Rabu, 16 Juni 2021

CTF - Chapter 100

Consort of A Thousand Faces

Chapter 100 : Tarian


Su Xi-er berjalan ke tengah halaman, mengangkat kepalanya, memandangi bulan sabit di langit malam sebelum memejamkan matanya sejenak. Ketika ia membuka matanya lagi, ekspresi di wajahnya sudah sepenuhnya berubah. Memberi rasa damai dan elegan berserta sejejak rasa malu-malu.

Ia bergoyang maju-mundur di bawah cahaya bulan dengan kakinya sebagai titik tumpu perputaran tubuhnya, keliman roknya seperti serangkaian gelombang yang mengalir saat airnya beriak.

Warna kemerahan di bibirnya, dilengkapi dengan rona merah muda di pipinya, dan ia tampak seakan ingin menyampaikan sesuatu tetapi terlalu malu untuk melakukannya. Rupanya yang jelita seperti kelopak bunga persik merah muda; tiap pergerakannya menampilkan kesucian dan sifat menyendiri khas bunga anggrek. Mengenakan gaun panjang anggunnya, rambut hitamnya terlempar di sepanjang bahunya, dan senyum tipis menghiasi wajahnya yang tanpa riasan, memancarkan aura yang unik.

Ekspresi Pei Qian Hao agak berubah. Apabila aku menghina tarian ini, takutnya tidak ada tarian lain di dunia ini yang bisa kuapresiasi.

Angin malamnya berembus lagi, menyebabkan pepohonannya berayun dan bergemerisik. Di halaman yang diterangi cahaya bulan, seorang gadis di usia terprimanya tengah menari dengan lincah, menawan hati semua orang yang memandanginya. Satu tatapan saja cukup untuk membuat semua orang benar-benar terpesona.

Selagi Pei Qian Hao menonton tarian indah ini, sedikit demi sedikit ia mengerutkan alisnya. Apakah ia benar-benar hanya seorang dayang dari Istana Samping? Lupakan tentang putri bangsawan, bahkan penari terbaik di Bei Min saja tidak akan bisa dibandingkan dengan ini.

Bagaimana bisa ia mengetahui ini? Ia dijual oleh orang tuanya dan tinggal dalam sebuah keluarga yang miskin. Bagaimana mungkin baginya mendapatkan seorang guru dan mempelajari tarian ini? Semakin ia memikirkannya, semakin dalam pula kecurigaannya.

Tarian Su Xi-er menjadi semakin cepat, seperti seorang dewi di bawah cahaya bulan. Meski begitu, napasnya tidak terengah sama sekali, seolah ia sudah terbiasa menampilkan tarian ini.

Pinggiran gaunnya mengembang membentuk bunga bercahaya selagi ia berputar dengan sangat cepat, memancarkan keindahan yang membuat orang lain pun termangu.

Di sisi lain halaman, berdirilah seorang pria yang mengenakan jubah putih bermotif awan, aura lembutnya terpampang jelas. Akan tetapi, alisnya yang sedikit bertautan mendustakan emosinya saat ini.

Aku pernah melihat tarian ini sebelumnya, tetapi ini jelas-jelas wanita lain. Mengapa dayang Pangeran Hao tahu bagaimana cara membawakan tariannya? Tidak mungkin. Selain Ning Ru Lan, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menampilkan tarian ini.

Pada saat ini, seorang pengawal muncul di sisi Yun Ruo Feng dan berbisik, "Pangeran Yun ...."

Yun Ruo Feng melambaikan tangannya. "Tempat ini tidak cocok untuk mendiskusikan masalah." Kemudian, ia melirik ke arah Su Xi-er lagi sebelum menghilang di kejauhan.

Melirik ke arah Su Xi-er, wajah si pengawal langsung terlukis dengan ekspresi takjub yang tetap ada meski setelah ia pergi dengan cepat.

Setelah menyelesaikan tariannya, Su Xi-er agak terengah. Ia membungkuk menyampaikan hormatnya, "Pangeran Hao, terima kasih karena telah bertahan menyaksikan penampilan biasa-biasa saja dariku."

Pei Qian Hao menyimpan kecurigaan di matanya dan mengangkat kedua tangannya, suara tepukan tangan yang nyaring pun berdering di udara. "Pangeran ini belum pernah memuji orang dengan gampangnya. Tarian ini unik dan tak tertandingi di dunia, sama halnya dengan si penari."

"Terima kasih banyak atas pujiannya, Pangeran Hao. Karena hamba sudah memenuhi perintah Anda, aku akan pergi membawakan air ke kamar Anda. Pangeran Hao, karena sudah larut, silakan kembali ke kamar Anda untuk beristirahat." Kemudian, ia pun berbalik, berjalan ke arah ruang mendidihkan air.

Ia memperhatikan sekitarnya saat ia dibawa ke kamarnya tadi, mengetahui kalau ruang mendidihkan airnya ada satu ruangan di depannya.

"Kau tidak perlu pergi. Pengawal yang akan mengantarkannya. Jika aku membiarkanmu pergi mengambilnya, siapa yang tahu kalau kau akan menemukan gadis pelayan lain untuk Pangeran ini lagi." Pangeran Hao sengaja berhenti dan menilainya hati-hati.

Su Xi-er mendongak dan menjawab dengan hormat. "Hamba tidak sebodoh itu untuk melakukannya kedua kali. Selain itu, Anda juga sudah mengambil langkah pencegahan di dalam hati."

"Biarkan Pangeran ini bertanya padamu, siapa yang mengajarimu tarian itu? Kakak perempuan yang mana lagi?" Pei Qian Hao sengaja menggunakan kata 'kakak perempuan' agar menghalanginya menggunakan alasan ini untuk menyelesaikan masalah.

Saat Su Xi-er mendengarnya, ia tahu ia tak lagi bisa menggunakan alasan seorang jie jie yang mengajarinya untuk menipunya. Tetapi, karena aku sudah berani menari, tentu saja aku sudah mempersiapkan sebuah penjelasan.

"Hamba berasal dari keluarga miskin, jadi kakak perempuan yang kutahu sudah pasti tidak tahu bagaimana caranya menari. Sebaliknya, suatu hari, hamba melewati sebuah sanggar tari dan diam-diam mengintip apa yang sedang mereka lakukan. Melihat para penari di dalamnya tengah berlatih, hamba juga ikut serta."

Nada Pei Qian Hao meninggi. "Apabila kau bisa mempelajari sebanyak itu hanya dengan melihat, membuatmu menggosok pispot atau mencuci baju benar-benar menyia-nyiakan bakat luar biasamu."

"Pangeran Hao, kemana Anda akan memindahkan hamba?" Cuacanya masih panas, jadi menggosok pispot atau mencuci baju bukan masalah. Namun, sekalinya musim dingin tiba, jari-jariku tidak akan sanggup bertahan jika aku mencuci di malam hari. Akan lebih baik jika aku bisa mengubah tugasku di Istana Samping.

"Tidak ada wanita di Departemen Musik Kekaisaran yang sebanding denganmu. Tak ada gunanya walaupun kau pergi ke sana. Akan lebih baik jika kau tetap di Istana Samping dan mengerjakan tugasmu dengan rajin."

Pei Qian Hao memperhatikannya diam-diam. Tak ada sejejak pun emosi terefleksikan pada sepasang mata hitamnya. Ia telah memindahkannya dari Biro Layanan Binatu dan kembali ke Istana Samping, tempatnya.

Su Xi-er mengangguk dan tidak keberatan. "Terima kasih banyak karena sudah mengirimkan hamba kembali ke Istana Samping, Pangeran Hao."

