Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 404

Consort of A Thousand Faces

Chapter 404 : Tangkap Semua


Mei Jin Xiu memutuskan untuk tidak menatapnya, dan berjalan pergi begitu saja. Namun, ia baru mengambil beberapa langkah sebelum Qin Ling menariknya kembali.

"Apa yang kau lakukan?" Mei Jin Xiu berbalik untuk menatapnya.

"Jika kau pergi ke Kediaman Pangeran Hao sekarang ini, hanya kematian yang menunggumu."

Melihat ekspresi seriusnya, Mei Jin Xiu merasa jantungnya berdebar-debar. Siapa yang akan membunuhku karena pergi ke Kediaman Pangeran Hao untuk memberitahu mereka?

"Kenapa kau mau pergi ke Kediaman Pangeran Hao?" Qin Ling melepaskannya dan bertanya pelan.

Mei Jin Xiu menaksirnya untuk sesaat. "Siapa bilang kalau aku mau pergi ke Kediaman Pangeran Hao? Aku hanya pulang ke rumah." Setelah insiden dengan Xie Yun, ia sudah belajar agar tidak dengan mudahnya memercayai orang lain.

Tadinya, ia berpikir kalau ia dapat mengecoh Qin Ling dengan cara itu, tetapi ia tidak menduga pria itu bersikeras. "Dimana kau tinggal? Aku akan mengantarkanmu pulang."

Mei Jin Xiu curiga. Apakah semua pria begitu menempel setelah berciuman? Atau mungkinkah kalau ia masih curiga padaku?

"Ayo pergi." Qin Ling menarik tangannya ke arah lain tanpa menunggu jawabannya. Sudah jelas kalau ia mengetahui sesuatu karena ia ditangkap oleh Xie Yun; aku tidak boleh membiarkannya pergi ke Kediaman Pangeran Hao.

"Aku tidak mau pergi!" Mei Jin Xiu berjuang untuk melepaskan tangannya.

Seorang paman tua kebetulan lewat dan tiba-tiba saja memanggil Mei Jin Xiu ketika ia melihatnya. "Tabib Mei, kenapa klinik pengobatanmu tutup belakangan ini? Ada banyak orang yang mencari bantuanmu."

Qin Ling jadi semakin curiga ketika ia mendengar kata-kata 'Tabib Mei'. Marganya Mei; mungkinkah ia berasal dari Keluarga Mei di Nan Zhao?

"Ada urusan yang harus kukerjakan. Aku akan membuka klinik dalam beberapa hari." Takut kalau Qin Ling akan mengetahui identitasnya, Mei Jin Xiu pun berdoa dalam hati. Paman Tua, tolong, cepatlah pergi.

Si paman tua mengangguk, kemudian melihat Qin Ling dengan ekspresi yang aneh. Pria ini semestinya adalah suami Tabib Mei, kan? Berpikir kalau ia sedang mengganggu mereka, si paman tua bergegas pergi dengan kesan bahwa pasangan itu sedang bertengkar.

"Kau bukan dari Bei Min. Kau berasal dari Nan Zhao, dan terlebih lagi, dari Keluarga Mei." Qin Ling menyatakan dengan percaya diri. Hanya dengan status ini, barulah Commandery Prince Xie merasa gadis ini bisa berguna.

"Keluarga Mei dari Nan Zhao? Apa itu? Margaku memang 'Mei', tetapi aku kehilangan orang tuaku saat aku masih kecil. Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan." Mei Jin Xiu membantah klaim Qin Ling selagi ia berusaha membebaskan dirinya.

"Kalau begitu masalahnya, maka semakin banyak alasan aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke Kediaman Pangeran Hao." Qin Ling kukuh. Kemudian, ia mengangkat tangannya dan dengan cepat mengarahkannya ke leher gadis itu.

Mata Mei Jin Xiu jadi dingin. "Kau ...." Ia hanya menggumamkan satu kata sebelum pingsan.

