Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 406

Consort of A Thousand Faces

Chapter 406 : Bertemu Sekali Lagi


Meskipun cuacanya buruk, Su Xi-er dalam suasana hati yang bagus. Akhirnya aku bisa bertemu Lian Chen lagi! Bagaimana mungkin aku tidak gembira?!

Pei Qian Hao diam-diam memerhatikannya di dalam kereta kuda. Walaupun ia sudah menyembunyikan diri dengan sangat baik, matanya masih membocorkannya. Masuk akal kalau ia merasa senang, bisa bertemu dengan Ning Lian Chen.

Tidak bisa menahan diri setelah melihat kegembiraannya yang terselubung tipis, Pei Qian Hao hanya bisa berkata, "Tersenyumlah jika kau merasa senang. Kau tidak perlu menahannya."

Su Xi-er tertegun sejenak sebelum ia berpindah untuk duduk di sebelahnya dan mencubit wajahnya. "Mengapa Anda merajuk? Apakah Anda merasa tidak senang?"

Pei Qian Hao menangkap tangannya. "Pangeran ini senang. Sejak kapan aku merajuk?"

"Beberapa saat yang lalu." Su Xi-er mengangkat tangannya yang lain untuk menarik bibir Pei Qian Hao menjadi senyuman. Wajahnya yang sebelumnya serius, kini tampak lebih ceria.

"Omong kosong." Pei Qian Hao menggumam pelan, menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan membiarkan Su Xi-er mencubit-cubit wajahnya.

Di saat kereta kuda berhenti, pengawal yang berlaku sebagai pengemudi pun melaporkan, "Pangeran Hao, kita sudah tiba. Kaisar Nan Zhao sedang beristirahat di rumah pos ini."

Mata Su Xi-er berbinar. Aku bisa segera bertemu Lian Chen! Kilat di matanya tidak lepas dari mata Pei Qian Hao. Ia masih belum begitu yakin, waktu di Istana Naga Langit, tetapi kini, ia yakin akan hipotesisnya, walaupun ia tidak pernah memercayai hal gaib sebelumnya. Oleh karenanya, mau tak mau, ia merasa takjub.

Akan tetapi, Pei Qian Hao tidak pernah memperlihatkan emosinya, menyembunyikan keterkejutannya di balik topeng yang tenang dan menguasai diri.

Ketika Su Xi-er melihat kalau ia masih belum turun dari kereta kuda, tanpa sadar, ia mendorongnya. "Turunlah."

Mendengarkan dirinya yang bersemangat, Pei Qian Hao tersenyum samar. Ia bangkit berdiri, dan mendadak menariknya ke dalam pelukannya.

Su Xi-er merasakan dunia berputar di sekelilingnya, dan sebelum ia mengetahuinya, kakinya sudah menyentuh tanah di luar kereta kuda dengan ringan. Bahkan setelah menstabilkan diri, ia menemukan kalau lengannya masih melingkar di leher Pei Qian Hao.

Berdiri di luar pintu masuk rumah pos adalah Ning Lian Chen, mengenakan jubah berwarna cyan kasual. Ia sudah menyaksikan seluruh proses dari Kakak Perempuan Kekaisarannya yang turun dari kereta kuda, dan mau tak mau merasa tercengang. Aku bisa melihat senyuman di mata Kakak Perempuan. Ning Lian Chen tanpa sadar memandang ke arah Pei Qian Hao, suami yang telah dipilih Su Xi-er di kehidupan ini.

Su Xi-er melirik Pei Qian Hao dengan jejak menegur, tidak mengetahui bahwa ia justru memacu Pei Qian Hao.

Pei Qian Hao melepaskannya dan melihat ke arah Ning Lian Chen. Dulu, aku memandangnya sebagai saingan cinta, tetapi sesungguhnya, ia adalah adik iparku; betapa lucunya sekarang kalau aku memikirkan tentang itu. Dan lagi, aku juga tidak pernah menyangka bahwa aku akan menyukai wanita yang akan menentangku. Aku selalu sangat meyakini bahwa aku menyukai wanita lemah yang bergantung padaku dan bersembunyi di balik diriku.

