Jumat, 03 Juli 2026

3L3W Lotus Step 1 - Chapter 13 part 3

3L3W Lotus Step 1

Chapter 13 part 3


Tentu saja, ia belajar lagi di Ruang Baca Selatan keesokan harinya.

Qing Ling mencerahkan Cheng Yu dengan banyak omongan tadi malam. Karena pencerahan Qing Ling, Cheng Yu sedikit senang dan sedikit gugup saat melihat Ji Ming Feng hari ini. Untuk pertama kalinya, ia tidak tertidur. Ia memegang buku itu dengan setengah hati dan mengintip Ji Ming Feng dari balik buku.

Ia tidak tahu bagaimana melakukannya, jadi ia mengintip beberapa kali dan ketahuan oleh Ji Shizi. Ia sedikit malu, tetapi juga tidak malu, dan tersenyum murah hati pada Ji Ming Feng. Ji Ming Feng mengabaikannya. Tidak lama kemudian, ia ketahuan mengintip ke arahnya lagi. Setelah tertangkap, ia menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar.

Ji Ming Feng bingung, "Apakah kau tertidur hari ini? Apa yang ingin kau lakukan ketika kau tersenyum seperti ini?"

Cheng Yu juga bingung, "Tidak ada hubungannya," ia berkata perlahan, "Aku hanya merasa sangat dekat denganmu, Kakak Shizi, ketika aku melihatmu hari ini. Aku duduk di sini, memerhatikanmu membaca di bawah cahaya, dan menurutku itu sangat tampan, aku hanya ingin melihatnya lagi, tetapi kau menangkap basah diriku, jadi aku hanya tersenyum padamu."

Ia dengan polosnya mengakui perasaannya, "Karena Kakak Shizi sangat baik padaku akhir-akhir ini, aku sangat bahagia, terutama hari ini. Saat aku melihat Kakak Shizi, aku merasa bahagia. Menurutku kau juga seharusnya merasakan hal yang sama saat melihatku ...." Ia tidak menyelesaikan kalimat ini, karena ekspresi Ji Ming Feng sedikit aneh saat ini.

Ia memandangnya, tetapi tatapannya tidak terfokus padanya, sepertinya melewati dirinya. Ia tampak linglung.

Cheng Yu memanggil dengan ragu-ragu, "Kakak ... Shizi?"

Ia tidak membalasnya.

Cheng Yu berdiri dengan ragu-ragu, ingin pergi untuk melihat apa yang terjadi dengannya, tetapi secara tidak sengaja menginjak benda bulat kecil di tanah dan tergelincir. Ia panik dan mencoba memegang meja Ji Ming Feng, yang selengan saja jauhnya, tetapi mengulurkan tangan dan malah meraih batu tinta di atas meja. Brak, batu tintanya jatuh, bruk, ia juga terjatuh.

Saat itulah Ji Shizi bereaksi dari kebingungannya. Ia menunduk dan menatap Cheng Yu, dengan tatapan yang tidak bisa dibedakan di matanya. Setelah beberapa saat, ia berjalan mengitari meja dan berdiri di depan Cheng Yu. Cheng Yu mengerutkan kening dan menarik lengan bajunya untuk melihat noda tinta di lengan bajunya. Ketika Ji Shizi datang, hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang sepatu bot di kaki Ji Shizi. Kemudian, ia melihat batu tinta persegi pecah menjadi dua di samping sepasang sepatu bot yang indah.

Nah, batu tinta Cao Xi Buddha Tidur di meja Ji Shizi adalah yang paling berharga. Apa-apaan dengan jatuhnya ini, harus sekali menarik si batu tinta dan melemparkanya. Ia duduk di sana dengan kepala terkulai dan dengan sedih menunggu Ji Shizi memberinya pelajaran.

Setelah sekian lama, pelajaran Ji Shizi tak kunjung datang.

Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat kepalanya, dan matanya bertemu dengan mata Ji Shizi.