Qin Ling tidak membawanya kembali ke Penginapan Ye, tetapi ke penginapan terpisah dekat sana. Ia memesan kamar pribadi tingkat atas dan menguncinya di dalam. Tentunya aku akan melepaskannya setelah Pangeran Yun menyelesaikan urusan besarnya.

***

Keesokan harinya, cuacanya tidak sebagus biasanya. Langitnya diselimuti dengan awan yang suram.

Dalam cuaca begini, Su Xi-er memutuskan untuk tinggal di Istana Naga Langit dan mengawasi Situ Lin belajar. Setelah Guru Agung Kong datang, ia pergi untuk menyusun buku-buku di rak buku Istana Naga Langit.

Suara Guru Agung Kong bisa terus terdengar. Situ Lin memerhatikan pengajarannya dan akan mencatat poin-poin penting dari waktu ke waktu.

Empat jam berlalu dengan cepat sebelum Guru Agung Kong mengemasi buku-bukunya dan pergi, meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah untuk Situ Lin.

Senyum nakal Situ Lin langsung memunculkan dirinya setelah Guru Agung Kong pergi. Bibi Kekaisaran menemaniku hari ini, dan Paman Kekaisaran sudah meninggalkan istana.

"Bibi Kekaisaran." Situ Lin memanggil sambil tersenyum manis sekali.

Su Xi-er terus menyusun buku selagi ia menjawab. "Ada masalah apa?"

"Bibi Kekaisaran, aku ingin meminta bantuanmu untuk sesuatu." Situ Lin berujar lembut selagi ia memperlihatkan tampang menjilat.

"Silakan beritahu padaku."

"Bibi Kekaisaran, kau baik sekali. Itu adalah sesuatu yang sangat gampang. Cobalah untuk lebih mengendalikan Paman Kekaisaran di masa depan. Rundungi dia dan ucapkan kata-kata yang bagus untukku. Beritahukan kepadanya tentang seberapa bekerja keras dan sungguh-sungguhnya diriku." Situ Lin melontarkan sejumlah permintaan sebelum berkedip. "Bibi Kekaisaran, apakah itu tidak apa-apa?"

Su Xi-er tertawa. "Aku akan mengeceknya setelah kami menikah. Hanya saja, aku tidak pernah suka berbohong. Aku akan menyatakan fakta apa adanya; apa pun yang kulihat dari Yang Mulia, akan jadi apa yang kuberitahukan padanya."

"Ah! Bibi Kekaisaran, bagaimana bisa kau seperti itu?!" Situ Lin ketakutan. Aku tidak menyangka Bibi Kekaisaran segalak itu padahal ia terlihat begitu lembut!

"Anda harus belajar dengan giat dari Guru Agung Kong; mengenai memerintah negara, dan tentang memimpin tentara dari Pangeran Hao. Anda juga harus belajar untuk berdiskusi dengan para menteri di mahkamah; itu hanya akan jadi semakin sibuk saat Anda cukup umur, jadi Anda harus bekerja lebih keras lagi. Bukan hanya itu, Anda harus mengerti bagaimana caranya menjaga pikiran yang terbuka, dan belajar dari kerajaan lain saat Anda bisa."

Semakin Situ Lin mendengarkan, semakin ia menghormati Su Xi-er. Paman Kekaisaran tidak pernah menyuruhku agar belajar dari kerajaan lain. Sepertinya, Bibi Kekaisaran tahu lumayan banyak!

"Bibi Kekaisaran, kau hebat sekali!" Situ Lin tidak tahan untuk memujinya.

"Yang Mulia, Anda harus lebih banyak mendengarkan, melihat, dan bekerja. Bukan hanya nasib Rumah Tangga Kekaisaran Situ yang berada di pundak Anda, tetapi nasib dari setiap warga negara Bei Min juga."

