Sabtu, 27 Juni 2026

CTF - Chapter 408

Consort of A Thousand Faces

Chapter 408 : 'Xi' dan 'Hao'


Ning Lian Chen jelas sekali terkejut akan perkataannya. Liu Yin Yin masih muda; bagaimana mungkin ia memahami perasaan antara pria dan wanita? Ia hanya tidak suka aku menyayangi orang lain, karena ia tidak punya keluarga dan sudah bergantung padaku untuk waktu yang lama. Satu-satunya alasan aku memperlakukan Fang Ling Dang dengan baik adalah karena aku merasa bersalah telah menahannya di istana kekaisaran. Setelah urusan di mahkamah stabil, terlepas dari bagaimana Fang Ling Dang memohon padaku agar membiarkannya tinggal, aku pasti akan mengirimkannya keluar dari istana.

"Lian Chen, aku lihat kalau kau tidak menyadari ini. Aku lupa mengajarimu tentang hal-hal semacam ini." Su Xi-er pelan-pelan berbicara sembari sedikit mencela diri sendiri.

Ning Lian Chen menjawab, "Kakak Perempuan, ini adalah masalah remeh yang tidak perlu kau ajarkan padaku. Selain itu, hatiku tidak punya ruang untuk hal semacam itu; aku seharusnya memfokuskan diri untuk memerintah kerajaan."

Ia mengeluarkan sebuah tusuk rambut kayu dari lengan jubahnya dan menyerahkannya kepada Su Xi-er. "Ini adalah hadiah pernikahan yang secara pribadi kuukir sendiri."

Su Xi-er menerima tusuk rambut kayu itu dan mengamatinya dengan cermat. Itu terbuat dari kayu persik, dengan huruf 'Xi' dan 'Hao' yang terpahat di gagangnya.

Su Xi-er terlihat tersentuh sewaktu ia menggenggam tusuk rambut itu di dadanya. "Aku tidak menyangka, kau tahu bagaimana caranya memahat dengan begitu baik. Kakak Perempuanmu sangat menyukainya."

"Kakak Perempuan, kau adalah Su Xi-er dalam kehidupan ini. Orang yang dikenal sebagai Ning Ru Lan adalah bagian dari masa lalu. Aku dapat mengetahui setelah memerhatikannya, bahwa Pangeran Hao tulus terhadapmu, dan bahwa kau telah membuat keputusan yang tepat kali ini. Itu membuatku merasa bersyukur karena usaha yang kuhabiskan untuk memahat hiasan rambut ini tidaklah sia-sia. Hanya jika kau tetap bersama-sama Pangeran Hao, barulah aku bisa tenang."

Su Xi-er memandangi Ning Lian Chen. Ia sudah tumbuh menjadi seorang pria yang jujur dan tegar, yang memerhatikan detailnya.

"Kakak Perempuan, anginnya bertiup. Mari kita masuk ke dalam untuk menghangatkan diri kita." Ning Lian Chen menggesturkan tangannya ke depan. Tak perlu dikatakan lagi bahwa kepribadiannya sudah matang, tetapi Ning Lian Chen juga sekarang sangat jangkung, jauh berbeda dari waktu ketika ia melesat ke dalam pelukan kakak perempuannya sebagai anak kecil. Sekarang ini, ia seperti pria dewasa yang memimpin jalan.

***

Sebuah pemanas yang sudah diletakkan di dalam ruangan itu sudah menghangatkannya, mengarahkan arus udara hangat mengenai wajah Su Xi-er selagi ia memerhatikan Ning Lian Chen menarik satu kursi untuknya. "Kakak Perempuan, duduklah. Aku akan menuangkan teh untukmu." Tak lama, secangkir teh panas pun diserahkan kepadanya.

Su Xi-er mengambil cangkir itu dan menyeruputnya sedikit. "Kau harus pergi dan memeriksa keadaan Yin Yin. Ia menangis begitu kerasnya sampai aku takut kalau keadaannya akan memburuk jika kau tidak pergi."