"Kelihatannya, kau suka sekali di Istana Samping. Apakah karena kau merasa terikat secara emosional setelah tinggal di sana sekian tahun?"

Su Xi-er tercengang. "Pangeran Hao, hamba bodoh dan tidak bisa mengartikan maksud tersirat dalam ucapan Anda. Bolehkah Anda menjelaskannya?"

Pei Qian Hao melambaikan tangannya dan mengangkat dagunya, dan terpikirkan hal lain. "Walaupun aku bilang kalau akan lebih baik bagimu tetap berada di Istana Samping, tak ada alasan bagimu untuk memilih demikian. Sebaliknya, keterampilan menarimu mampu menjadikanmu sebagai Dayang Senior Tingkat Lima di Departemen Musik Kekaisaran. Memohonlah pada Pangeran ini, dan aku akan memindahkanmu ke sana."

Dengan dagunya yang terangkat, ia dipaksa menerima tatapan dinginnya. Aku tidak memahami pria ini. Terkadang aku merasa ia dekat, sementara di lain kesempatan, ia terasa sejauh langit.

"Pangeran Hao, hamba hanyalah seorang dayang dari Istana Samping. Jika aku dikirimkan ke Departemen Musik Kekaisaran menjadi Dayang Senior Tingkat Lima, orang lain pasti akan menggosipkannya. Hamba tidak akan memohon, dan hamba juga tak bersedia pergi ke sana." Ia melafalkan tiap katanya dengan paksa, menunjukkan sikap tegasnya.

Yang terpenting, ia sudah membuat fondasi di Istana Samping. Dimulai dari sana, ia bisa memperluas ke bagian lain istana kekaisaran secara perlahan.

Dalam kehidupan ini, aku tidak akan menggantungkan harapanku pada pria mana pun. Hubungan Pei Qian Hao denganku tidak jelas. Walaupun sepertinya kami ini lebih daripada majikan dan pelayan, pada akhirnya, aku benar-benar hanya seperti seekor ikan yang berada di atas talenan.

Pei Qian Hao mengelus bagian bawah dagunya dan tersenyum. "Tak akan memohon dan tidak bersedia. Pangeran ini memberikanmu kesempatan memohon, tetapi kau menolaknya dengan tegas. Pangeran ini tidak suka memaksa orang lain. Sesuai harapanmu, teruslah tinggal di Istana Samping untuk menggosok pispot. Akan tetapi ...."

Di titik ini, Pei Qian Hao terkekeh dan melepaskan dagunya. "Jika Pangeran ini sedang ingin melihatmu menari, kau harus datang ke sisi Pangeran ini tak peduli dimana pun kau berada. Apabila kau bukan seorang Dayang Senior Tingkat Lima di Departemen Musik Kekaisaran, kau tidak boleh menari untuk orang lain. Kalau tidak ...."

Su Xi-er menatap lekat matanya, hanya menemukan tatapan jahat di dalamnya.

"Orang-orang yang pernah melihat tarianmu, Pangeran ini akan mencungkil mata mereka."

Su Xi-er memandanginya hati-hati. Orang ini dipenuhi dengan aura menakutkan. Namun, tak akan ada mata siapa pun yang dicungkil, karena aku tidak akan pernah menampilkan tarian ini lagi.

"Kau bilang, kau diam-diam mempelajarinya dari sebuah sanggar tari, tetapi Pangeran ini belum pernah melihat tarian ini di sanggar tari mana pun di ibu kota Bei Min." Pei Qian Hao mengubah topiknya menjadi tarian lagi.

"Pangeran Hao, apakah Anda sudah pernah pergi semua sanggar tari? Bagaimana Anda begitu yakin kalau tidak ada tarian itu?"

Pei Qian Hao tertawa kecil. "Bei Min tidak punya seorang putri kekaisaran. Oleh karena itulah, selama perjamuan kerajaan tiap tahunnya, sanggar tari paling termahsyur di ibu kota akan menampilkan sebuah pertunjukan. Pangeran ini tidak pernah pergi ke sanggar tari, tetapi aku sudah pernah menyaksikan banyak tarian. Biar begitu, aku belum pernah melihat tarian seperti tarianmu."

Su Xi-er memperhatikannya dalam diam, hanya menjawabnya setelah beberapa saat. "Mungkin, wanita yang mengetahui tarian ini sudah mati, membawa tarian itu bersamanya ke liang kubur. Dulu hamba hanya mempelajarinya, sepenuhnya karena kebetulan semata."

Rasanya seakan udaranya membeku selagi mata hitam berbinar Pei Qian Hao menembus masuk kepadanya.

Continue reading CTF - Chapter 100

CTF - Chapter 99

Consort of A Thousand Faces

Chapter 99 : Tarian Solo


Sementara semua orang masih tertegun, Pei Qian Hao mengangguk. "Pangeran ini akan menginap di sini malam ini. Suruh juru masak nomor satu untuk menyiapkan Salad Akar Teratai dan antarkan ke kamar Pangeran ini."

Semua orang bingung. Salad Akar Teratai digunakan untuk menutrisi tubuh seorang wanita, menjaga penampilannya, atau dikonsumsi ketika sedang masa menstruasi. Tetapi, dari semua makanan, Pangeran Hao secara khusus ingin Salad Akar Teratai! Ada apa ini?

Hanya Yun Ruo Feng yang paham kalau Pei Qian Hao meminta Salad Akar Teratai bukan untuk dirinya, melainkan untuk dayangnya.

Gaya rambut Falling Bun, Salad Akar Teratai .... Hal yang disukai wanita ini semuanya berasal dari Nan Zhao. Apakah ia adalah warga Nan Zhao? Bahkan walaupun bukan, paling tidak, ia masih sedikit terkait dengan Nan Zhao.

Akan tetapi, walaupun jika Yun Ruo Feng bisa menyimpulkan itu, eskpresi lembutnya tak menunjukkan apa-apa.

"Hanya Salad Akar Teratai. Pangeran Hao, kau bisa membawa pulang bersamamu saat kau meninggalkan Nan Zhao jika kau menyukainya. Bunga dan polong teratai Nan Zhao punya reputasi di setiap kerajaan." Yun Ruo Feng menuangkan anggur ke cangkirnya sendiri dan mengangkatnya lagi.

Pei Qian Hao tidak menolak dan menuangkan anggur lagi, menghabiskannya dalam satu tegukan. Tadinya, Kantor Hakim Provinsi sudah mempersiapkan penghibur-penghibur cantik guna ditawarkan untuk menuangkan anggur bagi Pangeran Hao, tetapi ditolak. Karena sudah begitu, aku hanya bisa bersulang sendiri untuknya.

Berdiri diam di satu sisi, Hakim Provinsi menjadi begitu resah. Jika ia tidak mengizinkan penghibur cantik mendekat, maka bukankah pertunjukan para penari nantinya juga tak akan ada gunanya?

Sia-sia saja aku mempersiapkan ini semua .... Hakim Provinsi pun hanya bisa menghela napas. Setelah mengetahui kalau Pangeran Hao akan melewati Provinsi Bunga Teratai selama perjalanannya ke Nan Zhao, ia menghabiskan sejumlah besar uang untuk mencari penari dan mendesak mereka berlatih setiap hari. Hari ini semestinya menjadi puncak dari usaha kerasku, tetapi siapa sangka kalau Pangeran Hao hanya memerlukan satu dayang di sisinya.

Tatapan Yun Ruo Feng melayang ke arah Su Xi-er lagi sebelum tersenyum. "Hakim Provinsi Bunga Teratai sudah susah payah mencarikan beberapa penari, berlatih setiap harinya demi kita, tetapi takutnya, Pangeran Hao tidak akan memberikan kita kehormatan itu."

