3L3W Lotus Step 1
Chapter 13 part 3
Tentu
saja, ia belajar lagi di Ruang Baca Selatan keesokan harinya.
Qing
Ling mencerahkan Cheng Yu dengan banyak omongan tadi malam. Karena pencerahan
Qing Ling, Cheng Yu sedikit senang dan sedikit gugup saat melihat Ji Ming Feng
hari ini. Untuk pertama kalinya, ia tidak tertidur. Ia memegang buku itu dengan
setengah hati dan mengintip Ji Ming Feng dari balik buku.
Ia
tidak tahu bagaimana melakukannya, jadi ia mengintip beberapa kali dan ketahuan
oleh Ji Shizi. Ia sedikit malu, tetapi juga tidak malu, dan
tersenyum murah hati pada Ji Ming Feng. Ji Ming Feng mengabaikannya. Tidak lama
kemudian, ia ketahuan mengintip ke arahnya lagi. Setelah tertangkap, ia
menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar.
Ji
Ming Feng bingung, "Apakah kau tertidur hari ini? Apa yang ingin kau
lakukan ketika kau tersenyum seperti ini?"
Cheng
Yu juga bingung, "Tidak ada hubungannya," ia berkata perlahan,
"Aku hanya merasa sangat dekat denganmu, Kakak Shizi, ketika
aku melihatmu hari ini. Aku duduk di sini, memerhatikanmu membaca di bawah
cahaya, dan menurutku itu sangat tampan, aku hanya ingin melihatnya lagi,
tetapi kau menangkap basah diriku, jadi aku hanya tersenyum padamu."
Ia
dengan polosnya mengakui perasaannya, "Karena Kakak Shizi sangat
baik padaku akhir-akhir ini, aku sangat bahagia, terutama hari ini. Saat aku
melihat Kakak Shizi, aku merasa bahagia. Menurutku kau juga
seharusnya merasakan hal yang sama saat melihatku ...." Ia tidak
menyelesaikan kalimat ini, karena ekspresi Ji Ming Feng sedikit aneh saat ini.
Ia
memandangnya, tetapi tatapannya tidak terfokus padanya, sepertinya melewati
dirinya. Ia tampak linglung.
Cheng
Yu memanggil dengan ragu-ragu, "Kakak ... Shizi?"
Ia
tidak membalasnya.
Cheng
Yu berdiri dengan ragu-ragu, ingin pergi untuk melihat apa yang terjadi
dengannya, tetapi secara tidak sengaja menginjak benda bulat kecil di tanah dan
tergelincir. Ia panik dan mencoba memegang meja Ji Ming Feng, yang selengan
saja jauhnya, tetapi mengulurkan tangan dan malah meraih batu tinta di atas
meja. Brak, batu tintanya jatuh, bruk, ia juga
terjatuh.
Saat
itulah Ji Shizi bereaksi dari kebingungannya. Ia menunduk dan
menatap Cheng Yu, dengan tatapan yang tidak bisa dibedakan di matanya. Setelah
beberapa saat, ia berjalan mengitari meja dan berdiri di depan Cheng Yu. Cheng
Yu mengerutkan kening dan menarik lengan bajunya untuk melihat noda tinta di
lengan bajunya. Ketika Ji Shizi datang, hal pertama yang
dilihatnya adalah sepasang sepatu bot di kaki Ji Shizi. Kemudian,
ia melihat batu tinta persegi pecah menjadi dua di samping sepasang sepatu bot
yang indah.
Nah,
batu tinta Cao Xi Buddha Tidur di meja Ji Shizi adalah yang
paling berharga. Apa-apaan dengan jatuhnya ini, harus sekali menarik si batu
tinta dan melemparkanya. Ia duduk di sana dengan kepala terkulai dan dengan
sedih menunggu Ji Shizi memberinya pelajaran.
Setelah
sekian lama, pelajaran Ji Shizi tak kunjung datang.
Ia
tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat kepalanya, dan matanya bertemu
dengan mata Ji Shizi.
