Consort of A Thousand Faces
Chapter 391 : Buku Apa Itu?
"Yang Mulia, sebutkan beberapa judul bukunya." Pei Qian Hao menuntut tegas dengan suara dinginnya selagi ia berjalan ke arah Situ Lin.
Benak Situ Lin pun jadi kosong akibat panik, tetapi tidak mungkin kalau tidak menjawab.
Karenanya, ia mulai terbata-bata. "Judul bukunya, judulnya ... biar kupikirkan. Jangan tidak sabaran."
Kemudian, Situ Lin bergumam sendiri, terlihat seolah ia sedang cemberut. Su Xi-er tidak tahu apakah ia harus menangis atau tertawa ketika ia melihat pemandangan dari penampilannya yang menggemaskan.
Namun, ketika ia melihat ekspresi serius Pei Qian Hao, ia hanya bisa mengingatkan, "Kebajikan Dunia, Seluruh Bangsa, Sekolah Filsafat ...."
Tiba-tiba saja, Situ Lin teringat sisa judul-judul bukunya, menyebutkan mereka semua sekaligus.
Pei Qian Hao melirik Su Xi-er sebelum mengalihkan pandangannya kepada Situ Lin. "Ingatlah untuk latihan menulis dan mempelajari buku-buku itu. Aku mungkin memutuskan untuk menguji Anda dengan beberapa pertanyaan di masa yang akan datang."
"Paman Kekaisaran, apakah kau tidak akan sibuk menikahi Bibi Kekaisaran? Bagaimana bisa kau punya waktu untuk mengujiku? Bahkan, setelah pernikahannya selesai, kau masih harus menyenangkan Bibi Kekaisaran sementara ia tinggal di kediaman, sekaligus mengajaknya keluar bermain-main. Kau tidak akan punya waktu untuk ...." Mendadak, Situ Lin merasakan tatapan dingin tertuju ke arahnya dan langsung menutup mulutnya.
Saat ini, Su Xi-er melihat sebuah buku dengan sampul berwarna biru yang tidak berjudul di atasnya. "Buku apa ini? Tidak ada judulnya."
Pei Qian Hao berbalik dan langsung merebut buku itu dari tangannya ketika ia melihat sampul biru tersebut, menyimpannya ke dalam lengan jubahnya dengan ekspresi yang tidak alami.
Berpikir bahwa aku tanpa sengaja menaruh buku yang diberikan Tabib Kekaisaran Zhao kepadaku di rak buku. Jika Su Xi-er mengetahuinya .... Ekspresinya menjadi semakin canggung.
Tak lama setelahnya, ekspresi Pei Qian Hao kembali normal, menakuti Situ Lin hingga segera kembali ke tempat duduknya ketika ia bertatapan dengan mata hitam orang itu.
Su Xi-er menarik lengan jubahnya, mengulurkan tangannya. "Buku apa itu? Keluarkan."
Ia tidak melewatkan perubahan sekilas dalam ekspresi Pei Qian Hao barusan ini. Buku macam apa yang membuatnya bertingkah begitu aneh?
"Itu hanyalah buku medis biasa." Pei Qian Hao menyatakan dengan tenang, datar.
"Buku medis?" Su Xi-er tetap merasa skeptis. Apakah itu sungguh adalah buku medis biasa? Kalau itu benar masalahnya, mengapa ia memperlihatkan ekspresi seaneh itu?
"Memang buku medis." Pei Qian Hao mengalihkan tatapannya pada Situ Lin. "Keluarkan buku salinan dan mulai latih tulisan tangan Anda. Guru Agung Kong akan datang kemari untuk memeriksa perkembangan Anda."
Situ Lin menggerutu mengiyakan sebelum membuka buku salinan tersebut, mulai menulis setelah ia selesai mempersiapkan tintanya.
Sewaktu Pei Qian Hao baru akan meninggalkan aula utama, tatapannya sepintas tertuju pada Su Xi-er, menyadari kebingungan yang masih ada di matanya.
Ia memutuskan untuk memeluknya, membawanya ke aula samping.
Situ Lin berhenti menulis selagi ia memerhatikan Pei Qian Hao meninggalkan ruangan bersama Su Xi-er. Ada apa dengan Paman Kekaisaran? Apa sebenarnya buku bersampul biru itu?
Pei Qian Hao melihat kalau Su Xi-er masih menatapnya intens. "Apa kau mau tahu buku apa itu?"
"Aku hanya penasaran; apa yang sedang Anda sembunyikan dariku?" Su Xi-er bertanya sungguh-sungguh, matanya tertuju ke lengan jubahnya.
Pei Qian Hao menyetujui permintaannya, mengeluarkan buku tersebut dan menyerahkan itu kepadanya. "Setelah menyakitimu terakhir kali, Pangeran ini menyuruh Tabib Kekaisaran Zhao mencarikan buku ini. Karena kau sudah menemukannya, sekalian saja aku membiarkanmu melihatnya."
Su Xi-er tidak mengambil buku itu dengan tangannya, sudah menyadari apa isi bukunya segera setelah Pei Qian Hao berbicara.
Su Xi-er menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak apa-apa. Anda bisa membacanya sendiri."
Ekspresi malu-malu Su Xi-er sangat menyenangkan Pei Qian Hao, menimbulkan tawa kecil darinya selagi ia mengambil kembali buku itu. "Hal yang bagus, membaca lebih banyak buku. Ada banyak posisi di dalamnya."
Su Xi-er memandanginya. Jika ia sudah mempelajari tentang posisi sekarang, bukankah itu artinya, ia berencana untuk menggunakan mereka setelah menikah? Terlebih lagi, bagaimana kalau ia menyakitiku lagi dengan kekuatannya?