Ia mengubah topiknya di titik ini. "Dari apa yang Pangeran ini lihat, dayang yang berdiri di belakang Pangeran Hao jauh lebih baik ketimbang para penari itu. Aku yakin ia terampil baik dalam menyanyi dan menari. Bagaimana kalau kita memintanya menari atau menyanyikan sebuah lagu?"

Su Xi-er mampu membedakan tatapan bermakna di mata Yun Ruo Feng. Tepat saat ia akan merespon, suara Pei Qian Hao terdengar. "Bagaimana bisa dayang Pangeran ini dibandingkan dengan para penari itu? Sementara untuk mempersembahkan satu tarian, Su Xi-er, kemarilah."

Yun Ruo Feng mengangkat alisnya. Namanya Su Xi-er. Itu nama yang cukup bagus.

"Karena Pangeran Yun sudah mengatakannya, persembahkan satu tarian."

Sudut mulut Su Xi-er terangkat saat ia memperlihatkan senyuman yang nyaris melelehkan hati orang. Ketika Yun Ruo Feng melihatnya, tanpa sadar hatinya pun tenggelam, dan tangannya terkepal bersamaan di dalam lengan jubahnya. Mereka tampak berbeda, tetapi mengapa temperamen mereka begitu mirip?

"Pangeran Yun berpengalaman dan berpengetahuan, pernah melihat tarian yang dipersembahkan oleh Putri Pertama Kekaisaran tiap tahunnya di perjamuaan kerajaan Nan Zhao. Hamba tidak berani mempermalukan diri sendiri di hadapan seorang ahli dengan keterampilan biasa-biasa saja milikku." Su Xi-er melafalkan kata-katanya secara perlahan.

Putri Pertama Kekaisaran .... Ada sedikit perubahan pada ekspresi lembut Yun Ruo Feng. Orang yang mempersembahkan tarian tahun ini sudah berubah.

Beberapa saat kemudian, ekspresi Yun Ruo Feng kembali normal seraya melambaikan tangannya. "Dayang Pangeran Hao pandai berbicara. Karena kau tidak ingin menari, maka Pangeran ini tidak akan mempersulitmu lagi."

Su Xi-er membungkuk. "Terima kasih banyak, Pangeran Yun."

Suara dalam dan rendah Pei Qian Hao segera berbunyi. "Pergi ke halaman belakang dan cari sebuah kamar sebelum merapikannya."

Merasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara Su Xi-er dan Yun Ruo Feng, Pei Qian Hao sengaja menggunakan kata-kata ini untuk mengusir Su Xi-er. Mereka berdua bahkan 'bertukar tatapan menggoda satu sama lain'.

Su Xi-er mengangguk sembari membungkuk, meninggalkan taman belakang sembari membawa buntalan kain.

Hakim Provinsi langsung mengutus seorang gadis pelayan untuk membimbing Su Xi-er ke bagian samping rumah.

***

Di sepanjang jalan, gadis pelayan itu tak berani bicara, tetapi merasa penasaran juga iri terhadap Su Xi-er. Sungguh ada seorang wanita secantik ini di dunia. Setiap pergerakannya menggugah hati orang.

Yang lebih mengagumkan adalah ia sama sekali tidak gugup bahkan saat berhadapan dengan Pangeran Yun dan Pangeran Hao. Ia berhasil mempertahankan sikap tenang dan kalemnya sementara para gadis pelayan yang berdiri di belakangnya begitu kebingungan dan emosional hingga tak berani bernapas, tetapi Su Xi-er menghadapinya dengan mahir sekali.

"Apakah ini tempatnya?" Su Xi-er menunjuk ke barisan kamar-kamar di samping.

Si gadis pelayan segera tersadar dari keadaan terguncangnya dan menggelengkan kepalanya berulang-ulang. "Bukan, jika kita terus berjalan lebih jauh ke depan, akan ada ruang tersendiri yang khusus untuk melayani para bangsawan. Kalau kau mengikutiku, kita akan segera sampai di sana."

Si gadis pelayan pun membimbing jalan, dan kurang dari sepuluh menit, mereka berdua tiba di depan kamar yang dimaksud.

"Ini tempatnya. Kau bisa merapikannya sedikit. Jika kau butuh sesuatu, beritahu aku dan aku bisa membawakannya kemari."

Su Xi-er melambaikan tangannya dan menurunkan buntalan kainnya. "Tidak perlu. Aku seorang pelayan, bukan majikan."

Si gadis pelayan pun hanya bisa tertawa. "Mana mungkin kau seorang pelayan? Dari ekspresi Pangeran Hao dan nada bicaranya, kami semua bisa tahu kalau kau akan mendapatkan posisi sebagai istrinya di masa depan."

Su Xi-er menjawab perlahan, "Kau terlalu banyak berpikir. Apabila Pangeran Hao menyukaiku, mengapa ia menyarankan untuk menganugerahkanku pada Pangeran Yun."

"Yah, Pangeran Yun dan Pangeran Hao kurang lebih sama, bukan? Mereka berdua menyukaimu. Tak peduli siapa yang kau ikuti, kau pasti akan punya kehidupan yang jauh lebih baik ketimbang menjadi seorang dayang."

Su Xi-er melambaikan tangannya. "Cukup, kau boleh pergi."

Si gadis pelayan bisa melihat kalau Su Xi-er tidak senang dan langsung mengangguk. "Baiklah, aku akan keluar sekarang."

Kemudian, pintunya pun tertutup, meninggalkan Su Xi-er seorang diri.

Ia duduk di atas sebuah bangku kayu, matanya terfokus di atas permukaan meja. Ia jelas bisa merasakan tatapan menyelidik Yun Ruo Feng padanya sepanjang waktu; sebuah tatapan yang penuh dengan perasaan yang tak terjelaskan.

Kebencian yang meluap dari mata Su Xi-er langsung lenyap saat sudut bibirnya terangkat. Ia tertawa kecil, diwarnai dengan perasaan jahat.

Tidak jelas berapa lama waktu berlalu sebelum Su Xi-er mulai merapikan kamarnya. Jelas-jelas kamar itu sudah bersih sempurna, tetapi ia masih menyapu dan mengelap seluruh tempat itu. Sewaktu akhirnya ia bisa berbaring di atas selimut, ia menyadari kalau matahari sudah tergantikan oleh bulan sabit yang naik sedikit demi sedikit.

Ada bulan sabit dan tak ada bintang. Bulan sabit melambangkan ketidaksempurnaan, sementara tak adanya bintang menyiratkan kalau cuacanya akan berubah buruk.

Su Xi-er berjalan keluar pintu kamar dan mendongakkan kepala untuk menatap langit malam tak berujung, hatinya perlahan-lahan menjadi tenang. Aku sudah berada di dalam perbatasan Nan Zhao.

Kebetulan sekali Pei Qian Hao melihat penampilan damainya, menyebabkan pria itu tanpa sadar melambatkan langkah kakinya hingga Su Xi-er menyadari keberadaannya.

"Hamba memberi salam pada Pangeran Hao."

Pei Qian Hao berhenti di hadapannya dan menyerahkan satu mangkuk berwarna putih padanya. "Makanlah."

Su Xi-er menundukkan kepala, melihatnya. Salad Akar Teratai.

Melihat ia tidak memakannya, Pei Qian Hao bicara lagi. "Bukannya kau menyukai Salad Akar Teratai? Cepat dimakan."

Su Xi-er mengangguk sebelum mengangkat sendoknya dan mulai menyantapnya. Ia memang menyukai Salad Akar Teratai, tetapi makanan bernutrisi tidak bisa dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Moderasi dalam segala hal.