Ji Shizi memandangnya
seolah sedang berpikir keras. Meskipun ia tidak berbicara, ia juga tidak tampak
marah. Ia menjadi lebih berani dan mengambil inisiatif untuk meminta maaf,
"Aku memecahkan batu tinta Kakak Shizi. Aku sangat menyesal,
tetapi aku punya batu tinta yang sama di rumah. Aku akan memberikan kompensasi
kepadamu nanti."
Ia
memelintir lengan bajunya dengan jari-jarinya, "Tetapi jika kau bersedia
membantuku barusan ini, aku tidak akan merusak batu tintamu, dan itu
menyakitiku juga." Ini adalah kepintaran kecilnya, yang biarpun itu adalah
kesalahannya, ia bersikeras menyalahkan mereka berdua. Ia juga masih ingin
memberi ampun, membuatnya seakan-akan tidak pantas bagi Ji Shizi untuk
buka mulut dan mengomelinya lagi.
Ini
adalah keterampilan yang dipelajarinya tanpa guru setelah hidup di bawah
panduan Zhu Jin selama bertahun-tahun. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak masuk
akal, jadi ia merasa bersalah. Melihat Ji Shizi masih tidak
berbicara, ia merasa sedikit tidak tenang.
Ia
khawatir Ji Shizi telah mengungkap tipu muslihatnya, jadi ia
mengabaikannya. Semakin ia memikirkannya, ia menjadi semakin khawatir. Jadi
setelah mengeluh tentang rasa sakit karena terjatuh, ia buru-buru mencoba
menebus kesalahannya, "Tetapi, tetapi sebenarnya .... Tidak terlalu sakit,
hanya sedikit sakit saat aku terjatuh, tetapi bukan apa-apa."
Setelah
mengatakan itu, ia berguling dari tanah dengan patuh, bertindak seolah-olah ia
sangat bijaksana dan patuh dari awal sampai akhir, dan tidak ada hal seperti
menggunakan akal bulusnya untuk bersikap tidak masuk akal.
Ji Shizi masih
tidak mengatakan apa pun. Di bawah tekanan Zhu Jin, metode otodidaknya terbatas
pada beberapa trik ini. Setelah menggunakannya, ia tidak tahu apa lagi yang
bisa dilakukannya. Ia pun berdiri di sana dengan canggung sejenak.
Setelah
sekian lama, tidak ada jawaban dari Ji Ming Feng. Ia berdeham pelan.
"Kalau begitu, aku akan kembali dan membaca."
Pada
saat ini, Ji Shizi akhirnya berbicara, namun ia menanyakan
sesuatu yang tidak relevan, "Aku hanya bertanya padamu, kenapa kau
tersenyum seperti itu, apa yang kau katakan sebagai balasan kepadaku?"
Cheng
Yu bingung. Ia memikirkannya. Ia berbicara sangat keras tadi, jadi tentu saja
ia mendengar dengan jelas apa balasan jawabannya kepadanya. Namun, ia bertanya
padanya dengan wajah dingin, apakah ini caranya untuk mengingatkannya tentang
apa yang baru saja dikatakannnya sangat tidak sopan dan ia tidak punya aturan?
Memikirkan
hal ini, hatinya tenggelam dan ia merasa sedikit panik.
Alasan
mengapa ia melampaui kesopanan hari ini adalah karena ia percaya apa yang
dikatakan Qing Ling dengan penuh kepuasan dan berpikir bahwa ia sangat dekat
dengan Ji Ming Feng. Namun, ia tidak tahu bahwa apa yang dikatakan Qing Ling
tadi malam ternyata salah. Qing Ling keliru. Shizi tidak
terlalu menyukainya, ia juga tidak berteman dengannya. Shizi bukanlah
seseorang yang bisa diajaknya tertawa dan bermain-main.
Angin
pagi bertiup masuk, dan cahaya lilin berkelap-kelip. Ia merasa menyesal dan
sedih sejenak, dan ia berkata dengan tergesa-gesa, "Aku, aku lupa apa yang
kukatakan. Mungkin aku mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh
Kakak Shizi hari ini, tetapi aku, aku selalu berbicara omong
kosong, bisakah Kakak Shizi tidak menganggapnya serius?"