Sementara ia sedang cemas, Su Xi-er mendengar suara serius Pei Qian Hao. "Sekarang, karena kau sudah mengetahui tentang buku ini, Pangeran ini tidak perlu bersembunyi darimu ketika aku mempelajarinya di masa mendatang."
Su Xi-er merasa sedikit menyesal. Kalau saja aku tahu, aku tidak akan merecokinya soal buku itu. Bagus sekali, ia bisa bersikap tidak tahu malu secara terbuka mulai dari sekarang.
Saat ini, Yu Chi Mo memasuki kamar utama dari aula samping. "Pangeran Hao, kami masih belum menemukan Ibu Suri, tetapi seorang dayang dari Istana Kedamaian Penuh Kasih menemukan ini." Ia menyerahkan selembar kertas.
Itu tak lain tak bukan adalah 'surat pemutusan Ibu Suri'. Pei Qian Hao tetap tenang selagi ia membuka kertas itu, dengan cermat membaca isinya.
Tak lama kemudian, ia berkata, "Ibu Suri meninggalkan istana untuk mencari udara segar dan mengusir kecemasannya. Perintahkan pengawal Pasukan Tentara Kekaisaran dan prajurit, suruh mereka mengumumkan surat pemutusan ini kepada publik."
"Ini ... mohon pertimbangkan lagi, Pangeran Hao. Itu akan merugikan Ibu Suri apabila surat pemutusan ini diumumkan pada publik."
"Pangeran ini sudah membuat keputusan. Cukup ikuti perintahnya." Pei Qian Hao menyerahkan kembali surat itu pada Yu Chi Mo, membuat orang itu tak punya pilihan selain menerima keputusannya.
Di dalam surat pemutusan itu, 'Ibu Suri' dengan jelas menyatakan: Ibu Suri ini tidak menyukai putri angkat Guru Agung Kong. Karena Pangeran Hao bersikeras untuk menikahinya, Ibu Suri ini akan meninggalkan istana. Mari kita lihat, bagaimana kau tetap bisa menikah.
Segera setelah kabar itu beredar, diskusi yang membara mengenai Ibu Suri pun meletus di seluruh jalanan.
"Itu sepenuhnya terserah kepada Pangeran Hao, siapa yang ingin dinikahinya. Mengapa Ibu Suri mau ikut campur? Ia sama sekali tidak murah hati."
"Aku tebak, Ibu Suri punya kecemasannya sendiri. Walaupun putri angkat Guru Agung Kong bukan status yang rendah, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan Commandery Princess Xie."
"Pernikahan Pangeran Hao pasti akan diadakan sesuai rencana. Ibu Suri hanya pergi keluar untuk meredakan kecemasannya sendiri. Setelah ia merasa baikan, tentunya ia akan kembali ke istana."
"Pantas saja semua pengawal sudah pergi. Selama Ibu Suri baik-baik saja, semestinya tidak ada masalah."
Segera, kabar itu menyebar sampai ke Yun Ruo Feng, Xie Yun, dan Pei Zheng.
***
Yun Ruo Feng tidak merasa terganggu. Akan menyenangkan jika pernikahannya ditunda, tetapi aku sudah mengetahui bahwa tidak mungkin, dengan Pei Qian Hao yang mengendalikannya. Kepribadiannya tidak tunduk pada gangguan, bahkan meskipun lawanku kuat, aku bertekad untuk membawa Su Xi-er pergi.
Dibandingkan dengan reaksi tenang Yun Ruo Feng, Pei Zheng jauh lebih khawatir.
Mengetahui bahwa majikan mereka sedang dalam suasana hati yang tidak senang, para pelayan dan dayang bahkan tidak berani bernapas dengan keras di Kediaman Pei.
Nyonya Pei berada di sebelah Pei Zheng. "Tuanku, putri kita sudah mengalami masa-masa yang sulit selama beberapa tahun ini. Biarkan saja dia."
"Mana mungkin kita membiarkannya?! Karena ia adalah Ibu Suri, itu tidak bisa diterima. Aku akan melakukan perjalanan keluar dari kediaman." Pei Zheng menggebrak meja sebelum bangkit berdiri untuk meninggalkan aula utama.
Menyaksikan sosok Pei Zheng yang menjauh, Nyonya Keluarga Pei hanya bisa menangis diam-diam.
Bersembunyi di satu sudut, sebuah ide muncul dalam benak Mei Jin Xiu ketika ia melihat Pei Zheng meninggalkan kediamannya. Ini adalah kesempatan terbaik bagiku untuk kabur secara diam-diam.
Pei Zheng sudah menangkapnya, memaksanya hingga ia tinggal di dalam kediaman, tidak ada bedanya dengan pengurungan. Ia tak tahan tinggal di sini lebih lama lagi.
Sekarang, karena Pei Zheng akhirnya pergi keluar, ia menunggu kesempatan untuk membuat pingsan para pengawal dengan bubuk obat sebelum menyelinap keluar.
Dengan rencananya yang matang, Mei Jin Xiu langsung beraksi. Menggenggam botol kecil di tangannya, Mei Jin Xiu memilih jalan setapak yang jarang dilalui di dalam kediaman untuk sampai di pintu belakang. Setelah sampai di sana, dengan cepat ia beraksi dan menaburkan bubuk itu di udara.
Ketika para pengawal jatuh pingsan, ia dengan cepat berjalan keluar dari Kediaman Pei. Setelah ia keluar, tanpa sengaja, ia melihat Qin Ling, yang sedang menyelinap di sekitar, mengenakan baju kasarnya.

0 comments:
Posting Komentar