Siapa yang akan mengetahui bahwa suatu hari, aku akan jatuh cinta setengah mati dengan Ning Ru Lan?

"Pangeran Hao, silakan masuk ke aula utama rumah pos." Ning Lian Chen dengan sopan memberi isyarat sembari tersenyum ramah.

Sejumlah aura dingin di sekitar Pei Qian Hao pun menghilang, dan tanpa disadari, ekspresi dinginnya menjadi lebih rileks. "Pangeran ini merasa sangat berterima kasih atas kedatangan Yang Mulia jauh-jauh kemari." Kemudian, ia menggandeng tangan Su Xi-er dan berjalan masuk ke dalam rumah pos dengan percaya diri.

Memerhatikan tangan mereka yang terjalin, Ning Lian Chen merasa tergerak. Ia memandangi ekspresi Su Xi-er, dan melihat kalau ia juga melihat ke arahnya. Berdasarkan sikap Pangeran Hao, ia sangat menyayangi Kakak Perempuan.

Ning Lian Chen mengangguk sewaktu Su Xi-er berjalan melewatinya, tetapi gerakan yang tak terlihat itu, tidak luput dari mata Pei Qian Hao.

Memalingkan muka tanpa ada indikasi bahwa ia sudah menangkapnya, Pei Qian Hao hanya menggenggam tangan Su Xi-er lebih erat lagi sewaktu mereka berjalan di sepanjang jalan menuju ke aula utama rumah pos tersebut. Adik Ipar diam-diam sedang mengamatiku, dan aku tahu bahwa Ning Ru Lan dan Ning Lian Chen dikenal sebagai saudara yang dekat.

Tujuanku hari ini adalah untuk mendapatkan pengakuan tingkat pertama Ning Lian Chen tanpa membiarkan Su Xi-er mengetahuinya.

Pei Qian Hao mengambil cangkir, tetapi memberikannya pada Su Xi-er. "Di luar sana dingin. Kau harus minum itu untuk menghangatkan tubuhmu." Kemudian, ia melihat ke arah Ning Lian Chen. "Pangeran ini dengar bahwa Nan Zhao sudah terus menerapkan kebijakan baru. Bagaimana keadaannya?"

Pertanyaannya yang tampaknya asal-asalan, sebenarnya disengaja. Pastinya Su Xi-er mencemaskan tentang bagaimana kebijakan baru itu jadinya, tetapi tidak bisa bertanya sendiri dengan adanya diriku. Karena itu masalahnya, aku hanya akan mewakilinya menanyakannya.

Aku akan membantunya menanyakan apa saja yang tidak bisa ditanyakannya sendiri.

(T/N : sudahlah, ga tau kenapa, ambyar banget sama babang Hao, hati cece penerjemah ini ga kuat sama sikap, pemikiran, dan segala macam tindakannya untuk neng Xi-er. Ini baru namanya LAKI.)

Ning Lian Chen tadinya berencana untuk memanfaatkan perjalanannya ke Bei Min untuk mencari kesempatan mengabari Su Xi-er tentang kemajuan dari kebijakan barunya, dan pertanyaan Pei Qian Hao tepat seperti apa yang dibutuhkannya.

Oleh sebab itu, ia menurunkan cangkirnya dan segera menjawab, "Kami sudah menerapkan semua perubahan yang semula diusulkan, bahkan para pejabat mahkamah yang keras kepala pun berangsur menyerah. Rakyat jelata hanya bisa memuji untuk kebijakan baru tersebut dan sebagai hasilnya, Nan Zhao perlahan-lahan membaik."

Pei Qian Hao mengangguk. "Yang Mulia, Pangeran ini harus mengakui bahwa aku sangat terkesan dengan orang yang menyusun kebijakan baru tersebut. Setiap negara akan mendapatkan keuntungan dengan mengadopsi aspek-aspek dari kebijakan baru Nan Zhao."