Lilinnya
berkedip-kedip beberapa kali lagi, tetapi untungnya ada cahaya redup di
cakrawala, sehingga ruangan menjadi terang benderang tanpa perlu menyalakan
lilin. Hanya saja di penghujung musim semi, masih ada kabut di pagi hari. Kabut
musim semi masuk melalui jendela, dan seiring dengan warna gelap fajar yang
akan segera memudar, pemandangan di dalam ruangan pun terlihat seolah-olah
sudah kabur seperti tinta tipis.
Fajar
yang berkabut dan pemandangan yang kabur.
Dalam
kabut, satu-satunya hal yang membuat Cheng Yu merasa jelas adalah sosok Ji Ming
Feng yang seperti pohon giok. Sosok itu tampak menegang pada saat ia berbicara,
dan ia tidak yakin, karena ketika ia menatapnya lagi, tidak ada yang aneh pada
dirinya, dan apa yang ditanyakannya padanya adalah normal, dan dirinyalah yang
menanyainya.
Ia
bertanya padanya, "Kau tidak ingin aku menganggapmu serius?"
Pertanyaan
Ji Ming Feng agak familier. Ini adalah rutinitas yang sering dilihatnya selama
pertarungan kecerdasan dan keberaniannya dengan Zhu Jin. Ia harus mengatakan ia
tidak mau, dan kemudian Zhu Jin memarahinya, "Jika kau tidak ingin aku
menganggapnya serius atau membuatku marah, kau perlu tahu cara menahan diri.
Jika kau tidak melakukannya lain kali, pergilah ke ruang isolasi untuk menerima
hukumanmu." Itu saja.
Ji
Ming Feng bertanya lagi ketika ia menundukkan kepalanya untuk berpikir,
"Kau tidak mau aku menganggapnya serius, bukan?"
"Tidak
mau, tidak mau," ia buru-buru berkata, "Itu hanya omong kosong. Aku
tidak ingin Kakak Shizi menganggapnya serius."
Setelah
ia selesai berbicara, ia menundukkan kepalanya dengan patuh dan menunggu
teguran Ji Ming Feng, dan selesai. Tetapi Ji Ming Feng tidak menegurnya, dan
masalahnya tidak berakhir seperti itu. Ji Ming Feng menatapnya lama sekali, dan
suaranya sedikit serak, "Kata-kata mana yang tidak masuk akal?"
Ji
Ming Feng tidak mengulangi rutinitas Zhu Jin.
Cheng
Yu memandangnya dengan bingung.
Ji
Ming Feng mengambil satu langkah lebih dekat, "Kau pikir aku tampan, kau
suka melihatku, dan kau merasa bahagia ketika melihatku. Apakah ini omong
kosong?" Suaranya tidak sengaja dinaikkan atau diturunkan, tetap saja nada
yang sama seperti sebelumnya, dan bahkan kecepatan bicaranya sama seperti
sebelumnya. Kata-kata itu diucapkan dengan sangat cepat, tetapi untuk beberapa
alasan, Cheng Yu bisa merasakan kemarahan yang tersembunyi di dalamnya.
Ia
baru saja mengatakan ini. Pada saat itu, ia juga mengatakan dengan sangat
genit, "Aku merasa sangat dekat dengan Kakak Shizi saat
hari ini melihatmu. Aku duduk di sini dan melihatmu membaca di bawah cahaya,
dan aku merasa begitu ... Kelihatannya tampan ..." Kalau dipikir-pikir
sekarang, kata-kata ini sebenarnya agak sembrono.
Ia
telah tumbuh dengan siluman bunga sejak ia masih kecil, dan tidak pernah
terbiasa berbicara dengan orang-orang yang dekat dengannya. Namun, Ji Ming Feng
adalah seorang pria berpendidikan moral yang menghargai etiket. Kata-kata
seperti itu mungkin sangat menyinggung dan tiba-tiba sekali bagi mereka.
Ia
sangat panik dan berkata, "Aku tidak tahu kata-kata itu berarti apa
buatmu, Kakak Shizi ...."
Ji Shizi biasanya
sangat sabar, tetapi saat ini ia sepertinya tidak memiliki kesabaran sama
sekali. Ia menyelanya dengan suara yang dalam dan berkata, "Pertanyaanku
tidak terlalu sulit untuk dijawab, dan tidak perlu penjelasan yang panjang
lebar. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak."