Ji Shizi memandangnya seolah sedang berpikir keras. Meskipun ia tidak berbicara, ia juga tidak tampak marah. Ia menjadi lebih berani dan mengambil inisiatif untuk meminta maaf, "Aku memecahkan batu tinta Kakak Shizi. Aku sangat menyesal, tetapi aku punya batu tinta yang sama di rumah. Aku akan memberikan kompensasi kepadamu nanti."

Ia memelintir lengan bajunya dengan jari-jarinya, "Tetapi jika kau bersedia membantuku barusan ini, aku tidak akan merusak batu tintamu, dan itu menyakitiku juga." Ini adalah kepintaran kecilnya, yang biarpun itu adalah kesalahannya, ia bersikeras menyalahkan mereka berdua. Ia juga masih ingin memberi ampun, membuatnya seakan-akan tidak pantas bagi Ji Shizi untuk buka mulut dan mengomelinya lagi.

Ini adalah keterampilan yang dipelajarinya tanpa guru setelah hidup di bawah panduan Zhu Jin selama bertahun-tahun. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak masuk akal, jadi ia merasa bersalah. Melihat Ji Shizi masih tidak berbicara, ia merasa sedikit tidak tenang.

Ia khawatir Ji Shizi telah mengungkap tipu muslihatnya, jadi ia mengabaikannya. Semakin ia memikirkannya, ia menjadi semakin khawatir. Jadi setelah mengeluh tentang rasa sakit karena terjatuh, ia buru-buru mencoba menebus kesalahannya, "Tetapi, tetapi sebenarnya .... Tidak terlalu sakit, hanya sedikit sakit saat aku terjatuh, tetapi bukan apa-apa."

Setelah mengatakan itu, ia berguling dari tanah dengan patuh, bertindak seolah-olah ia sangat bijaksana dan patuh dari awal sampai akhir, dan tidak ada hal seperti menggunakan akal bulusnya untuk bersikap tidak masuk akal.

Ji Shizi masih tidak mengatakan apa pun. Di bawah tekanan Zhu Jin, metode otodidaknya terbatas pada beberapa trik ini. Setelah menggunakannya, ia tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukannya. Ia pun berdiri di sana dengan canggung sejenak.

Setelah sekian lama, tidak ada jawaban dari Ji Ming Feng. Ia berdeham pelan. "Kalau begitu, aku akan kembali dan membaca."

Pada saat ini, Ji Shizi akhirnya berbicara, namun ia menanyakan sesuatu yang tidak relevan, "Aku hanya bertanya padamu, kenapa kau tersenyum seperti itu, apa yang kau katakan sebagai balasan kepadaku?"

Cheng Yu bingung. Ia memikirkannya. Ia berbicara sangat keras tadi, jadi tentu saja ia mendengar dengan jelas apa balasan jawabannya kepadanya. Namun, ia bertanya padanya dengan wajah dingin, apakah ini caranya untuk mengingatkannya tentang apa yang baru saja dikatakannnya sangat tidak sopan dan ia tidak punya aturan?

Memikirkan hal ini, hatinya tenggelam dan ia merasa sedikit panik.

Alasan mengapa ia melampaui kesopanan hari ini adalah karena ia percaya apa yang dikatakan Qing Ling dengan penuh kepuasan dan berpikir bahwa ia sangat dekat dengan Ji Ming Feng. Namun, ia tidak tahu bahwa apa yang dikatakan Qing Ling tadi malam ternyata salah. Qing Ling keliru. Shizi tidak terlalu menyukainya, ia juga tidak berteman dengannya. Shizi bukanlah seseorang yang bisa diajaknya tertawa dan bermain-main.

Angin pagi bertiup masuk, dan cahaya lilin berkelap-kelip. Ia merasa menyesal dan sedih sejenak, dan ia berkata dengan tergesa-gesa, "Aku, aku lupa apa yang kukatakan. Mungkin aku mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh Kakak Shizi hari ini, tetapi aku, aku selalu berbicara omong kosong, bisakah Kakak Shizi tidak menganggapnya serius?"

