuk main-main saja,
bukannya ...."
Ji Shizi memandangnya
dengan ekspresi tegas di wajahnya, "Jika kau ingin belajar, belajarlah
dengan giat. Tidak ada yang namanya belajar untuk bersenang-senang."
Cheng
Yu berusaha keras untuk memahami arti tersembunyi dari Ji Shizi.
Setelah beberapa saat, ia bertanya dengan ragu, "Lalu apa maksud
Kakak Shizi adalah aku tidak boleh kembali sekarang,
kan?"
Ji Shizi mengusap
keningnya dan berkata, "Ini pertanyaan yang bagus, bagaimana
menurutmu?"
Cheng
Yu terdiam beberapa saat dan kemudian bertanya, "Kalau begitu ... apakah
aku harus datang ke sini lebih awal besok?"
Ji Shizi memandangnya
tanpa ekspresi, "Kurasa kau tidak perlu aku mengajarimu apa artinya
belajar dengan giat. Kau mungkin pernah dengar, menari seiring suara kokokan
ayam (mulai belajar setelah mendengar kokokan ayam), gantung di tiang dan
pantatnya ditusuk (bersusah payah dalam belajar), melubangi tembok untuk
mendapatkan sinar (belajar dengan sangat giat), dan menggunakan kunang-kunang
memantulkan cahaya di salju (mengejar pendidikan meski di tengah
kesulitan)."
Cheng
Yu mendongak dengan tatapan kosong, "Jika mulai belajar setelah ayam
berkokok, tidak perlu. Ayam berkokok pada mao shi. Bahkan
jika aku datang ke ruang baca selatan untuk belajar pada waktu itu, kau pasti
tidak akan berada di sini, Kakak Shizi." Ia bingung dan
berkata, "Bukannya seperti aku pergi ke sekolah, datang kemari belajar
sendirian begitu pagi, terlalu bodoh."
(T/N: 卯时 mǎo shí—pukul 05.00-0.00)
Ji Shizi mengambil
buku lain, menundukkan kepalanya dan membalik-balik beberapa halaman,
"Bagaimana kau tahu aku pasti tidak ada di sini?"
"Karena
Ruang Baca Selatan hanyalah tempatmu menghabiskan waktu di waktu senggang.
Bagaimana seseorang bisa mulai menghabiskan waktu ketika ayam berkokok di pagi
buta?"
Ji Shizi berkata
dengan tenang, "Mungkin aku sesenggang itu. Bagaimana kalau kita
mencobanya?"
Cheng
Yu terdiam beberapa saat. Ji Shizi akan bersaing dengannya. Ia
tidak bisa menang melawan Ji Shizi. Ia segera menyerah, "Kalau
begitu sebaiknya aku tidak mencoba ...." Ia berpikir sejenak, lalu
mengertakkan gigi dan berkata, "Tetapi menurutku, Kakak Shizi,
banyak yang harus kau lakukan sepanjang hari, jadi kau harus lebih banyak
istirahat. Kita benar-benar tidak perlu menari mengikuti suara ayam, jadi ....
"
Ji Shizi menutup
buku itu yang beberapa halaman telah dibolak-balikkannya dan menyerahkannya
padanya, "Jika kau sudah familiar dengan buku ini, kau bisa datang dan
menegosiasikan persyaratan denganku."
Cheng
Yu menundukkan kepalanya dan melihat bahwa buku yang dipilihkan khusus oleh
Ji Shizi untuknya memiliki tulisan "Dou Da" tercetak
di atasnya - "Sejarah Berusia Seribu Tahun di Suku Huo Tu". Itu
adalah buku sejarah. Dilihat dari judul bukunya, ini adalah buku sejarah yang
mencatat seluruh sejarah seribu tahun suku Huo Tu.
Cheng
Yu memisahkan ibu jari dan jari telunjuknya untuk mengukur ketebalan buku itu.
Panjangnya tiga inci. Ia merasa bahwa ketebalan buku itu layak untuk jangka
waktu seribu tahun, di waktu yang sama, ia sungguh mengagumi teknologi
penjilidan buku Li Chuan.
Cheng
Yu menatap kosong ke arah ibu jari dan jari telunjuk tangan kirinya yang
terpisah. Ji Shizi memandangnya, "Ada apa?"