"Usap mulutmu setelah kau selesai makan. Setelahnya, menarilah untuk Pangeran ini di bawah cahaya bulan di halaman ini." Ekspresi Pei Qian Hao sungguh-sungguh dan nada bicaranya tak tampak seakan ia tengah bercanda.

Tangan Su Xi-er yang sedang memegangi sendok pun menegang. Ini sungguh membuktikan bahwa, "Setelah makan malam, datanglah perhitungannya." Karena aku telah menerima keramahannya, sulit bagiku untuk menolaknya.

"Mempertimbangkan kau menyelesaikannya begitu cepat, tampaknya kau benar-benar menyukai Salad Akar Teratai itu. Apakah sungguh selezat itu?" Tatapan Pei Qian Hao menyapu ke arah mangkuk putih, hanya melihat mangkuk itu sudah kosong.

Su Xi-er tidak merespon. Ia mengeluarkan sehelai saputangan dari lengan pakaiannya, mengusap mulutnya sebelum membawa masuk mangkuk itu ke dalam kamar dan meletakkannya di atas meja.

Sebelum ia bisa berbalik, suara Pei Qian Hao sudah terdengar. "Su Xi-er, keluar dan menarilah."

Su Xi-er mengatupkan bibirnya. Ia tahu, setelah emosinya menyala, pria ini tidak akan menariknya kembali. Aku tidak bisa lolos dari menari kali ini.

Oleh karenanya, ia berjalan keluar kamar dengan tenang, dan membungkuk saat ia berdiri di halaman. "Hamba akan mematuhi perintah Pangeran Hao. Semoga Anda tidak menertawakanku." 

Continue reading CTF - Chapter 99

CTF - Chapter 98

Consort of A Thousand Faces

Chapter 98 : Yun Ruo Feng


Su Xi-er menyadari ekspresi Pangeran Hao menggelap, dan segera mengubah topiknya. "Pangeran Hao, seperti apakah Provinsi Bunga Teratai? Karena ada 'Teratai' dalam namanya, aku hanya bisa membayangkan kalau ada teratai dimana-mana."

"Kenapa repot bertanya pada Pangeran ini kalau kau sudah menebaknya?" Pangeran Hao bersandar lagi di kereta, mendiamkan Su Xi-er.

Ini tepat seperti yang diinginkan Su Xi-er. Setelah mencapai tujuannya, ia pun mengikuti saja, diam-diam menatap tirainya. Ia tahu kalau Yun Ruo Feng berada tepat di luar kereta, satu-satunya yang memisahkan mereka adalah tirai ini.

Mereka berjalan sekitar empat jam lagi dan baru tiba di Kantor Pemerintahan Provinsi Bunga Teratai sebelum suara menenangkan Yun Ruo Feng mengalir masuk ke dalam kereta kudanya.

"Pangeran Hao, kita sudah sampai. Silakan turun dari kereta."

Pei Qian Hao membuka matanya dan memandangi Su Xi-er sebelum menyibak tirainya. "Turun setelah aku." Ia memerintahkan dan keluar dari kereta.

Su Xi-er mengintip dari celah di antara tirai, sekali lagi bertemu pandang dengan tatapan menyelidik Yun Ruo Feng. Namun, sebelum ia bisa memandang cukup lama, tangan seorang pria menyelinap melewati tirai dan meraih tangan Su Xi-er, dengan cepat menariknya keluar.

Saat akhirnya Su Xi-er mendapatkan kembali keseimbangannya, ia menyadari kalau tangannya sudah melingkar di sekeliling Pei Qian Hao. Pasukan Nan Zhao yang ada di sekitar pun tercengang.

Ternyata ada seorang wanita cantik di dalam keretanya? Ia bahkan jauh lebih cantik daripada Putri Pertama Kekaisaran, Ning An Lian! Pangeran Hao dari Bei Min menyukai wanita cantik sampai-sampai ia bahkan tidak bisa pergi ke perjamuaan kerajaan Nan Zhao tanpa membawanya!

Su Xi-er langsung menarik tangannya dan membungkuk ke arah Pei Qian Hao. "Hamba minta maaf karena telah melanggar batas; mohon ampuni aku."

Tatapan Pei Qian Hao tertuju padanya sejenak sebelum mengalihkan matanya ke arah Yun Ruo Feng. "Dahulu, pertama kali kita bertemu adalah di medan perang, dan hari ini kita bertemu untuk yang kedua kalinya di Kantor Pemerintahan Provinsi. Bagaimana rasanya tahun pertamamu menjadi seorang Prince Regent?"

Para pasukan Nan Zhao tidak senang.Berani sekali ia bicara seperti itu pada Pangeran Yun! Ini adalah hak Pangeran Yun, tetapi dengan mengatakan, 'bagaimana rasanya', bukankah ia menyiratkan kalau Pangeran Yun merampas posisi itu? Meskipun kau adalah Pangeran Hao dari Bei Min, paling tidak kau harus menunjukkan rasa hormat paling dasar karena kau sudah datang ke Nan Zhao!

Serentak, atmosfernya jadi tegang.

Akan tetapi, Yun Ruo Feng, tetap tak terpengaruh, dan terus tersenyum. "Tentu saja aku tidak bisa dibandingkan dengan tahun pertama Pangeran Hao sebagai penguasa. Tak perlu diutarakan lagi, aku yakin kau paham sekali bagaimana rasanya menjadi seorang Prince Regent, Pangeran Hao. Kantor Pemerintahan Provinsi sudah mempersiapkan hidangan berkualitas tinggi. Silakan masuk."

Pei Qian Hao tidak merespon dan berjalan masuk ke kantor pemerintahan, melempar pandang pada Su Xi-er agar mengikutinya.

Su Xi-er berjalan di belakang Pei Qian Hao dan Yun Ruo Feng, memperhatikan mereka berjalan beriringan. Salah satunya tampak elegan dan lembut dengan jubah putih bermotif awannya, sementara yang lainnya menguarkan aura jahat dan arogan dengan jubah hitam bermotif ularnya.

***

Perjamuannya diadakan di taman belakang kantor pemerintahan. Setiap pelayan menatap selagi mereka melihat Pangeran Hao dan Pangeran Yun, dua pria tertampan di dunia. Selagi mereka berjalan bersamaan, walaupun watak mereka jauh berbeda, masing-masingnya memiliki daya pikat tersendiri.

Setelah bekerja sebagai pelayan sekian lama, aku tidak percaya kalau akhirnya aku berkesempatan melihat langsung kedua pangeran ini! Kegembiraan dan kebahagiaan di wajah mereka tidak bisa disembunyikan.

Tamannya luas. Dikelilingi oleh pepohonan dan kebun bunga di kedua sisinya, dengan satu kolam penuh bunga teratai di kejauhan. Di bagian tengah tamannya, ada sebuah meja bundar besar yang menyajikan berbagai kuliner khas Nan Zhao.

"Pangeran Hao, silakan duduk." Yun Ruo Feng menarik bangku mahogani untuk Pei Qian Hao di kursi utama.

Pei Qian Hao mengangguk dan duduk. Tepat setelah ia melakukannya, dua gadis cantik datang dan langsung mencoba mengajak Pangeran Hao berbicara dengan suara manis dan lembut mereka.

Melihat ini, Su Xi-er pun berhenti dan berdiri diam di satu sisi, sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun.

Pei Qian Hao mengernyit saat ia menyadari tak adanya reaksi dari Su Xi-er. Mengerutkan alisnya, ia melambaikan tangan untuk mengusir kedua gadis cantik itu, dan menunjuk Su Xi-er. "Kemarilah."

Langsung saja, tatapan semua orang tertuju pada Su Xi-er, dan Yun Ruo Feng mengamatinya dengan lebih saksama.