"Ia akan berhenti menangis setelah beberapa waktu. Selain itu, aku bisa melihatnya setiap hari di masa yang akan datang, tetapi hal yang sama tidak berlaku untukmu, Kakak Perempuan." Mata Ning Lian Chen tampak tersenyum, bahagia karena kakaknya telah menemukan orang yang tepat.

"Guru Agung Liu wafat demi kerajaan, dan Yin Yin kehilangan cinta ayahnya karena itu. Lian Chen, kau harus menjaganya." Su Xi-er menurunkan cangkir teh itu dan menasihatinya.

Teringat akan Guru Agung Liu, jejak kesedihan berkedip di matanya. "Aku berutang terlalu banyak padanya, dan pasti akan memperlakukannya dengan baik."

"Kalau begitu, kenapa kau masih belum pergi?" Su Xi-er mendesaknya.

Ning Lian Chen ragu-ragu. "Kakak Perempuan, meski jika aku akan tinggal beberapa waktu di Bei Min, tidak akan selama itu. Aku tidak tahu kapan aku bisa berjumpa lagi denganmu."

Takut kalau Su Xi-er akan memintanya untuk pergi lagi, ia memutuskan untuk mengubah topiknya. "Kakak Perempuan, Pangeran Yun tampaknya sudah berubah menjadi lebih baik. Namun, aku tidak tahu apakah itu benar, atau ia hanya sedang berpura-pura saja."

Alis Su Xi-er mengerut. Yun Ruo Feng ahli dalam menyembunyikan perasaannya. Mana mungkin ia berubah?

"Kakak Perempuan, beberapa pejabat yang lebih keras kepala tadinya tidak setuju dengan kebijakan yang baru, tetapi mereka langsung bungkam setelah Pangeran Yun menurunkan sebuah perintah. Sekarang ini, kebijakan barunya sudah diterapkan dengan baik, dan rakyat jelata memujinya. Para pejabat itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang."

"Ia bahkan mengembalikan kekuasaan kekaisaran padamu?"

Ning Lian Chen menggelengkan kepalanya. "Tubuhnya tidak dalam keadaan yang baik, dan ia sedang memulihkan diri di Kediaman Pangeran Yun dengan Tabib Kekaisaran Fang yang merawatnya. Tinggal di Kediaman Pangeran Yun seumur hidupnya dapat dianggap sebagai hukumannya. Meski jika ia sungguh berubah, aku masih tidak bisa memaafkannya."

Ning Lian Chen masih berpikir bahwa Yun Ruo Feng ada di Kediaman Pangeran Yun setelah meminum obat Tabib Kekaisaran Fang. Tanpa diketahuinya, bahwa Yun Ruo Feng saat ini berada tak jauh dari rumah pos tersebut.

"Tak peduli bagaimana kondisinya, kau tidak boleh lengah. Apa kau yakin kalau ia masih berada di Kediaman Pangeran Yun? Apakah ia tahu kalau aku akan menikah?" Su Xi-er bertanya dengan tatapan serius.

Ning Lian Chen percaya diri. "Aku yakin. Aku pergi ke Kediaman Pangeran Yun sebelum berangkat ke Bei Min; ia terserang flu dan sedang berbaring di ranjang."

"Mmm, baguslah kalau begitu." Melihat betapa yakinnya Ning Lian Chen, Su Xi-er tak lagi merasa ragu.

Tepat saat ini, suara seorang pengawal dapat terdengar dari luar ruangan. "Yang Mulia, Nona Yin Yin membuat ulah lebih besar lagi, apakah Anda ingin pergi dan mengunjunginya?"

Su Xi-er langsung mendesak Ning Lian Chen. "Cepatlah pergi dan bujuk dia. Ia baru sepuluh tahun."

"Aku akan kembali setelahnya supaya kita bisa makan bersama." Ning Lian Chen meninggalkan ruangan tersebut, menutup pintu di belakangnya.

"Bagaimana ia membuat ulah? Memanjat pohon atau melesat ke bawah ranjang?" Ning Lian Chen tenang, seolah Liu Yin Yin sudah pernah banyak mengamuk sebelum ini.