Lilinnya berkedip-kedip beberapa kali lagi, tetapi untungnya ada cahaya redup di cakrawala, sehingga ruangan menjadi terang benderang tanpa perlu menyalakan lilin. Hanya saja di penghujung musim semi, masih ada kabut di pagi hari. Kabut musim semi masuk melalui jendela, dan seiring dengan warna gelap fajar yang akan segera memudar, pemandangan di dalam ruangan pun terlihat seolah-olah sudah kabur seperti tinta tipis.

Fajar yang berkabut dan pemandangan yang kabur.

Dalam kabut, satu-satunya hal yang membuat Cheng Yu merasa jelas adalah sosok Ji Ming Feng yang seperti pohon giok. Sosok itu tampak menegang pada saat ia berbicara, dan ia tidak yakin, karena ketika ia menatapnya lagi, tidak ada yang aneh pada dirinya, dan apa yang ditanyakannya padanya adalah normal, dan dirinyalah yang menanyainya.

Ia bertanya padanya, "Kau tidak ingin aku menganggapmu serius?"

Pertanyaan Ji Ming Feng agak familier. Ini adalah rutinitas yang sering dilihatnya selama pertarungan kecerdasan dan keberaniannya dengan Zhu Jin. Ia harus mengatakan ia tidak mau, dan kemudian Zhu Jin memarahinya, "Jika kau tidak ingin aku menganggapnya serius atau membuatku marah, kau perlu tahu cara menahan diri. Jika kau tidak melakukannya lain kali, pergilah ke ruang isolasi untuk menerima hukumanmu." Itu saja.

Ji Ming Feng bertanya lagi ketika ia menundukkan kepalanya untuk berpikir, "Kau tidak mau aku menganggapnya serius, bukan?"

"Tidak mau, tidak mau," ia buru-buru berkata, "Itu hanya omong kosong. Aku tidak ingin Kakak Shizi menganggapnya serius."

Setelah ia selesai berbicara, ia menundukkan kepalanya dengan patuh dan menunggu teguran Ji Ming Feng, dan selesai. Tetapi Ji Ming Feng tidak menegurnya, dan masalahnya tidak berakhir seperti itu. Ji Ming Feng menatapnya lama sekali, dan suaranya sedikit serak, "Kata-kata mana yang tidak masuk akal?"

Ji Ming Feng tidak mengulangi rutinitas Zhu Jin.

Cheng Yu memandangnya dengan bingung.

Ji Ming Feng mengambil satu langkah lebih dekat, "Kau pikir aku tampan, kau suka melihatku, dan kau merasa bahagia ketika melihatku. Apakah ini omong kosong?" Suaranya tidak sengaja dinaikkan atau diturunkan, tetap saja nada yang sama seperti sebelumnya, dan bahkan kecepatan bicaranya sama seperti sebelumnya. Kata-kata itu diucapkan dengan sangat cepat, tetapi untuk beberapa alasan, Cheng Yu bisa merasakan kemarahan yang tersembunyi di dalamnya.

Ia baru saja mengatakan ini. Pada saat itu, ia juga mengatakan dengan sangat genit, "Aku merasa sangat dekat dengan Kakak Shizi saat hari ini melihatmu. Aku duduk di sini dan melihatmu membaca di bawah cahaya, dan aku merasa begitu ... Kelihatannya tampan ..." Kalau dipikir-pikir sekarang, kata-kata ini sebenarnya agak sembrono.

Ia telah tumbuh dengan siluman bunga sejak ia masih kecil, dan tidak pernah terbiasa berbicara dengan orang-orang yang dekat dengannya. Namun, Ji Ming Feng adalah seorang pria berpendidikan moral yang menghargai etiket. Kata-kata seperti itu mungkin sangat menyinggung dan tiba-tiba sekali bagi mereka.

Ia sangat panik dan berkata, "Aku tidak tahu kata-kata itu berarti apa buatmu, Kakak Shizi ...."

Ji Shizi biasanya sangat sabar, tetapi saat ini ia sepertinya tidak memiliki kesabaran sama sekali. Ia menyelanya dengan suara yang dalam dan berkata, "Pertanyaanku tidak terlalu sulit untuk dijawab, dan tidak perlu penjelasan yang panjang lebar. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak."