Cheng
Yu sedikit gemetar, "Aku salah. Itu semua omong kosong."
Ji
Ming Feng tidak menanggapi untuk beberapa saat.
Ia
berbisik dengan sangat pelan, "Kakak Shizi, tolong jangan
pedulikan aku, aku berbicara omong kosong." Ia menggigit bibirnya,
"Maaf, aku tidak akan pernah berbicara omong kosong lagi di masa depan,
jangan marah padaku."
Ia
tidak tahu apakah permintaan maaf itu bisa menebusnya atau bisa memuaskan Ji
Ming Feng. Ia merasa bahwa seharusnya pemuda itu tidak puas karena tatapannya
terhadapnya sangat dingin. Namun, ia sudah mencoba yang terbaik, dan tidak tahu
apa lagi yang bisa dikatakannya.
Ia
berdiri di depan Ji Ming Feng dengan kepala tertunduk, menunggunya menyerah.
Untuk waktu yang lama, ia mendengar beberapa kata tanpa awal dan akhir di atas
kepalanya, "Awalnya kukira ...."
Namun,
Ji Ming Feng tidak menyelesaikan kalimatnya. Setelah beberapa saat, ia
mendengar setengah kalimat lagi yang penuh amarah, "Kenapa kau bahkan
bergaul denganku ...." Tetapi ia tetap tidak berkata apa-apa lagi.
Kata-kata ini ragu-ragu, seolah-olah sangat kecewa padanya. Namun, Cheng Yu
sangat bingung sehingga ia bahkan tidak tahu apa yang membuat pria itu kecewa.
Ruangan
itu sangat sunyi untuk beberapa saat, dan setelah sekian lama, Ji Ming Feng
memanggilnya dengan gelar kehormatannya.
"Putri
Hong Yu," katanya, suaranya kembali ke nada tenang biasanya, dengan
keraguan yang tulus di dalamnya, "Kau sengaja mencoba untuk tetap berada
di sisiku, aku bukannya tidak menyadari hal ini. Kau menghabiskan begitu banyak
waktu setiap hari. Apa yang ingin kau lakukan ketika kau datang menemuiku dan
tinggal di sisiku setiap hari?"
"Aku
...." Cheng Yu menatap Ji Ming Feng dan menyusut saat melihat tatapan
dinginnya, "Aku tidak bermaksud apa pun, aku hanya ...."
Disela
oleh Ji Ming Feng, ia mengangkat tangannya dan mengusap alisnya dengan tidak
sabar, "Katakan yang sebenarnya."
"Aku
ingin berteman denganmu," bisiknya.
"Berteman."
Ji Ming Feng mengulangi kata ini. Ia mengangkat matanya dan melihat ke luar
jendela, tetapi tidak berbicara lagi untuk beberapa saat. Saatnya telah tiba,
asap pohon dedalu di danau terlihat jelas di luar jendela. Kabut bening datang
dari hari ke hari, namun hanya mampu menutupi dua atau tiga titik warna hijau
jasper di tepi danau. Itu adalah pemandangan yang indah.
Setelah
beberapa saat, Ji Ming Feng bertanya padanya, "Kau ingin aku menjadi teman
seperti apa?"
Ia
menundukkan kepalanya, "Hanya teman yang bermain bersama."
Ji
Ming Feng masih melihat ke luar jendela, "Berapa banyak teman seperti ini
yang kau miliki?"
Ia
masih menundukkan kepalanya, "Tidak terlalu banyak, hanya sedikit."
"Kedengarannya
seperti menambah satu diriku tidaklah lebih dan berkurangnya satu diriku
tidaklah kurang."
Ia
segera mengangkat kepalanya dan membela diri, "Tidak, tidak, Kakak Shizi,
kau ...."
Namun
ia menyelanya lagi. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari Danau Yan Yu dan
berkata dengan tenang, "Putri, kau ingin berteman denganku, tetapi aku
tidak ingin menjadi temanmu."
Ia
tercengang, "Tetapi Kakak Shizi, kau tidak menganggapku
mengganggu beberapa hari yang lalu. Qing Ling juga mengatakan bahwa kau cukup
ingin bertemu denganku. Hari ini kau hanya, hanya ...." Ia butuh waktu
lama, tetapi tidak terpikirkan penjelasan apa pun.
