Consort of A Thousand Faces
Chapter 404 : Tangkap Semua
Mei
Jin Xiu memutuskan untuk tidak menatapnya, dan berjalan pergi begitu saja.
Namun, ia baru mengambil beberapa langkah sebelum Qin Ling menariknya kembali.
"Apa
yang kau lakukan?" Mei Jin Xiu berbalik untuk menatapnya.
"Jika
kau pergi ke Kediaman Pangeran Hao sekarang ini, hanya kematian yang
menunggumu."
Melihat
ekspresi seriusnya, Mei Jin Xiu merasa jantungnya berdebar-debar. Siapa
yang akan membunuhku karena pergi ke Kediaman Pangeran Hao untuk memberitahu
mereka?
"Kenapa
kau mau pergi ke Kediaman Pangeran Hao?" Qin Ling melepaskannya dan
bertanya pelan.
Mei
Jin Xiu menaksirnya untuk sesaat. "Siapa bilang kalau aku mau pergi ke
Kediaman Pangeran Hao? Aku hanya pulang ke rumah." Setelah insiden dengan
Xie Yun, ia sudah belajar agar tidak dengan mudahnya memercayai orang lain.
Tadinya,
ia berpikir kalau ia dapat mengecoh Qin Ling dengan cara itu, tetapi ia tidak
menduga pria itu bersikeras. "Dimana kau tinggal? Aku akan mengantarkanmu
pulang."
Mei
Jin Xiu curiga. Apakah semua pria begitu menempel setelah berciuman?
Atau mungkinkah kalau ia masih curiga padaku?
"Ayo
pergi." Qin Ling menarik tangannya ke arah lain tanpa menunggu
jawabannya. Sudah jelas kalau ia mengetahui sesuatu karena ia ditangkap
oleh Xie Yun; aku tidak boleh membiarkannya pergi ke Kediaman Pangeran Hao.
"Aku
tidak mau pergi!" Mei Jin Xiu berjuang untuk melepaskan tangannya.
Seorang
paman tua kebetulan lewat dan tiba-tiba saja memanggil Mei Jin Xiu ketika ia
melihatnya. "Tabib Mei, kenapa klinik pengobatanmu tutup belakangan ini?
Ada banyak orang yang mencari bantuanmu."
Qin
Ling jadi semakin curiga ketika ia mendengar kata-kata 'Tabib Mei'. Marganya
Mei; mungkinkah ia berasal dari Keluarga Mei di Nan Zhao?
"Ada
urusan yang harus kukerjakan. Aku akan membuka klinik dalam beberapa
hari." Takut kalau Qin Ling akan mengetahui identitasnya, Mei Jin Xiu pun
berdoa dalam hati. Paman Tua, tolong, cepatlah pergi.
Si
paman tua mengangguk, kemudian melihat Qin Ling dengan ekspresi yang
aneh. Pria ini semestinya adalah suami Tabib Mei, kan? Berpikir
kalau ia sedang mengganggu mereka, si paman tua bergegas pergi dengan kesan
bahwa pasangan itu sedang bertengkar.
"Kau
bukan dari Bei Min. Kau berasal dari Nan Zhao, dan terlebih lagi, dari Keluarga
Mei." Qin Ling menyatakan dengan percaya diri. Hanya dengan status
ini, barulah Commandery Prince Xie merasa gadis ini bisa berguna.
"Keluarga
Mei dari Nan Zhao? Apa itu? Margaku memang 'Mei', tetapi aku kehilangan orang
tuaku saat aku masih kecil. Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan."
Mei Jin Xiu membantah klaim Qin Ling selagi ia berusaha membebaskan dirinya.
"Kalau
begitu masalahnya, maka semakin banyak alasan aku tidak bisa membiarkanmu pergi
ke Kediaman Pangeran Hao." Qin Ling kukuh. Kemudian, ia mengangkat
tangannya dan dengan cepat mengarahkannya ke leher gadis itu.
Mata
Mei Jin Xiu jadi dingin. "Kau ...." Ia hanya menggumamkan satu kata
sebelum pingsan.