Menyadari gaya rambut Su Xi-er, ekspresi Yun Ruo Feng agak berubah. Itu adalah .... Gaya rambut Falling Bun .... Tampak sangat familier.

"Kemari atau tidak?" Pei Qian Hao menekankan tiap katanya sementara berbicara dengan nada rendah.

Su Xi-er berjalan mendekat dan menuangkan secangkir anggur untuknya.

Pei Qian Hao memandangi Yun Ruo Feng. "Pangeran Yun, kenapa kau belum duduk juga?"

Tersenyum lembut, Yun Ruo Feng menarik bangku mahogani lain dan mendudukkan diri. "Semua orang mengatakan bahwa ada banyak sekali wanita cantik berseliweran di sekitar Pangeran Hao. Akhirnya berkesempatan menyaksikannya sendiri hari ini, rumornya memang benar. Bahkan dayang di sampingmu saja, memiliki kecantikan yang mempesona."

"Di antara semua dayang di sekelilingku, ia adalah yang paling cantik." Pei Qian Hao berkomentar tenang. Alis ramping Su Xi-er agak melengkung. Apa yang tengah direncanakannya?

Yun Ruo Feng memandangi Su Xi-er penasaran, mengalihkan matanya pada Falling Bun lagi. "Nona, apakah kau berasal dari Nan Zhao? Hanya para wanita di Nan Zhao yang tahu caranya menyisir gaya rambut Falling Bun."

Ucapannya menarik perhatian Pei Qian Hao. Ia pikir kalau gaya rambutnya unik, dan ia belum pernah melihatnya sebelumnya di Bei Min. Jadi gaya rambut ini namanya adalah 'Falling Bun' dan hanya wanita dari Nan Zhao saja yang tahu cara menatanya?

Su Xi-er menjawab tanpa tergesa, "Pangeran Yun, hamba tahu cara menata gaya rambut ini semenjak masih kecil. Dulu, aku punya seorang kakak perempuan yang pernah ke Nan Zhao sebelumnya. Ia merasa kalau gaya rambut ini sangat cantik, dan karena itu, mempelajarinya. Setelah kembali ke Bei Min, ia mengajari hamba. Namun, baru hari ini saja hamba tahu kalau ini dinamakan 'Falling Bun'."

Yun Ruo Feng tersenyum ramah padanya. Temperamennya tidak seperti seorang dayang, dan ia bahkan tenang saat berhadapan dengan Pangeran Hao dan diriku.

Su Xi-er tidak memiliki rasa takut, dan langsung bertemu pandang dengan mata Yun Ruo Feng tanpa menunjukkan emosi apa pun, sementara menguarkan aura tenang dan anggunnya.

Keheranan akan sikapnya, Yun Ruo Feng merasa dadanya mengencang. Sudah berapa lama semenjak aku merasakan watak seperti ini? Ia benar-benar mirip ....

"Pangeran Yun, sejak kau memasuki tempat ini, sesekali, kau mengamati dayang Pangeran ini. Apabila kau menyukainya, bagaimana kalau aku menghadiahkannya padamu?" Pei Qian Hao mengangkat satu sudut bibirnya, tatapan tak terbaca di matanya.

Merasakan ketidaksenangannya, Su Xi-er pun langsung menjawab, "Pangeran Hao, hamba mengikuti Anda dan tidak mau pergi. Mohon jangan sembarangan memberikan hamba kepada orang lain."

Ucapannya jelas dan tegas, mengejutkan setiap pelayan dan gadis cantik yang hadir. Wanita ini baru saja menyatakan perasaannya pada Pangeran Hao di hadapan semua orang? Memang bisa dipahami karena karisma Pangeran Hao mampu memerangkap jiwa, tetapi berpikir kalau ia bahkan berani mengutarakan perkataan semacam itu hanya karena ia sangatlah cantik.

Pei Qian Hao tidak menduga responnya. Ia mengetukkan jarinya dengan ringan di atas meja. "Itu akan tergantung pada Pangeran Yun."

Yun Ruo Feng tertawa. "Pangeran ini tidak pernah memaksa wanita. Karena ia tidak bersedia, tentu saja aku tidak bisa menerimanya. Keberuntungan semacam ini hanya milikmu, Pangeran Hao."

Kerumunan pun tertegun akan ucapan Pangeran Yun kali ini. Mereka bisa tahu, apabila Su Xi-er berkenan, maka Pangeran Yun akan menerimanya. Ya Tuhan! Dua pria tertampan di dunia sedang 'memperebutkan' seorang wanita?!

Pei Qian Hao memandangi Su Xi-er. "Kalau begitu, kau harus tetap berada di sisi Pangeran ini. Pergi dan berdirilah di samping."

Walaupun Pei Qian Hao berbicara dengan lembut, itu memperlihatkan kekuatannya.

Su Xi-er mengikuti perintahnya dan berdiri di satu sisi. Akan tetapi, ia terus merasakan tatapan lembut yang memandangi dirinya atau sanggul rambutnya, entah secara sengaja atau tidak disengaja.

Yun Ruo Feng segera menyingkirkan tatapannya dan mengangkat cangkir anggurnya. "Pangeran Hao sudah datang dari jauh. Secangkir anggur ini untuk menunjukkan ketulusan Nan Zhao. Mari minum untuk hubungan damai dan ramah di antara kedua kerajaan."

Pei Qian Hao mengangkat cangkir anggurnya sendiri dan mengangguk sebelum meneguknya sekali minum.

"Pangeran Hao, semua yang ada di atas meja adalah makanan khas Nan Zhao. Silakan dinikmati." Yun Ruo Feng tetap hangat dan ramah.

Pei Qian Hao menatap hidangannya dan mulai mencari sesuatu. "Aku dengar kalau Nan Zhao memiliki sebuah hidangan bernama Salad Akar Teratai yang berasal dari Provinsi Bunga Teratai."

"Kau benar, tetapi hanya para wanita yang suka memakannya. Pria biasanya tidak memakan hidangan itu. Pangeran Hao, apakah kau ingin mencobanya?" 

Continue reading CTF - Chapter 98

CTF - Chapter 97

Consort of A Thousand Faces

Chapter 97 : Memasuki Nan Zhao


"Kenapa masih belum pergi juga?!" Pei Ya Ran menyalak kasar, menyebabkan para dayang di dekatnya hampir tersandung mematuhinya.

Pei Ya Ran mengalihkan tatapannya pada Bunga Ungu Harum. Aku keliru telah menyalahkan Su Xi-er. Namun, aku penasaran tentang seberapa cantiknya si wanita sipil itu. Jika ia membawanya masuk ke Istana Kecantikan .... Sudut mulut Pei Ya Ran agak melengkung, maka aku harus membunuhnya.

Dengan keputusan yang telah dibuatnya, Pei Ya Ran mengangkat kepalanya, menatap langit biru cerah. Pei Qian Hao, aku tidak peduli tentang wanita lain yang ada di Istana Kecantikan, tetapi jangan salahkan aku karena bertindak kasar apabila kau membawa seorang wanita sipil kemari.

Tetapi, Pei Ya Ran tidak tahu kalau 'wanita sipil' ini, tepatnya adalah, Su Xi-er.

***

Su Xi-er tengah duduk di dalam kereta sementara Pei Qian Hao berbaring bersandar di dinding kereta dengan mata terpejam. "Setelah kita tiba di Nan Zhao, aku akan menyuruh seseorang merebuskan obat untukmu. Apakah kau merasa lebih baik?"

Su Xi-er mengangguk. "Jauh lebih baik. Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Pangeran Hao."