Ji
Ming Feng menangkap kata-katanya, menatapnya dengan tenang dan berkata,
"Hanya saja mulai hari ini, menurutku kau menjengkelkan."
Setelah
Ji Ming Feng meninggalkan ruang baca untuk waktu yang lama, Cheng Yu masih
tinggal di sana. Sebenarnya, ia sedikit takut.
Tuan
Muda Xiao Yu sangat pemberani. Ia menangani kuda yang kuat seperti melatih ayam
dan anjing, masuk ke sarang ular seperti mengunjungi kedai teh, dan tidak
pernah takut pada monster apa pun. Meskipun Zhu Jin adalah musuh bebuyutannya,
ia tidak pernah benar-benar takut pada Zhu Jin. Tetapi Ji Ming Feng hari ini
membuatnya merasa sedikit takut.
Ia
takut Ji Ming Feng akan marah dan Ji Ming Feng benar-benar marah, membuatnya
semakin takut. Sesungguhnya, ia tidak mengerti mengapa Ji Ming Feng begitu
marah. Meskipun ia melakukan kesalahan, ia merasa itu bukanlah kesalahan besar.
Ia
tidak ingin membuat Ji Ming Feng marah, jadi ia menjawab semua pertanyaan yang
diajukan Ji Ming Feng dengan jujur. Akan tetapi, yang membuatnya bingung adalah
tidak ada kebenaran yang memuaskan Ji Ming Feng.
Ia
tidak pernah memiliki pengalaman seperti itu, harus sangat berhati-hati dalam
memahami pikiran seseorang, dan berhati-hati dalam menyenangkan dan menyanjung;
ia tidak pernah mendapatkan teman yang begitu sulit dipahami, dan tidak pernah
memiliki pengalaman yang begitu menakutkan dalam berteman.
Ia
tahu bahwa Ji Ming Feng akan sulit untuk didekati, jadi ia bekerja sangat
keras, tetapi hari ini ia hanya mengambil langkah yang salah, dan hubungannya
dengan Ji Ming Feng sepertinya telah kembali ke titik awal semula.
Ia
merasa sedih dan putus asa.
Ia
duduk kosong di ruang baca selatan sepanjang hari. Tiba-tiba ia berpikir, jika
Ji Ming Feng tidak ingin menjadi temannya, mengapa tidak berhenti saja menjadi
temannya? Ia akan selalu bertemu orang seperti dirinya dalam hidup ini, satu
dua orang yang ingin diajaknya berteman, tetapi tidak bisa. Ia masih menghibur
dirinya sendiri dengan dewasa, 'Hidup penuh penyesalan seperti ini'.
Tetapi
setelah beberapa saat, mau tak mau ia berpikir bahwa, tidak ada alasan untuk
putus asa begitu cepat. Bagaimana bisa terlihat bahwa Ji Ming Feng tidak
berbicara dengan marah? Meskipun Ji Shizi menganggapnya cukup
menyebalkan ketika mereka pertama kali bertemu, dalam setengah bulan terakhir
sejak ia datang ke Ruang Baca Selatan, ia jelas tidak menganggapnya menyebalkan
lagi. Ia bahkan membantunya menulis komentar di buku, yang merupakan buktinya.
Meskipun ia mengatakan hal yang salah hari ini dan membuatnya mulai
menganggapnya menjengkelkan lagi, ia mungkin akan berubah pikiran lagi besok
ketika kemarahannya mereda.
Ia
sempat sangat optimis, dan sempat sangat pesimis. Ia bergumul dengan dirinya
sendiri selama seharian, pada akhirnya memilih untuk menghadapi masalah ini
dengan optimis. Karena ia memikirkannya di ruang kerja sampai akhir, ia tidak
bisa menahan diri untuk bertanya pada dirinya sendiri: Jika ia benar-benar
menyebalkan, maka orang yang paling kesal padanya bukanlah Ji Ming Feng, tetapi
Zhu Jin; Namun, Zhu Jin akan lebih memilih memukulinya tiga kali sehari
ketimbang meninggalkannya, bukankah karena ia juga sangat manis.
Ia
yakin pada dirinya sendiri, berpikir bahwa Ji Ming Feng pasti berbicara karena
marah.