Cheng Yu sedikit gemetar, "Aku salah. Itu semua omong kosong."

Ji Ming Feng tidak menanggapi untuk beberapa saat.

Ia berbisik dengan sangat pelan, "Kakak Shizi, tolong jangan pedulikan aku, aku berbicara omong kosong." Ia menggigit bibirnya, "Maaf, aku tidak akan pernah berbicara omong kosong lagi di masa depan, jangan marah padaku."

Ia tidak tahu apakah permintaan maaf itu bisa menebusnya atau bisa memuaskan Ji Ming Feng. Ia merasa bahwa seharusnya pemuda itu tidak puas karena tatapannya terhadapnya sangat dingin. Namun, ia sudah mencoba yang terbaik, dan tidak tahu apa lagi yang bisa dikatakannya.

Ia berdiri di depan Ji Ming Feng dengan kepala tertunduk, menunggunya menyerah. Untuk waktu yang lama, ia mendengar beberapa kata tanpa awal dan akhir di atas kepalanya, "Awalnya kukira ...."

Namun, Ji Ming Feng tidak menyelesaikan kalimatnya. Setelah beberapa saat, ia mendengar setengah kalimat lagi yang penuh amarah, "Kenapa kau bahkan bergaul denganku ...." Tetapi ia tetap tidak berkata apa-apa lagi. Kata-kata ini ragu-ragu, seolah-olah sangat kecewa padanya. Namun, Cheng Yu sangat bingung sehingga ia bahkan tidak tahu apa yang membuat pria itu kecewa.

Ruangan itu sangat sunyi untuk beberapa saat, dan setelah sekian lama, Ji Ming Feng memanggilnya dengan gelar kehormatannya.

"Putri Hong Yu," katanya, suaranya kembali ke nada tenang biasanya, dengan keraguan yang tulus di dalamnya, "Kau sengaja mencoba untuk tetap berada di sisiku, aku bukannya tidak menyadari hal ini. Kau menghabiskan begitu banyak waktu setiap hari. Apa yang ingin kau lakukan ketika kau datang menemuiku dan tinggal di sisiku setiap hari?"

"Aku ...." Cheng Yu menatap Ji Ming Feng dan menyusut saat melihat tatapan dinginnya, "Aku tidak bermaksud apa pun, aku hanya ...."

Disela oleh Ji Ming Feng, ia mengangkat tangannya dan mengusap alisnya dengan tidak sabar, "Katakan yang sebenarnya."

"Aku ingin berteman denganmu," bisiknya.

"Berteman." Ji Ming Feng mengulangi kata ini. Ia mengangkat matanya dan melihat ke luar jendela, tetapi tidak berbicara lagi untuk beberapa saat. Saatnya telah tiba, asap pohon dedalu di danau terlihat jelas di luar jendela. Kabut bening datang dari hari ke hari, namun hanya mampu menutupi dua atau tiga titik warna hijau jasper di tepi danau. Itu adalah pemandangan yang indah.

Setelah beberapa saat, Ji Ming Feng bertanya padanya, "Kau ingin aku menjadi teman seperti apa?"

Ia menundukkan kepalanya, "Hanya teman yang bermain bersama."

Ji Ming Feng masih melihat ke luar jendela, "Berapa banyak teman seperti ini yang kau miliki?"

Ia masih menundukkan kepalanya, "Tidak terlalu banyak, hanya sedikit."

"Kedengarannya seperti menambah satu diriku tidaklah lebih dan berkurangnya satu diriku tidaklah kurang."

Ia segera mengangkat kepalanya dan membela diri, "Tidak, tidak, Kakak Shizi, kau ...."

Namun ia menyelanya lagi. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari Danau Yan Yu dan berkata dengan tenang, "Putri, kau ingin berteman denganku, tetapi aku tidak ingin menjadi temanmu."

Ia tercengang, "Tetapi Kakak Shizi, kau tidak menganggapku mengganggu beberapa hari yang lalu. Qing Ling juga mengatakan bahwa kau cukup ingin bertemu denganku. Hari ini kau hanya, hanya ...." Ia butuh waktu lama, tetapi tidak terpikirkan penjelasan apa pun.