"Perhatian? Ini pertama kalinya Pangeran ini mendengar seseorang mengatakan kalau aku mencemaskan tentang orang lain. Apabila tubuhmu tidak sehat, siapa yang akan melayani Pangeran ini selama perjalanan? Pangeran ini hanya mempertimbangkannya untuk diriku sendiri."

Kereta kudanya meninggalkan provinsi kecil itu dengan cepat, bergegas mendekati perbatasan antara Bei Min dan Nan Zhao.

Tatapan mencemooh menyala di mata Pei Qian Hao. "Ada pengungsi di perbatasan. Jadi begini, cara Pangeran Yun memerintah Nan Zhao."

Hati Su Xi-er menegang dan mengikuti arah pandangannya, melihat sebaris rakyat jelata berjongkok di pinggir jalan. Tiap orang tampak pucat dan kurus sambil mengenakan pakaian compang-camping.

Sudah jelas kalau para pengungsi ini ingin pergi ke Bei Min, tetapi tidak bisa lewat dikarenakan peraturan ketat di perbatasan.

Perbatasan masih belum sampai begini ketika ia masih hidup. Kalau terus begini, musuh kuat akan masuk dari perbatasan dan menginvasi Nan Zhao. Tak peduli dengan seluruh kerja keras yang dilakukan untuk mengangkat kekuatan nasional Nan Zhao menjadi peringkat kedua di seluruh empat kerajaan, pasti akan jatuh ke tempat terakhir jika ini terus berlanjut.

Pei Qian Hao berkomentar tanpa tergesa, "Pangeran Yun hanya cocok untuk memimpin pasukan menuju peperangan. Jika soal memerintah suatu kerajaan, ia jauh lebih payah daripada seorang wanita." Si 'wanita' yang dimaksud olehnya, tak lain tak bukan adalah Ning Ru Lan.

"Pangeran Hao, dulu, Anda tidak pernah pergi ke perjamuaan kerajaan Nan Zhao, jadi mengapa Anda memutuskan untuk datang kali ini?" Su Xi-er menyuarakan keheranannya. Ia ingat, ia pernah mengirimkan sepucuk surat kepada Pei Qian Hao, tetapi ia langsung menolaknya.

"Ning Ru Lan sudah mati, dan urusan kerajaan diserahkan ke tangan kaisar muda yang tidak kompeten, serta Pangeran Yun yang bertindak sebagai Prince Regent untuk pertama kalinya. Ini merupakan masa-masa krusial Nan Zhao. Pangeran ini datang, ingin melihat bagaimana Nan Zhao telah berubah."

Su Xi-er mampu membedakan tatapan berbahaya di bola mata Pei Qian Hao. Ia memanfaatkan perjamuan kerajaan untuk mengintai Nan Zhao. Apabila ia merasa Nan Zhao lemah, apakah ia berencana untuk mengumpulkan pasukan dan menyerangnya?

"Namun, Pangeran ini lebih tertarik memeriksa apakah kebijakan Ning Ru Lan yang baru diterapkan telah dihapuskan."

Hati Su Xi-er terasa tegang lagi. Ada pengungsi di perbatasan, dan karena kebijakan baru mengancam orang-orang kaya dan berkuasa, ada sedikit kemungkinan kalau itu telah dihapuskan.

"Pangeran Hao." Suara seorang pengawal terdengar saat kereta kudanya mendadak berhenti.

Setelah menyibak tirai kereta kudanya, ekspresi jahat dan nakal melewati matanya. "Pangeran Yun datang sendiri."

Ketika Su Xi-er mendengar kata-kata 'Pangeran Yun', ia merasa hatinya diremas. Aku tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengannya secepat ini.

Yun Ruo Feng, apa kau tahu, kalau aku, Ning Ru Lan, masih hidup? Kau menginginkanku mati, tetapi sayangnya bagimu, itu tidak terjadi. Aku sungguh penasaran, bagaimanakah perasaanmu jika kau mengetahuinya. Apakah kau akan merasa sangat kecewa?

Pei Qian Hao menurunkan tirai dan bersandar di dinding kereta. Suara tapak kuda sedikit demi sedikit mendekat.

"Pangeran Hao, apakah Anda tidak akan turun dari kereta kuda?" Mau tak mau, Su Xi-er pun bertanya.

Terdapat tatapan jail di mata Pei Qian Hao. "Kenapa aku harus turun? Jangan bilang kau bermaksud menyuruh Pangeran ini tinggal di perbatasan ini?"

Su Xi-er merasakan kekurangajaran dan kearoganannya lagi. Walaupun Yun Ruo Feng merupakan orang paling berkuasa di Nan Zhao, ia sama sekali tak ada harganya di mata Pei Qian Hao.

"Nan Zhao merasa sangat terhormat karena kau meluangkan waktu untuk menempuh perjalanan kemari. Provinsi Bunga Teratai sudah mempersiapkan hidangan berkualitas tinggi, dan tengah menanti kedatanganmu." Suara mengesankan dan jernih milik Yun Ruo Feng memasuki telinga Su Xi-er. Masih selembut dan seindah yang diingatnya.

Kalau saja ini di masa lalu, wajahnya pasti sudah berseri penuh kegembiraan mendengarkan suaranya. Akan tetapi, sekarang yang tersisa hanyalah kebencian.

Pei Qian Hao melirik Su Xi-er. Kenapa kepalanya ditundukkan? Meskipun merasakan kebingungan dalam hatinya, ia tahu kalau ini bukan saat yang tepat menanyainya.

"Pangeran Yun, karena kau begitu menghargai Bei Min dengan datang sendiri kemari untuk menyambutku, bagaimana mungkin Pangeran ini tidak menerima undangannya? Mohon pimpin jalan menuju Provinsi Bunga Teratai." Pei Qian Hao tidak mengangkat tirai kereta kudanya semenjak ia mulai berbicara.

Suaranya mengalir masuk ke telinga Yun Ruo Feng, tetapi si pemilik suaranya tak tampak.

Pasukan Nan Zhao di luar kereta kuda agak geram. Pangeran Yun datang secara pribadi. Meskipun Pangeran Hao dari Bei Min tidak turun dari kereta kuda, paling tidak ia harusnya mengangkat tirai kereta kudanya!

Ia memperlakukan Pangeran Yun dengan penghinaan, dan memandang rendah Nan Zhao!

Yun Ruo Feng dapat merasakan ketidakpuasan para pasukan dan melemparkan pandangan penuh makna untuk menenangkan emosi mereka. Kemudian, ia menjawab, "Pangeran Hao, silakan beristirahat dengan baik di dalam kereta kudamu. Provinsi Bunga Teratai hanya berjarak sepuluh mil jauhnya."

Saat kereta kudanya lanjut bergerak, angin meniup tirainya hingga tersibak. Melirik ke luar, Su Xi-er menangkap pemandangan seseorang di atas kuda, mengenakan pakaian serba putih.

Pakaian putih dengan desain awan. Mata Su Xi-er agak menyipit. Pakaian yang sama yang dikenakannya malam itu saat membunuhku.

Secara kebetulan, tatapan Yun Ruo Feng juga berbalik dan mendarat pada Su Xi-er yang duduk di dalam kereta kuda. Matanya dipenuhi pertanyaan tak terjawab selagi ia terus memandang.

Su Xi-er mengangkat kepalanya, memandang lurus padanya. Paling tidak, ia tidak berubah. Ia masih memiliki raut wajah yang tampan dan elegan. Alis lurusnya agak menukik ke atas, dan mata hitam legamnya membawa rasa kebingungan serta kontemplasi.

Tiba-tiba saja, tirai kereta kudanya ditarik turun oleh tangan besar sebelum suara dalam dan rendah seorang pria terdengar. "Apa sudah cukup melihatnya?"