Ketika
ia meninggalkan ruang baca pada saat-saat terakhir you shi,
ia memutuskan untuk perlahan membujuk Ji Shizi kembali. Tanpa diduga, begitu ia
kembali ke halaman Chun Hui-nya, di halamannya sudah ada kepala pelayan tua
dari halamannya Ji Ming Feng.
(T/N: 酉时 yǒu shí—pukul 17.00-19.00)
Pelayan
lelaki yang menemaninya memberikan setumpuk besar buku di hadapannya, dengan
buku "Arti Bahasa Huo Tu" yang ditinggalkannya di ruang baca hari
ini. Kepala pelayan tua itu menahan suaranya yang serak karena tersedak asap,
dan menjelaskan kepadanya dengan santai, "Shizi meminta
pelayan tua itu untuk membawakan semua buku yang telah dibaca Putri baru-baru
ini. Shizi juga mengatakan bahwa Putri akan berada di sini
besok, tidak perlu pergi ke ruang baca selatan untuk belajar. Jika Anda masih
menginginkan buku apa pun, minta saja Qing Ling pergi ke ruang baca selatan
untuk memberikannya kepada Putri."
Ia
tertegun beberapa saat, dan kemudian bertanya kepada kepala pelayan tua itu
dengan ragu-ragu, "Kalau begitu ... Kakak Shizhi, maksudmu,
aku hanya boleh pergi ke Ruang Baca Selatan lagi setelah amarahnya hilang,
kan?"
Kepala
pelayan tua itu terdiam beberapa saat dan kemudian berkata sambil berpikir,
"Kupikir, Shizi mungkin bermaksud agar Putri tidak boleh
menginjakkan kaki lagi di Ruang Baca Selatan di masa depan."
Hal
ini tidak dapat disembunyikan dari Qing Ling, dan tentu saja gangguan yang
terjadi di ruang baca selatan pada siang hari juga tidak dapat disembunyikan
dari Qing Ling.
Cheng
Yu tidak pernah berpikir untuk menipu Qing Ling. Ia datang ke Kediaman Pangeran
Li Chuan sendirian dan tidak memiliki kenalan. Ia bergaul dengan Qing Ling
setiap hari selama hampir sebulan, dan ia menjadi sangat dekat dengannya. Dalam
hatinya, ia menganggapnya sebagai saudarinya. Ia bersedia memberi tahu saudari
ini semua yang ada di pikirannya, karena ia cerdas dan interpretatif. Tidak ada
apa pun di Kediaman Pangeran Li Chuan yang tidak dapat dilihatnya, dan tidak
ada masalah yang tidak dapat dijawabnya.
Benar
saja, Qing Ling tidak menganggap serius kemarahan Ji Shizi hari
ini, dan memandangnya dengan setengah tersenyum di bawah cahaya penerangan,
"Shizi marah pada Putri, itu tidak lebih dari ...."
Tetapi ia berhenti bicara lagi, dan hanya menggerakkan jari-jarinya yang
berwarna seperti hijau-putih dengan sangat santai. Ia menopang pipi kirinya dan
berkata, "Shizi tidak mengizinkan Putri pergi ke ruang baca
selatan, jadi Putri ikuti saja Shizi selama dua hari. Ini
bukan masalah besar. Biarkan Shizi marah selama dua hari, lalu
biarkan aku mengetahui kata-kata Shizi dan melihat bagaimana
ia ingin Putri meminta maaf. Ini juga akan menyelamatkan Putri dari mengambil
jalan yang keliru. Bukankah itu bagus?" Entah apa yang dipikirkannya
setelah mengatakan ini, dan ia tidak bisa menahan tawa, "Emosi membuat
keributan Shizi ini, sebenarnya agak lucu."
Cheng
Yu tidak memiliki wawasan atau keberanian seperti Qing Ling dalam hal ini, jadi
ia tidak berani berpikir bahwa Ji Shizi kehilangan kesabaran kali ini adalah
hal yang konyol. Namun, Qing Ling begitu tenang, yang membuatnya semakin
percaya diri, berpikir bahwa Ji Shizi pada akhirnya bisa dibujuk kembali.