Ji Ming Feng menangkap kata-katanya, menatapnya dengan tenang dan berkata, "Hanya saja mulai hari ini, menurutku kau menjengkelkan."

Setelah Ji Ming Feng meninggalkan ruang baca untuk waktu yang lama, Cheng Yu masih tinggal di sana. Sebenarnya, ia sedikit takut.

Tuan Muda Xiao Yu sangat pemberani. Ia menangani kuda yang kuat seperti melatih ayam dan anjing, masuk ke sarang ular seperti mengunjungi kedai teh, dan tidak pernah takut pada monster apa pun. Meskipun Zhu Jin adalah musuh bebuyutannya, ia tidak pernah benar-benar takut pada Zhu Jin. Tetapi Ji Ming Feng hari ini membuatnya merasa sedikit takut.

Ia takut Ji Ming Feng akan marah dan Ji Ming Feng benar-benar marah, membuatnya semakin takut. Sesungguhnya, ia tidak mengerti mengapa Ji Ming Feng begitu marah. Meskipun ia melakukan kesalahan, ia merasa itu bukanlah kesalahan besar.

Ia tidak ingin membuat Ji Ming Feng marah, jadi ia menjawab semua pertanyaan yang diajukan Ji Ming Feng dengan jujur. Akan tetapi, yang membuatnya bingung adalah tidak ada kebenaran yang memuaskan Ji Ming Feng.

Ia tidak pernah memiliki pengalaman seperti itu, harus sangat berhati-hati dalam memahami pikiran seseorang, dan berhati-hati dalam menyenangkan dan menyanjung; ia tidak pernah mendapatkan teman yang begitu sulit dipahami, dan tidak pernah memiliki pengalaman yang begitu menakutkan dalam berteman.

Ia tahu bahwa Ji Ming Feng akan sulit untuk didekati, jadi ia bekerja sangat keras, tetapi hari ini ia hanya mengambil langkah yang salah, dan hubungannya dengan Ji Ming Feng sepertinya telah kembali ke titik awal semula.

Ia merasa sedih dan putus asa.

Ia duduk kosong di ruang baca selatan sepanjang hari. Tiba-tiba ia berpikir, jika Ji Ming Feng tidak ingin menjadi temannya, mengapa tidak berhenti saja menjadi temannya? Ia akan selalu bertemu orang seperti dirinya dalam hidup ini, satu dua orang yang ingin diajaknya berteman, tetapi tidak bisa. Ia masih menghibur dirinya sendiri dengan dewasa, 'Hidup penuh penyesalan seperti ini'.

Tetapi setelah beberapa saat, mau tak mau ia berpikir bahwa, tidak ada alasan untuk putus asa begitu cepat. Bagaimana bisa terlihat bahwa Ji Ming Feng tidak berbicara dengan marah? Meskipun Ji Shizi menganggapnya cukup menyebalkan ketika mereka pertama kali bertemu, dalam setengah bulan terakhir sejak ia datang ke Ruang Baca Selatan, ia jelas tidak menganggapnya menyebalkan lagi. Ia bahkan membantunya menulis komentar di buku, yang merupakan buktinya. Meskipun ia mengatakan hal yang salah hari ini dan membuatnya mulai menganggapnya menjengkelkan lagi, ia mungkin akan berubah pikiran lagi besok ketika kemarahannya mereda.

Ia sempat sangat optimis, dan sempat sangat pesimis. Ia bergumul dengan dirinya sendiri selama seharian, pada akhirnya memilih untuk menghadapi masalah ini dengan optimis. Karena ia memikirkannya di ruang kerja sampai akhir, ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada dirinya sendiri: Jika ia benar-benar menyebalkan, maka orang yang paling kesal padanya bukanlah Ji Ming Feng, tetapi Zhu Jin; Namun, Zhu Jin akan lebih memilih memukulinya tiga kali sehari ketimbang meninggalkannya, bukankah karena ia juga sangat manis.

