Consort of A Thousand Faces
Chapter 390 : Selubung Asap
Keesokan harinya terang dan cerah, kontras sekali dengan nuansa tegang di ibu kota Bei Min sewaktu rakyat dengan gugup memandangi pengawal Pasukan Tentara Kekaisaran yang melintasi jalanan.
Berita mengenai Ibu Suri yang menghilang sudah menyebar layaknya kebakaran. Sekelompok besar pengawal dari Pasukan Tentara Kekaisaran telah dikirim dalam semalam untuk mencari sepanjang jalan dari ibu kota menuju ke pinggiran kota dan pedesaan, menyisir seluruh rumah dan tempat bisnis.
Tak peduli seberapa keheranannya para warga sipil, mereka ketakutan sampai-sampai tidak berani mengucapkan sepatah kata pun ketika mereka melihat sekelompok prajurit dan ekspresi serius mereka.
Hanya setelah lewat tengah hari, ketika jumlah prajurit yang berkeliaran di jalanan menyusut, barulah rakyat jelata berani untuk mulai bergosip.
"Mengapa Ibu Suri menghilang? Sulit dipercaya kalau ia diculik; kita hanya akan menjadi bahan tertawaan jika kerajaan lain mengetahui tentang ini!"
"Tepat sekali, Bei Min sudah mempermalukan dirinya sendiri. Sulit dipercaya bahwa ada seseorang yang mampu menyelinap masuk ke dalam istana kekaisaran dan menculik Ibu Suri dengan seberapa ketatnya keamanannya."
Seorang pria tua berambut putih pun batuk. "Kita tidak bisa memastikan kalau ia diculik. Pernikahan Pangeran Hao akan segera tiba, tetapi dengan menghilangnya Ibu Suri, apa kalian semua berpikir bahwa pernikahannya masih bisa berjalan seperti biasa?"
Kerumunan pun tercerahkan setelah pengingatnya. Beberapa orang bahkan menampar paha mereka. "Itu sangat mungkin! Barangkali, Ibu Suri pergi atas kemauannya sendiri? Ia jelas-jelas menentang Pangeran Hao menikahi putri angkat Guru Agung Kong. Aku penasaran, apa status wanita itu sebelumnya."
Seorang pria paruh baya tertawa terbahak-bahak. "Kuberitahukan kalian satu rahasia; aku dengar bahwa, tadinya ia menggosok pispot di Istana Samping."
Ucapannya mengejutkan semua orang. Seorang dayang istana yang hanya pantas untuk menggosok pispot akan melonjak ke status Hao Wang Fei! Bagaimana mungkin Ibu Suri bisa menyetujui hal itu? Jadi itulah sebabnya, ia pergi dengan kesal!
Selama Ibu Suri tidak ditemukan, Pangeran Hao tidak akan bisa melanjutkan pernikahannya.
Semua orang mulai menghela napas. Masalah demi masalah!
Seorang pria berjubah motif awan duduk di pojok lantai dua, diam-diam mendengarkan keributan itu. Ibu Suri menghilang adalah berita bagus untukku. Pernikahannya akan ditunda tanpa batas waktu hingga ia ditemukan.
Pada saat ini, Qin Ling, yang memakai baju kasarnya, datang ke lantai dua dan berhenti di depan Yun Ruo Feng. "Bawahan ini berhasil mendapatkan sejumlah informasi. Su Xi-er tidak berada di Kediaman Pangeran Hao, tetapi di istana kekaisaran. Sementara untuk bagian tertentu dari istananya, bawahan ini tidak tahu."
Yun Ruo Feng menurunkan cangkir tehnya dan berujar dengan suara yang tenang. "Selain dari Kediaman Pangeran Hao, Pei Qian Hao juga tinggal di aula samping Istana Naga Langit. Barangkali, Su Xi-er ada di sana."
"Bawahan ini akan menyusup ke istana kekaisaran malam ini dan mencari beberapa informasi."
Yun Ruo Feng melambaikan tangannya. "Tidak perlu, Pangeran ini punya pengaturanku sendiri. Jangan membuat mereka waspada; kita akan menunggu Su Xi-er keluar."
"Menunggu? Bagaimana kalau ia tidak keluar?" Qin Ling kebingungan. Mengapa Pangeran Yun begitu yakin kalau Su Xi-er akan meninggalkan istana?
"Amati diam-diam bagaimana situasinya terungkap. Keahlian Pei Qian Hao dalam merencanakan dan akal sehatnya, akan membuat sulit untuk membawa Su Xi-er pergi setelah ia mengetahui kehadiran kita." Suara Yun Ruo Feng samar saat pandangannya menjadi semakin jauh.
Sudah diberikan perintah semacam ini, Qin Ling hanya bisa melakukan sesuai yang diberitahukan padanya, membungkuk selagi ia meninggalkan lantai dua.
Yun Ruo Feng terus menunggu dalam diam, memerhatikan Pasukan Tentara Kekaisaran yang melintasi jalanan di bawah.
Melihat cuacanya, Yun Ruo Feng melihat bahwa matahari sudah mulai turun. Sudah lewat tengah hari; seharusnya orang itu sudah tiba sekarang.
Saat itu, suara elegan seorang pria memecahkan rentetan pemikirannya. "Undangan Pangeran Hao baru saja diantarkan, tetapi Pangeran Yun sudah di sini. Abaikan saja fakta bahwa yang diundang adalah Kaisar Nan Zhao."