Namun
hal ini bukannya tanpa rasa khawatir.
Karena
kegelisahan ini, Cheng Yu mendesak Qing Ling pergi ke Halaman Ju Shuang untuk
mencari Ji Shizi pagi-pagi sekali pada hari ketiga. Begitu
Qing Ling keluar, ia langsung menjadi gugup lagi. Sebelum sempat memikirkannya,
ia sudah mengikuti jejak Qing Ling dan mengejarnya.
Ketika
ia tertinggal di belakang Qing Ling seperti ekor kecil, ia berpikir diam-diam
di dalam hatinya. Ia diam-diam melihat Ji Shizi dari kejauhan
untuk melihat apakah wajahnya terlihat lebih baik hari ini daripada hari itu,
dan untuk melihat apakah ia masih begitu marah.
Qing
Ling berpapasan dengan Ji Shizi di gerbang Halaman Ju Shuang.
Qing
Ling sepertinya mengatakan sesuatu kepada Shizi. Cheng Yu melihat Shizi mengangkat
kepalanya dan melirik ke arahnya. Pandangan itu sangat singkat dan ia tidak
punya waktu untuk bereaksi. Shizi sudah berbalik dan berjalan
menuju paviliun heksagonal di depan, dan Qing Ling mengikuti.
Cheng
Yu juga mengikuti perlahan, tetapi ia tidak berani berdiri terlalu dekat, jadi
ia berhenti di ujung jalan rumput di depan paviliun. Dari jarak sejauh itu, ia
tidak bisa mendengar kata-kata mereka atau melihat wajah mereka dengan jelas.
Tetapi, saat ia semakin dekat, ia curiga Ji Shizi mungkin
tidak akan mentolerirnya lagi, jadi ia menghela napas dan berjongkok di sana,
memetik akar rumput untuk menunggu mereka.
Mereka
berdua tidak mengobrol lama, tetapi hanya dalam secangkir teh, Ji Ming Feng
sudah keluar dari paviliun kayu, dan Cheng Yu dengan cepat membuang akar rumput
di tangannya dan berdiri, berdiri di dekat jalan berumput. Ketika Ji Shizi mendekat,
ia menelan ludah dan berbisik, "Kakak Shizi, aku ...."
Ji Shizi melewatinya dengan wajah tanpa ekspresi, dan matanya
tidak tertuju padanya barang sejenak pun.
Ia
tertegun, lalu segera berbalik ke punggung Ji Ming Feng dan berseru lagi,
"Kakak Shizi." Namun, Shizi tidak
berhenti, seolah-olah ia tidak melihat apa pun sekarang, dan sekarang ia tidak
mendengar apa pun.
Baru
setelah Ji Shizi memasuki Halaman Ju Shuang, Qing Ling datang
ke sisinya. Qing Ling, yang selama ini senyuman tak pernah meninggalkan
bibirnya, kali ini tidak tersenyum, dan alisnya berubah menjadi karakter
"Si Chuan". Ia belum pernah melihat Qing Ling terlihat begitu gelisah,
dan hatinya tenggelam, dan butuh waktu lama baginya untuk berbicara,
"Kakak Shizi benar-benar tidak menyukaiku dan tidak ingin
melihatku sebentar saja, jadi tidak ada ruang untuk minta maaf, ya?"
Ia
sebenarnya berharap Qing Ling akan segera menyangkalnya.
Namun
Qing Ling tidak langsung menyangkalnya.
Hatinya
terasa berat dan ia sedikit sesak.
Qing
Ling melihat wajah sedihnya dan segera menghiburnya dengan lembut, "Putri
sangat pintar dan cantik, bagaimana mungkin ada orang di dunia ini yang tidak
menyukai Putri?"
Tetapi
Qing Ling juga tahu bahwa ia bukan anak berusia tiga tahun, dan ia tidak akan
bisa segera melupakan kekhawatirannya jika seseorang memujinya untuk beberapa
kata.