Ia
khawatir, "Ketebalan ini ... semuanya penuh dengan bahasa Huo Tu kuno ....
Kurasa, sepertinya, aku mungkin tidak akan bisa menyelesaikannya dalam beberapa
saat ...."
Ji Shizi mengangguk
mengerti, "Jadi, kau harus bekerja keras."
"...."
Pada
hari ini, Cheng Yu duduk di ruang baca selatan sampai tiba waktunya menyalakan
penerangan, dan kemudian Ji Shizi mengizinkannya pergi.
Sejak
itu, Cheng Yu menjalani kehidupan yang mengerikan dengan pergi menunjuukkan
kehadiran di ruang baca selatan halaman Ju Shuang untuk belajar setiap hari,
ditemani bintang pagi di langit timur.
Setiap
orang yang akrab dengan Cheng Yu tahu bahwa meskipun Putri Hong Yu memiliki
banyak kualitas yang tidak dapat diandalkan, ia sangat cerdas. Ia dapat
berbicara pada usia satu tahun dan melek huruf pada usia dua tahun. Pada usia
tiga tahun, Pangeran Jing'an mengajarinya membaca dan menulis. Meskipun ia
tidak pernah bersekolah selama sehari pun karena ia besar di Menara Sepuluh
Bunga dan hanya belajar dengan Zhu Jin, pada usia delapan atau sembilan tahun,
ia telah membaca ribuan buku di Menara Sepuluh Bunga.
Setelah
melihat-lihat Menara Sepuluh Bunga, mereka pergi ke istana untuk meminjam harta
karun yang disembunyikan oleh kaisar dari semua dinasti di Paviliun Yuan Yuan
di perpustakaan kekaisaran. Ketika orang lain membaca buku itu dan
melafalkannya kata demi kata, ia membaca buku itu dan membolak-balik sepuluh
baris atau bahkan satu halaman dalam satu waktu, dan ia masih bisa membacanya
tanpa pernah melupakannya.
Singkatnya,
Putri Hong Yu sangat berbakat dalam hal belajar, dan kecerdasannya hampir ajaib
mirip siluman. Oleh karena itu, ia tidak takut Ji Ming Feng memaksanya untuk
belajar. Tetapi seiring bertambahnya usia, ia selalu menjadi gadis yang suka
begadang, bangun telat, dan tidur terlambat. Ia tidak pernah bangun
sebelum chen shi, dan ia tidak tahu seperti apa rupa bintang
pagi. Kali ini, Ji Shizi memintanya untuk menemani bintang
pagi ke ruang baca selatan, menunjukkan kehadirannya. Inilah yang
ditakutkannya.
(T/N: 辰时 chén shí—pukul 07.00-09.00)
Qing
Ling mendesaknya untuk bangun pagi selama empat atau lima hari. Selama empat
atau lima hari ini, Qing Ling membawanya ke ruang baca selatan, dan Ji Ming
Feng sudah duduk di dekat jendela, sedang membaca buku. Cheng Yu sangat
mengagumi Ji Ming Feng.
Karena
sulit untuk mendapatkan tidur yang cukup setiap hari, Cheng Yu akan tertidur di
meja setiap saat. Yang aneh adalah, ketika Ji Shizi menahannya
di ruang baca, saat ia tertidur di meja selama setengah hari, Ji Shizi juga
tidak peduli. Terkadang ketika ia bangun dari meja sambil menyeka air liurnya,
Ji Shizi yang sedang menuangkan teh untuk dirinya sendiri,
juga bisa menuangkan secangkir teh panas untuknya minum.
Ia
tidak begitu memahami Ji Shizi. Suatu kali, ia tidak bisa
menahannya. Ketika ia pergi untuk mengambil teh hangat di meja Ji Shizi,
ia bertanya, "Apakah barusan, kau melihatku tertidur, Kakak Shizi?"
Ji Shizi meliriknya,
"Apa yang ingin kau katakan?"
Ia
mengumpulkan keberanian untuk mengaku, "Aku sebenarnya tertidur di meja
setiap pagi, kau melihatnya, kan?"
Ji Shizi berkata,
"Terus?"