Su Xi-er memutus pandangannya. "Hamba hanya sedang melihat pemandangan Nan Zhao di kedua sisi jalannya."

"Tanah kuning, batu bata keabuan, dan tak banyak pepohonan. Pemandangan di perbatasan bahkan tak bisa dibandingkan dengan separuhnya dari Bei Min. Apanya yang bisa dilihat?"

Su Xi-er bisa mendengarkan celaan dalam suaranya dan berinisiatif untuk mengalah. "Hamba belum pernah meninggalkan istana kekaisaran, terlebih lagi Bei Min. Jadi tak bisa dihindari apabila hamba jadi penasaran ketika datang ke Nan Zhao."

Pei Qian Hao jelas-jelas tidak mempercayai pembenarannya. "Dari apa yang kulihat, rasa penasaranmu bukanlah terhadap pemandangan Nan Zhao, melainkan Pangeran Yun."

Kemudian, ia bersandar mendekati Su Xi-er. "Angkat kepalamu dan tatap mata Pangeran ini."

Mata orang tidak berbohong. Jika ia merasa bersalah, ekspresi di matanya akan merefleksikannya.

Su Xi-er memandanginya tepat di matanya, benar-benar acuh tak acuh. "Pangeran Hao, hamba baru saja melihatnya sekarang, bahwa Pangeran Yun tidak setampan Anda."

Pei Qian Hao kaget, tetapi dengan cepat kembali normal. Ia tidak menduga gadis itu akan memberi jawaban semacam ini.

Hanya setelah memikirkan ucapannya, barulah ia menyimpulkan gadis ini sangat cerdas. Dengan mengubah topiknya, bukan hanya ia berhasil menebus kesalahannya karena berbohong, ia bahkan menyanjungku.

Akan tetapi, kali ini, ia tidak merasa puas.

"Kau terlalu menjilat selagi mencoba menyanjungku. Pangeran ini merasa tidak nyaman."

Su Xi-er menjawab perlahan, "Itu pasti karena Anda sudah duduk terlalu lama di dalam kereta kuda. Tak bisa dihindari lagi jika Anda merasa tidak nyaman."

"Kau pasti bercanda. Pangeran ini bahkan tidak merasa letih saat berkuda selama beberapa hari dan malam. Mana mungkin Pangeran ini merasa tak nyaman hanya dengan duduk di dalam kereta kuda?" Pei Qian Hao mencondongkan diri lebih dekat lagi. Mari kita lihat, bagaimana ia akan menjawabnya kali ini.

Su Xi-er berpindah ke samping. "Kalau begitu, Anda bukannya tidak nyaman, tetapi hanya sedang ingin menakuti hamba saja barusan ini."

Ucapannya membuat wajah Pei Qian Hao menggelap. Dasar mulut yang luar biasa. Ia memasang perangkap untukku.

Yang lebih menggelikan lagi adalah tanpa mencurigainya, aku masuk dalam jebakannya. Menyadari hal ini, ia jadi semakin tidak senang.

(T/N : akhirnya si yun jahat muncul -____-)

Continue reading CTF - Chapter 97

CTF - Chapter 96

Consort of A Thousand Faces

Chapter 96 : Wanita Sipil


Su Xi-er memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam sebelum mendorongnya menjauh. "Hamba telah membunuh seseorang."

"Biarkan saja. Lagipula, mereka pantas mati." Pei Qian Hao melepaskannya sebelum mengangkat tangannya, mencoba menghapus air mata dari matanya. Akan tetapi ....

Su Xi-er kaget. Aku tidak menangis. Apanya yang ia usap?

"Kau tidak menangis." Pei Qian Hao menyatakan perlahan. Setelahnya, ia menarik tangannya dan memandangi dua pria yang tergeletak di lantai.

Wu Ling memilih tepat di waktu ini untuk berjalan masuk ke dalam kamar, melonjak kaget saat menyadari pemandangan di hadapannya. Apakah kedua pria ini dibunuh oleh Su Xi-er?

Bagi seorang wanita mungil dan lemah, membunuh dua orang pria dengan kedua tangannya sendiri .... Seberapa besar keberanian dan kekuatan yang dibutuhkannya ....?

"Sampaikan titah lisan Pangeran ini untuk memanggil Hakim Provinsi. Bubarkan semua orang lain yang ada di penginapan." Suara Pei Qian Hao datar, tetapi dipenuhi aura menekan.

Wu Ling segera membungkuk dan menerima perintah sebelum pergi dengan cepat.

Fakta bahwa Pangeran Hao tinggal di penginapan telah membuat pusat perbincangan di seluruh provinsi kecil itu. Ketika si Hakim Provinsi menerima kabar mengenai insiden ini, ekspresinya berubah sepenuhnya. Saat Pengawal Kekaisaran Wu melaporkan ada insiden fatal, Hakim Provinsi pun hanya bisa gemetaran lagi.

Berhasil bertahan dengan gelar Hakim Provinsi, tentunya aku mengidam-idamkan hal tertentu, tetapi tak pernah menduga kalau aku akan memprovokasi Pangeran Hao.

***

Dengan penginapan yang dikarantina, menghalangi siapa pun keluar atau masuk, pengurus dan pegawainya hanya bisa gelisah menantikan nasib mereka.

Hakim Provinsi mengikuti Wu Ling ke lantai atas menuju Kamar Earth Word di lantai dua. Noda darahnya sudah dibersihkan, meninggalkan jenazah pucat kedua orang pria yang terbaring di lantai.

"Pejabat rendahan ini memberi hormat pada Pangeran Hao." Hakim Provinsi pun berlutut dengan bunyi gedebuk.

"Ini adalah provinsi kecil dengan sedikit penduduknya. Apakah kau mengenali kedua pria ini?"

"Pejabat rendahan ini ... mengenal mereka. Mereka menjual daging babi di sisi barat. Mereka senang menghabiskan perak dan bermain-main dengan wanita."

Si Hakim Provinsi sudah menghukum kedua pria ini berulang kali, tetapi karena mereka tidak pernah mengancam nyawa orang lain dan juga kerap memberikan banyak perak, ia hanya menahan mereka selama beberapa bulan sebelum melepaskan mereka. Siapa yang akan berpikir kalau keduanya akan memprovokasi Pangeran Hao.

"Melecehkan wanita yang tidak bersalah. Kejahatan ini cukup untuk memenggal kepala mereka. Kau, buang kedua orang ini ke makam masal tak bertanda dan beri makan pada serigala. Buatkan pengumuman publik di papan pengumuman; nasib mereka akan jadi pencegahan bagi yang lainnya. Jika hal semacam ini terjadi lagi, pancung mereka di depan umum tanpa pengecualian." Nada suara Pei Qian Hao dingin, dan ekspresinya serius.

Hakim Provinsi pun menggigil. "Bawahan ini mematuhi perintah." Ia langsung bangkit dan menginstruksikan petugas pengadilan provinsi untuk mengangkut kedua pria itu pergi.

Kerumunan di luar penginapan terkejut hingga memucat saat mereka melihat dua jasad dibawa keluar. Akan tetapi, setelah mengenali wajah mereka, mereka malah jadi senang.

"Akhirnya, kedua orang ini diadili. Bertingkah sombong dan menindas begitu banyak gadis hanya karena mereka punya beberapa perak, tahu rasa mereka! Semestinya, mereka juga menyita harta keluarga mereka."

Hakim Provinsi pun menginstruksikan para petugas pengadilan untuk cepat-cepat membawa pergi jasadnya agar menghindari menarik gosip dan membuat dirinya terlibat.