Qing
Ling mempertimbangkannya dengan hati-hati dan menjelaskan kepadanya, "Dulu,
aku setuju dengan Putri untuk berteman dengan Shizi, karena Shizi memang
memiliki banyak perbedaan terhadap Putri. Shizi senang ... dan
tidak membenci Putri. Shizi memiliki sedikit teman dan
memiliki temperamen yang tegas dan dingin. Putri lincah dan dapat menghangatkan
temperamen Shizi. Kupikir, Putri yang ingin menjadi teman Shizi adalah
hal bagus. Tetapi .... Putri dan Shizi terlalu jauh berbeda
wataknya, sehingga mungkin tidak cocok untuk berteman."
Qing
Ling memaksakan senyum dan berkata, "Putri, tidak perlu khawatir dan
gigih. Memangnya kenapa jika kau tidak berteman dengan Shizi?"
Cheng
Yu terdiam beberapa saat, lalu ia berbicara, "Mau bagaimana lagi, aku
hanya," katanya dengan sedih, "Aku hanya diam-diam ingin tinggal di
sisi Kakak Shizi, dan menurutku alangkah baiknya jika aku bisa
berteman dengannya."
Qing
Ling memandang dalam-dalam dan bertanya padanya, "Putri ingin tinggal di
sisi Shizi, tetapi Shizi tidak ingin menjadi teman
Putri. Pernahkah Putri memikirkannya, bahwa sebenarnya, Shizi Fei selalu
bisa tinggal di sisinya sisi Shizi selamanya?"
(T/N: 世子妃 shì
zǐ fēi—Istri sah Shizi.)
Cheng
Yu tiba-tiba mengangkat kepalanya, "Shizi Fei?"
Qing
Ling memandangnya sebentar, menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit,
"Anggap saja aku tidak mengatakannya, aku terlalu banyak berpikir."
Cheng
Yu sangat terkejut, "Apakah Kakak Qing Ling berpikir bahwa aku tidak bisa
menjadi teman Shizi, tetapi aku bisa menjadi Shizi Fei?
Ini tidak masuk akal. Ia menganggapku menjengkelkan meskipun hanya seorang
teman. Selain itu," katanya serius, "Aku seorang Putri, kemungkinan
besar aku akan dikirim untuk menikah keluar di masa depan, dan aku tidak akan
bisa menjadi Shizi Fei Kediaman Li Chuan kalian."
Qing
Ling memaksakan senyuman dan berkata, "Itu hanya ideku. Aku tidak bisa
berbuat apa-apa. Shizi merasa," ia terdiam, "kau
bukan calon yang baik untuk Shizi Fei."
Cheng
Yu mengangguk, "Memang benar, aku tahu itu."
Qing
Ling menghela napas, "Kali ini, Shizi, ia benar-benar sedikit
...."
Cheng
Yu menggigit bibirnya, "Aku mengerti." Ia berbisik, "Terkadang
seseorang tiba-tiba membenci orang lain. Tidak ada alasan untuk ini."
Lingkaran
matanya kemerahan, dengan sedikit linglung dan kebingungan seolah-olah ia baru
saja bangun dari mimpi besar, dan sedikit keputusasaan dan kesedihan yang
sedikit demi sedikit menunjukkan kenyataan jika melihat ke belakang,
"Kakak Shizi telah sepenuhnya meninggalkanku. Tidak
seharusnya aku terus mengganggunya lagi. Jika aku terus mengganggunya, itu
hanya akan membuatnya semakin marah."
Qing
Ling melihat lingkaran mata merah dan matanya yang berair, dan menghela napas
lagi, "Shizi, ia ...." Namun, ia mengerutkan kening dan tidak
menyelesaikan kata-katanya, dan malah berkata, "Putri anggap saja seperti
ini. Tetapi tidak perlu memikirkan Shizi lagi. Ada banyak hal
menarik untuk dilihat di Li Chuan. Besok aku akan mengajak Putri jalan-jalan ke
gunung, bermain air. Dalam beberapa hari, Putri akan bahagia lagi."
Jari-jari hijau-putih mengangkat sudut mulutnya yang terkulai dan menghiburnya
dengan lembut, "Berapa banyak hal di dunia ini yang bisa dilakukan dengan
santai dan bebas? Hidup bebas dan tanpa beban adalah satu-satunya cara untuk
berbahagia. Bukankah begitulah bagaimana cara Putri menghabiskan hidup sebelum
bertemu Shizi?"
- Bersambung -

0 comments:
Posting Komentar