Situ Lin mendadak merasa seolah ada satu gunung yang membebani pundaknya, roman mukanya yang semula ceria menjadi serius. Paman Kekaisaran selalu memberitahukan padaku bahwa penting untuk membaca lebih banyak buku, berlatih menulis, dan bekerja keras. Ia tidak pernah memberitahu padaku mengapa. Sekarang karena ia sudah mendengarkan penjelasan Su Xi-er, sentimen kekanakan di dalam hatinya pun mau tak mau harus tenang.

"Yang Mulia." Su Xi-er hanya bisa memanggilnya saat ia melihat ekspresi beratnya.

Situ Lin mendadak mendongakkan kepalanya, matanya kini mengandung tekad yang tidak pernah dimilikinya. "Aku selalu merasa bahwa Paman Kekaisaran tegas terhadapku; tetapi Bibi Kekaisaran, sekarang karena kau telah mengingatkanku, aku hanya bisa melihat betapa Paman Kekaisaran sangat menyayangiku. Ia sudah memikul segala tanggung jawab yang berat selama bertahun-tahun, sampai-sampai banyak pejabat mahkamah yang mencurigainya berusaha untuk merebut takhta kekaisaran. Sekarang ketika aku memikirkan tentang itu, memang sangat sulit bagi Paman Kekaisaran."

"Itu benar, memang sangat sulit baginya." Su Xi-er menepuk pundak Situ Lin utuk menenangkannya.

Sewaktu Situ Lin tenggelam dalam pikirannya sendiri, suara pria lain pun terdengar. "Yang Mulia, Anda jadi nakal lagi seiring kepergian Guru Agung Kong."

Su Xi-er menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut, dan melihat kalau itu adalah Situ Li.

Situ Lin langsung berbalik. "Kakak Kekaisaran Ketiga, aku tidak akan nakal lagi." Kemudian, ia pun berjalan ke meja dan membuka salah satu buku salinannya, memfokuskan perhatiannya pada buku itu.

"Ia tiba-tiba menjadi jauh lebih bijaksana." Situ Li tersenyum sebelum mengalihkan tatapannya kepada Su Xi-er.

"Pangeran Kekaisaran Ketiga, apakah Anda mencari hamba?"

"Pangeran ini harusnya memanggilmu 'Hao Wang Fei'. Kau tidak perlu menyebut dirimu sebagai 'hamba' lagi di depanku." Situ Li perlahan mengingatkannya sebelum ia mengeluarkan buku salinan Aksara Lan dari lengan jubahnya.

"Pangeran ini datang kemari hari ini untuk berkonsultasi denganmu. Tolong berikan aku sejumlah panduan. Tidak akan memerlukan waktu yang terlalu lama, dan Pangeran ini akan segera pergi setelah kita selesai." Ekspresi Situ Li menyendiri sewaktu ia menunjuk ke satu kata di dalam buku salinan itu. "Bagaimana kau menerapkan kuasnya pada lengkungan ini?"

Su Xi-er menundukkan kepalanya untuk melihat, sengaja mempelajarinya untuk waktu yang lama sebelum menjawab, "Saat Anda memutar di ujungnya, arahkan ujungnya sedikit ke dalam, dan angkat kuasnya ke atas. Kemudian, putar sedikit ke atas dan berikan tekanan."

"Begitu. Aku akan kembali dan melihatnya lagi. Namun ...." Situ Li menggunakan tangannya untuk meniru guratan-guratan itu di lemari. "Balikkan ke halaman dua puluh. Aku akan mencoba untuk mendemonstrasikan tiga guratan. Tolong periksa apakah itu sudah terlihat tepat."

Su Xi-er menggangguk, dan membalikkan halamannya. Namun, ia menyadari aroma samar dari daun pepohonan yang melayang dari buku tersebut.

"Mengapa buku salinannya berbau seperti dedaunan?" Su Xi-er keheranan selagi ia mengendus buku itu lagi.

Situ Li segera menjawab, "Itu adalah wangi Pangeran ini. Karena buku salinan ini selalu bersamaku setiap saat, alaminya, itu berbau seperti diriku."

 

0 comments:

Posting Komentar