Su Xi-er menatapnya. Baginya, memberikan sanjungan setinggi itu, tampaknya ia juga berencana untuk meminjam kebijakan baru Nan Zhao untuk memperbaiki Bei Min.

"Ada apa?" Pei Qian Hao tiba-tiba saja berbalik menatapnya.

Su Xi-er tertawa. "Aku hanya bingung. Aku tidak mengerti kebijakan baru yang sedang Anda berdua bicarakan."

"Bagaimana mungkin kau tidak mengerti saat kau begitu pandai?" balas Pei Qian Hao sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Ning Lian Chen. "Yang Mulia, Bei Min pasti akan menjamu Anda dengan layak selama kunjungan pertama Anda di Bei Min. Karena sekarang ini damai di Nan Zhao. Yang Mulia dapat tinggal di Bei Min lebih lama."

Ning Lian Chen tadinya sudah berencana untuk tinggal beberapa waktu di Bei Min; saran Pei Qian Hao hanya membuatnya jauh lebih mudah. "Pangeran Hao, keramahtamahan Anda diterima dengan banyak rasa terima kasih." Lalu, ia menatap Su Xi-er. "Nona Xi-er, kebetulan kau bertemu putri Guru Agung Liu terakhir kali kau berada di Nan Zhao. Ia sudah datang ke Bei Min kali ini, untuk bertemu denganmu."

Tentu saja Su Xi-er mengingat Liu Yin Yin. Ia adalah gadis kecil yang sangat manis.

"Kau harus pergi ke halaman belakang rumah pos untuk menemuinya." Pei Qian Hao berpindah mendekati Su Xi-er dan berkata dengan lembut.

Sudut mulut Su Xi-er terangkat sewaktu ia mengangguk. "Aku akan pergi dan melihatnya." Ia pun bangkit berdiri dari kursinya dan keluar dari aula utama.

Ning Lian Chen merasa hatinya tenang setelah mengamati gerak-gerik mesra keduanya. Pangeran Hao sudah mendapatkan pengakuan tingkat pertamaku sebagai kakak ipar.

Akan tetapi, Ning Lian Chen terkejut oleh ucapan Pei Qian Hao berikutnya.

"Yang Mulia, apakah Anda percaya pada hal gaib?" Ekspresi Pei Qian Hao serius, dan suaranya membawa sejejak aura dingin saat matanya bersinar bagaikan lubang tak berdasar.

Suara Ning Lian Chen jelas saat ia berpura-pura bingung. "Tentu saja aku tidak memercayai hal gaib. Mengapa Anda bertanya, Pangeran Hao?"

"Apa Anda sungguh tidak memercayainya?" Mata Pei Qian Hao sedikit menyipit untuk sesaat.

"Pangeran Hao, jelas-jelas Anda sedang ingin mengatakan sesuatu; tolong jelaskan saja secara langsung." Ning Lian Chen berencana untuk berbicara langsung ke intinya, dan ekspresinya juga menjadi serius.

Tawa lembut lolos dari bibir Pei Qian Hao. "Pangeran ini seharusnya memanggil Anda sebagai Adik Ipar, alih-alih Yang Mulia."

Seluruh tubuh Ning Lian Chen membeku takjub ketika ia mendengar kata-kata itu. Mungkinkah Pangeran Hao sudah mengetahui identitas asli Kakak Perempuan, atau apakah ia yang memberitahukannya? Alasan apa lagi yang ada baginya, memanggilku seperti itu? Apakah Kakak Perempuan yang memberitahukan padanya?

Tidak mungkin! Jika ia memberitahu Pei Qian Hao, ia pasti akan menyebutkannya di dalam surat. Bagaimana Pei Qian Hao mengetahuinya? Bagaimana aku harus menjawab? Haruskah aku mengakuinya, atau menyangkalnya?

 

0 comments:

Posting Komentar