"Jadi,"
ia memikirkannya, "kurasa karena kau bisa tahan jika aku tertidur,
semestinya tidak masalah apakah aku datang untuk belajar pada waktu yang sama
atau tidak. Selain itu, aku datang untuk belajar pagi-pagi sekali dan aku tidak
tidak cukup tidur setiap hari. Melihatku seperti ini, tidakkah kau merasa
sedikit menyesal atau bersalah atas keputusanmu sebelumnya?"
Ji Shizi tersenyum,
"Apakah menurutmu aku merasa menyesal atau bersalah?"
"....
Tidak juga."
Ji Shizi mengangguk,
"Bagus kalau tahu." Ia meliriknya lagi dan berkata, "Diam saja,
untuk apa? Kau bisa duduk lagi dan belajar yang giat."
Setelah
ragu-ragu sejenak, Cheng Yu kembali ke mejanya, dan ketika ia membuka
"Kisah Seribu Tahun Suku Huo Tu" karya Lao Hou, ia berjuang lagi,
"Lalu bagaimana kalau aku datang ke ruang baca, satu atau setengah jam
lebih lambat?" Ia menghela napas, "Sulit sekali untuk bangun
pagi!"
Ji Shizi menunduk
dan meminum teh, lalu menjawabnya dengan tenang, "Bukankah aku sudah
memberitahumu untuk datang dan menegosiasikan persyaratan denganku setelah kau
membaca buku di tanganmu?"
Arahan
yang ditunjukkan Ji Shizi membuat Cheng Yu melihat secercah
harapan untuk lepas dari lautan penderitaan.
Dalam
dua hari berikutnya, ia tidak hanya menari seiring ayam berkokok, tetapi juga
belajar dengan giat di ruang baca dan juga meminjam buku untuk belajar dengan
keras. Untungnya, ada banyak pencahayaan di kediaman itu, tidak perlu sampai
menggali dinding untuk mencuri cahaya.
Melihatnya
seperti ini, Qing Ling memberinya petunjuk dengan geli, "Dasar bodoh, Shizi,
ia sebenarnya tidak bermaksud supaya kau belajar, ia hanya ingin mencari alasan
untuk membuatmu pergi belajar lebih awal; ia ingin kau membaca buku kuno Huo
Tu, itu hanya lelucon. Kau baru mengenal bahasa Huo Tu, dan ia tahu bahwa tidak
peduli seberapa pintarnya dirimu, kau tidak akan bisa membaca buku setebal itu
dalam beberapa bulan, tetapi kau menanggapinya dengan serius."
Cheng
Yu sedikit bingung dengan instruksi mendalam ini. Ia menggigit kuasnya dan
melihat ke arah Qing Ling, "Kenapa ia ingin aku pergi ke ruang baca lebih
awal? Apakah ada bedanya jika aku pergi ke ruang baca lebih awal dan lebih
lambat?"
Qing
Ling, yang sedang menghangatkan anggur di meja Ban Yue, tersenyum ketika
mendengar ini dan mendorong cangkir daun teratai zamrud ke depan Cheng Yu. Di
bawah cahaya lilin yang hangat, ia melihat batu giok itu tanpa cacat dan
cangkir batu giok itu lembab ini adalah sesuatu yang sering dimainkan oleh Qing
Ling.
Qing
Ling mengatupkan bibirnya dan berkata, "Sebenarnya aku punya banyak
peralatan minum, tetapi ini satu-satunya yang sering kau lihat aku nikmati.
Kenapa?" Sebelum Cheng Yu sempat menjawab, ia sudah mengambil cangkir
kosong itu dan meletakkan tangannya di jendela, sehingga cangkir batu giok di
tangannya bisa bermandikan cahaya lilin dan juga cahaya bulan.
Ia
melihat ke arah cangkir giok yang bahkan lebih hijau dan indah di bawah sinar
bulan yang terang, "Karena aku paling menyukai cangkir ini. Menurutku
cangkir ini memiliki ribuan keindahan dan ribuan rasa manis. Kelihatannya sama
di bawah lampu, kelihatannya sama di bawah sinar bulan, dan sama di bawah sinar
matahari. Melihatnya membuatku bahagia. Kuharap aku bisa melihatnya segera
setelah aku membuka mataku." Ia memandang Cheng Yu sambil tersenyum,
"Putri itu cerdas, aku mengatakan ini, Putri, apakah kau mengerti?"
