Consort of A Thousand Faces
Chapter 406 : Bertemu Sekali Lagi
Meskipun
cuacanya buruk, Su Xi-er dalam suasana hati yang bagus. Akhirnya aku
bisa bertemu Lian Chen lagi! Bagaimana mungkin aku tidak gembira?!
Pei
Qian Hao diam-diam memerhatikannya di dalam kereta kuda. Walaupun ia
sudah menyembunyikan diri dengan sangat baik, matanya masih
membocorkannya. Masuk akal kalau ia merasa senang, bisa bertemu
dengan Ning Lian Chen.
Tidak
bisa menahan diri setelah melihat kegembiraannya yang terselubung tipis, Pei
Qian Hao hanya bisa berkata, "Tersenyumlah jika kau merasa senang. Kau
tidak perlu menahannya."
Su
Xi-er tertegun sejenak sebelum ia berpindah untuk duduk di sebelahnya dan
mencubit wajahnya. "Mengapa Anda merajuk? Apakah Anda merasa tidak
senang?"
Pei
Qian Hao menangkap tangannya. "Pangeran ini senang. Sejak kapan aku
merajuk?"
"Beberapa
saat yang lalu." Su Xi-er mengangkat tangannya yang lain untuk menarik
bibir Pei Qian Hao menjadi senyuman. Wajahnya yang sebelumnya serius, kini
tampak lebih ceria.
"Omong
kosong." Pei Qian Hao menggumam pelan, menunjukkan rasa kasih sayangnya
dengan membiarkan Su Xi-er mencubit-cubit wajahnya.
Di
saat kereta kuda berhenti, pengawal yang berlaku sebagai pengemudi pun
melaporkan, "Pangeran Hao, kita sudah tiba. Kaisar Nan Zhao sedang beristirahat
di rumah pos ini."
Mata
Su Xi-er berbinar. Aku bisa segera bertemu Lian Chen! Kilat di
matanya tidak lepas dari mata Pei Qian Hao. Ia masih belum begitu yakin, waktu
di Istana Naga Langit, tetapi kini, ia yakin akan hipotesisnya, walaupun ia
tidak pernah memercayai hal gaib sebelumnya. Oleh karenanya, mau tak mau, ia
merasa takjub.
Akan
tetapi, Pei Qian Hao tidak pernah memperlihatkan emosinya, menyembunyikan
keterkejutannya di balik topeng yang tenang dan menguasai diri.
Ketika
Su Xi-er melihat kalau ia masih belum turun dari kereta kuda, tanpa sadar, ia
mendorongnya. "Turunlah."
Mendengarkan
dirinya yang bersemangat, Pei Qian Hao tersenyum samar. Ia bangkit berdiri, dan
mendadak menariknya ke dalam pelukannya.
Su
Xi-er merasakan dunia berputar di sekelilingnya, dan sebelum ia mengetahuinya,
kakinya sudah menyentuh tanah di luar kereta kuda dengan ringan. Bahkan setelah
menstabilkan diri, ia menemukan kalau lengannya masih melingkar di leher Pei
Qian Hao.
Berdiri
di luar pintu masuk rumah pos adalah Ning Lian Chen, mengenakan jubah berwarna
cyan kasual. Ia sudah menyaksikan seluruh proses dari Kakak Perempuan
Kekaisarannya yang turun dari kereta kuda, dan mau tak mau merasa
tercengang. Aku bisa melihat senyuman di mata Kakak Perempuan. Ning
Lian Chen tanpa sadar memandang ke arah Pei Qian Hao, suami yang telah dipilih
Su Xi-er di kehidupan ini.
Su
Xi-er melirik Pei Qian Hao dengan jejak menegur, tidak mengetahui bahwa ia
justru memacu Pei Qian Hao.
Pei
Qian Hao melepaskannya dan melihat ke arah Ning Lian Chen. Dulu, aku
memandangnya sebagai saingan cinta, tetapi sesungguhnya, ia adalah adik iparku;
betapa lucunya sekarang kalau aku memikirkan tentang itu. Dan lagi, aku juga
tidak pernah menyangka bahwa aku akan menyukai wanita yang akan
menentangku. Aku selalu sangat meyakini bahwa aku menyukai wanita lemah yang
bergantung padaku dan bersembunyi di balik diriku.