***

Di dalam kamar Earth Word, Wu Ling bertanya bingung, "Pangeran Hao, pasti ada masalah dengan si Hakim Provinsi. Mengapa Anda tidak menghukumnya?"

Pei Qian Hao berdiri. "Tentu saja ia harus dihukum; Pangeran ini memerintahkanmu untuk segera memancungnya. Kau akan ditugaskan mengawasinya sementara waktu hingga seorang hakim provinsi baru mengambil alih posisinya. Setelah mereka tiba, kau akan pergi ke Nan Zhao."

"Ah?" Wu Ling tertegun. Ia menyuruhku menggantikan sementara posisi sebagai Hakim Provinsi.

"Urusan ini sudah ditetapkan. Tidak perlu diskusi lebih lanjut." Lalu, Pei Qian Hao pun membawa Su Xi-er ke Kamar Heavenly Word, menenangkannya sementara para pengawal berdiri di depan pintu.

***

Su Xi-er sedang duduk di atas bangku kayu saat ia mendengar suara pintu terbuka. Ia langsung berdiri dan membungkuk pada Pei Qian Hao. "Terima kasih banyak pada Pangeran Hao."

Pei Qian Hao melambaikan tangannya. "Tidak perlu berterima kasih. Kau menyingkirkan momok yang menghantui orang-orang. Menghabisi mereka berdua masing-masing hanya dengan satu sayatan, tampaknya kau cukup terampil."

"Hamba sama sekali tidak terampil. Aku hanya sembarangan mengacungkan guntingnya."

"Kau melakukannya dengan baik, membunuh kedua orang ini. Apakah kerangka pikiranmu sudah pulih?"

Su Xi-er mengangguk. "Aku sudah sadar."

"Baiklah, kita akan segera menuju Nan Zhao."

Walau tadinya aku berencana untuk menghabiskan semalam di provinsi kecil ini, insiden ini sudah membuat hal itu mustahil.

***

Kereta kudanya sudah dipersiapkan untuk keberangkatan mereka. Semua rakyat jelata berada paling tidak lima puluh meter jauhnya, sementara semua orang yang berada di penginapan, selain pengurusnya, semua sudah dibubarkan.

Mengetahui bahwa orang yang tinggal di penginapannya adalah Pei Qian Hao, si pengurus penginapan hanya menangkap sekelebat sosok si pangeran sebelum menundukkan kepala, tak lagi berani mengintip.

Rakyat jelata yang melihat Pei Qian Hao berjalan keluar dari penginapan dari kejauhan hanya bisa meneriakkan, "Pangeran Hao! Pangeran Hao!" Mereka bersorak kencang, dan luar biasa bersemangat. Dalam hati mereka, Pangeran Hao adalah Langit.

Pei Qian Hao menuju ke sisi kereta kuda dan melingkarkan satu lengan di sekeliling pinggang Su Xi-er sebelum menariknya naik ke atas kereta kuda.

Rakyat yang menyaksikan adegan ini hanya bisa saling pandang kebingungan. Menilai dari sosok dan gaunnya, itu seorang wanita! Tetapi, karena mereka terlalu jauh, mereka tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas.

Pangeran Hao sungguh membawa seorang wanita menemaninya ke Nan Zhao! Ini merupakan berita besar! Dalam sekajap, kabar ini telah menyebar ke seluruh provinsi kecil ini hingga ke ibu kota.

***

Dengan sampainya kabar itu di ibu kota, tentu saja akan menyebar pula di dalam istana kekaisaran. Di Taman Kekaisaran, Pei Ya Ran tengah menikmati pemandangan Bunga Ungu Harum, yang berwarna ungu anggun dan sederhana. Karena semua bunganya bermekaran, itu adalah musim terbaik untuk mengagumi mereka.

Dengan Bunga dan He Ying yang sudah pergi, ia hanya bisa datang ke Taman Kekaisaran untuk mengamati Bunga Ungu Harum saat ia sedang bosan.

"Ibu Suri, sudah larut. Kita harus kembali ke istana untuk makan malam." Setelah He Ying dikirim pulang ke Kediaman Pei, dayang lainlah yang melayani di sisi Pei Ya Ran. Dayang ini tidak banyak bicara, dengan tegas menjaga peranannya selagi menjalankan tugas.

"Ibu Suri ini tidak punya selera makan dan akan melihat-lihat sebentar lagi. Kau kembali saja." Nada suara Pei Ya Ran tenang bersama dengan tatapannya yang terus tertuju pada bunga-bunga, tanpa sadar mengingat saat Pei Qian Hao mengimpor Bunga Ungu Harum ini dari kerajaan lain.

Dayang itu tidak merespon, sebaliknya, tetap berada di sisi Ibu Suri dalam diam.

Tepat saat inilah, sekelompok dayang penggosip bergegas menuju ke arah sini.

"Apakah itu benar? Pangeran Hao membawa seorang wanita bersamanya ke Nan Zhao?"

"Itu benar. Semua orang yang ada di dalam maupun di luar istana sudah mengetahuinya. Semua orang bilang kalau Pangeran Hao bertemu dengan seorang wanita sipil di sepanjang perjalanannya. Melihat wajah cantiknya dan mempertimbangkan tak adanya wanita yang melayani di sisinya, ia memutuskan untuk membawanya."

"Kalau begitu, akan ada wanita baru lagi di Istana Kecantikan ...." Sebelum dayang itu bisa selesai berkomentar, ia melihat Ibu Suri.

Semua dayang langsung membungkuk. "Hamba memberi salam pada Ibu Suri."

Pei Ya Ran tampak mengerikan. "Beritahukan padaku semua detail mengenai kabar yang kalian dengar."

Nada memaksa dan ekpsresi serius yang dikenakan Pei Ya Ran membuat semua dayang istana ketakutan hingga mereka tak berani bernapas.

Pei Ya Ran menunjuk dayang yang berada di depan dan menekankan kata-katanya lebih jauh, "Katakan."

"Melaporkan pada Ibu Suri, rumornya mengatakan bahwa Pangeran Hao ... bertemu dengan seorang wanita sipil sewaktu melakukan perjalanan ke Nan Zhao. Wanita ini sangatlah cantik, mendorongnya agar membawa wanita itu di sisinya, bahkan menaikkannya sendiri ke dalam kereta kudanya."

Setiap katanya terasa bagaikan gada yang menghantam kepala Pei Ya Ran. Ia memungut wanita lain lagi. Apakah ia jauh lebih cantik daripada Su Xi-er? Dilihat dari keadaannya, tampaknya ia benar-benar tidak menganggap Su Xi-er dalam hatinya. Akulah yang tampak bodoh sementara melampiaskan amarahku pada Su Xi-er.

Aku memahami karakternya. Ia tidak menganggap wanita dengan serius.

Pei Ya Ran melambaikan tangannya. "Ibu Suri ini sudah mengerti. Cepat pergi."

"Baik." Para dayang itu langsung membungkuk dan pergi dengan tergesa.

Sudut mulut Pei Ya Ran mengandung senyum pahit. Segera setelahnya, ia menginstruksikan dayang di sebelahnya. "Pergilah menuju Departemen Rumah Tangga Kekaisaran, cari Kasim Zhang. Katakan padanya untuk membawa pengawal kekaisaran di istana ke Istana Kecantikan dan kirim Su Xi-er kembali ke Istana Samping untuk meneruskan tugasnya di istana kekaisaran."

Aku sudah tahu sikapnya terhadap Su Xi-er tanpa harus menunggunya kembali. Ia bahkan mengoleksi seorang gadis cantik di sisinya hanya dengan menempuh perjalanan ke Nan Zhao. Benar-benar menggelikan!

Continue reading CTF - Chapter 96