Namun, jawaban si pengawal menyebabkan ekspresinya berubah. "Kali ini lebih serius. Ia mendapatkan sepotong kain entah darimana, dan berencana untuk gantung diri."

Pengawal itu merasakan embusan angin dari sampingnya sewaktu kata-kata itu meninggalkan mulutnya, dan dibuat tercengang dengan seberapa cepatnya Ning Lian Chen telah berbelok di belokan di depan mereka.

***

Sementara Su Xi-er menunggu dalam diam di dalam ruangan itu, ia mengeluarkan tusuk rambut kayu dari lengan bajunya dan terus-terusan mengelus huruf 'Xi' dan 'Hao'. Setelah beberapa waktu, ia mengeluarkan tali merah di lehernya, dan memandangi mutiara yang menggantung di sana.

Kedua benda ini diberikan padaku oleh dua pria yang paling penting bagiku. Aku pasti akan menjaga hubungan kekerabatan dan cinta dengan baik.

Perasaan yang hangat pun menyelimuti hatinya, dan senyuman tersungging di bibirnya. Hanya setelah waktu yang lama, barulah ia menyimpan mutiara putih dan tusuk rambut kayu itu.

***

Langitnya sudah gelap, dan suara angin yang menderu pun semakin besar, membuatnya tampak seolah badai sedang dalam perjalanan.

Tiba-tiba saja, pintunya terbuka, menampilkan Liu Yin Yin yang tersenyum dengan cerahnya. Di belakangnya ada beberapa pengawal yang membawakan nampan-nampan berisi makanan hangat.

"Kakak Peri, mari kita makan bersama-sama. Cepat bawakan mereka masuk." Ia menginstruksikan para pengawal.

Ada lima hidangan, dua vegetarian dan dua non-vegetarian. Ditambah dengan itu, ada tiga mangkuk nasi, sekaligus sup telur.

Setelah para pengawal menata meja, mereka membungkuk dengan hormat dan mundur.

Ning Lian Chen berjalan masuk dan menutup pintu. "Akan segera turun hujan."

Liu Yin Yin terkikik, tanda-tanda dari mengamuknya sudah lama hilang. Ia berlari ke arah Ning Lian Chen dan menarik tangannya tanpa peduli dengan sopan-santun. "Aku takut tidur sendirian di hari hujan. Bolehkah aku pergi ke kamar Anda untuk tidur malam ini?"

Ning Lian Chen mengibaskan tangannya dan dengan serius menjawab, "Jangan mengacau."

"Bagaimana aku mengacau?" Liu Yin Yin cemberut dan duduk di kursi dengan ekspresi yang seolah dirugikan.

Su Xi-er mengambilkan sepasang sumpit dan memberikannya pada Liu Yin Yin. "Yin Yin, kau adalah seorang gadis, dan pada akhirnya akan tumbuh dewasa. Bagaimana bisa kau tidur bersama Lian Chen, yang seorang pria? Mengapa tidak tidur bersamaku malam ini?"

Liu Yin Yin tidak mengerti perbedaan antara tidur dengan pria dan wanita, tetapi secara alami bersedia untuk mengikuti usulan Su Xi-er.

"Kakak Peri, aku akan tidur bersamamu. Aku tidak mau tidur dengan orang yang galak." Ia menerima sumpit itu dan membantu mengambilkan beberapa makanan ke dalam mangkuk Su Xi-er.

Su Xi-er menerima gesturnya sembari tersenyum sebelum melemparkan lirikan bermakna pada Ning Lian Chen.

Memahaminya, ia berusaha menaruh beberapa makanan di mangkuk Liu Yin Yin. Namun, tanpa diduga, ia menarik mangkuknya, menolak gestur itu. "Aku tidak perlu Anda untuk mengambilkan makanan untukku. Aku bisa melakukannya sendiri."

"Apa yang baru saja kukatakan padamu? Kau tidak boleh bersikap sekeras kepala itu di Bei Min. Kau harus berusaha untuk mengendalikan amarahmu." Wajah Ning Lian Chen menggelap sampai-sampai Liu Yin Yin jadi merasa sedikit takut.

 

0 comments:

Posting Komentar