Siapa
yang akan mengetahui bahwa suatu hari, aku akan jatuh cinta setengah mati
dengan Ning Ru Lan?
"Pangeran
Hao, silakan masuk ke aula utama rumah pos." Ning Lian Chen dengan sopan
memberi isyarat sembari tersenyum ramah.
Sejumlah
aura dingin di sekitar Pei Qian Hao pun menghilang, dan tanpa disadari,
ekspresi dinginnya menjadi lebih rileks. "Pangeran ini merasa sangat
berterima kasih atas kedatangan Yang Mulia jauh-jauh kemari." Kemudian, ia
menggandeng tangan Su Xi-er dan berjalan masuk ke dalam rumah pos dengan
percaya diri.
Memerhatikan
tangan mereka yang terjalin, Ning Lian Chen merasa tergerak. Ia memandangi
ekspresi Su Xi-er, dan melihat kalau ia juga melihat ke arahnya. Berdasarkan
sikap Pangeran Hao, ia sangat menyayangi Kakak Perempuan.
Ning
Lian Chen mengangguk sewaktu Su Xi-er berjalan melewatinya, tetapi gerakan yang
tak terlihat itu, tidak luput dari mata Pei Qian Hao.
Memalingkan
muka tanpa ada indikasi bahwa ia sudah menangkapnya, Pei Qian Hao hanya
menggenggam tangan Su Xi-er lebih erat lagi sewaktu mereka berjalan di
sepanjang jalan menuju ke aula utama rumah pos tersebut. Adik Ipar
diam-diam sedang mengamatiku, dan aku tahu bahwa Ning Ru Lan dan Ning Lian Chen
dikenal sebagai saudara yang dekat.
Tujuanku
hari ini adalah untuk mendapatkan pengakuan tingkat pertama Ning Lian Chen
tanpa membiarkan Su Xi-er mengetahuinya.
Pei
Qian Hao mengambil cangkir, tetapi memberikannya pada Su Xi-er. "Di luar
sana dingin. Kau harus minum itu untuk menghangatkan tubuhmu." Kemudian,
ia melihat ke arah Ning Lian Chen. "Pangeran ini dengar bahwa Nan Zhao
sudah terus menerapkan kebijakan baru. Bagaimana keadaannya?"
Pertanyaannya
yang tampaknya asal-asalan, sebenarnya disengaja. Pastinya Su Xi-er
mencemaskan tentang bagaimana kebijakan baru itu jadinya, tetapi tidak bisa
bertanya sendiri dengan adanya diriku. Karena itu masalahnya, aku hanya akan
mewakilinya menanyakannya.
Aku
akan membantunya menanyakan apa saja yang tidak bisa ditanyakannya sendiri.
(T/N
: sudahlah, ga tau kenapa, ambyar banget sama babang Hao, hati cece penerjemah
ini ga kuat sama sikap, pemikiran, dan segala macam tindakannya untuk neng
Xi-er. Ini baru namanya LAKI.)
Ning
Lian Chen tadinya berencana untuk memanfaatkan perjalanannya ke Bei Min untuk
mencari kesempatan mengabari Su Xi-er tentang kemajuan dari kebijakan barunya,
dan pertanyaan Pei Qian Hao tepat seperti apa yang dibutuhkannya.
Oleh
sebab itu, ia menurunkan cangkirnya dan segera menjawab, "Kami sudah
menerapkan semua perubahan yang semula diusulkan, bahkan para pejabat mahkamah
yang keras kepala pun berangsur menyerah. Rakyat jelata hanya bisa memuji untuk
kebijakan baru tersebut dan sebagai hasilnya, Nan Zhao perlahan-lahan
membaik."
Pei
Qian Hao mengangguk. "Yang Mulia, Pangeran ini harus mengakui bahwa aku
sangat terkesan dengan orang yang menyusun kebijakan baru tersebut. Setiap
negara akan mendapatkan keuntungan dengan mengadopsi aspek-aspek dari kebijakan
baru Nan Zhao."