Qin
Ling tidak membawanya kembali ke Penginapan Ye, tetapi ke penginapan terpisah
dekat sana. Ia memesan kamar pribadi tingkat atas dan menguncinya di
dalam. Tentunya aku akan melepaskannya setelah Pangeran Yun
menyelesaikan urusan besarnya.
***
Keesokan
harinya, cuacanya tidak sebagus biasanya. Langitnya diselimuti dengan awan yang
suram.
Dalam
cuaca begini, Su Xi-er memutuskan untuk tinggal di Istana Naga Langit dan
mengawasi Situ Lin belajar. Setelah Guru Agung Kong datang, ia pergi untuk
menyusun buku-buku di rak buku Istana Naga Langit.
Suara
Guru Agung Kong bisa terus terdengar. Situ Lin memerhatikan pengajarannya dan
akan mencatat poin-poin penting dari waktu ke waktu.
Empat
jam berlalu dengan cepat sebelum Guru Agung Kong mengemasi buku-bukunya dan
pergi, meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah untuk Situ Lin.
Senyum
nakal Situ Lin langsung memunculkan dirinya setelah Guru Agung Kong
pergi. Bibi Kekaisaran menemaniku hari ini, dan Paman Kekaisaran sudah
meninggalkan istana.
"Bibi
Kekaisaran." Situ Lin memanggil sambil tersenyum manis sekali.
Su
Xi-er terus menyusun buku selagi ia menjawab. "Ada masalah apa?"
"Bibi
Kekaisaran, aku ingin meminta bantuanmu untuk sesuatu." Situ Lin berujar
lembut selagi ia memperlihatkan tampang menjilat.
"Silakan
beritahu padaku."
"Bibi
Kekaisaran, kau baik sekali. Itu adalah sesuatu yang sangat gampang. Cobalah
untuk lebih mengendalikan Paman Kekaisaran di masa depan. Rundungi dia dan
ucapkan kata-kata yang bagus untukku. Beritahukan kepadanya tentang seberapa
bekerja keras dan sungguh-sungguhnya diriku." Situ Lin melontarkan
sejumlah permintaan sebelum berkedip. "Bibi Kekaisaran, apakah itu tidak
apa-apa?"
Su
Xi-er tertawa. "Aku akan mengeceknya setelah kami menikah. Hanya saja, aku
tidak pernah suka berbohong. Aku akan menyatakan fakta apa adanya; apa pun yang
kulihat dari Yang Mulia, akan jadi apa yang kuberitahukan padanya."
"Ah!
Bibi Kekaisaran, bagaimana bisa kau seperti itu?!" Situ Lin
ketakutan. Aku tidak menyangka Bibi Kekaisaran segalak itu padahal ia
terlihat begitu lembut!
"Anda
harus belajar dengan giat dari Guru Agung Kong; mengenai memerintah negara, dan
tentang memimpin tentara dari Pangeran Hao. Anda juga harus belajar untuk
berdiskusi dengan para menteri di mahkamah; itu hanya akan jadi semakin sibuk
saat Anda cukup umur, jadi Anda harus bekerja lebih keras lagi. Bukan hanya
itu, Anda harus mengerti bagaimana caranya menjaga pikiran yang terbuka, dan
belajar dari kerajaan lain saat Anda bisa."
Semakin
Situ Lin mendengarkan, semakin ia menghormati Su Xi-er. Paman
Kekaisaran tidak pernah menyuruhku agar belajar dari kerajaan lain. Sepertinya,
Bibi Kekaisaran tahu lumayan banyak!
"Bibi
Kekaisaran, kau hebat sekali!" Situ Lin tidak tahan untuk memujinya.
"Yang
Mulia, Anda harus lebih banyak mendengarkan, melihat, dan bekerja. Bukan hanya
nasib Rumah Tangga Kekaisaran Situ yang berada di pundak Anda, tetapi nasib
dari setiap warga negara Bei Min juga."