Mirip dengan Yun Ruo Feng, pria itu mengenakan jubah putih. Ia tampan dan menampilkan sikap yang elegan, tatapan yang jernih di matanya. Orang ini tak lain tak bukan adalah Pangeran Kekaisaran Ketiga, Situ Li.
Yun Ruo Feng menggesturkan pada Situ Li. "Pangeran Kekaisaran Ketiga, silakan duduk."
Ekspresi Situ Li acuh tak acuh sewaktu ia duduk di kursi. "Pangeran Yun, kau menyusup ke ibu kota Bei Min, bahkan menemukan kediaman Pangeran ini di luar istana. Bolehkah aku mengetahui, apa rencanamu?"
"Pangeran Kekaisaran Ketiga, kau adalah orang yang cerdas. Mana mungkin kau tidak mengetahui apa rencana yang akan dilakukan oleh Pangeran ini?" Yun Ruo Feng mempertanyakan selagi ia menuangkan secangkir teh untuk Situ Li.
"Kau hanya mengenal Su Xi-er dalam waktu yang singkat. Sulit dipercaya bahwa kau jatuh cinta begitu cepat padanya." Ada tatapan menyelidik di mata Situ Li selagi ia menerima cangkir teh tersebut.
Ia tidak percaya kalau Su Xi-er memiliki pesona seperti itu. Bukankah ia hanya sedikit pintar, cantik, dan pemberani? Alasan aku memandangnya berbeda adalah karena caranya bersikap di istana peristirahatan Ibunda Permaisuri. Aku menemukan bayanganku sendiri dalam dirinya.
Bahkan ketika ia dipojokkan, ia masih mati-matian mengukir sebuah jalan untuk bertahan hidup. Tangguh dan keras kepala, sama seperti aku dulu.
Tatapan Yun Ruo Feng menjadi jauh hingga ia menjawab tak lama setelahnya. "Aku baru mengenal Su Xi-er untuk waktu yang singkat, tetapi ...." Hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk waktu yang kuhabiskan bersama Ning Ru Lan.
"Tetapi apa? Pangeran Yun, jika kau menginginkan bantuan Pangeran ini, kau harus menunjukkan padaku ketulusanmu." Situ Li menyatakan secara perlahan.
"Pangeran ini pernah menolongmu sebelumnya. Setelah kau membalaskan budi ini, kita tidak akan saling berutang lagi." Yun Ruo Feng mengubah topiknya.
"Pangeran ini pasti akan membalas budimu. Hanya saja, Pangeran ini penasaran, mengapa kau mau membawanya kabur?"
Yun Ruo Feng terkekeh pelan. "Seorang biksu senior membuat sebuah ramalan untuk Pangeran ini, dan ia memberitahukan padaku bahwa Su Xi-er adalah wang fei yang ditakdirkan untukku."
"Pangeran Yun, aku tidak tahu bahwa kau memercayai ilmu gaib. Hari pernikahan Pangeran Hao mungkin menjadi hari Su Xi-er kembali ke sisimu. Pangeran ini akan membantu, tetapi apakah kau bisa berhasil membawanya pergi atau tidak, tergantung pada kemampuanmu sendiri." Kemudian, Situ Li menghabiskan isi cangkir tehnya sebelum bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.
Ekspresi Yun Ruo Feng tetap normal. Ia sudah mengenal Situ Li untuk waktu yang lama setelah tanpa sengaja menyelamatkan nyawanya dulu. Budi ini akhirnya berguna.
Pengawal Pasukan Tentara Kekaisaran sudah memecah sejumlah pasukan mereka dari jalan ke pinggiran kota untuk melanjutkan pencarian. Yu Chi Mo juga berusaha keras untuk menemukan Ibu Suri setelah menerima perintah Pei Qian Hao.
Namun, ini semua hanyalah selubung asap buatan Pei Qian Hao. Terlepas apakah Ibu Suri kembali, pernikahannya harus berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Di waktu bersamaan, ia telah memerintahkan Wu Ling agar melindungi Guru Agung Kong, dan dayang istana lain untuk merawat Tan Ge.
***
Sementara itu, ia sedang mengajari Situ Lin tentang pemerintahan dan memimpin pasukan di Istana Naga Langit, sementara Su Xi-er sedang menata buku-buku di samping.
Situ Lin sangat asyik dengan ajaran Paman Kekaisarannya, karena ia sangat berminat dalam mengelola pasukan. Akan tetapi, kadang-kadang ia juga akan kehilangan fokus, tatapannya tanpa sadar beralih pada Su Xi-er.
Segera setelah ia kehilangan konsentrasi, Pei Qian Hao akan menakuti Situ Lin dengan tatapan dinginnya, dan orang itu akan langsung tersadar.
Empat jam kemudian, akhirnya Situ Lin menutup buku dan istirahat sejenak. Kemudian, ia pun bangkit berdiri dan melihat Su Xi-er, yang masih menyusun buku-buku. "Bibi Kekaisaran, buku apa yang sedang kau susun?"
Su Xi-er tersenyum selagi ia menjawab, "Yang Mulia, Anda meninggalkan buku-buku di lantai setelah membacanya, bukannya meletakkan mereka ke dalam rak. Apabila Anda membaca mereka setiap hari, mengapa Anda tidak mengetahui buku-buku apa itu?"
Situ Lin segera melirik Pei Qian Hao ketakutan. Ketika ia melihat kalau Pei Qian Hao tidak berniat untuk menegurnya, ia menjadi lega. Aku hanya memilih buku-buku yang kuminati. Sementara untuk sisanya, aku hanya melihat-lihatnya sambil lalu.

0 comments:
Posting Komentar