Su
Xi-er menatapnya. Baginya, memberikan sanjungan setinggi itu, tampaknya
ia juga berencana untuk meminjam kebijakan baru Nan Zhao untuk memperbaiki Bei
Min.
"Ada
apa?" Pei Qian Hao tiba-tiba saja berbalik menatapnya.
Su
Xi-er tertawa. "Aku hanya bingung. Aku tidak mengerti kebijakan baru yang
sedang Anda berdua bicarakan."
"Bagaimana
mungkin kau tidak mengerti saat kau begitu pandai?" balas Pei Qian Hao
sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, Bei
Min pasti akan menjamu Anda dengan layak selama kunjungan pertama Anda di Bei
Min. Karena sekarang ini damai di Nan Zhao. Yang Mulia dapat tinggal di Bei Min
lebih lama."
Ning
Lian Chen tadinya sudah berencana untuk tinggal beberapa waktu di Bei Min;
saran Pei Qian Hao hanya membuatnya jauh lebih mudah. "Pangeran Hao,
keramahtamahan Anda diterima dengan banyak rasa terima kasih." Lalu, ia
menatap Su Xi-er. "Nona Xi-er, kebetulan kau bertemu putri Guru Agung Liu
terakhir kali kau berada di Nan Zhao. Ia sudah datang ke Bei Min kali ini,
untuk bertemu denganmu."
Tentu
saja Su Xi-er mengingat Liu Yin Yin. Ia adalah gadis kecil yang sangat
manis.
"Kau
harus pergi ke halaman belakang rumah pos untuk menemuinya." Pei Qian Hao
berpindah mendekati Su Xi-er dan berkata dengan lembut.
Sudut
mulut Su Xi-er terangkat sewaktu ia mengangguk. "Aku akan pergi dan
melihatnya." Ia pun bangkit berdiri dari kursinya dan keluar dari aula
utama.
Ning
Lian Chen merasa hatinya tenang setelah mengamati gerak-gerik mesra
keduanya. Pangeran Hao sudah mendapatkan pengakuan tingkat pertamaku
sebagai kakak ipar.
Akan
tetapi, Ning Lian Chen terkejut oleh ucapan Pei Qian Hao berikutnya.
"Yang
Mulia, apakah Anda percaya pada hal gaib?" Ekspresi Pei Qian Hao serius,
dan suaranya membawa sejejak aura dingin saat matanya bersinar bagaikan lubang
tak berdasar.
Suara
Ning Lian Chen jelas saat ia berpura-pura bingung. "Tentu saja aku tidak
memercayai hal gaib. Mengapa Anda bertanya, Pangeran Hao?"
"Apa
Anda sungguh tidak memercayainya?" Mata Pei Qian Hao sedikit menyipit
untuk sesaat.
"Pangeran
Hao, jelas-jelas Anda sedang ingin mengatakan sesuatu; tolong jelaskan saja
secara langsung." Ning Lian Chen berencana untuk berbicara langsung ke
intinya, dan ekspresinya juga menjadi serius.
Tawa
lembut lolos dari bibir Pei Qian Hao. "Pangeran ini seharusnya memanggil
Anda sebagai Adik Ipar, alih-alih Yang Mulia."
Seluruh
tubuh Ning Lian Chen membeku takjub ketika ia mendengar kata-kata itu. Mungkinkah
Pangeran Hao sudah mengetahui identitas asli Kakak Perempuan, atau apakah ia
yang memberitahukannya? Alasan apa lagi yang ada baginya, memanggilku seperti
itu? Apakah Kakak Perempuan yang memberitahukan padanya?
Tidak
mungkin! Jika ia memberitahu Pei Qian Hao, ia pasti akan menyebutkannya di
dalam surat. Bagaimana Pei Qian Hao mengetahuinya? Bagaimana aku harus
menjawab? Haruskah aku mengakuinya, atau menyangkalnya?

0 comments:
Posting Komentar