Cheng
Yu tercengang beberapa saat, "Apakah maksudmu karena Shizi sangat
menyukaiku dan ingin bertemu denganku, ia memerintahkanku pergi ke ruang baca
selatan lebih awal untuk menunjukkan kehadiranku?"
Qing
Ling tersenyum dan berkata, "Putri sangat pintar."
Cheng
Yu berbaring di atas meja dan merenung, "Aku berkomitmen untuk berteman
baik dengannya. Jadi, kami sudah ... berteman baik? Apakah kami berteman?"
Ia berpikir sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, kalau kami
berteman, harusnya seperti aku dan Xiao Li, aku bisa mengajaknya minum teh,
nonton pertunjukan, berbelanja, dan makan buah, ngobrol dan bermain
bergandengan tangan ....
"Kami
semua memperlakukan satu sama lain dengan setara, tetapi Kakak Shizi dan
aku ... apapun yang dikatakannya-lah yang berarti. Aku tidak bisa berpendapat
atau membantah, dan aku tidak berani untuk mengajaknya minum teh, berbelanja,
menonton dan makan buah, apalagi ngobrol dan bercanda bersama ...."
Qing
Ling menopang pipinya dan menatapnya, "Kalau begitu, kau bisa mencoba
membuat janji dengannya besok. Kalian bisa minum teh, menonton pertunjukan,
berbelanja dan makan buah. Kalian akan membuat janji. Caramu memperlakukan Xiao
Li adalah bagaimana caranya kau memperlakukannya," nada suaranya penuh
semangat, "Kalau kau mau bercanda dengannya, kau bisa mencobanya
besok."
Cheng
Yu berpikir sejenak dan sedikit khawatir, "Kalau begitu, bukankah ia akan
memukulku? Sebelumnya, suatu kali aku ingin mengobrol dengannya dan memintanya
untuk datang. Ia mengatakan kepadaku bahwa kami tidak diperbolehkan mengobrol.
Jika aku mengatakan satu kata lagi, seolah-olah ia akan menghajarku."
Qing
Ling memandangi wajah kecilnya yang mengerut, dan tidak bisa menahan tawa, dan
meyakinkannya, "Itu adalah masa lalu, tetapi ia tidak akan melakukannya
besok." Lalu ia menambahkan dengan tatapan misterius, "Ia tidak akan
melakukannya ke depannya." Melihat ekspresinya yang masih bingung, ia
menambahkan, "Apakah kau ingin bertaruh denganku?" Ia melirik ke meja
dan berkata, "Taruhan saja dengan cangkir daun teratai zamrud ini."
Cheng
Yu menutup bukunya dan mengira ia terlalu familiar dengan kata
"taruhan".
Kalau
begitu, ayo bertaruh.
- Bersambung –
Tang
Qi mengobrol:
Lian
San: Apakah kau mengalami keterbelakangan mental?
Cheng
Yu merasa sedih: Kenapa kau memarahiku?
Lian
San: Begitu ia melihatmu, ia punya motif tersembunyi kepadamu. Kau masih
mendekatinya tanpa berpikir, bukankah itu orang bodoh?
Cheng
Yu: Kakak Lian San, bisakah hatimu menjadi lebih cerah? Jika Ji Shizi memiliki
motif tersembunyi terhadapku, bagaimana denganmu yang menyentuh wajahku di
setiap kesempatan? Setidaknya Ji Shizi tidak pernah menyentuh
wajahku!
Lian
San: Apa yang akan terjadi jika ia menyentuhnya?
Cheng
Yu berkata dengan serius: Kalau begitu ia bukan pria sejati, aku akan
memukulnya.
Lian
San sedikit puas: Aku sesekali menyentuh wajahmu, tetapi kau tidak memukulku,
yang berarti ia dan aku berbeda, kan?
Cheng
Yu: En, kau berbeda Kakak Lian San, kau istimewa.
Hati
Lian San tergerak: Bagaimana aku ... begitu istimewa?
Cheng
Yu: Kau adalah kakakku, ia bukan.
Lian
San:....
Cheng
Yu: Kakak Lian San, ada apa denganmu?
Lian
San: .... Jangan bicara, tinggalkan aku sendiri.
Tang
Qi ingin mengatakan sesuatu: Kakak—sepertinya rintangan ini tidak bisa dilalui.

0 comments:
Posting Komentar