Ia yakin pada dirinya sendiri, berpikir bahwa Ji Ming Feng pasti berbicara karena marah.

Ketika ia meninggalkan ruang baca pada saat-saat terakhir you shi, ia memutuskan untuk perlahan membujuk Ji Shizi kembali. Tanpa diduga, begitu ia kembali ke halaman Chun Hui-nya, di halamannya sudah ada kepala pelayan tua dari halamannya Ji Ming Feng.

(T/N:  yǒu shí—pukul 17.00-19.00)

Pelayan lelaki yang menemaninya memberikan setumpuk besar buku di hadapannya, dengan buku "Arti Bahasa Huo Tu" yang ditinggalkannya di ruang baca hari ini. Kepala pelayan tua itu menahan suaranya yang serak karena tersedak asap, dan menjelaskan kepadanya dengan santai, "Shizi meminta pelayan tua itu untuk membawakan semua buku yang telah dibaca Putri baru-baru ini. Shizi juga mengatakan bahwa Putri akan berada di sini besok, tidak perlu pergi ke ruang baca selatan untuk belajar. Jika Anda masih menginginkan buku apa pun, minta saja Qing Ling pergi ke ruang baca selatan untuk memberikannya kepada Putri."

Ia tertegun beberapa saat, dan kemudian bertanya kepada kepala pelayan tua itu dengan ragu-ragu, "Kalau begitu ... Kakak Shizhi, maksudmu, aku hanya boleh pergi ke Ruang Baca Selatan lagi setelah amarahnya hilang, kan?"

Kepala pelayan tua itu terdiam beberapa saat dan kemudian berkata sambil berpikir, "Kupikir, Shizi mungkin bermaksud agar Putri tidak boleh menginjakkan kaki lagi di Ruang Baca Selatan di masa depan."

Hal ini tidak dapat disembunyikan dari Qing Ling, dan tentu saja gangguan yang terjadi di ruang baca selatan pada siang hari juga tidak dapat disembunyikan dari Qing Ling.

Cheng Yu tidak pernah berpikir untuk menipu Qing Ling. Ia datang ke Kediaman Pangeran Li Chuan sendirian dan tidak memiliki kenalan. Ia bergaul dengan Qing Ling setiap hari selama hampir sebulan, dan ia menjadi sangat dekat dengannya. Dalam hatinya, ia menganggapnya sebagai saudarinya. Ia bersedia memberi tahu saudari ini semua yang ada di pikirannya, karena ia cerdas dan interpretatif. Tidak ada apa pun di Kediaman Pangeran Li Chuan yang tidak dapat dilihatnya, dan tidak ada masalah yang tidak dapat dijawabnya.

Benar saja, Qing Ling tidak menganggap serius kemarahan Ji Shizi hari ini, dan memandangnya dengan setengah tersenyum di bawah cahaya penerangan, "Shizi marah pada Putri, itu tidak lebih dari ...." Tetapi ia berhenti bicara lagi, dan hanya menggerakkan jari-jarinya yang berwarna seperti hijau-putih dengan sangat santai. Ia menopang pipi kirinya dan berkata, "Shizi tidak mengizinkan Putri pergi ke ruang baca selatan, jadi Putri ikuti saja Shizi selama dua hari. Ini bukan masalah besar. Biarkan Shizi marah selama dua hari, lalu biarkan aku mengetahui kata-kata Shizi dan melihat bagaimana ia ingin Putri meminta maaf. Ini juga akan menyelamatkan Putri dari mengambil jalan yang keliru. Bukankah itu bagus?" Entah apa yang dipikirkannya setelah mengatakan ini, dan ia tidak bisa menahan tawa, "Emosi membuat keributan Shizi ini, sebenarnya agak lucu."

Cheng Yu tidak memiliki wawasan atau keberanian seperti Qing Ling dalam hal ini, jadi ia tidak berani berpikir bahwa Ji Shizi kehilangan kesabaran kali ini adalah hal yang konyol. Namun, Qing Ling begitu tenang, yang membuatnya semakin percaya diri, berpikir bahwa Ji Shizi pada akhirnya bisa dibujuk kembali.