Situ
Lin mendadak merasa seolah ada satu gunung yang membebani pundaknya, roman
mukanya yang semula ceria menjadi serius. Paman Kekaisaran selalu
memberitahukan padaku bahwa penting untuk membaca lebih banyak buku, berlatih
menulis, dan bekerja keras. Ia tidak pernah memberitahu padaku mengapa. Sekarang
karena ia sudah mendengarkan penjelasan Su Xi-er, sentimen kekanakan di dalam
hatinya pun mau tak mau harus tenang.
"Yang
Mulia." Su Xi-er hanya bisa memanggilnya saat ia melihat ekspresi
beratnya.
Situ
Lin mendadak mendongakkan kepalanya, matanya kini mengandung tekad yang tidak
pernah dimilikinya. "Aku selalu merasa bahwa Paman Kekaisaran tegas
terhadapku; tetapi Bibi Kekaisaran, sekarang karena kau telah mengingatkanku,
aku hanya bisa melihat betapa Paman Kekaisaran sangat menyayangiku. Ia sudah
memikul segala tanggung jawab yang berat selama bertahun-tahun, sampai-sampai
banyak pejabat mahkamah yang mencurigainya berusaha untuk merebut takhta
kekaisaran. Sekarang ketika aku memikirkan tentang itu, memang sangat sulit
bagi Paman Kekaisaran."
"Itu
benar, memang sangat sulit baginya." Su Xi-er menepuk pundak Situ Lin utuk
menenangkannya.
Sewaktu
Situ Lin tenggelam dalam pikirannya sendiri, suara pria lain pun terdengar.
"Yang Mulia, Anda jadi nakal lagi seiring kepergian Guru Agung Kong."
Su
Xi-er menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut, dan melihat kalau itu adalah
Situ Li.
Situ
Lin langsung berbalik. "Kakak Kekaisaran Ketiga, aku tidak akan nakal
lagi." Kemudian, ia pun berjalan ke meja dan membuka salah satu buku
salinannya, memfokuskan perhatiannya pada buku itu.
"Ia
tiba-tiba menjadi jauh lebih bijaksana." Situ Li tersenyum sebelum
mengalihkan tatapannya kepada Su Xi-er.
"Pangeran
Kekaisaran Ketiga, apakah Anda mencari hamba?"
"Pangeran
ini harusnya memanggilmu 'Hao Wang Fei'. Kau tidak perlu menyebut
dirimu sebagai 'hamba' lagi di depanku." Situ Li perlahan mengingatkannya
sebelum ia mengeluarkan buku salinan Aksara Lan dari lengan jubahnya.
"Pangeran
ini datang kemari hari ini untuk berkonsultasi denganmu. Tolong berikan aku
sejumlah panduan. Tidak akan memerlukan waktu yang terlalu lama, dan Pangeran
ini akan segera pergi setelah kita selesai." Ekspresi Situ Li menyendiri
sewaktu ia menunjuk ke satu kata di dalam buku salinan itu. "Bagaimana kau
menerapkan kuasnya pada lengkungan ini?"
Su
Xi-er menundukkan kepalanya untuk melihat, sengaja mempelajarinya untuk waktu
yang lama sebelum menjawab, "Saat Anda memutar di ujungnya, arahkan
ujungnya sedikit ke dalam, dan angkat kuasnya ke atas. Kemudian, putar sedikit
ke atas dan berikan tekanan."
"Begitu.
Aku akan kembali dan melihatnya lagi. Namun ...." Situ Li menggunakan
tangannya untuk meniru guratan-guratan itu di lemari. "Balikkan ke halaman
dua puluh. Aku akan mencoba untuk mendemonstrasikan tiga guratan. Tolong
periksa apakah itu sudah terlihat tepat."
Su
Xi-er menggangguk, dan membalikkan halamannya. Namun, ia menyadari aroma samar
dari daun pepohonan yang melayang dari buku tersebut.
"Mengapa
buku salinannya berbau seperti dedaunan?" Su Xi-er keheranan selagi ia
mengendus buku itu lagi.
Situ
Li segera menjawab, "Itu adalah wangi Pangeran ini. Karena buku salinan
ini selalu bersamaku setiap saat, alaminya, itu berbau seperti diriku."

0 comments:
Posting Komentar