Namun hal ini bukannya tanpa rasa khawatir.

Karena kegelisahan ini, Cheng Yu mendesak Qing Ling pergi ke Halaman Ju Shuang untuk mencari Ji Shizi pagi-pagi sekali pada hari ketiga. Begitu Qing Ling keluar, ia langsung menjadi gugup lagi. Sebelum sempat memikirkannya, ia sudah mengikuti jejak Qing Ling dan mengejarnya.

Ketika ia tertinggal di belakang Qing Ling seperti ekor kecil, ia berpikir diam-diam di dalam hatinya. Ia diam-diam melihat Ji Shizi dari kejauhan untuk melihat apakah wajahnya terlihat lebih baik hari ini daripada hari itu, dan untuk melihat apakah ia masih begitu marah.

Qing Ling berpapasan dengan Ji Shizi di gerbang Halaman Ju Shuang.

Qing Ling sepertinya mengatakan sesuatu kepada Shizi. Cheng Yu melihat Shizi mengangkat kepalanya dan melirik ke arahnya. Pandangan itu sangat singkat dan ia tidak punya waktu untuk bereaksi. Shizi sudah berbalik dan berjalan menuju paviliun heksagonal di depan, dan Qing Ling mengikuti.

Cheng Yu juga mengikuti perlahan, tetapi ia tidak berani berdiri terlalu dekat, jadi ia berhenti di ujung jalan rumput di depan paviliun. Dari jarak sejauh itu, ia tidak bisa mendengar kata-kata mereka atau melihat wajah mereka dengan jelas. Tetapi, saat ia semakin dekat, ia curiga Ji Shizi mungkin tidak akan mentolerirnya lagi, jadi ia menghela napas dan berjongkok di sana, memetik akar rumput untuk menunggu mereka.

Mereka berdua tidak mengobrol lama, tetapi hanya dalam secangkir teh, Ji Ming Feng sudah keluar dari paviliun kayu, dan Cheng Yu dengan cepat membuang akar rumput di tangannya dan berdiri, berdiri di dekat jalan berumput. Ketika Ji Shizi mendekat, ia menelan ludah dan berbisik, "Kakak Shizi, aku ...." Ji Shizi melewatinya dengan wajah tanpa ekspresi, dan matanya tidak tertuju padanya barang sejenak pun.

Ia tertegun, lalu segera berbalik ke punggung Ji Ming Feng dan berseru lagi, "Kakak Shizi." Namun, Shizi tidak berhenti, seolah-olah ia tidak melihat apa pun sekarang, dan sekarang ia tidak mendengar apa pun.

Baru setelah Ji Shizi memasuki Halaman Ju Shuang, Qing Ling datang ke sisinya. Qing Ling, yang selama ini senyuman tak pernah meninggalkan bibirnya, kali ini tidak tersenyum, dan alisnya berubah menjadi karakter "Si Chuan". Ia belum pernah melihat Qing Ling terlihat begitu gelisah, dan hatinya tenggelam, dan butuh waktu lama baginya untuk berbicara, "Kakak Shizi benar-benar tidak menyukaiku dan tidak ingin melihatku sebentar saja, jadi tidak ada ruang untuk minta maaf, ya?"

Ia sebenarnya berharap Qing Ling akan segera menyangkalnya.

Namun Qing Ling tidak langsung menyangkalnya.

Hatinya terasa berat dan ia sedikit sesak.

Qing Ling melihat wajah sedihnya dan segera menghiburnya dengan lembut, "Putri sangat pintar dan cantik, bagaimana mungkin ada orang di dunia ini yang tidak menyukai Putri?"

Tetapi Qing Ling juga tahu bahwa ia bukan anak berusia tiga tahun, dan ia tidak akan bisa segera melupakan kekhawatirannya jika seseorang memujinya untuk beberapa kata.

Qing Ling mempertimbangkannya dengan hati-hati dan menjelaskan kepadanya, "Dulu, aku setuju dengan Putri untuk berteman dengan Shizi, karena Shizi memang memiliki banyak perbedaan terhadap Putri. Shizi senang ... dan tidak membenci Putri. Shizi memiliki sedikit teman dan memiliki temperamen yang tegas dan dingin. Putri lincah dan dapat menghangatkan temperamen Shizi. Kupikir, Putri yang ingin menjadi teman Shizi adalah hal bagus. Tetapi .... Putri dan Shizi terlalu jauh berbeda wataknya, sehingga mungkin tidak cocok untuk berteman."

Qing Ling memaksakan senyum dan berkata, "Putri, tidak perlu khawatir dan gigih. Memangnya kenapa jika kau tidak berteman dengan Shizi?"

Cheng Yu terdiam beberapa saat, lalu ia berbicara, "Mau bagaimana lagi, aku hanya," katanya dengan sedih, "Aku hanya diam-diam ingin tinggal di sisi Kakak Shizi, dan menurutku alangkah baiknya jika aku bisa berteman dengannya."

Qing Ling memandang dalam-dalam dan bertanya padanya, "Putri ingin tinggal di sisi Shizi, tetapi Shizi tidak ingin menjadi teman Putri. Pernahkah Putri memikirkannya, bahwa sebenarnya, Shizi Fei selalu bisa tinggal di sisinya sisi Shizi selamanya?"

(T/N: 世子妃 shì zǐ fēi—Istri sah Shizi.)

Cheng Yu tiba-tiba mengangkat kepalanya, "Shizi Fei?"

Qing Ling memandangnya sebentar, menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit, "Anggap saja aku tidak mengatakannya, aku terlalu banyak berpikir."

Cheng Yu sangat terkejut, "Apakah Kakak Qing Ling berpikir bahwa aku tidak bisa menjadi teman Shizi, tetapi aku bisa menjadi Shizi Fei? Ini tidak masuk akal. Ia menganggapku menjengkelkan meskipun hanya seorang teman. Selain itu," katanya serius, "Aku seorang Putri, kemungkinan besar aku akan dikirim untuk menikah keluar di masa depan, dan aku tidak akan bisa menjadi Shizi Fei Kediaman Li Chuan kalian."

Qing Ling memaksakan senyuman dan berkata, "Itu hanya ideku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Shizi merasa," ia terdiam, "kau bukan calon yang baik untuk Shizi Fei."

Cheng Yu mengangguk, "Memang benar, aku tahu itu."

Qing Ling menghela napas, "Kali ini, Shizi, ia benar-benar sedikit ...."

Cheng Yu menggigit bibirnya, "Aku mengerti." Ia berbisik, "Terkadang seseorang tiba-tiba membenci orang lain. Tidak ada alasan untuk ini."

Lingkaran matanya kemerahan, dengan sedikit linglung dan kebingungan seolah-olah ia baru saja bangun dari mimpi besar, dan sedikit keputusasaan dan kesedihan yang sedikit demi sedikit menunjukkan kenyataan jika melihat ke belakang, "Kakak Shizi telah sepenuhnya meninggalkanku. Tidak seharusnya aku terus mengganggunya lagi. Jika aku terus mengganggunya, itu hanya akan membuatnya semakin marah."

Qing Ling melihat lingkaran mata merah dan matanya yang berair, dan menghela napas lagi, "Shizi, ia ...." Namun, ia mengerutkan kening dan tidak menyelesaikan kata-katanya, dan malah berkata, "Putri anggap saja seperti ini. Tetapi tidak perlu memikirkan Shizi lagi. Ada banyak hal menarik untuk dilihat di Li Chuan. Besok aku akan mengajak Putri jalan-jalan ke gunung, bermain air. Dalam beberapa hari, Putri akan bahagia lagi." Jari-jari hijau-putih mengangkat sudut mulutnya yang terkulai dan menghiburnya dengan lembut, "Berapa banyak hal di dunia ini yang bisa dilakukan dengan santai dan bebas? Hidup bebas dan tanpa beban adalah satu-satunya cara untuk berbahagia. Bukankah begitulah bagaimana cara Putri menghabiskan hidup sebelum bertemu Shizi?"

- Bersambung -

 

0 comments:

Posting Komentar